Iklan
Beranda

​DOA YG BISA MERUBAH TAQDIR

Tinggalkan komentar


DOA YG BISA MERUBAH TAQDIR

Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa taqdir yang Allah ta’aala telah tentukan bisa berubah. Dan faktor yang dapat mengubah taqdir ialah doa seseorang.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ

إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ (الترمذي)
Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.”

Subhanallah…! Betapa luar biasa kedudukan do’a dalam ajaran Islam. Dengan do’a seseorang bisa berharap bahwa taqdir yang Allah ta’aala tentukan atas dirinya berubah. Hal ini merupakan sebuah berita gembira bagi siapapun yang selama ini merasa hidupnya hanya diwarnai penderitaan dari waktu ke waktu. Ia akan menjadi orang yang optimis. Sebab keadaan hidupnya yang selama ini dirasakan hanya berisi kesengsaraan dapat berakhir dan berubah. Asal ia tidak berputus asa dari rahmat Allah ta’aala dan ia mau bersungguh-sungguh meminta dengan do’a yang tulus kepada Allah ta’aala Yang Maha Berkuasa.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا

إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah ta’aala mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS Az-Zumar 53-54)
 
Demikianlah, hanya orang yang tetap berharap kepada Allah ta’aala saja yang dapat bertahan menjalani kehidupan di dunia betapapun pahitnya taqdir yang ia jalani. Ia akan senantiasa menanamkan dalam dirinya bahwa jika ia memohon kepada Allah ta’aala dalam keadaan apapun, maka derita dan kesulitan yang ia hadapi sangat mungkin berakhir dan bahkan berubah.
Sebaliknya, orang yang tidak pernah kenal Allah ta’aala dengan sendirinya akan meninggalkan kebiasaan berdo’a dan memohon kepada Allah ta’aala. Ia akan terjatuh pada salah satu dari dua bentuk ekstrimitas. Pertama, ia akan mudah berputus asa. Atau kedua, ia akan lari kepada fihak lain untuk menjadi sandarannya demi merubah keadaan. Padahal begitu ia bersandar kepada sesuatu selain Allah ta’aala –termasuk bersandar kepada dirinya sendiri- maka pada saat itu pulalah Allah ta’aala akan mengabaikan orang itu dan membiarkannya berjalan mengikuti situasi dan kondisi yang tersedia. Sedangkan orang tersebut dinilai sebagai seorang yang mempersekutukan Allah ta’aala dengan yang lain. Berarti orang tersebut telah jatuh ke dalam kategori seorang musyrik…!
 
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ

يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al-Mu’min 60)
Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang muslim tidak boleh pernah berhenti meminta kepadaNya, karena sikap demikian merupakan suatu kesombongan yang akan menjebloskannya ke dalam siksa Allah ta’aala yang pedih. Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدْعُ اللَّهَ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Barangsiapa tidak berdo’a kepada Allah ta’aala, maka Allah ta’aala murka kepadaNya.”
 
Saudaraku, janganlah berputus asa dari rahmat Allah ta’aala. Bila Anda merasa taqdir yang Allah ta’aala tentukan bagi hidup Anda tidak memuaskan, maka tengadahkanlah kedua tangan dan berdo’alah kepada Allah ta’aala. Allah ta’aala Maha Mendengar dan Maha Berkuasa untuk mengubah taqdir Anda. Barangkali di antara do’a yang baik untuk diajukan sebagai bentuk harapan agar Allah ta’aala mengubah taqdir ialah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي

فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ

زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.”DOA YG BISA MERUBAH TAQDIR
Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa taqdir yang Allah ta’aala telah tentukan bisa berubah. Dan faktor yang dapat mengubah taqdir ialah doa seseorang.
 
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ

إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ (الترمذي)
Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” 
 
Subhanallah…! Betapa luar biasa kedudukan do’a dalam ajaran Islam. Dengan do’a seseorang bisa berharap bahwa taqdir yang Allah ta’aala tentukan atas dirinya berubah. Hal ini merupakan sebuah berita gembira bagi siapapun yang selama ini merasa hidupnya hanya diwarnai penderitaan dari waktu ke waktu. Ia akan menjadi orang yang optimis. Sebab keadaan hidupnya yang selama ini dirasakan hanya berisi kesengsaraan dapat berakhir dan berubah. Asal ia tidak berputus asa dari rahmat Allah ta’aala dan ia mau bersungguh-sungguh meminta dengan do’a yang tulus kepada Allah ta’aala Yang Maha Berkuasa.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا

إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah ta’aala mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS Az-Zumar 53-54)
 
Demikianlah, hanya orang yang tetap berharap kepada Allah ta’aala saja yang dapat bertahan menjalani kehidupan di dunia betapapun pahitnya taqdir yang ia jalani. Ia akan senantiasa menanamkan dalam dirinya bahwa jika ia memohon kepada Allah ta’aala dalam keadaan apapun, maka derita dan kesulitan yang ia hadapi sangat mungkin berakhir dan bahkan berubah.
Sebaliknya, orang yang tidak pernah kenal Allah ta’aala dengan sendirinya akan meninggalkan kebiasaan berdo’a dan memohon kepada Allah ta’aala. Ia akan terjatuh pada salah satu dari dua bentuk ekstrimitas. Pertama, ia akan mudah berputus asa. Atau kedua, ia akan lari kepada fihak lain untuk menjadi sandarannya demi merubah keadaan. Padahal begitu ia bersandar kepada sesuatu selain Allah ta’aala –termasuk bersandar kepada dirinya sendiri- maka pada saat itu pulalah Allah ta’aala akan mengabaikan orang itu dan membiarkannya berjalan mengikuti situasi dan kondisi yang tersedia. Sedangkan orang tersebut dinilai sebagai seorang yang mempersekutukan Allah ta’aala dengan yang lain. Berarti orang tersebut telah jatuh ke dalam kategori seorang musyrik…!
 
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ

يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al-Mu’min 60)
Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang muslim tidak boleh pernah berhenti meminta kepadaNya, karena sikap demikian merupakan suatu kesombongan yang akan menjebloskannya ke dalam siksa Allah ta’aala yang pedih. Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدْعُ اللَّهَ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Barangsiapa tidak berdo’a kepada Allah ta’aala, maka Allah ta’aala murka kepadaNya.”
 
Saudaraku, janganlah berputus asa dari rahmat Allah ta’aala. Bila Anda merasa taqdir yang Allah ta’aala tentukan bagi hidup Anda tidak memuaskan, maka tengadahkanlah kedua tangan dan berdo’alah kepada Allah ta’aala. Allah ta’aala Maha Mendengar dan Maha Berkuasa untuk mengubah taqdir Anda. Barangkali di antara do’a yang baik untuk diajukan sebagai bentuk harapan agar Allah ta’aala mengubah taqdir ialah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي

فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ

زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.”DOA YG BISA MERUBAH TAQDIR
Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa taqdir yang Allah ta’aala telah tentukan bisa berubah. Dan faktor yang dapat mengubah taqdir ialah doa seseorang.
 
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ

إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ (الترمذي)
Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” 
 
Subhanallah…! Betapa luar biasa kedudukan do’a dalam ajaran Islam. Dengan do’a seseorang bisa berharap bahwa taqdir yang Allah ta’aala tentukan atas dirinya berubah. Hal ini merupakan sebuah berita gembira bagi siapapun yang selama ini merasa hidupnya hanya diwarnai penderitaan dari waktu ke waktu. Ia akan menjadi orang yang optimis. Sebab keadaan hidupnya yang selama ini dirasakan hanya berisi kesengsaraan dapat berakhir dan berubah. Asal ia tidak berputus asa dari rahmat Allah ta’aala dan ia mau bersungguh-sungguh meminta dengan do’a yang tulus kepada Allah ta’aala Yang Maha Berkuasa.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا

إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah ta’aala mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS Az-Zumar 53-54)
 
Demikianlah, hanya orang yang tetap berharap kepada Allah ta’aala saja yang dapat bertahan menjalani kehidupan di dunia betapapun pahitnya taqdir yang ia jalani. Ia akan senantiasa menanamkan dalam dirinya bahwa jika ia memohon kepada Allah ta’aala dalam keadaan apapun, maka derita dan kesulitan yang ia hadapi sangat mungkin berakhir dan bahkan berubah.
Sebaliknya, orang yang tidak pernah kenal Allah ta’aala dengan sendirinya akan meninggalkan kebiasaan berdo’a dan memohon kepada Allah ta’aala. Ia akan terjatuh pada salah satu dari dua bentuk ekstrimitas. Pertama, ia akan mudah berputus asa. Atau kedua, ia akan lari kepada fihak lain untuk menjadi sandarannya demi merubah keadaan. Padahal begitu ia bersandar kepada sesuatu selain Allah ta’aala –termasuk bersandar kepada dirinya sendiri- maka pada saat itu pulalah Allah ta’aala akan mengabaikan orang itu dan membiarkannya berjalan mengikuti situasi dan kondisi yang tersedia. Sedangkan orang tersebut dinilai sebagai seorang yang mempersekutukan Allah ta’aala dengan yang lain. Berarti orang tersebut telah jatuh ke dalam kategori seorang musyrik…!
 
