awas bahaya wahabibismillahirahmanirahim.

sahabatku semua yang dirahmati Allah, saya sebenarnya sedih melihat kenyatan banyak sahabat-sahabat saya yang ternyata terjangkiti pemikiran paham wahabi yang mengaku ahlusunnah waljamaah, namun sebenaranya menjauh dari ajaran ahlussunnah waljamaah, saya cinta kepada mereka, mereka adalah saudara se-iman, se-muslim, se-islam, namun fitnah wahabi telah merasuki hati mereka, sehingga susah sekali menerima kebenaran-kebenaran yang dikemukakan mayoritas ulama.

sahabatku, saya tak membeci mereka, yang saya benci adalah pemikiraan mereka, yg jelas tugas kita kini adalah menjernihkan keadaan dari kerusakan akidah yg berkedok “pemurnian akidah” yg dilakukan oleh mereka yg dikenal dg faham wahabi ini, pada dasarnya niat mereka ini mulia, termasuk banyaknya saudara2 kita di indonesia yg berbuat demikian, namun karena kurangnya pemahaman dalam syariah maka justru mereka terperosok dalam perangkap yang tidak baik, sehingga gemar sekali menuduh bid’ah sesat, bahkan sampai mengkafirkan sesama muslim.. ! astagfirullah,

untuk itulah artikel sejarah wahabi ini dimuat.
siapakah wahabi itu ?
apakah mereka golongan yang selamat ?

kenapa mereka sering menuduh bid’ah sesat ?

so, mari kita kupas, semoga Allah membuka mata hati kita yang selama ini gelap akan gemerlapnya dunia.

berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain. Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M).

Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah.

Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan.

bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama’ besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah.<

Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’dham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri. sungguh sombongnya mereka, ya gak kawan ? 

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?? Dengan segera dia menjawab, “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan” Lelaki itu bertanya lagi “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim. Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.

Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama? besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh.

Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata :  “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali”.

Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya.

Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang.

Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Utsmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut.

Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.<

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan.

Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.

Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.

Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.

“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.

Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).

Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). 

Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid’ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid’ah? Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud.<

Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban

Nabi SAW pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.”, Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.

Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala’udz Dzolam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW: “Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin”. Al-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab.
 

Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang ulama’ mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: “Ba daa halaakul khobiits” (Telah nyata kebinasaan Orang yang Keji) (Masun Said Alwy)

Diambil dari rubrik Bayan, majalah bulanan Cahaya Nabawiy No. 33 Th. III Sya’ban 1426 H / September 2005 M

nah sahabatku semakin jelas bukan sepak terjang bahaya kaum wahabi bagi islam.

ada tanya jawab antara wahabi dengan aswaja mengenai “salaman” sehabis sholat.

Slf : ”Akhi, salaman setelah salam sholat itu bid’ah, tidak pernah dicontohkan Rasulullah”
Asw : ”Tidak pernah dicontohkan atau tidak rutin dicontohkan? Kalau dicontohkan pernah oleh sahabat yang menyalami tangan Rasulullah selesai sholat dan Rasul tidak menolak.”
Slf: ”Ya sama saja, tidak dicontohkan rutin, berarti tidak ada syariatnya”
Asw: ”Rasul tidak mencontohkan karena tidak ingin membuat hal itu wajib bagi ummatnya, tapi kalau dilakukan juga tidak apa-apa, kan Rasulullah juga tidak pernah melarang, adakah hadits larangannya?”
Slf : ”Ada, setiap bid’ah adalah dholalah, dan salaman itu bid’ah menciptakan syariat baru.”
Asw: ”Akhi, tahukah antum syariat dan rukun sholat?”
Slf: ”Tahu, dimulai niat takbiratul ihram dan diakhiri salam”
Asw: ”Iya kan, itu yang tidak boleh ditambah-tambahkan didalamnya kecuali dicontohkan Rasulullah. Sedangkan setelah salam kita sudah bisa hablum minannas kembali, bergaul dengan manusia dengan akhlak sebaik-baiknya, bukankah begitu?”
Slf: ”Betul”
Asw: ”Sekarang mari kita lihat sabda Rasulullah ’Barangsiapa setelah mengucap salam saudaranya lalu menjabat tangannya, maka gugurlah dosa-dosanya’, antum tahu hadits ini?
Slf: ”Tahu.”
Asw: ”Bukankah lebih baik, setelah antum sholat menghadap ilahi Rabbi, dan setelahnya antum mendapatkan keguguran dosa lantaran bersalaman dengan saudara antum?”
Slf: ”Kok bisa?”
Asw: ”Hadits salam itu bersifat umum, kapan saja dan dimana saja, tidak ada batasan. Salam juga sebagai penutup sholat, kita memberikan salam terbaik kita kepada saudara kita. Setelah syariat itu selesai disambung dengan kesunnahan hadits Rasulullah tadi, menyambung salaman untuk menggugurkan dosa kita. Lebih afdhol dilakukan setelah kita sholat.”
Slf: ”Tapi itu kan jadinya menganggap hal yang wajib?”
Asw: ”Siapa yang menganggap wajib? Antum harus bisa membedakan yang afdhol dan wajib. Antum boleh tanya ke setiap orang yang bersalaman, apakah mereka menganggapnya wajib? Apakah mereka merasa berdosa jika hal itu tidak dilakukan?”
Slf: ”Kan kalau rutin jadi menciptakan syariat baru?”
Asw: ”Siapa yang menciptakan syariat? Syariat itu datangnya dari Allah dan Rasul-Nya. Sekarang ana mau tanya, kenapa antum setiap selesai sholat mundur ke belakang? Kan tidak ada contohnya.”
Slf: ”Ana menghindar supaya tidak salaman, dan tidak melakukan bid’ah.”
Asw: ”Antum sendiri telah melakukan bid’ah, dengan setiap sehabis sholat mundur ke belakang. Apakah antum juga menuduh kawan-kawan kita yang setiap habis sholat langsung membujur tidur, apakah mereka tidak menciptakan syariat baru dengan tidur? Renungkanlah akhi apa arti ’menciptakan syariat’. Antum setiap hari rutin datang ke kantor setiap jam 8, apakah itu tidak menciptakan syariat baru?”
Slf: ”Tapi itu kan bukan masalah ibadah..”
Asw: ”Kan tadi sudah kita jelaskan, bahwa syariat ibadah sholat sudah ditutup dengan salam, selebihnya adalah bab mua’amalah, bergaul dengan manusia dan amal sholeh kita.”
Slf: ”Tapi menurut ana itu tetap bid’ah apalagi dilakukan rutin.”
Asw: ”Itu terserah antum, tidak ada yang melarang berpendapat demikian. Nabi bersabda, perbuatan ringan yang disukai oleh Allah adalah perbuatan kecil yang dilakukan rutin, terus menerus dan istiqomah. Nabi juga bersabda, kalau tidak salah, yang baik agamanya adalah yang baik dengan tetangganya, bukankah saudara antum disamping kanan-kiri sholat itu juga tetangga?”
Slf: ”hemmm”. ( bengong)

