bismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, fenomena cinta yang kadang gak bisa memihak daripada yang mencinta? bagaiman kita harus menyingkapinya? banyak diantara kita jika ditolak cintanya ? patah hati yang berkepanjangan, seakan dunia dengan segala keindahanya sudah tak ada lagi baginya, sahabatku? bagaimana denganmu? ataukah engkau demikan…

cinta… cinta… cinta,,,

seperti apakah cinta kita?

sebuah kisah sahabat Rasulullah….

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat dihatinya, tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat dan pilahan menurut perasaa yang halus, juga ruh yang suci.

Tetapi bagaimanapun, ia merasa asing disini, madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya, ia berpikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi madinah, berbicara untuknya dalam khithbah (pelamaran). Maka disampaikanlah niat hati itu kepada sahabat anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda.

“subhanallah walhamdulillaah” girang abu darda mendengarnya.

Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua sahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota madinah. Rumah dari seorang wanita yang saleh lagi bertakwa.

“saya adalah abu darda’, dan ini adalah saudara saya Salman, orang persia. Allah telah memuliakannya dengan islam dan dia juga telah memuliahkan islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama disisi rasulullah SAW. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri anda untuk dipersuntingnya,” jelas abu darda.

“adalah kehormatan bagi kami” ucap tuan rumah,” ucap tuan rumah, “menerima anda berdua, sahabat rasulullah yang mulia.Dan adalah kehormatan bagi keluarga inibermenantukan seorang sahabat rasulullahyang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan kepada putri kami. “tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang putri menanti dengan segala debar hati.

“maafkan kami atas keterusterangan ini” kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang berbicara mewakili putrinya. “tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap rida Allah saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan salman. Namun jika abu darda` kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka putri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan”

jelas sudah, keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah, sang putri lebih tertarik kepada pengantar dari pada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi juga indah karena satu alasan, reaksi salman. Bayangkan sebuah perasaan, dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati, bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya

salman pun berbicara, “Allahu Akbar!” seru salman, “semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan kepada abu darda`, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

kisah diatas memberikan pelajaran bahwa cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya manusia memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salaman mengajarkan sebuah pelajaran untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit, malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar, untuk tidak mengatakan “merasa dikhianat,`merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya.

Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikamati sesuatu yang bukan miliknya, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa manusia hanya dipinjami.

sahabatku semua yang dirahmati Allah

pernahkah dengar cerita dari motivator ternama kita mario teguh…ada pertanyaan yang patut kita teladani jawabannya

seseorang bertanya; Pak Mario, katanya dulu sering ditolak wanita?

kira-kira apa jawaban mario teguh kawan? adakah yang tahu…

Siapa bilang? Itu tidak benar! Saya tidak pernah ditolak wanita, saya hanya diabaikan. Saya dulu terlalu udik, kuper, dan minder; sehingga radar cinta mereka tidak menangkap keberadaan saya. Tapi saya bersyukur, ternyata Tuhan menyimpan saya untuk Ibu Linna; wanita kecil yang cantik dan cerdas, istri yang menghadiahi saya dua anak sehat yang berbudi baik, dan partner yang menjadi pemungkin semua pencapaian saya. Terima kasih Tuhan.

“Sahabat saya yang baik hatinya,

Semua keberhasilan terbaik Anda,
datang setelah kekecewaan besar
yang Anda hadapi dengan sabar.

Jika upaya Anda gagal,
Anda sudah berdoa dan meminta tolong,
sudah mencoba lagi tapi tetap gagal,
dan Anda pribadi yang jujur,
bekerja keras, dan patuh kepada Tuhan –
apalagi kah yang bisa Anda andalkan,
kecuali kesabaran?

Marilah kita memperkuat kesabaran kita.

Kesabaran adalah kekuatan hati
yang menghubungkan doa kita dengan hasil dari upaya kita.”

sahabatku semua yang dirahmati Allah

Ini tips penting tentang memilih jodoh dari Mario Teguh. Perhatikan! Carilah pasangan yang ketika bersamanya, kita mampu melakukan keempat hal berikut: saling memuliakan, saling meninggikan, saling membesarkan, saling menguatkan. Jika pasangan Anda tidak membawa ke arah sana, maka segera abaikan (tinggalkan). Ia bukan pasangan yang terbaik buat Anda.

bagaimana denganmu kawan?

ya Allah, Tuhanku Yang Maha Lembut,

Engkau menumbuhkan kerinduan di hatiku
untuk menikah, agar aku hidup tenteram
dan membangun keluarga yang sejahtera dan bahagia.

Telah lama kuimpikan kehadiran dari belahan jiwaku,
dan telah lama ku mohonkan dari-Mu.

Wahai Yang Maha Cinta,

Pertemukanlah aku dengan jiwa baik yang kurindu itu,
yang akan kumuliakan dalam pernikahan yang tenteram.

Aamiin


Iklan