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ

يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al-Mu’min 60)
Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang muslim tidak boleh pernah berhenti meminta kepadaNya, karena sikap demikian merupakan suatu kesombongan yang akan menjebloskannya ke dalam siksa Allah ta’aala yang pedih. Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدْعُ اللَّهَ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Barangsiapa tidak berdo’a kepada Allah ta’aala, maka Allah ta’aala murka kepadaNya.”
 
Saudaraku, janganlah berputus asa dari rahmat Allah ta’aala. Bila Anda merasa taqdir yang Allah ta’aala tentukan bagi hidup Anda tidak memuaskan, maka tengadahkanlah kedua tangan dan berdo’alah kepada Allah ta’aala. Allah ta’aala Maha Mendengar dan Maha Berkuasa untuk mengubah taqdir Anda. Barangkali di antara do’a yang baik untuk diajukan sebagai bentuk harapan agar Allah ta’aala mengubah taqdir ialah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي

فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ

زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.”

Iklan

​Mengobati Hati dengan Memandang Wajah Orang Shalih

Tinggalkan komentar



Abu Bakar Al Muthawi’i selama dua belas tahun selalu aktif mengikuti majelis Imam Ahmad. Di majelis tersebut hadits tersebut Imam Ahmad membacakan Al Musnad kepada putra-putra beliau. Namun, selama mengikuti mejalis tersebut, Al Muthawi’i tidak memiliki catatan, walau hanya satu hadits. Lalu, apa yang dilakukan Al Muthawi’i di majelis itu? Beliau ternyata hanya ingin memandang Imam Ahmad.

Ternyata, tidak hanya Al Muthawi’i saja yang datang ke majelis hadits hanya untuk memandang Imam Ahmad. Mayoritas mereka yang hadir dalam majelis tersebut memiliki tujuan yang sama dengan Al Mathawi’i. Padahal jumlah mereka yang hadir dalam majelis Imam Ahmad saat itu lebih dari 5000 orang, namun yang mencatat hadits kurang dari 500 orang. Demikian Ibnu Al Jauzi mengisahkan (Manaqib Imam Ahmad, 210).
Apa yang dilakukan Al Muthawi’i, bukanlah hal yang sia-sia. Karena, memandang orang shalih bisa memberikan hal yang positif bagi pelakunya. Memandang orang shalih, bisa membangkitkan semangat, untuk meningkatkan amalan kebaikan, tatkala keimanan seseorang sedang turun. Sebagaimana dilakukan oleh Abu Ja’far bin Sulaiman, salah satu murid Hasan Al Bashri. Beliau pernah mengatakan,”Jika aku merasakan hatiku sedang dalam keadaan qaswah (keras), maka aku segera pergi untuk memandang wajah Muhammad bin Wasi’ Al Bishri. Maka hal itu mengingatkanku kepada kematian.” (Tarikh Al Islam, 5/109).
Imam Malik sendiri juga melakukan hal yang sama tatkala merasakan qaswah dalam hati. Beliau berkisah,”Setiap aku merasakan adanya qaswah dalam hati, maka aku mendatangi Muhammad bin Al Munkadar dan memandangnya. Hal itu bisa memberikan peringatan kapadaku selama beberapa hari.” (Tartib Al Madarik, 2/51-52).
Imam Al Hasan Al Bashri sendiri dikenal sebagai ulama yang memandangnya, membuat pelakunya ingat kepada Allah, sebagaimana disebut oleh ulama semasa beliau, yakni Ibnu Sirin. Ulama lainnya, yang hidup semasa dengan beliau, Ats’ats bin Abdullah juga mengatakan,”Jika kami bergabung dengan majelis Al Hasan, maka setelah keluar, kami tidak ingat lagi terhadap dunia.” (Al Hilyah, 2/158).
Jika demikian besar dampak positif yang diperoleh saat seorang memandang wajah orang-orang shaleh, maka melakukannya dihitung sebagai ibadah, karena telah melaksanakan saran Rasulullah. Dimana, suatu saat beberapa sahabat bertanya, “Karib seperti apa yang baik untuk kami?” Rasulullah menjawab,”Yakni apabila kalian memandang wajahnya, maka hal itu mengingatkan kalian kepada Allah.” (Riwayat Abu Ya’la, dihasankan Al Bushiri).
Sebagaimana beliau juga bersabda, “Sesungguhnya sebagian manusia merupakan kunci untuk mengingatkan kepada Allah.” (Riwayat Ibnu Hibban, dishahihkan oleh beliau).
Tak mengherankan jika Waqi’ bin Jarah menilai bahwa memandang wajah Abdullah bin Dawud adalah Ibadah. Abdullah sendiri adalah seorang ahli ibadah di Kufah saat itu. (Tahdzib At Tahdzi, 7/296)

Karena Keindahan Akhlak

Tinggalkan komentar


Alhabib Munzir almusyawwa menceritakan kisahnya : pernah seorang pemabuk dan preman yg menjadi biang kriminal bahkan konon sering menyiksa dan membunuh, orang tidak melihat ia memiliki sifat baik sedikitpun., namun ketika saya diadukan tentangnya, pasalnya adalah ketika pemuda sekitar wilayah tsb ingin mengadakan majelis, namun takut pada orang itu, mereka akan didamprat dan diteror oleh si jahat itu, ia adalah kepala kejahatan yg konon kebal dan penuh ilmu jahat,
saya datangi kerumahnya, saya ucapkan salam dan ia tidak menjawab, ia hanya mendelik dg bengis sambil melihat saya dari atas kebawah, seraya berkata : mau apa?!!.
saya mengulurkan tangan dan ia mengulurkan tangannya dan saya mencium tangannya, lalu saya pandangi wajahnya dg lembut dan penuh keramahan, saya berkata dg suara rendah dan lembut : saya mau mewakili pemuda sini, untuk mohon restu dan izin pada bapak, agar mereka diizinkan membuat majelis di musholla dekat sini..
ia terdiam.. roboh terduduk di kursinya dan menunduk, ia menutup kedua matanya, saat ia mengangkat kepalanya saya tersentak, saya kira ia akan menghardik dan mengusir, ternyata wajahnya merah dan matanya sudah penuh airmata yg banyak.., ia tersedu sedu berkata : seumur hidup saya belum pernah ada kyai datang kerumah saya.., lalu kini.. pak ustad datang kerumah saya.., mencium tangan saya.., tangan ini belum pernah dicium siapapun.. bahkan anak anak sayapun jijik pada saya dan tak pernah mencium tangan saya.., semua tamu saya adalah penjahat.., mengadukan musuhnya utk dibantai.. menghamburkan uangnya pada saya agar saya mau berbuat jahat lagi dan lagi..

kini datang tamu minta izin pengajian pada saya.., saya ini bajingan.., kenapa minta izin pengajian suci pada bajingan seperti saya..
ia menciumi tangan dan kaki saya sambil menangis.., ia bertobat.., ia sholat, dan meninggalkan minuman keras dan kriminal,
konon dia ini sering mabuk, jika sudah mabuk maka tak ada dikampung itu yg berani keluar rumah, namun kini terbalik, ia menjadi pengaman disana, tak ada orang mabuk berani keluar rumah jika ada dia.
dia menjadi kordinator musholla, ia mengatur teman temannya para preman untuk membersihkan musholla, dipaksanya para anak buahnya harus hadir majelis, dan demikianlah keadaanya.., ia bertempat di Legoa, Priok., tempat yg sangat rawan dg kriminal.. orang di wilayah itu jika saya datang mereka berbisik bisik : jagoan selatan lagi ketemu jagoan utara..!
mereka kira saya mengalahkannya dg ilmu, padahal hanya kelembutan Muhammad saw yg saya gunakan..
hingga kini jika saya jumpa dg beliau ia pasti menangis memeluk saya..,
saya pernah bercanda dg meneleponnya : saya katakan : tolong saya, tolong datang kesini, saya dalam keadaan genting..!, ia datang dg Jaket Jeans, celana jeans dan dari wajahnya sudah siap tempur, ia berkata : saya siap mati habib.., siapapun yg berani mengganggu habib sudah bukan urusan habib lagi, biar saya yg urus dan saya janji akan memotong kupingnya dan membawakannya pada habib..!,
saya berkata : naik saja ke mobil pak.., iapun naik, saya masuk ke majelis dan mengajaknya hadir, ia berkata : mana orangnya habib..??, saya katakan : tidak.. (saya tertawa) cuma mau mengajak bapak ke majelis saya, kangen aja.., iapun lemas dan tertunduk malu.., saya menganggapnya ayah angkat saya hingga kini.
kejadian lain adalah ketika paman saya mengadakan perjalanan dari Lampung ke Jakarta, ia bersama anak anaknya, ketika masuk pelabuhan bakauhuni lampung ia melihat seorang berwajah bengis dan menakutkan sedang duduk di pintu pelabuhan, paman saya bersalam padanya dg lembut, si garang itu tidak menjawab dan wajahnya tanpa ekspresi sedikitpun dan acuh saja., maka lalu paman saya membeli tiket kapal yg ternyata dipalsu oleh calo, ia terjebak dalam penipuan, maka ketika paman saya kebingungan, dan mulai dikerubuti orang yg menonton, maka si garang itu muncul, semua orang mundur melihat ia datang, lalu ia berkata : ada apa pak..?,

