Sabarbismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. “seseorang harus bisa belajar dari orang lain” begitu sebuah kalimat yang pernah saya baca pada sebuah buku, dalam kaitan konteks yang sederhana saja berarti orang itu membutuhkan orang lain untuk bisa memasyarakatkan diri dan kehidupannya.

berkumpulnya orang – orang yeng cerdas dan alim untuk mengkaji ilmu, mengemukakan pendapat, memecahkan masalah yang rumit demi kemasylahatan ummat adalah berkah tersendiri bagi kita semua,

bayangkan dulu para ulama kaku menguraikan dasar-dasar hukum agama, kaku menafsirkan alquran dan hadist, apa yang akan terjadi ? bisa jadi akan banyak pertentangan dimasa depan, karena berbeda sedikit saja dengan alquran hadist, ya gak ?

lalu apakah sebuah pendapat dapat mengatarkan seseorang masuk syurga ?

apakah ada yang bisa menjelaskan ?

sebuah kisah menarik, semoga bisa menjawab pertanyaan yang saya kemukakan..

Sibawaih yang memiliki nama asli Amr ibn Abbas adalah salah satu tokoh ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu terutama ilmu tata bahasa Arab yang dikenal dengan nama Nahwu. Beberapa hari setelah meninggalnya ulama yang dikenal sebagai orang yang tubuhnya mengeluarkan aroma buah apel ini, salah seorang sahabat beliau bermimpi bertemu dengannya yang tengah menikmati kemegahan di alamnya

Awal mula beliau menimba ilmu pengetahuan di daerah Syairaz, kemudian dengan semangat beliau dan keinginan yang sangat kuat untuk menambah ilmu pengetahuan dibidang kebudayaan agama islam, maka beliau mendatangi negeri Bashrah, ketika itu umur beliau masih kecil.

Bertemulah Sibawaihi dengan para ahli fiqh, hadits di negeri Bashrah, dan melazimi menghadiri pengajian syaikh Hammad ibn Salmah ibn Dinar seorang ahli hadits yang sangat terkenal pada masa itu, akan tetapi karena lemahnya bacaan hadits Sibawaihi, oleh gurunya mengganti pelajaran menjadi ilmu Nahwu, dan beliau berkata” Seandainya aku seperti engkau, aku akan mencari ilmu sehingga orang-orang tidak bisa menyalahkan bacaanku”
Setelah itu Imam Sibawaihi mengambil ilmu Nahwu kepada syaikh Khalil, syaikh Yunus ibn Habib dan syaikh Isa ibn Umar dan masih banyak lagi. Sedangkan ilmu bahasa beliau mengambil kepada syaikh Abu al-Khattab al-Akhfasy

salah seorang sahabat beliau bermimpi bertemu dengannya yang tengah menikmati kemegahan di alamnya. Sang Sahabat melihat Imam Sibawaih sedang memakai pakaian yang sangat mewah dengan hidangan beraneka warna disekitarnya serta dikelilingi oleh beberapa bidadari rupawan di sebuah tempat yang sangat indah mempesona. Sahabat itupun bertanya kepada Imam Sibawaih, gerangan apa yang membuatnya menerima kemulyaan begitu rupa. Imam Sibawaih kemudian menceritakan pengalamannya ketika ditanya oleh malaikat di dalam kubur.  Ketika malaikat sudah menanyakan pertanyaan-pertanyaan kubur yang seluruhnya dapat dijawab dengan baik, malaikat bertanya kepadanya :

“Tahukah anda, perbuatan apa yang telah membuat anda bisa menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan kami tadi ?”
“Apakah karena ibadah saya?” Imam Sibawaih mencoba menebak.
“Bukan itu!” kata Malaikat.
“Apakah karena karangan-karangan saya?”
“Bukan!”
”Berbagai jawaban yang diberikan oleh Imam Sibawaih tidak ada yang dibenarkan oleh Malaikat.
Hingga akhirnya Imam Sibawaih menyerah karena tidak mengetahui jawaban sebenarnya.
“Allah SWT telah menyelamatkan anda sehingga anda dapat menjawab pertanyaan kubur dengan baik adalah karena pendapat anda yang menyatakan bahwa yang paling ma’rifat dari semua isim ma’rifat adalah lafazh jalalah”. Kata Malaikat menerangkan. ( Ulama’ nahwu yang lain berpendapat bahwa yang paling ma’rifat dari semua isim ma’rifat adalah isim dhomir )

subhanallah, hanya karena sebuah pendapat ilmu beliau mendapatkan keutamaan alam kubur dan di syurga.

sahabatku yang dirahmati Allah.

bagaimana dengan kebabasan mengeluarkan pendapat ?

Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat, dalam hal ini termasuk kebebasan mempunyai pendapat – pendapat dengan tidak mendapat gangguan dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan keterangan – keterangan dan pendapat – pendapat dengan cara apapun juga dan tidak memandang batas – batas”. begitulah pasal bunyinya

Dengan jaminan ketentuan di atas maka seharusnya tidak ada pengekangan terhadap seseorang untuk mengeluarkan pendapatnya, sehingga setiap warga Negara dapat mengeluarkan segala pikiran, dan pendapatnya dengan bebas.
Apabila kebebasan tersebut dikekang, maka akan timbul gejolak – gejolak ataupun ganjalan – ganjalan dalam hati banyak orang, yang suatu ketika dapat meledak dalam bentuk sikap – sikap dan perbuatan yang tidak baik. Dan jika pendapat orang lain benar dan baik, sudah sepantasnya kita mendukungnya. Namun, jika yakin pendapat kita benar, kita dapat mempertahankannya dengan cara yang baik dan sopan, tanpa menyinggung perasaan orang lain. Kita juga harus mampu memberikan argumentasi atau alasan – alasan yang masuk akal. Oleh karena itu,pendapat yang kita sampaikan sebaiknya bersifat seperti :

a. Bukan semata untuk kepentingan pribadi ataupun golongan,
b. Dapat diterima akal dan mutu,
c. Tidak menimbulkan perpecahan,
d. Sesuai dengan norma yang berlaku
e. Tidak menyinggung perasaan orang lain.

meskipun kita memiliki hak kemerdekaan mengemukakan pendapat, tetapi dalam penggunaannya tidak dapat dilakukan dengan sekehendak hati atau sebebas-bebasnya. Hak kemerdekaan yang kita miliki tetap dibatasi oleh hak kemerdekaan yang sama yang juga dimiliki oleh orang lain. Dengan kata lain, kebebasan mengemukakan pendapat tersebut harus dilaksanakan secara bertanggung jawab. Maknanya, dalam mengemukakan pendapat harus dilandasi akal sehat, niat baik, dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan demikian, pendapat yang dikemukakan tersebut bukan saja bermanfaat bagi dirinya, melainkan juga bermanfaat bagi orang lain, masyarakat atau bahkan bagi bangsa dan negara.

Menyampaikan pendapat merupakan salah satu hak yang dimiliki oleh manusia. Semua manusia memiliki hak-hak yang melekat dalam dirinya dan hak tersebut merupakan anugerah Tuhan Yang Mahakuasa. Hak yang melekat dalam diri manusia dinamakan dengan hak asasi manusia. Begitu pula dengan bayi, ia memiliki hak yang tidak boleh diganggu gugat oleh orang lain.

Kemerdekaan berpendapat merupakan salah satu ciri kebebasan yang dijamin oleh negara. Kemerdekaan ber pendapat akan mendorong rakyat untuk menghargai perbedaan pen dapat dan saling kritik sehingga dimungkinkan adanya dialog yang dinamis ke arah kemajuan cara berpikir masya rakat. Selain itu, kemerdekaan berpendapat juga akan menciptakan masyarakat dan negara yang demokratis.

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

apakah bisa dibayangkan seadenya dulu para ulama tidak menyampaikan pendapatnya berkaitan tentang ilmu. sedang jarak zaman kita dengan zaman nabi yang sudah terputus beribu tahun lamanya ?

tentunya akan banyak diantara kita yang salah menafsirkan quran dan hadist, betul tidak ?

begitu ikhlasnya mereka menyampaikan dan mengalamalkan ilmunya untuk kebaikan bersama. apakah kita bisa meniru keihlasan mereka semua yang karenanya itu dapat mengantarkan kita pada syurga yang diberkahi Allah SWT.

Imam AL-Ghazaly dalam AL-Ihya berkata :

“Ketahuilah bahwa segala sesuatu digambarkan mudah bercampur dengan sesuatu selainnya. Jika bersih dari percampurannya dan bersih darinya, maka itulah yang disebut murni. Perbuatan yang pernah dan murni disebut ikhlas.“

“Semua orang pasti akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu pasti akan binasa kecuali yang aktif beramal. Semua orang yang aktif beramal akan binasa kecuali yang ikhlas.“

Ibnu Atha’illah dalam AL-Hikam berkata :

“Amal itu kerangka yang mati, dan ruhnya ialah keikhlasan yang ada padanya.”

