maafBismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. siapa manusia yang tak punya kesalahan ? kecuali para wali Allah, para nabi yang Allah jaga hati, tindakan dan ucapannya dari berbuat kesalahan, pertanyaan yang bisa jadi ditanyakan kebanyakan orang karena kita tahu manusia pada hakekatnya adalah tempat salah dan lupa. ,sahabatku, Sebagai manusia biasa, kita tak kan luput dari berbuat salah. Baik yang disengaja atau tidak, disadari atau tidak, kecil maupun besar, semua adalah hal yang manusiawi. Tentu, jika tak segera diluruskan, tak segera diperbaiki, tak segera dilakukan evaluasi, kesalahan kecil bisa jadi membesar, kesalahan besar bisa mendorong terjadinya kerusakan, hingga ujungnya kerusakan membawa kehancuran. betul kan ?

apa yang kita lakukan jika berbuat kesalahan ? sederhana, ya mengakui kesalahan, terus minta maaf, betul tidak  kawan ?

Mengakui kesalahan seringkali dianggap perbuatan bodoh dan menjatuhkan diri sendiri ke dalam kehinaan. Pelakunya dianggap tidak punya harga diri lagi, tidak istiqamah (teguh pendirian), dan tidak memiliki prinsip hidup. Pendapat itu amat keliru. Mengakui kekhilafan, kesalahan, dan dosa serta bertekad tidak akan mengulangi lagi merupakan perbuatan yang sangat mulia

sebuah kisah perenungan hati bacalah dan ambil manfaatnya…

Kisah ini dituturkan oleh salah satu murid terdekat Abuya Almaliki. Sebuah kisah yang sarat teladan, cermin dari keagungan pribadi seorang ulama’ besar semisal Abuya Al-Maliki.
Pada suatu hari, Majalah Al-Jami’ah al-Madinah al-Munawaroh, memuat sebuah artikel yang ditulis oleh seorang pakar, DR.Abdul Qodir as-Sindi. dia tinggal dikota Madinah. Dia memiliki pemikiran yang berbeda dengan Abuya al-Maliki.
Perbedaan pemikiran antara dirinya dengan Abuya dia tuangkan dalam artikel tersebut. Namun sayangnya, artikel yang semestinya menyajikan pencerahan pemikiran yang ilmiah tersebut, ternyata berisi kecam, hinaan, penghakiman, dan pendeskriditan terhadap pemikiran pribadi Abuya al-Maliki, dia menelanjangi pemikiran-pemikiran Abuya al-Maliki sebagai propaganda yang mengarh pada berbuatan bid’ah.


Sudah tentu, tulisan tersebut mengundang keresahan para penduduk Haromain. Beberapa ulama’ dan tokoh pembesar menelpon Abuya al-Maliki. Mereka menyarankan agar Abuya tenang jangan risau dan tidak usah menghiraukan tulisan as-Sindi. Mereka sudah menyiapkan sanggahan-sanggahan yang ditujukan kepada as-Sindi, sebagai jawaban atas apa yang ia tuduhkan kapada Abuya al-Maliki.
Tidak ketinggalan, beberapa santri Abuya juga merasa geram dengan ulah as-Sindi tersebut, salah satu seorang santri tersebut matur kepada Abuya.
“ Guru, jika diperkenankan, berilah saya alamat as-Sindi. Saya ingin tahu, seperti siapa sosok as-sindi itu? Kalau nanti saya bertemu dengannya, akan saya beri pelajaran atas apa yang telah ia lakukan….” Sang santri tadi menghiba dihadapan sang guru sembari menahan sembab air matanya, dia germ, marah dan tak rela jika sang maha gurunya dihina lewat media. Ini adalah sebuah pelecehan yang tidak bias dimaafkan.
Namun Abuya al-Maliki hanya menanggapi dengan tersenyum melihat kecemburuan muridny. Berpadu antara bangga dan haru.beliau bangga memiliki santri yang militant, yang siap membela dirinya, kendati harus dengan cara yang penuh resiko.
Selang satu bulan berikutnya, Abuya mengajak beberapa santri untuk berangkat ke Madinah al-Munawaroh. Sebelum berangkat, abuya memerintahkan kepada beberapa santrinya agar memasukkan uang kesebuah tas ukuran sedang. Para santripun melaksanakan perintah sang guru tersebut, sambil terheran-heran dan penuh dengan tanda Tanya, dengan tas yang penuh dengan uang tersebut, dan berangnkatlah bereka kemadinah.
Setelah menyusuri jalanan kota sang Nabi, Abuya akhirnya bersama beberapa santri berhenti disebuah rumah, para santri tidak ada yang tau, rumah siapa ini, pintu diketuk. Sesaat shohibul bait keluar. Menyambut tamunya dengan ramah.
Terlihat pembincangan yang sanggat akrab antara Abuya dan pemilik rumah. Seakan-akan keduanya sangat kenal lama.tapi ternyata tidak. Abuya kemudian menimpali dengan bertanya, “ apakah betul ini kediaman DR.Abdul Qodir as-Sindi?” “ ia betul. Saya sndiri…” jawab pemilik rumah. Rupanya keduanya juga belum salingf kenal. Dan ternyata pula, sipemilik rumah itu adalah asSindi yang bberapa waktu lalu menulis artikel yang mengecam Abuya al-Maliki.
“ KALAU BEGITU, TOLONG TERIMA INI!” Abuya lalu menyerahkan satu tas uang yang telah beliau siapkan sejak dari rumah beliau. as-Sindi tidak menyangka kalau tamunya akan member uang yang begitu banyak, dan tidak menyangka lagi kalau tamunya ini adalah Abuya Maliki yang pernah ia kecam lewat tulisannya dimajalah.
Abuya pun berpamitan kepada situan rumah, keduanya berpisah didepan rumah, tak berapa lama, sekonyong-konyong as-Sindi berlari mengejar Abuya yang masih ada dijalan depan, lalu dia meranngkul Abuya , memeluk dengan erat, nadanya sesenggukan tak tertahankan.
“ Anda pasti Abuya Assayid Muhamad al-Maliki. Kini saya yakin sepenuh hati, bahwa Anda adalah keturunan Nabi. sebab tak ada yang membalas cacian dengan hadiah, kecuali ia masih keturunan Rosululloh. Saya tidak akan lagi meragukan lagi keagungan Anda ya Sayyidi…….
As-Sindi larut dalam haru, ada rasa tak percaya, ada rasa malu, ada kekaguman yang begitu besar semua rasa itu berpadu dalam satu nuansa, yang membawa jiwanya untuk meyakinkan hatinya, bahwa orang yang dihadapannya benar-benar berhati mulia. Sayyid Muhammad Alawi yang selama ini ia anggap sebagai penyebar tradisi bid’ah, ternyata semua itu hanyalah bohong belaka.
Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki bagi as-Sindi, memiliki kebesaran hati yang sepadan dengan ketinggian ilmunya. Peragainya mencerminkan dirinya sebagai pewaris Nabi. Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki begitu legawa memaafkan dirinya yang secara nyata-nyata telah mempermalukan beliau melalui media. Sungguh luar biasa……
Para santri yang saat itu bersama Abuya juga terkagum-kagum atas apa yang mereka saksikan. Sang Guru yang telah mempertontonkan sebuah episode keteladanan dengan memaafkan orang-orang yang dzolim, maka orang tersebut akan luluh dan takjub ( dikutip dari majalah Mafahim )

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

bercermin dari kisah diatas apa yang bisa kita dapatkan, Semua manusia pernah melakukan kesalahan, Nabi sekalipun. Karena lupa, khilaf, dan salah sangat melekat pada kedirian manusia. Dan, tindakan tidak mau mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya merupakan hal yang paling aneh.

Sebenarnya, mengakui kesalahan merupakan sebuah pintu dari dinding pembatas antara dua ruangan; kebaikan dan keburukan. Jika seseorang tidak mau mengakui salahnya, berarti dia masuk dari pintu itu ke ruangan kejahatan. Sebaliknya, jika seseorang mau mengakui dosanya, berarti dia membuka pintu itu untuk masuk ke ruangan kebaikan.

jika menyadari berbuat kesalahan, segera akui, minta maaf, dan evaluasi serta perbaiki. Sadari bahwa tak ada gading yang tak retak, maka jangan malu atau menutup diri karena memang sewajarnya sebagai manusia kita melakukan kesalahan. Karena itulah, tak perlu jengah, tak perlu menyesal berkepanjangan, namun hadapi secara terbuka apa pun risiko kesalahan yang telah kita perbuat.