paman saya bercerita akan penipu itu..
si garang berkata : bagaimana ciri ciri orang itu..?
paman saya menceritakannya..
si garang pergi beberapa menit dan kembali sambil menyeret orang itu yg sudah babak belur dihajarnya, ia berkata kepada penipu itu : kamu sudah menipu keluarga saya..??!!, ini keluarga saya..!!!, sambil menunjuk pada paman saya.
rupanya si garang ini preman penguasa pelabuhan itu, bagaimana ia bisa mengakui paman saya sebagai saudaranya?, kenalpun tidak.., cuma hanya karena paman saya mengucap salam padanya dg ramah..
walau wajahnya tidak berekspresi saat itu, tapi ternyata hatinya hancur, ia malu dan haru.., mungkin seumur hidupnya belum pernah ada orang mengucap salam padanya dg hormat..
inilah beberapa contoh..
contoh lainnya adalah ketika saya disuatu masjid, yg memang sudah kebiasaan saya jika jumpa siapapun yg lebih tua jika menjabat tangan saya maka saya mencium tangannya, apakah ia ulama atau bukan.
selesai acara maka terdengar kabar, seorang muadzin masjid itu ternyata adalah pencuri kotak amal masjid, ia bertobat dan mengakui dosanya kepada sesepuh masjid, ia menangis dan berkata : tangan saya kotor dg dosa, hati saya hancur ketika tangan saya ini dicium oleh habib itu.., saya menyesal, saya haru, saya terpukul, tangan ini selalu mencuri, tidak pantas dicium oleh seorang tokoh agama..
iapun bertobat..
dilain kesempatan ketika saya di suatu negeri timur tengah, saya lihat di bandara para tentara berwajah bengis dg senjata laras panjang dipundaknya menjaga disana sini..

saya bersalam pada seorang yg tampak bengis sekali, saya menunduk hormat dan senyum lembut, ia tak menggubrisnya, hanya mendelik dan pergi.. tak lama saya terkena sedikit masalah di pintu imigrasi, hanya pertanyaan pertanyaan iseng yg sering dilancarkan petugas imigrasi di pelbagai negara, maka tiba tiba ada yg membentak dibelakang saya, ia memerintahkan agar orang itu segera melewatkan saya, ketika saya berpaling ternyata tentara tadi.., ia menarik baju saya untuk segera lewat pintu detektor pengaman bersamanya dan menghardik petugas pengaman untuk minggir.. seraya berkata dg bahasa arab : silahkan tuan..
saya mengucap terimakasih, ia hanya mengangguk dan pergi..
subhanallah..
demikian indahnya akhlak.. demikian senjata yg lebih tajam dari pedang dan lebih mengalahkan dari peluru.. ia mengalahkan musuh dan membuat musuh berbalik menjadi penolong dan pembela..

Karena Kecintaan Pada Nabi

Tinggalkan komentar


Pada suatu masa, ketika Nabi Muhammad SAW sedang tawaf di Ka’bah, baginda mendengar seseorang dihadapannya bertawaf sambil berdzikir:

“Ya Karim,,, Ya Karim…”
Rasulullah SAW meniru dzikirnya:

“Ya Karim,,, Ya Karim…”
Orang itu berhenti di satu sudut Ka’bah dan menyebutnya lagi, “Ya Karim,,, Ya Karim…” Rasulullah yang berada dibelakangnya menyebutnya lagi, “Ya Karim,,, Ya Karim…”
Orang itu merasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang laki-laki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah dilihatnya.
Orang itu berkata:

“Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan pada kekasihku, Muhammad Rasulullah”,
Mendengar kata-kata orang badui itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata:

“Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”
“Belum” jawab orang itu.
“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.
“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya.” jawab orang Arab badui itu.
Rasulullah SAW pun berkata padanya:

“Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akherat.”
Melihat Nabi dihadapannya, dia langsung tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata:

“Tuan ini Nabi Muhammad?”

Jawab Nabi SAW:

“Ya”
Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah SAW.
Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badui itu seraya berkata:

“Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan ini seperti biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur, yang diminta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”
Ketika itulah malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, dia berkata:

“Ya Muhammad, Tuhan As Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: ‘Katakan kepada orang Arab itu agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar.”
Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata:

“Demi Keagungan serta Kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengan-Nya.”
Orang badui berkata lagi:

“Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan kebesaran maghfirah-Nya. Jika dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya Pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa Dermawan-Nya.”
Mendengar ucapan orang badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu sehingga air mata meleleh membasahi jenggotnya.
Lantaran itu malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:

“Ya Muhammad, Tuhan As Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: ‘Berhentilah engkau dari pada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga ‘Arsy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ‘Arsy berguncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di surga nanti.”

Thoriqah, Refleksi dari taqwa

Tinggalkan komentar


THORIQOH -KEWAJIBAN TAQWA

Pada setiap khutbah jum‘at kita selalu diberi wasiat taqwa :

ITTAQULLOOHA.

Adapun kita bisa melaksanakan wasiat taqwa itu apabila kalimat taqwa Laa ilaaha illalloh itu betul-betul masuk dalam ruh kita.

Kalau taqwa itu hanya diwasiatkan/dipesankan saja tapi tidak pernah dipraktekkan, ya sia-sia saja, walaupun wasiat itu diulang-ulang sampai 1000 jum‘at atau 2000 jum‘at.

Umpama ada orang yang kita beri keterangan bahwa titik sentral ajaran Islam adalah Laa ilaaha illalloh (AFDLOLUDZ DZIKRI LAA ILAAHA ILLALLOH), tapi kalau tidak dipraktekkan, bagaimana ?

Itu kan hanya menerangkan keutamaannya saja, adapun kita bisa meraih atau merasakan keutamaan-keutamaan itu adalah tergantung prakteknya bagaimana.

Dalam Alqur-an diterangkan bahwa :

Kalimat thoyyibah Laa ilaaha illalloh itu dilambangkan laksana pohon thoyyibah, yang buahnya itu ada di atas langit, dan setiap hari buahnya dapat dirasakan.

Akan tetapi kalau semua itu hanya diomongkan saja atau hanya mengetahui dosis pupuknya saja, namun sawahnya tidak pernah digarap sama sekali, ya sampai kapanpun tetap saja tidak bisa merasakan buahnya.

Begitu juga contohnya dengan orang yang sakit, kalau hanya dibacakan resepnya tapi pilnya tidak diminum, maka tidak akan sembuh dari penyakitnya.

Jadi seandainya pupuk atau obat itu hanya diomongkan saja, tidak dipraktekkan, tidak diamalkan, maka resep tinggal resep, akhirnya pohon tetap tidak subur atau penyakitnya tetap diderita.

Adapun untuk praktek dzikir Kalimat Taqwa itu jelas ada methodenya.

Jadi dzikir itu tidak asal gerak-gerak saja, tapi harus mengerti teorinya, harus mengerti geraknya.

Lalu bagaimanakah methodenya dzikir Laa ilaaha illalloh itu ?

Didalam ayat Alqur-an kita diperintah :

WADZKURULLOOHA KATSIIROO.

(Q.S. Al Jum‘ah / 10).

Artinya : “ Dzikirlah kepada Alloh sebanyak-banyaknya “.

Dan dzikir yang paling menonjol adalah dzikir Laa ilaaha illalloh.

Adapun methodenya dzikir itu dinamakan Thoriqoh, jadi Thoriqoh itu adalah methode untuk dzikir.

Coba kalau kamu mengadakan kumpulan dengan orang banyak dalam rangka berdoa bersama-sama, ketika membaca Subhaanalloh atau membaca Alhamdulillah itu kepalanya tidak memakai gerak-gerak, akan tetapi bila sudah waktunya membaca Laa ilaaha illalloh pastilah gerak semuanya.

