bismillahirahmanirahim

sahabatku yang dimuliakan Allah. senin tanggal 23 Juli hari yang ditunggu-tunggu khususnya bagi kami setelah berjuang belajar. emang ada yang istimewa apa di hari ini? pada hari itu saya yakin ada orang yang akan sangat bahagia, ada yang sedih, ada yang biasa saja dan ada juga yang putus asa. menarik bukan hari itu?

hari itu adalah hari pengambilan IPK (index prestasi komulatif ) jika sudah bicara ipk maka Virus H2C harap-harap cemas sering kali membayangi. jika kamu tanya apa saya cemas juga?, saya akan jawab, Ya tapi sedkit selebihnya saya pasrahkan kepada Allah. jika kamu merasa cemas dan gelisah, ambillah wudhu terus sholat dua rakaat lalu baca quran insyaAllah ketenangan akan mudah kamu dapatkan?mau kan melakukan itu? hush. jangan bilang siapa-siapa yach, ini rahasia saya.

jika saya sudah melakukan sebuah proses yang baik insyaAllah hasilnya akan baik, bener gak sobat ?

teringat tulisan saya yang ini coba dibaca lagi Quality Built in Proses..

dan ternyata bener temen satu angkatan yang sudah ambil IPK ngirim sesuatu di Forum komunikasi kami. “nilai ip semester ini kacau” begitu dia update statusnya.. pertanda lagi galau dan putus asa stelah membuka amplop coklat kyaknya tuch, hehe. terus beberapa teman datang dan ikut berkomentar di statusnya itu tuk memberi semangat dan juga ada yang mengejeknya…. bercanda maksudnya.

saya datang saja ke kampus. dengan perasaan tenang dan santai berjalan menuju ke tempat pengambilan IP, karena datangnya sore tak banyak antrian seperti tahun-tahun kemaren yang sampai bejubel gak karuan berebut untuk bisa ambil IP duluan, tapi semester ini sudah dipisah-pisah antar jurusan jadi lebih baik dan tertib.

datang keruangan bareng temen saya. tak banyak yang antri, kami dipersilahkan duduk dulu. soalnya waktu itu ada yang lagi ngambil. tak ada 2 menit kami sudah maju terus nyodorin kartu mahasiswa dicarilah Nomer NPM kami. ketemu amplop coklat bagian kami masing-masing.. eng…ing…ing…eng… harap harap cemas…

tapi bismillahirahmanirahim, amplop dibuka perlahan berapa kira-kira ip saya, berapa coba kawan tebak?

alhamdulillah A semua tapi ada 2 B. Alhamdulillah meski belum menyentuh target sya yang masih minus 0.14 tapi Alhamdulillah setidaknya inilah hasil terbaik dibandingkan dengan ip kemaren yang minus 0.37 alhamdulillah..

agar dapat mencapai target yang sudah saya planingkan… berarti harus ada perubahan-perubahan yang harus saya jalankan..

saya harus naikkan target saya 1 tingkat

saya harus naikkan belajar saya 1 jam

saya harus naikkan membaca

saya harus naikkan sering-sering diskusi

saya harus naikkan sering bertanya

saya harus naikan berdoa terus…

dan saya harus naikkan yang saya anggap penting…

hidup harus seimbang jika ada yang dinaikkan berarti harus ada yang diturunkan maka :

saya harus turunkan tidur saya 1 jam

saya harus turunkan jam bermain saya

saya harus turunkan pengeluaran saya

dan saya harus turunkan lain-lain yang saya rasa tidak perlu…

insyaAllah, jika ingin mencapai target yang kamu inginkan maka naikkan target kamu, perbaiki cara kamu meraihnya dan terakhir istiqomahlah… bener gak kawan?

sahabatku semua yang dirahmati Allah, seberapa pentingkah nilai A buatmu?

