danbo kayaBismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. Kadang kita lupa bahwa setiap kata yang terucap dari bibir kita bisa merubah hati setiap orang yang mendengarnya. Apakah kata-kata itu akan membuat senang atau bahkan sebaliknya. Mengubati hati  sangat sukar, kerana hati tidak dapat ditangkap dengan indera penglihatan. Dan kadangkala, kita tidak dapat menyedari bahawa HATI telah terkena berbagai penyakit.
Penyakit sangat cepat menjalar ke hati . Dan hati mudah bergolak. Bila hati  telah tergelincir akan menimbulkan bahaya yang sangat besar. Dan serendah-rendah penyakit hati  adalah HATI yang keras, iaitu HATI yang tidak mahu menerima nasihat.

“Jalan ke sorga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan jalan neraka diliputi oleh perkara-perkara yang disukai oleh syahwat “

seberapa kaya dirimu ? jika ada yang bertanya itu apa yang akan kamu jawab ?

apakah ukuran kaya itu hanya yang bersifat materi yang dapat dilihat mata, harta, rumah mewah, mobil, pangkat yang tinggi, gelar yang bagus apa cuma sebatas itu saja ?

lalu seberapa kaya dirimu ? apa yang membuatmu kaya ?

sebuah kisah semoga kita bisa mendalami maksud tersirat dari kisah dibawah ini …

Ada satu kisah menarik, pada saat akan meninggal, dalam keadaan kritis, Raja terkenal dari Macedonia, yaitu Alexander the Great atau Iskandar Agung… berkata pada para dokter yang merawatnya  :

“Ambillah 1/2 dari kekayaanku, jika kamu dapat mengantarkan aku untuk menemui ibuku sebentar saja “

Dokter menjawab :
“Jangankan separuh, bahkan seluruh kekayaan Baginda diberikan kepada hamba semuanya, hamba pun tidak akan mampu menambah walaupun hanya 1 tarikan nafas saja”

Mendengar jawaban tersebut, air mata pun berlinang di pipi sang Raja, dan dia berkata :
” Seandainya saya tahu begitu berharganya 1 tarikan nafas kehidupan, maka saya tidak akan pernah menyia-niakan waktu hanya untuk mengejar kekuasaan “

Kemudian sang Raja pun berpesan, supaya nanti sewaktu diarak dalam peti mati menuju peristirahatannya yang terakhir, ia minta agar kedua tangannya dikeluarkan, supaya setiap rakyatnya dapat melihat bahwa Alexander Agung yang hebat dan mampu menguasai wilayah terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia ini ternyata harus berpulang denagn tangan kosong…

Tidak memiliki apa-apa dan tidak membawa apa-apa ……..

Kelahiran dan kematian adalah awal dan akhir, yg terpenting dari hidup ini adalah bagaimana kita mengisi kehidupan yang ada diantara ke duanya.

Untuk itu, jangan lupa selalu mengutamakan Tuhan  sang pemberi kehidupan kekal , selalu bersyukur di saat senang maupun menghadapi kesusahan.

Sisihkanlah waktu untuk orang-orang yg terdekat di hati Anda, karena sebenarnya WAKTU  adalah Hadiah paling berharga yang dapat Anda berikan untuk orang-orang yang anda sayangi tanpa harus kesulitan mencarinya karena ia selalu dalam genggaman Anda.

sahabatku yang dirahmati Allah.

Dalam banyak seminar/acara motivasi, terdapat hal yang sering ditanyakan sbb :

Saya sudah menjalankan apa yang dinamakan bekerja keras.

Seperti yang dinasehatkan para motivator, saya pun sudah ikhlas & bersyukur pada pekerjaan saya ini, juga pada kondisi saya. Tetapi kenapa sampai saat ini sepertinya tidak banyak hasilnya, keuangan saya tetap begitu2 saja (tidak kaya). Ini saya sampaikan BUKAN sebagai keluhan, karena saya BERSYUKUR terhadap hidup saya ini, dan saya juga ikhlas.

