ikhlasbismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. banyak orang dengan entengnya bilang bahwa ” aku ikhlas” namun kadang dihati kecil masih memberatkan apa yang telah ia lakukan, sebenarnya apa sih ikhlas itu ? Apa sebenarnya definisi ikhlas, kenyataannya dalam memakai kata ikhlas sehari-hari timbul kesan pengertian ikhlas itu tidak jelas. dan kadang kita sendiri juga bingung mendifinisikan kata ikhlas ?

apa itu ikhlas ? adakah yang tahu ?

penjelasan singkat Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri mengenai hakekat ikhlas..

Kami, aku dan kakakku Kiai Cholil Bisri, mendengar dari guru kami Syeikh Yasin Al-Fadani dan ayah kami Kiai Bisri Mustofa –rahimahumuLlah, masing-2 berkata: Aku bertanya kpd Sayyid Guru Umar Hamdan ttg hakikat IKHLAS, dan beliau pun berkata: Aku pernah bertanya kpd guruku Syeikh Sayyid Muhammad Ali Al-Witri ttg hal itu dan beliau berkata,

Aku pernah bertanya ttg hal itu kpd guruku Syeikh Abdul Ghani Al-Mujaddidi, beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada guruku Syeikh Muhammad Abid As-Sindi Al-Anshari, beliau berkata:

Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Shiddiq bin Ali Al-Mizjaji, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada ayahku, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Hasan Al-Ujaimi, beliau berkata:

Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad al-Qasysyasyi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad Syanaawi, beliau berkat: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada ayahku Syeikh Ali Asy-Syanaawi, dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dan beliau berkata:

Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Al-Haafizh Jalaluddin As-Suyuthi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada A’isyah binti Jaarullah bin Shaleh Ath-Thabari, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Shiddiq dan beliau berkata: Aku bertanya ttg hal itu kpd Syeikh Abul Abbas Al-Hajjar dan beliau berkata:

Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Jakfar Ibn Ali AL-Hamdani, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abul Qasim bin Basykual, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Qadhi Abu Bakar bin aL-‘Arabi, beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ismail bin Muhammad Al-Fadhal Al-Ashbihani, beliau berkata:

Aku pernah menanyakan halitu kepada Syeikh Abu Bakar bin Ahmad bin Ali bin Khalaf dan beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Abdurrahman Al-Baihaqi dan beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Sa’id Ats-Tsaghrai dan Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Zakaria dan beliau berdua berkata:

Kami pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Ibrahim Asy-Syaqiqi dan beliau berkata: Aku pernaha menanyakan hal itu kepada Syeikh Abu Ya’qub Asy-Syaruthi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh AHmad bin Ghassan dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad bin ‘Atha’ Al-Hujaimi, beliau berkata:

Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abdul Wahid bin Zaid dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Imam Hasan Al-Bashari, beliau menjawab, Aku pernah bertanya kepada shahabat Hudzaifah r.a, beliau menjawab:

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW ikhlas itu apa, beliau menjawab: Aku pernah menanyakan ttg ikhlas itu kpd malaikat Jibril a.s dan beliau menjawab: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Allah Rabbul ‘Izzaah, dan IA menjawab: “IKHLAS ialah RAHASIA di antara rahasia-rahasiaKU yg KUtitipkan di hati hambaKU yg AKu cintai.”

subhanaallah,

sahabatku yang baik, menurut Ibnu Abbas, bahwa sebuah amal sudah tergolong ikhlas jika dilakukan, meski hanya terdapat 1 dari 3 hal berikut ini;

1). Seseorang yang berniat beramal sesuatu karena untuk mendapat pahala dari Allah SWT.
2). Seseorang yang berniat beramal sesuatu karena karena takut akan adzab Allah SWT.
3). Seseorang yang berniat beramal sesuatu karena untuk mencari ridho Allah SWT.

Dan tentu saja amal yang hendak dilakukan tersebut adalah amal yang didasari oleh ilmu dan dilakukan dengan cara yang benar.

sahabatku semua yang dirahmati Allah,.

