rendah hatibismillahirahmanirahim.

sahabatku semua yang dimulyakan Allah. Semua orang tanpa terkecuali pasti suka dipuji, dihormati dan juga dihargai oleh orang lain.  Mereka tidak suka jika ada orang lain meremehkan, merendahkan atau menghina.  Pujian terhadap seseorang itu sangat berarti, bisa membangkitkan semangat baginya untuk bekerja dan berkarya lebih baik lagi dari yang telah dikerjakan, betul tidak kawan ?

namun sayang ego manusia itu kadang terlalu besar, jika sudah merasa paling kaya, merasa paling pinter,merasa punya gelar, merasa paling tampan, merasa paling baik, merasa paling alim, merasa paling bijaksana, merasa paling berkuasa, merasa punya jabatan, merasa tinggi, merasa berwibawa dan merasa-merasa lain yang terlalu banyak untuk disebutkan.. maka apa yang bisa kita lihat sekarang ini ?

Hampir setiap hari kita mendengar atau menyaksikan betapa banyak orang termasuk kita, menunjukkan arogansi kekuasaan atau kekayaan maupun kehebatan yang kita miliki. hayoo ngaku ??

terus kenapa bisa demikian ? bagaimana cara mengatasi  jika ego diri menyelimuti hati ?

sebuah kisah baacalah dengan perlahan sambil menyelami maknanya…semoga bermanfaat.

Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera kaya raya membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin.

Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin.

Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya,

“Bagaimana perjalanan tadi?”
“Sungguh luar biasa, Pa.”
“Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?” tanya sang ayah.
“Iya, Pa,” jawabnya.
“Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?” tanya ayahnya lagi.

Si anak menjawab, “Saya melihat kenyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor. Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya. Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka.
Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison. Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang. Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri. Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri. Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka.”

Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian si anak menambahkan, “Terima kasih, Pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita.”

Sahabatku yang luar biasa yang dimulyakan Allah.

Sekalipun engkau hidup berlimpahan dan berkecukupan dana, tetaplah hidup dengan sederhana. Tidaklah sulit menciptakan sifat yang baik yaitu sikap rendah hati dan sederhana. Orang yang memiliki sikap rendah hati selalu berusaha menjadi pribadi yang bisa menerima orang lain, tidak sombong, atau terlalu memperlihatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Tidak usahlah kita risaukan, jika orang lain tidak tahu apa yang kita miliki atau seberapa tinggi kemampuan kita melakukan segala sesuatu. Orang lain bisa menilai ‘kualitas seseorang’ hanya dengan melihat sikap, tutur kata, dan perilaku sehari-hari yang kita lakukan.

Rendah hati mungkin adalah sebuah kata yang hampir hilang dari perbendaharaan bahasa kita. Hampir setiap hari kita mendengar atau menyaksikan betapa kita, menunjukkan arogansi kekuasaan atau kekayaan, kehebatan yang kita miliki. betul tidak kawan ?

memang KEBENARAN bisa berasal dari siapapun, di manapun dan kapanpun. Oleh karenanya, kita perlu belajar untuk rendah hati, selalu terbuka untuk mendengarkan nasihat dan belajar dalam setiap kesempatan. ada pula kecenderungan di dalam diri untuk menyepelekan dan mengabaikan suatu masukan atau kritikan yang disampaikan kepada kita. Terlebih jika yang menyampaikan adalah orang yang lebih muda, lebih rendah posisi/jabatannya, atau inferioritas lainnya nah, ini berbahaya

Pujian juga dapat membuka hati seseorang untuk menerima teguran atau kritikan dari orang lain.  Sayang, tidak semua orang bisa memberikan pujian kepada orang lain.  Hanya orang yang memiliki kerendahan hati yang mau mengakui kelebihan atau prestasi orang lain.  Tanpa kerendahan hati, seseorang sulit memuji orang lain.  Dengan adanya sikap rendah hati, kita bisa mengikis rasa ego kita, mau belajar dari orang lain dan bisa memberi pujian.  Hanya orang yang rendah hatilah yang dapat memuji orang lain dan mengakui kelebihannya.