Dengan keadaan seperti saya yang bersyukur, ikhlas, dan sudah bekerja keras, namun kok tetap tidak kaya ?

maka apa yang seringnya dijawab para motivator, termasuk bapak mario teguh. bacalah jawaban dibawah ini :

JAWABAN ke 1 :

“Kalau anda sudah bekerja keras, tetapi masih juga merasa tidak menghasilkan, coba anda tanyakan pada diri anda sendiri, apakah kerja keras yang anda lakukan itu sudah sesuai dengan rencana yang akan anda hasilkan ?

JAWABAN ke 2 :

Coba kita introspeksi diri, sebenarnya kerja keras kita ini tergolong yang bagaimana ?

Di lingkungan kerja memang kita sibuk bekerja keras, tapi bisa jadi bahwa sebenarnya kerja keras yang kita lakukan itu termasuk salah satu di bawah ini.

kerja keras “ngomongin orang”,

kerja keras “yang tidak sistematis”,

kerja keras “yang mikirin kepentingan sendiri”,

kerja keras “mencari kegiatan2 yang mubazir”,

kerja keras “mencari-cari kesalahan orang”

kerja keras “agar dianggap orang lain kita telah bekerja keras” …  dsb.

Bisa jadi sebenarnya tanpa kita sadari, kitapun termasuk diantara pekerja keras yg di atas itu.

Jadi coba meng-evaluasi diri kita sendiri, benarkah kita telah bekerja keras ?

JAWABAN ke 3 :

Jangan2 kerja keras yang anda lakukan adalah :

“KERJA KERAS untuk Tidak Melakukan Apa pun” …

yang otomatis menjadi “BERHASIL tidak melakukan apa pun”

Yang dimaksud “tidak melakukan apa pun” adalah tidak berusaha melakukan pengembangan diri terhadap yang dikerjakannya, sehingga nilai tambah ke diri kita relatif tidak ada.

Nilai tambah itu bisa berupa kebiasaan yang lebih baik, syukur2 target2 menjadi lebih baik, dsb.

Yang lebih berbahaya adalah bisa jadi anda sebenarnya tidak melakukan apa2 tapi sudah merasa kerja keras.

Ada baiknya menggunakan terapi diri dengan menghadap cermin, sebagaimana disarankan Pak Mario Teguh, tanyakan pada diri anda melalui cermin : “Sebenarnya apa sih yang sudah anda lakukan ?!”

JAWABAN ke 4 :

Kalau ada orang yang secara fisik (plus pikiran sadar) bekerja sangat keras, tetapi secara finansial tidak mendapat banyak, maka itu menunjukkan bahwa MINDSET-nya memang tidak ingin kaya.

Untuk jelasnya ada tiga kondisi di bawah ini yg membuatnya menjadi tidak kaya.

Kondisi  A :

Memang mindsetnya sudah demikian (tidak kaya), dan memang tidak mau untuk mengubah (mengembangkan) mindsetnya.

Yang sangat dominan pada mindset seseorang adalah “PERASAAN”-nya (HATI-nya).

Jadi walau pun pikirannya ingin kaya, namun kalau hatinya tidak ingin kaya, tapi HANYA ingin bahagia dan sehat lahir bathin. Maka kerja keras yg dilakukannya cenderung menghasilkan hidup yang tidak kaya, namun bahagia dan sehat lahir bathin, tidak masalah dan tetap wajib disyukuri hidup yg demikian.

Kondisi B :

Cita-cita sesungguhnya ingin kaya “saja”, bukan ingin bermanfaat bagi orang banyak. Jadi hanya ingin kaya untuk dirinya sendiri.

Cita-cita seperti ini sangat sulit terwujud, walau pun sudah bekerja keras. Karena “KEKAYAAN (HARTA) itu hanya SEBUAH ALAT” untuk mencapai TUJUAN MULIA yaitu “BERMANFAAT bagi orang lain (orang banyak)”.

Seandainya cita2 anda seperti ini, yaitu ingin kaya “saja”. Maka segera diubah cita2 tsb, yaitu menjadi “INGIN BERMANFAAT BAGI ORANG BANYAK”.

 

Dan selanjutnya setiap anda bekerja keras, orientasi dan sasarannya selalu ke arah berusaha agar yang anda kerjakan itu bermanfaat (membantu) orang lain (orang banyak). Maka otomatis anda akan diberi “alat” oleh  Yang Maha Memberi Kekayaan (Al-Mughnii), sedemikian rupa sehingga anda dapat mencapai tujuannya. Alat tersebut pada umumnya adalah “HARTA yang BERLEBIH”. Karena praktis dengan harta yg berlebih, akan semakin banyak yg dapat dilakukan untuk membantu banyak orang (bermanfaat bagi banyak orang).

Kondisi C :

Cita-citanya ingin kaya, namun dalam praktek sehari-harinya tidak sesuai dengan keinginan tersebut.

Misalkan kurang dermawan (alias pelit). Hal ini sama saja dengan “pikirannya” ingin kaya, namun “MINDSET-nya” ingin miskin.

Membiasakan diri tidak dermawan (pelit), akan membentuk perasaan bahwa “HARTA KITA SEDIKIT”, artinya kita “TIDAK KELEBIHAN HARTA”. Otomatis ini akan membentuk “MINDSET tidak kelebihan harta (Mindset tidak kaya)”. Yang tentu saja mindset tidak kaya inilah yang akan membawa diri anda untuk menjadi tidak kaya, bahkan miskin.  Walau pun telah bekerja keras, namun setiap kerja keras itu akan diarahkan oleh mindset kita untuk tidak menghasilkan harta yg berlebih.

Membiasakan diri untuk dermawan (suka memberi dng ikhlas), akan mendorong kita untuk merasakan bahwa kita “seolah-olah kelebihan” harta. Dan ini akan membentuk “MINDSET kelebihan harta (Mindset Kaya)”. Yang tentu saja mindset kaya inilah yang akan membawa diri anda untuk menjadi kaya. Jadi disadari atau pun tidak, otomatis kerja keras anda akan “digiring” oleh mindset anda sedemikian rupa sehingga anda menjadi kelebihan harta (kaya).

sahabatku yang dirahmati Allah, sudah mengerti definisi arti kaya yang sesungguhnya, jika belum maka simaklah, kisah berikut ini :

Satu hari, seorang pengusaha kaya membawa anaknya dalam satu perjalanan keliling negeri dengan tujuan memperlihatkan pada si anak bagaimana miskinnya kehidupan orang-orang di sekitarnya. Mereka lalu menghabiskan beberapa hari di sebuah rumah pertanian yang dianggap si ayah dimiliki keluarga yang amat miskin.
Setelah kembali dari perjalanan mer…eka, si ayah menanyai anaknya :
“Bagaimana perjalanannya nak?”.
“Perjalanan yang hebat, yah”.
“Sudahkah kamu melihat betapa miskinnya orang-orang hidup?,” Si bapak bertanya.
“O tentu saja,” jawab si anak.
“Sekarang ceritakan, apa yang kamu pelajari dari perjalanan itu,” kata si bapak.
Si anak menjawab :
Saya melihat bahwa kita punya satu anjing, tapi mereka punya empat anjing.
Kita punya kolam renang yang panjangnya sampai pertengahan taman kita, tapi mereka punya anak sungai yang tidak ada ujungnya.
Kita mendatangkan lampu-lampu untuk taman kita, tapi mereka memiliki cahaya bintang di malam hari.
Teras tempat kita duduk-duduk membentang hingga halaman depan, sedang teras mereka adalah horizon yang luas.
Kita punya tanah sempit untuk tinggal, tapi mereka punya ladang sejauh mata memandang.
Kita punya pembantu yang melayani kita, tapi mereka melayani satu sama lain.
Kita beli makanan kita, tapi mereka menumbuhkan makanan sendiri.
Kita punya tembok disekeliling rumah untuk melindungi kita, sedangkan mereka punya teman-teman untuk melindungi mereka.
Ayah si anak hanya bisa bungkam.
Lalu si anak menambahkan kata-katanya : “Ayah, terima kasih sudah menunjukkan betapa MISKIN-nya kita…

sahabatku yang dirahmati Allah.

Kekayaan itu letaknya di hati, tempat kita bercermin. Kaya sejati berarti tidak membutuhkan sesuatu kepada siapa pun. Maka yang paling kaya adalah Allah SWT. Dialah Al – ghaniyyu Mughni, yang Maha Kaya dan Memiliki Kekayaan. Sedangkan manusia, hanya di titipkan kekayaan dan tidak memilkinya secara hakiki. Dan manusia senantiasa faqir (butuh) pada-Nya secara fitrah, sebagaimana yang telah Dia firmankan : Bahwa seluruh manusia membutuhkan diri-Nya, dan Dia, Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Dan terhadap nikmat Tuhan-Mu, maka hendaklah kamu menyebut – nyebutnya (dengan bersyukur) “Surah ke 93 Ad-Dhuha – 11”

Harkat, derajat dan martabat seseorang tidak menjadikan orang itu pandai menjaga hati. Kadang, merasa harkat, derajat dan martabat kita lebih tinggi dari pada orang lain justru membuat kita menyepelekan orang lain. Kaya harta tidak membuat orang menjadi kaya hati, menjaga hatilah yang terpenting, merunduk tanpa pandang siapa yang berada di hadapan kita, tanpa mengukur seberapa tinggi harkat dan martabatnya. Karena tak ada yang tahu, seberapa tinggi harkat, derajat dan martabat kita di hadapan Allah.

pertanyaan yang muncul kemudian adalah :
Seberapa kuatkah sukma cinta umat-nya Rasulullah menghunjam di batin para pemimpin dan diri kita ketika para pejabat negara bahkan diri ini sendiri mendapat mobil mewah, rumah mewah, fasilitas dan gaji mewah dikelilingi puluhan juta rakyat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan; bayi-bayi kurang gizi dan fasilitas umum untuk rakyat yang tidak memadai ?

Seberapa kuatkah kebersahajaan dan kesederhanaan Rasulullah dihayati oleh para pejabat bangsa kita di semua level ketika kontras para pempimpin dan rakyat begitu tegas; gaya hidup mereka begitu berjarak dan para pemimpin sibuk bersolek menjaga citra agar rakyat terpesona kepada raganya, bukan mencintai hati, ruh dan karya besarnya. ?

Seberapa kuatkah spirit kedermawanan Rasulullah dihayati oleh orang-orang kaya kita di tengah masih banyak orang kaya dan perusahaan-perusahaan besar yang tidak taat pajak dan tidak taat zakat apalagi untuk bersedekah dan mengarusutamakan amal sosial dan pilar kekuatan umat seperti wakaf untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat?

sahabatku semua yang Aku sayangi karena Allah.

sangatlah jelas bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sangat bergantung pada cara pandang kita dalam melihat kejadian-kejadian itu? Jika kita masih bisa berbuat baik, punya teman, keluarga, masih sehat, masih bisa bergurau dan mencintai hidup, itu berarti kita punya segalanya! Itu berarti kita sudah kaya! Semua hal itu tidak bisa ditukar dengan uang sebesar apa pun. Kita mungkin punya segala harta benda, punya tabungan yang cukup untuk masa depan. Tapi jika jiwa dan hati kita miskin, segala kekayaan tadi tidak ada artinya! Jika kita tidak punya hati yang positif, kita lebih miskin daripada orang yang miskin harta.

Dengan demikian, kekayaan sebenarnya bukan terletak pada banyak sedikitnya harta, tetapi bagaimana kondisi hati dan jiwanya. Jika seseorang tetap merasa kurang padahal seluruh harta sudah dimiliki, maka dia sebenarnya adalah orang yang miskin. Sedangkan orang yang tampak biasa-biasa saja tapi hati dan jiwanya penuh dengan rasa syukur dan ketentraman serta jauh dari rasa kekurangan, maka dia lebih kaya dari orang yang pertama

sebagai penutup renungan hari ini, kisah penutup pada zaman Rasulullah saw

Ketika mendengar suara hiruk-pikuk, Aisyah sontak bertanya, “Apakah yang telah terjadi di kota Madinah?”
“Kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya,” seseorang menjawab.
Ummul Mukminin berkata lagi, “Kafilah yang telah menyebabkan semua ini?”
“Benar, ya Ummul Mukminin. Karena ada 700 kendaraan.”

Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya. Pandangannya jauh menerawang seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat dan didengarnya.
Kemudian ia berkata, “Aku ingat, aku pernah mendengar Rasululah berkata, `Kulihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan.”
Sebagian sahabat mendengar itu. Mereka pun menyampaikannya kepada Abdurrahman bin Auf. Alangkah terkejutnya saudagar kaya itu. Sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskan, ia segera melangkahkan kakinya ke rumah Aisyah.
“Engkau telah mengingatkanku sebuah hadits yang tak mungkin kulupa.” Abdurrahman bin Auf berkata lagi, “Maka dengan ini aku mengharap dengan sangat agar engkau menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut ken¬daraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah.”
Dan dibagikanlah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya. Sebuah infak yang mahabesar.
Abdurrahman bin Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya. Bukan seorang budak yang diken¬dalikan oleh hartanya. Sebagai bukti, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkan harta ke¬mudian menyimpannya. Ia mengumpulkan harta dengan jalan yang halal.
Kemudian, harta itu tidak ia nikmati sendirian. Keluarga, kaum kerabatnya, saudara-saudaranya dan masyarakat ikut juga menikmati kekayaan Abdurrahman bin Auf.
Saking kayanya Abdurrahman bin Auf, seseorang pernah berkata, “Seluruh penduduk Madinah bersatu dengan Abdur¬rahman bin Auf. Sepertiga hartanya dipinjamkan kepada mereka. Sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar utang-utang mereka. Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikan kepada mereka.”
Abdurahman bin Auf sadar bahwa harta kekayaan yang ada padanya tidak akan mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya jika tidak ia pergunakan untuk membela agama Allah dan membantu kawan-kawannya. Adapun, jika ia memikirkan harta itu untuk dirinya, ia selalu ragu saja.
Pada suatu hari, dihidangkan kepada Abdurahman bin Auf makanan untuk berbuka puasa. Memang, ketika itu ia tengah berpuasa. Sewaktu pandangannya jatuh pada hidangan tersebut, timbul selera makannya. Tetapi, beberapa saat kemudian ia malah menangis dan berkata, “Mush’ab bin Umair telah gugur sebagai seorang syahid. Ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku. Ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya, maka kelihatan kakinya. Dan jika ditutupkan kedua kakinya, terbuka kepalanya.”
Abdurrahman bin Auf berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan dengan suara yang juga masih terisak dan berat, “Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku. Ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir telah didahulukan pahala kebaikan kami.”
Begitulah Abdurrahman bin Auf. Ia selalu takut bahwa hartanya hanya akan memberatkan dirinya di hadapan Allah. Ketakutan itu sering sekali, akhirnya menumpahkan air matanya. Padahal, ia tidak pernah mengambil harta yang haram sedikitpun.
Pada hari lain, sebagian sahabat berkumpul bersama Abdurrahman bin Auf menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama setalah makanan diletakkan di hadapan mereka, tiba-tiba ia kembali menangis. Sontak para sahabat terkejut. Mereka pun bertanya, “Kenapa kau menangis, wahai Abdurrahman bin Auf?”
Abdurrahman bin Auf sejenak tidak menjawab. Ia menangis tersedu-sedu. Sahabat benar-benar melihat bahwa be¬tapa halusnya hati seorang Abdurrahman bin Auf. Ia mudah tersentuh dan begitu penuh kekhawatiran akan segala apa yang diperbuatnya di dunia ini.
Kemudian terdengar Abdurrahman bin Auf menjawab, “Rasulullah saw. wafat dan belum pernah beliau berikut keluarganya makan roti gandum sampai kenyang. Apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan?”
Jika sudah begini, bukan hanya Abdurrahman bin Auf yang menangis, para sahabat pun akan ikut menangis. Mereka adalah orang-orang yang hatinya mudah tersentuh, dekat dengan Allah dan tak pernah berhenti mengharap ridha Allah.

sahabatku yang dirahmati Allah.

Ingat perkataan Umar bin Khattab bahwa ia tak pernah bisa mengalahkan amal sholeh Abu Bakar? Itu artinya, siapapun tak bisa menandingi jumlah sedekah dan infaqnya Abu Bakar As-Shiddiq.
Lantas, bagaimana dengan kekayaan Umar bin Khattab sendiri? Khalifah setelah Abu Bakar itu dikenal sangat sederhana. Tidur siangnya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan ia hampir tak pernah makan kenyang, menjaga perasaan rakyatnya. Padahal, Umar adalah seorang yang juga sangat kaya. Ketika wafat, Umar bin Khattab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sebesar Rp 160 juta—perkiraan konversi ke dalam rupiah. Itu berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp 11,2 Triliun. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan Rp 40 juta, berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp 2,8 Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar sebulan.
Umar ra memiliki 70.000 properti. Umar ra selalu menganjurkan kepada para pejabatnya untuk tidak menghabiskan gajinya untuk dikonsumsi. Melainkan disisakan untuk membeli properti. Agar uang mereka tidak habis hanya untuk dimakan.
Namun begitulah Umar. Ia tetap saja sangat berhati-hati. Harta kekayaannya pun ia pergunakan untuk kepentingan dakwah dan umat. Tak sedikit pun Umar menyombongkan diri dan mempergunakannya untuk sesuatu yang mewah dan berlebihan.
Menjelang akhir kepemimpinan Umar, Ustman bin Affan pernah mengatakan, “Sesungguhnya, sikapmu telah sangat memberatkan siapapun khalifah penggantimu kelak.” Subhanallah! Semoga kita bisa meneladani Umar bin Khattab.

biridhoi Alfatehah…..

Ya Allah… aku ingin memasuki surga-Mu, dari berbagai pintu yang Kau janjikan, yang salah satunya adalah pintu kedermawanan. Maka “ Jadikan aku orang kaya…Ya  Allah….”. agar suatu saat nanti, aku mampu bermunajat kepada-Mu dengan sebuah do’a yang pernah diucapkan oleh Abdurrahman bin Auf sahabat Rasul: ” Ya..Allah, janganlah kau letakkan dunia dalam hatiku…Tapi letakkanlah ia di bawah telapak kakiku!”

Ya ALLAH.. Izinkan kami KAYA RAYA.. KAYA harta, KAYA hati, KAYA iman, KAYA taqwa, KAYA pahala, KAYA kebaikan, KAYA keikhlasan..

ya Rabbi. .jadikan kami ridho atas apa yg sudah Kau tetapkan.. dan jadikan berkah apa yg sudah Kau takdirkan.. Aamiin

semoga bermanfaat.

disarikan dari berbagai sumber
Iklan