bismillahirahmanirahim..

kawanku semua yang dirahmati Allah, masihkah kau ingat tulisan saya tentang kisah dibalik cerita stuart little, jika lupa baca disni lagi ya,  dalam cerita tersebut terdapatlah statement yang sangat berharga, ” engkau besar, sebesar perasaanmu…. hal yang sangat sulit dijumpai dalam kondisi seperti sekarang ini. dimana orang cenderung mudah putus asa daripada berusaha terus agar tercapai keberhasilan..

sebuah kisah menarik, bacalah dengan seksama…

Di dalam dunia ini sebenarnya tidak ada orang yang gagal atau tidak berhasil. Yang ada sebenarnya orang yang menyerah atau berhenti di tengah jalan dalam pencapaian tujuannya. Untuk lebih memahami maksud tersebut, marilah kita menyimak kisah seekor katak dan gajah di bawah ini.
Kisah ini menceritakan seseorang yang hampir putus asa dan menyerah dalam mencari jalan keluar untuk masalah-masalah yang dihadapinya. Orang tersebut telah berkali-kali mencoba berbagai cara agar usaha yang dia tekuni bisa mencapai tingkat kejayaan. Tetapi usahanya gagal.
Dalam keadaan putus asa saat itulah orang tersebut berusaha menenangkan pikirannya agar dapat berpikir lebih jernih dalam mencari jalan keluarnya. Maka orang tersebut pergi ke suatu desa yang tenang dan duduk di pinggiran anak sungai. Orang tersebut berkata dalam hatinya: “Apakah ini yang selalu dikatakan oleh orang-orang yaitu takdir? Apakah saya ditakdirkan untuk selalu gagal? Apakah saya ditakdirkan untuk menjadi orang yang tidak bisa berhasil?”

Lalu orang tersebut berdoa dalam hatinya: “Tuhan, hamba memohon berikanlah hamba petunjuk dan jalan keluar agar usaha hamba bisa bangkit dan sukses.” Setelah berdoa, orang tersebut memandang sekelilingnya, dan dia melihat seekor katak yang hendak menyeberangi anak sungai. Katak tersebut melompat-lompat di atas batu. Dari batu pertama melompat ke batu yang kedua, terus melompat lagi ke batu yang ketiga, dan seterusnya sampailah di batu yang terakhir untuk naik ke seberang anak sungai. Tetapi apa yang terjadi? Katak tersebut jatuh pada lompatan batu terakhir, karena batu yang terakhir ternyata sangat licin.
Katak tersebut tidak putus asa, dan terus menerus mencobanya. Timbul dalam benak orang tersebut untuk menghitung berapa kali cobaan melompat agar katak tersebut bisa berhasil. Pertama lompat gagal, kedua gagal, ketiga gagal, keempat gagal, kelima gagal juga. Katak tersebut berhenti seolah-olah sedang berpikir. Lalu mencobanya lagi, keenam gagal, ketujuh gagal, kedelapan gagal, kesembilan gagal juga. Dan katak tersebut berhenti lagi, kali ini katak tersebut berhenti agak lama seolah-olah sedang menyusun strategi dan rencana untuk mencobanya lagi. Setelah itu katak tersebut mencoba lagi, kesepuluh gagal, kesebelas gagal, dan yang keduabelas katak tersebut melompat dengan sekuat-kuatnya, dan sampai di atas batu terakhir yang sangat licin. Katak tersebut terpeleset lagi tetapi tidak putus asa dan terus menerus menendang-nendang kakinya di atas batu yang licin dan akhirnya berhasil lompat keluar dari batu yang licin tersebut.

