bismilahirahmanirahim

kawanku semua yang dirahmati Allah, duch saat ini banyak sekali bermunculan lagu-lagu ngetop-ngetopnya yang “cengeng” lebih sekadar dari lagu-lagu tu menurut saya lagu cengeng merupakan cerminan satu sikap yang lebih dari tu pa itu? kawan…  yaitu mental cengeng, diantara mental cengeng apa itu sukanya mengandalkan fasilitas atasan, menjadi besar bukan karena kreatifitas pribadi namun karena nasib katrolan, sedikit -sedikit babeh… mentok sedikit babe…”lu ngapain babe lu mulu…kawan”  lu sih bukan apa-apa baru kopral lho, engkong w tuch komandan hansip” engkongnya yang disebut-sebut “lah kamu apa” kawan, maka tak heran lahirlah budaya-budaya cengeng dimana-mana, generasi putus asa, generasi kehancuran, naudzubillah…

Miris sekali rasanya saat kita mendengar banyak dari kalangan mahasiswa yang katanya terdidik itu justru gampang terpedaya dan masuk dalam gerakan NII. Bukan hanya ini saja, saat isu nabi palsu menyeruak, ternyata banyak dari pengikutnya adalah generasi muda yang awalnya juga mengaku beragama Islam. Isu terorisme yang masih saja didengungkan hingga saat inipun juga dikabarkan telah merekrut generasi-generasi muda untuk menjalankan aksi terorisme yang sangat bertentangan dengan Islam tersebut.

Kenapa ini bisa terjadi pada generasi muda? Kita lihat sekarang, kondisi generasi muda di luar sana seperti apa. Betapa banyak dari mereka yang gampang terbawa arus globalisasi. Budaya kebarat-baratan menyusup sedemikian cepatnya ke dalam diri mereka. Mulai dari gaya berbusana, sikap dan perilaku hingga pada pemikiran mereka yang cenderung bertentangan dengan Islam.

Budaya pacaran di kalangan anak muda sudah bukan hal yang aneh untuk sekarang ini, bahkan bisa dikatakan sudah biasa. Rasanya amat mustahil, jika pacaran hanya sekedar via telpon, sms, fb dan lain sebagainya tanpa ada keinginan untuk bertemu. Pun tidak bertemu sekalipun, mustahil rasanya jika bahan yang diobrolkan adalah sesuatu yang mengandung manfaat, misalnya mengobrolkan tentang serangan ulat bulu mungkin. Jelas, sangat dipastikan obrolan dua insan manusia yang terkena virus merah jambu ini adalah obrolan yang amat sangat tidak penting. Yang benar saja, mengobrolkan serangan ulat bulu dari penyebab hingga solusi? Kalau kata gaulnya sih, “Sumpe lu? Masa’ pacaran teoritis kayak gini?”.

Bahkan seks bebas pun kian marak dilakukan oleh kalangan anak muda. Tingkat aborsi semakin meningkat dari waktu ke waktu. Pernikahan karena MBA (married by accident) pun tak kalah menjamurnya.

Mau dibawa kemana jika generasi muda pada kayak gini? Yang sangat ironis jika para generasi muda Islam pun juga ikut terjebak dalam kungkungan pergaulan bebas tak kenal mana yang muhrim mana yang tidak ini. Katanya ngaji, tapi masih demen yang namanya pacaran. Pakaian yang dikenakan pun dengan pedenya menjiplak gaya berbusananya para selebritis. Biarpun menutupi, tapi masih perhitungan soal ukuran panjang dan lebarnya. Pakaian sengaja dibuat yang ngepas, bahkan amat ngepas di badan. nah lho siapa hayo?

Soal urusan berlomba-lomba dalam kebajikan, duh jangan ditanya deh! Mereka sudah keburu nyerah sebelum bertanding! Bahkan bisa dibilang sama sekali tak ada niat untuk ikut berlomba! Jarang shalat di masjid, giliran pas datang ke masjid, eh malah datang di urutan buncit. Ngaji juga tak beda jauh, datang paling akhir, duduk paling ujung, dan pulang paling awal (ada kata “paling” tapi kok yang jelek-jelek ya). Belum lagi, masih ada cerita ngantuk pas ngaji, nggak bawa buku catatan, hingga pada alasan ijin beberapa kali karena kesibukan duniawi. Kalau ditimbang-timbang, masih mending sih daripada mereka yang ogah mengaji. Tapi kan, Islam menuntun kita untuk masuk ke dalamnya secara kaffah bukan setengah-setengah? Nah, lho?

Bagaimana, sobat muda? Jika para generasi muda bentuknya pada kayak gini semua, apa yang terjadi nantinya? Bukan hal yang aneh kan jika banyak generasi muda yang gampang terbawa arus? Makanya, jangan jadi generasi cemen, ingah-ingih, lembek bin letoy dalam urusan perjuangan kita untuk-Nya. Manfaatkan masa produktif kita ini untuk berjuang menegakkan syariat Islam dimanapun dan kapanpun kita berada. Kita harus menjadi orang pertama yang memperjuangkan Islam di tengah-tengah masyarakat, bukan menjadi orang pinggiran, orang di urutan belakangan yang hanya sekedar ikut-ikutan saja. berani gak kawan? jangan cemen…

belum lagi…. Hotpants, sejenis celana super pendek, kini bukan  hanya dikenakan wanita saat ke kamar mandi atau rehat di ranjang tidurnya. Hotpants belakangan ini menjadi trend di kalangan wanita muslimah, tidak hanya dikenakan dalam suasana informal, tapi juga dalam ruang-ruang formal. Hotpants seolah menjadi pakaian kebesaran wanita abad ini. Tidak ber-hotpants ria, akan dicap sebagai wanita yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Kata anak muda, nggak gaul banget, getooh loch!.

Inilah realita dan fenomena yang kian mengakar di masyarakat.  Betapa Hotpants bak jamur di musim hujan. Atau lebih tepatnya, virus budaya yang meracuni perilaku dan gaya hidup generasi muda Islam, disadari atau tanpa disadari. Lihatlah betapa massif-nya fashion seronok tak senonoh itu terbalut melingkupi tubuh-tubuh wanita muslimah di sejumlah kota-kota besar.

Tahukah kamu kawan, bagaimana musuh-musuh Islam menghantam Islam tanpa sebuah peperangan? Tidak ada cara yang paling efektif dan efisien, selain menghilangkan perasaan malu yang dimiliki kaum muslimahnya. Lewat mode (fashion) itulah dinul Islam muslimah dipalingkan. Ingatlah pesan Rasulullah saw: “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum itu.” (HR. Abu Daud).

astagfirullah, sungguh generasi – generasi kehancuran yang terus ditampilkan didepan mata kita, maka jangan salahkan jika bencana terus melanda negeri ini.. salahkan diri sendiri, perbaiki iman, perbaiki akhlak jadilah muslim dan muslimah sejati

”Ya Alloh, berilah petujuk pada mereka Ya Robb. kawan-kawanku muslimah..  Karena mungkin mereka belum tahu tentang kewajiban menutup aurat. Mereka belum tahu, betapa Islam memuliakan tubuh-tubuh mereka , menjaganya dari pandangan dan pikiran kotor para lelaki nakal di luar sana. Ya Alloh, maafkan hambaMu  yang masih berada dalam taraf terendah keimanan dalam melihat sebuah kemaksiatan ini. Ya Alloh, jagalah anak-anakku di jaman yang sudah amat sanagt penuh dengan tantangan kerusakan nilai moral ini.”

“Ya Tuhanku, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampunan serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Hud: 47).

“Ya Tuhan, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim, dan selamatkanlah kami dengan curahan rahmat-Mu dari tipu daya orang- orang yang kafir.” (Qs. Yunus: 85-86).

“Ya Allah ! Perbaikilah agamaku yang menjadi pegangan segala urusanku. Perbaikilah duniaku yang disitu penghidupanku. Perbaikilah akhiratku yang disitu tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai penambah segala kebaikan untukku dan Jadikanlah kematianku sebagai pemberhentian segala kejahatan.”

“Ya Allah ! Jadikanlah cahaya didalam hatiku dan di lidahku, jadikanlah cahaya dalam pendengaranku, jadikanlah cahaya dalam penglihatanku, jadikan cahaya dari belakangku , dari hadapanku dari atasku dan dari bawahku! Ya Allah berilah aku cahaya!”

“Wahai Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan hati yang tidak khusyuk, dan doa yang tidak diterima, dan nafsu yang tidak kenyang (puas)”

semoga bermanfaat

Iklan