sahabatku yang aku cintai karena Allah. mau lanjut tidak ? lanjut dah..

pertanyaan-pertanyaan yang diambil di forum majelis rasulullah, habib munzir almusyawa yang menjawab.

tanya ; apa perbedaan wahabi dengan ahlussunah waljamaah ?

jawab habieb munzir ; banyak hal yg sangat mencolok antara kita (aswaja) dg saudara saudara kita yg berakidah wahabi tsb, yg paling mencolok adalah mereka selalu memusyrikkan muslimin, yg berziarah, yg bertawassul, yg mencintai dan memuliakan Nabi saw, itulah yg menyolok. dan menuduh Maulid adalah Bid’ah dhalalah, dan hal hal yg semacamnya.

tanya ; kenapa wahabi sering melarang ibadah dalam penentuan waktu tertentu?

jawab habieb munzir ; segala hal yg tidak ada sandaran dalil nya dalam penentuan waktunya, maka boleh boleh saja ditentukan waktunya kapan saja, misalnya mengaji alqur’an, anda sempatnya berkumpul dg jamaah adalah setiap senin, maka boleh boleh saja ditentukan setiap senin. atau majelis taklim misalnya, ditentukan setiap kamis misalnya, boleh boleh saja,

yg dilarang adalah merubah hal yg telah ditentukan oleh Rasul saw, misalnya merubah waktu shalat witir menjadi siang hari, atau merubah waktu shalat dhuha menjadi malam hari, hal semacam ini merupakan Bid’ah dhalalah.

selain itu dari hal2 ibadah lainnya yg tak ada ketentuan dari Rasul saw mengenai waktu pelaksanaannya maka boleh boleh saja dilakukan menurut keluasan waktu kita,

tak ada pelarangan hal ini dari Rasul saw, tidak pula sahabat melarangnya, tak pula para Tabi’in dan Muhadditsin,

pelarangan hanya muncul pada mazhab sempalan abad ke 20 yg melarang apa apa yg tidak dilarang oleh Rasul saw..

Nah… justru pelarangan itulah yg bid’ah, karena tidak pernah dilarang oleh Rasul saw.

mengenai sanggahan ini siapa yang benar ?

tanya : Mengenai asal-usul Wahhabi ini, Syaikh Ahmad Dahlan mengemukakan bahwa Wahhabi ini didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab yang berteman dengan Mr. Hempher, ini dapat dilihat juga dalam Iseng Dalam Kemulyaan dengan judul SEJARAH WAHHABI. Namun berbeda dengan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Sayyid Asy-Syaikh Muhammad Al-Malikiy mengemukakan bahwa pendirinya adalah murid Muhammad bin Abdul Wahhab yang menyimpang.Muhammad bin Abdul Wahhab telah menulis suatu risalah yang dalam risalah tersebut dia menulis, “Telah sampai kepadaku bahwa risalah Sulaiman din Suhaim telah sampai kepada kalian dan sebagian kalian telah menerima dan membenarkannya. Allah Mengetahui bahwa orang itu telah berbohong kepadaku. Sebagian dari hal-hal tsb adalah ucapannya bahwasanya aku membatalkan kitab-kitab madzhab yang empat, dan bahwasanya aku berkata bahwa sesungguhnya manusia sejak 600 tahun yg lalu tidak mengetahui apa-apa, atau aku mengaku ijtihad, keluar dari taqlid, atau aku mengatakan bahaw sesungguhnya perselisihan para ulama adalah malapetaka, atau aku mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dengan orang-orang shalih, atau aku mengkafirkan Al-Bushiri (pengarang Qashidah Burdah) karena ucapannya: ‘Wahai makhluq yang paling mulya’, atau aku berkata bahwa sekiranya aku mampu menghancurkan kubah Rasulullah saaw, niscaya aku hancurkan dan sekiranya aku mampu merubah Ka’bah, niscaya aku mengambil talangnya dan aku ganti dengan talang dari kayu, atau aku mengharamkan ziarah ke makam Rasulullah saaw, atau aku mengharamkan ziarah ke makam kedua orangtua dan makam yang lain… Maka jawabanku atas semua permasalahan ini adalah, ‘Subhanaka, Hadza Buhtanun ‘Azhim’ (Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar)”

jawab habieb munzir : perbedaan pendapat tentang ucapan Ibn Abdul wahhab yg mengingkari dirinya berbuat demikian, dan murid muridnya lah yg berbuat demikian, namun murid muridnya itu darimana pula mendapat ilmu yg seperti itu hingga menisbatkan Muhammad bin Abdulwahab sebagai imam pemahaman yg seperti itu. pendapat lain menuntut Ibn Abdulwahab sebagai pencetus pemahaman itu, demikian dikatakan para Ulama dan Fuqaha Makkah pd akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19 yg menyingkir dari haramain sbb keberadaan madzhab Ibn Abdulwahhab ini.