pertanyaan ini dulu sempat jadi bumerang saya ketika saya SD, awalnya dimulai dari TK saya tk hanya TK kecil saja setahun lalu masuk SD, wah belum bisa apa-apa saya. nulis saja gak begitu bisa, membaca masih terbata-bata.. untuk itulah saat masa-masa sd adalah masa-masa yang sulit bagi saya. kami waktu SD terkenal dengan 5 serangkai, karena ada anak 5 yang IQ nya rendah dibanding rata-rata kasarnya kami ini bodoh, sering di marahin guru, nilai jelek bahkan kalau pulang sering terakhir terus ditambah dengan guru saya yang sangat Galak. dan kejadian yang membuat saya terkenang adalah jika ngerjain tugas terus dapat nilai 0 ( nol besar ) memenuhi satu halaman full, bahkan sangking jengkelnya guru kami yach.. pass ngasih nilai itu di tekan hingga nembus 3 halaman. bayangin ngeri gak?

dan akhirnya saya harus tinggal kelas bersama 5 kawan serangkai saya.. sedih tapi bahagia.

nah ini menjadi bumerang bagi saya.. memacu semangat saya belajar dan saya berjanji saya akan menjadi yang terbaik. Alhamdulillah berkat ridho Allah dan juga dukungan ibu dan semangat belajar yang tiada henti, saya akhirnya gak terkejar oleh temen-temen yang. bahkan waktu kelas 4 wali kelas saya ngadain sayembara. siapa yang bisa ngalahin saya maka akan di ajak ke matahari. MALL kalau disini, namun ya Alhamdulillah sampai lulus saya masih belum terkalahkan.. astaqfirullah, maaf saya bukan sok sombong, saya hanya sekedar share semangat belajar agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. sempat kelas 5 ikut lomba siswa teladan mewakili sekolah saya. namun harus saya akui.. saya bukanlah yang terbaik ternyata masih ada yang terbaik diantara yang baik. masih ada langit di atas langit, maka aku pesenkan kepadamu wahai sahabatku janganlah engkau merasa sok, sombong dengan apa yang ada yang dilebihkan atasmu.. sungguh engkau itu tidak ada apa-apanya. ingat selalu masih ada langit diatas langit. ingat itu..
seberapa pentingkah nilai bagimu sahabat ?

bagi seorang pembelajar (siswa or mahasiswa) belajar merupakan suatu kebutuhan dasar untuk dapat menunjukan kualitas diri. Namun seringkali para pembelajar mengabaikan dalam prosesnya, maka tak heran jika selama satu semester mereka belajar tidak ada bekasnya, karena pada waktu Ujian Semester mereka pun berlomba-lomba untuk mencontek masal karena apa? karena orientasi mereka hanya pada nilai bukan proses…

ketika ada salah satu sahabat yang bertanya “Bolehkah kita berniat untuk mendapatkan nilai tertinggi dalam proses belajar dan bukankah hasil akhir merupakan ukuran kesuksesan seorang pembelajar dapat dilihat dari ujian akhir Nasional (siswa) dan IPK (mahasiswa) ??

ya boleh-beleh saja. itu kan hak kita setelah bersusah payah berjuang belajar, namun carilah nilai dengan cara yang baik. bukankah begitu kawan..?

kadang jika berpikir kita mengacuhkan soal nilai, kita juga salah. temen saya banyak sekali yang nilainya D bahkan E dan harus mengulang pada semester selanjutnya. nah kalo gini gimana? mau ikut smester pendek… hmmm liat biayanya yang menyampai 2 kali lipat. jika 4 sks smester kemaren belum lulus sedangkan biaya per sks selama smester pendek 200 ribu berapa coba? 800 ribu belum ditambah yang mau mengulang di smester ini. mau digenjot pada semester akhir. menurut saya akan terlalu berat beban di belakangnya, ya tidak kawan, haduchhh stress -stress dechh…

makanya saya bilang, saat pengambilan ip, ada yang bahagia, ada yang biasa saja. ada yang sedih ada yang putus asa..

Namun tahukah engkau, bahwa banyak orang sukses dulunya adalah siswa yang paling bodoh dikelasnya?? Engkau kenal Bill Gates? Orang terkaya di dunia itu, ia bahkan tak pernah menduduki rangking 1 di kelasnya. Bukan pula masuk sepuluh besar, bahkan ia sempat hengkang sebelum menyelesaikan studinya.

