orang jahatbismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. memasuki pertengahan ramadhan semoga tetap semangat semoga tetap istiqomah amin. sahabatku pertanyaan sederhana sering kali kita pertanyakan dalam diri kita sendiri ” Jika kebaikan mendatangkan kebaikan dan kejahatan mendatangkan kejahatan , mengapa banyak orang baik harus menderita dan banyak orang jahat makmur di dunia ini ?” pertanyaan sederhana sebenarnya, siapa yang mau menjawabnya ?

sahabatku. kompleksitas kemajemukan masyarakat indonesia yang beragam, yang terdiri dari banyak sukubangsa dengan wilayah dan kondisi geografis yang berbeda juga disertai pengaruh induvidualisme zaman modern juga dasar ahlak yang belum kuat maka orang yang berlau tidak baik seakan – akan dianggap lumrah di indonesia. contoh sederhana saja setiap hari saat membuka berita di media pasti ada saja pelaku kriminalitas yang tertangkap aparat penegak hukum. jika begini siapa yang salah ?

tentu mudah jawabnya. salahkan diri dulu, lah kenapa bisa begitu ?

sebuah ilustrasi sederhana semoga engkau memahaminya….

LALAT dan LEBAH
Mengapa LEBAH cepat menemukan Bunga…? Sedangkan LALAT cepat menemukan Kotoran ?

Karena naluri Lebah hanya untuk menemukan Bunga,
Sedangkan Naluri lalat hanya untuk menemukan Kotoran.

LEBAH tidak tertarik pada kotoran. Sebaliknya, LALAT tidak tertarik pada harum dan keindahan bunga.
Alhasil, LEBAH kaya akan madu sedangkan LALAT kaya kuman penyakit.

Mengapa sebagian orang menjadi JAHAT dan sebagian orang menjadi BAIK.
Karena orang jahat tidak tertarik pada hal² yg baik, Sebaliknya bila ada hal² yg jahat, menyakitkan, gosip, bohong, permusuhan, mereka jadi begitu bersemangat untuk menyebarkannya, mereka orang² yg mudah di profokasi tanpa pikir panjang langsung bereaksi.

Orang BAIK ialah orang yg tidak tertarik dan tak mau merespon akan hal² buruk, menyakiti, isyu yg tak jelas, semua hal yg berbau kejahatan yg sekalipun dilapisi isyu agama.

Apa yg dipikirkan akan menghasilkan apa yg dilihat, & apa yg dilihat akan menghasilkan apa yg diperoleh.
Intinya ; Hidup ini sangat tergantung dengan Hati & Pikiran.

Jika Hati & Pikiran selalu Negatif maka apa saja yg dilihat akan selalu Negatif & hasilnya adalah penderitaan, sakit hati, kecewa. Iri hati, sirik.

ANDA INGIN BAHAGIA ………?
Mulailah dengan Hati & Pikiran yg selalu Positif maka apa saja yg dilihat akan selalu Positif & hasilnya adalah kebahagiaan.

betul tidak kawan ?

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Ketahuilah bahwasanya rendah diri hamba yang terlibat dalam perbuatan maksiat, lebih baik daripada angkuhnya hamba yang berbuat taat. Seorang hamba yang taat beribadah, akan tetapi tumbuh rasa angkuh dan riya’ dalam hatinya, maka kemungkinan Allah Ta’ala akan meremehkan amal ibadahnya itu. Ada juga hamba yang sering terlibat perbuatan dosa, yang sangat menyedihkan hatinya, Allah Lemberi hidayah kepadanya, lalu tumbuh penyesalannya dan rasa khasiyah kepada Allah, ia telah berjalan menuju keselamatan

sebenarnya di dunia ini tidak harus ada orang jahat, tapi Allah Yang Maha Bijaksana telah mengilhamkan dua jalan, yaitu ketakwaan dan fujur (kejahatan). Artinya pada setiap jiwa manusia Allah memberangkatkan tiap diri meraka dari satu titik awal berupa kefitrahan diri yang membuat manusia bisa berdiri di posisi netral. Nah seiring perjalanan waktulah dapat terlihat manakah individu yang condong pada kebaikan dan pahala, dan mana pula individu yang condong pada kejahatan dan dosa.

Selain dari itu, Allah telah menetapkan dunia ini sebagai medan ujian dan kompetisi untuk menentukan siapakah diantara hamba2-Nya yang layak masuk ke surga-Nya. Lebih lanjut lagi, adanya orang jahat karena ada pengaruh dari bisikan setan yang mencoba sekuat tenaga mengumpulkan pasukan dari kalangan manusia untuk menjadi pengikutnya di neraka. Maka ketika dibentangkan dua jalan bagi kita, jalan manakah yang hendak kita tempuh hingga ajal menjemput? inilah jawaban dari pertanyaan diatas ..

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Dunia itu adalah fana, sementara, dan tak ada artinya dibandingkan kehidupan setelahnya. Dalam Al Qu’ran seringkali disebutkan perumpamaan kehidupan dunia itu bagaikan permainan dan senda gurau belaka, sedangkan kehidupan di akhirat adalah yang abadi, kekal selamanya, dengan nikmat yang sempurna bagi orang-orang beriman dan beramal sholeh semasa hidupnya, dan kesengsaraan yang tak terkira bagi yang banyak amalan jahatnya.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Qur’an : Al Hadid ayat 20)

sahabatku, lalu pertanyaan ini pasti masih engkau risaukan ? lah kenapa orang jahat itu seakan-akan Allah memuliakanya dengan segala kemewahan dunia ?

pertanyaan bisa dengan mudah dijawab. “segala sesuatu yang baik menurutmu belum tentu baik menurut Allah, dan segala sesuatu yang buruk bagimu belum tentu buruk juga menurut Allah. Allah maha mengetahui apa-apa yang terbaik untuk hambanya”

“Hidup ini selalu ada masalah karena sumber masalanya adalah diri kita sendiri yang tidak mau menerima kanyataan dan selalu mengandai2 apa yang belum kita nikmati”

kenikmatan dunia berupa banyaknya harta, anak, wanita, dan kedudukan terpandang yang dimiliki itu bukanlah sebagai tolak ukur seberapa besar kecintaan Allah dan kemuliaan seseorang disisi Tuhannya. Banyak harta, kedudukan, dsb yang dimiliki itu bisa jadi merupakan fitnah kenikmatan yang diberikan Allah pada seseorang sehingga dibuat terlena olehnya (ISTIDRAJ), lalu ia pun mengira dosa-dosa yang diperbuat selama ini tak ada efek buatnya atau malah menganggap Allah ridho padanya. Padahal bisa jadi Allah membencinya sehingga sampai pada tingkat membiarkannya begitu saja sehingga dosa-dosa nya makin menumpuk tak terbatas. Kemudian sampai pada masa yang dijanjikan seperti kematiannya, maka binasa totallah ia di hadapan Yang Maha Kuasa yang akan membalas semua amal perbuatan manusia walaupun sebesar atom, atau yang lebih kecil dari itu.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian),……” (Quran Al Fajr ayat 15-17)

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka. Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Qur’an, Al-Mukminun ayat 55 – 56)

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Philip Zimbardo, dalam penelitiannya tentang mengapa orang baik dapat berubah menjadi jahat dan sebaliknya, menemukan bahwa ada tiga faktor utama yang mendasari hal tersebut, yakni:

1. Disposisi (dapat dikatakan sebagai kepribadian bawaan seseorang)
2. Situasi (situasi tertentu dapat membuat orang menjadi jahat atau baik)
3. Sistem (Politik, ekonomi, dll yang menciptakan suatu situasi yang dialami orang-orang)
Dari ketiga hal tersebut, peneliti psikologi terdahulu masih yakin bahwa seseorang memiliki sifat jahat dikarenakan mereka memang memiliki ‘bibit’ jahat sedari lahir. Namun Zimbardo menemukan bahwa hal tersebut tidak benar. Ia menemukan bahwa faktor lingkunganlah yang lebih besar dalam membuat seseorang menjadi jahat. Pada tahun 1970an, ia melakukan eksperimen yang berisiko besar mengenai hal tersebut, yaitu “Stanford Prison Experiment”.

Dalam eksperimen ini, ia meminta bantuan sukarelawan untuk rela bermain peran sebagai sipir penjara dan narapidananya untuk 2 minggu penuh. Penelitian ini melibatkan orang-orang yang sama sekali tidak punya sejarah masuk penjara atau melakukan tindak kriminal apapun, dapat dikatakan bahwa mereka semua orang baik-baik. Dari awal penelitian, mereka betul-betul diskenariokan sebagai narapidana, mulai dari dijemput di rumah masing-masing dengan mobil polisi dan borgol dari polisi, hingga aturan-aturan di penjara simulasi yang terletak di ruang bawah tanah Universitas Stanford. Hari-hari pertama penelitian berlangsung sesuai perkiraan, namun pada beberapa hari setelah itu, ada kejadian-kejadian di luar dugaan. Para sipir mulai bertindak di luar instruksi dengan alasan ‘mendidik’ para napi yang tidak disiplin, diikuti dengan reaksi melawan dari napi. Bahkan ada salah satu napi yang sampai tantrum dan akhirnya harus dikeluarkan dari penelitian karena khawatir akan mendapati efek negatif dari eksperimen tersebut. Karena kekacauan yang terus menerus terjadi, penelitian tersebut diakhiri hanya dalam waktu seminggu.

Dari penelitian tersebut, Zimbardo menarik kesimpulan bahwa faktor lingkungan adalah faktor yang sangat kuat dan dominan dalam mengubah seseorang dari baik menjadi jahat ataupun sebaliknya (penemuan yang menentang teori lama bahwa disposisi (kepribadian) seseorang merupakan hal yang dominan dalam merubah tingkah laku seseorang. Dan dari penelitiannya, Zimbardo menawarkan solusi, yaitu Heroism atau ‘kepahlawanan’ untuk melawan bobroknya sistem dan situasi yang dihasilkan demi kebaikan umat manusia.

sahabatku yang dirahmati Allah.

orang beriman itu yakin artinya orang beriman itu meng-imani apa apa yang datang dari tuhannya, apa apa yang menjadi larangannya dan apa-apa yang menjadi perintahnya. Jika kita ada rasa takut kepada Allah, sudah pasti kita tidak akan berani melanggar perintah-Nya. Rasa takut akan mendorong seseorang itu benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah. Semua perintah Allah akan dipatuhinya dan larangan ditinggal-kannya.

“Cucilah empat perkara dengan empat perkara. Cucilah wajahmu dengan air matamu, cucilah lidahmu dengan zikir kepada Penciptamu, cucilah hatimu dengan rasa takut kepada Rabbmu dan cucilah dosamu dengan bertaubat kepada Penguasamu.”

Walaupun Rasulullah SAW bersih daripada melakukan sebarang dosa dan dijamin Allah dengan syurga, di hati Baginda tertanam rasa takut kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Akulah manusia yang paling takut kepada Allah di antara kamu semua itu.” (Hadis riwayat Bukhari)

Allah SWT berfirman yang maksudnya: “Hanya orang Mukmin yang sebenar itu apabila disebut saja nama Allah, gementarlah hati mereka dan apabila dibaca ayat al-Qur’an, bertambahlah keimanan mereka dan hanya kepada Allah sajalah mereka menyerah diri.” (Surah al-Anfal, ayat 2) ,

lalu dimana kita ?

semoga bermnafaat.

Iklan