“Amal yang berasal dari hati penuh ketamakan tak dapat dianggap sedikit dan yang berasal dari hati penuh ketamakan tak dapat dianggap banyak.“

“Allah menghindarkan orang-orang yang menuju-Nya dan juga orang-orang yang sampai kepada-Nya dari melihat amal mereka dan menyaksikan keadaan mereka. Yang demikian bagi orang-orang yang tengah menuju kepada-Nya, adalah karena mereka belum benar-benar ikhlas dalam amal mereka. Dan bagi orang-orang yang telah sampai kepada-Nya adalah karena mereka sibuk menyaksikan-Nya.“

mempelajari sebuah ilmu harus penuh dengan kesabaran karena apa Sabar pada hakekatnya adalah sebuah akhlak yang tertinggi di antara sekian banyak perangai jiwa. Sebuah akhlak yang berusaha untuk menghalangi seseorang melakukan tindakan tidak terpuji. Ini merupakan salah satu daya kejiwaan yang hanya dengannyalah jiwa bisa tegak dan berjalan lurus.

Al-Junaid bin Muhammad pernah ditanya tentang sabar. Dia menjawab: “Perumpamaan orang sabar adalah seperti orang yang meneguk minuman pahit, akan tetapi dia tidak mengerutkan mukanya dan tidak bahwa itu pahit.”

Dzunnun al-Mishri berkata: “Sabar adalah usaha untuk menjauhi segala larangan Allah. Sikap tenang dalam menghadapi segala macam duka cita yang membelit. Menampakkan sikap layaknya orang kaya disaat dia didera kefakiran dalam kehidupan sehari-hari.”

Dikatakan: “Sabar adalah menerima segala macam cobaan dengan tenang dan tabah.”

Dikatakan: “Sabar adalah berusaha untuk bersikap layaknya orang yang tidak diterpa apa-apa ketika sedang ditimpa kesusahan. Tidak sedikit pun ada keluhan terlontar dari mulutnya.”

Abu ‘Utsman berkata: “Orang sabar adalah yang bisa membiasakan dirinya memerangi segala sesuatu yang dilarang oleh Allah.”dikatakan: “Kesabaran adalah suasana batin seseorang ditimpa musibah dia menghadapinya dengan senang layaknya orang yang sedang mendapatkan siraman kebahagiaan.” Artinya, dia tetap beribadah kepada Allah baik di waktu ada musibah ataupun tidak. Dalam keadaan sehat, dia senantiasa bersyukur, sementara dalam kondisi sakit dia bersabar.

‘Amr bin ‘Utsman al-Makki berkata: “Sabar adalah sikap tegar dalam menghadapi ketentuan dari Allah. Orang yang sabar menerima segala musibah dari Allah dengan lapang dada.” Artinya, dia menerima semua bencana dari Allah dengan hati seluas samudera dan sama sekali tidak dihinggapi kesedihan ataupun kemarahan sehingga menjurus pada pemaki-makian.
Para ulama yang telah mencapai derajat yang tinggi berkata “Sabar adalah sikap teguh dalam memegangi kandungan al-Qur’an dan sunnah.”

Ruwaim berkata: “Sabar adalah meninggalkan keluh kesah dan hanya mengikuti jalannya takdir.”

Para ulama lain menyatakan: “Sabar adalah meminta pertolongan kepada Allah semata.”
Abu ‘Ali berkata: “Sama dengan idiomnya, sabar bermakna menahan diri.”

‘Ali bin Abi Thalib berkata: “Sabar adalah sebuah kendaraan yang tidak akan pernah jatuh tersungkur.”

Abu Muhammad al-Jaziri berkata: “Sabar adalah tidak adanya perbedaan sikap dalam meng-hadapi musibah dan kenikmatan. Hati yang sabar akan terus bersikap tenang dalam menghadapi dua hal ini.”

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Syaikh Abdullah bin Al Mar’ie pernah mengisahkan bahwa dulu ada seorang pemuda yang ingin menuntut ilmu. Dia pun pergi belajar ke Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah. Sampai di sana dia pun merasa bosan, karena pelajaran Asy Syaikh Muqbil kebanyakannya seputar ilmu hadits saja. Dia lalu ogah- ogahan belajar bahkan sampai akhirnya berhenti sama sekali, sambil bertekad di dalam hatinya untuk safar ke Saudi, belajar di hadapan Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Lama dia menunggu, akhirnya kesempatan itu pun tiba. Sesampainya di sana, dia dapati Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin banyak mengajarkan fiqh. Dia pun merasa bosan. Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pun kemudian meninggal dunia. Pelajar ini akhirnya memutuskan ingin kembali ke Yaman, belajar hadits kembali kepada Asy Syaikh Muqbil. Sesampainya dia di Yaman, dia dapati Asy Syaikh Muqbil bin Hadi yang berusia lanjut sudah sakit-sakitan dan sering keluar negeri untuk berobat sampai akhirnya beliau meninggal di Saudi Arabia. Timbul penyesalan dalam hatinya, kenapa dulu dia tidak bersabar duduk di hadapan Syaikh Muqbil untuk mengambil