Mengertikah dengan apa yang dimaksud dalam gerakan ini ?

Bagi yang ahli Thoriqoh, pasti ia tahu bahwa geraknya itu mengikuti skema ;

LAA ILAHA : ditarik dari puser, lalu naik, kemudian ke arah kanan.

ILALLOH : masuk ke hati.

Tapi bagi yang bukan ahli Thoriqoh, ketika melihat orang-orang disekitarnya pastilah bertanya-tanya : “ Lho kok memakai gerak-gerak ? “.

Karena tidak faham, akhirnya hanya ikut-ikutan saja, yang penting ikut gerak, ini namanya amal tanpa ilmu.

**

Apakah kita ini masih membutuhkan Thoriqoh ? padahal agama Islam itu sudah sempurna, sebagaimana tersebut dalam Alqur-an :

ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINAKUM WA-ATMAMTU ‘ALAIKUM NI‘MATII WARODLIITU LAKUMUL ISLAAMA DIINAA.

(Q.S. Al Maa-idah / 3).

Artinya : “ Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagimu, dan Aku cukupkan ni`matKu atas kamu, dan Aku ridlo Islam itu menjadi agama bagimu “.

Thoriqoh itu adalah jalan atau cara atau methode. Dan semua ibadah itu ada caranya atau methodenya;

Sholat ada methodenya/caranya, zakat ada methodenya/caranya, puasa ada methodenya/caranya, Dan cara-cara itu dinamakan Thoriqoh.

Jadi, ada thoriiqotush sholat, ada thoriqotuz zakat, ada thoriiqotush shiyaam, ada thoriiqotul hajji, dan ada thoriiqotul ‘umroh “.

Jadi Thoriqoh itu methode/cara/jalan untuk melaksanakan sholat, untuk melaksanakan puasa, untuk melaksanakan zakat, semuanya itu ada methodenya, semuanya itu ada caranya, semuanya itu ada thoriqohnya.

Oleh karena jika ditanyakan: “ Apakah kita memerlukan Thoriqoh ? “.

Maka jawabannya dengan pertanyaan lagi : “ Apakah kita sholat ? “.

Bila dijawab : “ Iya, kita sholat “, berarti kita juga telah mempraktekkan thoriqotush sholat.

Begitu juga halnya dengan masalah dzikir.

Kita diperintah dzikir, sebagaimana disebutkan dalam Alqur-an :

WADZKURULLOOHA.

Dan menurut hadits Nabi, dzikir yang paling menonjol adalah dzikir Laa ilaaha illalloh.

Adapun cara untuk melaksanakan dzikir Laa ilaaha illalloh itu juga ada thoriqohnya, yang dinamakan thoriiqotudz dzikir.

Rukun Islam Ada lima, yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa, hajji.

Rukun Islam yang pertama ya jelas syahadat.

Jikakalau memang sholat itu ada teorinya/thoriqohnya, zakat ada teorinya/thoriqohnya, puasa ada teorinya/thoriqohnya, hajji ada teorinya/thoriqohnya, mengapakah rukun Islam yang pertama yakni syahadat itu tidak ada teorinya/thoriqohnya ?.

Memang yang banyak terdapat didalam kitab-kitab yang dijual di toko-toko buku adalah cara/teori/thoriqohnya sholat, zakat, puasa, hajji, akan tetapi walaupun cara/teori/thoriqohnya syahadat itu tidak ada dalam kitab-kitab pada umumnya, bukan berarti cara/teori/thoriqohnya itu tidak ada, kemudian tahukah pembaca bagaimanakah teorinya syahadat itu ?.

Anda pasti tidak tahu karena tidak diterangkan dalam kitab apapun. Dan satu-satunya cara untuk bisa mengetahuinya adalah dengan masuk Thoriqoh.Karena Thoriqoh-Thoriqoh itu adalah mengajarkan cara/thoriqohnya dzikir Laa ilaaha illalloh atau cara/thoriqohnya syahadat .

Kita tidak cukup hanya dengan mengucapkan :

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOH

 

Sedangkan kita itu memiliki jasmani dan ruhani, apakah cukup hanya dengan lesan saja, apakah cukup dengan hanya mengucapkan : “ Aku sholat, aku zakat, aku puasa, aku hajji “, tanpa thoriqoh, tanpa methode, ya jelas tidak cukup.

Oleh karena syahadat itu harus ada methodenya, berarti kita harus masuk Thoriqoh, terserah Thoriqoh apa yang anda pilih, apakah Thoriqoh Naqsaban-diyyah, Thoriqoh Qodiriyyah, Thoriqoh Maturidiyyah, Thoriqoh Sanusiyyah, ataukah Thoriqoh yang lain ?.

Kalau tidak ikut Thoriqoh-nya dzikir lalu kapan bisa mengamalkan syahadat atau dzikir Laa ilaaha illalloh secara mendalam ?

Ya jelas tidak bisa.

Di Malaysia, orang-orang itu takut kalau mendengar kata Thoriqoh.

Ini kan aneh, kalau takut terhadap Thoriqoh, ya jangan sholat, jangan puasa, karena sholat dan puasa itu juga ada thoriqohnya.

Didalam Alqur-an, yang banyak diterangkan hanyalah keutamaan-keutamaannya dzikir Laa ilaaha illalloh, seperti :

LAA ILAAHA ILLALLOH MIFTAAHUL JANNAH.

Artinya : “ Laa ilaaha illalloh itu kuncinya surga“.

Ini hanyalah menerangkan tentang keutamaannya saja, tidak menerangkan teorinya.

Sedangkan teorinya haruslah dengan bai‘at, makanya di toko-toko kitab itu tidak ada, karena hal ini memang masalah asror, jadi harus berbai‘at kepada tokoh-tokoh Thoriqoh yang ahli.

Ini kami terangkan agar kita ini mempunyai penjelasan seandainya ada orang yang nanti bertanya kepada kita, agar kita nanti tidak salah menjawabnya.

Ijazah Bahasa Jawa dari Nabi Khidir

1 Komentar


Mengenai doa dengan bahasa daerah setempat, KH. Idris Marzuqie Lirboyo pernah berkata :

“Kowe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir. Nabi Khidlir yen ketemu wali Jowo ngijazaji dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”



Ada kisah unik mengenai doa bahasa Jawa ini. Suatu ketika di Tanah Arab terjadi kekeringan, lama sekali tidak turun hujan. Mengatasi masalah ini, Raja Hijaz mendatangkan ulama-ulama Makkah dan Madinah, mereka dimintakan doa di depan Ka’bah agar hujan turun segera. Usai seluruh ulama berdoa, hujan tak kunjung turun, malah semakin panas hingga beberapa bulan. Raja Hijaz pun tiba-tiba ingat ada satu ulama yang belum diundang untuk dimintai doa.

Dicarilah ulama tersebut, setelah ketemu, ternyata perawakan ulama tersebut pendek, kecil dan kulitnya hitam. Ulama tersebut bernama Syaikh Nawawi bin Umar Tanara Al Bantani Al Jawi. beliau ahli bahasa arab dan mempunyai karya 40 judul, semuanya berbahas arab.

Lagi

Marhaban Ya Syahro Sya’ban

Tinggalkan komentar


🌿Marhaban Ya Syahro Sya’ban
Banyak manusia yang lengah di bulan Sya’ban karena sibuk dan merasa cukup dengan dua bulan mulia yang mengapit bulan Sya’ban, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Melakukan ibadah pada waktu orang lain lalai, memiliki kelebihan tersendiri.
Nabi Muhammad shollallohu’alaihi wasallam bersabda: Barang siapa berpuasa 3 hari pada awal bulan Sya’ban, 3 hari pada pertengahannya dan 3 hari pada akhirnya maka Alloh akan mencatatnya pahala 70 nabi, bagaikan orang yang beribadah selama 70 tahun dan jika meninggal pada tahun itu maka ia mati syahid.

(Durrotun Nashihin 219)
•Amalan bulan Sya’ban dari Al-Habib Umar bin Hafidh:

لا اله الا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين

La ilaha illa anta subhanaka inni Kuntu minaddholimin.

(paling sedikit 4000 kali)
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد صلاة نكون بها محبوبين لك ومحبوبين له فى عافية

Allohumma solli wasallim ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala Ali sayyidina Muhammadin sholatan nakunu biha mahbubina laka wamahbubina lahu fi ‘afiyah.

Lagi

Dekatkan Hati dengan Para Wali

Tinggalkan komentar


MENDEKATLAH KEPADA WALI-WALI ALLAH

Al-Habib al quthb al ghouts Ahmad bin hasan al Atthas, berkata :

” Sepatutnya seseorang memiliki tali hubungan dengan orang sholeh/wali baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal.”
Al-Habib Ali bin Muhammad al Habsyi:

” Siapa orang yang tidak pernah duduk dengan orang arif (sholeh) maka kehidupannya akan terlewat dengan sia-sia dan ia terhitung sebagai orang yang merugi.”

