belajar suksesbismillahirahmanirahim.

sahabatku semua yang dirahmati Allah. Benar memang kata orang, jikalau kita ingin terlihat lebih baik maka bercerminlah. Karena dengan cermin kita bisa mengetahui kotoran atau noda di wajah kita, sekecil apapun itu, bahkan pada bagian-bagian yang tak bisa dijangkau oleh pandangan mata. Tapi sayang, tidak semua orang bisa bercermin, lebih tepatnya tidak mengetahui fungsi cermin yang sebenarnya. Apalagi cermin kehidupan kita, lah kenapa bisa begitu ?

kondisi semacam itu juga merasuki para pencari ilmu, seringkali para pencari ilmu enggan bercermin akan kegagalan dalam belajar, termasuk saya sendiri.  seringkali dalam pelajaran tertentu, sampai berulang kali dibaca dipahami berkali-kali baru bisa, apakah engkau mengalami demikian. ? bisa jadi.

kesibukan sering kali dijadikan alasan gagalnya belajar, kesibukan kerja, kesibukan bermain, kesibukan berinteraksi dengan lingkungan sosial, maupun kesibukan-kesibukan lainnya yang disinyalir dijadikan alasan menjauhkan dari yang namanya “belajar”. sungguh benar kata guru-guru, jika ingin berhasil dalam menuntut ilmu, sungguh-sungguhlah belajar karena hanya orang rajin saja yang berpulang lebih besar meraih kesuksesan, bukan begitu kawan ?

namun ada satu faktor penting yang juga berperan penting dalam kesuksesan menuntut ilmu ? apa itu ? adakah yang tahu..?

sebuah kisah menarik semoga menginspirasimu….

seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.

“Habib, saya mau pulang saja.”

“Lho, kenapa?” tanya beliau.

“Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati. Tidak pantas saya menuntut ilmu. Saya minta izin mau pulang.”

“Jangan dulu. Sabar.”

“Sudah Bib. Saya sudah empat tahun bersabar. Sudah tidak kuat. Lebih baik saya menikah saja.”

“Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.”

“Sudah bib. Saya menghafalkan setengah mati. Tidak hafal-hafal.”

Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan. Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun. Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat. Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai.
Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.

“Ini surat siapa?” tanya Habib.

“Owh, itu surat ibu saya.”

“Bacalah!”

Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai. Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.

“Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi.

“Sudah.”

“Berapa kali?”

“Satu kali.”

“Tutup surat itu! Apa kata ibumu?”

“Ibu saya berkata saya disuruh nyantri yang bener. Bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain-lain.” Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.

“Baca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal. Sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan.” kata Habib dengan pandangan serius.

Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal.

Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan,

لأنك قرأت رسالة أمك بالفرح فلو قرأت رسالة نبيك بالفرح لحفظت بالسرعة

“Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini ibumu. Coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal. ”

* * *

sahabatku semua yang aku sayangi karena Allah.

Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan santri dalam kisah di atas. Jawabannya adalah rasa cinta. Kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu. Sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.
Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tetapi puluhan lagu-lagu cinta hafal di luar kepala. Padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghapalkannya.Bagi para guru/pengajar, jangan mudah mengkambinghitamkan kemampuan otak siswa dalam lemahnya menerima pelajaran. Mungkin anda tidak berhasil menanamkan VIRUS CINTA di hati mereka.

lalu bagaimana metode atau cara belajar para ulama zaman dahulu yang sukses menggapai ilmu-ilmu dan menciptakan kitab-kitab yang masih dipakai hingga kini. ?

Inilah kiranya rahasia keunggulan para ulama Islam terdahulu, walau pun mereka tidak mengenal gedung-gedung mewah universitas, karena memang belum ada dibangun di zaman itu:

1) Mereka menghafalkan Al-Quran sejak usia dini (antara 7 tahun sampai 15 tahun).