Orang tersebut berkata dalam hatinya: “Katak tersebut telah mencoba dua belas kali lompatan baru bisa berhasil menyeberangi anak sungai ini, sedangkan saya baru mencoba 5 kali cara saja sudah putus asa. Baiklah saya akan mencobanya lagi”.
Lalu orang tersebut berjalan kaki hendak pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan, dia melihat seorang kakek dan seekor gajah besar peliharaan kakek tersebut. Gajah besar itu hanya dirantai kakinya dengan menggunakan rantai yang kecil. Kemudia orang tersebut bertanya kepada kakek penjaganya: “Kakek, gajahnya hanya dirantai dengan memakai rantai yang kecil. Kalau gajah tersebut berjalan dan menarik rantainya, maka rantai itu akan putus. Mengapa kakek tidak memakai rantai yang lebih besar?”
Kakek tersebut menjawab: “Anakku, gajah ini saya pelihara sejak masih kecil. Waktu itu, dia telah berusaha untuk menarik rantainya, tetapi rantainya tidak putus karena dia masih kecil dan belum cukup kuat. Setelah berkali-kali mencoba dan tidak berhasil memutuskan rantainya, maka gajah tersebut berhenti untuk mencobanya lagi, walaupun sekarang sudah dewasa dan sebenarnya cukup kuat untuk memutuskan rantainya. Ketahuilah anakku, gajah besar ini tidak akan mencobanya lagi karena dia akan selalu menganggap tidak akan berhasil.”
Maka orang tersebut melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya, sambil menarik kesimpulan bahwa lebih baik menjadi seekor katak kecil yang selalu mencoba terus sampai berhasil, daripada menjadi seekor gajah besar yang selalu berpikir tidak akan berhasil.

Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari. Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan, hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman. Kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini.
Kadang kala kita sering gagal dalam melakukan segala sesuatu. Ingatlah, “no one is perfect“, jadi janganlah menyerah dan putus asa karena kegagalan yang kita alami ibarat kita sedang menumbuhkan akar-akar yang kuat agar suatu hari dapat tumbuh setinggi-tingginya. Lebih baik menjadi seekor katak kecil yang selalu mencoba terus sampai berhasil, daripada menjadi seekor gajah besar yang selalu berpikir tidak akan berhasil dan tidak mau mencoba lagi. Sebenarnya tidak ada orang yang gagal atau tidak berhasil, yang ada sebenarnya orang yang menyerah dan berhenti di tengah perjalanan untuk mencapai tujuannya.

kawanku semua yang baik hatinya, Pepatah mengatakan, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak,semut seberang lautan kelihatan”. Kalau pada setiap masalah yang timbul kita bisa melihat kelemahan kita dahulu, bukan kesalahan orang lain, maka sikap positiv seperti itu akan memudahkan kita memecahkan setiap problem yang muncul. Kita akan bisa mengoreksi kesalahan dan sekaligus mengembangkan kekayaan mental kita demi kemajuan diri.

Sebaliknya kebaikan orang lain,sekecil apa pun, janganlah  menjadi tidak berarti di mata kita. Apalagi kebaikan orang tua sendiri. Titik hitam yang digores, apalagi bila tidak sengaja, tidak berarti menghilangkan dan menutupi lembaran luas di kertas putih yang berupa semua kebaikan yang telah dilakukan untuk kita.

Mari kita koreksi diri sendiri, sebelum menyalahkan orang lain. Lihat benar-benar dari manakah sumber sebuah masalah, jangan terburu menyalahkan orang lain atau mencari kambing hitam. Sebab, dengan mau mencari tahu kesalahan dan kelemahan diri sendiri, maka kita siap untuk belajar untuk belajar dan memeperbaiki kesalahan yang ada. Dengan sikap mental positiv yang sudah terbangun, tentu ini merupakan modal kita untuk meenciptakan kesuksesan hidup yang lebih baik.

“Kalau kita bisa memandang secara positiv setiap masalah yang muncul dari kacamata kelemahan kita dahulu,bukan pada kesalahan orang lain,maka kita akan mudah mendapatkan solusi yang terbaik dalam memecahkan problem itu”

Berkias Rumi : “Dunia ini (ibarat) gunung, dan (semua) kata-kata yang kaulontarkan akan bergema kembali kepadamu.”

ya Allah, batulah kami untuk menemukan semua kekurangan kami, jika kami sudah menemukannya bantulah kami mengatasi kekurangan tersebut…

semoga bermanfaat..

Iklan