Beranda

indahnya senyumanmu

Tinggalkan komentar


cerita dari negeri seberang

Suatu saat, adzan Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal dengan tempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Di sana tampak beberapa pemuda yang berpakaian “khas Islam” sedang menantikan waktu shalat. Kemudian, adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yang menarik adalah begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda untuk merapikan shaf. Tanda hitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami segan. Namun, tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak ketus tanpa senyuman, “Shaf, shaf, rapikan shafnya!”, suasana shalat tiba-tiba menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, pada waktu shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacan sang imam begitu bagus karena terbayang teguran yang keras tadi.

Seusai shalat, beberapa jemaah shalat tadi tidak kuasa menahan lisan untuk saling bertukar ketegangan yang akhirnya disimpulkan, mereka enggan untuk shalat di tempat itu lagi. Pada saat yang lain, sewaktu kami berjalan-jalan di Perth, sebuah negara bagian di Australia, tibalah kami di sebuah taman. Sungguh mengherankan, karena hampir setiap hari berjumpa dengan penduduk asli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa “Good Morning!” atau sapa dengan tradisinya. Yang semuanya itu dilakukan dengan wajah cerah dan kesopanan. Kami berupaya menjawab sebisanya untuk menutupi kekagetan dan kekaguman. Ini negara yang sering kita sebut negara kaum kafir.

baca kisah selengkapnya..

abu nawas; itik kaki satu

Tinggalkan komentar


Sekali lagi abu nawas diundang Timur Lenk.abu nawas ingin membawa buah tangan berupa itik panggang. Sayang sekali, itik itu telah dimakan abu nawas sebuah kakinya pagi itu. Setelah berpikir-pikir, akhirnya abu nawas membawa juga itik panggang berkaki satu itu menghadap Timur Lenk.

Seperti yang kita harapkan, Timur Lenk bertanya pada abu nawas, “Mengapa itik panggang ini hanya berkaki satu, abu nawas ?” baca selengkapnya,,

abu nawas; api

5 Komentar


Hari Jum`at itu, abu nawas menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang abu nawas,

“Api ! Api ! Api !”

Lagi

bahayanya penyakit ini

2 Komentar


bismillahirahmanirahim..

Sehatkan hati, segarkan ruhani, raih kehidupan imani..nah sahabatku sudahkah hatimu merasa sehat. Sehat dalam artinya bukan bebas dari penyakit yang bisa dibuktikan secara medis namun sehat yang aku maksud disini sehat dari berbage penyakit hati, tahukah engkau apa itu?

penyakit yang sangat populer dewasa-dewasa ini, bahkan kepopuleranya mengalahkan penyakit-penyakit yang kronis. penyakit tak terlihat namun dampaknya begitu terasa dan menghancurkan yang diterjangnya. para dokter manapun tidak akan bisa menyembuhkan penyakit ini, wah sungguh mengerikan bukan, Lantas siapa yang bisa menyembuhkan..kok keliatan sangat danger gitu..lain dan tidak lain adalah dirimu sendiri..engkaulah yang bisa menghilangkan penyakit ini dalam hatimu

bagaimana tertarik untuk mengobatinya?

penyakita pa sih? engkau pasti tahulah. kok bisa bilang begitu?. bagaiamana tidak tahu lah kadang penyakit itu bersemanyam lama dihati setiap manusia, entah sang pemilik hati itu sudah tahu atau memang menikmati penyakit itu dalam dirinya. Padahal penyakit ini lebih berbahaya dari berbagai penyakit kronis semisal jantung dan paru-paru..penyakit itu tidak lain adalah iri, dengki, benci, hasut, takabur, sombong dan semua kawan-kawannya yang selalu mengajakmu berbuat kemungkaran

sudahkah kau obati penyakit itu dalam hatimu? atau sengaja kau biarkan tumbuh berkembang pesat didirimu? ada yang bisa jawab?

sebuah kisah semoga engkau bisa berubah. InsyaAllah..

Kisah ini terjadi di salah satu TK (taman kanak-kanak), pada suatu hari, guru TK tersebut mengadakan permainan dengan menyuruh setiap muridnya untuk membawa sebuah kantong plastik transparan dan kentang.

Masing-masing kentang tersebut di beri nama berdasarkan nama orang yang di benci. Jadi, setiap anak membawa jumlah kentang yang berbeda sesuai jumlah orang yang mereka benci. pada hari yang disepakati, semua murid membawa kantong plastik berisi kentang ke sekolah. ada yang berjumlah dua, ada yang tiga, bahkan ada yang lima buah.

baca kisah selengkapnya

%d blogger menyukai ini: