korupsibismillahirahmanirahim.

sahabatku semua yang dirahmati Allah. Terlalu banyak yang tak dipahami. Terlalu sering dibohongi. Terlalu banyak mendengar janji-janji. Terlalu jauh masa depan yang dinanti. Terlalu lama lapar dan makan hati. Terlalu bising keributan di koran-koran dan televisi. itulah kebanyakan menu komsumsi orang indonesia saat ini, yang mudah terprovokasi, mudah di kelabuhi oleh hiasan-hiasan kosmetik duniawi, yang menjadi doktrin pola pikir dan berakhir tindakan yang tak berarti.

sahabatku, “menangguk keuntungan yang tidak bisa diperoleh jika bertindak lurus-lurus saja” itulah salah satu yang menjadi alasan pola pikir manusia mengikuti prilaku para koruptor yang membuat hancurnya negara kita (baca artikel itu). Berbagai kasus yang menunjukkan kerusakan moral bangsa kita makin banyak terungkap. Ironisnya, sering disebutkan bahwa kita ini “bangsa yang religius”. Islam yang dianut oleh mayoritas kita syarat dengan ajaran moral, kejujuran dan tanggung jawab, kenapa korupsi semakin menjadi-jadi bahkan dengan bangganya meperlihatkan hasil duniawi yg dimiliki sehingga banyak orang menjadi iri..

kenapa korupsi ? (baca artikel itu )

dan kenapa korupsi terjadi di negara bernafaskan islami ? adakah yang mau menjawab…?

sebuah kisah menarik, bacalah ambillah manfaatnya… 

Shahabat Abi Rafi’ bercerita,

Suatu ketika aku berjalan bersama Rasulullah. Ketika melewati areal pemakaman, Rasulullah tiba-tiba berkata,

“Sungguh malangnya dirimu, sungguh malangnya dirimu.”

Karena heran spontan beliau berkata seperti itu, aku lantas bertanya,

“Kepada siapa anda berbicara, wahai Rasulullah?”

“Kepada seseorang yang dikuburkan di sini. Aku utus dia ke kabilah Bani Salim untuk mengumpulkan zakat, ternyata dia memakan dari harta zakat itu satu butir kurma.”

“Kemudian apa yang terjadi?”

“Aku saat ini melihat satu butir kurma itu berkobar menjadi api dan masuk ke perutnya.”

* * *

Ini adalah akibat memakan satu kurma yang diambil dari harta orang kaya yang berkewajiban zakat, bagaimana jika yang diambil adalah uang ratusan juta dari harta negara yang hakikatnya adalah milik rakyat??

Semoga para pejabat dan pemimpin di negara kita ini tidak lupa dengan hadits di atas sebagai pengingat dalam menjalankan amanah sebagai abdi rakyat dan bangsa.

*Diterjemah dari kitab Al Futuhat Al ‘Aliyyah hlm 91.

sahabatku yang dirahmati Allah.

jika huruf kita hitung sesuai dengan hitungan maka akan diperoleh :

A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, Z
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26

Mari kita hitung nilai huruf di atas dengan bahasa Inggris. Bila kita bekerja dengan modal atau nilai total huruf tersebut di atas, maka hasilnya adalah…
H A R D W O R K (Kerja keras)
8+1+18+4+23+15+18+11 = 98% only
K N O W L E D G E (Pengetahuan)
11+14+15+23+12+5+4+7+5 = 96% only
L O B B Y I N G (Pendekatan)
12+15+2+2+25+9+14+7 = 86% only
L U C K Y (Keberuntungan)
12+21+3+11+25 = 72% only
Ternyata semua nilai usaha kita di atas nggak bisa mengalahkan yang satu ini:
A T T I T U D E (Sikap)
1+20+20+9+20+21+4+5 = 100%
Rumus ini hanya berlaku di luar negeri.

Bila dibawa ke Indonesia, maka hitungannya jadi seperti ini:
G I G I H (Hardwork)
7+9+7+9+8 = 40% saja
I L M U (Knowledge)
9+12+13+21 = 55% saja
L O B B I (Lobbying)
12+15+2+2+9 = 40% saja
M U J U R (Lucky)
13+21+10+21+18 = 80% saja
S I K A P (Attitude)
19+9+11+1+16 = 46% saja
Kecuali, kalau Anda melakukan yang ini:
K O R U P S I (Corruption)
11+15+18+21+16+19+9 = 109%

apa yang anda pikirkan setelah melihat kenyataan tersebut.

sahabatku semua yang baik, 

kenapa korupsi terjadi dinegara yang bernafaskan islami ?

penjelasan dari Prof. Dr. Zakiah Daradjat, tokoh pendidikan yang aktif di Majelis Ulama Indonesia sekitar akhir tahun 90 han.

banyak masyarakat yang kurang menghayati agamanya. Barangkali mereka taat melaksanakan ibadah, tetapi penghayatan mereka pada umumnya kurang. Bisa jadi. Karena taat mereka adalah “taat ritual”. Mereka salat, puasa, tetapi aplikasi nilai-nilai ibadah itu dalam keseluruhan hidupnya tidak cukup dipahami. Akibatnya, kurang mereka hayati.

Disamping itu, manusiakan punya dorongan baik dan buruk. Dengan kondisi kurang menghayati agama, suasana yang goncang saat ini membuat mereka tidak mampu mengatasinya. Mereka merasa tertekan, terganggu. Mereka melihat contoh-contoh yang buruk, mereka terdesak, terjepit, lalu bangkitlah emosi dan kemampuan berpikir menurun.

dan Barangkali mereka shalat, berhaji, tetapi mereka tidak mengerti bahwa korupsi itu sebenarnya mencuri. Kita menggunakan istilah yang membuat agama itu menjadi terlalu ringan. Dikatakan korupsi, padahal mencuri. Dikatakan kolusi, padahal persepakatan jahat yang dalam Al’Quran dikutuk keras. sebenarnya Kalau dari aspek agama dia sudah mengerti , sudah mengerti dan menghayati, Insya Allah dia berpikir seratus kali untuk melanggarnya apalagi mencoba-coba korupsi.

sahabatku yang dirahmati Allah.

apakah orang yang korupsi hanya mengacu pada kemewahan duniawi ?

penjelasan dari gus Yahya.C.Staqquf

Bisa saja korupsi dihiasi “alasan yang luhur”. misal Seorang ibu-ibu pegawai negeri mengkorupsi waktu dengan berbelanja ke mal pada jam kerja, mungkin punya tujuan mulia : mencarikan barang-barang yang dibutuhkan keluarganya tanpa mengurangi waktu pribadinya sepulang kerja.

Saya ( gus Yahya.C.Staqquf) pribadi sulit mempercayakan apa pun kepada sebuah organisasi politik tertentu dan orang-orang yang (pernah) menjadi kadernya –selama belum bertobat– karena orpol (organisasi politik) itu telah selama puluhan tahun dijadikan saluran strategi koruptif oleh penguasa otoriter. Setelah menjalaninya sekian lama, langgam korupsi tentunya sudah mapan sebagai unsur “budaya korporasi” dalam organisasi itu. Dalam mengelola segala urusannya, korupsi menjadi pilihan strategi dan taktik yang diunggulkan. Maka, begitu seseorang menjadi kader orpol itu, ia segera diperkenalkan pada “ketrampilan unggulan” tersebut. Dan perjalanan karirnya ke depan didasarkan pada ukuran-ukuran “meritokrasi kemahiran berkorupsi”. Harap diingat juga bahwa untuk segala tindakan koruptifnya, penguasa otoriter dulu mendengungkan alasan: “demi bangsa dan negara”.

“Tujuan mulia”, apalagi jika dihiasi pembenaran agama, memang bisa memicu obsessi berlebihan sampai-sampai segala cara dirasa halal demi tujuan itu. Bom bunuh diri yang membabi-buta adalah contoh ekstrimnya. Dulu pun saya pernah menjadi kader sebuah organisasi pergerakan yang punya nuansa seperti itu. nah tu kan,… berbagai alasan yang bisa di ambil kesimpulan.

sahabatku,

Masyarakat Amerika membenci korupsi karena mereka selalu dikejar-kejar secara habis-habisan untuk membayar pajak, sehingga mereka merasa sangat berkepentingan mengawasi penggunaannya. Masyarakat Jepang membenci korupsi karena korupsi membuat Industri tidak efisien dan kehilangan daya saing, sedangkan kehidupan mereka amat bergantung pada industri, persis seperti masyarakat Singapura dengan perdagangan. Dan kita?

Jangan-jangan kita tidak punya cukup alasan untuk membenci korupsi. Malah koruptor itu kalau dimintai sumbangan biasanya menyumbang lebih banyak ketimbang yang bukan koruptor. Karena itu kita tetap saja mengirimkan proposal-proposan pembangunan masjid dan madrasah kepada para koruptor walaupun kita sudah tahu kalau mereka itu koruptor. Kita juga gemar mengundang koruptor ke pengajian-pengajian kita dan memintanya memberi pidato sambutan supaya kita mendapat sumbangan untuk melunasi sewa sound system.

logika sederhana akan berbicara :

Siapa yang paling tahu seluk-beluk uang negara? Birokrasi. Siapa yang menyusun rancangan rencana belanja? Birokrasi. Siapa yang pegang uangnya? Birokrasi. Siapa yang membelanjakannya? Birokrasi. Politisi berkuasa menyetujui atau menolak. Maka, dalam labirin korupsi, birokrat merancang skenarionya dan membagi penghasilannya buat para politisi agar memperoleh persetujuan mereka.

Memang, banyak politisi dewasa ini korup sekali. Padahal mereka adalah politisi-politisi relatif baru. Ketika Reformasi memberi kesempatan, mereka naik panggung dalam keadaan masih unyu-unyu. Siapa yang mengajari mereka teknik nyolong ? ya Birokrat Dan pengusaha. masak gak tahu sih,… 

sahabatku yang dirahmati Allah. 

Kapan KPK menangkap anggota KPK? Apakah negeri ini sudah terlalu busuk sehingga tak ada lagi yang layak dipertahankan?

Nggak juga lah. Kan masih ada sampeyan. Walaupun ada begitu banyak penipu-muka-dua, kan sampeyan masih jujur. Walapun terlalu banyak yang lemah watak nggak tahan godaan, kan sampeyan masih teguh dalam moralitas bersih. Itu yang penting. Masa depan di tangan sampeyan lho. Siapa yang akan bekuasa di negeri ini nantinya, apakah bisa merubah keadaan menjadi lebih baik atau tidak, semua itu sampeyan yang menentukan. Saatnya mengajak sebanyak mungkin orang agar mau menjadi jujur dan teguh-moral seperti sampeyan. Agar meyakini cita-cita luhur seperti sampeyan. Agar puya tekad memperjuangkan cita-cita seperti sampeyan

Wahai Pemuda Pemudi, jangan terlalu serius sekolah. Masyarakatmu nyaris putus asa menantikan pemimpin. Jangan kau tunda kehadiranmu. Ketahuilah: kalau sepuluh tahun lagi mereka masih tertipu uang dan omong-kosong media massa, itu sepenuhnya salahmu!

gus yahya C. staqquf

sahabatku yang baik hatinya.

Berhati-hatilah dgn pikiranmu, karena akan menjadi perkataanmu..
Berhati-hatilah dgn perkataanmu, karena akan menjadi perbuatanmu..
Berhati-hatilah dgn tindakkanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu..
Berhati-hatilah dgn kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu..

jika dalam diri seseorang apa yang dipikirkan, apa yang dilakukan, apa yang menjadi kebiasaaannya adalah prilaku yang mencerminkan ketidakjujuran pasti dimasa depan akan terlahir darinya calon-calon koruptor.

dalam sebuah hadist yang artinya “Akan tiba suatu jaman dimana setiap orang tidak lagi mempedulikan apa yang diperolehnya, apakah dari yang halal atau yang haram” (HR Bukhori dan Nasa’i dari Abu Hurairah)

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an ayat 188 yang artinya: “Dan janganlah kamu makan harta diantara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui” .

Seseorang yang tidak memahami atau memahami tetapi tidak mampu mengamalkan, apalagi tidak memahami dan mengamalkan sebuah nilai maka dia akan cenderung berperilaku menyimpang dari nilai itu inilah cikal bakal terjadinya korupsi dimana-mana, membahas tentang korupsi tidak dapat dilepaskan dari pemahaman dan pengamalan terhadap nilai dan moralitas seperti kejujuran, amanah, keadilan dan lain-lain maka tekankan nilai itu pada diri kita, diri anak-anak kita, diri keluarga kita, tularkan pada teman-teman dan sahabat perlahan tapi pasti jati diri bangsa yang jujur, adil dan amanah dapat tercapai.

coba kita flasback jauh kebelakang ke masa kecil, adakah penyimpangan yang sering kali orang tua contohkan kepada anaknya ? apakah kalian merasakan ada penyimpangan yang perlu diluruskan dalam pemahaman dan pengamalan nilai kejujuran dan mungkin nilai-nilai yang lain. Masa kecil yang diwarnai dengan perilaku anak dalam sebuah proses pembentukan dan pertumbuhan kepribadiannya.
Pada waktu itu kehidupan sehari-hari anak diwarnai dengan berbagai bentuk permainan dan kenakalan. Sayangnya ketika anak-anak melangkah pada perbuatan mencuri (walaupun yang dicuri hanya berupa buah-buahan di pohon tetangga), banyak orang tua atau lingkungan menanggapi hal itu sebagai sesuatu yang lumrah/wajar dan dianggap hanya sebuah kenakalan anak. Ada kesalahan dalam pemahaman dan pengamalan termasuk dalam penanaman nilai kejujuran karena sikap permisif atau sikap toleran yang berlebihan, sehingga perbuatan mengambil yang bukan haknya atau mencuri itu dilumrahkan, yang seharusnya dilarang. Kita semua tahu bahwa masa kecil adalah masa pertumbuhan yang perlu diisi dan dibekali dengan nilai dan moralitas agar anak tumbuh menjadi manusia dengan integritas kepribadian utuh. nah, coba salah siapa ? coba jawab ?

sahabatku semua yang baik

Nilai-nilai kemuliaan budi, termasuk nilai kejujuran, sebagai bagian dari pendidikan karakter yang tak pernah berhenti digelorakan melalui dunia pendidikan, agaknya bertentangan secara diametral dengan realitas sosial yang serba korup dan vandalistis. Tak sedikit siswa didik yang mengalami gejala “split-personality” (kepribadian yang terbelah) akibat kuatnya tarik-menarik antara nilai-nilai kemuliaan budi yang ditanamkan di lembaga pendidikan versus kenyataan sosial yang korup yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Situasi semacam itu diperparah dengan pendekatan pembelajaran yang beraroma indoktrinatif dan sarat dengan pemasungan. Penanaman nilai kemuliaan budi yang disampaikan dengan nada khotbah dan serba “menggurui”, disadari atau tidak, justru membuat anak-anak makin jauh dari sentuhan pendidikan karakter yang menarik dan memikat.

Mendidik anak untuk selalu bersikap jujur pasti muncul kendala-kendala yang menghambat anak untuk bersikap jujur. Tidak sedikit kendala yang akan dialami oleh orang tua. Kendala-kendala itu dapat dibagi menjadi kendala internal dan kendala ekternal.

     Kendala internal. Kendala internal yaitu kendala yang berasal dari dalam diri pribadi anak. Kendala-kendala itu dapat berupa sikap anak yang tidak mau dididik atau sikap melawan terhadap orang tua. perilaku anak yang berbohong juga dapat dilakukan anak dengan cara menambah atau mengurangi kata yang sebenarnya terjadi. Itu dilakukan karena anak ingin merasa aman atau melindungi diri dari ancaman.
     Kendala eksternal. Kendala eksternal yaitu kendala yang berasal dari luar diri pribadi anak. Kendala-kendala itu dapat berupa cara orang tua mendidik anak dengan keras atau orang tua yang tidak memberikan contoh yang baik kepada anak. Misalnya orang tua suka berkata tidak jujur atau berbohong kepada anak, sehingga anak juga menjadi terbiasa untuk berbohong. Jika orang tua mengetahui anaknya berbohong, hendaknya orang tua tidak memarahi atau menghukum anak, tetapi orang tua menasehati anak bahwa kebohongan itu tidak baik.

Kejujuran sangat berkaitan dengan kepercayaan. Dalam hubungan apapun, kejujuran dan kepercayaan sulit bahkan tidak bisa dipisahkan. Sebuah kejujuran dapat menimbulkan rasa kepercayaan, demikian pula kepercayaan biasanya lahir dari adanya kejujuran. Oleh karena itu, hendaknya para orang tua sudah menanamkan nilai kejujuran pada anak sejak usia dini untuk menciptakan hubungan keluarga yang harmonis dan membuat anak bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab sehingga dimasa depan lahirlah pribadi pribadi yang anti korupsi, pribadi dengan nilai kejujuran tinggi, tanggung jawab yang dapat dipercaya sehingga terciptalah negara yang adil dan makmur, harapannya.

sahabatku semua yang baik hatinya.

mengakhiri pembahasan kali ini, marilah sama-sama kita lihat diri kita, lihat sekeliling kita, lihat kanan kiri kita untuk Mencegah dan Memberantas Korupsi. Memahami akar dan penyebab mewabahnya korupsi di Indonesia. langkah mengatasi korupsi harus dilakukan dengan cara mencegah dan menindak. Mencegah terjadinya korupsi dilakukan untuk menciptakan faktor internal (faktor manusia)
agar tidak terjerumus pada perilaku korupsi.

Faktor Pendidikan dalam pengertian luas baik pendidikan formal di sekolah/lembaga pendidikan, pendidikan masyarakat melalui media komunikasi dan informasi serta teladan para pemimpin, dan pendidikan keluarga sebagai basis pembentukan dan pertumbuhan kepribadian, menjadi hal yang sangat penting dan perlu dijadikan prioritas.

Selain itu faktor kesejahteraan bagi para pegawai atau aparat juga perlu mendapat perhatian agar mereka dapat hidup layak sesuai tuntutan tugas   dan tanggung jawabnya. Penciptaan faktor eksternal yang kondusif juga tidak kalah penting untuk mencegah korupsi. Sistim politik termasuk sistim pemerintahan di dalamnya, sistim ekonomi dan sistim hukum yang baik merupakan faktor penting mengingat kebanyakan korupsi terjadi pada ranah itu.

Selanjutnya penindakan dilakukan untuk menghukum para pelaku korupsi (koruptor) sesuai ketentuan hukum yang berlaku, yang dilakukan secara adil atau tidak tebang pilih, melalui proses hukum yang benar dan tidak terintimidasi oleh pendapat atau kepentingan di luar hukum. Semua cara mengatasi korupsi baik yang bersifat pencegahan (preventif) dan penindakan (represif) sudah banyak dilakukan dan dipraktekkan di Indonesia. Perlu evaluasi secara terus menerus untuk perbaikan dalam setiap langkah pencegahan dan penindakan secara tegas, sehingga cita-cita bangsa yang bebas dari korupsi bisa tercapai, semoga..

dan terakhir Transformasi nilai sejak usia dini oleh keluarga/orang tua dan lingkungannya tidak boleh lagi diwarnai dengan toleransi dan pembenaran-pembenaran subyektif. Nilai kejujuran, amanah, keadilan dan kebenaran perlu transformasikan menjadi perilaku manusia Indonesia agar korupsi gersang di negeri ini.

ingatlah :

Sabda Rasullullah yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan lainnya: “Berlaku jujurlah kamu, karena kejujuran itu bergandengan dengan kebajikan. Keduanya dalam surga. Jauhilah kebohongan karena kebohongan bergandengan dengan kecurangan. Keduanya dalam neraka.”

Alangkah mulianya seseorang yang dalam keadaan serba abu-abu, semu dan mahalnya kejujuran, masih mempertahan kejujuran, meskipun akan menghadapi resiko-resiko yang besar. Allah SWT pasti menolong hamba-hamba-Nya yang jujur.

mari sama-sama berdoa,

Ya Rabb

Saat ini, kami tengah menghadapi ujian dan tantangan yang begitu besar

Ketika kemusyrikan dilindungi sebagai kebudayaan

Ketika perzinaan telah dilokalisasikan

Ketika perzinaan telah dianggap biasa oleh sebagian masyarakat

Ketika riba’ telah begitu mendarah daging dalam setiap keeping rezeki

Ketika perjudian menjadi sesuatu yang membanggakan

Ketika pezina, koruptor, kemaksiatan tidak dihukum sesuai syari’at-Mu

Maka jangan tutup hati kami Ya Rabb

Selamatkan kami dari siksa api neraka

Sesungguhnya kami tidak kuat Ya Rabb

Kami tidak kuat akan siksaan-Mu

Beri kami kekuatan untuk menegakkan kembali syari’at diantara hamba-hamba pilihan-Mu

Menyatukan mereka yang benar-benar mengabdi pada-Mu dengan ikhlas

Ya rabb, jauhkanlah kami dari sifat kikir, dekatkanah kami dengan sifat dermawan.Jauhkan kami dari sifat riya’ dan sombong, dan dekatkanlah kami dengan sifat welas asih dan berbudi. Jauhkan kami dr sifat tama’, dan lindungi kami dari segala kemudharatan.

Ya Rabb,Hadirkan diantara kami para penolong, yang mampu memakmurkan islam di muka bumi. Dan jadikan kami, imam-imam bagi orang yang bertakwa atau menjadi makmum yang bertakwa.

Ya Rabb.. beri hidayah bagi saudara-saudara kami yang belum menikmati Islam secara kaffah, secara sempurna. Terbitkan kecintaan mereka pada Islam… Hubbul ‘atiyyah.. Cinta yang membara! Sehingga mereka lebih mencintai Allah daripada dunia dan isinya.

Ya Rabb… Kuatkan keimanan kami, jadikan kami orang-orang yang bermanfa’at bagi manusia.

Ya Rabb, izinkan kami menyampaikan dan mengajak mereka yang belum menikmati indahnya Islam.

Ya Rabb, beri kami ilmu yang bermanfa’at, Ilmu yang bisa mendekatkan diri kepada-Mu, Ilmu yang bisa kami amalkan dalam kehidupan kami, Ilmu yang menyelamatkan kami.

kabulkan ya rabb, perkenankan permintaan kami

jika tidak kepada engkau, lantas kepada siapa lagi kami meminta, kabulkan ya rabb, kabulkan…

semoga bermanfaat.

Iklan