Begitulah, bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab ternyata berkilah tidak mengajarkan ajaran seperti ajaran yang dibawa oleh orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Wahhabi ataupun Salafiyun. Lalu dari manakah Wahhabi dan Salafy mengambil ajaran yang menyatakan bahwa tawassul dengan Nabi dan orang-orang shalih itu bid’ah, merayakan maulid itu bid’ah, mengirim pahala bagi mayyit itu bid’ah? Bukankah semua hal itu telah dicontohkan oleh Rasulullah saaw dan para shahabat yang mulya? Lalu bagaimana hal-hal tersebut bisa dikatakan bid’ah? Justeru ajaran Wahhabi dan Salafy itulah yang perlu dipertanyakan. Dari mana mereka bisa dikatakan sebagai oran yang ittiba’ kepada Rasul, sedangkan sebagian sunnah-sunnah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam saja mereka ingkari? Bukankah tawassul dengan Nabi dan orang-orang shalih itu adalah sunnah Rasul? Bukankah mengirim pahala bagi mayyit itu adalah ajaran Rasul? Bukankah Rasul sendiri telah berpuasa pada hari Senin untuk merayakan hari lahir beliau? Sungguh, perkataan mereka adalah perkataan dusta yang sangat besar.

tanya : kilah wahabi “kebaikan harus diliat dari kacama dalil, bukan perasaan “?

jawab habieb munzir ;

semua hal yg baik telah diperintahkan oleh Allah swt, dan semua hal yg buruk sudah dilarang oleh Allah swt.
Berkata Imam Ibn Rajab dalam kitabnya Jami’ul Uluum walhikam bahwa kumpulan seluruh kalimat yg dikhususkan pada nabi saw ada dua macam, yg pertama adalah Alqur’an sebagaimana firman Nya swt : “Sungguh Allah telah memerintahkan berbuat adil dan kebaikan, dan menyambung hubungan dg kaum kerabat, dan melarang kepada keburukan dan kemungkaran dan kejahatan” (QS Annahl 90) berkata Alhasan bahwa ayat ini tidak menyisakan satu kebaikanpun kecuali sudah diperintahkan melakukannya, dan tiada suatu keburukan pun kecuali sudah dilarang melakukannya.
Maka yg kedua adalah hadits beliau saw yg tersebar dalam semua riwayat yg teriwayatkan dari beliau saw. (Tuhfatul Ahwadziy Juz 5 hal 135)

jelas sudah semua hal yg baik telah diperintah oleh Allah, semua hal yg buruk sudah dilarang oleh Allah swt, apakah sudah ada dimasa nabi saw atau belum ada dimasa Nabi saw.

berbeda dg hal hal yg fardhu, maka hal itu tidak bisa ditambahkan karena merupakan hal yg baku, penambahan fardhu shalat bukan hal yg baik, karena jika itu baik sudah dicontohkan oleh Rasul saw.
sebagaimana kalangan baru masa kini memberlakukan zakat profesi, dibayar setiap bulannya tanpa nishab dan haul, hal itu adalah Bid’ah munkarah dhalalah, karena zakat telah jelas dimasa Nabi saw, tidak bisa diubah atau ditambah, kita bisa menerima jika dinamakan Sedekah profesi, maka hal itu boleh saja, namun ZAKAT, tidak bisa ditambah dan diubah dg alasan apapu

sahabatku semua yang dirahmati Allah, banyak sekali keanehan wahabi yang harus kita sikapi dengan cermat.

sebagai penutup dari diskusi ini. saya tampilkan cerita seru (humor yang berbobot )

Obrolan Sarjana Kuburan (SARKUB) dg Wahabi Cingkrang (WC) di Warkop Mbah Lalar

WC: “Maulid dan tahlilan itu haram, dilarang di dalam agama.”

SARKUB : “Yang dilarang itu bid’ah, bukan Maulid atau tahlilan, bung!
WC : “Maulid dan tahlilan tidak ada dalilnya.”
SARKUB : “Makanya jangan cari dalil sendiri, nggak bakal ketemu. Tanya dong sama guru, dan baca kitab ulama, pasti ketemu dalilnya.”
WC : “Maulid dan tahlilan tidak diperintah di dalam agama.”
SARKUB : “Maulid dan tahlilan tidak dilarang di dalam agama.”
WC : “Tidak boleh memuji Nabi Saw. secara berlebihan.”
SARKUB : “Hebat betul anda, sebab anda tahu batasnya dan tahu letak berlebihannya. Padahal, Allah saja tidak pernah membatasi pujian-Nya kepada Nabi Saw. dan tidak pernah melarang pujian yang berlebihan kepada beliau.”
WC : “Maulid dan tahlilan adalah sia-sia, tidak ada pahalanya.”
SARKUB : “Sejak kapan anda berubah sikap seperti Tuhan, menentukan suatu amalan berpahala atau tidak, Allah saja tidak pernah bilang bahwa Maulid dan tahlilan itu sia-sia.”
WC : “Kita dilarang mengkultuskan Nabi Saw. sampai-sampai menganggapnya seperti Tuhan.”
SARKUB : “Orang Islam paling bodoh pun tahu, bahwa Nabi Muhammad Saw. itu Nabi dan Rasul, bukan Tuhan.”
WC : “Ziarah ke makam wali itu haram, khawatir bisa membuat orang jadi musyrik.”
SARKUB : “Makanya, jadi orang jangan khawatiran, hidup jadi susah, tahu.”
WC : “Mengirim hadiah pahala kepada orang meninggal itu percuma, tidak akan sampai.”
SARKUB : “Kenapa tidak! kalau anda tidak percaya, silakan anda mati duluan, nanti saya kirimkan pahala al-Fatihah kepada anda.”
WC : “Maulid itu amalan mubazir. Daripada buat Maulid, lebih baik biayanya buat menyantuni anak yatim.”
SARKUB : “Cuma orang pelit yang bilang bahwa memberi makan atau berinfak untuk pengajian itu mubazir. Sudah tidak menyumbang, mencela pula.”
WC : “Maulid dan tahlilan itu bid’ah, tidak ada di zaman Nabi saw.”
SARKUB: “Terus terang, Muka anda juga bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi Saw.”
WC : “Semua bid’ah (hal baru yang diada-adakan) itu sesat, tidak ada bid’ah yang baik/hasanah.”
SARKUB : “Saya ucapkan selamat menjadi orang sesat. Sebab Nabi Saw. tidak pernah memakai resleting, kemeja, motor, atau mobil seperti anda. Semua itu bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat.”
WC : “Kasihan, masyarakat banyak yang tersesat. Mereka melakukan amalan bid’ah yang berbau syirik.”
SARKUB : “Sudah lah, kalau anda masih bodoh, belajarlah dulu, sampai anda bisa melihat jelas kebaikan di dalam amalan mereka.”
WC : “Saya menyesal dilahirkan oleh orang tua yang banyak melakukan bid’ah.”
SARKUB : “Orang tua anda juga pasti sangat menyesal karena telah melahirkan anak durhaka yang sok pintar seperti anda.”
WC : “Para penceramah di acara Maulid, bisanya hanya mencaci maki dan memecah belah umat.”
SARKUB : “Sebetulnya, para penceramah itu hanya mencaci maki orang seperti anda yang kerjanya menebar keresahan dan benih perpecahan di kalangan umat.”
WC : “Qunut Shubuh itu bid’ah, tidak ada dalilnya, haram hukumnya.”

SARKUB : “Kasihan, rokok apa yang anda hisap? Setahu saya, di dalam iklan, merokok Star Mild hanya membuat orang terobsesi menjadi sutradara atau orator. Sedangkan anda sudah terobsesi menjadi ulama besar yang mengalahkan Imam Syafi’i yang mengamalkan qunut shubuh. Lebih Brasa, Brasa Lebih pinter gitu loh!”

sahabatku yang aku sayangi karena Allah.

Mungkin Anda akan bingung menghadapi inkonsistensi Salafy-Wahhabi mengenai madzhab. . Itu semua hanyalah propaganda demi mengelabui orang-orang agar menerima ajaran mereka yang nyeleneh.
Demi diterimanya ajaran mereka, salah satu penerbit Salafy bersembunyi di balik nama besar Imam Asy-Syafi’i. Sambil menyebarkan ajaran nyeleneh mereka, mereka pun mengkampanyekan simbol-simbol masonic melalui logo penerbit. Kampanye simbol masonic ini dapat digunakan untuk mempengaruhi alam bawah sadar para pembaca. Dengan satu pemicu, masonic akan sangat mudah untuk menggiring mereka, yang telah terpengaruh alam bawah sadarnya, kepada ajaran masonic. Mereka yang mempelajari konsep hipnotisme akan memahami hal ini.
Mengapa menggunakan nama Imam Asy-Syafi’i, sedangkan mereka bukan pengikut Imam Asy-Syafi’i ? Itu adalah propaganda untuk mengelabui Muslim Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i.

Di Arab, mereka mengaku bermadzhab Hanbali. Padahal mereka sama sekali bukan pengikut Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka adalah penganut ‘Laa Madzhab/Tidak Bermadzhab”’. Mereka tidak taqlid kepada salah satu Imam. Bahkan mereka merasa bahwa mereka berhaq untuk berijtihad.
Namun ‘Laa Madzhab’ hanyalah propaganda para syaikh mereka agar para pengikutnya tidak bermadzhab kecuali kepada para syaikh tersebut. Mereka berfikir bahwa mereka tengah berijtihad. Padahal mereka hanya taqlid kepada fatwa-fatwa nyeleneh para syaikh mereka. Tak pernah mereka berani kelaur dari pendapat para syaikh mereka. Itukah yang dinamakan ijtihad? Itulah taqlid mereka kepada para mujtahid gadungan.

Laa Madzhab Merusak Tatanan Syari’at
Sejarah telah membuktikan bahawa taqlid dan thoriqah tidak sekali-kali menyebabkan ummat menjadi jumud dan beku. Sebaliknya, seruan ijtihad dan bebas dari bertaqlid kepada mazhab tertentu yang diserukan oleh kaum mutassallif abad kita ini, sangatlah meragukan dan hingga kini menimbulkan perpecahan dan kehinaan yang berpanjangan kepada ummat ini. Seruan tersebut masih tidak membuahkan hasil yang dapat dibanggakan. Seruan agar ummat berijtihad tanpa melihat apakah mereka itu layak atau tidak, adalah suatu seruan yang berbahaya dan dapat meruntuhkan agama serta memecah persatuan ummat. Kalaupun hendak berijtihad, maka biarlah hal itu dilakukan oleh ulama yang mencapai derajat mujtahid. sedangkan wahabi kagak ada yang nyampe pada derajat mujtahid tapi sok seperti mujtahid

Rasulullah Saw. Berdiri diatas mimbar dan bersabda, “Disanalah daerah berbagai fitnah,” seraya beliau menunjuk ke timur Madinah (Najd), “dari sana timbul pongkol setan,” atau nabi bersabda, “tanduk setan”. (HR. Bukhari, Ahmad, dan Tirmidzi, dengan lafal darinya, dia mengatakan hadis ini Hasan Shahih).

sahabatku yang baik.

Salafi wahabi disini berbeda dengan istilah penamaan golongan tiga massa setelah Nabi Muhammad, yang sering kita kenal dengan golongan as-Salafu as-Sholih (ulama-ulama salaf) yaitu mereka kelompok para sahabat, tabi’in, dan tabi’at-tabi’in, karena jelas massa kemunculan golongan salafi ini jauh dari ketiga massa Salafuna as-Sholih. Pada dasarnya baik salafi maupun wahabi adalah sama, mereka sama-sama mengikuti ajaran yang dibawa oleh Muhammad ibnu Abdul Wahab ibnu Sulaiman an-Najdi yang membawa misi memurnikan tauhid. Alhasil, kita akan menyebut golongan mereka dengan sebutan kelompok Salafi-Wahabi.

Bahkan Prof. Dr. Said Ramadhan al-Buthi dalam bukunya As-salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Madzhab Islami yang penulis kutip dari salah satu bukunya Syaikh Idahram, mengatakan bahwa wahabi mengubah strategi dakwahnya dengan berganti nama menjadi “salafi” karena mengalami banyak kegagalan dan merasa tersudut dengan panggilan nama Wahabi yang dinisbatkan kepada pendirinya, yakni Muhammad ibnu abdul Wahab. Maka dari itu ada sebagian kaum yang menyebut mereka dengan sebutan Salafi Palsu atau Mutamaslif.<

Ajaran mereka sebagian besarnya merujuk pada tokoh-tokoh yang memang kontroversial, seperti: Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdul Wahab, Nashirudin al-Albani, Ibnu Utsaimin, Ibnu Baz, dan lain-lain baik dalam pendapat masalah akidah, manhaj, perilaku, maupun sikap. Sehingga dampaknya sering terjadi perpecahan, permusuhan, kedengkian, saling mengkafirkan, menjatuhkan, bahkan saling membunuh diantara umat Islam sendiri yang tidak sepaham dengan mereka (naudzubillah)

*ciri2 kefahaman wahabi*~

Antara cara-cara mudah mengenali mereka samada berfahaman Wahabi ataupun tidak ataupun terkena sedikit tempias dari fahaman Wahabi adalah:

AQIDAH
1. Membagi Tauhid menjadi 3 bagian yaitu:

(a). Tauhid Rububiyyah: Dengan tauhid ini, mereka mengatakan bahwa kaum musyrik Mekah dan orang-orang kafir juga mempunyai tauhid.
(b). Tauhid Uluhiyyah: Dengan tauhid ini, mereka menafikan tauhid umat Islam yang bertawassul, beristigathah dan bertabarruk sedangkan ketiga-tiga perkara tersebut diterima oleh jumhur ulama‟ Islam khasnya ulama‟ empat Imam madzhab.
(c.) Tauhid Asma’ dan Sifat: Tauhid versi mereka ini bisa menjerumuskan umat islam ke lembah tashbih dan tajsim kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala seperti:

Menterjemahkan istiwa’ sebagai bersemayam/bersila
Merterjemahkan yad sebagai tangan
Menterjemahkan wajh sebagai muka
Menisbahkan jihah (arah) kepada Allah (arah atas – jihah ulya)
Menterjemah janb sebagai lambung/rusuk
Menterjemah nuzul sebagai turun dengan dzat
Menterjemah saq sebagai betis
Menterjemah ashabi’ sebagai jari-jari, dll
Menyatakan bahawa Allah SWT mempunyai “surah” atau rupa
Menambah bi dzatihi haqiqatan [dengan dzat secara hakikat] di akhir setiap ayat-ayat mutashabihat

2. Memahami ayat-ayat mutashabihat secara zhahir tanpa penjelasan terperinci dari ulama-ulama yang mu’tabar
3. Menolak asy-Sya’irah dan al-Maturidiyah yang merupakan ulama’ Islam dalam perkara Aqidah yang diikuti mayoritas umat islam
4. Sering mengkrititik asy-Sya’irah bahkan sehingga mengkafirkan asy-Sya’irah.
5. Menyamakan asy-Sya’irah dengan Mu’tazilah dan Jahmiyyah atau Mu’aththilah dalam perkara mutashabihat.
6. Menolak dan menganggap tauhid sifat 20 sebagai satu konsep yang bersumberkanfalsafah Yunani dan Greek.
7. Berselindung di sebalik mazhab Salaf.
8. Golongan mereka ini dikenal sebagai al-Hasyawiyyah, al-Musyabbihah, al-
Mujassimah atau al-Jahwiyyah dikalangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah.
9. Sering menuduh bahwa Abu Hasan Al-Asy’ari telah kembali ke mazhab Salaf setelah bertaubat dari mazhab asy-Sya’irah. Menuduh ulama’ asy-Sya’irah tidak betul-betul memahami faham Abu Hasan Al-Asy’ari.
10. Menolak ta’wil dalam bab Mutashabihat.
11. Sering menuduh bahwa mayoritas umat Islam telah jatuh kepada perbuatan syirik.
12. Menuduh bahwa amalan memuliakan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam [membaca maulid dll] membawa kepada perbuatan syirik.
13. Tidak mengambil pelajaran sejarah para anbiya’, ulama’ dan sholihin dengan
dalih menghindari syirik.
14. Pemahaman yang salah tentang makna syirik, sehingga mudah menghukumi orang sebagai pelaku syirik.
15. Menolak tawassul, tabarruk dan istighathah dengan para anbiya’ serta sholihin.
16. Mengganggap tawassul, tabarruk dan istighathah sebagai cabang-cabang syirik.
17. Memandang remeh karamah para wali [auliya’].
18. Menyatakan bahwa ibu bapa dan datuk Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak selamat dari adzab api neraka.
19. Mengharamkan mengucap “radhiallahu ‘anha” untuk ibu Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam, Sayyidatuna Aminah.

