Apakah yang menjadi resep teramat jitu, yang dimiliki para sahabat Nabi SAW
yang menjadi balatentara Islam ketika itu, sehingga mereka mampu menaklukkan
dua imperium adidaya, Romawi dan Persia, yang balatentaranya amat kuat dan
perkasa? Resepnya ternyata tersimpul dari pengakuan penuh kekaguman dari
seorang anggota dinas intelejen Romawi setelah melakukan kegiatan mata-mata
di Madinah. Kepada Kaisar Romawi ia mengutarakan kesannya tentang watak kaum
muslimin, “Ruhbaanun bil-laili, firsaanun binnahaar!” Ya, mereka, kaum
muslimin itu, kalau malam tak ubahnya seperti rahib, sedangkan kalau siang
sungguh bagaikan singa!

Umat Islam ketika itu mampu memadukan dua kekuatan ikhtiar yang
sungguh luar biasa, sehingga menghasilkan sesuatu yang, subhanallah, sangat
luar biasa pula. Tubuh dan pikiran seratus persen digunakan untuk
berikhtiar, bersimbah peluh berkuah keringat. Dikerahkan segenap potensi
yang telah dititipkan ALLOH Azza wa Jalla, demi teraihnya suatu prestasi
tertinggi, suatu karya terbaik. Dengan demikian, jadilah ia muslim yang
unggul, prestatif, dan patut dibanggakan.

Selain itu, hati pun seratus persen digunakan berikhtiar dengan
sekuat tenaga untuk ber-taqarrub
dan mengejar pertolongan ALLOH, sehingga menjadi hamba yang ridha dan
diridhai-Nya. Jadilah ia ahli ibadah yang unggul dan prestatif, kekasih
ALLOH Azza wa Jalla, yang akan dikuatkan-Nya manakala ia lemah, yang akan
dicukupkan-Nya ketika ia dalam kekurangan, yang akan dilapangkan-Nya bila ia
dalam kesempitan, yang akan ditenteramkan-Nya tatkala ia dilanda gelisah,
serta akan ditolong dan dibela-Nya sekiranya ia dianiaya dan disakiti.

Bagi hamba ALLOH yang unggul dalam ibadah kepada-Nya, maka baginya
ALLOH itu dekat, “…fa innii qariib. Ujiibu da’wataddaa’i idzaa da’aan”
[Q.S. AI-Baqarah (2): 186]. Aku adalah dekat. Aku mengabulkan orang yang
berdo’a apabila ia mendo’a kepada-Ku! Bahkan, baginya ALLOH itu teramat
dekat. “…dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” [Q.S. Qaf
(50): 16]

Gambaran seorang muslim yang unggul dan prestatif memang ibarat
rahib dalam kualitas ibadahnya dan laksana singa dalam kualitas semangat
jihadnya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana caranya untuk menjadi
seorang pribadi yang unggul? Salah satu kuncinya yang utama adalah kemampuan
menggenggam waktu. Secara syariat, siang dan malam itu terdiri atas 24 jam.
Seberapa besar seorang muslim mampu menggunakan waktu yang telah
disediakanALLOH tersebut? Dengan kata lain, seberapa mampu seorang muslim
mampu melakukan percepatan diri?

Kita ibaratkan dalam sebuah lomba balap sepeda. Ketika pistol
diletuskan, tampaknya orang yang menjadi juara dalam balap sepeda tersebut
adalah orang yang dalam detik yang sama bisa mengayuh sepedanya lebih kuat
dan lebih cepat daripada yang dilakukan oleh orang lain, sehingga dia akan
melesat mendahului pembalap yang lain karena energi yang dipergunakan dan
ketepatan gerakannya lebih baik daripada detik yang sama yang dilakukan
orang lain.

Artinya, keunggulan itu sangat dekat dengan orang yang paling
efektif dalam memanfaatkan waktunya. Islam adalah agama yang paling dominan
mengingatkan kita kepada waktu. ALLOH sendiri berkali-kali bersumpah dalam
AI-Quran berkaitan dengan waktu. “Wal ‘ashri (Demi waktu),” “Wadh dhuha
(Demi waktu dhuha).” “Wal lail (Demi waktu malam).” “Wan nahar (Demi waktu
siang).”

ALLOH pun telah mendisiplinkan kita agar ingat terhadap waktu
minimal lima kali dalam sehari semalam: Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib,
‘Isya. Belum lagi tahajjud pada sepertiga akhir malam dan shalat Dhuha
ketika matahari terbit sepenggalah. ALLOH mengingatkan kita untuk selalu
terkontrol dengan waktu yang ada.

Oleh sebab itu, tampaknya tidaklah perlu bercita-cita yang hebat
bagi orang-orang yang menganggap remeh waktu karena kunci keunggulan
seseorang justeru terletak pada bagaimana dia mampu memanfaatkan waktu
secara lebih baik daripada yang dimanfaatkan oleh orang lain.

