bismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, hidup yang begitu kerasnya dinegara begitu kaya tapi minim nilai-nilai moralnya ini, sebuah pertanyaan yang kadang menjadi pertanyaan bagi saya sendiri, juga pertanyaan untuk sahabatku semua, masih adakah orang-orang yang jujur di dunia ini? jawabanya mudah sebenarnya, tapi perlu berfikir sejenak dalam diri, apakah saya sudah jujur? dan saya rasa orang yang jujur itu masih ada, namun entahlah dimana dia sekarang, semoga kita termasuk didalamnya..

sahabatku semua yang dirahmati Allah, banyak orang mencari keuntungan dengan cara tidak jujur, banyak pedagang yang berdagang dengan cara tidak jujur,banyak pemimpin yang tidak jujur, dan juga banyak orang yang berpura-pura hanya untuk mendapatkan keuntungan semata..

kiranya kisah dibawah ini, semoga bisa menginspirasi kita semua agar berlaku jujur..

Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota kufah. Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual. Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka. Supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.

Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.

“Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai,”tawar Imam Hanafi tersenyum ramah.

Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri.

“Bolehkah aku melihat pakaian itu?” tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengambilkannya.

“Berapa harganya?”tanyanya sambil memandangi pakaian itu. Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya.”Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.

“Sayang sekali.”perempuan itu tampak kecewa.

“Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?”

“Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja.”

“Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,”katanya.

“Tidak apa-apa, terima kasih,”sahut Imam Hanafi tetap tersenyum dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka sering menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.

Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak. Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali. Imam Hanafi lalu menghampirinya.

“Silakan, baju itu bahannya halus sekali. Harganya pun tak begitu mahal.”

“Memang, saya pun sangat menyukainya. ” Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih. “Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini orang miskin,”katanya lagi.

Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini, saya akan menghadiahkannya untuk ibu,”kata Imam Hanafi.

“Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?”

“Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih.”Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.

“Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi.” Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.

Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar. Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu. Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.

Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu.

“Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja,” kata Imam Hanafi. Sahabatnya mengangguk. Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.

Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.

“Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang,”kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.

“Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?” tanya Hanafi.

“Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh.”sahabatnya sangat menyesal.

Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.

“Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya, “ucap Imam Hanafi.

Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat sedih.

Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.

“Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,”ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.

Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.

Keesokan harinya Imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya. Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu disudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.

Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh.

“Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya? ” tanyanya.

“Tidak, Aku khawatir uang itu adalah uang haram,” kata Imam Hanafi.

Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan disudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya.

masih adakah orang seperti imam hanafi sahabatku?

adakah bahanya bagi orang yang tidak jujur ?

Perilaku jujur adalah perilaku yang teramat mulia. Namun di zaman sekarang ini, perilaku ini amat sulit kita temukan. Lihat saja bagaimana kita jumpai di kantoran, di pasaran, di berbagai lingkungan kerja, perilaku jujur ini hampir saja usang. Lihatlah di negeri ini pengurusan birokrasi yang seringkali dipersulit dengan kedustaan sana-sini, yang ujung-ujungnya bisa mudah jika ada uang pelicin. Lihat pula bagaimana di pasaran, para pedagang banyak bersumpah untuk melariskan barang dagangannya dengan promosi yang penuh kebohongan. Pentingnya berlaku jujur, itulah yang akan penulis utarakan dalam tulisan sederhana ini.

Perintah untuk Berlaku Jujur

Dalam beberapa ayat, Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk berlaku jujur. Di antaranya pada firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah: 119).

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,

فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

Tetapi jikalau mereka berlaku jujur pada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)

Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta.  Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”[1]

Begitu pula dalam hadits dari Al Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.”[2] Jujur adalah suatu kebaikan sedangkan dusta (menipu) adalah suatu kejelekan. Yang namanya kebaikan pasti selalu mendatangkan ketenangan, sebaliknya kejelekan selalu membawa kegelisahan dalam jiwa.

sahabatku yang dirahmati Allah, saya selalu terngiang omongan dosen saya disela-sela waktu mengajarnya, Dr.Eng.Ir. RUDI SUHRADI RACHMAT, M.Eng

“orang pinter itu banyak tapi orang jujur itu jauh lebih hebat” orang pinter itu memang banyak, setiap tahun universitas -universitas di indonesia mencetak ribuan sarjana yang hebat, cerdas dan intelektual namun semua itu tak ada artinya jika moral dan akhlak mereka buruk, nah “jujur” adalah salah satu cerminan akhlak yang baik, apa jadinya jika banyak orang pinter tapi tidak jujur, yaa.. pasti kita kan selalu dibodoh-bodohin bener gak kawan ? lihat tuch, orang-orang yang bisa korupsi milyaran rupiah apakah mereka itu dari kalangan orang bodoh? tentu tidak bukan, mereka para sarjana, ada yang lulusan luar negeri, cerdas dan intelektual namun sayang mereka tidak jujur, lalu kejujuranyaa dimana ?

lalu kita tanya diri kita sendiri, yang tiap hari memperhatikan kondisi bangsa kita, apakah para pejabat kita sudah jujur ?