SIKAP
1. Sering membid’ahkan amalan umat Islam bahkan sampai ke tahap mengkafirkan
mereka.
2. Mengganggap diri sebagai mujtahid atau berlagak sepertinya (walaupun tidak layak).
3. Sering mengambil hukum secara langsung dari al-Qur’an dan hadits (walaupun tidak layak).
4. Sering memtertawakan dan meremehkan ulama’ pondok dan golongan agama yang lain.
5. Ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang ditujukan kepada orang kafir sering ditafsir ke atas orang Islam.
6. Memaksa orang lain berpegang dengan pendapat mereka walaupun pendapat itu syaz (janggal).

HADITS

1. Menolak beramal dengan hadis dho’if.
2. Penilaian hadits yang tidak sama dengan penilaian ulama’ hadits yang lain.
3. Mengagungkan Nasiruddin al-Albani di dalam bidang ini [walaupun beliau tidak
mempunyai sanad bagi menyatakan siapakah guru-guru beliau dalam bidang hadits.
[Bahkan mayoritas muslim mengetahui bahwa beliau tidak mempunyai guru dalam bidang hadits dan diketahui bahawa beliau belajar hadits secara sendiri dan ilmu jarh dan ta’dil beliau adalah mengikut Imam al-Dhahabi].
4. Sering menganggap hadits dho’if sebagai hadits mawdhu’ [mereka mengumpulkan hadits dho’if dan palsu di dalam satu kitab atau bab seolah-olah kedua-dua kategori hadits tersebut adalah sama]
5. Pembahasan hanya kepada sanad dan matan hadits, dan bukan pada makna hadits. Oleh karena itu, pebedaan pemahaman ulama’ [syawahid] dikesampingkan.

QUR’AN

1. Menganggap tajwid sebagai ilmu yang menyusahkan dan tidak perlu (Sebagian Wahabi indonesia yang jahil)

FIQH

1. Menolak mengikuti madzhab imam-imam yang empat; pada hakikatnya
mereka bermadzhab “TANPA MADZHAB”
2. Mencampuradukkan amalan empat mazhab dan pendapat-pendapat lain sehingga membawa kepada talfiq [mengambil yang disukai] haram
3. Memandang amalan bertaqlid sebagai bid’ah; mereka mengklaim dirinya berittiba’
4. Sering mengungkit dan mempermasalahkan soal-soal khilafiyyah
5. Sering menggunakan dakwaan ijma’ ulama dalam masalah khilafiyyah
6. Menganggap apa yang mereka amalkan adalah sunnah dan pendapat pihak lain adalah Bid’ah
7. Sering menuduh orang yang bermadzhab sebagai ta’assub [fanatik] mazhab
8. Salah faham makna bid‟ah yang menyebabkan mereka mudah membid‟ahkan orang lain
9. Mempromosikan madzhab fiqh baru yang dinamakan sebagai Fiqh al-Taysir, Fiqh al-Dalil, Fiqh Musoffa, dll [yang jelas keluar daripada fiqh empat mazhab]
10. Sering mewar-warkan agar hukum ahkam fiqh dipermudahkan dengan menggunakan hadis “Yassiru wa la tu’assiru, farrihu wa la tunaffiru”
11. Sering mengatakan bahwa fiqh empat madzhab telah ketinggalan zaman

NAJIS

1. Sebagian mereka sering mempermasalahkan dalil akan kedudukan babi sebagai najis mughallazhah
2. Menyatakan bahwa bulu babi itu tidak najis karena tidak ada darah yang mengalir.

WUDHU’

1. Tidak menerima konsep air musta’mal
2. Bersentuhan lelaki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’
3. Membasuh kedua belah telinga dengan air basuhan rambut dan tidak dengan air yang baru.

ADZAN

1. Adzan Juma’at sekali; adzan kedua ditolak

SHALAT

1. Mempromosikan “Sifat Shalat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam‟, dengan alasan kononnya shalat berdasarkan fiqh madzhab adalah bukan sifat shalat Nabi yang benar
2. Menganggap melafazhkan kalimat “usholli” sebagai bid’ah.
3. Berdiri dengan kedua kaki mengangkang.
4. Tidak membaca “Basmalah‟ secara jahar.
5. Menggangkat tangan sewaktu takbir sejajar bahu atau di depan dada.
6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu qiyam.
7. Menganggap perbedaan antara lelaki dan perempuan dalam shalat sebagai perkara bid‟ah (sebagian Wahabiyyah Indonesia yang jahil).
8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah.
9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah.
10. Menganggap mengusap muka selepas shalat sebagai bid’ah.
11. Shalat tarawih hanya 8 rakaat; mereka juga mengatakan shalat tarawih itu
sebenarnya adalah shalat malam (shalatul-lail) seperti pada malam-malam lainnya
12. Dzikir jahr di antara rakaat-rakaat shalat tarawih dianggap bid’ah.
13. Tidak ada qadha’ bagi shalat yang sengaja ditinggalkan.
14. Menganggap amalan bersalaman selepas shalat adalah bid’ah.
15. Menggangap lafazh sayyidina (taswid) dalam shalat sebagai bid’ah.
16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tasyahud awal dan akhir.
17. Boleh jama’ dan qashar walaupun kurang dari dua marhalah.
18. Memakai sarung atau celana setengah betis untuk menghindari isbal.
19. Menolak shalat sunnat qabliyyah sebelum Juma’at
20. Menjama’ shalat sepanjang semester pengajian, karena mereka berada di landasan Fisabilillah

DO’A, DZIKIR DAN BACAAN AL-QUR’AN
1. Menggangap do’a berjama’ah selepas shalat sebagai bid’ah.
2. Menganggap dzikir dan wirid berjama’ah sebagai bid’ah.
3. Mengatakan bahwa membaca “Sodaqallahul ‘azhim” selepas bacaan al-Qur’an adalah Bid’ah.
4. Menyatakan bahwa do’a, dzikir dan shalawat yang tidak ada dalam al-Qur’an dan Hadits sebagai bid’ah. Sebagai contoh mereka menolak Dala’il al-Khairat, Shalawat al-Syifa‟, al-Munjiyah, al-Fatih, Nur al-Anwar, al-Taj, dll.
5. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jum’at sebagai bid’ah yang haram.
6. Mengatakan bahwa sedekah atau pahala tidak sampai kepada orang yang telah wafat.
7. Mengganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah.
8. Mengganggap zikir dengan bilangan tertentu seperti 1000 (seribu), 10,000 (sepuluh ribu), dll sebagai bid’ah.
9. Menolak amalan ruqiyyah syar’iyah dalam pengobatan Islam seperti wafa‟, azimat, dll.
10. Menolak dzikir isim mufrad: Allah Allah.
11. Melihat bacaan Yasin pada malam nisfu Sya’ban sebagai bid’ah yang haram.
12. Sering menafikan dan memperselisihkan keistimewaan bulan Rajab dan Sya’ban.
13. Sering mengkritik keutamaan malam Nisfu Sya’ban.
14. Mengangkat tangan sewaktu berdoa’ adalah bid’ah.
15. Mempermasalahkan kedudukan shalat sunat tasbih.

PENGURUSAN JENAZAH DAN KUBUR

1. Menganggap amalan menziarahi maqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para anbiya’, awliya’, ulama’ dan sholihin sebagai bid’ah dan shalat tidak boleh dijama’ atau qasar dalam ziarah seperti ini.
2. Mengharamkan wanita menziarahi kubur.
3. Menganggap talqin sebagai bid’ah.
4. Mengganggap amalan tahlil dan bacaan Yasin bagi kenduri arwah sebagai bid’ah yang haram.
5. Tidak membaca do’a selepas shalat jenazah.
6. Sebagian ulama’ mereka menyeru agar Maqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikeluarkan dari masjid nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik
7. Menganggap kubur yang bersebelahan dengan masjid adalah bid’ah yang haram
8. Do’a dan bacaan al-Quran di perkuburan dianggap sebagai bid’ah.

MUNAKAHAT [PERNIKAHAN]

1. Talak tiga (3) dalam satu majlis adalah talak satu (1)

MAJLIS SAMBUTAN BERAMAI-RAMAI

1. Menolak peringatan Maulid Nabi; bahkan menyamakan sambutan Mawlid Nabi dengan perayaan kristen bagi Nabi Isa as.
2. Menolak amalan marhaban para habaib
3. Menolak amalan barzanji.
4. Berdiri ketika bacaan maulid adalah bid’ah
5. Menolak peringatan Isra’ Mi’raj, dll.

HAJI DAN UMRAH

1. Mencoba untuk memindahkan “Maqam Ibrahim as.” namun usaha tersebut telah digagalkan oleh al-Marhum Sheikh Mutawalli Sha’rawi saat beliau menemuhi Raja Faisal ketika itu.
2. Menghilangkan tanda telaga zam-zam
3. Mengubah tempat sa’i di antara Sofa dan Marwah yang mendapat tentangan ulama’ Islam dari seluruh dunia

PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN

1. Maraknya para professional yang bertitle LC menjadi “ustadz-ustadz‟ mereka (di Indonesia)
2. Ulama-ulama yang sering menjadi rujukan mereka adalah:

a. Ibnu Taymiyyah al-Harrani
b. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
c. Muhammad bin Abdul Wahhab
d. Sheihk Abdul Aziz bin Baz
e. Nasiruddin al-Albani
f. Sheikh Sholeh al-Utsaimin
g. Sheikh Sholeh al-Fawzan
h. Adz-Dzahabi dll.

3. Sering mendakwahkan untuk kembali kepada al-Qura’an dan Hadits (tanpa menyebut para ulama’, sedangkan al-Qura’n dan Hadits sampai kepada umat Islam melalui para ulama’ dan para ulama’ juga lah yang memelihara dan menjabarkan kandungan al-Qur’an dan Hadits untuk umat ini)
4. Sering mengkritik Imam al-Ghazali dan kitab “Ihya’ Ulumuddin”

PENGKHIANATAN MEREKA KEPADA UMAT ISLAM

1. Bersekutu dengan Inggris dalam menjatuhkan kerajaan Islam Turki Utsmaniyyah
2. Melakukan perubahan kepada kitab-kitab ulama’ yang tidak sehaluan dengan mereka
3. Banyak ulama’ dan umat Islam dibunuh sewaktu kebangkitan mereka di timur tengah
4. Memusnahkan sebagian besar peninggalan sejarah Islam seperti tempat lahir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meratakan maqam al-Baqi’ dan al-Ma’la [makam para isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi’, Madinah dan Ma’la, Mekah], tempat lahir Sayyiduna Abu Bakar dll, dengan hujjah tempat tersebut bisa membawa kepada syirik.
5. Di Indonesia, sebagian mereka dalu dikenali sebagai Kaum Muda atau Mudah [karena hukum fiqh mereka yang mudah, ia merupakan bentuk ketaatan bercampur dengan kehendak hawa nafsu].

TASAWWUF DAN THARIQAT

1. Sering mengkritik aliran Sufisme dan kitab-kitab sufi yang mu’tabar
2. Sufiyyah dianggap sebagai kesamaan dengan ajaran Budha dan Nasrani
3. Tidak dapat membedakan antara amalan sufi yang benar dan amalan bathiniyyah yang sesat.

Dari Sudut AQIDAH:

1-Gemar membahagikan-bahagikan tauhid kepada tiga bahagian iaitu Tauhid Rububiyah,.,.Uluhiyah dan al-Asma Wa al-Sifat dn menyamakan umat Islam kini dengan musyrikin Mekah,.,.

2-Menyesatkan manhaj Asyairah dan Maturidiyah yang merupakan dua komponen utama dalam Ahli Sunnah Wal Jamaah,.,.

3-anti terhadap sisitem pengajian Sifat 20.