Di ceritakan Ada seorang ahli ibadah yang mengunjungi suatu kaum, kaum itu mengadu kepadanya bahwa di tempat mereka itu ada pohon yang sering disembah penduduk, mereka tidak menyembah Allah. Ahli ibadah (abid) itu marah, lantas ia membawa kampak akan menebang pohon itu. Iblis (nenek moyang setan) dalam bentuk seorang syekh menyambutnya dan berkata  “Hendak kemana kamu, mudah mudahan Allah merahmati kamu.” Ahli ibadah itu menjawab “Saya hendak menebang pohon ini.” Iblis berkata “Apa urusanmu dengan pohon itu, kamu telah meninggalkan ibadahmu.” Ahli ibadah itu menjawab “Sesungguhnya ini sebagian dari ibadahku.” Iblis berkata “Aku tidak membiarkanmu menebangnya.” Lantas iblis itu berkelahi dengan ahli ibadah itu. Ahli ibadah itu berhasil menangkap iblis itu dan membantingnya ke tanah dan didudukinya iblis itu. Iblis berkata “Lepaskan aku agar aku dapat berbicara denganmu.” Ahli ibadah itu berdiri, lantas iblis berkata “Sesungguhnya Allah telah menggugurkan kewajibanmu menebang pohon itu; menebang pohon itu adalah tugas nabi, bukan tugasmu kecuali bila nabi menyuruhmu.” Abid itu menjawab “Aku akan menebangnya.”

Kemudian abid berkelahi kembali dengan iblis itu dan ia berhasil membantingnya ke tanah dan menduduki dada iblis itu. Maka iblis berkata “Apakah tidak ada keputusan yang lebih baik untuk menyelesaikan urusan kita?” Abid bertanya “Apa itu?” .”Lepaskan dahulu aku” kata iblis itu “supaya aku dapat mengatakan sesuatu kepadamu.” Abid melepaskannya. Iblis itu berkata “Kamu adalah orang miskin yang bergantung pada orang lain, maukah kamu melebihi orang-orang itu sehingga kamu dapat membantu tetanggamu, kamu kenyang dan tidak lagi memerlukan bantuan orang lain.” Abid menjawab “Ya.” .”Pulanglah” kata iblis “aku akan menyelipkan di bawah bantalmu dua dinar setiap malam.” Uang itu bisa membantu tetanggamu sehingga kamu lebih berguna bagi saudaramu, itu lebih baik dari pada kamu menebang pohon itu. Abid kemudian berpikir dan ia berkesimpulan “Syekh itu benar, saya bukan seorang nabi, Allah tidak mewajibkan saya menebang pohon itu, nabi pun tidak, menerima uang lebih bermanfaat bagi orang banyak ketimbang menebang pohon itu.” Lantas Abid itu kembali ke tempat ibadahnya. Pagi pagi ada dua dinar dekat kepalanya, ia mengambilnya, begitu juga keesokan harinya. Pada pagi hari yang ketiga uang itu tidak ada.

Abid itu marah, ia mengambil kampaknya lagi hendak menebang pohon itu. la disambut iblis yang menyamar seorang syekh. Syekh (sebenarnya iblis) bertanya “Kemana?” Kata abid “Saya akan menebang pohon itu.” Iblis berkata “Kamu berdusta, kamu tidak akan mampu melakukannya.” Lalu abid itu memegang iblis tersebut hendak menangkapnya. Kata iblis “kamu tidak akan sanggup.” Bahkan iblis yang sanggup membanting ahli ibadah itu dan menduduki dadanya sambil berkata “Akan kamu teruskan menebang pohon itu atau aku akan menyembelihmu.”

Iblis berkata “Hai ahli ibadah, maukah kamu tahu mengapa kau kalah?” Kata iblis “Sesungguhnya mula-mula kamu marah karena Allah, lalu aku kalah, kali ini kamu marah karena uang (dunia) lalu kamu saya kalahkan.”
Dalam cerita di atas ikhlas itu ialah melakukan sesuatu karena Allah, bukan karena uang. Karena Allah artinya karena diperintah oleh Allah. Cerita ini membenarkan firman Allah Kecuali hamba-hambaKu yang ikhlas (Shaad:83). Maksudnya, hanya hambaKu yang ikhlas yang tidak akan kalah melawan setan.

Ada pelajaran sangat penting dari cerita dan ayat itu: Orang yang ikhlas (mukhlashin) tidak akan mampu diganggu setan. Jadi orang yang ikhlas tidak usah takut kepada setan. Iblis itu nenek moyang setan. Karena itu shufi  Ma’ruf al-Karkhi memukul dirinya dan berkata “Hai diri, ikhlaskanlah, niscaya kamu terlepas.” Maksudnya, terlepas dari godaan setan.