Sewaktu menghafal Quran, para calon ulama besar itu belajar menghargai waktu dengan sebenar-benarnya. Para penghafal Quran zaman sekarang tau benar bagaimana pentingnya menghargai waktu itu jika mau sukses menyelesaikan hafalan Qurannya. Menyia-nyiakan waktu satu jam saja yang sudah dibiasakan untuk digunakan menghafal, maka tunggu-lah besok di waktu yang sama untuk menghafal hafalan baru itu lagi. Mereka juga belajar mengatur waktu menghafal dan waktu mengulang hafalan. Waktu sebelum subuh untuk menghafal hafalan baru, dan waktu dhuha untuk mengulang hafalan yang telah dimiliki. Semua kemampuan ini sangat menunjang di saat mereka mempelajari ilmu-ilmu yang akan mereka geluti nantinya.

Al-Quran dengan sendirinya juga mendorong ulama-ulama cilik ini untuk bersemangat menuntut ilmu sekencang-kencangnya. Teriakan-teriakan ‘mengapa kamu tidak berfikir’, ‘mengapa kamu tidak mempergunakan akal’, ‘mengapa kamu tidak meneliti’, adalah teriakan-teriakan yang datang dari Al-Quran yang selalu mereka ulang-ulang sewaktu mengulang hafalan. Dan masih banyak lagi alasan mengapa hafalan Quran mampu memberikan tenaga besar di dalam menggerakkan tubuh, jiwa dan akal para ulama cilik ini untuk mendalami ilmu pengetahuan sedalam-dalamnya.

2) Ikhlas karena Allah dalam menuntut ilmu.

Karena ikhlas, maka Allah membantu perjuangan sang pencari ilmu, dan jika sudah dibantu Allah, adakah penghalang yang mampu menghalangi? Ikhlas dalam menuntut ilmu berarti menyerahkan sepenuh hati kepada ilmu itu. Maka tidaklah mengherankan jika di antara mereka ada yang berkata: “Berikan dirimu untuk ilmu sepenuhnya, maka ilmu akan memberikan dirinya kepadamu separuhnya.” Ikhlas dalam menuntut ilmu berarti juga menganggap enteng penghalang-penghalang yang menghambat proses panjang mencari ilmu itu. Sebab ia yakin, Allah akan menolongnya di saat kesulitan. Maka tidaklah mengherankan jika di antara mereka, ada yang giat menyalin buku jikalau uang tidak ada di tangan untuk membelinya. Bagaimana kondisi kita jika kita tidak bisa membeli suatu buku yang berharga? Apakah meniru mereka dengan menyalin buku itu? Atau diam saja tidak berbuat sambil berharap, mudah-mudahan bulan depan ada rezeki untuk membelinya?

3) Kecintaan yang luar biasa kepada ilmu.

Sejak kecil, ulama-ulama terdahulu telah ditumbuhkan kecintaan ilmu oleh para orang tua mereka. Imam Suyuthi dikabarkan lahir dari ibu yang sedang menyuguhkan secangkir teh buat suaminya (ayah Imam Suyuthi) yang sedang menggeluti ilmu di perpustakaan pribadinya! Inilah memang yang mesti kita galakkan kepada anak-anak kandung kita dan kepada anak-anak didik kita: Menanamkan kecintaan ilmu sejak dini sekali!

Memperdengarkan bacaan Al-Quran sejak si anak masih janin di dalam rahim, lalu di saat mereka tertidur dan terbangun di waktu bayi, kemudian di saat mereka sedang belajar merangkak lalu berjalan, kemudian di saat mereka sudah mulai terdaftar di Taman Kanak-Kanak, adalah salah satu cara menanamkan kecintaan kepada ilmu segala ilmu, Al-Quran.

Dengan kecintaan kepada ilmu, jadilah mainan mereka buku-buku, jadilah kesukaan mereka masjid-masjid yang di dalamnya tersebar halaqah-halaqah ilmu. Dan kalau sudah cinta kepada ilmu, beristirahat-lah kita –para orang tua- dari ngedumel-ngedumel mengomel menyuruh anak-anak belajar. Sebab mereka sudah otomatis belajar sendiri. Bahkan tunggulah suatu waktu, dimana kita kesulitan menyiapkan uang buat membeli buku-buku ilmu kegemaran mereka!

4) Menghayati sepenuh hati, bahwa ilmu adalah harta segala-galanya dan kesenangan setinggi-tingginya, sehingga melahirkan jiwa otodidak dalam belajar.

Tentu maksudnya ilmu yang menyampaikan kepada rasa takut kepada Allah. Begitulah memang para ilmuan solih sebelum kita. Ilmu … ilmu … dan ilmu. Saking sudah menghayatinya mereka itu akan penting ilmu, sampai-sampai terkenal di antara mereka, ilmuan-ilmuan yang matang karena otodidak, belajar sendiri. Pergi ke perpustakaan dari awal jam dibuka dan keluar pada akhir jam ditutup. Imam Al-Albani sang pemuncak hadits abad ke-21 ini sampai diberikan kunci perpustakaan agar ia bisa sepuas-puasnya menjelajahi buku-buku di sana setelah waktu resmi perpustakaan itu ditutup setiap malamnya!

Sebagian pakar memang tidak menganjurkan sistem belajar otodidak. Akan tetapi itu jikalau tidak dibarengi dengan menyambangi majelis-majelis ilmu dan duduk bersimpuh di hadapan para guru. Jika bersama dengan belajar di hadapan para ulama, maka itulah yang dipraktikkan ulama-ulama terdahulu!

Jiwa otodidak (bahasa Arabnya: At-Ta’lim Adz-Dzati) mutlak diperlukan oleh setiap penuntut ilmu. Imam Nawawi penyusun kitab ‘Riyadh Ash-Shalihin’ adalah seorang ulama berjiwa otodidak. Beliau menegaskan bahwa seorang murid tidak boleh selalu bergantung dengan gurunya, sebab bisa jadi gurunya sedang lelah mengajar, atau banyak sekali murid-muridnya yang mengaji kepadanya.

5) Menjadikan Masjid sebagai tempat belajar.

Halaqah tahfidz dan talaqqi Quran, halaqah tafsir Quran, halaqah Hadits, halaqah Fikih adalah halaqah-halaqah yang dilangsungkan di masjid-masjid perkotaan kaum muslimin di masa lalu. kita belum membaca apakah halaqah matematika, halaqah ilmu Fisika, dan halaqah ilmu Biologi dilangsungkan juga di masjid, akan tetapi kemungkinan besar teori-teorinya diajarkan di masjid-masjid, kemudian praktiknya dilangsungkan di lapangan dan di laboratorium.

Dengan menjadikan masjid sebagai tempat belajar, mereka bisa selalu mengkondisikan hati untuk selalu ikhlas karena Allah dalam belajar. Mereka juga bisa selalu berdoa kepada Allah jika mendapat kesulitan dalam suatu persoalan. Ketenangan bisa terjaga karena di masjid setiap orang tidak diizinkan berteriak-teriak. Dan masih banyak lagi keutamaan belajar mengajar di tempat yang paling suci di muka bumi ini.

6) Bermulazamah (ngaji berhadapan dengan guru) dengan guru-guru yang spesialis.

Belajar Al-Quran dari seorang hafidz Quran yang mutqin (hafalannya lancar) dan memiliki isnad Quran. Belajar Hadits dari seorang hafidz Hadits. Belajar Fikih kepada ahli Fikih dan seterusnya, adalah cara pemuda-pemuda penuntut ilmu mereguk luasnya lautan ilmu di zaman terdahulu. Terkenal di kalangan mereka sebuah kalimat: “Sesungguhnya ilmu agama ini adalah din (amanah agama), maka lihatlah, dari siapa engkau mengambilnya.”

Uniknya, para pemuda haus ilmu ini, tidaklah mencari guru lain di bidang lain, sebelum ia faham betul akan ilmu yang sudah dipelajarinya. Belum hafal Quran, mereka tidak akan mengambil ilmu hadits. Belum hafal hadits, mereka pun tidaklah pergi untuk menimba ilmu fikih dan begitulah seterusnya. Ada tahapan, ada ke-amanahan, dan ada kedisiplinan di dalam menggeluti jenjang dan bidang ilmu.

7) Praktik langsung saat masih belajar.

Ketika mempelajari bab Mu’amalat (jual beli) mereka berdagang. Ketika mempelajari bab Jihad mereka berjihad. Ketika mempelajari bab Nikah mereka menikah, dan seterusnya. Ini jelas mempertajam ilmu yang telah dikuasainya secara teori. Maka terkenal-lah di kalangan mereka julukan-julukan semisal An-Najjar, si tukang kayu, Al-Haddad, pandai besi, Al-Jasshash, si tukang kapur, Az-Zajjaj, si tukang cermin. Menandakan betapa mereka selain ahli di bidang ilmu juga menjalani profesi di lapangan, artinya mempraktikkan ilmu di kehidupan. Hanya memang perlu diingat, jika kita bukan termasuk yang mampu menggabungkan antara berdagang dengan kegiatan ilmu, maka yang diutamakan harus-lah belajar dan belajar.

8) Mengajar sambil belajar dan mengajar setelah belajar.

Di antara para ulama terdahulu yang mengajar sambil belajar adalah Imam Nawawi, dimana paginya beliau belajar dan di sore harinya mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. Menurut riwayat, sampai 13 mata kuliah yang beliau pelajari di pagi hari, dan di sorenya pun mengajarkan lagi ke-13 mata kuliah itu untuk para santri. Sementara Imam Abu Hanifah, mengajarkan ilmunya setelah matang sampai umur 40 tahun belajar, lalu mengajarkan ilmunya sampai usia 70 tahun. Ibnu ‘Abbas juga dikenal sejarah sebagai seorang sahabat Nabi yang sangat sibuk mengajarkan 7 mata pelajaran berbeda di setiap harinya. Adapun Imam Syafi’i, dikabarkan bahwa para penghafal Quran datang menyetorkan bacaan dan hafalan mereka kepada beliau lepas shalat Subuh hingga matahari terbit. Setelahnya datang para penghafal Hadits menyetorkan hafalan Hadits dan menanyakan makna-makna Hadits Nabi itu kepada beliau hingga waktu dhuha (atau jam 10-an). Selanjutnya datang para ahli Fikih, mempelajari fikih Imam Syafi’i yang sangat termasyhur itu.

9) Menulis, menulis, dan menulis terus demi menyampaikan ilmu.

Maksud dari menulis di sini adalah mengarang, menterjemahkan, menyusun, mengkritik suatu pemikiran dan kegiatan lain yang berhubungan dengan penulisan. Ulama terdahulu terbiasa melakukan kegiatan tulis-menulis ini. Seakan-akan kegiatan ini telah menjadi nafas mereka di dalam pergaulan mereka dengan ilmu. Orang-orang Jerman kabarnya pun menggalakkan anak didik mereka sejak kecil dengan kegiatan tulis-menulis. Diberikan kepada anak-anak Sekolah Dasar suatu kalimat misalnya ‘Indonesia’. Maka mereka pun diwajibkan untuk mencari tau informasi Indonesia sebanyak-banyaknya, apakah lewat buku-buku di perpustakaan, atau bertanya kepada orang-orang Indonesia ahli Sejarah yang kebetulan sedang tugas di Jerman dan sebagainya. Yang mana membawa informasi terlengkap, maka itulah pemenangnya!

Lihat saja HAMKA, ia menulis di usia 19 tahun. Tulisan-tulisannya telah dimuat di surat-surat kabar, baik yang ia ikut mengelolanya maupun yang tidak. Maka tak heran di akhir hayatnya, buku-buku yang telah dikarang dan disusunnya mencapai lebih dari 100 judul. Belum lagi yang belum sempat naik cetak.

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

berikut ini“Tips Belajar Para Ulama”, terjemahan dari dua buah buku “Adabu Tholib al-’Ilm” karya Dr. Anas Ahmad Karzun dan “Kaifa Tathlub al-’Ilm” karya Dr. ‘Aidh al-Qorni, MA. yang saya ambil dari tulisan blog-blog sahabat.

apa saja itu ? mari kita pahami bersama…

1. Ikhlas

Hal pertama yang harus digunakan sebagai senjata dan tolak ukur bagi penuntut ilmu adalah ikhlas karena Allah ta’ala, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Sebab, Allah tidak akan menerima amal kecuali didasari ikhlas karena-Nya. Allah ta’ala berfirman yang artinya:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (TQS. Al-Bayyinah [98] : 5)

Bila penuntut ilmu mengikhlaskan amalnya karena Allah, niscaya ia akan mendapatkan pahala yang besar, usahanya akan diberkahi dan ia akan mendapatkan kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada ilmu, ulama dan siapa saja yang menempuh jalan mereka.

2. Beramal dengan ilmu dan menjauhi maksiat

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang disertai amal. Sedangkan, orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya, kelak pada hari kiamat ia akan ditanya tentang ilmunya. Allah ta’ala berfirman yang artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (TQS. Ash-Shaff [61] : 2-3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan serta tentang badannya untuk apa ia gunakan.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan shahih” Sunan at-Tirmidzi no. 2418, Kitab Shifat al-Qiyamah)

Begitu juga, seorang penuntut ilmu harus menundukkan nafsunya dengna meninggalkan kemaksiatan. Sebab, hal itu akan membantunya untuk mendapatkan barakah ilmu dan cahayanya serta keikhlasan di dalam mencarinya.

3. Tawadhuk

Tawadhuk merupakan sifat orang beriman yang paling menonjol secara umum dan para penuntut ilmu secara khusus. Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk bersikap tawadhuk, rendah hati dan berperangai lembut (lihat QS. Asy-Syu’ara [26] : 215). Allah juga menjelaskan bahwa sikap sombong dan merasa lebih dari orang lain merupakan dua sifat yang dimurkai dan dilarang oleh Allah (lihat QS. Luqman [31] : 18).

Para penuntut ilmu hendaknya tetap berpegang teguh dengan sifat tawadhul serta mewaspadai sifat ujub dan merasa bangga dengan ilmu yang diberikan Allah kepadanya. Begitu pula, hendaklah ia mengetahui kemampuan dirinya dan tahu bahwa ia masih dalam taraf menuntut ilmu, meskipun ia telah mencarinya secara mendalam. Jangan sampai ia menyangka bahwa dirinya telah menjadi alim lalu merasa cukup dan berhenti menuntut ilmu.

4. Menghormati ulama dan majlis ilmu

Diantara adab atau etika seorang penuntut ilmu adalah menghormati ulama, bersikap tawadhuk kepada mereka, memelihara kehormatan mereka dan berhati-hati jangan sampai berbuat buruk kepada mereka atau merendahkan kemampuan mereka. Sebab, orang yang berilmu memiliki kemuliaan yang agung dan kedudukan yang besar. Allah telah mengangkat kemampuan mereka dan meninggikan kedudukan mereka.

Salah satu hadits yang menganjurkan untuk menghormati dan tidak menyakiti ulama adalah sebagai berikut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Barangsiapa yang menyakiti wali-Ku, maka Aku telah umumkan perang kepadanya.’” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab ar-Riqoq, Bab at-Tawadhdhu’ (VII/190))

Khatib al-Baghdadi telah meriwayatkan dari imam asy-Syafi’i dan Abu Hanifah rahimahumallah, keduanya berkata, “Kalaulah ulama itu bukan wali Allah, niscaya Allah tidak akan memiliki wali”.

5. Sabar dalam menuntut ilmu

Seorang hamba membutuhkan kesabaran dalam ketaatan kepada Allah, baik sebelum melaksanakan ketaatan tersebut dengan memperbaiki niat dan memutus segala sesuatu yang menyibukkannya dari ketaatan tersebut, ataupun saat melaksanakan ketaatan agar Allah ta’ala menyertai amalnya sehingga amal tersebut bisa dikerjakan dengan optimal.

Tidak diragukan lagi bahwa diantara ketaatan yang urgen yang membutuhkan kesabaran adalah menuntut ilmu dalam rangka mencari keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. Terutama dikarenakan nafsu manusia cenderung untuk bersantai dan bermalas-malasan. Sedangkan, menuntut ilmu membutuhkan usaha yang besar, berat, begadang (mengurangi jatah tidur), meninggalkan sikap berlebihan terhadap dunia, bersafar untuk mencarinya, bertemu dengan para ulama, senantiasa melakukan tanya jawab, menghafal, mengikuti, dan lain sebagainya.

6. Berlomba dalam menuntut ilmu

Setiap kali seorang penuntut ilmu mendalami ilmu dan pintu-pintunya terbuka untuknya, niscaya ia akan menambahnya, berkompetisi dalam mencarinya, dan berusaha untuk memilikinya.

Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdoa untuk mendapatkan tambahan ilmu. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.” (TQS. Thaha [20] : 114)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menganjurkan untuk memperkaya diri dengan ilmu dan tetap bersemangat berbekal diri dengan ilmu selama usia masih ada hingga ia bisa menggapai surga. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda yang artinya, “Seorang mukmin tidak akan pernah kenyang dengan kebaikan yang ia dengar, sehingga puncaknya adalah (ia memasuki) surga.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2686, ia berkata, “Hadits ini hasan gharib”)

7. Jujur dan amanah

Seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki sifat jujur dan amanah ketika menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada manusia. Ia juga harus menjauhi pembelaan terhadap permasalahan apa saja yang bertentangan dengan kebenaran. Bila ia lupa dalam suatu perkara kemudian tampak kebenaran dihadapannya, maka ia harus segera kembali kepada kebenaran tanpa mencelanya agar ia tidak menjadi orang yang berkhianat terhadap ilmunya.

Diantara hal yang perlu dikritisi dari sebagian penuntut ilmu adalah peremehan mereka dalam mengeluarkan fatwa hanya karena telah mentelaah sebagian dari hukum-hukum syar’i. Bahkan, diantara mereka ada yang mengira bahwa ia telah menjadi orang yang ahli dalam berfatwa dan mengoreksi perkataan para fuqaha ataupun membantahnya.

Para salafush shalih rahimahumullah sangat teliti dan hati-hati dalam berfatwa kepada manusia karena takut kalau ada diantara mereka yang salah, mengeluarkan ucapan tentang Allah tanpa ilmu, atau menisbahkan sesuatu yang tidak ada dalam syari’at. Mereka menolak untuk berfatwa, padahal kemampuan mereka sangat tinggi dan keilmuan mereka sangat dalam.

8. Menyebarkan ilmu dan mengajarkannya

Diantara adab yang wajib dilakukan oleh seorang penuntut ilmu syar’i adalah menyebarkan ilmu di antara manusia, tidak menyembunyikannya dan tidak pula kikir dengan ilmu. Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan orang yang menutupi ilmu dan mengancamnya dengan siksaan. Allah ta’ala berfirman yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 159)

Seorang penuntut ilmu syar’i hendaknya bersemangat dalam menyebarkan ilmu kepada manusia, mengingatkan mereka dengan urusan agama, memperingatkan dari kelalaian dan kemaksiatan serta mengajarkan hukum halal dan haram. Seorang penuntut ilmu juga harus menyeru di jalan Allah dengan benar, terutama kepada keluarga, kerabat, tetangga dan umumnya kaum muslimin yang berada di sekitarnya dengan penuh hikmah dan nasihat yang baik, tidak takut dalam dakwahnya terhadap celaan para pencela.

9. Zuhud

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan dunia sebagai ladang beramal untuk kampung akhirat dan memerintahkan kita untuk memakmurkannya dengan amal shalih.

Hendaknya seorang penuntut ilmu menyiapkan dirinya di dunia ini seperti orang asing di negeri perantauan. Ia akan melihat apa yang bermanfaat baginya di negeri akhirat dan bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Ia juga akan melihat hal-hal yang akan menyibukkannya dan menghalang-halanginya dari akhirat sehingga ia bisa menjauhinya.

Seorang penuntut ilmu juga hendaknya berhias dengan zuhud terhadap dunia, tidak berlebihan dalam menikmati kemewahan yang bisa melalaikannya dari menuntut ilmu, meninggalkan kehidupan glamor dan kemewahan yang bisa membuat jiwa terlena dan hati sibuk.