Lalu, timbul sebuah pertanyaan, APA PENTINGNYA MENGEJAR SEBUAH NILAI ?? Nilai adalah ukuran paling ringkih untuk menilai kemampuan dan kecerdasan manusia. Kemampuan manusia terlalu rendah bila hanya dinilai hanya dengan angka-angka. Otak manusia memiliki kemapuan luar biasa, bahkan kita sendiri pun tidak menyangka akan kehebatannya. OTak kita bisa menyimpan bermilyar-milyar informasi. Kita memiliki banyak kemampuan, tidak hanya dalam berhintung, tetapi juga dalam seni, sains, teknologi dan sastra. Semuanya itu tergantung dari usaha Kita untuk mengasahnya sungguh-sungguh atau tidak.

Maka, niat mencari nilai dalam proses belajar adalah niat yang paling dangkal karena ilmu tidak bisa dinilai dengan angka-angka. Kecerdasan manusia tidak dapat diukur dengan skala 1-10. Belum tentu, siswa yang rangking 1 hidupnya lebih sukses dari siswa yang ranking 10.

Maka jangan berputus asa, ketika Engkau termasuk siswa yang rangking bawah di kelas, siswa yang di cap bodoh dan dilabeli daya dong rendah. Jangan berputus asa bila nilai matematika anda 5 dan jangan pula berputusasa bila nilai fisika anda tidak pernah mencapai 7. Namun, Anda perlu saya sedihkan manakala anda tidak kunjung paham arti PEMBELAJARAN.

Kembali ke pertanyaan sahabatku diatas “Bolehkah kita berniat mendapatkan nilai tertinggi dalam proses belajar? Jawabannya, BOLEH. Tetapi, alangkah lebih baiknya apabila KITA BERNIAT MENCARI ILMU YANG DI RIDHAI ALLAH SWT. Bukankah tujuan kita sekolah/kuliah adalah untuk mencari ilmu, BUKAN MENCARI NILAI ?? Meskipun secara legal akhir dari pembelajaran adalah ijazah, tetapi dalam dunia nyata, ijazah hanya sebatas surat keterangan saja, sedangakan kecerdasan, kecakapan dan keahlian kita dilihat dari kerja nyata, bukan dari angka-angka yang tertera dalam ijazah.

MAKA JANGAN BERPUTUS ASA JIKA INDEKS PRESTASI KOMULATIF (IPK) ANDA DI BAWAH 3,00 ATAU IPK YANG KEMELUT, DIBAWAH 2,50. Toh, banyak contoh orang sukses yang tidak memiliki nilai IPK, bahkan melihat ijazah pun belum pernah. Apalagi ketika di akhirat, malaikat tidak pernah bertanya berapa IPK-mu untuk masuk ke surga.

YANG PERLU DILAKUKAN ADALAH EVALUASI DIRI. APAKAH ADA YANG SALAH DALAM PROSES PEMBELAJARAN KITA ? APAKAH KESUNGGUHAN KITA DALAM BELAJAR MASIH RENDAH ? PERBAIKILAH NIAT SETIAP SAAT, jangan sampai KETIKA ANDA KULIAH NANTI, KULIAH LEBIH DARI 4 TAHUN, NAMUN KETIKA MEMBUAT SKRISI MASIH MENGGUNAKAN BANTUAN JASA ORANG LAIN, DENGAN MEMBAYAR SEJUMLAH UANG… LALU DIMANAKAH HARGA DIRI KITA?? DIMANAKAH HASIL KULIAH KITA SELAMA 8 SEMESTER?… KEMBALI LAGI, SEMOGA KITA BISA BERNNIAT MENCARI ILMU YANG DI RIDHAI OLEH ALLAH SWT.

sahabatku yang baik. Bagi kita kuliah adalah suatu ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup kita meningkat. Kita menuntut ilmu supaya tambah luas ilmu hingga akhirnya hidup kita bisa lebih meningkat manfaatnya. Kita tingkatkan kemampuan salah satu tujuannya adalah agar dapat meningkatkan kemampuan orang lain. Kita cari nafkah sebanyak mungkin supaya bisa mensejahterakan orang lain.

