bismillahirahmanirahim

kawanku semua yang berbahagia, Allah SWT menetapkan bahwa setiap manusia masing-masing bertanggung jawab atas perbuatannya. Seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan tidak memperoleh pahala selain apa yang telah diusahakannya sendiri. Terhadap semua hasil usaha seseorang, Allah SWT akan membalasnya dengan balasan yang adil dan yang setimpal. tapi karena ketidaktahuan manusia seringnya manusia protes atas apa yang dipilhkan Allah baginya. apalagi jika yang ditentukan baginya itu tidak baik menurutnya…. tapi kawan, adil itu seperti apa sich, tahukah kamu???


beberapa kisah bacalah dengan seksama…

kisah 1 pertama

datanglah Seorang penunggang kuda yang masih muda Belia tampak begitu kelelahan dan kehausan. Karena itu, tatkala di suatu wadi yang bening airnya dengan tanaman rindang disekelilingnya, penunggang kuda itu menghentikan kudanya dan turun di tempat tersebut.

Ia berbaring, lalu meletakkan sebuah bungkusan disampingnya. Matahari sangat terik, namun di situ amat teduh, sehingga ia jatuh terpulas tanpa di sengaja. Ia tidur lelap setelah memuaskan dahaganya dengan meminum air bening di wadi tersebut.

Ketika ia terjaga, matahari mulai agak condong. Padahal ia sedang mengejar waktu karena ibunya sakit keras. Nampaknya ia anak orang kaya-raya, terlihat dari pakaiannya yang mewah dan kudanya yang mahal.
Pemuda itu terkejut sekali menyadari hari telah menjellang sore. Maka dengan tergesa-gesa ia melompat ke punggung kudanya. Bungkusannya tertinggal sebab ia hanya berpikir untuk segera tiba di rumah, akan menunggui ibunya yang sedang sekarat, bapaknya sudah meninggal di bunuh orang beberapa tahun lalu.

Tidak berapa lama setelah ia meninggalkan tempat tersebut, seorang penggembala lewat di tempat itu pula. Ia terkesima melihat ada bungkusan kain tergeletak di bawah pohon. Diambilnya bungkusan itu, lalu dibawanya pulang ke gubuknya yang buruk. Alangkah gembiranya hati si anak gembala tatkala ternyata bungkusan itu berisi emas dan permata yang pasti amat berharga. Ia yatim piatu dan masih kecil sehingga dianggapnya penemuan itu merupakan hadiah baginya.

Waktu tempat tadi sudah sepi, seorang kakek yang bungkuk jalan terseok-seok melalui wadi tersebut. Lantaran capek, ia pun duduk beristirahat di bawah pohon yang rimbun. Belum lagi ia sempat melepaskan lelah, anak muda penunggang kuda yang tertidur di situ tadi datang kembali hendak mengambil bungkusannya yang terlupa. Ia memacu kudanya bagaikan kesetanan agar belum ada orang yang menjumpai miliknya.

Tatkala ia sampai, alangkah terkejutnya pemuda tersebut melihat bahwa di bawah pohon tempatnya beristirahat tadi kini terdapat seorang kakek. Dan ia lebih terperanjat lagi hingga pucat wajahnya ketika dilihatnya bungkusan kainnya sudah lenyap dari situ.

Maka dengan suara keras pemuda itu bertanya,”Mana bungkusan yang tadi di sini?” “Saya tidak tahu,”jawab kakek dengan gemetar.
“Jangan bohong!” bentak si pemuda. “Sungguh, waktu saya tiba di sini, tidak ada apa-apa kecuali kotoran kambing.”
“Kurang ajar! kamu sudah tua, bukan? Mau mempermainkan aku? Pasti engkau mau mengambil bungkusanku dan menyembunyikannya di suatu tempat. Ayo, kembalikan! Bungkusan itu baru ku ambil dari kawan ayahku sebagai warisan yang dititipkan ayahku kepadanya untuk diserahkan kepadaku kalau aku sudah dewasa, yaitu sekarang ini. Kembalikan!”
“Sumpah, Tuan, Saya tidak tahu,” sahut kakek tersebut makin ketakutan.
“Kurang ajar! bohong! Ayo, serahkan kembali. Bila tidak tahu rasa nanti,”hardik si pemuda tambah berang.
Lantaran memang kakek itu tidak tahu apa-apa, maka ia tetap mengatakan bahwa ia tidak melihat bungkusan itu bahkan mengambil dan menyembunyikannya.

Si pemuda makin marah dan tidak dapat mengendalikannya lagi, dicabutnya sebilah pedang pendek dari pinggangnya dan dibunuhnya si kakek dengan darah dingin. Lantas, sesudah dicarinya ke sana kemari tidak ditemukannya juga, ia pun lalu pulang dengan hati yang dongkol, marah dan kecewa.
Berita ini ditanyakan kepada Nabi Musa oleh salah seorang muridnya. “Wahai, Nabiyullah. Bukankah cerita tersebut justru menunjukkan ketidakadilan Tuhan?” “Maksudnya?” tanya Nabi Musa.
“Kakek itu tidak berdosa, tetapi harus menanggung malapetaka yang tidak patut diterimanya. Sedangkan si anak gembala yang mengantungi harta itu malah bebas, tidak mendapatkan balasan setimpal.”
“Tuhan tidak adil?” ucapnya… Nabi Musa terbelalak. “Masya Allah. Dengarkan baik-baik latar belakang perisriwa tersebut, yang sebenarnya merupakan bukti keadilan Tuhan dalam membalas hamba-Nya.