Lalu bagaimana cara kita menjalin hubungan dengan orang sholeh…?

Al-Habib Umar bin Hafidz berkata bahwa Al imam Alhabib Hasan bin Ahmad al Atthas menyebutkan jika seseorang menyebut nama orang sholeh/wali maka jarak antara ia dengan orang sholeh/wali tersebut semakin dekat.
Al-Habib Umar bin Hafidz berkata,

“Orang yang menyebut nama orang sholeh/wali itu seperti orang yang menelpon. Contohnya ketika kita memencet nomor telpon maka akan berdering pada nomer yang kita tuju.

Lagi

Cara Membedakan antara Nafsu atau Bukan

Tinggalkan komentar



CARA MEMBEDAKAN ANTARA NAFSU ATAU BUKAN

“Jika ada dua perkara yang tidak jelas (meragukan) bagimu, maka lihatlah mana di antara keduanya yang paling berat bagi nafsu, lalu ikutilah ia karena tidaklah terasa berat bagi nafsu, kecuali sesuatu yang benar.”

—Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam
Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan: “Wahai Murid, jika ada dua perkara yang tidak jelas dalam pandanganmu, seperti dua kewajiban atau dua hal yang sunnah, dan engkau tidak mengetahui mana yang paling utama dilakukan, maka lihatlah mana di antara dua kewajiban itu yang paling berat dilakukan oleh nafsu dan dirimu. Lalu, ikutilah ia dan laksanakan.
Contohnya, mencari ilmu yang wajib atau mencari rezeki untuk keluarga. Mencari ilmu yang melebihi kewajiban atau melakukan ibadah-ibadah sunnah. Lihat mana di antara kedua perkara ini yang lebih berat bagi nafsumu, karena tak ada yang berat bagi nafsu, kecuali sesuatu yang benar.

Lagi

11 Golongan yang Ditemui Nabi Muhammad saat Isra dan Miraj

Tinggalkan komentar


11 Golongan yang Ditemui Nabi Muhammad saat Isra dan Miraj

11 Golongan yang Ditemui Nabi Muhammad saat Isra dan Miraj
Isra dan Miraj adalah sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa bagi Nabi Muhammad SAW. Perjalanan ini ibarat perjalanan keilmuan dan penempaan mental bagi nabi dalam bersikap ketika nanti berhadapan dengan bermacam-macam jenis manusia saat berdakwah.

Untuk itu secara khusus Allah SWT memberikan waktu tersendiri bagi Nabi Muhammad SAW untuk berkenalan dengan macam-macam manusia yang akan beliau temui ketika berdakwah.

Secara etimologi, Isra berasala dari أَسْرَى yang artinya berjalan di waktu malam. Isra adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.

Secara etimologi, Isra berasala dari أَسْرَى yang artinya berjalan di waktu malam. Isra adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.

Syekh Najmudin Al-Ghaithi dalam kitab Dardir Miraj-nya menuturkan kisah-kisah nabi ketika bertemu dengan ummatnya yang bermacam-macam. Saat itu nabi sedang melakukan perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis. Nabi SAW agak kaget melihat pemandangan yang begitu nyata dan jelas di pelupuk matanya. Berikut golongan-golongan umat nabi yang disaksikan dan ditemui saat Isra dan Miraj.

  1. Orang-orang yang gemar bersedekah
    Nabi melihat golongan ini sering memanen tanaman yang baru ia tanam. Setelah dipanen, tanaman tersebut tumbuh kembali. Begitupun seterusnya sehingga hasil panen mereka melimpah ruah. Mereka adalah orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Allah akan mengganti semua hal yang diinfakkan di jalan-Nya.
  2. Orang-orang yang senantiasa berpegang teguh pada agama Allah
    Ketika itu nabi mencium bau harum. Ternyata ketika ditanyakan kepada Jibril, bau harum tersebut berasal dari keluarga besar Masyitah yang dimasak hidup-hidup oleh Fir‘aun karena tidak mau mengakuinya sebagai Tuhan.
  3. Pemalas mengerjakan shalat fardhu
    Saat itu Nabi melihat sekelompok orang yang kepalanya pecah. Setelah kepala mereka pecah, kepala tersebut utuh kembali. Setelah itu, kepala mereka pecah kembali. Kemudian utuh seperti semula dan pecah lagi. Kejadian itu berlangsung berkali-kali. Nabi begitu iba melihatnya. Nabi kemudian menanyakan ikhwal itu kepada Jibril yang mendampinginya. Jibril dengan jelas mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang kepalanya berat untuk melaksanakan shalat fardhu sehingga urung menunaikannya. Itulah siksaan yang akan diterima oleh orang-orang yang malas melaksanakan kewajiban shalat fardhu di hari pembalasan nanti.

baca selengkapnya disini…

Ijazah Pengamalan Ratib AlHadad Beserta Sanadnya

Tinggalkan komentar


IJAZAH PENGAMALAN ROTIB AL HADDAD BESERTA SANADNYA

Sanad merupakan mata rantai yang menyambungkan dan menghubungkan suatu ilmu atau amalan dzikir sehingga memiliki keterikatan bathin kepada guru-guru nya. Sanad ini sangat penting sbg penguat kebenaran suatu ilmu atau amalan.

Alhamdulillah.. pada Hari senin 24 April 2017 Majelis Rasulullah SAW JATIM kedatangan Tamu istimewa dari kota Tarim “AlHabib Abdullah Bin Ahmad Al Haddad” yang mana beliau memberikan ijazah Pengamalan Rotib Al Haddad beserta sanadnya.

Sanad ini beliau dapat langsung dr Ayah Beliau “Habib Ahmad bin Umar bin Muhammad Al Haddad” yang telah mendapatkan ijazah dari guru beliau “Habib Ahmad bin Hasan bin Ahmad Al Haddad” yang juga telah mendapatkan ijazah dari ayah beliau Habib Hasan Al Haddad.
Habib Hasan Al Haddad mendapat ijazah ini dari 2 guru beliau yaitu Habib Ahmad bin Hasan Al Atthos dan Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi (Pengarang Maulid Al Habsyi/Simtudduror) yang juga telah mendapat ijazah dari guru beliau Habib Idrus bin Umar Al Habsyi.

baca selengkapnya disini…

Sebab-sebab Terkabulnya Do’a

Tinggalkan komentar


Ketahuilah bahwa doa itu ada syarat-syarat dan ada adab-adabya.
Syarat-syaratnya adalah makan makanan yg halal, berdoa dengan keyakinan akan di ijabah, berdoa dengan hati yg tidak lalai, tidak berdoa yg di dalamya terdapat dosa atau memutus silaturami atau menyia-nyiakan hak2 muslimin.
tidak berdoa dengan hal yg tidak mungkin walaupun tidak mungkin secara kebiasaan.

Adab-adabnya adalah memilih waktu2 yg utama misalnya berdoa di waktu sahur, ketika adzan dan iqomah.
sebelum berdoa wudhlu dan sholat terlebih dahulu, menghadap qiblat, mengangkat kedua tangan ke arah langit, mendahulukan taubat dan mengakui dosa2. ikhlash, memulainya dengan memuji kepada Allah dan bersholawat kepada Nabi shollallohu alaihi wasallam , pertengahan doa bersholawat lagi kepada Nabi dan menutup doa dengan pujian dan sholawat juga.

baca selengkapnya….

Pentingkah Sebuah Nama?

Tinggalkan komentar


As-Sayyid-Muhammad-Bin-Alawi-Al-Maliki-Al-HasaniAbuya Sayyid Muhammad Ketika Di Dalam Majlis Menerangkan Bahwa Sayyidina Umar Bin Khottob Radliyallohu Anhu, Merupakan Salah Satu Shabat Nabi Shollaohu Alaihi Wasallam Yang Terkenal Akan Firasatnya Yang Tajam Dan Tepat, Abuya Mengisahkan Bahwa Suatu Hari Ketika Sayyiduna Umar Bin Khottob Rodliyallohu Anhu, Dibaiat Menjadi Khalifah, Beliau Banyak Didatangi Oleh Kaumnya Baik Dari Dalam Maupun Dari Luar Kota. Termasuk Juga Oleh Seorang Badui, Ketika Sang Khalifah Menyapanya Dan Menanyakan Prihal Namanya, Lalu Sang Badui Menjawab :

“Nama Saya Saqor Bin Khutomah Al-Lahabi” [Yang Maknanya Adalah Saqor Bin Neraka Hutomah Bin Api Yang Melahap] Sepontan Sang Khalifah Kaget Mendengar Nama Sang Badui Tersebut, Dalam Kekagetanannya Tersebut Kemudian Sayyiduna Umar Rodliyallohu Anhu, Berkata Kepada Badui :

baca selengkapnya disini…

Ilmu Tashawuf Bukan Bid’ah

Tinggalkan komentar


tasawufILMU TASHAWWUF BUKAN BID’AH
Oleh: Ahmad Ishomuddin

Ada sebagian kecil umat Islam yang merasa benar sendiri dalam beragama dan punya hobi memaksakan kehendaknya menuding bahwa ajaran tashawwuf yang diajarkan oleh para ulama itu bid’ah, yakni mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama tanpa ada contohnya dari Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallama. Tudingan keji bahwa tashawwuf itu bid’ah tidaklah benar dan jauh panggang dari api, karena sebenarnya tashawwuf itu diperoleh dari sejarah Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallama dan dari para sahabatnya yang mulia.