4-Gemar membahaskan ayat-ayat mutasyabihat dan membahaskan perihal istiwa Allah Taala,.,tangan Allah Taala,,.di mana Allah Taala dan lain-lain ayat mutasyabihat lagi dn memahami ayat-ayat itu dgn zahir ayat dan mencerca mereka yg mantakwil ayat-ayat ini.,.,Akhirnya mereka secara tidak sedar termasuk di dalam golongan Mujassimah
kijbpkppdan Musyabbihah.,.,

5-Sering meletakkan isu-isu fiqh dlm bab aqidah,.,.seperti tawasul dan istighatsah lantas mensyirikkan dan mengkafirkan amalan-amalan yg tidak sehaluan dgn mereka.,.,Juga mensyirikkan amalan yg tidak dipersetujui contohnya mambaca salawat syifa dan tafrijiah dll,.,

6-Mudah melafazkan kalimah syirik dan kufur terhadap amalan yg mereka tidak persetujui (Khawarij Moden),.,.

7-Amat anti terhadap tasawuf serta tarikat dan mengatakan bahawa tasawuf dan tarikat diambil daripada ajaran falsafah Yunan,.,.agama Buddha dan dll,.,.

Dari Sudut FIQH:

1-Anti terhadap mazhab-mazhab fiqh dan menganggap sesiapa yg berpegang kepada satu mazhab adalah taksub dan jumud.,.,Mereka akan menyarankan mengikut fiqh campuran atas corak pemahaman mereka dan menamakannya sebagai Fiqh Sunnah,.,.

2-Membahagikan manusia kepada tiga golongan iaitu mujtahid, muttabi dan muqallid dan mencerca golongan muqallid,.,.Bagi mereka hanya menyeru kepada mengikut seorang alim atau imam itu hanyalah dgn dalil walaupun pada hakikatnye mereka tidak memahami dalil tersebut,.,.

3-Gemar membangkitkan isu-isu furuk yang sudah lama diperbahaskan oleh para ulama terdahulu seperti isu tahlil,.,.talqin,.,.qunut subuh,.,.zikir berjamaah,.,.zikir dgn bilangan tertentu,.,.lafaz niat solat,.,.ziarah makam para nabi dan ulama,.,.sambutan maulidur rasul dll,.,.

4-Perkataan bidaah sentiasa diulang-ulang pada perbuatan yg mereka tidak setuju,.,.Bidaah di dlm agama bagi mereka hanyalah sesat dan akan menjerumuskan pembuatnya ke dalam neraka,.,.Kata-kata Imam Syatibi pada pembahagian bidaah akan mereka ulang-ulangi.,.,Menurut fahaman mereka pembahagian ulama lain pada bidaah hanyalah bidaah dari sudut bahasa,.,.

5-Wahabi secara umumnya mengaitkan amalan-amalan tertentu kononnya sebagai rekaan dgn hawa nafsu atau kejahilan para ulama terdahulu manakala Wahabi di Malaysia cuba mengaitkan amalan yg mereka tidak persetujui hanyalah rekaan para ulama Nusantara,.,.

6-Hanya berpegang kepada suatu pendapat dalam hukum hakam fiqh jika mempunyai dalil yg zahir dan amat gemar meminta dalil dari al-Quran dan al-Hadis seolah-olah mereka dapat membuat perbandingan sendiri kuat lemahnya sesuatu pendapat berdasarkan dalil yg dijumpai,.,.

Dari Sudut MANHAJ:

1-Berlebih-lebihan pada mengkritik mereka yg tidak sehaluan dgn mereka baik ulama terdahulu mahupun sekarang,.,.

2-Menganggap bahawa hanya mereka sahajalah yg benar dan merekalah sahajalah pembawa manhaj salaf yg sebenar,.,.

3-Bersikap keras kepala dan enggan menerima kebenaran walaupun dibentangkan beribu-ribu hujjah,.,.Bagi golongan Wahabi dalil mereka yg menentang mereka semuanya lemah atau telah dijawab,.,.

4-Amat gemar berdebat walau di kalangan masyarakat awam,.,. ^^

5-Terlalu fanatik kepada fahaman dan tokoh-tokoh yg mereka diiktiraf mereka seperti Muhammad Abdul Wahab,.,.Abdul Aziz bin Baz,.,.Nasir al-Albani,.,.Muhammad Soleh al-Utsaimin,.,.Soleh Fauzan dll,.,.

6-Mudah mengatakan bahawa ulama’ terdahulu sebagai silap ataupun sesat dll,.,.

7-Mendakwa mereka mengikut manhaj salafi pada urusan aqidah dan fiqh walaupun hakikatnya mereka amat jauh sekali dan tidak memahaminya,.,.

8-Cuba untuk menyatukan semua pihak atas fahaman mereka lantas menyebabkan perpecahan umat,.,.

9-Sebahagian mereka juga bersikap lemah lembut pada kuffar dan berkeras pada umat Islam,.,.

10-Menyesatkan dan memfasiqkan sesiapa yang bercanggah dgn mereka serta melebelkan dgn pelbagai gelaran,.,.

11-Seolah-olah menyama tarafkan hadis dhoif dgn hadis maudhuk lantas mendakwa mereka hanya mengikut hadis yg sahih selain anti terhadap penerimaan riwayat dan taa’sub dengan penerimaan atau penolakan Nasir al-Albani semata-mata,.,.

12-Membuat khianat ilmiah samada pada penulisan atau pada pentahqikan kitab-kitab lama.,.,

semoga perenungan ini bisa membuka mata hati anda mengenai jahatnya wahabi bagi intern islam sendiri.

Ya Allah! Jauhkan kami dari malapetaka Wahhabi ini!, Jangan biarkan mereka dapat menguasai Negara Indonesi yang tercinta ini yang teramat mulia ini

Hadaanallah wa iyyakum ajma’in.

semoga bermanfaat.

Iklan