Sudah hampir seminggu Kiai Badrun sakit. Murid-muridnya terlantar tak ada yang mengajari. Pondok kecilnya sepi meski Jarun dan Manun masih sering datang dan mengajak santri yang lain berkumpul. Hindun pun hampir tak bisa ke mana-mana. Hanya mondar-mandir dari dapur ke kamar, kamar ke ruang tamu, balik lagi ke kamar. Sesekali membawakan makanan, sesekali membawakan air untuk wudhu. Di sela-sela sekali-sekalinya Hindun itu, Jarun masuk ke kamar sang Kiai.

“Kiai, apa Kiai pernah merokok?” Jarun bertanya dengan muka serius. Baru kali itu mukanya terlihat serius bukan kepalang. Alis-alisnya menyatu seperti tengah berpikir keras dan berupaya meramal meski ia tahu ramalannya akan tak menghasilkan apa-apa.

“Maksud kamu, Run?”

“Maksud saya ya, apa Kiai pernah merokok sampai jatuh sakit seperti ini? Kiai kan tahu, rokok itu dapat menyebabkan kanker, gangguan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin… Mungkin saja Kiai terserang penyakit yang rentet saya sebut itu.”

“Maksud kamu, Run?” Kiai Badrun bertanya lagi. Tak percaya.

“Kalau bukan karena rokok, lalu karena apa? Rokok itu kan kawan malaikat maut yang paling mengerikan, Kiai.”

“Saya ndak pernah merokok, Run.”

“Kalau begitu, sekarang Kiai mungkin harus merokok.”

“Maksud kamu, Run?”

“Mungkin saja kalau sudah punya label Kiai, rokok itu jadi obat, jadi vitamin, Kiai. Rasanya jadi lebih manis dari anggur. Kiai Makmun, sudah berapa tahun umurnya? Nyaris satu abad, Kiai. Merokoknya sudah lebih dari setengah abad, tapi masih lancar mengajar dan memimpin pengajian.”

Kiai Badrun diam saja. Menatap langit-langit sampai muridnya yang paling sontoloyo itu membisiknya lagi, “Ini mungkin jadi obat, Kiai. Percayalah…”

Baru setelah itu, Kiai Badrun tertawa. Khas. Haha…

“Kok Kiai malah tertawa? Apanya yang lucu? Apa Kiai ndak paham kalau Kiai menghisap satu rokok ini saja, ada banyak petani tembakau yang rizkinya terpenuhi? Bayangkan saja kalau semua kemudian berdoa untuk Kiai supaya lekas sehat lagi. Apa Kiai juga ndak paham kalau Kiai menghisap satu rokok ini saja, pendapatan negara ikut naik dan fakir miskin jadi punya lebih banyak jatah pembangunannya? Bayangkan kalau fakir-fakir miskin itu berdoa untuk Kiai supaya lekas sembuh…”

“Jadi rokok ini bisa jadi lebih sehat dari madu? Lebih mujarab dari paracetamol?”

“Dengan izin Allah, Kiai…” Jarun mantap.

“Kalau begitu, ke mana nanti larinya malaikat maut? Yang ikut membunuh orang-orang dari nyala api di ujung bibirnya itu…”

“Ah, Kiai ini. Mana ada malaikat maut dekat dengan para pemain sepakbola yang olahraga setiap hari? Apa Kiai lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu bisa membuat para atlet bisa terus berolahraga dan berprestasi, kompetisi sepakbola terus bergulir, bulutangkis bisa juara olimpiade, bola basket kampiun di Asie Tenggara, voli kita bersaing di Asia? Apa Kiai juga lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu sudah berhasil menyekolahkan ribuan mahasiswa cerdas? Italia, Inggris, Spanyol, sudah dekat sekali dengan kita, Kiai. Tontonannya sudah masuk ke negeri kita menjadi sangat dekat karena sebatang rokok yang Kiai hisap itu. Bayangkan betapa girangnya anak-anak muda yang jingkrak-jingkrak di konser musik, dari artis dusun sampai luar negeri, teater dan ruang seni begitu terbuka… Semua, bisa jadi karena satu batang rokok yang Kiai hisap itu. Dan Kiai bisa bayangkan sendiri, bandingkan saja apa yang sudah dipersembahkan sebatang rokok yang Kiai hisap itu dibandingkan zakat, infaq dan shadaqah yang setiap hari Kiai suar-suarkan lewat pengajian untuk dikeluarkan…”

Kiai Badrun diam saja. Tatapannya lurus ke muridnya yang paling sontoloyo. Baru kali ini Kiai terkesima karena Jarun bisa terus bicara tanpa berhenti dalam kalimat yang tak habis-habis. Mukanya memerah karena kehabisan napas, dan setelah itulah sang Kiai kembali tertawa.

Haha…

Jarun membalasnya dengan tawa yang lebih keras. Lalu menyodorkan sebatang rokok ke depan bibir sang Kiai.

“Hisap saja, Kiai… Bahkan, anggur, di tangan Kiai menjadi lebih lezat dari susu dan madu.”

Kiai mengambilnya, memasukkannya di sela-sela bibir. Menggamitnya dengan seksama, lalu berbisik saja, “Ndak usah dinyalakan apinya…”

Iklan