Perilaku ahli tashawwuf terkemudian pada dasarnya meneladani perilaku para sahabat Nabi dan generasi sesudah mereka (tabi’in) meskipun mereka tidak menamakan diri mereka sebagai kaum sufi (mutashawwifin). Mereka menjalani hidup dengan penuh keikhlasan karena Tuhan bukan karena diri sendiri, menghiasi diri dengan sifat zuhud, selalu menjaga ibadah, dengan sepenuh hati dan jiwa menghadap Allah dalam keseluruhan waktunya. Mereka tidak mencukupkan diri hanya dengan berikrar dalam akidah keimanan dan menunaikan rukun-rukun Islam belaka, melainkan menyertainya dengan upaya untuk mencicipi kelezatan dengan rasa hatinya, menambahnya dengan apa saja yang dianjurkan oleh Rasulullah berupa ibadah-ibadah sunnah, dan menjauhkan diri dari apa saja yang makruh lebih-lebih lagi dari apa saja yang diharamkan, sehingga mata batin mereka terang benderang dan hati mereka pun menjadi sumber kebijaksanaan.

baca selengkapnya…

Peliharalah dan Perbanyaklah Niat yang baik

Tinggalkan komentar


niatbismillahirahmanirahim

“Peliharalah dan perbanyaklah niat yang baik, karena seseorang tidak akan mati sehingga dia selesaikan apa yang dia niati”

Sabda Nabi صلى الله عليه واله وصحبه وسلم, kalau seorang manusia berharap kepada manusia yang lain, dan orang yang dia harapkan itu tidak menunaikan apa yang dia harapkan, maka Allah سبحانه وتعالى akan memutuskan harapan orang itu dari Allah سبحانه وتعالى pada hari Akhirah kelak.

Bagaimana pula kalau seseorang itu berharap sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى? Tahun lalu dia sholatnya kurang dan tahun ini dia akan shalat 5 waktu sehari semalam, dulu pelit maka tahun ini dia ingin menolong orang susah, selalu solat sunat witir 3 rakaat maka tahun ini InshaAllah 11 rakaat shalat sunat witir dan semua itu hanyalah semata mata Lillahi ta’ala.

Inilah niat yang baik dan dia tidak akan mati sehingga dia selesaikan semua niatnya itu. InshaaAllah. Meskipun kamu tidak mampu, tetapi kamu akan dapat pahala sebagaimana orang yang telah melakukan hal yang kamu maksud. Misalnya kamu berniat, kalau saya ada rezeki saya harus bangun madrasah madrasah Tahfidz di sini dan di sana. Meskipun itu diluar kemampuan kamu tapi kamu akan dapat pahala sebagaimana mereka yang telah bangun madrasah tahfidz itu.

baca selengkapnya disini….

Matahari Telah Pulang

Tinggalkan komentar


gusdurOleh KH. Husain muhammad
Langit Desember Yang Murung
Jam 19.00, satu hari menjelang tahun 2009 berganti, HP berdering mengganggu makan malam gratis saya di rumah makan “Jepun”, milik N, sahabat saya. Jay, wartawan Koran Sindo mengkonfimasi kabar mengejutkan. “Bagaimana Gus Dur, aku dengar beliau wafat”, katanya tegang. Dengan dada berdegup, saya segera menghubungi A.W. Maryanto, teman yang selalu mendampingi Gus Dur di Rumah Sakit. Jawabannya tak meyakinkan. Katanya : “Aku baru saja istirahat dan sekarang sedang makan. Jam 17.00 tadi, 18 orang dokter khusus telah memeriksa kesehatan Bapak dan beliau sudah baik”. Tetapi saya penasaran. Yenni, putri kedua Gus Dur, saya kontak. “Bapak meninggal, mbak Yenni di dalam”, suara Innayah, putri bungsunya, lirih bergetar, tersekat. Dan saya terkulai lemas. Langit 30 Desember 2009 tiba-tiba menjadi muram, murung. Saya segera sms Ibu Shinta, isteri tercinta Gus Dur : “Ibu, saya sangat menyesal tidak berada di samping bapak, seperti sebelumnya, mohon maaf”. Ya seperti sebelumnya ketika Gus Dur beberapa kali berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, saya menjenguknya sekaligus mendo’akan kesembuhannya dengan segera. Dan saya merasa mendapat kehormatan, ketika beliau meminta saya berdo’a bagi kesehatannya. Dengan tetap berbaring di tempatnya, di didampingi ibu Nur, isterinya yang setia dan orang-orang yang hadir, Gus Dur dan mereka mengamininya.

baca selengkapnya disini….

Musibah didalam Musibah

Tinggalkan komentar


lonely_tree-edMungkin bangsa indonesia memang perlu diruwat, Ruwat dalam bahasa jawa kurang lebih berarti bebas. Diruwat, artinya diupayakan agar terbebas dari tenung dan malapetaka. saya menggunakan istilah itu terlepas dari ruwatan dalam upacara adat jawa dalam pengertian harfiahnya. Rasanya bangsa ini memang perlu mengupayakan agar dirinya terbebas dari musibah.

Lebih dari dua tahun, bahkan menginjak tahun ketiga secara beruntun kita didera berbagai musibah. Mulai dari tsunami, gempa bumi, kebakaran hutan, tanah longsor, angin ribut, lumpur panas, kecelakaan didarat; dilaut ; dan diudara, pertikaian antar etnis dan golongan, pergulatan di kalangan politisi, hingga musibah yang paling besar yang sering luput dari hitungan; KORUPSI. Bahkan sudah keluar negeri, ditempat suci Arafah, musibah masih mengejari orang indonesia.

baca selengkapnya….

Sholawat Anti Maling

Tinggalkan komentar


Sholawat Anti Maling

Sholawat ini dengan kehendak Allah apabila dibaca di rumah akan dihindarkan dari kebakaran, apabila disimpan di rumah akan dihindarkan dari pencurian. (Habib Muhammad bin Hadi)

Semua Untukmu Ibu, selamat hari ibu

Tinggalkan komentar


ibu

kasing sayang ibu

Tidak ada sutera yang begitu lembut seperti belaian seorang ibu,
Tidak ada Tempat yang paling nyaman selain pangkuan seorang ibu,
Tak ada bunga yang lebih cantik selain senyummu ibu,
Tak ada jalan yang begitu berbunga-bunga seperti yang dicetak dengan langkah kakimu.
Kau adalah alasan kenapa aku ada.

Aku ingin memulai hidup kita yang baru,Bu. Sesuatu yang jika kelak anak anakku menanyakannya akan kuceritakan semuanya dengan perasaan lega dan bangga. Maka akan kuperkenalkan engkau sebagai ibuku, nenek tercinta bagi mereka. Aku ingin kita yang baru Bu. Sesuatu yang jika suatu saat aku harus pergi untuk selama lamanya dan tak mungkin pulang lagi ke rumahmu,pelukanmu,aku tak akan sedikitpun merasa takut atau malu karena aku telah menggenggam restumu.

baca selengkapnya….

Puisi untuk Ibu ; Pelangi di Putihku

Tinggalkan komentar


puisi-ibuPUSI UNTUK IBU

“PELANGI DI PUTIHKU”

putih
kosong
ibarat untuk buah hati ibu
iya,
itu aku, ibu

aku tak tahu apapun
aku tak tahu siapapun
bahkan,
aku tak bisa memilih
siapa yang akan torehkan
tinta di putih ku

baca puisi selengkapnya….