Ya’qub al-Makfuf berkata “Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan amal baiknya seperti ia menyembunyikan amal buruknya.” Di sini ikhlas itu berarti amal yang tidak diketahui oleh orang lain. Sulaiman berkata “Bahagialah orang yang melakukan kebaikan selangkah tetapi karena Allah.” Karena Allah di sini maksudnya adalah ikhlas. Umar bin Khattab berkata ” Barang siapa ikhlas niatnya maka Allah akan memudahkannya berurusan dengan manusia.” Di sini diajarkan bahwa ikhlas itu akan mempermudah segala urusan.

Setiap sesuatu itu bisa ia campuri oleh yang lain. Apabila ia bersih dari campuran lainnya maka ia disebut murni, murni itulah ikhlas; perbuatannya murni, itulah perbuatan yang ikhlas.
Ikhlas itu dalam aqidah adalah lawan isyrak (persekutuan). Bila tuhan lebih dari satu berarti tuhan itu tidak murni, tuhan bercampur dengan selain tuhan, bila tuhan tidak murni maka itu berarti tidak ikhlas. Di sini ikhlas berarti tidak syirik. Ikhlas dan syirik itu sering datang bergantian di dalam hati, untuk membedakannya ditentukan oleh niat.

Ibrahim bin Adam berkata “Ikhlas adalah niat yang benar selalu bersama Allah.” Ruwaim berkata   “Ikhlas dalam amal adalah tidak menghendaki balasan dunia maupun akhirat.” Tetapi Al-Qadli Abu Bakar al Bayhaqi berpendapat tidak boleh tidak mengharap keuntungan dari amal, sebab yang demikian itu adalah sifat Tuhan. Kata Al-Ghazali “Itu memang benar bila yang dimaksud adalah keuntungan syahwat.” Abu Utsman berkata “Ikhlas adalah lupa melihat makhluk karena hanya melihat Tuhan  Maha Pencipta saja.” Ini memberi isyarat tentang bahaya riya. Dari sini dapat diketahui bahwa riya dapat berakibat musyrik. Al-Muhasibi berpendapat “Ikhlas adalah memisahkan makhluk dari hubungannya dengan Tuhannya.” Ini memberi isyarat semata-mata agar tidak riya. Kesimpulannya: ikhlas istiqomah pada jalan Allah, ikhlas adalah tidak musyrik, ikhlas adalah lawan riya.

Salah satu konsep ikhlas ialah wajar. Menolong orang, bila kita sanggup, adalah wajar. Ucapan terima kasih dari yang menolong tidak ada hubungannya dengan perbuatan menolong. Bila kita tersinggung karena yang ditolong tidak berterima kasih, maka pertolongan kita itu tidak ikhlas karena tidak wajar, tidaklah wajar mengharap orang mengucapkan terima kasih karena kita telah menolongnya.

Bagaimana mempraktekkan ikhlas itu dalam kehidupan sehari-hari? Untuk menjawab pertanyaan ini cukup bila kita mengambil definisi ikhlas sebagai wajar. Adalah wajar bila isteri melayani suaminya secara ikhlas, artinya isteri itu melayani suaminya konsisten menurut aturan Tuhan. Suami juga wajib melayani isterinya secara ikhlas yaitu sesuai dengan aturan Tuhan dan itu dilakukan secara konsisten atau istiqomah. Seorang atasan harus melayani bawahannya secara ikhlas, itu wajar, caranya sesuai dengan aturan dan dilakukan secara konsisten. Karyawan harus bekerja secara jujur, produktivitas tinggi, loyalitas tinggi. Ini semua wajar, bila dilakukan konsisten dan sesuai aturan  maka karyawan itu telah bekerja secara ikhlas.

Koruptor adalah karyawan yang bekerja tidak ikhlas, maka institusi tempat ia bekerja pasti akan mengalami kemunduran atau kehancuran sama sekali.

Keikhlasan akan menghasilkan kemajuan, persaudaraan, loyalitas, kedamaian, dan produktivitas tinggi. Itu semua bertumpu pada penyebab: sesuai aturan dan konsisten.

