bismillahirahmanirahim,

sahabatku semua yang dirahmati, lika-liku pernikahan yang kadang membuat saya bingung sendiri, hari ini ada yang menikah besok ada yang bercerai, hari ini bahagia menghiasi, besok tangis menemani, apa pernikahan itu sebuah permainan belaka ? yang bisa seenaknya kawin cerai,apakah memang begitu ya kawan?… jika belum siap menikah? maka jangan buru-buru menikah, persiapkan diri, persiapkan hati baru mecoba melangkah ke jenjang yang pasti. nah jika perceraian terjadi siapa yang akan menderita, coba kawanku jawab..

padahal Niat dan tujuan yang paling esensial dari menikah adalah beribadah untuk mencari ridlo Allah dengan jalan mengikuti perintah-Nya dan perintah rosul-Nya, bukan hanya sekedar pemuasan nafsu semata.. ya to tidak kawan ?

sebuah kisah menarik, mari kita selami dalam-dalam maknanya…ni juga sebagai nasehat untuk saya sendiri..

Semuanya berawal dari sebuah rumah mewah di pinggiran desa, yg mana hiduplah disana sepasang suami istri, sebut saja Pak Andre dan Bu Rina.
Pak Andre adalah anak tunggal keturunan orang terpandang di desa itu, sedangkan Bu Rina adalah anak orang biasa. Namun demikian kedua orang tua Pak Andre, sangat menyayangi menantu satu-satunya itu. Karena selain rajin, patuh dan taat beribadah, Bu Rina juga sudah tidak punya saudara dan orang tua lagi. Mereka semua menjadi salah satu korban gempa beberapa tahun yg lalu.

Sekilas orang memandang, mereka adalah pasangan yg sangat harmonis. Para tetangganya pun tahu bagaimana mereka dulu merintis usaha dari kecil untuk mencapai kehidupan mapan seperti sekarang ini. Sayangnya, pasangan itu belum lengkap.
Dalam kurun waktu sepuluh tahun usia pernikahannya, mereka belum juga dikaruniai seorang anakpun. Akibatnya Pak Andre putus asa hingga walau masih sangat cinta, dia berniat untuk menceraikan sang istri, yg dianggabnya tidak mampu memberikan keturunan sebagai penerus generasi. Setelah melalui perdebatan sengit, dengan sangat sedih dan duka yg mendalam, akhirnya Bu Rina pun menyerah pada keputusan suaminya untuk tetap bercerai.

Sambil menahan perasaan yg tidak menentu, suami istri itupun menyampaikan rencana perceraian tersebut kepada orang tuanya. Orang tuanya pun menentang keras, sangat tidak setuju, tapi tampaknya keputusan Pak Andre sudah bulat. Dia tetap akan menceraikan Bu Rina.

Setelah berdebat cukup lama dan alot, akhirnya dengan berat hati kedua orang tua itu menyetujui perceraian tersebut dengan satu syarat, yaitu agar perceraian itu juga diselenggarakan dalam sebuah pesta yg sama besar seperti besarnya pesta saat mereka menikah dulu.
Karena tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, maka persyaratan itu pun disetujui.

Beberapa hari kemudian, pesta diselenggarakan. Saya berani sumpah bahwa itu adalah sebuah pesta yg sangat tidak membahagiakan bagi siapapun yg hadir. Pak Andre nampak tertekan, stres dan terus menenggak minuman beralkohol sampai mabuk dan sempoyongan. Sementara Bu Rina tampak terus melamun dan sesekali mengusap air mata nelangsa di pipinya.
Di sela mabuknya itu tiba-tiba Pak Andre berdiri tegap dan berkata lantang,

“Istriku, saat kamu pergi nanti… ambil saja dan bawalah serta semua barang berharga atau apapun itu yg kamu suka dan kamu sayangi selama ini..!”

Setelah berkata demikian, tak lama kemudian ia semakin mabuk dan akhirnya tak sadarkan diri.

Keesokan harinya, seusai pesta, Pak Andre terbangun dengan kepala yg masih berdenyut-denyut berat. Dia merasa asing dengan keadaan disekelilingnya, tak banyak yg dikenalnya kecuali satu. Rina istrinya, yg masih sangat ia cintai, sosok yg selama bertahun-tahun ini menemani hidupnya.
Maka, dia pun lalu bertanya,

“Ada dimakah aku..? Sepertinya ini bukan kamar kita..? Apakah aku masih mabuk dan bermimpi..? Tolong jelaskan…”

Bu Rina pun lalu menatap suaminya penuh cinta, dan dengan mata berkaca dia menjawab,

“Suamiku… ini dirumah peninggalan orang tuaku, dan mereka itu para tetangga. Kemaren kamu bilang di depan semua orang bahwa aku boleh membawa apa saja yg aku mau dan aku sayangi. Dan perlu kamu tahu, di dunia ini tidak ada satu barangpun yg berharga dan aku cintai dengan sepenuh hati kecuali kamu. Karena itulah kamu sekarang kubawa serta kemanapun aku pergi. Ingat, kamu sudah berjanji dalam pesta itu..!”

Dengan perasaan terkejut setelah tertegun sejenak dan sesaat tersadar, Pak Andre pun lalu bangun dan kemudian memeluk istrinya erat dan cukup lama sambil terdiam. Bu Rina pun hanya bisa pasrah tanpa mampu membalas pelukannya. Ia biarkan kedua tangannya tetap lemas, lurus sejajar dengan tubuh kurusnya.

“Maafkan aku istriku, aku sungguh bodoh dan tidak menyadari bahwa ternyata sebegitu dalamnya cintamu buat aku. Sehingga walau aku telah menyakitimu dan berniat menceraikanmu sekalipun, kamu masih tetap mau membawa serta diriku bersamamu dalam keadaan apapun…”

Kedua suami istri itupun akhirnya ikhlas berpelukan dan saling bertangisan melampiaskan penyesalannya masing-masing. Mereka akhirnya mengikat janji (lagi) berdua untuk tetap saling mencintai hingga ajal memisahkannya.
Yup… till death do apart..! Subhanallah…#.#.#

sahabatku yang aku sayangi karena Allah,

Tujuan utama dari sebuah pernikahan itu bukan hanya untuk menghasilkan keturunan, meski diakui mendapatkan buah hati itu adalah dambaan setiap pasangan suami istri, tapi sebenarnya masih banyak hal-hal lain yg juga perlu diselami dalam hidup berumah-tangga.

Untuk itu rasanya kita perlu menyegarkan kembali tujuan kita dalam menikah yaitu peneguhan janji sepasang suami istri untuk saling mencintai, saling menjaga baik dalam keadaan suka maupun duka. Melalui kesadaran tersebut, apapun kondisi rumah tangga yg kita jalani akan menemukan suatu solusi. Sebab proses menemukan solusi dengan berlandaskan kasih sayang ketika menghadapi sebuah masalah, sebenarnya merupakan salah satu kunci keharmonisan rumah tangga kita.

lalu kenapa harus ada perceraian? apa yang melatar belakanginya.. ayo kita ungkap bersama..

seperti tulisan yang kemaren telah terbit dinamika pernikahan; dimana enaknya tukeran istri ? bagi yang belum baca maka dibaca dulu,

Perceraian suami istri itu adakalanya disebabkan oleh masalah intern namun ada pula disebabkan oleh faktor dari luar, ekstern. Perceraian yang disebabkan masalah internal suami-istri itu bisa terjadi, karena beberapa hal, antara lain,

pertama, ketidaksetiaan (suami atau istri selingkuh).

Kedua, problem ekonomi, karena suami tidak sanggup memenuhi tuntutan istrinya yang di luar batas kemampuannya.

Ketiga, istri tidak lagi patuh dan taat pada suami.

Keempat, istri tidak lagi memperhatikan urusan rumah tangganya, ia terlalu sibuk dengan kegiatannya di luar rumah sehingga suami dan anak-anaknya terlantar.

Kelima, kecemburuan. Sebenarnya ia bisa menjadi bumbu cinta, selama tidak berlebih-lebihan. Sebaliknya bila dilakukan secara berlebih-lebihan akan berakibat mafsadah (kerusakan).

Keenam, tidak adanya rasa cinta kasih antara keduanya, sehingga perceraian menjadi sangat sulit untuk dibendung kecuali bagi suami istri yang segera menyadari kesalahan dan segera merubah tindakannya.

Adapun faktor-faktor eksternal itu seperti campur tangan orang tua atau keluarga dalam menentukan kebijakan-kebijakan keluarga yang kadang-kadang bisa mendorong terjadinya perceraian. Namun ancaman perceraian yang disebabkan oleh faktor ini lebih mudah untuk diatasi, karena antara suami istri masih ada kecocokan, selama pihak luar tidak ikut campur tangan yang terlalu dalam terhadap kemelut yang terjadi dan tidak mem-pressure (memberi tekanan) pada pihak-pihak yang bertikai.

Tidak salah bila ada orang yang mengatakan bahwa perkawinan itu ibarat lautan. Bila diamati dari pantai, ia akan nampak indah dan menyenangkan, tapi di tengah laut yang luas, kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan setiap saat siap saja membuyarkan lamunan indah. Ombak, badai, hujan dan serangan hewan laut bisa saja meluluh lantakkan harapan yang kadung terhamparkan. Tapi itu semua itu baru sebuah kemungkinan yang belum tentu menjadi sebuah kenyataan, sehingga tidak perlu takut yang berlebihan. Apalagi sampai menjadi momok dan hantu yang menyeramkan, membuat kita menjadi ketakutan untuk menjalani pernikahan.

untuk itulah persiapakan hati kita dulu sebelum kelak menata hati pasangan kita,

dimana cinta yang dulu dibangun sebelum menikah ? katanya cinta, katanya sayang? Meskipun ada orang yang berumahtangga bukan karena cinta atau dominan mempengaruhi keputusannya melakukan hal itu, umumnya sebuah rumah tangga dibangun atas dasar cinta. Jika demikian halnya patut dipertanyakan, kenapa ingin berpisah?. Kenapa harus cerai?. Kemana perginya cinta?. kemana lagi semua itu ?

pandangan umum kebanyakan orang mngatakan bahwa perceraian tidak baik tapi bukan berarti negatif….
dan di dalam agama pun itu dilarang untuk bercerai bukan?? barang halal yang dibenci allah adalah perceraian,
namun dilihat dalam kenyataan hidup orang tidak bsa hanya berbicara bhwa perceraian tidak boleh terjdi namun pada kenyataan nanti mereka maelakukan hal itu… nah berbeda dengan teori kan ??
perceraian tidak slamanya negatif… karena perceraian adalah jalan terkahir yang bisa disepakati oleh dua pihak agar hubungan mereka jelas dan dalam hal lain seperti hal mental mereka pun tidak tergantung2….
lantas bukan brarti saya menyetujui akan perceraian ini namun pesan saya berpikirlah terlebih dahulu sebelum membuat keputusan akhir… karena keputusan tak bsa di cabut jika sudah terucap. ya gak kawan ?

Jika tujuan pernikahan tidak tercapai sehingga mengakibatkan perselisihan berkepanjangan, menanam bibit kebencian diantara keduanya sedangkan usaha perdamaian tidak dapat disambung lagi, maka dengan keadilan Allah SWT dibukakanNYA suatu jalan keluar itu, yaitu perceraian. tapi pikir masak-masak dulu sebelum menjatuhkan thalak…

sahabatku yang dirahmati Allah, pernahkah kamu baca buku buku “HARMONIS Idaman Setiap Keluarga & Tips Meredam Perselisihan”, Penulis Asy-Syaikh Salim Al-’Ajmi, DR. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Penerjemah Abu Nizar Arif Mufid. MF., Abu Muqbil Akhmad Yuswaji, Penerjemah: Pustaka Salafiyah

Sepasang suami istri sepakat untuk menjalani proses perceraian.
Sang suami berkata, “Rumah untuk kamu, karena kamu yatim tidak punya bapak dan ibu. Sedangkan saudara-saudaramu sudah menikah, sehingga akan sulit untuk hidup bersama mereka. Rumah untuk kamu dan aku akan hidup bersama saudaraku.
 
Sang istri menjawab, “Tidak, rumah untuk kamu. Kamu sangat capai untuk membangunnya. Aku akan berusaha untuk melakukan aktifitas bersama istri saudaraku dan hidup bersamanya”.
 
Suami menjawab, “ kalau begitu ambil perabotannya.”
 