Agar tidak terjerumus dalam Karomah

Tinggalkan komentar


habib-lutfiAGAR TIDAK TERJERUMUS OLEH KAROMAH

oleh. Alhabib Muhammad Lutfi Bin Yahya Pekalongan

Karomah artinya kemuliaan, yang diberikan Allah untuk hambaNya yang cinta kepada Allah Swt. Dan karomah auliya (para wali) itu bukan tujuan (ghayah). Dalam ibadah mereka bukan untuk mencapai martabat karomah atau supaya mendapatkan karomah. Tapi semata-mata karena Allah Swt., merupakan fadhal Allah Swt.
Sebab, karomah itu sendiri bagi orang-orang yang belum mampu (kuat) sedang ia mengejar tentang karomah itu maka yang muncul adalah fitnah. Bukan fitnah antar manusia yang percaya dan tidak percaya (terhadap karomah), melainkan fitnah mengundang dirinya sendiri yang tidak terjaga oleh Allah Swt. hingga ia sendiri terjerumus.
Diantaranya (terjerumus pada) sifat ananiyah (akuisme/egoisme), yang terkadang balapan dengan fadhalnya Allah Swt. Pemberian dari Allah Swt. ditutupi dengan sifat ananiyah-nya sendiri. Yang akhirnya tidak mampu membawa kemuliaan dari Allah, tapi justeru yang dibawa adalah ananiyah sendiri. Contohnya, ada seseorang yang kebetulan omongannya selalu diijabah oleh Allah Swt. Sedangkan Allah mengijabahkan kepada hambaNya bukanlah suatu kebetulan. Allah Swt. memberikan karomah tidak berbentuk kebetulan. Kalau kebetulan berbau keterpaksaan.
Jadi jika Allah Swt. menghendaki memberi, ya memberi. Tinggal tergantung yang diberi itu sendiri mampu atau tidak membawa karomah.

baca selengkapnya disini….

Sholawat Awwalin

Tinggalkan komentar


 

Sholawat Awwalin

Sholawat Awwalin

Sholawat Awwalin
Allâhumma sholli ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa ‘alâ â-li sayyidinâ muhammadin fil awwalîna wal â-khirîn, wa fil mala-il a’lâ ilâ yaumiddîn
Abul Hasan Al-Bakri, Abu ‘Umarah bin Zaid Al-Madini dan Muhammad bin Ishaq Al-Mathlabi meriwayatkan, “Suatu hari ketika Rasulullah saw berada di masjid, tiba-tiba seorang lelaki bercadar datang menemui beliau.  Lelaki itu membuka cadar yang menutupi wajahnya dan berkata dengan fasih, ‘Salam sejahtera untukmu duhai manusia yang memiliki kemuliaan yang menjulang tinggi dan tak tertandingi.’  Nabi saw kemudian mendudukkan lelaki tersebut diantara beliau dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.  Abu Bakar memandangi lelaki tersebut kemudian berkata kepada Rasulullah saw, ‘Duhai Rasulullah, mengapa engkau meletakkannya di antara aku dan engkau sedangkan aku mengetahui bahwa di muka bumi ini tidak ada seseorang yang engkau cintai melebihi diriku?’
Rasulullah saw kemudian bersabda, “Duhai Abu Bakar, Jibril memberitahuku bahwa lelaki ini suka bershalawat kepadaku dengan sebuah shalawat yang belum pernah dibaca oleh siapapun sebelumnya.”
Sayyidina Abu Bakarpun lantas berkata, “Duhai Rasulullah ajarkanlah kepadaku shalawat yang ia baca agar aku dapat bershalawat kepadamu dengannya.’
Rasulullah saw kemudian menyebutkan shalawat awwalîn di atas.
Abu Bakar kemudian bertanya, “Duhai Rasulullah, apakah balasan yang akan diperoleh seseorang yang membaca shalawat ini?”
Rasulullah saw menjawab, “Duhai Abu Bakar, engkau telah menanyakan sesuatu yang aku tidak mampu menghitungnya.  Seandainya lautan menjadi tinta, pepohonan menjadi pena dan para malaikat menjadi juru tulis.  Maka lautan akan kering, pepohonan akan habis sedangkan para malaikat belum selesai mencatat pahala shalawat ini.”  Hadis ini diriwayatkan oleh Abul Faraj dalam bukunya Al-Muthrib.

Orang bodoh menjadi tokoh Agama

Tinggalkan komentar


ulama-palsuSaat ulama yang otoritatif wafat dan langka,  maka banyak orang bodoh mengangkat diri mereka sebagai tokoh agama.  Mereka merasa telah menjadi ulama,  bahkan merasa menjadi ulama besar hanya dengan modal satu dua ayat dan hadits, sorban,  jubah dan sekedar bisa ceramah.
Jauh-jauh hari Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa ilmu agama akan lenyap dengan diwafatkannya ulama,  sehingga orang-orang bodoh pun menjadi pemimpin,  pemberi fatwa yang sesat dan menyesatkan umat.
عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسءلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا ( متفق عليه )
Diriwayatkan dari Abdillah bin Amr,  ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,  ” Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan mencabutnya sekali cabut dari para hamba,  akan tetapi ilmu itu diambil dengan cara mengambil (mewafatkan)  ulama itu,  apabila tidak lagi ada orang berilmu (‘alim) maka manusia menjadikan orang-orang bodoh menjadi pemimpin.  Sehingga bila mereka ditanya,  maka mereka menjawab (berfatwa)  tanpa ilmu,  maka mereka itu sesat dan menyesatkan.”  (Muttafaq ‘alaihi)

baca selengkapnya disini…

Sholawat Ridho

Tinggalkan komentar


Sholawat Ridho

Sholawat Ridho

Shalawat di atas dianjurkan oleh Imam Ghazali untuk dibaca sebanyak tujuh kali di hari Jum’at.  Sebagian ulama mengatakan bahwa barangsiapa membaca shalawat ini sebanyak tujuh kali selama tujuh Jum’at, maka ia pasti mendapat syafaat Nabi Muhammad saw.
Allâhumma sholli ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa ‘alâ â-li sayyidinâ muhammadin sholâtan takûnu laka ridhô an wa lihaqqihî adâ an, wa a’thihil wasîlata wab ‘ats hul maqômal mahmûdal ladzî wa ‘adtah, waj zihî ‘annâ mâ huwa ahluh, wajzihî afdhola mâ jâ zaita nabiyyan ‘an ummatih, wa sholli ‘alaihi wa ‘alâ jamî’i ikhwânihî minan nabiyyîna was shôlihîn, yâ arhamar rôhimîn.

Menyelami kehendak (Al iradah)manusia

Tinggalkan komentar


habib-lutfiMENYELAMI KEHENDAK (AL-IRADAH) MANUSIA

Oleh. Alhabib lutfi bin yahya pekalongan

Al-Iradah (kehendak) itu harus dikembalikan dahulu yang pertama kepada niat. Niat dikembalikan kepada ilmu. Punya niat baik, punya kehendak baik, tapi tidak mempunyai ilmu juga sulit. Mempunyai ilmu, mempunyai kehendak dan mempunyai niat yang baik tapi tidak didasari khaufun billah (takut kepada Allah), juga susah. Khauf (takut) kepada Allah Swt. bukan karena nerakaNya. Cinta kepada Allah bukan karena surgaNya. Tapi cinta kepada yang menciptakan surga dan neraka lebih besar daripada cinta kepada surgaNya atau takutnya pada neraka. Itu diantaranya khauf.
Dan khauf ini harus selalu kita gandeng. Sebab khauf tanpa ilmu, maksudnya khauf jarang juga orang yang mengetahuinya. Tapi kalau khauf mempunyai ilmu, berbeda. Karena kaitannya khauf juga tidak terlepas dari:
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَاَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah melihatNya, jika tak mampu demikian maka pasti Dia melihatmu.”
Merasa bersembah sujud, menyembah sujud kepada Allah Swt.

baca selengkapnya disini…

Kekuatan (energi) Alqur’an dan Politisasi

1 Komentar


kh-a-hasyim-muzadiKH. A. Hasyim Muzadi tentang kasus Ahok :

Dikalangan umat Islam seluruh dunia ada tiga hal yang tidak boleh disinggung atau direndahkan  yakni : Allah SWT, Rasulullah SAW, dan Kitab suci Al-Quran. Apabila salah satu, apalagi ketiganya disinggung dan direndahkan pasti mendapat reaksi spontan dari umat islam tanpa disuruh siapapun. Reaksi tersebut akan segera meluas tanpa bisa dibatasi oleh sekat-sekat organisasi, partai, dan birokrasi. Kekuatan energi tersebut akan bergerak dengan sendirinya tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Fenomena demo 4 Nopember 2016 tentu secara lahiriah dipimpin oleh beberapa tokoh yang merasa terpanggil untuk membela kesucian kitabnya. Namun jumlah yang hadir membuktikan adanya kekuatan (energi spritiual) yang dahsyat dari pengaruh Al-Quran tersebut. Hal ini dapat dibuktikan para pemimpin yang melakukan demo atau mengumpulkan masa tanpa dorongan spiritualisme tersebut tidak mungkin dapat menggerakan umat yang berjumlah jutaan. Mereka berjalan dengan damai, tertib dan siap untuk berkorban. Sehinga sesungguhnya tidak perlu dicari dalangnya, provokator atau siapa yang membayar. karena provokator dan bayaran setingkat apapun tidak akan mampu menggalang kekuatan tersebut. Yang ada mereka adalah menempel gelombang besar untuk kepentingannya bukan kemampuan menciptakan gelombang itu sendiri.

baca selengkapnya disini…..

