namaku siapabismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. apalah arti sebuah nama ? pertanyaan ini bukan pertanyaan yang baru, bahkan pertanyaan ini sering kali dilontarkan orang begitu saja. pertanyaan ini juga pernah menghantui pikiran saya, kenapa nama saya tidak sebagus nama-nama teman-teman saya ? kenapa orang tua saya memberi nama itu kepada saya ? kenapa nama saya terkesan deso, banget ? kenapa nama saya begini, begitu dan pemikirannya lainnya yang bisa jadi kamu juga berfikiran yang sama sperti saya, bener tidak ?

apalah arti sebuah nama ? apa engkau tahu arti “temon sujadi” itu nama saya, asli pemberian orang tua saya, blog saya inipun pakai nama saya, “temonsoejadi”, cuma ejaan “su” saya ganti menjadi “soe” itu adalah bentuk ejaan kata yang lama contohnya kongkritnya kata “soe” dari kata orang nomer satu zaman orde baru “soeharto”. kawan, bisa jadi engkau akan berfikir ” kok ada ya, dizaman yang serba modern ini ada nama seperti itu ? dan barangkali sindirian lainnya dengan maksud merendahkan akan banyak bermunculan. ya to ngak kawan ?

kawan, penulisan ini sengaja mengambil slogan yang tampaknya tidak pernah usang, yakni “Apalah arti sebuah nama”. Tajuk ini diusung sebab bagi sebagian orang sebuah nama hanyalah tinggal nama belaka, tidaklah memiliki suatu arti yang penting. Namun, sebuah nama akan menjadi sangat berarti bagi orang yang berkepentingan dengan hakikat nama tersebut. Inilah yang melatari penulisan ini bahwa sebuah nama merupakan identitas pemilik nama. Identitas seseorang akan terbaca ketika diketahui secara lengkap nama yang melekat pada dirinya. Seketika dapat diketahui latar belakang pendidikan dan profesi yang sedang digeluti. Tentu saja itu semua tercermin dari nama diri dan nama gelar yang dibubuhkan pada nama seseorang

sahabatku yang aku cintai karena Allah.

Inilah pernyataan singkat William Shakespeare, ““What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”
(Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi)

Benarkah nama tidak penting?

seharusnya pernyataan William shakespeare tidak mentah – mentah kita telan, kita telaah dulu hakekat dan penekanan kata-nya.

lah kenapa bisa begitu ? ayo kita kupas dulu pelan-pelan

sahabatku, Menjadi pribadi yang bernilai dan setiap nama ada harganya untuk bisa dibayar dengan mahal. Berupaya yakin dimana tempat kita berada kita bisa dibayar dengan mahal, untuk itu ketika kita merencanakan sesuatu anggaplah apa yang kita kerjakan akan terjadi kesalahan, jangan menganggap apa yang kita kerjakan akan berhasil karena belum tentu semua yang kita kerjakan akan mendapatkan hasil yang baik. Membuat usaha dari modal yang kecil tetapi berkeinginan mendapatkan hasil yang besar adalah modal utama diri sendiri menjadi diri yang bisa dibayar dan jadilah diri anda dimana tempat anda berada. Artinya anda menjadi pribadi yang ada dimanapun tempat anda berada. perhatikan kata“setiap nama ada harganya” dan  “menjadi pribadi yang ada “ lah bagaimana orang bisa mengenali kalau itu anda, jika tidak mengetahui nama dan karakter pribadi anda, ya tidak kawan ?

Ada orang yang mengatakan Apalah arti sebuah nama padahal nama itu sangat penting, Nama mempunyai segudang arti dan  makna jadi berilah nama penghargaan. Penghargaan tersebut terbentuk dengan rasa syukur dari diri kita sendiri. Belajar terus untuk menjadi apa yang kita inginkan, jangan pernah mengeluh ketika kita mendapatkan masalah yang besar.  Janganlah kita mempermasalahkan sesuatu untuk mendapatkan inkam ( gaji ) karna belum tentu sesuatu yang kita anggap besar itu akan menghasilakan sesuatu yang besar. Ketika anda memilih sesuatu janganlah memilih apa yang kau sukai mungkin yang anda sukai bukanlah pilihan terbaik  tetapi bisa jadi apa yang anda tidak sukai itulah yang terbaik.

Kita tidak harus mengenal orang. Untuk menjadi orang yang dikenal, anda harus melakukan promosi diri, promosi harus ditaruh didepan supaya kita banyak dikenal orang. Kita harus bangga ketika orang mengenal siapa diri anda karena itulah yang terpenting. Katakan pada seseorang Manfaatkan saya, saya tidak akan bermanfaat jika anda tidak memanfaatkan diri saya. Bersungguh-sungguh untuk menjadi orang yang kaya dan penuh manfaat. Jadikan nama indah agar berpengaruh menjadi keindahan, Jadilah contoh orang-orang yang mengenal Tuhan dan mengatakan bahwa Tuhan bermanfaat untuk diri anda.

bisa anda bayangkan. bagaimana jika sebuah bangsa tidak mempunyai nama ? bayangkan orang-orang indonesia tidak mengetahui siapa presidennya ? bayangkan nabi kita ‘muhammad” , apakah anda kira nama beliau itu biasa-biasa saja ? apalah nama “alquran” itu biasa-biasa saja ? jika anda masih berfikiran sperti itu, anda harus baca dulu perlahan dari atas. agar anda segera paham.

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Orang yang bernilai adalah orang bermanfaat untuk sesama. Nilai itu adalah seindah-indahnya nilai  dihadapan Allah.  Jangan pernah bermain dengan kelas, kelas adalah sebuah penghargaan. Penghormatan  pada diri sendiri itu terbentuk dari rasa syukur karna tuhan menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baik mungkin. Bekerjalah  sepandai mungkin seolah-olah tuhan tidak membantu anda, anggaplah anda orang yang pandai supaya anda mendapatkan ide. Jadilah orang yang kemanfaatanya diketahui keberadaanya.

nah itu adalah salah satu alasan saya. “orang yang bernilai adalah orang yang bermanfaat untuk sesama”, logika sederhana begini kawan. percuma nama engkau bagus, namun semua kebaikan, kecerdasan, kekayaan hanya kamu pergunaakan untuk kebaikan dirimu sendiri. engkau khawatir menderita sehingga lebih mementingkan dirimu bahagia, daripada orang lain bahagia, engkau khawatir jatuh miskin, namun disekitar engkau banyak orang-orang yang lebih miskin membutuhkan pertolongan kamu, percuma Allah menganugerahkan kecerdasan yang gemilang kepadamu, gelar doktor gelar profesor engkau raih, sedangkan ilmu-mu hanya untuk kepentingan dirimu, hanya untuk memperkaya kehidupanmu, sedangkan banyak anak anak diluar sana yang butuh sekali bimbingan ilmu dari seorang guru, namun tak mampu cukup biaya untuk sekedar masuk ke sekolah, untuk makan saja sudah susah.. tidakkah kawan engkau ingat pribahasa, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. orang mati semoga kebaikannya yang terkenang… itulah hakekat nama, meskipun nama itu terkubur ribuan tahuin silam, jika selama engkau hidup kau abdikan diri untuk kebaikan, namamu pasti akan harum sampai masa yang akan datang, bahkan kelak namamu adalah nama-nama orang-orang nomer satu, deretan orang-orang yang bertaqwa, dibawah nama-nama para nabi, rosul.. masihkah nama itu tidak ada artinya buatmu ?

sahabatku yang baik

Allah berfirman dalam al-qur’an: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semua benda, kemudian mengemukakannya kepada mereka yang diberikan kendali, lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” (al-Baqarah [2]: 31)

Andaikata nama tak berarti apa-apa, seperti anggapan Shakespeare, mungkin Allah tidak akan mengajarkan nama-nama kepada Adam. Bahkan, mungkin akan ada banyak nama yang tak peduli pada esensi. Shakespeare memang tidak keliru. Ia membuat perumpamaan sangat cerdas dengan menyatakan sekuntum mawar akan tetap berbau harum meskipun memakai nama lain. Shakespeare memang tidak sedang mempersoalkan arti sebuah nama. Ia sedang mengajak pembacanya merenungkan esensi, keaslian, atau hakikat sebuah materi, apapun namanya.

Shakespeare mungkin akan terkejut bila hidup di masa sekarang. Dia akan geleng-geleng menyaksikan banyaknya nama yang diplesetkan, nama yang dipersonifikasikan dengan sesuatu atau dipoles habis-habisan untuk bercitra sesuai dengan kemauan pemilik nama.

Coba bayangkan, seandainya sebuah kaleng biskuit coklat diberi tempelan nama “kotoran ayam” sebagai mereknya, Tentu biskuit coklat itu akan ditolak ramai-ramai oleh calon pembeli. Akan banyak protes kepada pabrik pembuatnya.

Soal nama yang membawa masalah juga pernah dialami oleh orang-orang China di Indonesia pada masa Orde Baru. Mereka diwajibkan mengganti nama Thionghoa dengan nama Indonesia. Maka jadilah orang dengan nama Liem menjadi Salim, Yun menjadi Yunus, dan lain-lain. Beruntung bagi atlet bulutangkis Liem Swie King yang tetap tenar dengan nama Tionghoa-nya, meski secara politik dan budaya tetap saja mengalami diskriminasi.

Tampaknya, nama juga bisa mendatangkan masalah bagi umat manusia. Contohnya adalah dalam Surah 53:

Maka apakah patut kamu menganggap Al Lata dan Al Uzza? (53:19)
Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian? (53:20)

Itu tidak lain hanyalah nama-nama (asma’a) yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun mengenainya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (53:23)

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (12:40)

Coba bayangkan, apa yang akan terjadi jika tidak ada nama. Mungkin manusia akan bisu. Kita tidak bisa menunjuk ke suatu benda tertentu dengan identitas yang jelas. Mungkin kita tidak akan bias membedakan mana nasi, mana kursi, mana dinding, mana tebing, mana rumah, mana tanah, mana kusing mana kancing, mana racun, mana timun, dst. Bisa dipastikan, dunia akan kacau. Bisa jadi, tidak akan ada kehidupan di dunia ini.

Ar-Rahman (Maha Pengasih) adalah nama-Nya.
Ar-Rahim (Maha Penyayang) adalah nama-Nya.
Al-Khaliq (Maha Pencipta) adalah nama-Nya.
Al-Wasi’ (Maha Luas dan Meluaskan) adalah nama-Nya.
Al-Hakim (Maha Adil dan Bijaksana) adalah nama-Nya.
Al-Alim (Maha Mengetahui) adalah nama-Nya.
Ar-Razzaq (Maha Pemberi rizki) adalah nama-Nya.
Dan nama-nama-Nya yang lain yang berjumlah 99.
Bukankah sebutan-sebutan tersebut adalah nama-nama Allah yang indah? Dialah yang memiliki nama-nama yang indah (asmaul husna).

sahabatku yang aku sayangi karena Allah.

untuk mengakhiri pembahasan kali ini marilah sama-sama kita bercermin, karena bercermin kita akan terlihat indah, bukan begitu kawan.

jika membuat si empunya nama menderita? Nama yang baik bukanlah nama yang memiliki arti dan makna yang bagus, tapi juga nama yang enak di dengar dan ketika di plesetkan tidak menyebabkan tekanan mental pada pemiliknya. Orang tua zaman sekarang terutama yang masih muda dan baru saja mempunyai putra/putri, cenderung untuk mencarikan nama yang memiliki arti yang bagus bagi anaknya dan terkesan unik, sehingga terkadang lupa memikirkan dampak dari nama itu sendiri untuk anaknya kelak. Itu adalah sebuah ketelodaran yang tidak dapat dimaafkan. Karena perihal nama bisa menjadi hal sangat-sangat sensitif. Terutama jika ada unsur bias gender, racis dan sara di dalamnya.  Karena nama bukan lah hal yang bisa di ganti kapan saja. Tapi adalah satu untuk selamanya, terutama jika sudah terdaftar di akte kelahiran, surat-surat penting dan berharga lainnya.

Nama bukan hanya sekedar cara memanggil seseorang, tapi merupakan trademark yang akan dikenang sepanjang zaman. sahabatku, tengoklah nama saya. mungkin nama saya adalah nama yang biasa saja bagi anda, namun bagi orang tua yang melahirkan saya. nama saya adalah segalanya. disanala doa bapak ibu saya sepanjang hari tercurahkan untuk saya. ada keberkahan yang banyak sekali dari nama saya “temonsujadi”.

Memberi Nama Baik . Sesungguhnya Allah itu Indah dan menyukai keindahan. Diantara salah satu dari bentuk keindahan ialah dengan memberi nama yang baik dan tidak memberinya nama yang mengandung makna buruk. Islam adalah agama kemudahan seperti yang disebutkan dalam firman-Nya

“Allah menghendaki kemudahan bagi kamu”( QS. Al-Baqarah : 185 )

Nama adalah ciri atau tanda, maksudnya adalah orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Kariim disebutkan;

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا (7) سورة مريم

“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).

Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab itu para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan 1). Oleh sebab itu apabila seseorang tidak diberi nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (=tidak dikenal) oleh masyarakat

Imam Ibnu Qoyim menyebutkan di zamannya, “Jarang kau dapati nama yang buruk kecuali melekat pada orang yang buruk pula. Dan Allah dengan hikmah yang terkandung dalam qadha dan qadarnya memberikan ilham kepada jiwa untuk menetapkan nama sesuai yang punya.” Orang yang memiliki nama yang baik, kadang malu jika mengerjakan suatu keburukan. Dia berusaha agar dapat mengerjakan kebaikan sesuai dengan namanya.

Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan bahwa dosa-dosa dapat diampuni dengan taubat, tapi ada dosa yang sulit untuk dihilangkan. Yaitu dosa memiliki nama yang jelek. Misalkan seorang kafir yang masuk Islam kemudian diberikan nama hijrah, akan tetapi nama saat dia kafir masih tetap tertulis di surat-surat resmi seperti paspor, ijasah, dll.

tidak hanya memberi memberi nama yang baik, orang tua juga wajib memberikan teladan yang baik.

Abdullah bin Zubair merupakan putra dari Zubair bin Awam. Dalam Syiar Alamin Nubala diriwayatkan dari Urwah bahwa telah masuk Islam Zubair bin Awam, ketika itu beliau berumur 8 tahun. Dan tersebar isu bahwa Rasulullah sudah dibunuh di Makah, maka Az Zubair keluar sedangkan umurnya baru 12 tahun, di tangannya ada pedang. Orang yang melihatnya takjub, beliau berjalan sampai kehadapan Rasulullah. Ditanya Rasulullah kenapa Zubair bin Awam membawa pedang seperti itu, dijawab bahwa Az Zubair ingin membunuh orang yang telah membunuh Rasulullah sebagaimana tersebar dalam berita bohong yang dia dengar.

Kisah Abu Ali Fudhail bin Iyadh dengan anaknya yang terkenal dengan zuhud dan rasa takutnya. Disebutkan bahwa beliau membaca surat Al Haqqah dalam shalat shubuh, saat sampai ayat “Tangkaplah dia lalu belenggulah lehernya ke tangannya” (Al Haqqah : 30) maka beliau menangis. Kemudian saat shalat Maghrib beliau menjadi imam dan putranya berada di sampingnya. Kemudian membaca surat At Takatsur, saat sampai ayat “Kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)” (At Takatsur : 7-8). Maka Ali bin Fudhail pun menangis sampai seperti pingsan, sedangkan Fudhail bin Iyadh juga ikut menangis dan terbata-bata dalam membaca ayat.

Maka hendaknya orang tua memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya baik dalam urusan dunia atau akhirat. Misal ibu segera mengerjakan shalat jika adzan sudah berkumandang walaupun baru mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Memberikan pendidikan agama

Memberikan pendidikan agama sesuai tingkat pemahaman anak. Mengajarkan rukun Islam, rukun Iman, dll. Membiasakan anak-anak untuk menghafal Al Quran dan hadits-hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam

Untuk itulah kita sebagai Umat Islam dan umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disunnahkan memberi nama dan teladan yang baik kepada anak-anak kita karena nama adalah bagian dari doa. dan teladan yang baik adalah realisasi doa yang baik.

sahabatku yang baik, mengakhiri tulisan ini..

Kita tidak harus mengenal orang. Untuk menjadi orang yang dikenal, anda harus melakukan promosi diri, promosi harus ditaruh didepan supaya kita banyak dikenal orang. Kita harus bangga ketika orang mengenal siapa diri anda karena itulah yang terpenting. Katakan pada seseorang Manfaatkan saya, saya tidak akan bermanfaat jika anda tidak memanfaatkan diri saya. Bersungguh-sungguh untuk menjadi orang yang kaya dan bermanfaat. Jadikan nama indah agar berpengaruh menjadi keindahan, Jadilah contoh orang-orang yang mengenal Tuhan dan mengatakan bahwa Tuhan bermanfaat untuk diri anda.

bukan begitu kawan ?

“karena yang membesarkan nama adalah anda sendiri ” bukan orang lain.

semoga bermanfaat.

Iklan