Dua puluh empat jam adalah waktu sehari semalam yang sama
diberikan kepada setiap orang. Ada yang bisa mengurus dunia. Ada yang mampu
mengurus perusahaan raksasa. Ada yang bisa mengurus berjuta-juta manusia.
Akan tetapi, ada juga orang yang selama dua puluh empat jam tersebut
mengurus diri sendiri saja tidak sanggup. Padahal, jatah waktu yang
dimilikinya sarna.

Jangan salahkan siapa pun kalau kita tidak merasakan gemilangnya
hidup ini. Hal pertama yang harus kita curigai adalah bagaimana komitmen
kita terhadap waktu yang kita jalani ini. Hendaknya selalu melakukan
evaluasi diri. Kalau kita termasuk orang yang sangat menganggap remeh atas
berlalunya waktu, tidak merasa kecewa manakala pertambahan waktu tidak
menjadi saat bagi peningkatan kemampuan diri, maka berarti kita memang akan
sulit menjadi unggul dalam hidup ini.

Kita berpacu dengan waktu. Satu desah nafas adalah satu langkah
menuju maut. Rugi besar kalau kita banyak keinginan, banyak angan-angan,
banyak harapan, tetapi tidak meningkatkan kemampuan. Padahal setiap detik,
menit, dan jam adalah peluang bagi peningkatan kemampuan: kemampuan
keilmuan, kemampuan diri, kemampuan kelapangan dada kemampuan ibadah.
Barangsiapa yang dalam setiap waktu yang dilaluinya selalu tamak dengan
upaya meningkatkan kemampuan diri, maka tidak usah heran kalau ALLOH akan
memberikan yang terbaik bagi diri kita. Insya ALLOH! ALLOH-lah Pemilik
segala-galanya.

Akan tetapi, kalau di dalam diri ini tidak ada peningkatan apa
pun; ibadah tidak semakin khusyuk dan ikhlas, hati tidak semakin bersih,
ilmu tidak semakin tinggi, kekuatan pun tidak bertambah, maka yang tinggal
hanyalah angan-angan belaka. Tidak lebih dari itu. Karena, sebetulnya yang
terlebih penting bukanlah hanya keinginan, melainkan kemampuan — dan itulah
yang menjadi jawaban terbaik dalam mengarungi kehidupan ini.

Waspadalah terhadap waktu. Setiap waktu yang kita lalui harus kita
perhitungkan dengan secermat-cermatnya. Harus membuahkan peningkatan. Kita
harus berbuat lebih baik daripada yang dilakukan oleh orang lain. Hendaknya
kita tidak sekadar bekerja keras saja, tetapi yang jauh lebih baik adalah
bahwa kita harus bekerja keras dan efektif!

Banyak orang yang sibuk bekerja tetapi juga sibuk tertinggal,
sibuk lupa, serta sibuk mencari sesuatu yang seharusnya tidak dia cari
karena semuanya harus sudah siap. Pendek kata, banyak orang yang tampak
sibuk, tetapi ternyata tidak efektif. Bukanlah hal seperti ini yang
diharapkan.

Ada orang yang duduk di depan meja dengan maksud untuk belajar.
Belum beberapa detik saja dia duduk, sudah disibukkan dengan mencari
ballpoint, sibuk mencari buku yang lupa meletakkannya, sibuk menjerang air
untuk ngopi, sibuk melihat foto si dia yang dipajang di sudut meja. Memang
dia duduk selama dua jam menghadapi meja, tetapi tidak menghasilkan apa pun.
Mengapa demikian? Karena, dia tidak efektif.

Untuk menjadi seorang yang efektif dalam mengatur waktu, kita
harus adil dalam membaginya. Ada hak belajar, hak membantu orang tua, hak
ibadah, hak peningkatan kemampuan diri, hak evaluasi, hak istirahat, hak
rekreasi; semua mesti dibagi dengan adil. Sibuk dan hebatnya belajar,
misalnya, tetapi tanpa dibarengi dengan istirahat bahkan tanpa diiringi
dengan mantapnya ibadah kepada ALLOH, itu hanya menunggu waktu yang suatu
saat akan menjadi bumerang.

“Fa idzaa faraghta fanshab. Wa ilaa rabbika farghab.” [Q.S. Alam
Nasyrah (94):7-8]. Kunci efektivitas adalah manakala selesai menuntaskan
suatu urusan, segera bersiaplah untuk mengerjakan urusan lain. Lebih dari
semua itu adalah bagaimana menjadikan segalanya sebagai ladang amal dalam
rangka ibadah kepada ALLOH Azza wa Jalla. Karena, bagaimanapun pada akhirnya
“kepada Tuhanmulah kamu akan kembali” Allaahu Akbar!

Iklan