korupsi bikin malubismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. Akhir-akhir ini masalah korupsi sedang hangat-hangatnya dibicarakan, terutama dalam media massa baik lokal maupun nasional, Korupsi, secara teori bisa muncul dengan berbagai macam bentuk. Dalam kasus Indonesia, korupsi menjadi terminologi yang akrab bersamaan dengan kata kolusi dan nepotisme. Dua kata terakhir dianggap sangat lekat dengan korupsi yang kemudian dinyatakan sebagai perusak perekonomian bangsa

Politik uang dan suap adalah bentuk transaksi haram yang sangat akrab dengan para elite ekonomi dan politik kita sejak zaman orde lama sampai era reformasi ini. Terminologi ekonomi menyebutkannya sebagai transaction cost, sedangkan bahasa sosiologinya disebut korupsi.

Celah kelemahan hukum selalu menjadi senjata ampuh para pelaku korupsi untuk menghindar dari tuntutan hukum,

sebuah kisah menarik dizaman Rosulullah saw, semoga kita bisa ambil teladannya..

Seorang wanita bangsawan dari kabilah Makhzum terbukti melakukan pencurian. Keluarganya dan masyarakatnya dari kalangan suku Quraisy merasakan kesedihan dan keprihatinan akan hal ini. Salah seorang bangsawan di kalangan mereka terbukti melakukan tindakan yang memalukan dan mencemarkan nama baik kabilah Makhzum dan Quraisy. Belum lagi jika mereka membayangkan hukuman yang akan dijatuhkan kepada seorang pencuri. Potong tangan. Mereka bertambah susah dan galau.

Akhirnya mereka berinisiatif untuk menghadap Rasulullah dan meminta agar wanita tersebut dibebaskan dari hukuman potong tangan. Namun di kalangan mereka ternyata tidak ada satupun yang berani menyampaikan hal itu langsung di hadapan Rasulullah. Salah seorang dari mereka berkata, “Tidak ada yang berani menyampaikan hal ini di hadapan Rasulullah kecuali Usamah bin Zaid.” Usamah sudah dianggap Rasulullah seperti putranya sendiri.

baca kisah cahaya hati selengkapnya…

Iklan