ilmu hadits beliau, baru kemudian berpindah untuk mengambil faidah dari ulama yang lain.Pelajaran yang bisa dipetik dari sini adalah hendaknya seorang bersabar dalam mengambil ilmu dari seorang guru sampai tuntas. Tidak sepantasnya dia terburu-buru berpindah dari satu guru ke guru yang lain, dari satu pondok ke pondok yang lain tanpa menuntaskan belajarnya. Kita dapat saksikan sendiri, seorang santri yang sabar duduk di satu pondok, mencoba untuk istifadah, mengambil faidah dari ustadz- ustadznya di pondok itu setelah tahun demi tahun berlalu dia pun memiliki kemampuan ilmiyyah. Dia telah menamatkan banyak kitab, dan mulai mengajari teman- temannya yang lain dengan membuka halaqah-halaqah ilmu.

Sedangkan yang suka pindah- pindah pondok, tidak pernah tuntas dalam belajar. Belajar satu kitab belum selesai, sudah pindah ke pondok yang lain. Lalu ikut pelajaran kitab yang baru lagi dari awal. Belum selesai yang ini, pindah lagi. Demikian seterusnya, tidak pernah tuntas.

sahabatku, Semestinya, seseorang mengambil ilmu sedikit demi sedikit sesuai dengan kadar kemampuannya, tentu saja disertai dengan semangat juang yang tinggi. Seseorang yang menuntut ilmu ibarat menaiki sebuah tangga.

Untuk bisa mencapai bagian puncak dari tangga tersebut, maka dia harus memanjat dari bawah terlebih dahulu. Jika ia memaksakan untuk langsung menuju puncak, maka niscaya dia tidak akan mampu atau akibatnya dia akan celaka.

Ketahuilah, jika seseorang tergesa-gesa dalam menuntut ilmu, niscaya dia justru akan kehilangan seluruhnya, karena ilmu didapat seiring dengan berjalannya siang dan malam, setahap demi setahap dengan penuh kesabaran, bukan sekali dua kali duduk di manjelis atau sekali dua kali baca.

Oleh karena itu para ulama sering menjelaskan : “Barangsiapa yang tidak menguasai materi-materi ushul (pokok/dasar), dia tidak akan memperoleh hasil.”

Para ulama juga sering mengingatkan : “Barangsiapa yang mempelajari ilmu langsung sekaligus dalam jumlah yang banyak, akan banyak pula ilmu yang hilang.”

sahabatku yang dirahmati Allah.

Kesedihan adalah saudara kandung kelemahan. Sedangkan kesabaran adalah saudara kandung kepandaian. Andaikan kesedihan itu ditanya: “Siapa bapakmu? “Dia akan menjawab: “Kelemahan”. Kalau kepandaian ditanya: “Siapa bapakmu”. Dia akan menjawab “Kesabaran”.

Hawa nafsu adalah kendaraan milik seseorang yang dapat mengantarkannya ke surga atapun neraka. Di sini kesabaran berfungsi sebagai kekang dan tali kendali yang bisa mengendalikan jalannya kendaraan. Kalau sebuah kendaraan tidak punya tali kendali, niscaya dia akan lari tidak tentu arah.

Oleh karena itu, benar juga al-Khatib al-Hajjaj yang berkata: “Jagalah hawa nafsu, karena dia akan senantiasa menjerumuskanmu ke dalam jurang kenistaan. Mudah-mudahan Allah merahmati setiap orang yang membuatkan tali kekang bagi nafsunya sehingga ia bisa menggiringnya untuk senantiasa taat kepada Allah. Kekang itu bisa juga memalingkan hawa nafsunya dari kemaksiatan kepada Allah. Karena kesabaran atas semua yang diharamkan oleh Allah itu jauh lebih mudah daripada kesabaran atas siksaan yang bakal ditimpakan oleh Allah nantinya.”

Menuntut ilmu itu harus sabar, sabar dan sabar

semoga kita semua sabar menajalani hidup ini.

semoga bermanfaat.

Iklan