Ada sebagian orang yang bisa menerima kebenaran jika kebenaran itu bersumber dari orang yang lebih tinggi strata sosialnya daripada dirinya. Tapi jika kebenaran itu bersumber dari orang yang dianggapnya lebih rendah darinya, ia enggan untuk menerimanya. Berbeda dengan orang yang mempunyai sifat rendah hati, ia akan selalu menerima kebenaran dari siapapun sumbernya, baik dari orang miskin ataupun orang kaya, dari orang hina ataupun orang mulia, dari orang kuat ataupun orang lemah, dari kawan ataupun lawan.

sahabatku yang aku sayangi karena Allah,

ada seseorang yang bertanya kepada habib munzir almusyawa, orang itu bercerita bahwa sempat dirinya menghadiri sebuah majelis yang didalamnya ada ustad yg mengajarkan pelajaran yang telah ia ketahui, karena pemberontakan hatinya ia memilih meninggalkan majelis tersebut, karena menggangap mungkin ilmunya ustadz masih dibawah pemahaman dirinya dsb, makanya ia memutuskan pergi meninggalkan majelis mulia tersebut, ia gamang kemudian ia tanyakan pada habib.

lalu apa jawaban habib munzir ?

Saudaraku yg kumuliakan, mengenai merendahkan ustaz, hati hati saudaraku, karena banyak ustaz itu yg tanaazul, yaitu merendahkan pembahasan demi jamaah yg dihadapinya bukan orang yg mampu mendalami ilmu yg lebih mendalam, maka ia hanya mengajarkan yg dasar dasar saja, padahal ia lautan ilmu yg dalam,

ada seorang ulama besar, shalih dan tunduk para wali Allah swt padanya, ketika seseorang ditunjukkan alamat orang itu, ia hanya menemukan orang itu mengajari anak anak kecil membaca Alqur’an, maka ia syak dihatinya, kalau cuma ngajar anak kecil begini ya siapa juga bisa, tidak mesti ulama apalagi ulama besar dan shalih yg tunduk padanya para Wali Allah,
maka orang itu menengadahkan wajahnya pada si tamu dan berkata : wahai engkau, sungguh diajarkan oleh Rasul saw bahwa mengajari anak kecil itu memadamkan kemurkaan Allah..!.

maka iapun kecut dan diam…

saya (habib munzir) punya pengalaman, saya ceritakan pada anda, ketika dalam suatu undangan, saya didudukkan di shaf pertama, dan kyai kyai sepuh di kiri dan kanan saya, lalu ada seorang ustaz muda yg tidak menyolok, ia lebih muda dari saya dan duduk dibelakang saya, menyalami saya dg penuh hormat lalu terus menunduk.

saya menyalaminya spt biasa tanpa memberi penghormatan khusus sebagaimana saya menghormati ulama ulama dan kyai sepuh.

sepulang dari acara, orang itu sudah tiada, ia pergi membantu panitia dalam pengaturan bubarnya tamu, lalu ia datang pada saya sebelum saya naik ke kendaraan saya, ia berkata : doakan saya habib, saya dangkal ilmu, doakan supaya saya bisa mengabdi pada ilmu sepanjang hidup saya, jadikan saya murid habib.., sesekali monggo kekediaman saya dekat sini..,

saya mendoakannya, mencium dahinya, dan memeluknya dan menyambutnya dg hangat, dan saya katakan bahwa guru guru dan kyai kyai disini sudah sangat mumpuni, saya cuma ceret (teko air/kopi/teh) yg kelilingan kemana mana.

ketika saya meninggalkan pesantren besar itu, saya tanya pada salah satu ajun saya yg alumni pesantren itu, saya tanyakan siapa anak muda tadi yg menyalami saya sampai ke mobil itu?, maka dijawab bahwa ia adalah ustaz besar dan sudah mengarang 100 kitab lebih dg bahasa arab, ia kyai besar yg masyhur namun usianya masih sangat muda.

tersirap darah saya dan sangat menyesal.. ternyata dia kyai besar yg sudah menulis 100 kitab lebih, namun budi pekertinya sangat rendah diri dan rendah hati, sehingga semua orang yg tidak mengenalnya, tak akan mengira bahwa ia kyai besar.

suatu waktu lainnya, saya kunjung pada seorang guru besar disuatu wilayah, muridnya puluhan ribu dalam majelis mingguannya setiap suatu hari disore hari, saya lupa hari apa.

tiada orang ceramah di majelisnya kecuali guru besar pula, dan Guru besar ini sering mencoba jika ada habib atau ulama yg datang padanya, dan saya tidak tahu itu,

saya hanya tahu kalau saya dijadwalkan kesana dan ceramah di majelis itu..

tuan guru itu dengan rendah hati mempersilahkan saya bicara, memang saat itu sedang ramai masyarakat merayakan haul seorang ulama masa lalu, maka ia berkata dengan lembut, silahkan habib.., silahkan berdiri menyampaikan ceramahnya, kami ingin menyimak ceramah habib, khususnya dalil yg bisa dipakai hujjah untuk perayaan haul..