Kemudian Nabi Musa pun berkisah:
Ketahuilah, dahulu ada seorang petani hartawan di rampok semua perhiasan dan harta bendanya oleh dua orang Bandit kejam. Setelah berhasil, dalam membagi rampokan itu terjadi kecurangan. Salah seorang bandit itu sangat tamak, sehingga harta rampasan itu dikuasainya sendiri. Maka bandit yang kedua pun jadi marah dan dendam, sehingga suatu hari bandit yang serakah itu dibunuhnya. Tahukah kamu siapa bandit kedua yang membunuh kawannya? Dia adalah kakek bungkuk yang di bantai oleh penunggang kuda itu. Dan siapa bandit pertama yang di bunuh? Dia adalah ayah dari pemuda yang membunuh si kakek. Di sini berarti nyawa di bayar dengan nyawa. Adapun petani hartawan yang hartanya di kuras oleh kedua bandit itu adalah ayah dari anak yatim piatu yang mengambil bungkusan kain tadi. Itu keadilan Tuhan juga. Harta kekayaan telah kembali kepada yang berhak, dan kejahatan kedua bandit itu telah memperoleh balasan yang setimpal. Meskipun peristiwanya tidak berlangsung tepat pada saatnya, namun sesuai dengan kejahatan mereka?”

kisah kedua

Seorang anak durhaka hendak membunuh ayahnya. Sang ayah diajaknya pergi ke sebuah tempat yang sepi kemudian sang anak tersebut hendak menyembelih ayahnya.

Sang ayah berkata: “Wahai puteraku, kalau kau hendak menyembelih ayah, sembelihlah aku di batu itu”. Sambil ayahnya menunjuk ke sebuah batu.

Sang anak bertanya: “Apa bedanya disini dengan di batu itu?”.

Sang ayah menjawab: “Karena ayah dahulu menyembelih ayahnya ayah [kakekmu] di batu itu”…

Subhaanallooh.. Balasan setimpal dengan perbuatan.. Dahulu ia menyembelih ayahnya, dan sekarang ia disembelih anaknya, di tempat yang sama.. Allah Maha Adil..

kisah ke tiga

Dulu ada seorang raja yang sepanjang hidupnya hanya berbuat maksiat dan zalim. Kemudian dia jatuh sakit. Para tabib meminta raja agar mengucapkan selamat berpisah saja sebab dia tidak bisa diosembuhkan kecuali dengan sejenis ikan. Saat itu bukan musimnya ikan tersebut muncul. ALLAH mendengar itu, memerintahkan para malaikat untuk menggiring ikan-ikan agar muncul di permukaan. Raja akhirnya dapat memakan ikan itu. Dia sembuh.

Pada saat lain di negeri lain, ada seorang raja yang adil, saleh, jatuh sakit. Para tabib menyatakan hal yang sama, bahwa obatnya adalah ikan yang ada di perairan tertentu. Tapi, jangan kawatir, ujar tabib, saat ini adalah saat ikan itu bermunculan di permukaan. Jadi, dengan mudah akan didapatkan obat bagi sakitnya sang raja. Saat itu ALLAH memerintahkan para malaikat untuk menggiring ikan-ikan itu di tempat tersembunyi. Tentu saja, raja yang shaleh dan adil itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Konon di alam malaikat, para malaikat kebingungan. Mengapa doa raja yang shaleh tidak dipenuhi sementara dooa raja yang zalim dipenuhi? Kemudian ALLAH berfirman, “Walaupun raja itu zalim, dia pernah berbuat baik. Demi kasih sayang-KU, aku berikan balasan pahala amal baiknya. Sebelum meninggal dunia, masih ada amal baiknya yang belum aku balas. Maka aku segerakan membalasnya, supaya dia datang kepada-KU hanya dengan membawa dosa-dosanya. Demikian juga dengan raja yang shaleh. Walaupun dia banyak berbuat baik, dia pernah berbuat buruk. Aku balas semua keburukannya dengan musibah. Menjelang kematiannya, masih ada dosanya yang belum KUbalas. Maka, AKU tolak doanya untuk mendapatkan kesembuhan, supaya dia datang kepada-KU, dia hanya membawa amal salehnya”. (La Tahzan for Teens, 2008)

nah kawanku semua yang dirahmati Allah, adil itu seperti apa sich, adil bukan menurut ukuran pemerintah, bukan menurut ukuran orang lain, namun adil adalah menurut aturan yang ditetapkan Allah, karena pasti engkau tahu kawan, tiada satupun daun yang jatuh kecuali atas izin Allah…Seandainya kita bisa memahami konsep keadilan Allah dengan benar, maka berbagai pertanyaan konflik batin tersebut akan bisa diminimalisir, karena kebanyakan perasaan ‘ketidakadilan’ yang dialami seseorang seringkali disebabkan adanya perbedaan sudut pandang antara konsep keadilan Allah dan konsep keadilan kita sebagai manusia.

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Maidah : 8)

tidak ada orang yang dirugikan sedikit pun, dan akan memperoleh balasan sesuai dengan perbuatan yang pernah dilakukannya” (QS Yaa Sin [36]: 54).

Sering kali, karena keterbatasannya, manusia tidak mampu “membaca” keadilan Allah SWT secara tepat.

Dia menganggap Allah SWT tidak adil, karena keputusan Allah dirasa janggal atau merugikan dirinya.

Padahal, Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal dia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal dia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS Al-Baqarah [2]: 216).

Sesungguhx ENGKAU (ALLAH SWT) maha mengetahui apa yg kami ketahui, dan ENGKAU Maha tahu apa yg kami tdk ketahui.
Tidak ada sesuatu apapun yg luput dari Allah SWT. Allah Maha Adil … Dan setiap manusia akan memetik dari setiap perbuatannya …

sebagai bahan perenungan
semoga bermanfaat

Iklan