egois diribismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, hidup di kota metropolitan segala sesuatunya yang menuntut serba cepat, seba canggih, serba instan, serba bisa dan serba -serba lainnya maka tak jarang karena mementingkan akibat dari “serba” itu seringkali meningkalkan bagian terpenting dalam berkehidupan. maraknya ekses-ekses negative dipertontonkan, di media elektronik, di tv dimedia cetak, koran, majalah tabloid sehingga memaksa kita mengikuti apa yang disuguhkan tanpa menelaah dan berfikirf baik serta buruknya. maka benar adanya, hidup dalam balutan metropolitan selalu memicu keegoisan terbesar dalam diri.

apakah kita bersaudara ? pertanyaan ini muncul saat banyak orang yang merasa tak peduli dg orang-orang disekitarnya, banyak yg sibuk dg pekerjaannya, sehingga untuk sekedar menyapa teman lama cuma sekedar sms “assalamualaikum” pun tidak pernah. apa ini yang namanya saudara, apa ini yang namanya berteman ?. kita mempunyai tv 32 inch, punya kulkas dengan isinya yg lengkap, punya kasur yg empuk, punya rumah yg bagus, punya mobil tipe terbaru kita nikmati sendiri, sementara mungkin ada saudara kita yang tidak tahu bisa makan atau tidak hari ini, kita biarkan saja, kita tak mau ikut campur urusannya ‘parah bukan” apakah ini yang namanya saudara, jika keegoisan dalam diri masih menguasai.

kita harus jujur, kadang kalau kita susah, kita berlari kesana kemari, kesaudara-saudara kita minta bantuan, sementara kalau kita kaya, berkecukupan, kita tutup rapat-rapat agar tak ada saudara yg datang memohon bantuan. ada uang, bilang tidak ada, bisa menolong bilang tidak bisa menolong. apakah pantas dianggap bersaudara ?

itu baru tingkatan kecil bersaudara dengan saudara, bagaimana dalam tingkatan bersaudara dalam naungan muslimin walmuslimat ? apakah bisa terjalin dengan baik ? padahal segala sesuatu itu dimulai dari kecil dan kecil itu selalu cerminan dari yang besar. terus dimana posisi kamu berada ?

sebuah kisah menarik semoga bisa menjawab pertanyaan yg telah saya ajukan.

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia tidak pernah mensyukuri betapa baiknya kehidupan yang dia miliki. Dia terus bermain, menggangu sanak keluarganya kalau mereka tidak mau bermain apa yang dia ingin main. Tetapi, ketika dia mau minta maaf, dia selalu berkata, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”

baca kisah cahaya hati selengkapnya…….

Iklan