lihat ucapannya, ia mengizinkan saya ceramah dg lembut, tapi ia ingin mencoba atau ingin tahu lebih jelas tentang dalilnya peringatan haul…

darah saya tersirap, karena saya tidak siap membahas tentang dalil haul, saya tidak menyangka diwilayah ini akan ditanya akan dalilnya acara haul, saat saya berdiri dan mulai tausiyah, hati saya terus mempertajam ingatan mencari dalil haul, Alhamdulillah saya mendapat bisikan luhur akan ayat yg mendukung dalil haul, dua ayat sekaligus dalam satu surat di Alqur’an,

selepas saya ceramah, ia sungguh terperanjat, dan terus menerus mengulang ulang ucapan : Betul itu… betul itu.. saya koq belum terfikir ke ayat itu, itu sungguh dalil haul yg terkuat, sungguh betul itu.. sungguh betul.. habib memang luar biasa..

dalam hati saya, sayapun tidak tahu akan ditanya soal ini disini, dan itu datang dari bisikan ilahi mengingatkan saya pada ayat itu yg tepat mengena soal dalil haul, dua ayat pula, dalam surat yg sama.

juga saat saya ke Tarim hadramaut yaman, (1994-1998), saya duduk hadir disuatu majelis yg penuh sarat dengan para ulama kelas satu, disana ada empat mufti, saya tidak mengenal mereka karena baru datang dari indonesia,
karena halaqah sudah penuh padat, saya duduk dipaling belakang, disebelah saya orang orang yg menyiapkan kopi dan suguhan untuk para hadirin, disebelah mereka duduk seorang sepuh bertampang biasa saja, saya mencium tangannya bukan karena apa apa, tapi karena ia sudah sepuh,
dan hati saya membatin, bahwa dia ini bukan ulama apa apa, cuma sepuh saja, kalau dia ulama mestilah ia duduk dishaf depan atau terdepan, bukan duduk disebelah tukang pembagi kopi dg gelas gelas yg ribut dan air bertumpahan kemana mana.

selepas majelis bubar, semua orang berdesakan menyalaminya, termasuk ulama ulama sepuh yg dishaf terdepan, saya bingung dan bertanya tanya, inikan cuma orang sepuh yg duduk dipaling belakang, ternyata ia adalah Almarhum Syeikh Fadhl ba fadhl, pimpinan majelis para mufti di Tarim hadramaut, ia pimpinan mufti, namun karena tawadhu dan rendah dirinya, ia tidak mau maju kedepan karena datang terlambat, saya jadi sangat malu..
ringkasnya saudaraku, berhati hati atas ustadz yg mengajar hal hal yg mudah, mungkin ia mengajar hal yg mudah di jamaah itu, namun mengajar hal hal yg jauh diatas pemahaman kita di kelompok murid2 lainnya.

guru Mulia kita pun pernah dan sering mencoba kedalaman ilmu muridnya, suatu ketika dalam pelajaran faraidh (ilmu waris), beliau bertanya pada murid2nya, coba hitung.., jika seorang wafat meninggalkan 3 anak pria, suami, istri, dan ayah, ayo jawab berapa masing masing bagiannya..?

maka kami mulai meghitung cepat dan buru buru mengacung untuk menjawab, lalu ternyata jawaban kami satupun tiada yg benar,

sambil tertawa beliau melihat kami yg kebingungan kenapa jawaban tiada yg benar??

beliau menjawab dg bahasa arab yg kira kira maknanya : makanya, kalau ditanya itu pikir dulu, jangan sembarang hitung dulu kesana kemari, saya kan sebutkan seorang wafat, meninggalkan sekian anak, dan meninggalkan SUAMI, dan juga ISTRI, lalu siapa dia?,

kalau ia meninggalkan istri, berarti almarhum adalah suaminya, kalau ia meninggalkan suami, berarti yg wafat adalah istrinya, kalau ia meninggalkan suami dan istri, maka siapa dia?, pertanyaan ini harus direnungkan dulu sebelum dijawab..!, demikian ucapan beliau pada kami sambil tertunduk geli, kamipun tertawa dan terkecoh.

dilain waktu, Guru Mulia mengajar Nahwu dasar, ada yg memang baru kenal nahwu, ada yg sudah mendalami nahwu, ada guru guru pakar syariah yg sangat mendalam dalam nahwu dan seluruh cabang lainnya ikut duduk saja hadir,

beliau memberi contoh fi’il Amr, (kata ganti untuk perintah), hanya contoh kata saja, namun suara beliau ditekan, dan membuat murid murid senior yg sudah jauh melewati nahwu malah tertunduk menangis ketakutan…

saya jadi bingung, ini kan pelajaran nahwu dasar, dan contoh yg diberikan hanya contoh fi’il amr, sayapun sudah tahu itu tapi diam saja karena tahu kedalaman ilmu beliau, namun kenapa para guru guru saya yg murid beliau juga, malah menunduk dan menangis ketakutan…??

ternyata mereka mendalami makna ucapan itu, Guru Mulia mengajarkan contoh saja, kepada mereka yg masih belajar nahwu yg dasar, tapi menghantam dg pengajaran tajam pada para senior, ucapan beliau : beberapa contoh fi’il amr adalah : Ikhsya’..!, Ikhdha’..!, Irqa’..!, dan beberapa contoh lainnya.

bagi yg pemahaman ilmu nahwunya mendasar, mereka hanya mencatat, tapi yg senior, menunduk ketakutan dan menangis, karena makna ucapan kalimat contoh itu adalah : Ikhsya’..!(khusyuklah..!!), Ikhdhah..! (Tunduklah pada Allah..!!), Irqa’..! (dakilah tangga keluhuran..!!),
maka para senior itu gemetar dengan kalimat kalimat itu, padahal beliau hanya memberi contoh saja pada mereka yg nahwunya di kelas dasar, tapi memberi ilmu makrifah pada yg kelas senior, dg ucapan yg sama…

demikian samudera ilmu.., mengajar satu cabang ilmu, namun berbeda cabang ilmu yg difahami masing masing tingkatan..

hamba pun sering begitu, mengulang ulang riwayat yg sama di satu majelis atau majelis yg berbeda, karena hamba tahu banyak di majelis itu yg belum jelas masalah itu dan perlu diulang, atau hamba tahu bahwa mereka ada yg terjebak hal itu dan butuh diingatkan, maka hamba menjawabnya dg pembahasan itu sebelum mereka bertanya, namun jika mereka menyimak, mereka akan mendapatkan jawaban atas apa yg belum mereka temukan jawabannya dari masalah mereka, sedangkan mungkin jamaah lain mengatakan kenapa koq pembahasan ini diulang lagi. begitulah kira-kira jawaban habib munzir.

sahabatku yang dirahmati Allah.

buya yahya juga menyampaikan hal yang sama mengenai rendah hati, berikut tulisannya

sahabatku yang hatinya indah.

Bak kata pepatah, semakin berisi semakin tunduk. Semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang itu, semakin ia merendah diri. Begitu juga, semakin tinggi ilmu di dada seseorang itu, semakin kuat dugaan dan hasutan syaitan kepadanya. Orang berilmu dan berkedudukan tinggi tidak usah bersikap sombong dan memandang jelek terhadap orang yang kurang berilmu. Bencilah kekufuran tetapi usahlah membenci orang yang kufur itu kerana hakikat kekufuran itu terhadap Allah. Biarlah Allah yang menghukum dan menilai. Orang yang berilmu sepatutnya membimbing dan menjadi contoh tunjuk ajar yang baik buat orang-orang yang kufur.

Ada dalam kalangan orang berilmu yang terpedaya dengan dugaan. Sesudah ia memperoleh pangkat dan kedudukan, ia jadi lupa diri. Ia lupa sebenarnya yang suatu ketika dulu ia pernah berada di bawah mengharapkan belas ihsan orang lain. Tetapi apabila ia diangkat duduk di atas kerana keilmuannya, ia jadi tidak berilmu. Ilmu yang terkurung di dada tidak mampu menyuluh jalan padanya lagi. Ilmu itu sudah ditelan sifat takbur, bongkak dan ujub. Sifat kikir itu menelan segala keluhuran dan sifat rendah diri yang ada padanya. Hanya semata-mata ia terpedaya dengan hasutan syaitan, kerana semakin tinggi ilmu dan kedudukan yang diperolehnya, semakin berat ujian dan dugaan yang diberikan oleh Allah bagi menguji kekuatan imannya.

Sifat ujub ini timbul apabila ia merasakan kejayaan yang diperolehnya ialah hasil  penat jerihnya sendiri lantas mendekatkan dirinya kepada kufur nikmat. Ia langsung lupa akan semua itu ialah pemberian Allah semata-mata. Saat ia bangga dengan keujubannya, kelak ia akan ditimpa kehinaan iaitu segala kesalahannya akan terbongkar dan jatuhlah martabatnya di mata manusia.

