bismillahirahmanirahim..

sahabatku semua yang dirahmati Allah. hidup mendekati zaman akhir, banyak orang beriman namun iman hanya sebatas dipemikiran, maka tak heran jika berita-berita di media setiap hari dipenuhi dengan pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, terorisme dan banyak lagi… kenapa bisa demikian? kan ngakunya beriman ? iman kita ditaruh dimana ?

sahabatku, kalau kita melakukan sesuatu Allah pasti melihat. Allah mengetahui semua apa yang di daratan maupun lautan. Tidak sebiji pun yang Allah luput dari penglihatannya, ingatlah kamu akan dosa besar. Sekecil apapun tindakanmu, Allah pasti mengetahui. Tetapi sebesar apapun dosa kita, pasti akan diampuni dosanya, ya kan ?

Kalau kata orang Arab, pukullah besi itu ketika sedang panas. semoga orang-orang semakin sadar akan kekeliruannya

عَنِ اْلأَغَرِّ بْنِ يَسَارٍ الْمُزَنِي قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَآايُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ.

Dari Agharr bin Yasar Al Muzani, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Hai sekalian manusia! Taubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampun kepadaNya, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali”[1]

sebuah kisah menarik yang patut kita teladani kandungannya…

Di kota Madinah, hidupaah seorang pemuda yang sangat tekun beribadah. Pemuda itu sempat membuat Umar bin Khattab terkagum-kagum kepadanya,

Suatu hari, ketika pemuda itu berjalan pulang kerumahnya setelah shalat Isya, tiba-tiba seorang perempuan menghadang di hadapannya.

Perempuan  itu menggoda dan merayu sipemuda serta menawarkan dirinya. Ternyata, sang pemuda termakan juga oleh godaan perempuan itu. Ketika perempuan itu pergi meninggalkan tempat itu, si pemuda membututi di belakangnya.

Sampai akhirnya mereka sampai di depan pintu rumah perempuan itu. Tiba-tiba timbulah perasaan malu di hati pemuda yang membututinya itu, ia ingat firman Allah SWT yang berbunyi :

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. ” (Al-A’raf : 201 )

Dan kemudian pemuda itu pingsan. Perempuan itu menjadi terkejut, karena melihat si pemuda tampak seperti orang yang sudah mati.Dengan dibantu seorang pelayannya, perempuan itu menggotong pemuda itu dan diantarkan pulang kerumahnya. Diletakkan tubuh pemuda itu di depan pintu rumah.

Betapa terkejut ayah pemuda itu ketika keluar dan mendapatkan anaknya tergeletak di depan pintu, ia segera mengangkat dan dibawanya masuk ke dalam.Setelah pemuda itu siuman, ayahnya bertanya kepadanya.

“Apa yang telah terjadi denganmu, anakku? “

Tetapi pemuda itu enggan menjawabnya, ia hanya diam saja. Setelah didesak beberapa kali, barulah ia mau bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi.

“Ayah, temuilah Umar bin Khattab, sampaikan salamku kepadanya dan tanyakan kepadanya, apakah balasan untuk orang yang takut saat menghadapi Tuhannya? ” kata pemuda itu .

Saat dia kembali membacakan ayat yang terl;intas dalam ingatannya, tiba-tiba pemuda itu menarik nafas panjang dan bersamaan dengan itu ruhnya meninggalkan badannya, dia telah meninggal.

Dan kemudian pesan pemuda itu disampaikan ayahnya kepada Umar Bin Khattab, lalu Umar pergi kepusaranya. Sambil berdiri dia berkata.

“Kau akan mendapatkan dua surga !”

Tiba-tiba Umar bin Khattab mendengar suara dalam pusara pemuda itu. ” Allah telah memberikan itu kepadaku, hai Umar. ‘”

subhanaAllah,

sahabatku yang dirahmati Allah.. Kesalahan dan dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia banyak sekali. Setiap hari, manusia pernah berbuat dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, baik dosa kepada Khaliq (Allah Maha Pencipta) maupun dosa kepada makhlukNya. Setiap anggota tubuh manusia pernah melakukan kesalahan dan dosa. Mata sering melihat yang haram, lidah sering bicara yang tidak benar, berdusta, melaknat, sumpah palsu, menuduh, membicarakan aib sesama muslim (ghibah), mencela, mengejek, menghina, mengadu-domba, memfitnah, dan lain-lain. Telinga sering mendengarkan lagu dan musik yang jelas bahwa hukumnya haram, tangan sering menyentuh perempuan yang bukan mahram, mengambil barang yang bukan miliknya (ghasab), mencuri, memukul, bahkan membunuh, atau melakukan kejahatan lainnya. Kaki pun sering melangkah ke tempat-tempat maksiat dan dosa-dosa lainnya. Dosa dan kesalahan akan berakibat keburukan dan kehinaan bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat, bila orang itu tidak segera bertaubat kepada Allah.

Setiap hari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon ampun kepada Allah sebanyak seratus kali. Bahkan dalam suatu hadits disebutkan, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta ampun kepada Allah seratus kali dalam satu majelisnya.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ، رَبِّ اغْفِرْلِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ الرَّحِيْمُ.

“Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,”Kami pernah menghitung di satu majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seratus kali beliau mengucapkan, ‘Ya Rabb-ku, ampunilah aku dan aku bertaubat kepadaMu, sesungguhnya Engkau Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang’

Ingatlah akan dosa yang pernah kita lakukan…
Semua itu akan memberikan pelajaran berharga untuk berbuat menjadi lebih baik di masa depan kita di dunia dan di akhirat kelak,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْباً ثُمَّ يَقُوْمُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّى ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ ثُمَّ قَرَأَ هَذَهِ الآيَةَ (وَالَّذِيْنَ إِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوْا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوْا اللهَ فَاسَتَغَفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ.

“Jika seorang hamba berbuat dosa kemudian ia pergi bersuci (berwudhu’), lalu ia shalat (dua raka’at), lalu ia mohon ampun kepada Allah (dari dosa tersebut), niscaya Allah akan ampunkan dosanya”.

Ibnul Qayyim al-Jauziah, mengatakan tak layak seorang hamba, menunda-nunda dalam melakukan taubat. Melakukan taubat dari dosa merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Tidak boleh ditunda. Apabila seseorang menundanya, melakukan penundaan berarti ia telah melakukan pelanggaran.

Tak ada satupun manusia yang akan tahu kapan saat datang kematian. Apabila saat datang kematian, tak dapat manusia menundanya. Betapapun manusia itu memiliki kekuasaan, harta kekayaan yang tak terhingga, atau hidup diantara istana-istana yang dikelilingi oleh para pengawal, tak dapat mencegah akan datangnya kematian.

Karena itu, manusia yang sombong tidak mau bertaubat, tergolong manusia yang menyekutukan Allah Azza Wa Jalla, dan menganggap dirinya benar, serta tidak melakukan kesalahan dalam hidup ini.

Nabi Sallahu Alaihi Wa Sallam, bersabda :

Kemusyrikan dikalangan umat ini lebih samar daripada rayapan (merayapnya) seekor semut”. Lalu Abuk Bakar bertanya, “Bagaimanakah cara menyelamatkan diri darinya, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah : Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari memperseku-kan-Mu dengan sesuatu yang akau ketahui, dan aku mohon kepada-Mu dari sesautu yang tidak akan ketahui”.

sahabatku yang aku sayangi karena Allah<<pernah kamu dengar cerita ini

Tsa’alabah, adalah salah seorang shahabat Rasulullah -sholallaahu’alaihi wasallam-.Suatu hari ia sedang berjalan di antara rumah-rumah. Dahulu rumah-rumah tersebut, tidak terbuat dari dinding yang tebal (tembok) seperti sekarang ini, tapi terbuat dari qoomis (saya rasa yang dimaksudkan disini adalah sejenis kain, atau sesuatu yang tipis yang bergerak ketika ada angin). Ia berjalan, dan bertiuplah angin. Tak disangka, angin tersebut, menyingkapkan kain yang menutupi sebuah rumah. Tsa’labah melihat ke arah rumah tersebut, dan tak sengaja melihat seorang wanita ( tentu saja yang dimaksud disini wanita non-mahrom)di dalamnya. Terkejut Tsa’labah….tiba-tiba dia merasa sangat berdosa, dia merasa…” sesungguhnya jika turun ayat tentang orang munaafikin, maka ayat itu ditujukan kepadaku, aku telah bermaksiat, aku telah bermaksiat…..”. Tsa’labah tidak berani menjumpai Rasulullah -sholallaahu’alaihi wasallam-. Dia merasa sangat berdosa sudah melihat wanita tersebut. Akhirnya ia pergi ke puncak gunung, beribadah, dan beristigfar.

Setelah sekian lama, para shahabat tersadar bahwa Tsa’labah tidak ada bersama mereka. Maka mulailah para shahabat mencari Tsa’labah. Tiba-tiba ada seseorang yang memberi tahu kepada mereka, orang tersebut berkata,” saya mendengar dari arah puncak gunung, ada seseorang yang sepanjang hari beristigfar, berdo’a dan pada malam hari terdengar isak tangis, memohon ampun kepada ALLAH, orang ini hanya turun sedikit dari puncak gunung untuk makan dan minum sekedarnya.” Maka berangkatlah para shahabat ke tempat tersebut dan menemukan Tsa’labah di sana. Para shahabat bertanya,” Apa yang kau lakukan disini?” lalu Tsa’labah menjawab, ” Aku telah bermaksiat, aku telah berdoa, aku telah berdosa.” Lalu para shahabat berkata, ” Ayo bertemu rasululullah”. Tsa’labah menjawab, ” Tidak, Rasulullah Thoohir (suci), sedangkan aku Naajis (kotor).” Akhirnya pulanglah para shahabat dan menceritakan tentang Tsa’labah pada Rasulullah- sholallaahu’alaihi wasallam-.

Kemudian di hari berikutnya, para shahabat mendatangi Tsa’labah lagi, mereka berkata, “Ayo bertemu Rasulullah.” Tsa’labah, “Tidak, aku tidak sanggup bertemu Rasulullah, Rasulullah Thoohir, sedangkan aku naajis.” Para Shahabat berkata, “Tapi Rasulullah yang menyuruhmu untuk bertemu dengannya.” Maka turunlah Tsa’labah dari gunung dan menemui Rasululah – sholallaahu’alaihi wasallam-. Di depan Rasulullah- sholallaahu’alaihi wasallam-, Tsa’labah menangis dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Rasulullah terdiam. Sedangkan Tsa’labah akhirnya pulang ke rumahnya. Di rumahnya, Tsa’labah terus beribadah, beristigfar, dia masih merasa sangat berdosa. Hal itu terus menerus ia lakukan sampai ia jatuh sakit. Ketika ia terbaring lemah dirumahnya, Rasulullah – sholallaahu’alaihi wasallam- datang menjenguknya. Rasulullah – sholallaahu’alaihi wasallam- hendak meletakkan kepala Tsa’labah di paha beliau, namun Tsa’labah menolak, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Engkau thoohir, pahamu pun thoohir, sedangkan aku naajis, dan kepalaku pun naajis.” Dan wafatlah Tsa’labah.

Pada hari pengantaran jenazah Tsa’labah, Rasulullah – sholallaahu’alaihi wasallam- ikut pula mengantarkannya. Namun ada sesuatu yang aneh! Rasulullah – sholallaahu’alaihi wasallam- berjalan dengan berjinjit, dan merapatkan kedua bahunya, seakan-akan sedang berjalan di kerumunan orang banyak, padat, dan tidak ada ruang untuk berjalan normal (seperti seseorang sedang thawaf di Baitullah pada musim haji, terj.). Lalu para shahabat yang melihat hal tersebut bertanya,”Wahai Rasulullah, mengapa engkau berjalan seperti itu?” Rasulullaah -sholallaahu’alaihi wasallam- menjawab, ” Saya berjalan seperti ini, karena saking banyaknya Malaikat yang ingin ikut mengantarkan jenazah Tsa’labah.”

Allaahu Akbar!!!

Hmm…mu’allimah kami kembali berkata, “Itulah bedanya kita dengan mereka (para salaf)…mereka melihat sebuah dosa itu BESAR, sedangkan kita tidak…”

sahabatku yang baik hatinya, nabi Muhammad saw manusia termulia yang dijamin Allah masuk syurga tiap hari saja mohon ampun kepada Allah istiqfar 1000 x, kenapa kita orang biasa yang selalu bergelut akan dosa-dosa tidak mau berubah kemudian bertobat?

sungguh betapa sombongnya orang yang seperti itu ..!!

Dalam hadhistnya Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam, bersabda :

Ya Allah, ampunilah kesalahanku dan kebodohanku, dari berlebih-lebihanku dalam urusanku, dan apa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah keseriusanku dan permainanku, kekhilafanku, dan kesengajaanku, semua itu ada padaku. Ya Allah, ampunilahy apa yang telah aku lakukan dan apa yang aku tunda, apa yang aku sembunyikan, dan apa yang aku lakukan dengan terang-terangan, dan apa saja yang Engkau lebih mengetahui daripada aku. Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau”.

Begitulah rintihan do’a yang disampaikan oleh Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salam, tanpa henti, dan terus bermunajat serta memohon ampun dan bertaubat.
Dalam hadist yang lain, disebutkan :

Ya Allah, amunilah dosaku semuanya, yang kecil dan yang besar, yang tidak sengaja dan yang sengaja, yang sembunyi-sembunyi dan yang terang-terangan, yang pertama dan yang terakhir”.

bagaimana denganmu sahabatku ? mau kan bertaubat akan dosa-dosa yang telah kita lakukan?

 “Ya Allah kami kecil di mata-Mu. Kami tidak ada apa-apanya, tetapi kami tidak pernah luput dari dosa. Ya Allah, maafkanlah dosa kami. hanya kepadamu tempat kami memohon ampunan, dan hanya kepadamu tempat kami berserah diri ”

ayo perbaiki diri, perbaiki hati dan raih kehidupan penuh imani, semoga ridho Allah selalu menemani !!

semoga bermanfaat.

Iklan