10. Mengoptimalkan waktu

Waktu itu lebih mahal daripada emas, karena waktu adalah kehidupan. Seorang penuntut ilmu tidak boleh menyia-nyiakan waktunya hanya untuk bercanda dan bermain. Sebab, ia tidak akan bisa mengganti kesempatan yang telah berlalu dan kesempatan itu juga tidak akan menantinya. Begitu juga, barangsiapa yang tidak memanfaatkan waktunya, niscaya penderitaannya akan berkepanjangan, sebagaimana orang yang sakit akan terus menderita menanti datangnya waktu sehat dan semangat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam bab ar-Riqoq (VIII/180)

11. Mendiskusikan ilmu agar tidak lupa

Hikmah Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki bahwa lupa adalah tabiat manusia serta menjadikan kemampuan intelektual dan daya ingat mereka berbeda-beda. Hal ini memiliki beberapa hikmah, diantaranya: sifat lupa akan memacu seorang penuntut ilmu untuk mendiskusikan ilmu dan mengulangi pelajarannya dari waktu ke waktu. Dengan begitu, ia akan mendapatkan pahala dan derajat di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, menambah pemahamannya, dan membandingkan antara yang ia pahami dengan apa yang ia hafal. Sehingga hal tersebut akan melekat kuat di dalam benaknya.

Dari ‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Saling mengunjungilah dan diskusikanlah hadits. Janganlah kalian membiarkan ilmu itu hilang.”

12. Menjaga wibawa dan rasa malu

Wibawa dan rasa malu merupakan sifat yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu untuk membedakan antara dirinya dengan selainnya. Jangan sampai ia terlena dengan orang lain dan tidak menyibukkan diri dengan perkara-perkara sepele yang dapat menjatuhkan kedudukan dan kewibawaannya. Hendaklah ia berhias dengan adab dan keindahan ilmu serta menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

Khatib al-Baghdadi rahimahullah berkata, “Hendaklah orang yang mencari hadits menjauhi sikap main-main, bergabung dengan majlis omong kosong, gelak tertawa, dan canda secara berlebihan. Sebab, yang diperbolehkan adalah canda ringan dan jarang-jarang dilakukan serta tidak keluar dari batasan etika dan ilmu. Adapun seseorang yang terus-menerus bercanda, berkata kotor, bertindak bodoh yang membuat sesak dada dan menimbulkan kejahatan, maka hal itu adalah tercela. Banyak canda dan tertawa akan menjauhkan wibawa seseorang dan menghilangkan harga dirinya.

13. Persahabatan yang baik

Teman yang baik adalah teman yang bisa mendatangkan manfaat di dunia dan akhirat. Sedangkan, persaudaraan yang tegak diatas kecintaan karena Allah dan saling menasihati dalam kebaikan dan ketakwaan, maka ia adalah persaudaraan yang kekal abadi. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan untuk memilih teman yang baik dan mengambil manfaat dari pergaulan yang baik itu. Beliau bersabda yang artinya, “Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, maka hendaklah seorang diantara kalian melihat kepada siapa ia berteman.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2379, ia berkata, “Hadits ini hasan”. Abu Dawud no. 4833, dan selain keduanya).

Seorang penuntut ilmu sangat perlu untuk memilih teman yang baik yang akan mengajaknya untuk bersabar dalam menuntut ilmu, mengingatkannya tatkala lupa, menasihatinya ketika salah, dan mengarahkannya ketika tersesat.

sahabatku yang baik. pahami kaidah sederhana ini .

Malas adalah kemenangan saat ini dan kekalahan di masa nanti.

القراءة العالية للحفظ, و القراءة الخافية للفهم

“Membaca dengan suara keras itu untuk menghafal, sedangkan membaca dengan suara pelan itu untuk memahami”

إنما العلم بالتعلم

“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar”

doa membaca

diakhir pembahasan mari sama-sama kita berdoa,

ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang tiada habis-habisnya, untuk persinggahan kami didunia ini menuju syurga yang kami idam-idamkan. amien

semoga bermanfaat.

[disarikan dari berbagai sumber]
Iklan