Gus Miekbismillahirahmirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, kata siapa para nabi dan aulia itu mati total gak bisa apa-apa gak bisa memberi syafaat, gak bisa hadir ditengah-ditengah kita untuk mengingatkan, menegur bahkan berwasiat kepada orang yang hidup ?
yang menyakini demikian adalah orang-orang model sekarang, yang berislam hanya sampai diayat, tak mendalami makna tersirat, yang bersyariat tanpa berma’rifat, yang imannya di lisan saja tak menembus hatinya, sehingga hatinya keras dan tidak peka pada hal-hal yang tak mampu didefinisikan oleh mata, hal-hal yang hanya mampu dilihat oleh hati yang suci, yang terhindar dari berbagai penyakit hati, yang menghormati perbedaan dan dengan lemah lembutnya akhlak Rosul menjadi penggarainya, wajahnya cerah, senyumnya sumringah, langkahnya mantap, bila engkau dekat denganya engkau akan bergetar sesuatu perasaan yang hanya mampu dirasakan oleh hati yang suci yang diridhoi Robby izzati

apakah engkau termasuk orang itu, semoga…

sebuah kisah semoga engkau dapat memahami apa yang hendak saya sampaikan…

Tak ada habisnya kalau kita membicarakan wali nyentrik satu ini, Gus Miek kyai nyeleneh yang mendapat sorotan banyak manusia. Ustadz Hamim Jazuli dari Tegal berkisah yang didengarnya dari Ustadz Suhaimi, salah seorang alumni PP. al-Falah Ploso Kediri, saat acara Halal Bihalal di aula gedung Asrama Brimob Cipinang. Beliau berbicara mengenai kisah 3 orang preman yang bertaubat.


Di daerah Tanjung Priok pada tahun 1996, ada 3 orang preman yang kerjaannya cuma memalak setiap kendaraan truck kontainer yang hendak masuk pelabuhan. Setelah itu mereka akan menggunakan uang hasil palakannya itu untuk mabuk-mabukkan, main perempuan atau berjudi.

Hingga pada suatu hari datanglah seorang pria mengenalkan dirinya bernama Gus Miek. Lantas pria itu berbicara kesana-kemari tentang banyak hal, mulai dari masalah politik, ekonomi hingga menyentuh masalah agama. Begitu lembut dan inteleknya pria itu berbicara, hingga akhirnya ketiga preman ini tertarik dan mulai suka dengannya. Apalagi pria itu orangnya asyik diajak gaul ala preman dan suka traktir makan, minum dan rokok.

Hingga akhirnya masuk waktu shalat Dzuhur, lantas Gus Miek mengajak ketiga preman itu untuk ikut shalat. Pada mulanya mereka menolak, tapi Gus Miek merayunya dengan iming-iming barangsiapa yang mau shalat dengannya, maka akan dikasih uang Rp. 50.000. Maka walaupun terpaksa akhirnya ketiga preman ini mau ikut shalat di belakang Gus Miek, tentu saja niatnya demi mendapat uang.

Begitulah setiap waktu shalat, pasti mereka shalat berjamaah bersama teman barunya, Gus Miek. Kejadian ini berlangsung hingga 3 bulan lamanya. Hingga pada akhirnya ada kesadaran tersendiri bagi tiga preman itu untuk shalat, apalagi Gus Miek juga mengajarkan masalah agama yang selama ini belum pernah mereka dengar.

Dan memasuki bulan ke-4, Gus Miek sudah tidak menemui 3 preman tersebut. Tentu saja mereka kalang kabut, karena sudah terbiasa shalat berjamaah bersama Gus Miek. Mulai ada kerinduan dari ketiga preman itu akan sosok pria misterius yang selama ini selalu mengajak mereka kepada kebaikan dan mengajarkan mereka tentang masalah agama.

Rupanya tingkah mereka menarik perhatian Ustadz Suhaimi yang ketika itu baru pulang dari acara Maulid di Masjid Luar Batang. Lalu sang ustadz menghampiri mereka di teras masjid dan menanyakan banyak hal. Kemudian 3 preman itu bercerita tentang perjumpaan mereka dengan seorang pria misterius yang membuat mereka akhirnya mulai mendalami masalah agama.

Betapa kagetnya Ustadz Suhaimi ketika mendengar nama Gus Miek disebut oleh mereka. Lantas sang ustadz yang saat itu membawa buku saku tentang Dzikrul Ghofilin memperlihatkan foto seorang ulama kepada ketiga preman itu: “Apakah pria misterius itu seperti orang ini?”

Dengan nada heran, preman itu menjawab: “Iya benar. Apakah Ustadz kenal dengan dia?”

Ustadz Suhaimi menjawab: “Bukan kenal lagi, ini guru saya. Beliau seorang ulama besar yang merupakan seorang waliyullah. Dan beliau sudah wafat 3 tahun yang lalu.”

Seperti tersambar petir, terkejut bukan kepalang tiga preman ini mendengar penjelasan Ustadz Suhaimi. Jadi selama ini mereka mendapat pencerahan dari seorang ulama besar, waliyullaah masyhur, yang sudah lama wafat. Menangislah mereka sambil menciumi tangan Ustadz Suhaimi sambil menyatakan keinginan mereka untuk bertaubat dan meminta beliau mau mengajari mereka tentang masalah agama. Akhirya sang ustadz pun menyanggupinya dengan berurai air mata.

Kisah ini mengandung pelajaran, bahwa Allah memberikan hidayah kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan juga mengajarkan bahwa para wali Allah itu tiadalah bagi mereka mati, jasad boleh mati tapi dakwah mereka akan tetap hidup kapan pun dan di manapun. Wallahu A’lam.

diitulis oleh Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 27 Oktober 2013

sahabatku semua yang dirahmati,

Sungguh ada kerinduan dihati, untuk hadir mengikuti majelis-majelis yang dipuji para nabi yang digemari para wali dan didatangi para habaib dan kyai, dalam semaan alquran dan mujahadah dzikrul ghofilin bersama kh Ahmad Zaenuri pengasuh pondok pesantren Al Muayyad Kudus, dzikir dan Maulid bareng Dalam Masjelis “DIscoutix Dzikir” tombone ati bersama Habib Jamil Assegaf dan Habib Nur Assegaf, ada Kerinduan saat masa-masa sekolah dalam “Sholawat Ibrohimiah” sholawat yang menggetarkan hati, ada rasa gatel untuk menabuh “terbang” dalam grup maulid Simtud dhuror “Subbanul Yaum”, ada cinta yang mendalam dalam “majelis Ahbabul Mustofa” bersama Al habib Syech bin Abdul qodir Assegaf. dan Ada rindu yang mendalam berkumpul,yasinan, bermaulid albarjanji dalam “Majelis Nisyatul Atfal” bersama-sama anak-anak kecil setinggkat SD dan SMP. ada kerinduaan yang mendalam.

Ribuan orang hadir terhanyut dalam lantunan dzikrul ghofilin (buka link itu untuk membacanya) karangan wali Allah yang satu ni yaitu KH Hamim Jazuli ( Gusmiek).

Banyak orang berhusnudhdhonn bahwa Kiyai Hamim Jazuli almarhum (Gus Mik) adalah waliyyullah, sementara beliau konon penggemar bir hitam. Hal ini sedikit banyak menimbulkan kontroversi: bagaimana mungkin seorang wali menggemari minuman haram? Saya (Gus Yahya C.Staquf) sendiri beranggapan bahwa Gus Mik, bahkan dalam kegemarannya minum bir hitam, tetap setia kepada syari’at. Hanya saja, beliau mungkin mengambil pendapat fiqih yang tidak populer. Saya percaya bahwa Gus Mik itu orang ‘alim yang sudah memahami segala aqwaal ulama.

karena apa. Arus utama fiqih menyatakan bahwa bir itu haram. Dalam bahasa kitab kuning, pendapat ini punya derajat al adhhar atau al ashahh. Kalau ada yang adhhar berarti ada yang dhahir; kalau ada yang ashahh berarti ada yang shahih. Namun, demi ketakwaan harus saya sampaikan peringatan ini: janganlah engkau mengikuti pendapat fiqih yang tidak populer kecuali engkau memahami benar seluk-beluk istinbatnya.

kontroversi yang dilakukan gusmiek dan apa yang beliau jabarkan :

“Pernah suatu ketika Gus Farid (anak KH.Ahamad Siddiq yang sering menemani Gus Miek) mengajukan pertanyaan yang sering mengganjal di hatinya, pertama bagaimana perasaan Gus Miek tentang Wanita ? “Aku setiap kali bertemu wanita walaupun secantik apapun dia dalam pandangan mataku yang terlihat hanya darah dan tulang saja jadi jalan untuk syahwat tidak ada”jawab Gus miek.