Segala amal soleh yang ada pada dirinya akan terhakis. Imam At-Tabrani ada meriwayatkan yang bermaksud, “Tiga perkara yang membinasakan iaitu, kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan kekaguman (takjub) seseorang kepada dirinya sendiri (ujub).”

Kata Al-Zahaby, ilmu itu bukan pada zahirnya dengan banyak meriwayat hadis. Namun ia adalah nur yang dicampak ke dalam hati. Syarat utamanya ialah patuh dan ikut serta lari daripada godaan nafsu dan melakukan bidaah.

Menurut Saidina Ali pula, ilmu itu memberi gelombang kepada amal. Jika sekiranya betul, ada penerimaan. Jika sebaliknya,ada penolakan dan ia akan beredar. Oleh itu, selagi orang yang berimu itu mengimani ilmunya, maka ilmu itu akan kekal di jiwa dadanya. Sebaliknya jika ia tidak mengamalkan ilmunya, ilmu itu sendiri akan meninggalkannya dan jadilah ia orang berilmu yang dungu.

Jauhilah sifat ujub yang mampu merosakkan keimanan dan keilmuan seseorang. Jadilah orang berilmu yang tidak dungu.

sahabatku yang baik
Di akhir zaman ini ramai dari kalangan ahli abid (mereka yang banyak amal ibadahnya) tertipu dengan banyaknya ibadah yang telah mereka lakukan. Perkara ini terjadi apabila si ahli abid melakukan setiap ibadah yang dikerjakannya tanpa merasakan perbuatan dan amalannya itu adalah dengan izin dan rahmat Allah jua. Tanpa keizinan Allah, tanpa rahmat dan kasih sayang Allah serta tanpa kudrat dan Iradah dari Allah SWT, kita semua lemah tidak mampu berbuat apa-apa. Kalau tidak kerana Allah SWT yang telah mengizinkan, jangan kata hendak menggerakkan lidah, malah duduk, bangun, rukuí, dan sujud menyembah Allah SWT pun kita tidak akan mampu lakukan.

Maka patutkah kita merasa bangga dan sombong serta merasa hebat sekiranya kita berjaya dan berkebolehan dalam melaksanakan sesuatu amalan? Kalau kita mampu untuk bangun malam beribadah dan banyak melakukan solat sunat hingga kita menjadi abid, siapakah yang hebat? Kita hebatkah atau Allah yang hebat? Tentulah Allah yang hebat kerana Allah telah memberikan kita kemampuan untuk beribadah, kalau kita bersolat, berpuasa, menutup aurat, mampu menulis artikel, punya pangkat dan darjat, memandu dan menunggang kereta atau motosikal atau sebagainya, apakah itu semua keupayaan kita? Tidak sama sekali! Semua itu adalah dengan rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Subhanallah! Tanpa sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim Allah tentu kita akan ingkar dan sesat sepertimana orang kafir tanpa kita sedari. Maka sentiasalah kita melahirkan rasa syukur kepadaNya.

sahabatku yang terhebat.
teringat sebuah kisah yang di jabarkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran tentang sebab terkutuknya Iblis. Yaitu disaat iblis tidak mematuhi perintah Allah SWT untuk bersujud. Maka bersama itu juga iblis menjadi makhluk pertama yang terkutuk.  Ada yang perlu dicermati dibalik penolakan iblis untuk sujud, yang karenanya iblis menjadi terkutuk. Yaitu karena iblis merasa lebih baik dari Nabi Adam AS dan berkata “Ana Khoirun Minhu” (Aku lebih baik dari Adam). Disaat iblis menojolkan ke-AKU-anya itulah awal bencana untuk Iblis.

Bisa kita membuat suatu gambaran akan sebuah cara menjalani hidup iblis yang salah yang terbaca pada masa kehidupan Nabi Adam dengan iblis. Yaitu cara hidup yang mengikuti faham AKU.
Faham AKU adalah faham iblis yang kemuliaan Islam sangat menentangnya. Faham AKU adalah faham kesombongan. Dan inilah yang pernah di isyaratkan Nabi Muhammad SAW bahwa yang menganggap dirinya bersih adalah yang terjerumus dalam jurang kehinaan dan tidak ada yang bisa mengangkatnya kecuali melawan hawa nafsunya yang senang membanggakan diri.

Saat ini kita harus lebih banyak berdoa untuk diri kita sendiri dan saudara-saudara kita yang diam-diam telah menganut fahan AKU ini. Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dan mereka dari terjerumus dalam kehinaan faham AKU ini. Karena saat ini kita sungguh dihadapkan pada suatu suasana yang telah menyuburkan faham AKU ini.
Yang telah di ajarkan Islam, jika ada pengangkatan pemimpin atau orang-orang yang akan mewakili kaum muslimin dalam sebuah tatanan atau tugas besar, yang ada dalam Islam adalah Tazkiyah (rekomendasi) yang di berikan kepada seorang calon pemimpin dan wakil rakyat dari kaum muslimin yang mempunyai wawasan agama dan ketaqwaan.

Artinya penilain baik dan tidaknya seorang calon pemimpin dan wakil rakyat adalah di tetuntukan oleh khalayak yang beriman dan mempunyai wawasan tentang tugas seorang pemimpin dan wakil rakyat. Inilah hal terpenting yang membedakan antara politik Islam dan bukan Islam. Di dalam Islam ada Syuuro yang sering diterjemahkan oleh sebagian orang dengan demokrasi. Padahal sesungguhnya sangat berbeda antara demokrasi dengan Syuuro. Islam tidak mengenal demokrasi karena demokrasi tidak akan menghantarkan kepada pemilihan pemimpin yang benar. Syuroo dalam memilih pemimpin adalah memilih pemimpin oleh orang-orang yang mampu mencemati, memilih, mempelajari dan memahami tugas pemimpin. Sedangkan demokrasi adalah memilih pemimpin oleh semua orang yang mampu berfikir cerdas ataupun yang tidak mampu termasuk orang pikun dan lemah akalpun sama suaranya dengan profesor yang soleh. Barangkali andapun pernah melihat di sebuah pesta demokrasi seorang kakek tua, tuli, kabur penglihatan, sering pikun dan tidak kenal calon A dan calon B harus masuk TPS memilih seorang pemimpin.

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah bersabda ” Janganlah engkau berikan kepemimpinan kepada orang yang memintanya darimu”. Begitu juga kisah Sayyidina Umar bin Khottob yang ingin mengangkat seorang gubernur, beliau minta kepada tokoh-tokoh yang ada untuk merekomendasikan orang-orang yang layak menjadi gubernur. Dan disaat ada orang yang mengajukan satu orang, sayyidina Umar bertanya “ Apa alasanmu memberi rekomendasi terhadap orang itu? Dijawab,” kami saksikan ia sangat rajin di masjid”. Kemudian sayyidina Umar bertanya “ apakah engkau pernah berjual beli dan pinjam meminjam denganya? ” Di jawab “belum ”. Kata sayyidina Umar,” rekomendasimu tidak di anggap, sebab pemimpin dan wakil rakyat harus sudah teruji kejujuranya kepada Allah dan kejujurannya kepada sesama, belum cukup untuk mengangkat seorang pemimpin yang hanya terlihat baik di masjid saja, begitu juga yang tidak kenal masjid tidaklah pantas menjadi pemimpin dan wakil rakyat”.
Riwayat yang kita dengar dari Rasulullah dan Sayyida Umar bin Khottob adalah sebuah pendidikan bagi kita disaat memilih pemimpin dan wakil rakyat. Sekaligus untuk menjauhkan para calon pemimpin dan wakil rakyat dari faham AKU yang menjadikan seorang hamba di kutuk dan di murkai oleh Allah SWT.
Saat inipun kita harus tanggap dan cerdas melihat disekitar kita, begitu banyaknya propaganda faham AKU memenuhi jalan-jalan. Kita sering dikejutkan oleh gambar orang yang tidak pernah kita kenal tampil di jalan-jalan dan mengatakan beragam ungkapan yang menunjukkan bahwa faham AKU nya iblis telah di anut oleh bangsa manusia. Kami tidak mengatakan bahwa mereka tidak layak dipilih akan tetapi kami hanya mencermati bahwa cara memilih calon pemimpin dan wakil rakyat yang benar, bukanlah dengan cara menyuburkan faham AKU-nya iblis. Dan penganut faham AKU tidaklah pantas untuk dipilih. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari faham AKU nya sang iblis ini.

karena yang selalu bilang AKU yang ter…(terbaik, terhebat, terpintar dan sebagainya)  adalah iblis yang menyombongkan dirinya

sahabatku yang aku sayangi karena Allah. saya sampaikan lagi kisah yang kemarin saya pernah muat.

Diriwayatkan seorang pemuda berguru pada gurunya yg shalih, lalu suatu ketika ia diperintah gurunya membeli beberapa hajat di pasar, dan ia kembali dengan wajah marah dan meminta pada gurunya Ismul A’zam, yaitu Nama Allah Yang Maha Agung yg jika seseorang berdoa dg memanggil Allah dg nama itu maka pasti doanya dikabul, tentunya tak sembarang orang mengetahuinya.

gurunya bertanya, kalau kuberi kau Ismul A’zam, apa yg akan kau lakukan?, ia berkata : aku tadi melihat seorang kakek kakek tua renta yg membawa kayubakar dari hutan untuk dijual dipasar, lalu seorang kesatria membeli semuanya dan tak membayarnya, ketika kakek itu menagih uangnya maka kakek itu didorong hingga terjatuh dan ksatria bersenjata itu pergi.

lalu gurunya berkata : kalau kuberi kau ismul a’dham kau mau apa?, muridnya berkata : aku akan berdoa kepada Allah agar kakek itu dimakmurkan Allah dan kesatria itu diberi musibah dan bala atas kejahatannya.

gurunya bertanya : coba ceritakan ciri ciri kakek yg kau liha dipasar itu?

muridnya menceritakannya, maka gurunya berkata : muridku, kakek kakek itu guruku, dia tahu ismul a’dham, dia bisa berdoa pada Allah untuk mencelakai kesatria itu, tapi demikianlah orang yg shalih, semakin tinggi derajatnya ia semakin merendah. subhanAllah..

sahabatku yang baik, Pribadi yang rendah hati biasanya justru memandang bahwa orang lain sebagai ciptaan Tuhan memiliki keunikan dan keistimewaan, sehingga dia senantiasa membuat orang lain merasa penting. Karena sesungguhnya setiap pribadi adalah istimewa. Setiap orang adalah spesial, unik, dan berhak untuk dihargai. Manusia adalah pribadi yang harus diperlakukan khusus. Manusia adalah makhluk yang sangat sensitif. Jika kita meragukan hal ini, lihat diri kita sendiri dan perhatikan betapa mudahnya kita merasa disakiti atau tersinggung.

Ilmu sepatutnya mengajak manusia untuk mengenal dan mentauhidkan Allah. Semakin dalam ilmu yang dipelajari semakin dalami pula lupanya kepada Allah, semakin tinggi ilmunya semakin ia kufur dengan Allah. Tanda ilmu itu tidak berkat, semakin kita menuntut ilmu, semakin angkuh dan sombong pula empunya diri, sama ada dengan Allah maupun sesama manusia. Semakin berilmu semakin rasa diri hebat, tidak langsung merasa hebatnya Allah SWT. Semakin menuntut ilmu, penyakit hati semakin tebal bersarang dalam dada seperti sombong, ego, riak, ujub, takabur, merasa diri mulia, memandang rendah pada orang lain dan sebagainya.

Maka menangislah golongan ahli ilmu yang tertipu dengan ilmunya itu. Menurut Matan Zubat: Ahli ilmu yang fasik akan dibenci oleh Allah dan akan dihumbankan ke dalam lubuk neraka lebih dahulu daripada orang kafir penyembah berhala.

Alangkah beruntungnya ketika Allah SWT minta pengakuan dari hambanya di padang Mahsyar kelak kita dapat menjawab sekurang-kurangnya begini:

Wahai Tuhanku, sesungguhnya dengan ilmu yang Engkau kurniakan padaku, kugunakan sebaik-baik penggunaan. Aku mengajak manusia yang jahil ke arah kebenaran, aku menyeru umat manusia agar menyembahMu, sujud syukur pada-Mu, aku mengajak manusia beriman padaMu, pada Rasul-Mu dan pada hari kemudian, pada syurga dan nerakaMu, ku ajak lagi manusia agar berfikir tentang keagungan dan kehebatanMu menjadikan alim yang terpimpin lagi dikasihi oleh Allah SWT.

Semakin berilmu semakin dia merendah diri, semakin ia merasakan dirinya lebih banyak dosa kalau hendak dibandingkan dengan orang lain, seringkali juga merasakan dirinya tiada apa-apa nilainya, yang ada hanya seribu kelemahan dan kekurangan. Inilah resam padi, makin berisi, semakin tunduk ke bawah. Selamatlah golongan ini. Ilmu yang beginilah yan alam yang luas terbentang itu…...

Begitulah jawaban orang yang dikatakan membawa cahaya kepada mereka yang berilmu. Ilmu merupakan cahaya yang menerangi hidup seseorang insan yang sedang teraba-raba dalam kegelapan.

