bismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang saya sayangi karena Allah, ilmu akan mengantarkan seseorang untuk beriman, dan iman pula akan membuat hati seseorang itu menjadi lembut, dan hati yang lembut akan membuat seseorang itu mudah menangis. siapa diantara sahabatku yang tak pernah sedkitpun menangis dalam hidupnya?… adakah yang bisa jawab ?

kurangilah tertawamu kawan, kurangilah tertawamu karena Rosulullah bersabda :

“Demi Allah, seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kamu akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis”. [H.R. At-Tirmizi]

sebuah kisah, mari selami dalam-dalam maknannya..

Seorang kakek sedang berjalan-jalan sambil menggandeng cucunya di jalan pinggiran pedesaan. Mereka menemukan seekor kura-kura. Sang Cucu mengambilnya dan mengamat-amatinya dengan penuh rasa ingin tahu. Kura-kura ketakutan dan segera menarik kaki dan kepalanya masuk ke dalam tempurungnya. Sang Cucu mencoba membuka tempurung kura-kura secara paksa.
“Cara demikian tidak pernah akan berhasil, Cu!” beritahu Kakek. “Mari, Kakek akan mencoba mengajarimu cara yang benar.”

Mereka pulang. Sang Kakek meletakkan kura-kura itu di dekat perapian. Beberapa waktu kemudian, Si Kura-kura mulai mengeluarkan kaki dan kepalanya, sedikit demi sedikit. Ketika merasa aman dan nyaman berada di lingkungan barunya, ia pun merangkak, bergerak mendekati Sang Cucu. Tentu saja Sang Cucu merasa gembira.
“Catatlah pelajaran ini, Cucuku. Janganlah mencoba memaksa-maksa dalam melakukan segala sesuatu,” nasihat Kakek, “Kehangatan, kelembutan  dan keramahan pasti akan membuat kita mendapat tanggapan yang baik.”
Sebuah cara yang sederhana dan tidak asing, namun seringkali kita lupakan….

sahabatku yang dirahmati Allah,

kurangi tertawamu kawan, kurangi tertawamu… !!!

Dr. Yusuf Qardhawi, “Sesungguhnya tertawa itu termasuk tabiat manusia. Binatang tidak dapat tertawa, karena tertawa itu datang setelah memahami dan mengetahui ucapan yang didengar atau sikap dari gerakan yang dilihat

Dalam QS. 9:82 difirmankan juga : “Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.”

Dalam QS. 53:43 di-firmankan : “dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,” Kemudian disebutkan juga bahwa Al Qur’an memberikan arahan menyedikitkan tertawa dan memperbanyak menangis mengingat dahsyatnya kehidupan setelah mati.”

Banyak mengingat mati dan dosa-dosa kita akan menjadikan hati ini lebih banyak menangis daripada tertawa melihat apa yang tersedia di muka bumi ini.

sahabatku yang baik akhlaknya..

Ada seorang syekh melihat seorang anak berwudhu di tepi sungai sambil menangis. Syekh tersebut bertanya, “Wahai anak, mengapa engkau menangis?”

Anak tersebut menjawab, “Saya membaca ayat Alquran, hingga sampai ayat: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At-Tahrim [66]: 6). Saya takut, jangan-jangan Allah memasukkan saya ke neraka.”

Syekh tersebut berkata, “Wahai anak kecil, kamu tidak akan disiksa, karena kamu belum baligh, jangan merasa takut, kamu tidak  berhak memasuki neraka.”

Anak kecil tersebut menjawab, “Wahai syekh, engkau adalah orang yang pandai, tidakkah syekh tahu bahwa seorang yang menyalakan api untuk satu keperluannya itu memulai dengan kayu-kayu yang kecil baru kemudian yang besar.”

Seraya menangis seorang syekh tersebut berkata, “Anak ini lebih takut kepada neraka daripada saya.”

Itulah gambaran kelembutan hati seseorang yang dibingkai dengan iman. Seorang yang betul-betul beriman dan senantiasa bertambah keimanannya akan semakin peka dan mudah merasai sesuatu, karena semua perkara akan dilihat dari kehendak-kehendak Allah, bukan dari kehendak-kehendaknya.

Seorang yang beriman kepada Allah pasti akan sedih apabila tidak dapat bersedekah karena tidak memiliki harta, akan takut apabila azab akan menimpa dirinya sewaktu-waktu, akan bersedih bila tidak mampu membantu orang-orang yang susah, akan meneteskan air mata kesedihan apabila melihat anak-anak yang terlantar, akan harap apabila nanti dimasukkan ke dalam surga, akan gembira apabila imannya terus kekal hingga ke penghujung usia, dan begitu seterusnya.

coba kawan, tanyakan itu pada hatimu? apakah engkau sudah demikian atau belum ? coba tanyakan lagi ?

Seorang Tabi’in berkata : “siapa diberi ilmu dan tidak membuatnya menangis maka lebih baik baginya untuk tidak diberi ilmu, kerana Allah telah menerangkan bahwa sifat orang yang berilmu itu adalah menangis”. (Riwayat Ad-Daraami)

Berarti maknanya ilmu  akan mengantarkan seseorang untuk beriman, dan iman pula akan membuat hati seseorang itu menjadi lembut, dan hati yang lembut akan membuat seseorang itu mudah menangis.

ini telah dicontohkan oleh Nabi SAW dengan sikap beliau yang lembut, tidak pernah marah kepada pembantu rumah tangganya. Anas bin Malik, sebagaimana diriwayatkan Imam Mulim, Anas bin Malik berkata: “Aku menjadi pembantu Rasulullah selama sepuluh tahun. Belum pemah beliau berkata kasar kepadaku. Dan selama sepuluh tahun itu belum pernah beliau berkata kepadaku: ‘Mengapa kamu melakukan ini?’ Dan belum pernah beliau berkata: ‘Mengapa kau tidak lakukan sesuatu sepeninggalku?’ “.

Sepuluh tahun bukanlah sebentar dan selama itu Anas bin Malik belum pernah sekalipun dimarahi Nabi SAW. Coba bandingkan dengan keadaan sekarang, pembantu dianggap sebagai orang kecil yang bisa diperlakukan semena-mena oleh sang majikan, bahkan sudah tidak “dimanusiakan” lagi.

Sudah menjadi berita sebari-hari tentang perlakuan kasar majikan terhadap PRT (pembantu rumah tangga) mulai dari dipukuli sampai kehilangan nyawa akibat disiksa oleh majikan.

Inilah akibat tidak adanya kelembutan hati di dalam diri seseorang, sehingga rasa kesal, rasa marah mudah terlampiaskan, tidak terkontrol lagi dan di saat seperti itulah syetan dengan mudah memprovokasi untuk melakukan perbuatan yang tidak manusiawi.

Sikap lembut hati disertai rasa empati Nabi SAW kepada pembantunya tersirat pula dalam doa beliau, ketika Ibu Anas bin Malik memohon agar Nabi SAW mau mendoakan anaknya. Doa Nabi SAW : “Ya Allah, berilah dia harta dan anak yang banyak. Dan berkatilah atas apa yang Engkau beri “ (HR.Bukhari).

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang takut kepada Allah (karena kelembutan hatinya) adalah orang-orang yang berilmu, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS Fathir [35]: 28)

lalu berarti kita harus sering menangis daripada berusaha yang terbaik dulu ?

tentu tidak kawan hatimu adalah lautan yang luas.. ingat itu,  seperti yang mario teguh katakan :

Pikiran kita yang kecil bisa mmbuat hati kita kecil, hati hanya mampu menerima.
Bahagianya hati tanda bahwa hati menerima kebaikan, sakitnya hati karena si pemilik hati membuat batasan-batasan yang membatasi hatinya dari potensi yang membahagiakan dirinya.

Bagaimana meluaskan hati yang terlanjur sempit? Hati kita mempunyai ‘pikirannya’ sendiri, yang berbeda dengan rasio di otak kita. Dengan cara kita berterimakasih kepada pada apapun.. maka HATI kita bisa menjadi lebih luas luas dan lebih luas lagi.. apapun yang dilemparkan kepadanya akan diterima, karen hati memang hanya bisa menerima…
Hanya lautan yang luas yang mampu memikul langit yang luas..

Hati adalah tempat terserapnya semua kejadian dalam hidup ini. bagaimana jika hatinya selalu keras ???

Hati kita adalah sebuah cawan yang dengan perlahan atau cepat, selalu diisi oleh kehidupan ini, dengan kita sadari atau tidak, dengan persetujuan kita atau tidak.

Hati diberikan kemampuan yang besar untuk menerima apapun yang dilontarkan ke arahnya. Bahagianya hati menandakan penerimaan, tetapi sakitnya hati tidak menandakan penolakan. Justru karena ia menerima dan menyerap apapun, ia merasakan semua hal.

Hanya hati yang luas yang mampu memikul langit yang luas. Hati yang luas akan melihat kehidupan besar, hati yang kecil akan melihat kehidupan kecil.

Jika Anda berfokus pada yang menarik hati Anda, Anda akan menyaksikan pertumbuhan dalam diri Anda, yang menyebabkan pertumbuhan dalam hidup Anda.

Sebuah hati itu indah bukan hanya isinya hanya yang baik, semua kesalahan dan dosa kita yang tertata rapi dengan semua kedermawanan, kemampuan untuk memaafkan itu semua yang menjadikan hati kita indah. Dan semua orang yang hidupnya indah, orang-orang itu memiliki hati yang indah. Hati yang banyak menerima akan bersinar dengan terang. Tetapi ada pikiran kita yang melingkari hati, dan hanya mengizinkan sedikit sinar masuk, yaitu sinar yang sepaham, seagama, sesuku dan lain sebagainya, baru diizinkan masuk. nah inilah yang harus sedikit dirubah, mau kan kawan ?

