bidah

bismillahirahmanirahim.

sahabatku semua yang dirahmati Allah. sungguh aneh jika ada orang yang dikit-dikit bilang bid’ah, dikit-dikit sok bawa-bawa dalil, dikit-dikit update tentang bid’ah di sosial media. lucu ya kan islam itu luas sekali, lah kok ini sibuk sendiri tentang bid’ah, bukankah yang dia lakukan itu termasuk bid’ah. ya gak kawan ?

Pikiran orang Wahabi tidak istiqomah. Klasifikasi bid‘ah seringkali ditentukan sepihak oleh mereka. Namun ketika mereka sendiri melakukan amal ibadah tertentu yang bersifat bid‘ah, mereka tidak komentar apapun, bahkan merasa nyaman dengan amal itu

sahabatku, aliran Wahabi itu dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab dari Nejd, keturunan orang Badui. Sejak dulu, bangsa Badui dikenal tidak terlalu pintar. ”Maka kalau diserang orang Badui ya tidak usah membalas. Kalau kita balas berarti kita sama seperti mereka. Dibikin santai saja. kalau orang Badui menafsirkan Al-Qur’an maupun hadist, ya tidak usah ditanggapi serius. gitu aja kok repot.

sebuah kisah -kisah menarik tentang bidah, semoga bisa membuka mata hatimu yang terdalam..

Suatu ketika sahabat KH Syamsudin Asrofi asal Lampung yang dulu pernah mondok bareng bersilaturrahim ke rumahnya. Sebagai penghormatan kepada sahabatnya Kiai Syamsudin memberi hidangan berupa makan.

Singkat cerita, hidangan sudah disediakan kiai dan mereka tampak makan bersama-sama. Namun sendok yang ada di atas piring tidak digunakan teman Wakil Ketua PWNU Jateng itu.

“Kenapa tidak pakai sendok?”

“Sendok kan bid’ah, tidak pernah ada pada masa nabi,” kata si tamu cuek. Ia  asyik muluk, makan menggunakan tangan.

Pada sesi makan berikutnya, Kiai Syamsudin meminta istrinya memasak sup untuk tamu istimewanya itu. Saat menghidangkan, sesuai perintah kiai, sup dihidangkan dalam keadaan yang masih mendidih dan tanpa dikasih sendok, khusus untuk tamu.

“Mari dimakan kang!” ajak Kiai Syamsudin.

“Ya terima kasih,” jawab tamu dari Lampung itu.

Beberapa kali disuruh untuk makan, dia tidak lantas makan. Namun karena sudah kuat menahan lapar akhirnya si tamu bersoloroh kepada shohibul bait. “Sendoknya mana kiai!” pinta tamu kepada tuan rumah.

Jaremu (katamu, red) bid’ah kang!” ledek kiai sembari tersenyum ringan.

“Masak makan sup panas pakai tangan!” kata tamunya.

Kiai Syamsuddin lalu meminta istrinya untuk mengambilkan 1 sendok buat tamu istimewanya.

sahabatku sudahkah engkau paham akan jalan ceritanya, jika belum maka sima lagi cerita selanjutnya….

Bagi ulama asal Semarang Habib umar Muthohar,  didebat kelompok yang menuding amalan Aswaja itu bid’ah dan syirik adalah hal  biasa. Habib sering menjawab dengan alasan sederhana dan penuh canda.

Bahkan setiap mengisi pengajian, Habib memberi contoh cerita jawaban debatan orang Wahabi

“Bib, emange orang mati ditahlilkan dido’akan  bisa nyampai?” tanya orang wahabi itu.

“Ya jelas sampai,” jawabnya.

“Kok bisa?” tanya balik orang tadi

“Buktinya, selama ini saya tahlilan untuk orang mati, tidak pernah dikembalikan oleh malaikat. berarti kan nyampai.!” jawab Habib sambil guyon. Orang tadi hanya diam.

Begitu pula saat ditanya,orang dzikir kok pakai gedek (geleng kekiri –kekanan). Habib dengan enteng menjawab.

”Lha gedek-gedek dewe kok gak boleh,emange masalah buat Loe?. Kalo berdzikir sambil melempari orang, sampeyan baru boleh mempermasalahkan.” tepis Habib.

Orang tadi tidak bisa berkutik,lagi-lagi terdiam.

dan ini kisah terakhir…. simak lagi dengan seksama…

ini kisah yang pernah dialami seorang kawan di Solo. Suatu ketika, dia ikut tarawih di sebuah masjid.
Sesaat sebelum mulai tarawih, seperti biasa Bilal mengumandangkan seruan salat tarawih: “Shollu sunnata at-tarawih rak’ataini jami’atan rahimakumullah”

Tiba-tiba ada salah seorang jamaah yang menyela seruan tersebut.

“Ini jelas bid’ah. Tidak ada di zaman Nabi,” tegasnya.

Lalu terjadilah perdebatan kecil. Satu sama lain mengeluarkan argumennya. Sampai salah seorang jamaah ada yang nyeletuk.

“Njenengan, melarang seruan tarawih dengan bahasa Arab. Nah, kalau sekarang diganti kalimatnya dengan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa: Ayo solat tarawih atau monggo salat taraweh, boleh tidak?” tanya jamaah itu.

“Oh, kalau itu boleh-boleh saja,” jawab pembid’ah.

Akhirnya tarawih berjalan kembali, tentunya dengan seruan yang tak lagi “bid’ah”

aneh kan  !!!! orang-orang yang gemar pembid’ah

sahabatku semua yang dirahmati Allah

“Jika amalan yang tidak ada dalil perintahnya disebut bid’ah, maka melarang suatau amalan tanpa menggunakan dalil larangan juga termasuk bid’ah. Sebab, perintah dan larangan dalam islam telah jelas. Adapun amalan yang tidak ada perintah ataupun larangannya, maka amalan ini termasuk mahalul ijtihad (Tempat ijtihad).

Untuk amalan yang seperti ini, boleh dikerjakan jika tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, Hadits dan ijma’. Maksudnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Zahro dalam kitab Ushul Fiqh : “Amalan tersebut tidak menghalalkan apa yg telah diharamkan atau mengharamkan apa yang telah dihalalkan.”

Walhasil, untuk melarang suatu amalan yang tidak memiliki dalil perintahnya, kita harus memiliki dalil larangannya. Dalam kitab Ushul Fiqh terdapat kaidah: “Tidak ada dalil,bukan lah dalil untuk melarang.”

semoga bermanfaat.

sumber nu.or.id

Iklan