Sholawat Idriisiyyah

Tinggalkan komentar


Sholawat idriisiyyah


KUPERSEMBAHKAN UNTUK PENGGEMAR SHOLAWAT SEJATI
Sayyidina Al-‘Arifbillah, guru kita Habib Abubakar bin Abdullah Al-’Atthas memperoleh shalawat ini berikut ijazahnya dari Sayyidina Ahmad bin Idris secara langsung.  Beliau lalu menuliskan shalawat ini dan menyimpannya di dalam tas pakaian.  Sewaktu berlayar di laut, seorang darwisy ahli sirr batin (ahlis sirr al-bâthin) dan ahli kasyf melihat cahaya keluar dari tas Habib Abubakar hingga ke langit.  Ia lalu memberitahukan atas apa yang dilihatnya kepada Habib Abubakar.  Habib Abubakar berkata kepadanya, “Tasku ini hanya berisi pakaian dan shalawat.”  Habib Abubakar lalu menunjukkan shalawat itu kepada sang darwisy. Dan menurut si darwisy, cahaya itu keluar dari kertas sholawat tsb.

Lagi

Pesan Damai Habib Umar bin Hafidz dalam Majelis Rasulullah di Istiqlal

2 Komentar


 

PESAN DAMAI HABIB UMAR BIN HAFIDZ

Petikan Tausiyah Al ‘Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia, 31 Oktober 2016
Disalin oleh: ust. Imron Rosyadi
Sebagian perkumpulan di dunia ternyata memberikan kegelapan di akhirat, membuahkan penyesalan yang dahsyat, masuk ke dalam Adzab, terhijab dari doa para Nabi, membuat orang tersebut tidak dapat datang ke Telaga Rasulullah.
Wahai orang-orang yang hadir, kalian hadir untuk siapa ? Kalian hadir demi siapa?
Barangsiapa yang hadir di majelis ini jika dalam hatinya ada campuran niat yang kurang lurus semoga hatinya diluruskan dalam barisan orang-orang yang ikhlas.
Beruntunglah karena Allah Subhanahuwata’ala memuliakan kalian yang hadir di Majelis ini. Barangsiapa yang terharamkan mendampingi para Ulama dan Auliya Allah di dunia maka terharamkan baginya mendampingi di akhirat.
Fir’aun pada masanya binasa karena kesombongannya. Dia ingin mencela Nabi Musa dengan celah kesalahan ucapan Nabi Musa. Tapi Allah menjaga segala ucapan Nabi Musa dengan ucapan-ucapan yang baik.
Allah Subhanahuwata’ala menjelaskan kebinasaan Fir’aun dan bala tentaranya di dalam Al Qur’an. Apakah semua hartanya dan kekuasaannya masih bermanfaat bagi dirinya setelah binasa? TIDAK.
Karena segala sesuatu yang indah dan bagus akan selalu milik kaum Sholihin.

Lagi

​Bisa Sabar dalam Shalat, Sabar Pula dalam Kehidupan Sehari-hari

Tinggalkan komentar


habib-lutfibismillahirahmanirrahim
Bisa Sabar dalam Shalat, Sabar Pula dalam Kehidupan Sehari-hari

apa makna hakekat sabar ?
bagaimana kesabaran itu ?

penjelasan dari transkrip salah satu ceramah Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thaha bin Yahya Pekalongan, Rais ‘Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah

 

Apa makna dari ayat “Wasta’inu bishshabri washshalah” ; tolong-menolonglah dalam kesabaran dan shalat”? (QS. al-Baqarah ayat 45)
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ

Kita mengambil makna yang paling bawah (dasar) dulu, mengingat kalimat ayat tersebut berhubungan dengan dunia tasawuf. Pendidikan tasawuf pertama kali adalah berdasarkan “wasta’inu bishshabri washshalah”. Orang-orang yang ma’rifat atau kaum ‘arifin ketika mendengar panggilan adzan atau perintah shalat, hati para beliau tergugah dan senang. Ingin segera memenuhi panggilan shalat. Menganggap panggilan itu adalah kehormatan, bukan beban. Bagaimana dengan kita ketika adzan berkumandang?

baca selengkapnya disini…

Kajian Al-hikam ; Kekuatan himmah tidak akan mampu mengoyak tirai qadar Allah

Tinggalkan komentar


al-hikam

ilustrasi NU online

Al-Hikam Pasal 3: Himmah dan Qadar

 

سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ

“Kekuatan himmah (kemauan) tidak akan mampu mengoyak tembok qadar Allah SWT.”

sebelum mensyarah-kan pasal ini, maka tinjau dulu syarah pasal 2 yang masih ada kaitannya dengan pasal 3

Sebagaimana telah dijelaskan dalam pasal 2

إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ.
وَ إِرَادَ تُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ

“Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menegakkan engkau di dalam asbab, merupakan syahwah yang tersamar (halus). Dan keinginanmu kepada asbab, pada saat Allah sudah menegakkan engkau dalam tajrid, merupakan suatu kejatuhan dari himmah yang tinggi.”

Dalam pasal ini, Ibnu Atha’illah menggunakan beberapa istilah baku dalam khazanah sufi, yang harus dipahami terlebih dahulu agar mendapatkan pemahaman yang utuh. Istilah-istilah itu adalah: tajrid, asbab, syahwat dan himmah.

baca selengkapnya disini………..

Gratis biaya ; Penerimaan santri ma’had tahfidz imam mahfudz tarmasi

Tinggalkan komentar


turats-ulama-nusantaraمعهد الإمام محفوظ الترمسي لتحفيظ القرآن

MA’HAD TAHFIDZ IMAM MAHFUDZ TARMASI

Yayasan Turats Ulama Nusantara

Sekretariat TUN : RT 01/ RW 02, Ds Karanganyar, Kec Karanganyar, Kab Demak, Jawa Tengah – 082321212922
MENERIMA SANTRI BARU
TURATS ULAMA NUSANTARA

Turats Ulama Nusantara adalah sebuah yayasan yang bertujuan melestarikan karya-karya ulama Nusantara. TUN bermanhajkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan mengikuti para ulama Asya’iroh dan Maturidiyyah dalam akidah, Madzahib Arba’ah dalam syariah, dan Shufiyyah dalam suluk dan tarbiyyah.

baca selengkapnya disini….

Saatnya Santri membangun Negeri

Tinggalkan komentar


ilustrasi Santrigaul.net

ilustrasi Santrigaul.net

bismillahirahmanirahim

sahabatku yang dirahmati Allah, tanggal 22 oktober sudah ditetapkan sebagai hari santri nasional, momentum seperti ini tentunya sangat baik sekali jika diiringi dengan pembenahan dari segala sisi khususnya dalam diri santri sendiri, bicara mengenai santri mungkin persepsi kita akan berfikir bahwa, Seorang santri itu hanyalah seseorang yang bisa mengaji, memakai kopiah, memakai sarung, dan yang paling menjadi bahan perbincangan seorang santri itu kebanyakan dari mereka ketinggalan zaman, ndeso dan sebagainya, mungkin anggapan ini bisa dikatakan benar, tapi akan sangat salah besar jika dihadapkan pada sebuah realita fakta yang pernah ada, bahwa dinegara tercinta indonesia ini pernah ada seorang santri yang menjadi kepala negara (Presiden), menteri-mentri dan pejabat tinggi dinegeri ini.

sebuah fakta yang tak bisa dipandang remeh, keberadaan seorang santri memang dan seharusnya bermetaformosis menjadi bagian yang punya jabatan strategis baik di pemerintahan dari level atas hingga level terendah sekalipun. kenapa harus santri, karena setidaknya dengan bekal ilmu agama yang ada didalam dada mampu menjadikan apapun yang digelutinya lebih amanah, terpercaya, jujur dan yang utama tak lain semata-mata mengharap ridho Allah. Pak Prof. Mahfud MD contohnya, beliau dilahirkan di Omben Sampang Madura, Beliau pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Mardhiyah, Kecamatan Waru, Pamekasan, Madura. Beliau Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini, pernah menjabat Menteri Pertahanan di era Presiden Abdurrahman Wahid, presidennya santri, mentri pertahanannya santri pula, dan banyak tokoh-tokoh sekarang yang mengisi pemerintahan adalah seorang “santri” Subhanallah, keren bukan ?

baca selengkapnya disini…..

Older Entries

%d blogger menyukai ini: