perang-pemikiranbismillahirahmanirahim,

sahabatku semua yang dirahmati Allah. dunia modern dengan segala kecanggihannya, begitu banyak universitas-universitas ternama melahirkan para pemikir-pemikir yang kritis, para ahli dalam hal tertentu, menciptakan inovasi-inovasi yang bermanfaat, melahirkan teknologi yang luar biasa dan mempunyai pengaruh pada orang-orang disekitarnya. namun sayang beribu sayang, banyak diantara mereka cenderung malah menjauh dari pokok aqidah islamiah.  Fenomena ini dibuktikan dengan banyaknya umat Islam yang secara sedar ataupun tidak mengikuti pemikiran, tingkah laku, dan gaya hidup orang kafir (Barat). Ketidaksedaran muslim terhadap bahaya ini menjadikannya kehilangan identiti dan kepercayaan diri sebagai muslim. Bahkan kebanggaan dengan tingkah laku jahiliyah ini telah dijadikan sebagai budaya.

kenapa bisa begitu ? buktinya apa ?

lihatlah akhlak para generasi muda harapan bangsa saat ini ? para pejabatnya yang korup, para pemimpin yang kurang amanah, para penegak hukum yang pilih kasih, apakah mencerminkan akhlak seorang muslim ? yang berakhalakul karimah ?

coba dijawab ?

Perang pemikiran (Ghazwul fikri) adalah riil dan tengah berlangsung, serta tidak boleh dianggap sederhana.. Era perang modern adalah era perang pemikiran. Perang dalam pengertian bertempur, mengalahkan atau menduduki suatu negeri atau mempertahankan negeri dari serangan musuh mungkin telah berakhir. Bahkan jika terjadi itu bersifat nyata dan terlihat secara pisik. Namun dalam perang pemikiran, maka musuh menjadi samar, tidak terlihat dan sama sekali tidak melahirkan pertumpahan darah dan nyawa. Bahkan dalam perang pemikiran, musuh terburuk bisa menjadi teman yang paling baik.

sebenarnya apa dampak dan tujuan perang pemikiran ?

adakah yang mau menjelaskan ?

sebuah kisah mengawali pembahsan pada artikel ini, semoga dapat diambil manfaatnya….

Dosen: “Saya bingung. Banyak Umat Islam di seluruh dunia lebay”. Kenapa harus protes dan demo besar-besaran cuma karena tentara amerika menginjak, meludahi dan mengencingi Al- Quran? Wong yang dibakar kan cuma kertas, cuma media tempat Quran ditulis saja kok. Yang Qurannya kan ada di Lauh Mahfuzh. Dasar ndeso. Saya kira banyak muslim yang mesti dicerdaskan.”

Meskipun pongah, namun banyak mahasiswa yang setuju dengan pendapat dosen liberal ini. Memang Qur’an kan hakikatnya ada di Lauh Mahfuz.

Tak lama sebuah langkah kaki memecah kesunyian kelas. Sang mahasiswa kreatif mendekati dosen kemudian mengambil diktat kuliah si dosen, dan membaca sedikit sambil sesekali menatap tajam si dosen. Kelas makin hening, para mahasiswa tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mahasiswa: “Wah, saya sangat terkesan dengan hasil analisa bapak yg ada disini. “ujarnya – sambil membolak balik halaman diktat tersebut.

“Hhuuhhh….” semua orang di kelas itu lega karena mengira ada yang tidak beres. Namun Tiba-tiba sang mahasiswa meludahi, menghempaskan dan kemudian menginjak-injak – diktat dosen tersebut. Kelas menjadi heboh.

Semua orang kaget, tak terkecuali si dosen liberal.
Dosen: “kamu?! Berani melecehkan saya?! Kamu tahu apa yang kamu lakukan?! Kamu menghina karya ilmiah hasil pemikiran saya?!
Lancang kamu ya?!”

Si dosen melayangkan tangannya ke arah kepala sang mahasiswa kreatif, namun ia dengan cekatan menangkis dan menangkap tangan si dosen.

Mahasiswa: “Marah ya pak? Saya kan cuma nginjak kertas pak. Ilmu dan pikiran yang bapak punya kan ada di kepala bapak. Ngapain bapak marah kalau yang saya injak cuma media buku kok. Wong yang saya injak bukan kepala bapak. Kayaknya bapak yang perlu dicerdaskan ya??”

