bismillahirahmanirahim

kawanku semua yang dirahmati Allah, adakah diantara kalian yang tahu siapakah manusia sejati saat ini. jika kamu jawab nabi muhammad saw. pasti saya akan membenarkan jawabanmu.

namun yang menganjal dibenakku, mungkinkah kita menjadi manusia sejati? saya rasa mungkin jika kita mau berusaha keras mencobanya…

sebuah kisah semoga mengispirasimu…

Di siang bolong seorang Darwis masuk-keluar pasar dengan membawa sebuah lilin ditanganya. Ada  yang menegur dia, Apa yang sedang engkau cari? Untuk apa pula menyalakan lilin? Tidak cukuplah cahaya matahari?”

Darwis menjawab,”aku sedang mencari seseorang manusia”

Seorang manusia? Pasar ini penuh dengan manusia dimana-mana, siapakah yang kau maksudkan?”

“seorang manusia sejati. Ia yang mampu pertahankan kemanusiaanya dalam dua keadaan.”

Keadaan apa?”

“pertama, dalam keadaan marah, Yang “kedua dalam keadaaan lapar. Bila ada yang mampu mempertahankan kemanusiaanya dalam keadaam itu, maka dialah seorang manusia sejati.”

“engkau sedang mencari sesuatu yang sangat langka, katakana apa yang kan kau lakukan jika bertemu dengan seorang manusia sejati seperti itu?

“aku akan mengabdi kepadanya, seumur hidup, untuk selama-lamanya.”

“sungguh engkau sedang mencari ranting. Kenapa tidak mencari akar? Engkau memperhatikan busa menutupi permukaan laut, kenapa tidak memperhatikan laut.?

Sahabatku yang dimulyakan Allah.

Cerita diatas adalah kiasan yang diberikan jalaludin rumi dalam karya fenomenalnya, masnawi, jika membaca cerita diatas, paling tidak ada dua makna tersirat yang bisa kita dapatkan.

Pertama, manusia sejati adalah manusia yang dapat mengendalikan diri saat marah dan lapar. Bagi rumi, saat mengalami dua hal itulah, manusia terkadang kehilangan kesadaranya. Ketika dilanda marah, biasanya manusia kan membabi buta baik perkataanya maupun perbuatanya. Kata-kata orang marah biasnya ngelantur kesana-kemari, caci maki, hinaan, ejekan, sumpah serapah, merendahkan orang, dan yang sejenisnya yang keluar tanpa control.

Selain itu orang yang marah biasanya “ringan tangan”. Segala benda yang ada disekelilingnya akan dibanting atau dilempar. Bahkan kadang lebih mengerikan yaitu mencari benda Tajam DENGAN NIAT akan melukai orang yang telah membuatnya marah. Orang yang hendak dilukainya pun tak pandang bulu, entah itu orang lain, kenal to tidak, baik saudara, sekeluarga, bahkan orang tuanya sendiri atau kakak adiknya sendiri. Sudah cukup banyak bukti datas yang sudah terjadi. Jika kawanku semua menyaksikan berita criminal ditelevisi, ya hampir seperti iulah kejadian-kejadianya, sebagaimana yang telah disebutkan diatas, maka sangat wajar jika rumi mengatakan bahwa marah adalah salah satu yang menyebabbkan orang kehilanagn kesadaranya. Atau kehilangan kemanusaiananya. Dan pada saat itu yang muncul adalah kebinatanganya. Astagfirullah..

“Kenalilah temanmu saat dalam keadaan terburuknya, sungguh dalam keadaan seperti itu dia akan tunjukkan siapa sebenarnya dirinya”

Kawanku, begitu pula dengan lapar. Manusia pada saat itu sulit dikontrol kesadaranya, naluri biologisnya mengatakan bahwa ia harus makan, jika tidak makan ia kan kelaparan dan mengalami kematian, bukan hanya lapar yang dirasakan dirinya sendiri, tapi boleh juga lapar yang dirasakan oleh keluarganya, istri dan anak-anaknya, misalnya. Kelaparan membuat manusia menjadi buas. Jika pada saat itu ia sedang hilang kesadaranya, maka apa yang akan terjadi? Kemungkinan besar ia akan melakukan tindak kejahatan seperti mencuri, merampok, membajak, menjambret dan lain –lain.

