dewasabismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. berjalan mengikuti alur waktu begitu banyak dinamika dan problematika yang ditawarkan, tawa gembira, sedih maupun merana berbaur menyelimuti kehidupan, semua digulirkan dan digilirkan, baik buruk menjadi pilihan yang tak bisa dielakkan, Jika waktu dapat kita putar kembali, Banyak hal yang mungkin ingin kita perbaiki, Seandainya waktu bisa berhenti sejenak, masih banyak hal yang harus kita koreksi, Seandainya waktu berjalan lambat, mungkin kita masih jadi anak kecil, sehingga enggak perlu memikirkan arti hidup ini secara lebih dalam dan merasakan semua kepedihan hati ..

sahabatku.. Menjadi seorang yang dewasa membutuhkan sebuah proses pendewasaan yang matang. Orang yang sudah dewasa memiliki banyak kelebihan daripada seorang yang masih labil dari jati dirinya sendiri. Menjadi dewasa bukanlah pilihan tetapi keharusan untuk hidup lebih baik dari sebelumya,

Tapi dapatkah kita berbalik kebelakang memutar waktu merubah keadaan….. hmmm tidak bisa, sayangnya, waktu itu begitu cepat berlalu dan menuntut kita untuk menjadi lebih dewasa..

dan Sayangnya  sedang menghadapi masalah apapun, Waktu itu akan berjalan Tanpa Rem ,tanpa permisi, tak ada kata Ntar dulu , tak ada kata Tunggu dulu , dia berjalan terus…. dan terus …. sampai akhir dunia…

Perumpamaan singkat tentang pendewasaan diri, bacalah dengan seksama…

Ada seorang kafir yang menghina seorang muslim yang berjenggot. Orang kafir itu berkata ”Mana yang lebih utama, jenggot itu ataukah ekor anjing?”

Orang muslim yang bijak dan sabar tersebut menjawab: “Apabila jenggot ini akan berada di surga, maka ia lebih baik daripada ekor seekor anjing. Akan tetapi apabila jenggot ini akan berada di neraka, maka ekor seekor anjing ni lebih utama dari jenggot ini.”

 Orang kafir itu pun segera mengatakan: ”Asyhadu alla ilâha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullâh (Saya bersaksi bahwa tiada ilâh yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah).”

 Segala puji bagi Allah, akhirnya ia memeluk agama Islam dan termasuk orang-orang yang komitmen dalam menjalankannya. Semoga Allah memberi kita semua ketegaran dan istiqamah dalam memegang satu-satunya agama yang haq dan mulia ini. (Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 48, hal. 55-58).

Pada suatu hari Abu Ishaq asy-Syirazi -rahimahullah- (pembesar madzhab syafi’i) berjalan di suatu jalan umum bersama para sahabatnya. Ketika sedang berjalan, tiba-tiba beliau berpapasan dengan seekor anjing. Lalu pemiliknya mengusir anjing itu (sebagai bentuk penghormatan untuk beliau). Melihat perlakuan orang itu, beliau melarangnya dan mengatakan: ”Biarkanlah anjing itu, tidakkah engkau mengerti bahwa jalan ini adalah milik bersama, untukku dan untuk anjing itu ?!” (Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 1, hlm. 6).

 Ada sebuah ungkapan yang berbunyi:

مَنْ ظَنَّ أَنَّهُ خَيْرٌ مِنَ الْكَلْبِ فَالْكَلْبُ خَيْرٌ مِنْهُ

 Barangsiapa yang menyangka bahwa dia lebih baik daripada anjing, maka anjing lebih baik daripada orang itu.

 Ungkapan tersebut biasa dipakai oleh orang-orang Shufi. Makna ungkapan tersebut adalah:

 Al-’Allâmah Zakariya bin Muhammad al-Anshari asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 926 H) pernah ditanya tentang perkataan sebagian orang sufi:

 Barangsiapa yang menyangka bahwa dia lebih baik daripada anjing, maka anjing lebih baik daripada orang itu.

