Iklan
Beranda

abu nawas; engkau

Tinggalkan komentar


Suatu hari abu nawas, sambil berdiri di dekat lapangan sebelah pasar, dengan sepenuh hati melantunkan sebuah syair:

selanjutnya..

Iklan

apa sih profesimu?

6 Komentar


kawan pasti engkau pernah bertanya pada seseorang atau kamu sendiri yang ditanya seseorang tentang profesi yang digelutinya, ada yang menjawab bekerja sebagai dokter, insinyur, manajer, direktur bahkan ada pula yang dengan jujurnya menjawab menjadibtukang sapu, tukang kebon,tukang parkir, supir dan sebagainya.

jika menjalani profesi yang bergengsi pasti engkau kan merasa bangga dan kadang besar hati. jika engkau suatu saat berada dibawah semisal menjadi tukang sapu atau OB lah cara halusnya, masihkah engkau merasa bangga dengan profesimu atau malah malu karena mendapat profesi tersebut. hayoo coba jawab?

rasa malu itu wajar karena hakekatnya manusia inginya mendapatkan yang terbaik untuk kehidupanya, namun jangan sampai rasa malu itu tumbuh dan berkembang terus didalam dirimu justru itulah yang akan menghambatmu mencapai puncak tertinggi yang engkau impikan, tenang kawan, pendidikan tinggi tak tentu menjadi orang akan mendapatkan pekerjaan terbaik tapi orang yang mau bekerja keras dan berinovasilah yang bisa meraih puncak kesuksesan.

bagaimana mau mencoba kawan?

sebuah kisah menarik semoga bisa diambil hikmahnya, InsyaAllah

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah setengah baya.

baca kisah selengkapnya..

jadikan kritikan sebagai nikmat

Tinggalkan komentar


Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala dirinya ditimpa kritik, celaan, atau penghinaan orang lain. Bagi orang yang lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah dan resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dengan memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dengan cara-cara mengorek-ngorek pula aib lawannya tersebut atau mencari dalih-dalih untuk membela diri, yang ternyata ujung dari perbuatannya tersebut hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan batin dan kegelisahan.

Persis seperti orang yang sedang duduk di sebuah kursi sementara di bawahnya ada seekor ular berbisa yang siap mematuk kakinya. Tiba-tiba datang beberapa orang yang memberitahukan bahaya yang mengancam dirinya itu. Yang seorang menyampaikannya dengan cara halus, sedangkan yang lainnya dengan cara kasar. Namun, apa yang terjadi? Setelah ia mendengar pemberitahuan itu, diambilnya sebuah pemukul, lalu dipukulkannya, bukan kepada ular namun kepada orang-orang yang memberitahukan adanya bahaya tersebut.

Lagi

%d blogger menyukai ini: