bahagia itu pilihanbismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, sungguh betapa indahnya jika hidup dalam balutan keimanan, segala sesuatu disyukuri makan yang enak disyukuri, tidak enak disyukuri, sehat disyukuri, sakit disyukuri, kaya disyukuri miskin disyukuri, cerdas disyukuri dan  beriman adalah puncak dari syukur itu sendiri. karena apa sejatinya bukan yang baik-baik saja yang harus kita syukuri, yang seringkali kita anggap kurang baikpun harus senantiasa disyukuri. jika seandenya kita tahu maksud Allah menimpakan yang tidak baik itu, maka kita akan senantiasa bersyukur berulang-ulang kali. sungguh betapa bahagianya punya hati yang pandai bersyukur. bener gak kawan ?

sahabatku, Pernahkah kita bertanya dengan diri kita, adakah kita ini di antara orang yang bahagia? Setiap manusia mempunyai insting untuk mencari kenyamanan bahkan kebahagiaan, sedangkan kata-kata bijak menghimbau agar kita kluar dari zona nyaman, namun sebenarnya sama saja keluar dari zona nyaman atau tidak karena saat seseorang memilih untuk keluar dari zona nyaman sekarang sesungguhnya dia sedang mencari kenyamanan dikemudian hari. atau bahkan zona aman itu adalah zona yang tidak aman pada hakekatnya.

inget syiir tanpa waton gusdur ” uripe ayem rumangsa aman, dununge rasa tanda yen iman” Ada yang berpendapat mencari kebahagiaan itu ibarat mengutip serpihan kaca yang pecah. Ada yang berjaya mengutip dengan banyak dan ada yang megutip paling sedikit.Tapi tiada seorang pun yang berjaya mengutip kesemuanya. Kerana tatkala mengutipnya pasti ada yang terluka. betul tidak ?

so, apa arti kebahagian itu ? dimana kita bisa mencarinya ?

sebuah kisah semoga bisa menjawab pertanyaan diatas :

Alkisah, ada lelaki tua yang berjalan masuk ke sebuah restoran dengan langkahnya yang terseret-seret. Dengan kepala yang dimiringkan dan bahunya yang berposisi agak membungkuk ke depan, lelaki itu bersandar pada tongkat andalannya dengan langkah-langkah yang tidak terburu-buru.

Jaket kainnya yang terlihat sobek-sobek, celana panjangnya yang bertambal, sepatunya yang usang, dan kepribadiannya yang hangat membuatnya tampil berbeda dari pengunjung lainnya di Sabtu pagi itu. Yang tak terlupakan adalah kedua matanya yang berkilau bagai intan, pipinya yang lebar dan kemerahan, serta bibir tipisnya yang membentuk senyuman hangat.

Langkahnya terhenti, dan ia pun membalikkan badan, berkedip pada seorang anak kecil yang duduk di dekat pintu. Anak itu membalasnya dengan cengiran lebar. Seorang pelayan muda bernama Nina memperhatikannya berjalan terseret-seret menuju sebuah meja di samping jendela.

Nina menghampiri lelaki tua itu, dan berkata, “Mari, Pak, saya bantu Anda duduk.”

Tanpa berkata apa pun, lelaki tua itu tersenyum dan mengangguk sebagai ucapan terima kasih. Nina menarik kursi dari meja. Dengan satu tangannya, Nina membantu lelaki itu duduk di kursi hingga merasa nyaman. Lalu, si pelayan menarik meja ke dekat lelaki tua itu, dan menyandarkan tongkatnya pada meja agar mudah dijangkaunya.

Dengan suara yang jernih dan lembut, lelaki itu berkata, “Terima kasih, dan semoga kamu mendapat berkah atas kebaikanmu.”

“Sama-sama, Pak,” jawab si pelayan. “Nama saya Nina. Saya akan kembali sebentar lagi dan kalau perlu sesuatu, panggil saja saya.”

Setelah lelaki tua itu menghabiskan makanan dan minumannya, Nina membawakan uang kembalian. Lelaki itu meletakkannya di atas meja. Nina membantu lelaki itu bangkit dari kursi dan keluar dari mejanya. Nina memberikan tongkatnya dan menggandengnya hingga ke pintu depan.

Sambil membukakan pintu, Nina berkata, “Silakan datang kembali, Pak!”

Lelaki tua itu berbalik, berkedip dan tersenyum, lalu mengangguk sebagai ucapan terima kasih. “Tentu saja,” katanya lembut.

Ketika Nina membersihkan meja yang tadi dipakai lelaki itu, ia hampir saja pingsan. Di bawah piring, ia menemukan sebuah kartu nama dan pesan di sebuah tisu dengan tulisan tangan yang agak acak-acakan. Di bawah tisu itu terselip lima lembar uang seratus ribu rupiah.

Pesan pada tisu itu berbunyi demikian: “Dear Nina, saya sangat menghormati kamu dan saya bisa lihat bahwa kamu pun menghormati diri sendiri. Itu terlihat dari caramu memperlakukan orang lain. Kamu telah menemukan rahasia kebahagiaan. Sikap hangatmu itu akan terpancar ke semua orang yang kamu jumpai.”

Ternyata setelah diselidiki, lelaki tua yang dilayani Nina tadi adalah pemilik restoran tempatnya bekerja. Inilah kali pertama Nina dan juga para karyawan lainnya melihatnya secara langsung.

Temukan kebahagiaan sejati dari cara kita memperlakukan orang lain ! Luar Biasa!

sahabatku yang baik hatinya,

Dalam hidup kita akan selalu menghadapi pilihan. Kita bisa memilih pandangan yang pesimis dan hidup dalam kesendirian, atau bisa mengambil pandangan hidup yang optimis untuk tantangan dalam mengisi hidup ini. Cara pandang hidup juga akan mempengaruhi masa depan seseorang. Karena cara pandang hidup inilah yang akan menjadi cara hidup. Dari cara hidup, akan menentukan cara bersikap. Dan dengan sikap, orang akan menemukan karakter kuat yang tidak hanya mempengaruhi pribadi-nya tapi juga linkungan sekitar. Cerita motivasi berikut semoga bisa membantu menentukan kacamata kehidupan yang tepat.

coba baca kisah kedua ini :

Seorang ibu menyuruh seorang anaknya membeli sebotol penuh minyak. Ia memberikan sebuah botol kosong dan uang sepuluh ribu. Kemudian anak itu pergi membeli apa yang diperintahkan ibunya. Dalam perjalanan pulang, ia terjatuh. Minyak yang ada di dalam botol itu tumpah hingga separuh. Ketika mengetahui botolnya kosong separuh, ia menemui ibunya dengan menangis, “Ooo… saya kehilangan minyak setengah botol! Saya kehilangan minyak setengah botol!” Ia sangat bersedih hati dan tidak bahagia. Tampaknya ia memandang kejadian itu secara negatif dan bersikap pesimis.

Kemudian, ibu itu menyuruh anaknya yang kedua untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh ribu lagi. Kemudian anaknya pergi. Dalam perjalanan pulang, ia juga terjatuh. Dan separuh minyaknya tumpah. Ia memungut botol dan mendapati minyaknya tinggal separuh. Ia pulang dengan wajah berbahagia. Ia berkata pada ibunya, “Ooo… ibu saya tadi terjatuh. Botol ini pun terjatuh dan minyaknya tumpah. Bisa saja botol itu pecah dan minyaknya tumpah semua. Tapi, lihat, saya berhasil menyelamatkan separuh minyak.” Anak itu tidak bersedih hati, malah ia tampak berbahagia. Anak ini tampak bersikap optimis atas kejadian yang menimpanya.

Sekali lagi, ibu itu menyuruh anaknya ketiga untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh ribu. Anaknya yang ketiga ini pergi membeli minyak. Sekali lagi, anak itu terjatuh dan minyaknya tumpah. Ia memungut botol yang berisi minyak separuh dan mendatangi ibunya dengan sangat bahagia. Ia berkata, “Ibu, saya menyelamatkan separuh minyak.”

Tapi anaknya yang ketiga ini bukan hanya seorang anak yang optimis. Ia juga seorang anak yang realistis. Dia memahami bahwa separuh minyak telah tumpah, dan separuh minyak bisa diselamatkan. Maka dengan mantap ia berkata pada ibunya, “Ibu, aku akan pergi ke pasar untuk bekerja keras sepanjang hari agar bisa mendapatkan lima ribu untuk membeli minyak setengah botol yang tumpah. Sore nanti saya akan memenuhi botol itu.”

Pilihan ada ditangan kita untuk menggunakan kacamata kehidupan yang buram, atau kacamata yang terang. Namun, semua itu tidak bermanfaat jika kita tidak bersikap realistis dan mewujudkannya dalam bentuk KERJA NYATA.

apa yang bisa kita simpulkan dari 2 kisah yang berbeda namun maksudnya sama ini

kebahagiaan adalah sebuah perasaan yang positif dan menggairahkan, yang setiap manusia bisa rasakan dari hatinya yang terdalam. Banyak orang berusaha mencari kebahagiaan di tempat-tempat yang salah dan justru berakhir dengan kehidupannya yang jauh lebih menderita dari sebelumnya.

Mengapa hal ini bisa terjadi? … Ini karena kita mencarinya diluar diri kita. Kita mengharapkan sesuatu atau seseorang memberikan perasaan bahagia tersebut pada kita.

Seorang bijak bernama Rumi suatu saat pernah berkata, ”Kita mencari kalung permata dari ruangan ke ruangan yang sebetulnya ada di leher kita sendiri.” Ini pun sama ketika kita berusaha mencari kebahagiaan. Kita mencarinya ”kemana-mana”, dan kita tidak pernah dengan persis mengetahui dimana kebahagiaan tersebut berasal.

kenapa manusia selalu mencari kebahagiaan?

Sedangkan dia sadar kebahagiaan itu tidak akan ada habisnya untuk dicari dan selalu meningkat atau tambah indikator-indikator kebahagiaan dari setiap pribadi manusia. Permasalahan yang cukup manusiawi adalah merasa diri sendiri tidak sebahagia orang lain, walaupun sebenarnya dia cukup sadar pasti ada orang yang berpandangan bahwa dirinya lebih bahagia dari orang tersebut.

Banyak orang berkata materi tidak pasti membuat orang yang memilikinya bahagia, begitupun kebahagiaan tidak lantas membuat kita terhindar dari masalah. Tidak ada kebahagiaan utuh dalam diri manusia, dan hal tersebut artinya tidak bisa juga dibilang bahagia. Bahagia bukanlah suatu benda namun terkadang manusia senang untuk membendakan kebahagiaan.

Kalau begitu, ternyata ukuran bahagia itu tidak terletak pada banyaknya harta, bukannya pada jawatan dan kedudukan maupun yang lainnya ?

Allah SWT berfirman:

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S.An-Nahl (16) : 97).

satu-satunya cara memperoleh kebahagiaan atau kehidupan yang baik itu adalah dengan mengerjakan amal-amal sholeh; iaitu taat pada suruhannya dan menjalankan segala perintah serta larangan-Nya. Inilah konsep kebahagiaan yang hakiki; yaitu tujuan hidup kita di dunia ini, baik dalam belajar, bekerja, ataupun berusaha, hanya satu saja “Mendapatkan Ridha Allah SWT<

sahabatku semua yang dirahmati.

kunci kebahagiaan sebenarnya sangat sederhana, jika ingin bahagia maka bahagiakanlah orang lain, sederhana bukan, memang dalam prakteknya untuk membahagiakan orang lain itu susah, jika dalam diri saja blum merasa bahagia maka tak mungkin bisa membahagiakan orang lain. kita tidak usah tertipu dengan berbagai kemewahan baik pakaian, mobil dan ruman mewah yang dimiliki orang-orang kaya. karena sesungguhnya kesedihan dan kesulitan yang disebabkan harta kekayaan, jauh berlipat daripada kenikmatan yang dijanjikan

sebenarnya orang kaya tidak lain adalah budak dari kekayaan yang dimiliki. apalagi jika ia melakukan transaksi yang mengandur riba, korupsi kemudian tidak mau membayar zakat, tidak mau menunaikan kewajiban-kewajiban yang terdapat didalam harta kekayaannya maka sudah sempurnalah kerugian yang akan diterimanya, tinggal nunggu waktunya tiba saja. harta yang melebihi dari kebutuhan tidak lain adalah kesibukan yang melelahkan, kesedihan dan kesengsaraan. Sebaik-baik cara hidup adalah hidup yang cukup dan sekadarnya saja. oleh karena itu janganlah kamu menyimpan keinginan untuk bisa jadi seperti orang-orang kaya tersebut, karena apa ? sesungguhnya hati dan pikiran mereka tidak pernah tenang, karena selalu memikirkan harta kekayaan yang mereka miliki.

orang akan lebih bahagia jika seseoreang tersebut memiliki rejeki yang cukup, istiqamah didalam menjalankan perintah Allah swt dan dikarunia sifat qanaah ( rela dan puas atas apa yang diberikan kepadanya ). orang-orang semacam inilah yang biasanya terjauhkan dari kesedihan dan kesusahan, kelak diakherat beban hisap diakherat pun ringan, lah hartanya sedikit secukupnya saja. Diapun bisa hidup lebih bahagia dari orang-orang kaya tersebut. ketika lapar ia bisa makan, ketika haus ia menemukan air untuk diminum, ketika lelah ia bisa istirahat, bisa tidur istirahat dengan baik. dia hidup didalam kebahagiaan dan ketentraman.

inilah sesungguhnya kebahagian itu, bersyukur atas apa yang Allah berikan kepadanya.  orang yang sederhana, ceria, apa adanya, suka menggembirakan orang lain. itulah orang yang paling berbahagia

pertanyaan yang akan muncul, apakah kita sudah termasuk bagian dari orang tersebut …?

sahabatku yang dirahmati Allah

Orang banyak mengatakan: ”Bahagia itu adalah kepuasan hati.” Tapi pernahkah kita berfikir bahwa manusia tidak akan pernah puas? Selagimana ia berada di dunia ia pasti berhadapan dengan kekurangan. Kurang popular, kurang kaya, kurang cantik, kurang sihat dan pelbagai tuntutan nafsunya yang tidak akan pernah terpenuhi dengan sempurna. Selamilah dasar hati anda, percayalah bahawa sesungguhnya bahagia itu ada pada sifat redha. Ia bagaikan ubat yang menyejukkan orang yang demam. Seperti rimbunan pohon di tengah panas yang terik, umpama hembusan angin yang sepoi-sepoi bahasa memujuk hati yang luka. Sesungguhnya apa-apa yang datang kepada kita adalah baik belaka kerana Allah SWT lebih mengetahui apa yang ’sesuai’ untuk kita. Dia yang memilih, yang Maha sempurna aturan-Nya, yang suci dari cacat cela atas segala pentadbiran-Nya. Berhentilah mencari keluar apa yang sebetulnya bisa anda temukan di dalam diri anda. Buatlah keputusan untuk berbahagia.

Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya bernilai baik. Jika mendapat kebaikan dia bersyukur, dan itu baik untuknya. Dan jika tertimpa keburukan dia bersabar, dan itu baik untuknya.

(HR. Muslim)

Betapa sengsaranya orang yang tiada sifat ridha. Hidup tidak tenang, dikejar rasa takut, hati rasa kosong padahal peti besinya penuh dengan duit. Segala hiburan dan perhiasan dunia memang boleh mendatangkan bahagia tapi bukan bahagia yang ’diam’ dalam hati, ia cuma menempel sebentar di dinding hati kemudian lenyap begitu cepat. Carilah bahagia yang hakiki di atas jalan yang telah dibentangkan oleh kekasih Allah, Muhammad SAW. Bahagia itu adalah ridha. Cukup senang formulanya tetapi susah dilakukan kecuali oleh orang yang bijak mengawal perasaan lagi beriman.

bersyukurlah atas nikmat yang dikurniakan kepadamu, nescaya kesyukuran itu akan membahagiakanmu.

bersabarlah atas apa yang menimpamu nescaya kesabaran itu akan membahagiakanmu.

Dengan izin Allah, kebahagiaan dunia yang kamu cari, kebahagiaan akhirat yang akan kamu temui.

“Hitunglah kesyukuranmu, bukan kekuranganmu.” maka engkau akan bahagia

“berbahagialah, maka engkau akan bahagia “

bagaimana menurutmu sahabatku ? sudahkah engkau merasa bahagia ?

ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki halalmu sehingga kami terjauhklan dari rezeki yang engkau haramkan, cukupkanlah kami dengan karuniamu, sehingga kami tidak butuh kepada selainmu.

semoga bermanfaat.

Iklan