Allah sendiri mengatakan bahwa salah satu ciri orang-orang bertakwa adalah mau mengakui kesalahan dan minta ampun kepada Allah, kemudian dia tidak lagi mengulanginya, Dan (salah satu dari orang yang bertakwa itu) adalah orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu (QS Ali Imran [3]: 135).

Mengaku bersalah tidak membuat seseorang kehilangan kehormatan, bahkan sebenarnya merupakan upaya paling efektif menyelamatkan nama baik. Menyadari dosa dan bertekad tidak akan mengulangi lagi adalah salah satu pintu masuk menjadi manusia terbaik. Itulah yang dilakukan oleh para sahabat Nabi yang umum telah berbuat kejahatan di masa lalu.

Orang yang tidak mau mengakui kejahatannya berarti menjeratkan dirinya pada mata rantai dosa yang tiada berujung. Perbuatan menutupi kesalahan pasti akan diikuti dengan usaha menghilangkan barang bukti, dengan cara apa pun. Bisa jadi hal itu dilakukan dengan berdusta, memfitnah, menyuap, meneror, bahkan membunuh sekalipun. Jika usaha menghilangkan bukti ini membuahkan bukti baru, misalnya diketahui orang lain, maka bukti baru itu juga harus dilenyapkan. Begitulah seterusnya. Tak dapat dibayangkan berapa banyak dosa turunan yang harus dikerjakan.

Orang bersalah akan terus diburu kesalahannya. Hanya taubat yang membuat semua itu berakhir. Bagi pelaku dosa, dunia menjadi semakin sempit dan tidak ada tempat yang nyaman. Memang tidak enak hidup dalam kurungan yang dibikin sendiri.

sahabatku semua yang dirahmati Allah

“Dunia adalah penjara sang mukmin dan surga sang kafir” Dunia, penjara mukmin. Saat kematian mendatanginya, seperti seseorang bertahun-tahun dipenjara, lalu datanglah kabar tentang kebebasannya.
Dunia adalah surga kafir. Saat kematian datang kepadanya, bagai seseorang bertahun-tahun bebas, lalu datanglah kabar tentang penahanan dan hukuman baginya. Betapa gembira sang mukmin dan betapa hancur sang kafir.

Hidup selalu mengalami gejolak. Baik gejolak yang diakibatkan dari dalam diri, maupun gejolak yang disebabkan oleh keadaan di luar diri. Ketidakpastian dalam hidup akan menimbulkan konsekuensi hubungan dengan rekan kerja, hubungan dengan tetangga, bahkan hubungan dalam keluarga atau saudara, sering naik turun seiring dengan emosi yang sering terjadi.

Begitu juga apa yang terjadi dalam diri. Kemiskinan mental yang membelenggu, ketidakpastian dalam setiap waktu, kondisi yang serba terbatas dan serba kekurangan di sana sini, acapkali menimbulkan penyesalan dalam diri.

Semua gejolak dan masalah itu membutuhkan kebesaran hati untuk memaafkan yang dilandasi toleransi dan kesabaran. Sebab, hanya dengan membuka pintu maaf yang penuh rasa ikhlas, kita akan dapat melihat hikmah di balik musibah, kita akan belajar pendewasaan diri di balik semua emosi. Dengan begitu, kita akan menemukan kenikmatan saat semua belenggu kesalahan dilebur dalam bersih dan sucinya hati.

Memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu akhlaq yang mulia dan utama, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam : ” Ya Uqbah (seorang sahabat), maukah kuberitahukan kepadamu tentang akhlaq penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu : menyambung tali silaturahmi terhadap orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang menahan pemberiannya (orang kikir) kepadamu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu”. ( HR. Hakim )

sahabatku semua yang dirahmati Allah

Dalam lingkup peradaban, seharusnya al-Qur`an dan Sunnah menjadi prinsip utama menentukan sebuah kebaikan dan kebenaran. Sebab, wahyu Ilahi sudah teruji mampu mewujudkan peradaban manusia yang mulia, termasuk akhlak menghadapi orang-orang yang berlaku zalim.