Bila seseorang bekerja secara tidak ikhlas maka akan muncul akibat akibat sebaliknya: kemunduran, permusuhan, tidak loyal, produktivitas kerja menurun. Pada tingkat ekstrem karyawan tidak ikhlas dapat melakukan sabotase pada institusi tempat ia bekerja.
Jadi, keikhlasan sangat penting dan tidak ikhlas sangat berbahaya. Ikhlas menjamin berjalannya kehidupan, tidak ikhlas akan menghancurkan kehidupan.

sahabatku semua yang dirahmati Allah

ikhlas adalah kemampuan tertinggi manusia yang diberikan oleh Tuhan. Hanya manusia yang diberikan kelebihan untuk memiliki rasa ini. Ikhlas juga bukan berarti kita harus melepaskan semua keinginan dalam hidup. Kita bisa tetap mengejar mimpi-mimpi kita, namun jika kita menjalaninya dengan ikhlas, maka di dalam hati akan timbul rasa syukur, sabar, fokus dan tenang selama kita menuju proses yang diinginkan. Di dalam keikhlasan kita akan sepenuhnya menyerahkan semua ‘keputusan akhir’ hanya kepada Tuhan, setelah beragam upaya kita lakukan.

Ikhlas tidak sama dengan pasrah.

Bila konotasi pasrah cenderung menyerahkan semua persoalan pada takdir tanpa melakukan beragam upaya, maka ikhlas adalah sebuah kondisi dimana manusia sudah melakukan berbagai upaya, namun mengembalikan semua hasilnya pada Tuhan sebagai penentu takdir kita.

Menurut Erbe Sentanu (penulis buku Quantum Ikhlas, Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati), manusia seharusnya amat bersyukur karena diberi instrumen navigasi luar biasa oleh Tuhan berupa perasaan di hatinya. Perasaan ini terbagi dua yaitu perasaan negatif antara lain berupa : nafsu, rasa cemas, takut dan amarah. Serta perasaan positif yang terkait erat dengan rasa syukur, kebahagiaan serta keikhlasan. Energi yang menyelimuti zona ikhlas adalah perasaan positif yang berenergi tinggi. Ketika kita ikhlas, kita akan merasa penuh tenaga. Sebaliknya, ketika kita tidak ikhlas, kita akan merasa resah, kacau dan tidak bahagia.

Zona ikhlas ini adalah zona dimana perasaan kita selalu merasa enak (positive feeling). Oleh sebab itu, kita harus terus berupaya agar sesering mungkin mengakses perasaan tersebut, karena sebenarnya kenyamanan kita menjalani hidup tergantung dari seberapa sering perasaan itu kita miliki.

Banyak manusia meyakini bahwa menjalani hidup itu sama dengan berjuang keras tanpa batas, bahkan kalau perlu sampai titik darah penghabisan. Padahal sesungguhnya tidak. Tuntunan agama menjanjikan berbagai kemudahan bila dalam ikhtiarnya itu manusia selalu bersyukur, menikmati prosesnya dan menyerahkan hasil akhir dari sebuah usaha hanya kepada Tuhan.

Ikhlas adalah, ketika kita tidak mencari lagi sebuah pengakuan dan kesaksian serta legitimasi apapun atau siapapun terhadap aktivitas dan amal perbuatan kita. Kita tidak menginginkan lagi ada orang yang melihat, mengetahui, atau menyaksikan dan mengakui perbuatan kita kecuali hanya Allah Swt. Karena cukup Allah Swt sebagai saksi tunggal segala aktivitas ibdah dan amal kita.
“Dan cukuplah Allah sebagai saksi” ( Qs. Al-Fath [ 48 ] : 28 )

ya Rabb aku mencarinya, aku mempelajarinya, adakah dia ada dalam diriku, aku terkapar dalam gelap hatiku, yang selalu bergelut menerima kedatangannya, sinar ihlas, berat sekali memagutmu, Berikanlah aku kemampuan menerimanya ya Allah, agar aku bisa menghirup titipapanMU, jadi penerang jiwaku, untuk meniti jalan terompah kekasihMU, menuju pelukan ridhoMU.

Abadikan kebaikanmu dengan melupakannya. itu ikhlas,

semoga bermanfaat.

[disarikan dari berbagai sumber]

//

Iklan