Si dosen merapikan pakaiannya dan segera meninggalkan kelas dengan perasaan malu yang amat sangat…!!

“Itulah salah satu hukuman langsung dri Allah Ta’ala bagi siapa saja yang ingin mempermainkan atau mencaci maki Agama-Nya.”

Subhanallah…

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan “Perang Pemikiran”. Yang dimaksud ialah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala untuk meracuni pikiran umat Islam agar umat Islam jauh dari Islam, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini.

Ghazwul fikri dimulai ketika kaum salib dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar. Kemenangan kaum muslimin tersebut sangat spektakuler, sebab pasukan muslim yang diterjunkan dalam pertempuran berjumlah sedikit. Pasukan Khalid bin Walid, misalnya pernah berperang dengan jumlah tentara sekitar 3000 personil, sedangkan pasukan Romawi yang dihadapi berjumlah 100.000 personil, hampir 1 berbanding 35. Allah memenangkan kaum muslimin dalam pertempuran tersebut. Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya menyebabkan kaum salib menciptakan taktik baru. Di bawah pimpinan Raja Louis XI, taktik baru tersebut dilancarkan. Caranya bukan lagi berupa penyerangan fisik, tetapi musuh-musuh Allah itu mengirimkan putera-putera terbaik mereka ke kota Makkah untuk mempelajari Islam. Niat atau motivasi mereka tentu bukan untuk mengamalkan, melainkan untuk menghancurkannya. Pembelajaran dengan niat jahat itu ternyata berhasil. Tafsir dikuasai, hadist dimengerti, khazanah ilmu Islam digali. Setelah sampai ke tahap dan tingkat ahli, para pembelajar Islam dari kaum Salib ini kembali ke Eropa, lalu membentuk semacam Research and Development (Penelitian dan Pengembangan) untuk mengetahui kelemahan umat Islam agar dapat mereka kuasai.

Kesungguhan mereka dalam mempelajari Islam tersebut memang luar biasa. Sampai dalam sejarah diungkapkan kisah seorang pembelajar Islam dari kaum salib yang rela meninggalkan anak istrinya hanya untuk berkeliling ke negeri-negeri Islam guna mencari kelemahan negeri-negeri Islam itu. Di antara pernyataan mereka ialah, “Percuma kita berperang melawan umat Islam selama mereka berpegang teguh pada agama mereka. Jika komitmen mereka terhadap agama mereka kuat, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, tugas kita sebetulnya adalah menjauhkan umat Islam dari agama mereka, barulah kita mudah mengalahkan mereka.” Gleed Stones, mantan perdana menteri Inggris, juga mengatakan hal yang sama, “Percuma memerangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam al-Qur’an masih bergelora. Tugas kita kini adalah mencabut al-Qur’an hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka.”

Dalam konteks ini, al-Qur’an mengatakan, artinya, “Sesungguhnya setan bagi kamu merupakan musuh, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan itu mengajak hizb (golongan) nya agar mereka menjadi penghuni neraka.” (QS.Faathir : 6).

Setan yang merupakan musuh umat Islam itu, menurut ayat 112 surat al-An’aam bukan hanya dari kalangan jin dan Iblis saja, tetapi juga dari kalangan manusia. Setan-setan manusia itu dahulu menghina dan memojokkan serta melecehkan Islam melalui lisan mereka dengan cara sederhana tanpa dukungan hasil teknologi canggih. Tetapi kini, penghinaan dan pemojokan serta pelecehan itu dilakukan dengan pers yang mempergunakan sarana modern yang super canggih. Di sisi lain, musuh-musuh Islam berupa setan manusia itu hebat dan licik. Struktur-struktur dan lembaga-lembaga Internasional, baik politik, mau pun ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, militer dan bidang-bidang penting lainnya hampir seluruhnya berada dalam genggaman mereka. Makanya perputaran roda organisasi dan lembaga-lembaga dunia itu sepenuhnya dapat mereka kendalikan secara sangat sistematis dan akurat tanpa disadari oleh mayoritas umat Islam, yang sebagiannya masih sangat lugu dan belum tersentuh oleh da’wah. Dalam bidang komunikasi, khususnya pers, misalnya, hampir seluruh sumber berita berada dalam ‘tangan’ mereka, baik yang berskala internasional maupun nasional.