Sifat ini sangat luhur. Islam memuji orang yang menghiasi dirinya dengan sifat pemaaf. Ia akan dimasukkan ke dalam golongan manusia terbaik yang akan menggapai kecintaan dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Islam memang membolehkan orang yang terzalimi untuk membalas dengan balasan setimpal. Allah Ta’ala menjelaskan dalam al-Qur`an Surat As-Syura [42] ayat 39 sampai 43 bahwa balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.

Namun, agama yang agung ini senantiasa menganjurkan setiap orang untuk memberi maaf. Sebab, Allah Ta’ala menyebut yang demikian itu merupakan hal-hal yang di utamakan.

Sesungguhnya tindakan kejahatan apabila dibalas dengan kejahatan maka akan melahirkan sifat dengki dan dendam. Tetapi, jika kejahatan dibalas dengan kebaikan, maka akan memadamkan api kemurkaan, menentramkan jiwa, serta membersihkan noda-noda dendam.

Itu pula sifat yang selalu dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Salah satunya ketika beliau diracuni oleh seorang perempuan Yahudi .

Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, suatu ketika Rasulullah SAW mendapat hadiah masakan daging kambing. Maka beliau memakannya, begitu pula para Sahabat.

Namun, beberapa saat kemudian, beliau bersabda, “Berhentilah kalian makan, karena sesungguhnya daging ini beracun.“

Kemudian didatangkanlah perempuan tersebut kepada Rasulullah SAW. Beliau bertanya, “Apa yang mendorong kamu berbuat seperti ini?”

Perempuan itu menjawab, “Saya hanya ingin mengetahui, kalau engkau benar-benar Nabi. (Jika engkau Nabi) maka Allah akan memberitahu apa yang ada di dalam daging itu dan sekali-kali tidak akan mencelakakanmu.”
Para Sahabat berkata, “Apakah kita akan membunuhnya?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak.” Beliau bahkan memaafkan perempuan itu.

sahabatku semua yang terhebat

Memang melupakan sekaligus memaafkan  kesalahan orang lain termasuk  perbuatan yang sangat berat. Seolah-olah pekerjaan memindahkan sebuah gunung  dan  bukit. Apalagi luka yang mereka ukir  di dalam sanubari kita  begitu dalam dan lebar. Sepertinya  mudah di ucapkan tapi tidak semua orang mampu melakukan dengan ikhlas.

Namun kita tetap di tuntut untuk memaafkannya,  terlebih  ketika dia sudah meminta maaf kepada kita .

Mengapa demikian?  Bukankah kita  ketika berbuat salah juga ingin dimaafkan? Karena itu maafkanlah dia .

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah  bersabda :

“Barangsiapa yang didatangi  saudaranya yang hendak meminta maaf ,hendaklah memaafkannya,apakah ia berada dipihak  yang benar ataukah yang salah, apabila tidak melakukan hal  tersebut (memaafkan) , niscaya tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat) (HR Al-Hakim)

“Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan (HR Ath-Thabrani)

“Barangsiapa senang  melihat bangunannya  dimuliakan, derjatnya di tingkatkan , maka hendaklah dia mengampuni  orang yang bersalah kepadanya, dan menyambung (menghubungi) orang yang pernah  memutuskan hubungannya dengan dia “ (HR Al-Hakim)

“Jika hari kiamat tiba , terdengarlah suara panggilan, “Manakah  orang-orang yang suka mengampuni dosa  sesama manusianya?” Datanglah kamu kepada Tuhan-mu dan terimalah pahala-pahalamu .Dan menjadi hak setiap muslim  jika ia memaafkan kesalahan orang lain untuk masuk surga.” (HR  Adh-Dhahak dari ibnu Abbas Ra)

Fudail bin Iyad berkata : “Jiwa kesatria ialah  memafkan kesalahan-kesalahan saudaranya.”

Anas RA berkata  : “Ketika Rasulullah shalallahu Alaihi Wassallam  duduk diantara kami, tiba-tiba ia tersenyum  sehingga nampak gigi serinya ,maka umar bertanya :

”Apakah yang menyebabkan  tertawamu  Ya Rasulullah ?”

jawab beliau  :”Ada dua orang  berlutut  di hadapan Tuhan Rabbul Izzati. Lalu yang satu berkata :”Aku menuntut hakku yang dianiaya oleh kawanku itu.”

Maka Allah menyuruh orang yang menganiaya :”Kembalikan haknya” .

Orang itu menjawab :”Tiada sesuatupun hasanahku  (kebaikanku)”.

Maka berkatalah orang yang menuntut itu :”Suruhlah ia menanggung dosaku”.

Tiba-tiba Rasulullah shalallahu alaihi wasallam  mencucurkan airmatanya menangis sambil bersabda :” Sesungguhnya hari itu sangat ngeri, hari dimana tiap-tiap orang ingin kalau orang lain menanggung dosanya. Lalu Allah Ta’ala berfirman kepada yang menuntut :

“Lihatlah keatas kepalamu, perhatikanlah surga-surga itu. Maka ia mengangkat kepalanya lalu berkata : “Ya Tuhan, aku melihat gedung-gedung dari emas yang bertaburkan mutiara, untuk nabi yang manakah?”

Allah menjawab :”Itu  untuk siapa saja yang membayar harganya.”

Ia bertanya : “Siapakah  yang dapat membayar harganya?”

Allah menjawab :” Engkau mempunyai harganya.”

Ia berkata : “Apakah itu Ya Tuhan?”

Allah menjawab :” Memaafkan kawanmu itu.”

Lansung ia berkata  : “Aku memaafkan dia “

Maka Allah berfirman :”Peganglah tangan kawanmu itu dan masuklah  kalian berdua ke surga “

Kemudian rasulullah membaca  “Fattaqullaaha wa ashlihuu dzaata bainikum , sebab Allah memperbaiki (mendamaikan) antara  kaum mukminin dihari kiamat “ (HR Abu ya’la Al Maushili)

Nabi Muhammad Shalallahu bersabda kepada Uqbah  ; “Ya Uqbah  maukah engkau kuberitahukan  tentang akhlak penghuni dunia akhirat yang paling utama? “Apa itu Ya Rasulullah? . “Yaitu  menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang menahan pemberiannya  kepadamu, memaafkan orang-orang yang pernah menganiayamu “ (HR Al-Hakim dari Uqbah bin Amir Al-Juhani )

Sementara itu ,kalau ia belum mau taubat dan minta maaf, maka doakanlah agar suatu saat dia menyadari akan kesalahan yang dia lakukan dan bertaubat atasnya,Kalau kita tidak mau memafkannya sama artinya kita membiarkannya  menanggung dosa dan berjalan menuju  ke  neraka. Jika demikian alangkah naifnya kelak kita di hadapan  Allah.

Janganlah kita bersikukuh untuk enggan memaafkan orang lain, karena akan menyebabkan dosa kita tidak pernah diampuni oleh NYA. Bukankah ini merupakan kerugian besar  yang menimpa seseorang?!

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS An-Nuur :22)

“Barangsiapa yang tidak mau memberi ampun  kepada orang, maka ia tidak akan di beri ampun “ (HR Ahmad dari Jabir bin Abdullah Ra)

Mari kita belajar dari sifat pemaafnya Allah kepada  para hamba –NYA yang telah membunuh para wali-NYA.  Sifat pemaaf Rasulullah pada umat yang menyakitinya. Teladan para sahabat Ra yang  mau berlapang dada kepada saudaranya yang telah menyinggung perasaannya.

Ucapkanlah ucapan kasih sayang  padanya :

“Pada hari ini tidak ada cercaan kepada kamu , mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) ,dan DIA adalah Maha Penyayang diantara Penyayang.”  ( QS Yusuf  ;92)

Inilah ucapan Nabi Yusuf  AS kepada saudaranya  ,ketika mereka minta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu

sebuah doa yang dilantunkan habib husin nabil

ya Rabb,

Betapa sulit menjadi suci, sebab di zaman ini kita tinggal di sampah. Setiap saat wewangian di oleskan, bertebaran bau busuk dari segala arah menghilangkan harumnya. Setiap saat baju dibersihkan, setiap saat pula kotoran menempel melenyapkan kesuciannya. Masih adakah kesempatan bagi kita untuk menjadi suci ?
Tuhan …. aku berbicara dengan-Mu, masih adakah? Kenapa tak Kau gerakan tangan-Mu itu untuk merubahku? Sang Penentu …. aku adalah boneka-Mu, yang Kau perintah untuk berjalan mencari-Mu. Tapi aku tahu, tali-tali yang terkait di tangan dan kakiku ini bergerak dengan kemauan-Mu.
Tuhan …. lelah aku, lelah wahai Sang Penguji. Begitu banyak soal-soal yang Kau berikan padaku, dan kosong belum kujawab, atau bahkan yang telah kujawab salah.
Penat …. Aku penat wahai Sang Pendidik. Kapan aku dapat menyelesaikan persoalan yang begitu rumit, melebihi rumitnya misteri yang terbesar di dunia ini. Nafsu, ego, dunia, kebejatan, uang, pangkat, dan kerakusan, juga kemunafikan.
Bukankah Nabi-Mu menyampaikan bahwa Kau mendekat sehasta saat aku mendekati-Mu sejengkal? Kau akan mendekat sedepa, saat aku mendekat sehasta? Bukankah Kau berjanji akan berlari-lari kecil menghampiriku saat aku berjalan ke arah-Mu?

Wahai Tabib ….. aku ini penuh dengan luka yang parah. Tubuhku dihinggapi oleh berbagai macam virus, yang lebih berbahaya daripada tumor, kanker dan HIV. Bukankah Kau Tabib? Wahai Penyembuh …. aku sakit, kenapa Kau tak menyembuhkanku?
Wahai Presiden …. aku adalah rakyat jelata-Mu yang awam tak memahami politik-Mu, maka carikan kepadaku jalan sederhana dan tanpa liku untuk mencapai-Mu. Tak ada fatamorgana, tak ada simbol, dan tak ada tirai, apalagi kegelapan. Tunjukkan padaku jalan yang jelas dan terang, agar aku dapat mengabdi pada-Mu.

Wahai Sang Dermawan …. berbaik hatilah pada pengemis ini, yang sudah lama duduk di emperan rumah-Mu, mengharap walau sesuap nasi dari-Mu. Bukankah dalam surat adh-Dhuha Kau mengajarkan kepada kami untuk tidak membentak pengemis? Wahai Sang Kaya …. Kau juga mengajarkan kepada kami untuk banyak bersedekah. Bukankah tak kurang kekayaan-Mu jika Kau berikan sedikit untuk si miskin ini agar dapat menikmati kebahagiaan hakiki? Bukankah tak akan menjadi sempit kerajaan-Mu, jika Kau terima aku untuk duduk di dalamnya bersama mereka yang telah Kau pilih?

Wahai Sang Rahmat ….. sayangi aku yang yatim ini. Yatim kehilangan Muhammad Saw., dan yatim kehilangan para wali-Mu. Bukankah di surat adh-Dhuha pula Kau perintahkan kami untuk belas kasih terhadap anak yatim dan tidak menguasainya?
Wahai Allah …. tak ada satu pun dari makhluk-Mu yang mencapai-Mu, kecuali terlebih dahulu Kau memercikkan kepada mereka taufik dan perlindungan-Mu. Aku tahu itu …. aku tahu itu …. Wahai Allah, saat ini aku dalam keadaan sekarat … dan jika Kau membiarkanku, maka aku akan segera mati tak memiliki kesempatan lagi. Wahai Allah, berikan taufik dan perlindungan -Mu kepadaku, serta sembuhkan segala luka dan penyakitku. Wahai …. aku tunggu pertolongan dan rahmat-Mu.

[disarikan dari berbagai sumber]

semoga bermanfaat.

Iklan