kawan pasti engkau pernah bertanya pada seseorang atau kamu sendiri yang ditanya seseorang tentang profesi yang digelutinya, ada yang menjawab bekerja sebagai dokter, insinyur, manajer, direktur bahkan ada pula yang dengan jujurnya menjawab menjadibtukang sapu, tukang kebon,tukang parkir, supir dan sebagainya.

jika menjalani profesi yang bergengsi pasti engkau kan merasa bangga dan kadang besar hati. jika engkau suatu saat berada dibawah semisal menjadi tukang sapu atau OB lah cara halusnya, masihkah engkau merasa bangga dengan profesimu atau malah malu karena mendapat profesi tersebut. hayoo coba jawab?

rasa malu itu wajar karena hakekatnya manusia inginya mendapatkan yang terbaik untuk kehidupanya, namun jangan sampai rasa malu itu tumbuh dan berkembang terus didalam dirimu justru itulah yang akan menghambatmu mencapai puncak tertinggi yang engkau impikan, tenang kawan, pendidikan tinggi tak tentu menjadi orang akan mendapatkan pekerjaan terbaik tapi orang yang mau bekerja keras dan berinovasilah yang bisa meraih puncak kesuksesan.

bagaimana mau mencoba kawan?

sebuah kisah menarik semoga bisa diambil hikmahnya, InsyaAllah

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah setengah baya.

Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. ”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh…saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore untuk menengok anak saya yang ke dua”, jawab ibu itu. ”Wouw… hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak. Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu? Bagaimana dengan kakak adik-adik nya?” ”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita : ”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat berkerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, dan yang ke tujuh menjadi Dosen di sebuah perguruan tinggi terkemuka Semarang.”” Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ?” Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.” kata sang Ibu. Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu… mungkin ibu agak kecewa ya dengan anak ibu yang pertama, karena adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi seorang petani?” Apa jawab sang ibu..??? Apakah anda ingin tahu jawabannya..??? ….Dengan tersenyum ibu itu menjawab : ”Ooo …tidak, tidak begitu nak….Justru saya SANGAT BANGGA dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”… Pemuda itu terbengong….

kawanku apa hikmah yang bisa dipetik Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Orang bijak berbicara “Hal yang paling penting di dunia ini bukanlah SIAPAKAH KAMU? tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN UNTUK ORANG LAIN?”

apapun profesimu jangan pernah merasa malu jadikan itu sarana ibadah untuk mendekatkan diri kepada tuhanmu. InsyaAllah hidupmu pasti kan berkah

semoga bermanfaat.

Iklan