Dalam mencari rizki ada dua perkara yang perlu selalu kita jaga, ketika sedang mencari kita sangat jaga nilai-nilainya, dan ketika dapat kita distribusikan sekuat-kuatnya. Inilah yang sangat penting. Dalam perkuliahan, niat kita mau apa nih? Kalau mau sekolah, mau kuliah, mau kursus, selalu tanyakan mau apa nih? Karena belum tentu kita masih hidup ketika diwisuda, karena belum tentu kita masih hidup ketika kursus selesai.

Ah, Sahabat. Kalau kita selama kuliah, selama sekolah, selama kursus kita jaga sekuat-kuatnya mutu kehormatan, nilai kejujuran, etika, dan tidak mau nyontek lalu kita meninggal sebelum diwisuda? Tidak ada masalah, karena apa yang kita lakukan sudah jadi amal kebaikan. Karenanya jangan terlalu terpukau dengan hasil.

sahabatku yang baik hatinya, Anda mungkin pernah mendengar nama salah satu pendaki gunung terhebat dalam sejarah yaitu Sir Edmund Hillary, beliau adalah orang yang pertama kali menaklukan gunung Everest, puncak tertinggi Pegunungan Himalaya pada tanggl 29 Mei 1953. Ketika berhasil membukukan namanya dalam sejarah dengan prestasi tersebut, para wartawan pernah dibuat terheran-heran oleh Sir Edmund Hillary ketika mereka mencoba menyelidiki sesuatu yang paling ditakutinya ketika melakukan pendakian ke gunung everest tersebut.

Dalam sebuah wawancara, Sir Edmund Hillary mengatakan bahwa ia tidak pernah takut pada binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es raksasa atau padang pasir yang luas dan gersang sekalipun. Namun jawabannya sangat diluar dugaan, ternyata dalam pendakian tersebut, beliau takut dengan sebutir pasir masuk di sela-sela jari kakinya. Beliau berpendapat bahwa hal tersebut bisa menjadi awal malapetaka karena sebutir pasir bisa masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kaki. Lama-lama jari kaki terkena infeksi lalu membusuk. Tanpa sadar kaki pun tidak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia harus ditandu.

Sekali lagi, Sir Edmund Hillary tidaklah takut pada harimau atau binatang buas lainnya karena secara naluriah binatang buas sebenarnya takut menghadapi manusia. Sedangkan untuk menghadapi jurang terjal, gunung es atau padang pasir, seorang penjelajah pasti sudah punya persiapan yang memadai. Tetapi jika menghadapi sebutir pasir yang masuk ke jari kaki, seorang penjelajah jarang mempersiapkannya, bahkan cenderung mengabaikannya. lah inilah yang harus kita ubah dalam persepsi hidup kita.

abaikan nilai, tapi perhatikan qualitas saat kamu proses menggapai nilai..

NIKMATI PROSES, BUKAN SEKADAR HASIL. Kalau kita menikmati proses yang terjadi dalam kita bekerja MAUPUN BELAJAR, maka kita akan selalu bekerja dan belajar dengan senang hati. Karena kita tahu, semua yang terjadi dalam perjalanan itu adalah proses pembelajaran menuju yang terbaik. Saat kita gagal, kita belajar bagaimana agar kesalahan yang terjadi tidak kita ulangi lagi. Dan saat kita sukses, kita juga belajar bagaimana mengelola kesuksesan itu menjadi momentum itu buat lebih maju lagi.

CEPAT DAN CERMAT DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN. Kesempatan itu sering hanya datang sekali, karena itu segeralah untuk menghitung secara cermat keputusan apa yang perlu kita ambil. Karena, di situlah yang membedakan antara satu manusia dengan manusia yang lain.

sahabatku yang teristimewa… Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu ALLAH yang menetapkan, tapi bagi kita punya kewajiban untuk menikmati dua perkara yang dalam aktivitas sehari-hari harus kita jaga, yaitu selalu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah ALLAH SWT.

bener gak sobat…. lantas bagaimana dengamu?

semoga bermanfaat..
Iklan