bismillahirahmanirahim..

kawanku yang baik budinya.. jika saya tanya bagimana harimu hari ini, kamu akan jawab apa,??

pasti ada yang bilang baik – baik saja, ada juga yang bilang ah biasa saja, ada yang bilang  alhamdulillah luar biasa ato malah ada yang bilang buruk sekali to kata-kata yang seharusnya tidak kamu ucapkan, jadi harus bagaimana jika menyikapi datangnya hari; ya harus bersyukur walaupun bagaimana keadaan harimu hari ini kawan, alhamdulillah ya Allah, hari ini saya masih kau beri kesempatan untuk hidup, kau beri kesemptan untuk menghirup udara segar ini, alhamdulillah ya Allah engkau panjangkan hidupku, Alhamdulillah ya Allah engkau beri kesempatan untuk memperbaiki kehidupanku, Alhamdulillah ya Allah kau perindah hidupku, alhamdulillah ya Allah..sungguh semua ini karena kuasamu karena kasih sayangmu…

sebuah kisah menarik, bacalah dengan seksama

Di sebuah hutan, tinggallah seekor serigala pincang. Hewan itu hidup bersama seekor harimau yang besar berbadan coklat keemasan. Luka yang di derita serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu. Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang telah di bidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata liar itu tak bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari perkampungan penduduk.

Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi. Setiap selesai berburu, di mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walaupun sedikit, sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan. Sang harimau paham, bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok di pojok gua.

Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa. Sang pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang muridnya. Ia ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak didiknya. Ia juga ingin menguji keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus dari semua pelajaran yang diberikan olehnya. Pada awalnya banyak yang takut, namun setelah di tantang, mereka semua mau untuk ikut.

Di pagi hari, berangkatlah mereka semua. Semuanya tampak beriringan, dipandu sang pertapa yang berjalan di depan rombongan. Setelah seharian berjalan, sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap. Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan sebongkah daging kepada serigala. Melihat kejadian itu, sang pertapa bertanya bertanya kepada murid-muridnya, “Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari sana..?”.

Seorang murid tampak angkat bicara, “Guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya. Karena itu, lebih baik aku berdiam saja, karena toh Tuhan akan selalu memberikan rezekinya kepada ku lewat berbagai cara.” Sang pertapa tampak tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, “Lihatlah serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan.” Selesai bicara, murid itu kini memandang sang guru. Ia menanti jawaban darinya. “Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta. Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau.”

**

Adalah benar bahwa Tuhan ciptakan ikan kepada umat manusia. Adalah benar pula, Tuhan menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi apakah Tuhan ciptakan ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau, adakah Dia berikan kepada kita gandum-gandum itu hadir dalam bentuk seplastik roti manis? Saya percaya, ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat peluh dan kerja keras dari nelayan. Saya juga pun percaya, bahwa gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat usaha dari para petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.

Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak salah jika disana kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang dari Tuhan. Dari sana pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama. Namun, ada satu hal kecil yang patut diingat disana, bahwa: berbagi, menolong, membantu sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu adalah suatu keterpaksaan, bukan pula karena di dorong rasa kasihan dan ingin membalas budi.

Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Disana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan. Sebab disana, akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Di dalam berbagi akan bersemayan keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan kalbu. Teman, jika kita bisa memilih, berhentilah berharap menjadi serigala lumpuh, dan mulailah meniru teladan harimau. (resensi.net)

kawanku, jangan sekali kali engkau beramsumsi menjadi srigala yang kerjanya cuma menadah pemberian dan belas kasihan dari harimau, jangan sampai engkau hidup berpinsip seperti srigala yang maunya cuma meminta-minta belas kasihan orang, sungguh sedih lihatnya berapa banyak orang dinegeri ini yang kepengenya yang mudah -MUDAH  saja namun menghasilkan yang besar, sungguh prihatin melihat banyaknya yang mudah putus asa karena kekurangan pada tubuhnya, padahal sebenarnya kekurangan dirinya adalah kekuatan terbesarnya, sungguh sebenarnya semua manusia bisa menjadi harimau, yang tangguh, yang bekerja keras, yang pantang menyerah, yang hebat yang berkuasa namun sayangnya kebanyakan malah memilih menjadi srigala, keenakan menjadi srigala, ah jadi seperti ini saja toh saya masih bisa hidup sungguh prinsip yang sangat salah, to ada yang menyadari ingin menjadi harimau, ingin berubah, ingin maju, ingin mandiri…  namun tidak tahu caranya menjadi harimau, nah bagaimana denganmu kawan???

sebuah kata mutiara untukmu kawan

jadikanlah luka maupun penderitaanmu sebagai cahaya penerang dalam kegelapan..

jadikanlah luka sebagai pendorong semangat hidupmu..

tengoklah orang-orang bebas yang sukses,

mereka banyak menabung luka hingga tak terhitung jumlahnya,

jangankan engkau, dirinya sendiri saja kewalahan menghitung luka itu…

bagaimana kawan, kamu sekarang sudah tahu kan apa yang harus kamu lakukan?

ya Rabb, yang mendengar semua doa, sekian lama kami menjadikan doa sebagai ritual yang membosankan, karena ia keluar sebagai hafalan, bukan kebutuhan yang bersumberkan dari suara hati yang paling dalam..

ya Allah, wahai tuhan yang menjawab semua permohonan, sudah lama pula kami tidak memanfaatkan kekuatan dan kebesaranmu dalam setiap jengkal kehidupan. kami hidup ya hidup tanpa pernah berkomunikasi sebagaimana layaknya hamba dengan tuhannya, kami makan tanpa berdoa, kami minum tanpa berdoa, kami berkerja, berusaha, berbisnis tanpa berdoa dan segalanya kami lakukan tanpa melibatkan engkau, padahal engkaulah yang mengatur alam ini termasuk segala urusan kami, padahal kekuatan cuma ada padamu, dan padahal kami tidak memilki daya sedikitpun.

ya Allah, tuhan yang menunggu doa kami. buatlah kami mengenalmu lebih baik supaya kami dapat menemukan kemahaanMU dan berkenan memohon pertolonganMu

semoga bermanfaat.

Iklan