pro-vs-anti-bioticsbismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. ternyata sadar maupun tidak sadar sering kali  kita mudah sekali dibodoh-bodohin orang dengan sebuah LABEL tertentu, bener kata gusmus di twittwer. “Sering kita TIDAK (bisa) MEMBEDAKAN sesuatu yg BERBEDA dan tidak jarang kita MEMBEDAKAN sesuatu yang (sebenarnya) SAMA”

kenapa bisa begitu ? adakah yang tahu..?

Kita hidup dalam kepungan lembaga-lembaga dan label-label. Lembaga-lembaga merantai kita dalam kotak-kotak dan prosedur-prosedur, sedangkan label-label laksana kaca mata kuda yang menjepit kedua pelipis kita hingga gepeng.

Ketika Ulil (Abshar Abdalla) hendak membentuk JIL (Jaringan Islam Liberal), Gus Dur menasehati,

Pakai label itu lebih banyak rugi ketimbang untung”, kata beliau, “label cenderung mengundang serangan”.

Ulil tetap membentuk JIL. Dan nyaris serta-merta ia menjadi sasaran tembak bagi siapa saja yang mencurigai Yahudi, Israel dan Amerika. Tak seorang pun cukup sabar untuk memperhatikan gagasan-gagasan Ulil beserta argumentasi dan khazanah pengetahuan yang diusungnya. Orang hanya bernafsu mengincar label JIL yang ditempel di jidatnya!

Pada gilirannya, semua yang anti-Yahudi jadi anti-JIL. Kemudian yang tidak setuju dengan pendapat-pendapat Ulil jadi anti-JIL. Bahkan di kalangan NU, “tanah tumpah-darah”-nya Ulil sendiri, berkembang pula gairah anti-JIL, gara-gara Ulil meneriakkan: “Semua agama sama”!

Pada tahap berikutnya, kesalahpahaman, kebencian dan syak wasangka mengeruntel di benak orang-orang yang memang sempit ruang-pikirnya sehingga kaburlah beda antara JIL, Ulil, pluralisme, pembaruan, Yahudi, humanisme, dan segala yang tidak cocok dengan kegalakan “agamis”. Maka, JIL menjadi hantu sapu jagad. Nyaris mirip PKI dulu. Barangsiapa menyuarakan feminisme atau multikulturalisme atau pluralisme, dicap JIL –tidak kurang dari MUI (Majlis Ulama Indonesia) merasa perlu mengeluarkan fatwa haram khusus berkaitan dengan ini! Yang membela hak-hak minoritas (khususnya Ahmadiyah) : JIL. Yang menjalin kerja sama dengan Amerika : JIL. JIL kemudian menjadi “alat kampanye” yang amat efektif bagi tiran-tiran kecil disekitar kita, yaitu dengan agitasi mereka: “Barangsiapa tidak setuju dengan saya : JIL!”

Belakangan –saya kuatir– “logika bersih lingkungan” mulai diterapkan. Konon Kiyai Najih Maimun menyusun suatu daftar hitam eksponen JIL yang harus diwaspadai, dan di urutan nomor satu ia tempatkan: Kiyai Mustofa Bisri ! Karena Gus Mus mertuanya Ulil ? hehe

Itulah afatnya label.

Akan halnya lembaga-lembaga, tak kurang pula teganya menindas kita. Lembaga membawa klaim yang dijadikan senjata untuk menodong dan menuntut kepatuhan kita, yaitu “kehendak kolektif yang mapan”. Kita harus patuh atau kita menjadi musuh bersama. Pada tingkat lanjutnya, lembaga-lembaga bahkan mengangkangi klaim kebenaran!

Mengapa orang-orang tertentu harus duduk dideretan terdepan walaupun datang terlambat sedangkan yang lain di belakang walaupun datang lebih awal? Lembaga! Mengapa harus memakai model pakaian tertentu untuk datang ke suatu tempat atau acara tertentu? Lembaga!

Dulu, Gus Dur menuai hujan kecaman hanya karena menjadi Ketua Dewan Juri Festival Filem Indonesia (FFI). “Kiyai kok jadi juri kethoprak!” kata orang. Sementara itu, penerbitan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) atas sejumlah koruptor dinyatakan benar karena “sudah sesuai prosedur”.

Gambaran realitas memang tidak selalu sengeri itu. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa lembaga-lembaga dan label-label seringkali mengeruhkan cara berpikir kita dan merampas kemerdekaan kita. Oleh karena itu, orang-orang pandai terkadang sengaja menabrak kungkungan lembaga-lembaga dan label-label itu demi memelihara kejernihan pikir dan jiwa merdekanya. Ingat bagaimana Presiden Abdurrahman Wahid keluar menemui para demonstran pendukungnya hanya dengan celana pendek?

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Mengapa FPI begitu sukses dalam waktu begitu singkat? Karena masyarakat kita sudah sangat siap menerima keberadaannya. Tiga puluh dua tahun rejim Orde Baru mempergunakan rasa takut untuk mengendalikan kita, tentulah banyak orang yang sudah lama memimpikan kesempatan untuk gantian menakut-nakuti. Lebih dari itu, ketika terbiasanguncis dibawah ketakutan, hidup tanpa rasa takut bagi banyak orang mungkin terasa hampa. Bagaikan sayur tanpa garam, atau ithik-ithikan tanpa cinta…

Apalagi yang dikibar-kibarkan oleh FPI adalah bendera-bendera keramat: syari’at, aqidah, jihad, dan sebagainya. Itu adalah bendera-bendera suci yang begitu dikibarkan langsung disujudi. Orang-orang ‘alim sudah sejak lama mengajarkan pentingnya menangkap substansi ketimbang simbol. Tentang penegakan syari’at, misalnya, orang-orang pandai mengajak berpikir: syari’at yang mana, berdasarkan madzhab apa, atas wewenang siapa, dan seterusnya.

Tapi substansi itu dalam dan rumit, sedangkan simbol-simbol jelas lebih kasat mata. Seperti kata Gus Shampton, “melihat inti itu harus mikir, membedakan rasa terasi harus mikir, tapi kalau melihat label/lembaga itu mudah tanpa harus punya otak”. Dan sudah jelas pula bahwa orang bodoh itu lebih banyak ketimbang orang pandai.

Pernah kita dengar di suatu daerah ada sekelompok orang meneriakkan tuntutan agar selama bulan puasa segala warung dan tempat jual makanan dilarang buka di siang hari. Menurut mereka, itu demi menghormati bulan puasa dan kaum muslimin yang menjalankan puasa. Tak ada tanda-tanda ada yang ingat bahwa tidak semua muslimin wajib berpuasa. Bagaimana dengan musafir? Perempuan yang datang bulan?

Belasan tahun yang lalu, jauh sebelum reformasi dan lahirnya FPI, tiga orang kiyai Rembang, Kiyai Asfani Toha, Kiyai Kholil Bisri dan Kiyai Mustofa Bisri, bepergian ke Bangkalan, Madura, untuk menta’ziyahi seorang kiyai yang wafat di sana. Waktu itu bulan puasa. Berangkat dari Rembang menjelang shubuh, sampai di Bangkalan saat dluha. Yang pertama-tama dicari adalah warung untuk sarapan. Toh sejak shubuh tadi Kiyai Kholil dan Kiyai Mus sudah jedhal-jedhulrokoknya.

Setelah agak lama berkeliling, didapatilah sebuah warung sederhana, salah satu dari sedikit sekali warung yang buka. Perempuan penjaga warung itu terlihat membungkuk-bungkuk dibalik meja jualannya, entah sedang sibuk apa.

“Permisi!” salah seorang menyapa.

Perempuan itu mendongak dan mendapati tiga orang berkopiah putih lengkap dengan sorban. Seketika darahnya membeku. Wajahnya pucat pasi. Tanpa sepatah kata, perempuan itu menyincing tapihnya dan melompat kabur lewat pintu belakang!

Kiyai-kiyai Rembang itu terpaksa tetap menahan lapar sampai selesai ta’ziah, ba’da ashar hari itu. Entah mana yang lebih disesali: menyulut rokok atau memakai kopiah putih dengan sorban ?

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

suatu kali Gus Mus pergi ke Amerika ……………………………………….

Mengapa Gus Mus pergi ke Eropa dan Amerika? Apakah ia datang ke tempat-tempat jauh itu untuk mengemis-ngemis kemuliaan dari orang-orang Eropa dan Amerika? Apakah Gus Mus merasa kurang mulia berada diantara santri-santrinya di kampung Leteh, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang? Apakah orang-orang Eropa dan Amerika itu begitu mulia di mata Gus Mus sehingga perlu disowani dan dialap berkahnya? Apakah Gus Mus itu gila hormat atau gila popularitas atau gila uang atau gila beneran?