ATAS nama lapar manusia melakukan hal-hal diatas, nbelum lagi lapar berjamaah, seperti satu keluarga kelaparan. Kemungkinan besar, sang istri dan anaknya kan membenarkan tindak pencurian yang dilakukan suaminya, sebab itu semua demi keluarga juga, demi kelangsungan kehidupan mereka, demi anak-anaknya yang masih kecil dan membutuhkan asupan makanan bedrgizi dan lain sebagainya…

Kesadaran manusia atas dua keadaan tersebut harus tetap dijaga, jangan sampai kemanusiaaanya terkikis dan tergantikan oleh kebinatangnya, membenarkan sesuatu yang salah tetap saja salah. Mencuri dengan niat memberi makan anak istri tetap tidak dibenarkan,baik dilihat ari agama maupun sisi pemerintah.

Oleh karena itu jalaludin rumi mengatakan, bahwa manusia sejati adlah manusia yang mampu mengontrol dirinya saat ia sedang marah dan lapar.

Kedua, kita harus menjadi pelaku atas manusia sejati, kita tidak perlu mencari manusia sejati, tetapi kita jadikan diri kita sebagai manusia sejati, rumi mengatakan di akhir ceritanya,”sungguh engkau sedang mencari ranting. Kenapa tidak mencari akar? Engkau memperhatikan busa yang menutupi permukaan laut, kenapa tidak memperhatikan laut?”

Kawanku, begitulah sindiran rumi untuk kita, bahwa kita mencari sesuatu diluar diri kita seringnya mencari sesuatu yang berada diluar diri kita dengan mencari para wali, kiai, ulama, ahli hikmah dan yang lainnya dengan niat mendapat wejangan nasihat agar kita dapat seperti mereka.

Itu tidak perlu, sesuatu yang anda cari sesungguhnya ada dalam diri anda sendiri. Cukuplah bagi kita mengamalkan hal diatas. Ujian kita cukup dengan mengendalikan marah dan lapar. Jika kita selamat dari kedual hal tersebut, berarti kita termasuk orang yang sejati, manusia sejati.

Anand Krishna mengatakan bahwa pengendalian diri anda dan kesbaran anda, membuktikan bahwa anda masih “manusia”

Ingat kawanku. Orang kuat adalah orang yang dapat menahan hawa nafsunya ketika marah…

Carilah sifat sabar dalam diri anda sendiri. Karena taka da gunya dan untuk apa juga kita mencari manusia sabar. Lebih baik kita sendiri yang melakukan kesabaran itu. Islampun menyruh kita demikian.

“jadikan sabar itu sebagai penolongmu” yakinlah, Allah selalu beserta orang –orang yang sabar..

kesabaran adalah kunci agar seseorang menjadi manusia sejati, tangguh, elegan dan bermartabat. betapa banyak kerusakan yang terjadi akibat manusia tidak bersabar. banyak kegagalan perencanaan hidup juga di akibat kan karena kurangnya kesabaran.

Nah kawan, maukah engkau mencoba melakukan itu semua?

Ya Rabb, ampunilah kami semua dari  dosa yang disengaja maupun tidak disengaja, ya Rabb…tutuplah pula keburukan demi keburukan kami dan berikanlah petunjuk agar kami bisa memperbaiki diri.

Ya Rabb, engkaulah Allah tuhan kami, engkau maha mengampuni, berkenanlah ya Rabb, mengampuni kami semua, agar ketika kami berhadapan dengan amal timbangan kelak, ada ampunanmu, ada pertolonganmu bagi kita semua, semoga pula engkau memberikan jalan bagi kami untuk bisa melakukan kebaikan demi kebaikan..

Ya Rabb, jadikan sifat sabar sebagai makanan kami sehari-hari, karena jika bukan karena kesabaran demi kesabaran tentunya kami menjadi menusia yang penuh lupa dan banyak dosa..

Ya Rabb, bagimu tempat segala puji, perkenankan permohonan-permohonan kami ini…

Semoga bermanfaat.

Iklan