bismilllahirahmanirahim

kawanku semua yang dirahmati Allah, lihatlah negara kita tercinta indonesia negara yang gemah ripah loh jinawe bermacam-macam budaya diadalamnya namun penuh problematika yang tak habis-habisnya, dimulai dari penguasanya bnyak yang korupsi, politik yang tidak sehat, bahkan sampai pada krisis social yang tinggi dimana-mana banyak rakyat menderita kelaparan. busung lapar, kemiskinanan didepan mata hingga memicu kejahatan dimana-mana? siapa yang salah?

kita warganya? pemerintahannya? atau system yang mengaturnya?

apa yang harus kita berbuat? berdiam diri? to berjuang meraih perubahan?

sebuah kisah pembangkit semangat..

Seekor belalang telah lama terkukung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya

    Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh?

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan

Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti apa yang aku lakukan.

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

kawanku semua yang baik, Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri. apalagi dalam kenyataan kita sering mengkonsumsi berita dimedia-media yang kadang dilebih-lebihkan, jika kita tak mempunyai filter yang kuat kita pasti hanyut kedalamnya…

kawan, Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda mau menyingkirkan “kotak” itu? Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap luar batas kemampuan Anda?

lihatlah kotak penghalang itu dan hancurkanlah kawan….berani kagak?

Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang ingin Anda capai. Sakit memang, lelah memang, tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.

Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Anda. bukan mengikuti aturan kelompok maupun golongan tertentu, Apa yang akan Anda lakukan, kalau ada banyak orang mengalami penderitaan karena perbuatan negatif Anda? Ada mau menikmatinya saja atau Anda mau berubah?

kawan, ada cerita menarik lainya…

Ada seorang pemuda yang menggunakan hidupnya untuk menipu dan berbohong. Ia banyak kali menipu orang-orang. Sampai-sampai orang sekampung menjulukinya sebagai Raja Pembohong. Dengan menipu itu, pemuda itu meraup berbagai keuntungan material. Ia hidup foya-foya dengan hasil tipuannya itu.

Suatu hari ia jatuh sakit. Ia menderita suatu penyakit yang sangat kronis. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Ia sangat menderita oleh penyakit misterius itu. Ia sadar, saat-saat terakhir hidupnya sudah dekat. Karena itu, ia meminta teman-temannya untuk datang mendekat. Ia ingin menyampaikan sebuah wasiat kepada mereka.

Dengan nafas yang tersengal-sengal, pemuda itu berkata, “Maafkan aku, kalau aku selama ini suka berbohong dan menipu. Tetapi sekarang ajalku sudah mendekat. Tidak mungkin lagi aku berbohong. Aku menyimpan harta karun di dalam peti yang aku kubur di bawah pohon mangga di depan rumah.” Tidak lama kemudian, pemuda itu pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Semua temannya segera menuju tempat yang disebutkannya dalam pesan terakhirnya. Mereka menggali dan benar, mereka menemukan sebuah peti. Tak sabar semua orang ingin melihat harta karun seperti apa yang disimpan oleh pemuda itu.

Ketika peti dibuka, ternyata hanya ada selembar kertas yang bertuliskan: “INI ADALAH KEBOHONGANKU YANG TERAKHIR KALI.”

Sahabat, kita hidup dalam zaman yang menuntut banyak hal dari kita. Akibatnya, banyak orang mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidupnya. Banyak orang merasa tidak mampu untuk menjalani hidup ini secara normal. Berbagai cara negatif pun mereka lakukan, asal mereka dapat meneruskan perjalanan hidup ini. lihatlah yang korupsi, dia memakai jabatanya untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya untuk dirinya sendiri, jahatkah atau benarkah menurutmu kawan?

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kebohongan atau ketidakjujuran bukan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Kebohongan mesti diakhiri untuk membangun hidup yang lebih baik. Kebohongan hanya menumbuhkan rasa sakit hati. Kebohongan hanya meninggalkan beban mental bagi hidup. namun dinamika saat ini orang lebih senang hidup dalam kebohongan tapi bermewah-mewah berkecukupan daripada hidup sederhana tapi jujur, bagaimana dengan hidupmu kawan?

Saat-saat ini kita menyaksikan terjadi banyak kebohongan publik. Ada berbagai rekayasa yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya bagi diri sendiri. Terakhir kita menyaksikan kebohongan publik mengenai subsidi BBM. Pihak pemerintah inginnya untung melulu. Sebaliknya, masyarakat banyak selalu menuai kebuntungan dalam hidup sehari-hari. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. yang perlu dikasihani siapa? rakyatnya ato pemerintahannya?

Di tengah kondisi akut dan carut marut, dan situasi politik, ekonomi, sosial, dan lainnya sedang tak ‘ramah’ seperti ini,  bencana demi bencana terus menimpa Indonesia. Mungkin, apa yang disampaikan Simak bin Harb, yang mengutip Abdurrahman Ibnu Abdillah Ibnu Mas’ud, dapat jadi bahan renungan kita. Katanya, “Jika zina dan riba telah tersebar luas di suatu negeri, maka Allah mengizinkan kehancuran negeri tersebut.”