Gus Mus datang ke Brussel, Kerajaan Belgia, atas undangan dari H. E. Werner Langen (asal Jerman), Ketua Delegasi Parlemen Eropa untuk Hubungan-hubungan dengan Negara-negara Asia Tenggara dan ASEAN, dan H. E. Arif Havas Oegroseno, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belgia dan Uni Eropa. Undangan ke Amerika datang dari Walter Lohman, Direktur Pusat Studi Asia di The Heritage Foundation, sebuahthink-tank untuk kebijakan-kebijakan dalam dan luar negeri Amerika Serikat. Apakah Gus Mus memohon-mohon untuk bertemu mereka? Silahkan menduga-duga sendiri, apabila tidak ada jaminan bahwa omongan Gus Mus bisa dipercaya.

Dalam diskusi dengan anggota-anggota Parlemen Eropa di Brussel terungkap bahwa pemerintah negara-negara Eropa dan masyarakat (pribumi) Eropa pada umumnya dewasa ini sedang dilanda kegelisahan menyangkut masalah-masalah yang muncul di seputar keberadaan para imigran muslim dari Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah dan Pakistan, yang cenderung meningkat pesat jumlahnya. Di satu sisi, membanjirnya imigran itu melahirkan masalah-masalah ekonomi dan kriminalitas, ditambah kecenderungan makin menguatnya di kalangan kaum imigran itu “ideologi Islam” yang bersikap “subversif” terhadap sistem sosial-politik dan keseluruhan eksistensi masyarakat Eropa. Di pihak lain, masyarakat Eropa pribumi pun cenderung makin meningkat kecurigaannya terhadap Islam sehingga menguat pula sikap Islamo-phobia(membenci Islam secara apriori) di kalangan mereka.

Diskusi di The Heritage Foundation menampilkan narasi yang nyaris serupa, kecuali data bahwa peningkatan populasi muslim di Amerika lebih banyak karena pindah agama (konversi) ketimbang imigrasi. Toh dirasakan pula bahwa di kalangan kaum muslimin Amerika semakin berkembang pula paham keagamaan Wahabi-Salafi –secara eksplisit disebut oleh para pembicara Amerika dalam diskusi tersebut—yang mereka tengarai bersikap ekslusif terhadap masyarakat Amerika umumnya dan subversif terhadap sistem sosial-politik Amerika. Beberapa tahun yang lalu, FBI (Federal Bureau of Investigation), dalam salah satu operasi penggeledahan, menemukan dokumen milik seorang tokoh Wahabi-Salafi dan pemimpin jaringan Al Ikhwanul Muslimun Amerika yang berisi cetak biru strategi kelompok mereka dalam “jihad peradaban” untuk menghancurkan Amerika dari dalam. Isu-isu seputar hal ini dengan sendirinya menambah bumbu yang menyengat atas krisis hubungan Amerika dengan dunia Islam sejak War on Terror. Islamo-phobia di tengah masyarakat non-muslim Amerika pun tumbuh kian subur pula.

Mengapa Gus Mus?

Para pengundang itu tertarik kepada buku “Ilusi Negara Islam” (dapat didonlod disini) yang baru-baru ini diterjemahkan kedalam bahasa Inggris (dengan judul: “The Illusion of an Islamic State”) karena buku itu menggambarkan pengalaman Indonesia menghadapi berkembangnya ideologi Wahabi-Salafi dan ideologi-ideologi Islam radikal lainnya. Mereka beranggapan, buku itu dapat mengispirasi para pembuat kebijakan dan masyarakat umum di Eropa dan Amerika dalam menyikapi perkembangan Islam di wilayah masing-masing.

Gus Mus diundang karena dia adalah penulis epilog untuk buku itu, dengan tulisannya yang berjudul: “Jangan Berhenti Belajar”. Lebih dari itu, Gus Mus juga dipandang sebagai “the next in the row” (orang berikutnya) setelah Gus Dur (Kiyai Haji Abdurrahman Wahid) yang telah diterima dan diyakini oleh masyarakat global sebagai personifikasi faham keislaman yang moderat, toleran dan pro-human (berpihak pada kemaslahatan umat manusia secara keseluruhan).

Orang-orang itu mengundang Gus Mus tanpa mengatakan apa yang mereka harapkan dari Gus Mus atau penjelasan apa yang ingin mereka dapatkan dari Gus Mus. Maka dalam orasi-orasinya pada forum-forum yang diselenggarakan oleh para pengundang itu, Gus Mus pun –seperti yang biasa ia lakukan dalam ceramah-ceramah pengajian kampung– sekedar menyampaikan gagasan-gagasannya sendiri tanpa memperdulikan kemungkinan persepsi atau tanggapan apa pun dari para pendengarnya.

Pokok-pokok gagasan itu adalah sebagai berikut:

  1. Islam bagi Gus Mus adalah rahmatan lil ‘alamin –dengan pengertian yang telah sering kita dengar atau baca sendiri dari beliau;
  2. Kelompok-kelompok muslim tertentu menjadi radikal dan bersikap bermusuhan terhadap siapa pun diluar kelompok mereka karena berkiblat pada gagasan-gagasan Islam yang dipropagandakan oleh gerakan Wahabi-Salafi yang berpusat di Saudi Arabia;
  3. Mereka yang curiga dan fobi terhadap Islam hanya melihat atau mengambil referensi dari propaganda Wahabi-Salafi dan secara hantam kromo menganggap Islam identik dengan apa yang dipropagandakan oleh Wahabi-Salafi itu;
  4. Kedua belah pihak (yang disebut dalam poin (2) dan (3) diatas) saling memperuncing kesalahpahaman dan kebencian satu terhadap yang lain dengan sikap-sikap dan tindakan-tindakan yang salah serta aniaya dari masing-masing terhadap yang lain –Gus Mus menyebut pembelaan Barat yang membabibuta kepada Israel dalam penjajahan Palestina dan kekerasan membabibuta kelompok radikal sebagai contoh-contohnya—karena aniaya satu pihak merupakan dalil tambahan untuk membenarkan kebencian pihak lainnya;
  5. Kedua-duanya sama-sama keblinger karena mengabaikan “Islam jenis lain”, yaitu seperti yang dipahami oleh Gus Mus sendiri;
  6. Pemahaman Islam Gus Mus, yaitu sebagai rahmatan lil ‘alamin, oleh Gus Mus sendiri diyakini sebagai paham yang dianut oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia, dan berkaitan dengan itu, Gus Mus mempersilahkan untuk mengecek kepada tokoh-tokoh besar dunia Islam dewasa ini, seperti Grand Sheikh Al Azhar, Kairo, Syaikh Muhammad Thonthowi, Grand Mufti Syria, Syaikh Badruddin Hasun, Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama, Syaikh Ahmad Muhammad Sahal bin Mahfudh, dan lain-lain.

(File mp3 rekaman diskusi berikut orasi Gus Mus di The Heritage Foundation dapat didonlod disini)

Kehadiran Gus Mus di Eropa dan Amerika memancing ketertarikan berbagai pihak. Tidak kurang dari tim penasehat keamanan Presiden Obama yang terkait dengan Islam mengundang Gus Mus ke Gedung Putih untuk didengar pandangan-pandangannya. Demikian pula Center for Security Policy, sebuah think-tank kebijakan keamanan Amerika yang dipimpin oleh Frank J. Gaffney Jr., mantan asisten Menteri Pertahanan Amerika Serikat bidang kebijakan keamanan internasional.

Di kantor Center for Security Policy, tidak jauh dari Capitol Building (Gedung Parlemen Amerika), Gus Mus dirubung sekumpulan orang sangar yang sebagain besar Islamo-phobs (pembenci Islam). Mereka menghujani Gus Mus dengan pertanyaan-pertanyaan dan gugatan-gugatan nyelekit tentang Islam. Tapi mereka segera dibikin terlongong-longong oleh jawaban-jawaban santai Gus Mus yang berisi penjelasan-penjelasan yang belum pernah mereka dengar dari referensi Wahabi-Salafi, yang selama ini menguasai persepsi mereka tentang Islam. Mereka bingung: kalau Islam itu seperti yang dijelaskan oleh Gus Mus, mereka mau membenci apanya? Berbagai kajian dan proposal strategi yang bertahun-tahun mereka susun untuk mengganyang Islam secara global jadi buyar tidak karuan, karena asumsi-asumsinya tentang Islam runtuh.

Lebih bengong lagi mereka mendengar keluhan Gus Mus,

“Salah satu sahabat terdekat Amerika adalah Arab Saudi. Tapi kaum simpatisan Arab Saudi di Indonesia melaknat Amerika setiap hari. Sedangkan kami, hanya karena kami memegangi sikap moderat dan toleran dalam ber-Islam, oleh mereka dituduh antek Amerika. Padahal Amerika sama sekali tidak mengenal kami!

Konsul Jenderal Kehormatan Republik Indonesia untuk Kerajaan Belgia His Excellecy Kris Bossaert menulis surat untuk  YAHYA C. STAQUF yang isinya patut kita cermati, berikut ini suratnya.

Surat Pak Kris

Staquf yang baik;

Jangan sungkan-sungkan memanggil saya Kris. Rasa hormat saya terhadap kamu, Holland Taylor dan Gus Mus bukanlah karena jabatan-jabatan kalian, tapi semata-mata karena pribadi kalian. Itu adalah jenis kehormatan yang hanya bisa kita dapat melalui pergulatan (membaguskan sikap dan tindakan) kita sendiri, dan kita tidak memperolehnya dari jabatan yang mengesankan atau lebih mengesankan.

Saya menaruh hormat yang dalam terhadap delegasi Nahdlatul Ulama kalian yang mempesona yang datang ke Belgia. Saya merasakan sejak saat pertama: keterbukaan, saling menghormati, kesediaan untuk memahami. Dan itulah yang melahirkan kekuatan ini, sinergi di antara kita semua.

Jangan salah, saya tidak ingin menyejajarkan diri dengan seorang pemikir spiritual hebat seperti Gus Mus. Berada di dekatnya saja sudah merupakan satu keberuntungan. Seorang yang sebegitu mampu menyampaikan begitu banyak hal dengan begitu ringkas kata, menakjubkan!!! Dia seharusnya ikut politik (jadi politisi) di Belgia; (kalau dia mau) pasti kita bisa membentuk pemerintahan dalam waktu seminggu! (Perlu kau ketahui, sudah hampir setahun ini kami bertikai untuk membentuk pemerintahan [tanpa hasil]. Kenapa? Orang-orang –kubu-kubu politik yang terpilih— tidak mau saling mendengarkan satu sama lain!)

Mengapa saya bikin banyolan macam ini? Sekedar untuk membenarkan apa yang kau katakan dalam artikelmu “Antek Amerika” di mana kamu mengisahkan bahwa Gus Mus menyodorkan gagasan-gagasannya tanpa mengkhawatirkan apa yang dipikirkan audiens tentang gagasan-gagasannya itu. Kita berdua tahu, Gus Mus tak perlu merasa takut, karena gagasan-gagasannya murni, jujur, greget dan perawan, gagasan-gagasan yang tidak akan melukai (siapa pun). Itulah sebabnya saya memandang dan mendapati delegasi kalian begitu unik, dan itu sebabnya saya percaya organisasi kalian (Nahdlatul Ulama) bisa memainkan peran kunci untuk menjadikan Islam lebih dihargai dan lebih dipahami oleh seluruh dunia. Gus Mus tidak menyembunyikan pikiran sampingan, tidak punya kepentingan politik di balik kata-katanya, tidak ada sasaran-sasaran materi yang diburu, atau tekanan-tekanan dari kelompok-kelompok tertentu untuk ditangkal ataupun dibiarkan.

Tidak. Dia cuma punya satu greget: dunia yang benar-benar lebih baik untuk semua orang: kaum beragama atau tak beragama, umat Kristen, Muslim, apa pun warna kulit mereka, apa pun tingkat pendidikan atau kecerdasan mereka. Sebagai seorang non-believer (orang tak beragama), saya mengakuinya sebagai KEYAKINAN SEJATI. Sebagai orang tak beragama, saya mempercayai kata-katanya. Sebagai orang tak beragama, saya menyimak dan menerima seruannya, karena saya tidak perlu khawatir ditipu (dimanipulasi). Pernyataan yang murni dan jujur, itulah yang diteguhi Gus Mus. Dan saya sangat percaya bahwa dari titik-tolak (angle) itulah Barat bisa berdialog secara sempurna dengan Timur. Dan tidak ada hambatan untuk mewujudkan masyarakat aneka budaya dan aneka keyakinan yang damai dan bermartabat. Saya yakin, mereka yang fobi Islam di Barat akan mendengarkan seruan Gus Mus dan merubah sikap mereka.

Maka, ayolah, jangan meremehkan peran besar yang bisa dimainkan oleh Gus Mus dan Nahdlatul Ulama untuk menciptakan jalur tengah yang terbuka ini, untuk membangun rintisan bagi dialog antar agama di seluruh dunia.

Kalau Tuhan itu ada, mengapa Dia harus membikin masalah dari ini: siapa atau lewat gerbang mana (= agama) engkau datang kepadaNya? Sebagai Muslim, Kristen, atau apa pun? Selama engkau menghargai perasaan-perasaan mendasar, cinta, memahami kemanusiaan.

Hal di atas membawa kita pada masalah penting itu: (pengajaran agama di) sekolah. Tidak seharusnya kami curiga pada sekolah Islam, karena menganggap murid-muridnya dicuci-otak –ketakutan yang marak di Barat sini. Pastikan bawa sekolah-sekolah mengajarkan keyakinan Islam yang murni, kebenaran obyektif dari apa yang dimaksudkan oleh Sang Nabi; dorong guru-guru dan murid-murid membicarakan Islam dengan rasa cinta dan keterbukaan seperti yang dilakukan oleh organisasi kalian (Nahdlatul Ulama). Itu akan mengarahkan pelajar-pelajar Muslim menjadi seperti kalian dan Gus Mus, agar mencita-citakan dunia yang toleran dan meningkatkan kualitas hidup dengan tradisi Muslim.

Kalaupun belakangan ada pelajar-pelajar Islam yang ingin menjadi fanatik yang membenci orang dan menghancurkan dunia, itu karena mereka memang jahat, putus asa atau karena lasan-alasan lain, apa pun itu. Dan pengajaran sekolah tentang penghargaan atas cinta dan keyakinan non-kekerasan tidak akan (mampu) mencegah mereka dari tindakan-tindakan buruk mereka!

Tapi marilah kita menengok sisi cemerlang dari pesan kalian dan apa yang membelajarkan kita dari buku karya Gus Dur “Illusi Negara Islam”. Pesan ini, ulasan-ulasan ini, sangat terang dan logis, sehingga bahkan seorang pembenci Islam (Islamo-phobic) akan berubah pikiran tentang Islam yang sesungguhnya. Persoalannya, bagaimana masyarakat muslim dapat “menjual” gagasan-gagasan ini, pesan kuat ini, kepada komunitas-komunitas agama lainnya? Di sinilah pemasaran dimulai. Tangkap perhatian orang 5 menit dan manfaatkan kesempatan untuk menyampaikan prinsip-prinsip dasar dari pesan mulia ini: “Bukanlah keyakinan (agama) kalian atau keyakinan mereka yang menghalangi kehidupan harmonis di antara masyarakat-masyarakat dengan budaya dan agama yang beragam. Sebaliknya, agama adalah kesempatan yang unik untuk memulai kebersamaan di atas planet yang indah ini”.

Betapapun, kita semua perlu bersyukur hidup di atas planet bumi, di mana hidup itu mungkin. Seandainya kita harus hidup di “planet” bulan, wah, itu masalah besar!

Kau tahu, saya selalu berminat pada banyolan.

Salam saya untuk kalian semua, terutama juga untuk Gus Mus.

Segeralah beri kabar!

Kris.

disarikan dari tulisan-tulisan YAHYA C. STAQUF di teronggosong.com, beliau yang Pernah menjadi Juru Bicara Presiden Gus Dur. Saat ini menjabat sebagai salah satu Katib Syuriah PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang.

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

sikap Moderat sprti ini sering dikonotasikan faham liberalis, sehingga stigmanya menjadi terpola mnjadi sebuah pemahaman sbgian orang bahwa demokratis = liberalis. inilah pentingnya mmbri interpretasi yg benar (apa, bagaimana dan untk apa) tentang maqosid makna rohmatan lil’alaamin. kpd kaum radikal (wahabi-salafi) maupun lainnya.

Islam itu bukan identik dengan kekerasaan, islam itu rahmatan lil alamin, orang islam yang selalu mengarisdepankan kekerasan maupun kehendak dengan label islam, seharusnya harus banyak belajar dan memahami apa itu hakekat “ISLAM”

so pahamilah islam dengan cinta seperti yang Rosulullah saw ajarkan………..

bener tidak ? semoga engkau paham…

Wallahu a’lam

semoga bermanfaat.

Iklan