Beranda

Do’a nisfu sya’ban

Tinggalkan komentar


DO’A NISFU SYA’BAN

“Allahumma yaa dzalman-na wa laayamun-nu ‘alaihi yaadzaljalaali wal ikraam, yaadzaath thu-li wal in’aami, laa ilaaha illaa anta zhahrallajiinaa, wa jaaralmus tajiiriina wa amaanal khaaifiin. Allahumma inkunta katabtanii ‘indaka fii ummil kittabi syaqiyaan au mahruuman au mathruudan au muqtaran alayya firrizqi famhu. Allahumma bifadhlika syaqoowati wahirmaani wathordii waqtaaro rizqii wa atsbitnii ‘indaka fii kittabikal munazzali alaa lisaani nabiyika mursali, yamhullahu maa yasyaa-u wa yutsbitu wa’indahuu ummul kitaabi, ilaahii bit-tajallil a’azhami fii lailatin nishfi min syahri sya’baanil mukarramil latii yufraqu fiiha kulli amrin hakiimi wa yubramu antaksyifa anna minal balaa-I maa na’lamu wamaa laa na’lamu wamaa antabihi a’lamu innaka anta la’zu lakramu. Washallallaahu’alaa sayyidinaa Muhammadin wa-alihi washahbihii wassallam, walhamdulillahi rabbil’alamiin”.

terus dimana posisi kita?

6 Komentar


bismillahirahmanirahmim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, siapa diantara kalian yang tidak suka keindahan, coba kemukakan? eits,… bukan keindahan fisik semata, keindahan hati, keindahan akhlak, keindahan akal adalah melebihi dari keindahan fisik semata, namun tak jarang orang hanya mementingkan keindahan fisiknya.. dipoleslah selalu dengan bedak, dengan wangi-wanginya, ke salon dan segala macemnya namun keindahan hatinya dibiarkan begitu saja hingga kering meronta… maka jelas kan, jika banyak dijumpai orang yang cantik rupanya namun buruk kelakukannya…. pernahkah engkau menjumpai seperti itu kawan?

saya rasa pernah?… lantas bagaimana agar keindahan luar dan dalam seimbang?

keindahan itu mahal harganya… orang yang indah luar dan dalamnya… sungguh jarang ditemuinya…

bagaimana dengan kita kawan? sudahkah keindahan itu menjadi bagian dari diri kita?

sebuah kisah bacalah dengan seksama……

Suatu ketika seorang pengrajin batu berjalan di gunung yang sangat gersang dan melihat seonggok batu dengan warna coklat kusam yang telah diselimuti oleh lumut dan kenampakan luarnya relatif lapuk. Kemudian dengan sekuat tenaga sang pengrajin tersebut mengayunkan godamnya mengenai batu hingga mendapatkan bongkahan batu sebesar kepala, dan mulai terlihat warna asli dari batu tersebut adalah putih.

baca kisah selengkapnya….

%d blogger menyukai ini: