Bismillahirahmanirrahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, korupsi dan korupsi ea,, kata-kata ini tak pernah lepas dari layar televisi kita, Mengapa harus korupsi?kalimat ini menjadi kata kunci bagi mereka untuk membatalkan niatnya melakukan korupsi, meskipun kesempatan melakukannya sangat terbuka luas, mengingat betapa besar kerugian yang pasti terjadi, baik kepada Bangsa dan Negara, termasuk diri dan keluarga sendiri.

korupsi selalu dikaitkan dengan rejeki dan materi, saya percaya bahwa rezeki adalah sebuah rahasia Allah, Tak ubahnya jodoh dan kematian merupakan sebuah rahasia Allah. Tapi, saya tidak yakin jika ini berarti rezeki dari ALLAH tersebut akan datang dengan sendirinya? manusia masih diberi andil untuk turut campur guna memperoleh rezeki tersebut  Hal ini dapat dilakukan dengan bekerja keras, sungguh-sungguh dan tidak lupa selalu berdoa kepada Allah agar mencurahkan rezeki-Nya.

kenapa ada korupsi ? karena kurang bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, kenapa kurang bersyukur karena rakus akan duniawi dan materi…. hayo siapa yang RAKUS  siapa yang kurang bersyukur?

Ketika ALLAH mengetahui bahwa kamu mudah bosan melakukan ibadah, maka ALLAH membuat bermacam2 ibadah. Ketika ALLAH tahu bahwa kamu bersifat rakus, maka ALLAH melarang melakukan ibadah(sholat) pada waktu tertentu.

Agar semangatmu tertuju pada mendirikan sholat, bukan pada adanya sholat, sebab tidak setiap orang yang melakukan sholat termasuk yang mendirikan sholat,

kiranya kisah dibawah ini, menjadikan kita untuk tidak rakus akan harta dan materi sehingga perbuatan korupsi pun dapat dihindarkan… bacalah sambil menyelami makna didalamnya…

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia.

Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir.

Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking.

Anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking.

Anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut.

Tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi.

Dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian.

Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan.

Tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya.

Perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

sahabatku yang baik hatinya…

Karena sifat bosan dan rakus adalah dua macam bahaya besar yg dapat memutuskan seorang manusia dari melakukan amal ibadah, yg membuatnya bosan adalah terus menerus pada satu macam ibadah, dirinya menjadi bosan dan merasa berat utk melakukan ibadah tersebut. Dan APABILA melakukan amal ibadah yg bermacam2, maka dpt memudahkan dan meringankan kita untuk melaksanakan amal ibadah meskipun berganti-ganti .

Dan yg membuatnya rakus ketika suatu amal ibadah dapat dilakukan disemua waktu, akan tetapi suatu amal ibadah itu memiliki waktu tertentu dan tidak bisa dilakukan disembarang waktu, meskipun dia rakus bersikeras untuk melakukan amal tesebut disemua waktu. Dan ketika adanya sifat rakus ini dapat menimbulkan melakukan amal ibadah yg tidak sempurna dan ceroboh.

Diantaranya seperti ketika rakus terus menerus membaca al Qur’an dan waktu membacanya tidak diatur, maka kita tidak akan menghayati artinya, hatinya tidak khusyu dan tidak hadir bersama TUHANnya ketika disaat membaca Al-Quran. Dengan demikian membaca Al Qur’an pun ada waktu-waktu tertentu yg ditekankan (kitab syarhul hikam syekh Abdullah asy-syarqowi hal.90 cet. Toha Putera Semarang hal. 90)

sahabatku yang dimulyakan Allah.

heran melihat kondisi politik yang sekarang berlangsung dinegara kita, Pada hari ini, kaum muslimin berlomba-lomba dan haus kekuasaan untuk mendapatkan jabatan dan menjadi pemimpin. Padahal para salaf terdahulu menjauhi dan menghindarinya.

Segala cara mereka tempuh, tanpa peduli lagi dengan halal tidaknya. Maka nampaklah gambar-gambar mereka terpampang di setiap sudut jalan dengan kata-kata yang menggoda berharap agar mereka dipilih oleh masyarakat. Mulai dari orang kaya sampai guru ngaji; yang tua maupun yang muda, semua berebut kursi jabatan. Sungguh sial para pengemis kekuasaan tersebut; mereka telah menghamburkan harta dimana-mana demi meraih kekuasaan. Andaikan harta yang mereka hamburkan dalam pesta demokrasi itu mau dikumpulkan, lalu disedekahkan di jalan Allah, niscaya banyak orang yang akan merasakan manfaatnya. Tapi demikianlah setan menghiasi kehidupan dunia ini dengan segala macam tipuannya untuk membinasakan manusia, dan membuat mereka rugi di dunia.

inilah salah satu rakus akan kekuasaan dengan bermodalkan yang besar untuk menggapainya, kemudian setelah ia terpilih maka jalan pintas yang bisa diambil adalah berbuat curang(korupsi) agar apa yang telah ia keluarkan semasa kampanye bisa kembali lagi bahkan lebih banyak ?

hayooo siapa yang demikian ? gak perlu menyebut nama, partai dan sebagainya… kita lihat saja, kita lihat BALASAN Allah yang akan segera menimpanya, maka dari itu segera bertobat seraya memohon ampunan kepada Allah…

sahabatku yang terhebat.

Di mana-mana bisa saja ditemukan kerusakan, kekacauan ekonomi, berupa korupsi, kolusi, nepotisme, Malangnya saat ini banyak manusia yang memiliki sifat unik, sifat unik bagaimana itu…. mereka bekerja keras, berdoa, tapi mereka juga korupsi, sebagian harta hasil korupsi itu disisihkan untuk berzakat, membangun tempat-tempat ibadah. Pencari rezeki yang rakus seperti ini semestinya memang ditindak tegas. Sebab jika tidak, ia akan menginfeksi lebih parah. Rakus menyebabkan orang bersifat egois, mementingkan diri sendiri, dan bahkan pelit dan kikir. Biasanya, si  rakus tak pernah peduli pada derita orang lain. Rakus juga membuat orang menjadi berpikir serba jangka pendek, tak bervisi ke masa depan.

Perusahaan yang rakus akan mengeksplorasi semua tenaga kerja yang ada tanpa memperdulikan kepentingan individu pekerjanya, juga mengeksplorasi sumber daya alam yang ada semata demi profit tanpa berpikir kelestarian bumi dan generasi selanjutnya. Pejabat negara yang rakus akan membuat kebijakan publik yang picik, serba instan, juga tanpa memihak pada rakyat. Maka negeri yang dipenuhi orang rakus, tak peduli betapa pun kayanya, akan menjadi melarat pelan-pelan, terlilit hutang, generasi demi generasi.

pertanyaan saya kenapa sekarang orang berlomba-lomba ingin menjadi pemimpin?

Seorang yang mau menjadi pemimpin dan penguasa, harus mengetahui betul bahwa kekuasaan adalah amanah yang amat berat dipundak, dan tanggung jawab yang amat besar di sisi Allah, sebab ia harus menunaikan hak orang banyak, dan berbuat adil kepada mereka sebagaimana halnya mereka ingin agar rakyat menunaikan tugasnya di hadapan dirinya. Sungguh tugas ini amat berat digenggam, dan amat berbahaya. Tak heran jika Panutan kita, Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengingatkan kita tentang bahayanya kekuasaan, dan orang yang memintanya.

Abu Musa Al-Asy’ariy-radhiyallahu ‘anhu- berkata,

دَخَلْتُ عَلَى النَّبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلاَنِ مِنْ بَنِيْ عَمِّيْ, فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَمِّرْنَا عَلَى بَعْضِ مَا وَلاَّكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ, وَقَالَ الآخَرُ مِثْلَ ذَلِكَ, فَقَالَ: إِنَّا,وَاللهِ ! لاَ نُوَلِّيْ عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلاَ أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ

“Aku pernah masuk menemui Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersama dua orang sepupuku. Seorang diantara mereka berkata, “Wahai Rasulullah, jadikanlah kami pemimpin dalam perkara yang Allah -Azza wa Jalla- berikan kepadamu. Orang kedua juga berkata demikian. Maka beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada orang yang memintanya, dan tidak pula orang yang rakus kepadanya”. [HR. Al-Bukhoriy (7149), dan Muslim (1733)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

لَنْ أَوْ لاَ نَسْتَعْمِلُ عَلَى عَمَلِنَا مَنْ أَرَادَهُ

“Kami tak akan mempekerjakan dalam urusan kami orang yang menginginkannya”. [HR. Al-Bukhoriy (2261, 6923, & 7156), dan Muslim (1733)]

Seorang yang meminta kekuasaan dan rakus terhadapnya akan mengalami penyesalan, sebab ia bukan ahlinya. Kekuasaan menjadi sebuah kenikmatan sementara, sedang kesusahan dan tanggung jawab akan menanti di Padang Mahsyar.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ عَلَى اْلإِمَارَةِ وَسَتَكُوْنُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ, فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ

“Sesungguhnya kalian kelak akan rakus terhadap kekuasaan, dan kekuasan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Kekuasaan adalah sebaik-baik penetek(yakni, awalnya penuh kelezatan dan kenikmatan, pent.), dan sejelek-jelek penyapih (yakni, di akhirnya, saat terjadi kudeta, dan pertanggungjawaban di hari akhir, pent.)”. [HR. Al-Bukhoriy (6729), dan An-Nasa’iy (4211 & 5385)]

Seorang ulama’ tabi’in, Al-Ahnaf bin Qois Al-Bashriy -rahimahullah- berkata, “Umar bin Khattab pernah mengatakan kepada kami, “Pelajarilah ilmu agama sebelum kalian memegang kekuasaan”. Sufyan berkomentar, “Karena seseorang yang telah mengetahui ilmu agama, ia tidak akan berhasrat lagi mengejar kekuasaan.” [Lihat Shifatush shafwah (2/236)]

Yazib bin Al-Muhallab ketika diangkat sebagai gubernur Khurasan, ia membuat pernyataan, “Beritahukanlah kepadaku tentang seorang laki-laki yang memiliki kepribadian yang luhur lagi sempurna”. Beliau lalu dikenalkan kepada Abu Burdah Al-Asy’ariy. Ketika Sang Gubernur menemui Abu Burdah, ia mendapatinya sebagai seorang lelaki yang memiliki keistimewaan. Ketika Abu Burdah berbicara, ternyata apa yang ia dengar dari ucapannya lebih baik dari apa yang ia lihat dari penampilannya. Sang Gubernur lantas berkata, “Aku akan menugaskanmu untuk urusan ini dan ini, yang termasuk dalam kekuasaanku”. Abu Burdah meminta maaf karena tidak bisa menerimanya. Namun Sang Gubernur tidak menerima alasannya. Akhirnya Abu Bardah pun berkata, “Wahai Gubernur, sudikan anda mendengarkan apa yang disampaikan oleh ayahku? Bahwa ia pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda”. Gubernur berkata, “Sampaikanlah”. Abu Bardah berkata, “Sesungguhnya Ayahku (Abu Musa Al-‘Asy’ariy) telah mendengar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

“Barang siapa yang ditugaskan untuk memikul suatu pekerjaan yang dia tahu bahwa dirinya bukanlah orang yang ahli atau pantas dalam pekerjaan tersebut, bersiap-siaplah ia masuk ke dalam neraka”.

Aku bersaksi wahai Gubernur, “Bahwa aku bukanlah orang yang ahli atau pantas dalam urusan yang anda tawarkan”. Sang Gubernur justru berkata, “Dengan ucapanmu itu, kamu justru membuat kami makin berhasrat dan senang menaruh kepercayaan kepadamu. Laksanakanlah dengan segala tugas-tugasmu. Kami tidak bisa menerima alasanmu”. Maka lelaki itu pun menjalankan tugasnya di antara mereka selama beberapa waktu. Lalu ia meminta ijin untuk dapat menemui Gubernur, dan ia diijinkan. Lalu ia berkata, “Wahai Gubernur, sudikan anda mendengarkan apa yang disampaikan ayahku kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “terlaknatlah orang yang meminta atas nama Allah. Terlaknatlah orang yang diminta atas nama Allah, lalu tidak mengabulkan permintaan si peminta, selama ia (si peminta) tidak meminta perkara yang memutuskan persaudaraan”.

Sekarang aku minta atas nama Allah untuk tidak menjalankan tugas lagi, dan memaafkan saya atas pekerjaan yang telah saya lakukan.” Maka sang Gubernur pun menerima alasannya. [Lihat Siyar Al-A’lam An-Nubala’ (4/345)]

sahabatku yang baik hatinya…..

pada zaman rosulullah saw dan zaman para sahabat, orang-orang pada takut jika diminta menjadi pemimpin, kenapa orang di zaman sekarang berlomba-lomba memperebutkannya ?

orang-orang di akhir zaman ini, mereka berlomba-lomba meminta kekuasaan dengan berbagai macam dalih, seperti “Demi Islam”. Padahal semuanya demi kursi!! Islam tak butuh kepada perjuangan yang jauh dari petunjuk Islam.

ya DEMI KURSI, kekuasaan….. dan ujung-ujungnya KORUPSI……

Untuk menemukan penyebab korupsi, maka saya ingin menggunakan konsepsi Alfred Schutz (The Phenomenology of The Social World) tentang BECAUSE MOTIVE atau disebut sebagai motif penyebab. Di dalam konsepsi ini, maka dapat dinyatakan bahwa tindakan manusia ditentukan oleh ada atau tidaknya faktor penyebabnya. Maka seseorang melakukan korupsi juga disebabkan oleh beberapa faktor penyebab. Faktor penyebab itulah yang disebut sebagai motif eksternal penyebab tindakan.