Istri berkata, “Tidak, kamu lebih membutuhkannya daripada diriku. Rumah saudaraku sudah lengkap.”
Suaminya menjawab, “Kalau demikian terimalah uang ini”.
Si istri menolak, “Aku punya pekerjaan yang masuk akal. Aku tidak butuh kepada harta. Kamu lebih membutuhkannya”.
Ketika sang istri menyiapkan tasnya untuk meninggalkan rumah, tiba-tiba suami mengaduh dengan penuh sesalnya; dan bertanya kepadanya, “kalau demikian kenapa harus cerai?! Karena tidak ada kecocokan?! Karena aku tidak bisa memahamimu dan kamu tidak bisa memahamiku?! Perkataan macam apa ini?!!
 
Apakah tidak cukup bagi suami istri, bahwa masing-masing sangat perhatian terhadap kamaslahatan yang lainnya?!
 
Apakah harus dengan kecintaan yang sangat dan kecocokan yang sempurna?!
 
Apakah dengan terjadinya beberapa perselisihan di antara kita berarti kegagalan bagi hubunngan kita?!
 
Bagaimana dikatakan gagal, padahal masing-masing kita senang untuk memuliakan pasangan hidupnya dan lebih mengutamakannya daripada dirinya sendiri?!
 
Bukankah timbal balik dalam memuliakan itu lebih penting daripada cinta yang bergelora?!”
Sang istri tidak berkata sepatah pun…Dan tidak terjadi perceraian…Keduanya masih menjadi sepasang suami istri hingga sekarang…
Kisah yang mengesankan ini menjelaskan sejauh mana permenungan, kelembutan dan tidak tergesa-gesa bisa menjadi sebab langgengnya ikatan perkawinan antara suami istri yang masing-masing berpikir bahwa pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya jauh dari pasangannya. Tatkala salah satunya membuka hati untuk pasangannya, ternyata jarakny dekat sekali.
Bertanyalah pada diri kita; apakah kita telah menggunakan cara ini sebagai metode dalam rumah tangga kita?! Banyak merenung ketika terjadi masalah, membuka hati untuk bisa menguasainya dan bersikap lapang dada untuk mengobatinya.
 
Kalau kita laksanakan masalah ini, niscaya akan hancur banyak masalah dan akan datang setelahnya kemesraan dan kebahagiaan.

Jadi nampaknya benar apa yang dikatakan orang bijak, bahwa bila sudah mempunyai niat untuk menikah, maka jangan hanya melihat gampange (enaknya) saja, tapi lihat juga gampenge. (jurang yang terjal di pinggir gunung), sebab di sana tidak hanya ada seneng (senang) saja, tapi juga ada senepnya (susahnya). Perlu berpikir matang untuk menjalaninya dan perlu kesiapan mental untuk melakoninya. Harus mempertimbangkan untung rugi dan positif negatifnya, sehingga bila sudah dijalani dan ternyata harus berpisah karena beberapa sebab, hendaklah perpisahan itu merupakan pilihan terakhir dan terbaik, yang merupakan hasil dari istikhoroh dan perenungan yang dalam. Sebab, apapun alasannya, perceraian adalah menyakitkan dan sangatlah menyakitkan. Menimbulkan luka yang sangat dalam bagi pelakunya, dan butuh waktu yang panjang untuk menyembuhkan luka dan menghapus traumanya.

“Harta dalam rumah tangga itu bukanlah terletak dari banyaknya tumpukan materi yg dimiliki, namun dari rasa kasih sayang dan cinta pasangan suami istri yg terdapat dalam keluarga tersebut. Maka jagalah harta keluarga yg sangat berharga itu..!”

Terima istrimu apa adanya, terima suamimu apa adanya. Karena keduanya diberikan Allah untuk kita. Cintai istrimu dengan sekedarnya cinta, cintai suamimu juga sekedarnya saja, tidak melebihi cintamu kepada sang maha pemberi cinta Allah swt,

mau kan kawan?

Ya Allah jka aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang
yang melabuhkan cintanya padaMu
agar bertambah kekuatanku untuk mencintaiMu

” Ya Allah..
Karuniakanlah aku istri yang bukan sekedar kekasihku
Tapi jadikanlah ia pendamping dikala sunyiku
Penyejuk segala isi pandanganku
Penyinar dikala derita hatiku
Pengobat siksaan rinduku
Dan juga ibu yang pengasih kepada anak-anakku.. amiin”

semoga bermanfaat.

Iklan