Seperti kata Imam As-Syafie: “Semakin banyak ilmuku, semakinku insafi diri, bahwa terlalu banyak yang aku tidak ketahui…”

sahabatku yang aku kasihi.

sebagai akhir dari pembahasan ini. kita simpulkan sedikit ;

Sombong adalah sifat yang amat ditentang oleh Islam, karena orang yang menyombongkan diri ia telah melupakan hakekat dan jati dirinya. Andaikata ada orang yang menyombongkan diri di hadapan orang lain, maka hendaknya ia mencari adakah dalam dirinya sesuatu yang bisa dibanggakan? Adakah dalam dirinya sesuatu yang kekal abadi?

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً (النساء : 36)

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (Q, s. an-Nisā’ / 4:36)

Ciri manusia rendah hati  adalah senantiasa berani mengakui kesalahan dan meminta maaf jika melakukan kesalahan atau menyinggung perasaan orang lain. Manusia rendah hati adalah manusia yang sangat peduli dengan perasaan orang lain. Bedakan dengan mereka yang senantiasa peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Orang seperti ini bukan rendah hati, tetapi rendah diri atau tidak memiliki rasa percaya diri, sehingga dia selalu khawatir dengan apa yang akan dipikirkan atau dikatakan orang lain tentang dirinya.

Rendah hati pada hakekatnya bermakna kesadaran akan keterbatasan kemampuan diri, jauh dari kesempurnaan dan terhindar dari setiap bentuk keangkuhan. Rendah hati akan mendorong terbentuknya sikap realistis, mau membuka diri untuk terus belajar, menghargai pendapat orang lain, menumbuh kembangan sikap tenggang rasa, seta mewujudkan kesederhanaan, penuh rasa syukur dan ikhlas di dalam mengemban hidup ini. Rendah hati bukan berarti merendahkan diri dan menutup diri melainkan secara aktif mendengarkan, berbagi, dan berempati sehingga terjalin hubungan harmonis dua arah.

ingatlah kawan ;

Saat kita berusaha mencapai puncak, hal ini laksana mendaki gunung. Agar lebih mudah mendakinya, maka badan kita harus condong ke depan dan pandangan mata ke arah bawah. Pernahkah kita melihat seorang pendaki gunung berjalan sambil menegakkan badan, mendongakkan kepala dan membusungkan dada? Semakin curam jalan yang kita daki, kita pun semakin merunduk, bahkan merayap. Bukankah pada dasarnya panjat tebing dilakukan dengan merayap?

Tatkala sudah di puncak, rendah hati tetap harus menghiasi diri. Angin pasti berhembus lebih kencang ketika kondisi kita di puncak. Agar bisa bertahan bahkan maju terus walaupun terpaan angin begitu besar, maka kita harus berjalan sambil membungkuk. Semakin kencang anginnya, berarti badan kita semakin membungkuk bahkan merayap.

Dengan bersikap rendah hati, berarti kita telah menjaga diri kita sendiri. Dengan bersikap rendah hati, berarti kita telah menempatkan diri di posisi yang nyaman, tenang, damai dan tentram. Jika hati sudah merasa nyaman, damai dan tentram, maka secara otomatis Anda akan tampak bersahaja dan bahagia, subhanaAllah.

Saya yakin sobat adalah orang yang rendah hati, tapi apakah sobat sudah merasa cukup dengan kerendahan hati Anda? Apakah Allah swt. sudah ridha dengan sikap sobat? kerendahan hati menjadi salah satu syarat utama seorang pemimpin, karena hanya dari kerendahan hatilah ia mampu memahami permasalahan yang dipimpinnya. Teruslah berusaha dan memahami makna tawâdu’ (rendah hati ) dan usahakan untuk mengimplementasikannya. Semoga Allah swt. senantiasa bersama langkah kaki kita semua.

“Lihat ke dalam diri. Tanyakan pada hati.” sudahkah kita rendah hati ?

Sesungguhnya rendah hati adalah salah satu ciri orang yang bertakwa Dengannya, orang yang bertakwa mencapai derajat kemuliaan.

“dadio wong sing bisa rumongso aja rumongso bisa ” ( jadilah orang yang bisa merasa, jangan merasa bisa )

wallahu a’lam.

bagaimana denganmu kawan ?

semoga bermanfaat.

lihatlah betapa kecilnya bumi, lalu apa lagi yang bisa kita banggakan, semoga Allah menjadikan kita pribadi yg rendah hati. Amien

bumi kita kecil

 

 

Iklan