padahal yang “Yang paling bahaya itu pejabat yang profesional tapi tidak jujur. perhatikan kata “profesional tapi tidak jujur” haduch indonesia mau dibawa kemana, sedangkan pejabaatnya sendiri saja, banyak yang mementingkan dirinya sendiri dengan berlaku yang tidak jujur…

apakah bahaya dari ketidak jujuran…??

jadi pedagang, peagang yang jujur, jadi pegawai, pegawai yang jujur, jadi pejabat, pejabat yang jujur, jadi pemimpin, pemimpin yang jujur.  Agar masyarakat atau rakyat ini menjadi tenang dan makmur. Bukan malah sebaliknya ada yang mengatakan hidup jujur tidak makmur, itu pandangan yang salah. Karena kalau kita jujurapapun pekerjaan kita, maka kita akan disenangi oleh banyak orang. Akan tetapi sebaliknya bila kita  selalu berbuat bohong, maka akan membuat hati resah dan selalu merasa salah karena selalu berbuat bohong.

“Dan berhati-hatilah kalian dari perbuatan dusta, karena sesungguhnya kedustaan akan menuntun kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan akan menuntun kepada neraka. Serta  senantiasa seseorang berbuat dusta dan berupaya untuk berdusta hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Muttafaqun alaih).

Bila ada modal tak abstrak yang paling memberi pengaruh terhadap kehidupan seseorang di dunia dan akhirat, kejujuran adalah hal yang tak terpisahkan.  Kejujuran menjadikan seseorang terpercaya dan menuntun hidup menjadi mudah.  Sebaliknya, ketidakjujuran menjadikan hidup susah, meskipun tidak sedikit yang cenderung memilih mengundang kesusahan diri dengan perilaku ini.

maka jika banyak penderitaan penderitaan yang selama ini kamu alami, maka koreksi diri terlebih dahulu, sudahkan hidup kamu dihiasi dengan kejujuran, coba koreksi itu ?

sahabatku yang dirahmati Allah. ada orang yang putus asa bilang “wong jujur yow ajur ” bahasa indonesianya orang jujur pasti hancur.. ini kata-kata orang yang putus asa dengan keadaan dirinya, bagaimana jika saya balik. orang jujur bisa kaya dan berkah, nagapain tidak jujur, ya kan…

Ketidakjujuran bersifat menjeratkan.  Sekali tidak jujur akan menuntut ketidakjujuran-ketidakjujuran selanjutnya.  Kalau tidak, akan terbongkar sejumlah ketidakjujuran sebelumnya.  Diselimuti perasaan seperti ini, siapapun sungguh akan merasakan kesengsaraan jiwanya.  Ada rasa malu dan takut, kalau-kalau orang lain mengetahuinya.  Juga ada rasa tidak nyaman ketika melakukannya.  Hidup dipenuhi perasaan resah.  Bila disadari, inilah di antara dampak buruk terhadap diri sendiri dari perbuatan yang tidak jujur.

Bukan hanya sebatas itu, ketidakjujuran juga membentuk kebiasaan seseorang.  Akibatnya, hidup akan selalu dihiasi ketidakjujuran.  Mati pun berpeluang dalam keadaan berselimut dengan ketidakjujuran.  Hidup seperti ini, sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah, akan menggiring seseorang ke dalam neraka.

Kebohongan akan mendekatkan diri kepada kemunafikan, kemunafikan akan membawa kita kepada kesengsaraan, kesengsaraan membawa kita kepada kebodohan, kebodohan akan membawa kita kepada kekufuran, kekufuran membuat kita jaugh kepada Allah SWT, kalau kita sudah jauh dari Allah SWT maka Allahpun akan jauh pula dari hidup kita. Kalau sudah begini yangada adalah kesengsaraan dunia jelas apalagi di akhirat kelak.

Jika kita merenungkan, perilaku jujur sebenarnya mudah menuai berbagai keberkahan. Yang dimaksud keberkahan adalah tetap dan bertambahnya kebaikan

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan surat At Taubah ayat 119. Beliau mengatakan, “Berlaku jujurlah dan terus berpeganglah dengan sikap jujur. Bersungguh-sungguhlah kalian menjadi orang yang jujur. Jauhilah perilaku dusta yang dapat mengantarkan pada kebinasaan. Moga-moga kalian mendapati kelapangan dan jalan keluar atas perilaku jujur tersebut.”[5]

“Bukan gelar atau jabatan yang membuat orang menjadi mulia. Jika kualitas pribadi buruk, semua itu hanyalah topeng tanpa wajah”

Semoga dengan kejujuran yang tertanam pada diri manusia, apapun permasalahan hidup yang kita hadapi akan  terasa ringan. Baik kehidupan rumah tangga, bermasyrakat dan juga bernegara.

hayoo.. tanya diri kita masing-masing sudahkah kita berlaku jujur ?

bagaimana denganmu kawan ?

Ya Allah, mudahkanlah hamba-Mu untuk selalu memiliki akhlak yang mulia ini, selalu berlaku jujur dalam segala hal.

ya Allah, hanya kepadamulah kami memohon dan hanya kepadamulah kami memohon pertolongan,

semoga bermanfaat..

Jika orang lain takut tidak punya uang, maka orang yang dinaungi hidayah takut kalau ia tidak mempunyai rasa jujur, rasa syukur dan jiwa besar.

Iklan