Maka tak dapat dibantah bahwa media massa yang didominasi atau dikuasai oleh kalangan yang anti Islam, yang melihat Islam sebagai ancaman bagi kepentingan politik dan ekonomi mereka, missi yang mereka emban tentu merugikan dan memojok kan Islam. Misalnya berupaya agar masyarakat dunia (terutama kalangan elitnya) membenci Islam dan menjauhinya, serta menanamkan keraguan dalam dada kaum muslimin akan kebenaran dan urgensi Islam di dalam hidup.

Keadaan ini diperburuk lagi oleh kenyataan bahwa di kalangan umat Islam, penguasaan terhadap ilmu komunikasi dan jurnalistik hingga saat ini masih jauh dari memadai. ‘Ulama dan orang-orang yang betul betul faham akan Islam secara benar dan kaffah, pada umumnya jarang yang menjadi jurnalis atau penulis. Apa lagi menerbitkan koran atau majalah yang benar-benar membawa misi dakwah dan perjuangan Islam. Sebaliknya wartawan dan penulis yang beragama Islam, termasuk yang berkaliber internasional yang mempunyai semangat sekali pun, banyak yang belum atau tidak memahami Islam secara benar dan kaaffah (totalitas). Artinya, upaya umat Islam meng-counter serangan musuh-musuh Allah itu nyaris tak ada.

Di sisi lain, pers yang diterbitkan orang Islam banyak yang tidak memperjuangkan dan membela Islam, bahkan terkadang menurunkan berita yang memojokkan Islam. Sebab masih tergantung kepada kantor-kantor berita barat/kafir, yang memang selalu memburu berita yang sifatnya merugikan Islam. Padahal berita dari mereka menurut cara yang islami, harus terlebih dahulu ditabayyun (diseleksi), kalau tidak, bisa berbahaya bagi umat Islam. Namun untuk melakukan tabayyun, diperlukan pemahaman Islam yang benar dan universal serta penguasaan jurnalistik yang akurat dengan peralatan canggih. Sementara terhadap kedua hal itu para penulis Muslim belum betul-betul menguasainya secara baik. Ini salah satu di antara kelemahan-kelemahan dan keterbelakangan kita, umat Islam.

Al-Qur’an memberitahukan bahwa Nabi Sulaiman ’alaihis salam pernah menda’wahi ratu negeri Saba’ melalui tulisan (berupa sepucuk surat khusus), yang akhirnya ternyata berhasil gemilang dengan masuk Islamnya sang ratu. Kalau korespondensi da’wah sederhana antara Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dengan ratu Saba’ ini boleh dikatakan termasuk bagian dari pers secara sederhana, maka pers dalam arti yang sempit berarti telah eksis pada zaman Nabi-nabi dahulu. Bukan hanya Nabi Sulaiman ’alaihis salam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam pun dalam menda’wahkan Islam kepada raja-raja dan para penguasa suatu negeri pada zamannya, di antaranya mempergunakan tulisan berupa surat yang sederhana, tanpa dukungan hasil teknologi canggih seperti yang dikenal dunia pers kini.

Dalam dunia modern kini, pers ternyata menempati posisi sangat penting, antara lain, dapat membentuk opini umat. Bahkan sering dikatakan bahwa siapa menguasai pers, berarti dapat menguasai dunia. Kalau yang menguasai pers itu orang mukmin, yang benar-benar faham akan dakwah dan memang merupakan Da’i (dalam arti luas), maka pers yang diterbitkannya tentu tidak akan menurunkan tulisan-tulisan yang merugikan Islam, memojokkan kaum Muslim atau menyakitkan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam. Tetapi kenyataan membuktikan, di dunia ini, tak sedikit pers yang menurunkan aneka bentuk tulisan yang substansi isinya bukan hanya memojokkan Islam dan menyakitkan hati kaum mu’min serta melecehkan al-Qur’an, tetapi lebih lagi dari hanya sekedar itu. Dan keadaan bisa bertambah buruk lagi, kalau para pemimpin umat Islam bukannya memihak Islam, tetapi justru memihak dan membela musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala. Na’udzu billaah min dzaalik!

Dahulu, para penjajah menyerang kaum Muslimin dengan senjata bom, meriam dan peluru, dan serangan itu hingga kini sebetulnya masih tetap berlangsung. Hanya yang dijadikan sasaran bukan lagi jasmani, tetapi aqidah ummat Islam. Salah satu tujuannya ialah bagaimana agar fikrah (ideologi) atau ‘aqidah umat Islam rusak. Tujuan paling akhir ialah bagaimana agar Islam dan umat Islam berhasil dihabisi riwayatnya dari bumi Allah subhanahu wata’ala ini. Serangan inilah yang disebut ghazwul fikr. Dan senjata yang dipergunakan bukan lagi bom atau peluru tetapi surat kabar, majalah, radio, televisi dan media-media massa lainnya, baik cetak mau pun elektronik, baik yang sederhana, mau pun yang super canggih. Untuk mengantisipasi atau mengimbangi serbuan ghazwul fikr (perang ideologi) itu, umat Islam antara lain harus mempunyai pers yang tangguh, yang dikelola oleh para Ulama dan jurnalis Muslim yang betul-betul faham Islam secara benar; dengan peralatan dan sarana teknologi yang memadai dan mampu menampilkan tulisan dan berita yang benar serta baik secara menarik dan bijaksana.

Tulisan-tulisan yang diturunkan atau diproduksinya tentu harus menarik dan akurat bermisi Islam, agar dapat memberikan pemahaman tentang al-Islam yang benar kepada pembacanya, dan sekaligus diharapkan dapat meredam dan mengantisipasi serbuan pers sekuler,terutama yang tak henti-hentinya menyerang Islam dengan berbagai cara.

Satu hal lagi yang tidak boleh kita dilupakan adalah, munculnya musuh-musuh Islam dari dalam tubuh ummat Islam sendiri tanpa kita sadari. Misalnya adanya ‘tokoh’ Islam yang diberi predikat Kiyai Haji atau profesor doktor, yang konotasinya pembela Islam, sehingga dikira umat Islam, ia memang pembela Islam, padahal sebaliknya, termasuk dalam hal ini Jaringan Islam Liberal (JIL). Sebetulnya, ini merupakan cerita lama, sebab sejak zaman Nabi-nabi dahulu, selalu ada saja manusia-manusia yang mengaku Muslim, tetapi pada hakikatnya merongrong atau merusak bahkan menghancurkan Islam dari dalam. Kadang-kadang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Sebagian mereka mengaku beragama Islam, namun takut (phobi) kalau Islam berkembang dan eksis di muka bumi Allah subhanahu wata’ala yang fana ini. Kalau mereka menerbitkan buku, koran, majalah, tabloid dan sejenisnya, mereka takut menulis tentang Islam. Kalau pun toh menulis juga, isinya tentu dipoles, direkayasa sedemikian rupa, sehingga tidak mengungkapkan kenyataan yang harus diungkapkan, dan menyampai kan apa-apa yang seharusnya disampaikan. Na’udzu billaah min dzaalik! Mereka laksana musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan.

Mudah-mudahan Allah memberi kita kemampuan untuk menyeleksi bahan bacaan serta memilih media informasi yang kita dengar dan saksikan setiap hari. Dan yang tak kalah penting, semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan hati kita cinta terhadap Islam dan selalu menda’wahkan dan memperjuangkannya, sampai akhirnya Dia memanggil kita ke sisi-Nya selama-lamanya. Amin ya Rabbal ’alaimin

sahabatku semua yang aku sayangi karena Allah.

Tujuan al ghazw al fikri adalah merosak akhlak, menghacurkan pemikiran, melarutkan keperibadian, dan menjadikan umat islam keluar dari agamanya. Usaha ini mulai dilaksanakan sebelum jatuhnya khilafah islamiyah sehingga memunculkan fahaman nasionalisme, perkauman, dan kebangsaan. Pemisahan agama dari negara, orientalisme, kristianisasi, dan gerakan pembebasan perempuan juga merupakan aktiviti al ghazw al fikri yang sudah menunjukkan hasilnya kepada sebahagian umat islam yang kini telah berubah menjadi jahiliyah.