Kemudian beliau menjawab: ”Maknanya yaitu, tidak sepantasnya bagi siapapun menyangka bahwa ia lebih baik daripada anjing, dan tidak pula sepadan dengannya, karena akhir dari urusan kehidupan orang itu tidak diketahui, apakah ia akan tinggal selamanya di neraka ataukah tidak? Sekiranya tidak kekal di neraka, apakah ia akan diadzab ataukah tidak? Kapan saja orang itu menyangka demikian (yaitu merasa lebih tinggi, lebih baik dan utama dari anjing secara mutlak, pen), maka anjinglah yang lebih baik darinya. Hal itu karena anjing itu tidak mukallaf (tidak terbebani untuk menjalankan syari’at) dan tidak mendapatkan adzab. Allâhu a’lam”.

 (al-I’lâm wa al-Ihtimâm bi Jam’ Fatâwâ Syaikh al-Islam Abu Yahya Zakariya al-Anshari, dikumpulkan oleh Ahmad Ubaid).

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Hidup adalah pencarian kebaikan, karena “Tuhan adalah sumber kebaikan yang tersembunyi”. Diri kita ini tak pernah berguna jika tidak senantiasa mencari. Mencari adalah mengupayakan; mencari adalah memikirkan; mencari adalah kemaslahatan; kemaslahatan adalah gerak: gerak adalah langkah yang positif. Sebaliknya adalah kevakuman dan diam. Karena vakum dan diam itu berarti netral dan tenggelam, berarti awal dari segala kemafsadahan. Tidak ada gerak tanpa semangat, yaitu ide dan pemikiran. begitulah jalan kedewasaan bergerak, Banyak orang-orang sekarang salah mengambil sikap tentang permasalahan amalan-amalan yang ada kaitannya dalam ranah dewasa yang mendewasakan, padahal jika tidak disikapi secara serius, maka sesungguhnya sebaik-baik tempatnya adalah yang serendah-rendahnya. kenapa bisa begitu ?

Dewasa dalam kedewasaan, diuraikan sebagai sikap yang mulai berfikir kritis tentangan semua amalan-amalan dalam kehidupan yang dilakukan. Sedangkan mendewasakan kedewasaan adalah sikap yang berusaha untuk bersikap, bertindak dan berfikir seperti kebanyakan orang-orang dewasa ini. Di sini terdapat perbedaan yang sangat signifikan yaitu berfikir dan mengikuti, berfikir tentang apa yang dikerjakan dan mengikuti apa yang orang-orang kerjakan, apakah sudah paham ?

Lalu pasti ada yang protes, “kalau Cuma berfikir dan tidak dilaksanakan, kan percuma?” Di sini diperlukan sikap yang cerdas dan dewasa dalam menjawabnya. Sebelum mengetahui maksud dari suatu perkara yang menjadi masalah, maka hendaklah ikutilah dulu apa-apa yang sudah diketahui, sambil mencari tahu kebenaran dari perkara itu. Seorang manusia tidak akan dibebankan dosa/beban selagi ia belum mengetahui kebenarannya, lalu setelah tahu, maka ikutilah yang benar. Akan tetapi ketika seseorang sudah tahu atau diberitahu akan kebenaran suatu perkara, lantas ia tidak mau mengikutinya, maka di sinilah letak kedewasaan seseorang dibuktikan.

sahabatku yang dirahmati Allah.

Mendewasakan diri, artinya menumbuhkan kedewasaan pada diri sendiri. Bukan pada diri orang lain, betul kan ya? Maka kurang tepat rasanya kalau kita membandingkan kedewasaan diri kita dengan orang lain. Yang tepat adalah membandingkan diri kita di saat ini dengan diri kita di saat yang lalu. seorang yang mengaku sudah dewasa, harus mampu mempertanggungjawabkan lisan dan perbuatannya, lalu pertanyaan baru akan muncul sudahkah kita mendewasakan kedewasaan yang kita miliki ? bagaimana sikap dewasa dalam menyikapi masalah ?