Manusia dewasa ini sedang hidup di tengah kehidupan material yang sangat mengedepan. Dunia kapitalistik memang ditandai salah satunya ialah akumulasi modal atau kepemilikan yang semakin banyak. Semakin banyak modal atau akumulasi modal maka semakin dianggap sebagai orang yang kaya atau orang yang berhasil. (nah, inilaah pemicu orang ingin menjadi kaya secara cepat dan akhirnya korupsi jalan yang dipilihnya….) Maka ukuran orang disebut sebagai kaya atau berhasil adalah ketika yang bersangkutan memiliki sejumlah kekayaan yang kelihatan di dalam kehidupan sehari-hari. Ada outward appearance yang tampak di dalam kehidupan sehari-harinya. Cobalah kalau kita berjalan di daerah-daerah yang tergolong daerah komunitas kaya, maka hal itu cukup dilihat dengan seberapa besar rumahnya, di daerah mana rumah tersebut, dan apa saja yang ada di dalam rumah tersebut. Di surabaya misal, maka dengan mudah dapat diketahui bahwa ada perumahan yang tergolong sebagai perumahan ”elit”. Datanglah di perumahan Darma Husada Indah, maka akan terpampang bagaimana rumah kaum elit di negeri ini. Dan inilah gambaran kesuksesan atau keberhasilan kehidupan.

Di tengah kehidupan yang semakin sekular, maka ukurannya adalah seberapa besar seseorang bisa mengakses kekayaan. Semakin kaya, maka semakin berhasil. Maka ketika seseorang menempati suatu ruang untuk bisa mengakses kekayaan, maka seseorang akan melakukannya secara maksimal. Di dunia ini, maka banyak orang yang mudah tergoda dengan kekayaan. Karena persepsi tentang kekayaan sebagai ukuran keberhasilan seseorang, maka seseorang akan mengejar kekayaan itu tanpa memperhitungkan bagaimana kekayaan tersebut diperoleh.

Secara hitam-putih, kita bisa berkesimpulan: Karena nafsu yang selalu membuat kita tergiur melakukannya.

Sebetulnya,kalau dilihat lebih teliti lagi, ada tiga elemen penting yang menjadi penyebab korupsi adalah

Pertama, karena pondasi wawasan tentang halal-haram yang tidak memadai.

Kedua, karena ketidak-seriusan kita menempatkannya pada prioritas utama. Bila kita menempatkannya sebagai  prioritas utama, niscaya segala sesuatunya akan ditimbang dengan pertimbangan itu.

Ketiga, budaya mengabaikan pertimbangan halal-haram sudah sangat jamak terjadi di habitat hidup kita.

Yang acap kali saya rasakan, elemen yang kedua inilah yang sering kita alami.  Adanya prioritas untuk hidup berkecukupan, yang sesuai dengan target yang kita inginkan, membuat kita sering melabrak rambu-rambu haram. Biaya pendidikan yang kian hari kian membengkak, tuntutan gaya hidup yang harus sesuai dengan tetangga, dan naluri diri untuk lebih menonjol dengan yang lainnya, memicu kita untuk mengejar apa pun yang bisa menghasilkan. Ditambah lagi watak nafsu yang selalu merasa tidak puas dan selalu ingin serba lebih.

Padahal seruan kaum rajanya konglomerat Qarun kepada Qarun yang berseru : “Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Dan carilah pada apa yang telah dianugerhkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupapan bahagianmu dari (Kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang berbuat kerusakan (QS 28:76-77).

“orang pintar belum tentu bijak, namun orang bijak merupakan orang yang pintar dan orang yang bijaksana takut pada Tuhan”

dan saya yakini orang yang korupsi itu cerdas-cerdas otaknya, tapi apakah mereka takut kepada tuhannya, ALLAH !!! jawabnya tentu tidak, kan mereka sudah merasa hebat “

apakah mereka para koruptor tidak punya malu ? jelas… tidak..

kan hanya orang gila saja yang tidak punya rasa malu, ya gak kawan?

apakah engkau sedemikian itu sahabatku ? ada yang mau jawab ?…….semoga tidak…

sadarlah wahai para koruptor….

kau telah merusak citra bangsa ini….

kau telah menyengsarakan rakyat negeri ini…

apakah kau tak sadar,,,,tak sadar???

sadar sadar dan sadarlah wahai para koruptor…

demi bangsa kita…

demi kemakmuran negeri kita….

demi indonesia tercinta…

semoga bermanfaat..

Iklan