Pelaku al ghazw al fikri ini secara umum terdiri daripada orang Yahudi, Nasrani, Majusi, Musyrikin, Munafikin, Atheis, dan orang kafir. Mereka biasa disebut sebagai mustakbiruun (orang yang sombong dan melampaui batas). Cara yang digunakan mereka untuk menyerang umat islam sehingga membuat umat Islam lupa kepada identiti aslinya adalah melalui propaganda, pendidikan, pengajaran, buku, media cetak, ekonomi, kelab-kelab, olahraga, yayasan, lembaga-lembaga, hiburan, film,dan muzik. Sepertimana maksud firman Allah ini, Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah (kepada mereka): Sesungguhnya petunjuk Allah (agama Islam) itulah petunjuk yang benar. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka sesudah datangnya pengetahua kepadamu (tentang kebenaran), maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu

Sasarannya jelas, yaitu menghancurkan dan menghilangkan ruh Islam dari hati para pemeluknya. Hal ini terlihat dari  wujud perang pemikiran itu sendiri yang memiliki target  yaitu :

1. Menimbulkan kesamaran, keragu-raguan serta kebimbangan terhadap ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
2. Menumbuhkan kajian-kajian yang bersifat menggugat keabsahan dan keautentikan wahyu serta meniupkan ide, bahwa ajaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW, tidak terlepas dari nilai nilai subjektifitas Muhammad selaku manusia biasa dan orang Arab.
3. Menghidupkan kekuatan fikir dan mengarakan kaum intelektual muda muslim untuk berfikir liberal, dengan membuka seluas-luasnya fasilitas pendidikan S2 sampai tingkat Doktoral lengkap dengan fasilitas bea siswa. Sehingga tatkala mereka selesai dengan pendidikannya, maka mereka akan menjadi “mesin pemikir” kaum liberalis barat untuk menghancurkan ajaran Islamnya sendiri, serta menggugat pemahaman ke Islaman saudaranya sendiri.
4. Menggugat Tafsir dan kaedah penafsiran dengan mengusung metode tafsir baru yang bernama tafsir hermeneutika. Sebuah cara tafsir yang dikembangkan oleh kaum Barat dalam menggugat eksistensi Bibelnya. Jika mereka sukses keluar dari Bibelnya sebagaimana terlihat kini, maka demikian halnya penggunaan tafsir hermeneutika ini dilakukan terhadap al-QAur’an adalah guna keluarnya kaum muslimin dari pengajaran Alqur’an itu sendiri.

Ghazwul fikri yang paling penting bagi kaum Muslim sekarang adalah melawan pemikiran-pemikiran simplistis dan bodoh, yang kerap mengajak umat Islam terus-menerus mencurigai, membenci, dan mencaci “musuh” mereka, padahal musuh sesungguhnya adalah diri mereka sendiri.

Sudah saatnya kaum Muslim berpikir positif, terbuka, kritis, dan berani mengambil posisinya sendiri tanpa dikuasai oleh pemikiran-pemikiran otoriter yang mengatasnamakan agama.

Ghazwul fikri yang paling penting bagi kaum Muslim adalah melawan pemikiran-pemikiran rasis, tak toleran, dan selalu membenci kelompok lain. Sebagian pemikiran-pemikiran itu adalah warisan dari masa silam, dan sebagian lainnya adalah ciptaan mereka sendiri karena mengidap sizofrenia anti-Barat dan orientalisme.

Keseluruhan target perang ini adalah untuk menghancurkan nilai-nilai Islam yang selama ini ada dalam jiwa dan pikiran setiap muslim – dan kalaupun mereka tidak keluar dari Islamnya, setidaknya mereka bukan muslim dalam arti yang sebenarnya. Ruh Islam telah jauh dari jiwa dan kalbu mereka.

Mereka punya hati tapi tak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah ), dan mereka memiliki telinga (tapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak. Bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.’

“ Ya Allah Ya Rabbi, Engkau mengetahui bahawa sebenarnya diri ini sentiasa ingin berbakti kepadaMu. Berkhidmat kepadaMu adalah yang paling menggembirakan. Sesungguhnya hatiku ini adalah yang paling lemah, dosa-dosaku bagaikan pepasir di sahara, dengan rahmatMu ampunilah daku, berilah aku kekuatan untuk mengharungi cabaran dan dugaan. Tetapkanlah hatiku untuk beribadah kepadaMu. Diri ini mengharapkan cintamu maka kekalkanlah rasa kehambaanku….ampunilah dosa-dosaku Ya Allah…Amin Ya Rabbul Alamin”

semoga bermanfaat.

Iklan