kawan, masalah itu pasti ada, dan setiap orang akan mengalami masalah yang lambat laun membuatnya menjadi manusia dewasa, Terkadang satu-satunya cara tuk menyelesaikan masalahmu adalah dgn membenarkan cara pandangmu, bukan masalahmu. Mencari siapa yg salah takkan selesaikan masalah. inilah berfikir dewasa dimulai,  Berdiskusi dan kerja sama, maka akan mampu selesaikan segalanya.
Ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan terbaik. Marah tidak menyelesaikan masalah, dan mengalah bukan berarti kalah.Jangan berpikir  JATUH karena masalah yg diberikan Tuhan, karena sebenarnya Tuhan hanya menginginkanmu belajar BERDIRI dan menjadi DEWASA. Amarah adalah cara termudah membuat masalah. Bersabar adalah salah satu cara agar terhindar dari masalah. so kesimpulannya Masalah adalah ujian pendewasaan. Jadi tidak ada alasan menyalahkan orang lain. Benahi diri sendiri dan jadi pribadi yang dewasa.inilah yang dimaksud mendewasakan .

terus kenapa harus ada masalah ?

Ketika masalah datang menghampiri, itu artinya Tuhan menyayangi, bukan membenci. Tuhan hanya menguji keimanan dan kesabaran. setiap orang harus memiliki jiwa yang semangat dalam upaya pendewasaan dirinya. semangat itu perlu, tak ada yang tak mungkin jika semangat menggelora dihati, Semangat juga berarti ketulusan, dan tiada ketulusan tanpa hati nurani dan akal fikiran. Makanya tindakan orang gila itu netral (tidak bisa dihakimi), dan tindakan orang waras adakalanya baik dan buruk. Baik karena menggunakan hati + akal, dan buruk karena menggunakan hawa nafsu + akal. Yang pertama, hati + akal –> ketulusan = ide dan pemikiran = semangat –> gerak menuju kebaikan dan kemaslahatan. Dan yang kedua, hawa nafsu + akal –> kedengkian –> kepongahan –> kemafsadahan. inilah contoh konkrit kedewasaan,

apakah orang yang tak pernah mengalami masalah mampu mendewasakan dirinya ?

Kedewasaan seseorang lebih mudah tumbuh ketika dia mengalami persoalan hidup secara realita. Semakin banyak pengalaman hidupnya maka secara otomatis dia lebih pandai dalam menghadapi berbagai macam persoalan…karena kematangan emosionalnya yang sudah terlatih dan tumbuhnya sikap kesabaran, ketabahan, keikhlasan dan sikap yang lemah lembut, tenang menghadapi kondisi apapun. Ketika kita hidupnya aman-aman saja tidak ada persoalan, bagaimana kita bisa belajar dewasa dari pengalaman ?

ada ungkpan sederhana yang bisa jadi membingungkan “Carilah masalah namun jangan membuat masalah” apa maksud dari ungkapan ini ?

Dalam hidup kita akan dihadapkan akan banyak problematika dan masalah, Tidak ada seorangpun yang bisa terlepas dari persoalan kehidupan, Kita tidak bisa menghindar dari masalah dan lari dari persolan Yang bisa dilakukan adalah sikap dan tindakan yang tepat ketika masalah datang. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kedewasaan hidup, tidaklah sama antara orang yang dewasa karena kepribadiannya dengan Orang yang tua, karena usia yang bertambah Siapapun kita bila diberi usia yang bertambah, maka kita bisa tua, Tapi tidak semua orang yang tua secara usia bisa dewasa dalam bersikap Karena kedewasaan adalah sebuah pilihan yang bisa dipilih, Kita mau atau tidak terserah kita, Banyak orang tua yang tidak dewasa pikirannya, Banyak pula orang muda yang dewasa dan matang dalam kehidupan, Kedewasaan membutuhkan kesabaran dan proses yang berkesinambungan, Dewasa dalam bersikap,dewasa bertindak,dewasa dalam mengambil keputusan. Semua ada cara dan ilmunya masing-masing Kita bisa pelajari dan bisa dipraktekan Syaratnya kita mau dan siap menjalani prosesnya to tidak ? Karena dengan kedewasaan maka hidup menjadi lebih tenang Dengan kedewasaan kita lebih teratur dalam kehidupan Yang lebih penting lagi, kedewasaan membuat hidup kita bercahaya,

 

syaratnya mudah ada masalah hadapilah, selesaikanlah dengan cara orang dewasa namun jangan sesekali mencari masalah orang yang gemar mencari masalah menunjukkan dirinya orang yang bermasalahdan sangat jelas lagi bahwa kedewasaan berfikirnya belum terbentuk betul tidak kawan ?

