kemrosotan budibismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, era berubah sesuai dengan zamannya, zaman yang dielu-elukan dengan kecanggihan teknologi serta berbagai kemudahan yang ditawarkan seolah membuat manusia sekarang terlena akan suatu bagian terpenting dari hidupnya. apakah engkau tahu apa itu kawan?bagian sederhana dalam hidup, namun jika diabaikan berdampak besar bagi kehidupan, tak lain adalah akhlak, yang dimasa sekarang ini, akhlak yang baik mulai di abaikan keberadaannya oleh sebagian ummat Islam. Padahal akhlak juga menjadi benteng di era peradaban modern.

kenapa bisa begitu ? apa dampak yang akan terjadi dimasa depan?

Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol minuman. Kemudian Hasan berbisik dalam hati, “Alangkah buruk akhlak orang itu dan alangkah baiknya kalau dia seperti aku!” Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam.

Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi segera terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas karena karam. Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan. Kemudian dia berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata, “Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah, selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang.” Bagaimanapun Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu.

Maka lelaki itu bertanya padanya. “Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan anggur atau arak.” Hasan al-Basri tertegun lalu berkata, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan.” Lelaki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan.” Semenjak itu, Hasan al-Basri semakin dan selalu merendahkan hati bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih daripada orang lain.

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Beberapa pakar mengatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu (prilaku spontan tanpa butuh pemikiran dan tidak direkayasa).

Dalam suatu kesempatan Sayyidina Ali pernah berkata,

“Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas iman. Iman hanya tinggal pemikiran yang tidak berbekas dalam perbuatan.

Banyak orang baik tapi tidak berakal, ada orang berakal tapi tidak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyu’ namun sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat, rendah hati bagai sufi.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, ada yang banyak menangis tapi kufur nikmat.

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat. Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.

Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan. Ada pelacur tampil jadi figur.

Ada yang punya ilmu tapi tidak paham, ada yang paham tapi tidak menjalankan.

Ada yang pintar tapi membodohi. Ada yang bodoh tak tahu diri.

Ada orang beragama tapi tidak berakhlak, ada yang berakhlak
tapi tidak bertuhan.

Lalu diantara semua itu dimana kita berada?”

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Pada akhir abad kelima belas Masehi, Eropa mulai mengalami kebangkitan dalam bidang filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ahli bangsa Eropa termasuk Itali mulai meningkatkan keiatan dalam bidang filsafatYunani, ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Kehidupan mereka yang semulaterikat pada dogma Kristiani, khayal dan mitos mulai digeser dengan memberikan peran yang lebih besar kepada kemampuan akal pikiran. Segala sesuatu yang selama ini dianggap mapan mulai diteliti, dikritik dan diperbaharui hinggaakhirnya mereka menerapkan pola bertindak dan berpikir secara liberal. Di antara masalah yang mereka kritik dan dilakukan pembaharuan adalah masalah akhlak. Penentuan patokan baik buruk yang semula didasarkan padadogma gereja diganti dengan penentuan baik buruk berdasarkan pandangan ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman empirik. Akhlak yang mereka bangun didasarkan pada penyelidikan menurut kenyataan empirik dan tidak mengikuti gambaran-gambaran khayal atau keyakinan yang terdapat dalam ajaran agama.

Sumber akhlak yang semula ajaran Al-Kitab dan dogma Kristiani dan khayalan mereka ganti dengan ajaran akhlak yang bersumber pada logika dan pengalaman empirik. Hal yang demikian pada gilirannya melahirkan apa yang disebut dengan etika dan moral yang berbasis pada pemikiran akal pikiran. Pandangan baru terhadap akhlak tersebut pada tahap selanjutnya mampu mengubah konsep-konsep akhlak termasuk dalam menilai sesuatu yang baik dan mulia. Keutamaan kedermawanan misalnya tidak lagi dianggap mempunyai nilai yang tinggi sebagaimana yang terjadi pada abad pertengahan. Sementara masalah keadilan menempati posisi sebagai akhlak yang mulia yang melampaui pandangan abad selanjutnya.

Selanjutnya pandangan akhlak mereka diarahkan pada perbaikan yang berkaitan dengan kehidupan para pemuda, wanita dan anak-anak dengan tujuan agar mereka menjadi anggota masyarakat yang mandiri. Penyelidikan baru yang mereka lakukan itu berjasa bagi penentuan patokan mengenai hak dan kewajiban yang pada akhirnya melahirkan masyarakat yang bersifat individualistik, mandiri dan inovatif. Banyak tokoh pemikir akhlak yang lahir pada abad baru ini. Mereka itu diantaranya adalah Descartes, Shafesbury dan Hatshon, Bentham, John Stuart MillKant dan Bertrand Russel. Pemikiran akhlak telah banyak mereka kemukakan dan tersebar dalam berbagai literatur mengenai etika, dan sebagian menjadi pedoman hidup masyarakat Barat dan Eropa hingga saat ini.

apakah akhlak yang dikemukakan ilmuan barat cocot dengan tradisi lingkungan kita ?

ternyata tidak, Pandangan akhlak yang terdapat dalam pemikiran Barat tersebut kebanyakan tampak memperlihatkan coraknya yang amat sekuler, yakni memisahkan pandangan akhlak tersebut dari agama atau wahyu Tuhan. Pandangan akhlak yang dikemukakan para sarjana Barat itu sepenuhnya didasarkan pada pemikiran manusia semata-mata. padahal jika kita bisa berfikir lebih kritis kedepan maka akan tahu bahwa pemikiran manusia yang berpusat pada otak itu terbatas. bagaimana bisa mengukur yang maha tak terbatas. artinya apa, artinya kita butuh dalil, ayat-ayat yang bersumber dari yang maha tak terbatas dan disinilah alquran menjadi jawabannya.

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Tasawuf merupakan salah satu ilmu esoterik Islam yang selalu diperbincangkan. Terlebih pada saat ini dimana masyarakat seakan mengalami banyak masalah sehingga tasawuf dianggap sebagai obat untuk menyembuhkan kehampaan tersebut. Terlepas dari pro dan kontra seputar asal mula munculnya tasawuf, diakui atau tidak bahwa nilai-nilai tasawuf memang sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Setidaknya tasawuf pada saat itu terlihat dari tingkah laku nabi yang pada akhirnya kita namakan dengan nilai-nilai sufi. Hal ini sangatlah wajar karena misi terpenting nabi adalah untuk memperbaiki dan sekaligus menyempurnakan akhlak masyarakat arab dalu. Salah satu tokoh yang berhasil menggagas kaidah-kaidah tasawuf adalah al Ghazali dengan karyanya yang terkumpul dalam ihya’ U’lum al-Din. Karya al Ghazali ini dianggap sebagai jembatan yang mendamaikan syariat dengan tasawuf yang sempat mengalami clash pada zaman itu.

Al Ghazali memandang filsafat moral merupakan masalah subtansial. Sedangkan etika adalah sentral filsafat. Faktor yang menyebabkan dirinya memandang filsafat etika (moral) sebagai yang lebih utama dari pada filsafat metafisika adalah bahwa etikalah yang menjadi dasar social of change, dan dengan etika pula manusia akan mendapatkan kebahagiaan. Karena bukanlah diskursus metafisika yang rumit dan mendalam yang dapat membimbing manusia untuk meraih kebahagiaan, melainkan aspek praktis atau moralitas (etika) yang mampu melayani tujuan tersebut.

Tidak hanya sampai disini, al Ghazali pun menghancurkan otoritas Aristoteles dan pada saat yang sama menabur bibit-bibit filsafat mekanika, fondasi metafisika untuk sains modern. Dalam pandangan al Ghazali ini berbeda dengan para filosof kebanyakan. Menurut para filosof, konsep tentang etika terkait dengan rasio. Bahwa prinsip-prinsip moral bisa didapatkan atau diketahui dengan rasio. Konsep filosof ini memang merupakan pengaruh dari konsep etikanya Aristoteles. Bahwa baik dan buruk ditentukan oleh akal (rasio).

Dalam ‘Ihya U’lum Al-Din, al Ghazali membagi ilmu menjadi dua bagian: Syar’iyyah dan Ghairu Syar’iyyah. Ilmu yang pertama adalah segala ilmu yang berasal dari para nabi yang wajib ditekuni oleh setiap muslim. Sedangkan ilmu yang kedua adalah segala ilmu yang bukan berasal dari para nabi, misalnya ilmu kedokteran, ilmu siyasah (politik), ilmu logika dan jenis ilmu lainnya.

Al Ghazali memandang baik dan buruk (sumber kebaikan) manusia terletak pada kebersihan rohaninya dan rasa akrabnya terhadap Tuhan. Sesuai dengan prinsip Islam, al Ghazali menganggap Tuhan sebagai pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan rahmat (kebaikan) bagi seluruh alam. Al Ghazali juga meyakini bahwa kebaikan tersebar dimana-mana, bahkan dalam materi sekalipun. Hanya pemakainnya yang disederhanakan, yaitu kurangi nafsu dan tidak berlebihan.

berarti sangat pass kan, pandangan iman al ghozali selalu mengkaitkan segala sesuatu kepada sang pencipta, yaitu Allah swt. bukan seperti pandangan ilmuan-ilmuan barat yang berdasar pada pemikiran dan logika, yang lemah dan banyak tanda tanya.

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Sejak usia dini, anak harus dirawat dan dididik dengan nilai-nilai yang akan menyuburkan kesucian manusia (fitrah) agar tumbuh kokoh. Orang tua harus terus menyirami dan memberikan pupuk berupa nilai-nilai akhlak kebajikan, yaitu kejujuran, kerendahan hati, kebiasaan menolong orang lain, kebersamaan, sikap kerja keras, pantang menyerah, kemandirian, toleransi dan kedamaian, serta nilai-nilai kebajikan lainnya. Sebenarnya sifat-sifat buruk yang timbul dari diri anak, bukanlah lahir dari kesucian hati mereka. Sifat-sifat tersebut, terutama timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orang tua dan para pendidik. Semakin dewasa usia anak semakin sulit baginya untuk meninggalkan sifat-sifat buruk.

Masa remaja adalah suatu bagian dari proses tumbuh kembang yang berkesinambungan, yang merupakan masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa muda. Pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dalam aspek fisik, emosi, kognitif dan sosial. Masa ini merupakan masa yang kritis, yaitu saat untuk berjuang melepaskan ketergantungan kepada orang tua dan berusaha mencapai kemandirian sehingga dapat diterima dan diakui sebagai orang dewasa. Keberhasilan remaja melalui masa transisi ini dipengaruhi baik oleh faktor individu (biologis, kognitif, dan psikologis) maupun lingkungan (keluarga, teman sebaya dan masyarakat). Tidak sedikit remaja yang tidak mampu menjalani proses ini dengan baik, sehingga menimbulkan gejala ketidakstabilan mental, yaitu kondisi kepribadian yang tidak sesuai dengan harapan, seperti tidak tenang, sedih, cemas, pikiran kalut, kecewa yang berat/frustasi, dan trauma dalam waktu relatif lama.

semoga tidak demikian ya..

solusi jangka pendeknya adalah Kenalkan anak-anak Alquran sejak Dini, agar kelak mereka dekat dengan kitab panduannya, bukan sekedar dijadikan pajangan di lemari mewahnya, sehingga prilaku, cara pandang dan sikap adalah menurut alquran. karena alquran meletakkan prinsip hidup berdampingan dengan entenitas budaya, agama dan suku yang sangat cocok dengan kondisi zaman modern sekarang.

kenalkan anak pada teladan mulia. Rosulullah saw. kenalkan rendah hatinya, kenalkan sifat pemaafnya, kenalkan kasih sayangnya, kenal kesholehannya, kenalkan sikap menghargai dan menghormati, kenalkan sifat-sifat mulia pada diri nabi untuk menjadi teladan bagi putra putri yang kita sayangi.

Rasulullah SAW pernah bersabda 

Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai Nabimu; mencintai ahlul baitnya; dan membaca al-Quran kerana orang-orang yang memelihara al-Quran itu berada dalam lindungan singahsana Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan selain daripada perlindungan-Nya; mereka beserta para nabi-Nya dan orang-orang suci. – HR ath-Thabrani

bagaimana menurutmu duhai sahabat. ?

ya rabb, sinari hati kami dengan alquran. tuntun akhlak kami dengan alquran, jauhkan dari api neraka dengan alquran, dan masukkanlah kami kedalam syurga bersama dengan alquran. Amien

semoga bermanfaat.

Iklan