Jangan kecilkan potensi hati yang besar ini dengan dengan terbatasnya pikiran. Apapun yang ditujukan kepada Anda, Anda harus menerima, karena kemampuan hati itu untuk menerima. Bijaklah dengan pikiran Anda. Gunakan yang sudah masuk ke hati, sebagai kekuatan untuk memperindah penampilan Anda, dalam mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Hanya hati yang luas yang mampu memikul langit yang luas. Hati yang luas akan melihat kehidupan besar, hati yang kecil akan melihat kehidupan kecil. Orang akan bereaksi cepat kepada yang dekat kelihatan, untuk itu janjikanlah yang dekat-dekat. Pikiran kita juga tidak boleh menjanjikan yang terlalu jauh. Janjikan yang jauh, tetapi buktikan dalam jangka dekat bisa menghasilkan. Sehingga hati anda jadi sekutu bagi diri anda sendiri.

Paling kasihan bagi orang yang hatinya menjadi peragu dari semua rencananya. Kekayaan itu ada yang mengharukan dan ada yang mengkhawatirkan. Kekayaan yang mengharukan dia selalu bersyukur dengan apa yang didapat, dan kekayaan yang mengkhawatirkan akan selalu dihantui dengan keburukan, karena dia mendapatkan kekayaan dengan cara yang tidak baik.

sahabatku yang terhebat, Apakah anda menjalani hidup ini dengan ingatan atau pengertian? Ingatan diatur oleh masa lalu. Orang-orang yang mengatur hidupnya dengan masa lalu, hidupnya berdasarkan ingatan. Jadi seberapa besarpun ingatan anda, dia akan menyusut dengan berjalannya waktu. Sedangkan pengertian kita akan tumbuh dengan berjalannya kedewasaan hidup. Anda tidak hidup dari pelajaran anda, tetapi anda belajar dari kehidupan anda. Kemampuan itu semakin besar semakin hebat, tetapi penggunaan kemampuan itu lebih penting daripada kemampuan itu sendiri. Telah terbukti, banyak orang yang sekolahnya kurang baik dari kita, mencapai kesuksesan yang lebih besar. Karena mereka berfokus pada penggunaan kemampuan. Yang mempengaruhi penggunaan kemampuan adalah hati. Semangat yang tinggi mempengaruhi penggunaan yang tinggi, sehingga kemampuannya berdampak efektif.

Jadi kalau berbicara hati dan nilai, itu tidak terpisah, karena nilai adalah ukuran kita dalam kehidupan, dan ditentukan dengan seberapa besar hati ini memungkinkan penggunaan kemampuan anda, bagaimana denganmu kawan ???

Marilah mulai dari sekarang kita semai benih kelembutan hati dalam diri kita. Cobalah untuk mengendalikan diri kita sendiri dari sikap keras hati, gampang kesal atau marah dan berlaku kasar terhadap orang lain. Sikap santun dan lembut hati Nabi SAW perlu kita teladani, agar semua urusan kita menjadi mudah, indah dan membawa berkah di dunia dan akhirat.

Barang siapa banyak tertawa maka sedikitlah wibawanya,
barangsiapa menyepelekan manusia,maka kebanyakan manusia pun akan menyepelekan dia di dalam urusan yg dia ketahui. 
Barang siapa banyak bicara [bicara buruk,seperti ghibah,bicara kotor,kasar dll..],maka gugurlah ia,barang siapa yang gugur,maka sedikitlah malunya,
barangsiapa yang sedikit malunya,maka sedikit pula wara’nya [wara=menjauhi hal subhat dan haram],dan bangsiapa yang sedikit wara’nya,maka matilah hatinya
(umar bin khattab r.a)

Tidak akan masuk api neraka siapa yang menangis karena takut kepada Allah” ( Rosulullah saw)

bagaimana dengan hatimu saat ini kawan? sudah lembutkah to keraskah ??

ya Allah, yang maha melembutkan hati, kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami, jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami, jaga kami dengan mata-Mu yang tiada tidur, lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus. Kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu. Berlaku pasti atas kami hokum-hukum-Mu. Adil pasti atas kami keputusan-Mu.

Ya Allah, Perbaiki hubungan antar kami, rukunkan antar hati kami, tunjuki kami jalan keselamatan. Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang didunia dan akhirat…

 Ya Allah, Wahai yang memudahkan segala yang sukar dan yang menyambung segala yang patah. Wahai yang menemani semua yang tersendiri dan pengaman segala yang takut. Aku mohon kasih-Mu…

Wahai Tuhan yang tidak memerlukan penjelasan dan penafsiran. Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak, Engkau Maha Tahu dan Melihat. Kami takut kepada-Mu selamatkan kami dari siksa-Mu…

Ya Allah, berilah petunjuk kepada kami dari sisi-Mu, limpahkan kepada kami karunia-Mu, curahkan rahmat-Mu dan turunkanlah kepada kami berkah-Mu….

hanya kepadamu kami berharap dan hanya kepadamu kami berserah diri..

semoga bermanfaat.

Iklan