Sikap dewasa merupakan sesuatu yang perlu ditekankan dalam menghadapi sebuah masalah. Kita tahu bahwa sikap yang kekanak-kanakan justru dapat membuat sebuah masalah menjadi bertambah karena sikap yang diambil akan mempersulit masalah.

Sikap tenang dan tidak emosional dibutuhkan baik ketika berkomentar, mengambil sikap, ataupun ketika menentukan sebuah keputusan. Karena andaikata tergesa-gesa biasanya keputusan yang diambil kurang tepat. Apalagi bila kurang ditunjang oleh data dan fakta yang akurat. Dan permasalahan akan bertambah jika disikapi pula dengan sikap yang emosional. Oleh karena itu kita harus latihan untuk bisa meredam sikap yang emosional.

Kita tidak mengingkari realita, tapi kita melihatnya dari sisi yang terbaik. Kegagalan memang menyakitkan tapi itu merupakan pelajaran yang sangat berharga. Teman kita yang satu itu memang menjengkelkan, tapi sebetulnya dia adalah guru yang melatih kita untuk lebih sabar dan lebih toleran.

Bersikaplah positif terhadap kehidupan. Ibaratnya hidup ini seperti air yang jernih, dan ia akan berubah warna tergantung warna apa yang Anda tuangkan ke dalamnya. Hidup ini ringan kalau Anda menganggapnya tidak berat. Persoalan-persoalan kehidupan adalah bumbu kehidupan kalau Anda tidak menganggapnya sebagai racun yang merusak dan melumpuhkan. Hidup ini bisa tampak indah kalau mata Anda tidak fokus pada awan yang kelabu.

sahabatku semua yang dirahmati Allah

Semangat dan gerak adalah bukti dari adanya kebahagiaan dan ketentraman. Orang yg semangat tentu dia bahagia dan tentram. Makanya Allah mengaitkan “pahala” –sebagai konsekuensi gerak– (lahum ajruhum ‘inda rabbihim) dengan kemantapan-keberanian-ketidakkhawatiran (wa laa khaufun ‘alaihim) dan dengan kebahagiaan-ketentraman (wa laa hum yahzanuun). Surat Yunus : 62.

ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون
“Ingatlah, sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak memiliki kekhawatiran dan tidak bersedih.”

Sementara orang yang diam pasti dia tenggelam, karena tidak/kurang menggunakan akal dan tidak bergerak. Dia nyaris seperti orang gila. (Lain dengan orang istirahat, sebab selama istirahat itu sesuai kebutuhan, adalah bagian dari gerak). Patah semangat dan putus asa, lebih parah lagi, adalah kemunduran dan merupakan awal segala kemafsadahan. disinilah pembelajaran tentang kedewasaan yang sebenarnya.

sahabatku..

tanpa kita memulai berbuat masalah, masalah sudah ada tinggal bagaimana kepekaan kita terhadap masalah dan lingkungan sekitar kita…padahal dari permasalahan-permasalahan tersebut akan melatih pola pemikiran kita, sikap kedewasaan kita, dan kematangan jiwa kita. Semoga kita semua termasuk orang yang selalu semangat dalam segala kebaikan dan tidak mudah putus asa.

yang mampu Bersikap dan bertindak secara dewasa, agar kita menemukan solusi masalah Jadilah pribadi yang dewasa, Pribadi yang tegar dan tangguh menghadapi kehidupan

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, rahmat dari sisi-Mu. Dengan rahmat-Mu Engkau menerangi hatiku. Dengan rahmat-Mu Engkau mengumpulkan dan memudahkan urusanku. Dengan rahmat-Mu Engkau balikkan sesuatu yang tiada dariku. Dengan rahmat-Mu Engkau Angkat kesaksianku. Dengan rahmat-Mu Engkau sucikan amalku. Dengan rahmat-Mu Engkau ilhamkan kedewasaanku. Dengan rahmat-Mu Engkau kembalikan sesuatu yang hilang dariku. Dengan rahmat-Mu Engkau jaga aku dari segala keburukan.”

semoga bermanfaat.

Iklan