Zina, seks bebas, dan aktivitas ekonomi ribawi, telah menyelimuti kehidupan sebagian besar orang di negeri ini. Pertama, zina (seks bebas). Makin banyak orang yang bangga dengan kehidupan seks bebas. Hamil, meski tanpa diikat dengan tali pernikahan, diekspos berulang kali. Hidup seatap alias kumpul kebo dianggap lazim. Tempat-tempat prostitusi dan rumah-rumah pelacuran kian banyak. Para pelacur melacurkan dirinya dengan dalih ekonomi. Celakanya, para birokrat dan aparat serta sebagian besar media republik ini menyebutnya sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial). Amboi, santunnya! Padahal, dari dulu juga, itu namanya Pelacur! Jadi, sebut saja “Pelacur!”—bukan PSK.

Kedua, kecintaan terhadap dunia, makin membuat banyak orang menjalani hidup ini dengan cara haram. Sebagian besar anak bangsa ini menjalankan roda bisnis keluar dari koridor syariah. Menjalani bisnis  dengan melibatkan rentenir dan bank yang tak berlandaskan syariah. Bisnis kehilangan barokah, lantaran terkait dengan pinjam-meminjam dengan bunga (bank). Duhai, betapa banyaknya keluarga yang perutnya diisi dari hasil bisnis haram,  praktik riba dan hasil bunga bank.

Akibatnya, banyak rakyat yang mengalami penderitaan dalam hidup. Kita menyaksikan begitu banyak anak yang mengalami gizi buruk. Kita menyaksikan ada begitu banyak generasi muda yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik. Akibatnya, banyak terjadi kriminalitas dalam kehidupan kita sehari-hari.

belum lagi dampak social dalam beragama, yang saat ini marak terjadi, yang tidak pernah disangka-sangka didalam negara yang penuh problematika yang belum kunjung habisnya, masalah korupsi, masalah politik, kemiskinan, bisa-bisanya pemerintah akan membatasi kerasnya suara adzan dikumandangkan? konyol bukan, dengan dalih menggangu dan sebagainya.. lho ini yang aneh, menacari sensasi atau mau mengalihkan perhatian masyarakat ditengah maraknya berita kenaikan BBM, pa pengen umat muslim di Indonesia berbondong-bondong menyerang pemerintah karena statement dari penguasa negara yang kurang bermutu itu? kan sudah jelas, sejak zaman nabi pun menyuruh mengeraskan suara adzan, malah mau dibatasi…. yang saya tangkap setiap politik pasti ada sebuah kepentingan ya to tidak kawan?

Lantas, harus bagaimana? Kita harus berubah. Kita harus mau mengubah diri dan keadaan. Jika ada manusia yang tak ingin berubah, sesungguhnya ia telah mati sebelum dikubur. Nyatanya banyak manusia yang tak ingin berubah. Statis dan jumud. Kalaupun dikatakan berubah,  ke arah mana perubahan itu?

Apa yang mesti kita lakukan untuk memperbaiki situasi yang bobrok seperti ini? Satu-satunya cara adalah dengan melakukan perubahan tingkah laku. Orang mesti sadar bahwa hal-hal jelek dan negatif yang mereka lakukan itu mengakibatkan penderitaan bagi sesamanya.

Prof Dr Yusuf Qaradhawi dalam Min Ajli Shahwatin Raasyidah Tujaddiduddiin…wa Tanhadhu bid-Dunya, menyatakan, masyarakat Islam akan menghadapi marabahaya dan bala bencana, disebabkan dua hal. Pertama, jika yang disebut perubahan, perkembangan dan pergerakan jadi jumud (beku). “Kehidupan menjadi mandul seperti genangan air yang membusuk dan menyebabkan tersemainya bakteri dan mikroba,” tulis Qaradhawi. Kreativitas keilmuan berhenti dan moral diabaikan, membuat kehidupan menjadi jumud.

Kedua, tunduk pada perkembangan dan perubahan yang stabil dan langgeng, sebagaimana kita saksikan saat ini. Di kalangan pemuda Muslim, kata Qaradhawi, ada yang melepaskan umat dari keislamannya dan menjauhkan mereka dari warisan masa lalu atas nama ‘perkembangan’. Mereka ingin membuka pintu ateisme ke dalam akidah dan melepaskan diri dari syariat.  Mereka ingin mengembangkan ad-din dan ideologi sendiri, agar sesuai dengan keinginan mereka, sesuai pula dengan Timur dan Barat.

Untuk itu, orang mesti melakukan perubahan atas tingkah lakunya. Orang mesti berubah untuk hidup yang lebih baik. Mari kita berubah untuk membantu sesama kita memiliki hidup yang lebih baik. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk mengagungkan kehidupan…

Jika republik ini terus bertahan tanpa perubahan menuju yang baik, meski sudah mendapat banyak teguran dan peringatan dari sang Khaliq berupa bencana, maka Allah punya cara sendiri untuk mengubah keadaan. Pada saatnya, jika kita tetap bebal dan pekak, kelak Allah akan menggantikan generasi ini dengan generasi baru.

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang berpaling dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS al-Maaidah: 54).

bagaiman kawan. mau berubah to mau berdiam diri menikmati ini semua?

“ ya ALLAH ini adalah jalanmu, ini adalah jalan yang engkau ridhoi, kuatkan hati hamba ya ALLAH. Aku ingin menjadi orang yang baik

“ya ALLAH. Aku ingin menjadi hambamu yang benar-benar bertaqwa. Aku yakin engkau kan membalas terhadap apa-apa yang dilakukan oleh hamba-hambamu. Ya ALLAH jangan jadikan hamba putus asa dan gentar untuk menegakkan yang Haq ini

semoga bermanfaat

Iklan