Pertanyaan kedua Gus Farid menayakan tentang kebiasaan Gus Miek memakai kaca mata hitam baik itu dijalan maupun saat bertemu dengan tamu…”Apabila aku bertemu orang dijalan atau tamu aku diberi pengetahuaan tentang perjalanan hidupnya sampai mati. Apabila aku bertemu dengan seseorang yang nasibnya buruk maka aku menangis, maka aku memakai kaca mata hitam agar orang tidak tahu bahwa aku sedang menagis”

Gus Miek menantang siapa saja yang merasa jago minum agar bertanding minum, siapa yang lebih tangguh dan lebih jago minum. Tentu saja, tak satu pun yang mampu mengalahkannya.

 “Gus kenapa sampeyan ikut Minum bersama kami ? sampeyankan tahu ini minuman keras yang diharamkan oleh Agama ? lalu Gus Miek Menjawab “aku tidak meminumnya …..!! aku hanya membuang minuman itu kelaut…hal ini membuat mereka bertanya-tanya, padahal sudah jelas tadi Gus Miek meminum minuman keras tersebut. Diliputi rasa keanehan”

Mo-LI-MO Gus Miek menerobosnya. Kerap ia malam-malam mendatangi wilayah prostitusi dan main dengan para pelacur. Memasuki gemerlapnya dunia malam diskotik, dugem dan main judi serta mabuk-mabukan.

Khusus soal berjudi, setiap kali keluar dari suatu tempat untuk main judi, dia bisa membawa sekarung yang semuanya berisi uang karena selalu menang judi. Bahkan, dia hampir tak pernah kalah dalam soal main judi. Banyak bandar bangkrut karenanya. Bahkan sampai ada bandar-bandar yang karena kehabisan modal, lantas memilih bunuh diri. Bukan hanya karena malu, tetapi karena sudah tak punya apa-apa lagi.

Demikian juga soal mabuk. Gus Miek menantang siapa saja yang merasa jago minum agar bertanding minum, siapa yang lebih tangguh dan lebih jago minum. Tentu saja, tak satu pun yang mampu mengalahkannya.

Tindakannya soal main pelacur juga tak kalah. Berkali-kali ia keluar masuk dunia hitam tersebut. Sebagai putra seorang ulama ternama, perbuatan sangat buruk ini tentu saja sangat-sangat memalukan. Bukan hanya keluarga besarnya sendiri, tetapi juga seluruh masyarakat yang merasa pesantren sebagai pusat dan sumber keteladanan. Sumber mencari kedahagaan spiritual. Tempat di mana mereka belajar menjadi hamba-hamba yang lebih baik.

Yang sangat menarik, unik dan di luar dugaan semua orang, apa yang dilakukan Gus Miek ternyata terdapat misi visioner yang tak diketahui banyak orang. Sebab, banyak para pelacur, penjudi, dan para pemabuk yang kemudian lantas bertaubat dan kembali menjadi hamba-hamba yang baik setelah bertemu dengan Gus Miek. Mereka kembali ke tengah masyarakat dan menjadi anggota masyarakat yang baik.

Memang kasus yang aneh. Semua orang terpana. Setelah mengetahui apa yang dihasilkan oleh Gus Miek, semua orang berbalik menaruh harapan. Bahkan para ulama yang semula menghujat dan memvonis perilaku Gus Miek, berbalik menyambut Gus Miek dengan tangan terbuka.

mungkin benar bahwa “wali itu hanya mampu dipahami oleh wali” artinya seorang wali tentu dengan khasanah kedalaman ilmu yang tinggi dan kejernihan hatinya yang bertaqorup billah, mampu melihat apa yang tersyirat disetiap perkara yang orang awam menggapnya maksiat, maka setiap pelanggaran yang melanggar syariat mungkin harus diluruskan, tapi jangan sampai suudzon dengan orangnya.. semoga engkau bisa memandang seperti itu wahai sahabatku semua.

Saya merasa sangat beruntung pernah membaca  kisah di balik perjalanan hidup dan misteri dakwah Gus Miek ini. Sebab, ternyata tersimpan banyak kearifan di balik sesuatu yang tampaknya buruk dan hitam. Mengajarkan saya agar tak gampang berprasangka. Tak gampang memvonis orang lain. Bahwa semua orang, betapapun buruknya, tetap adalah hamba-hamba Tuhan.

Gus Miek  berani mengambil sikap dan keputusan meski namanya hancur di mata mayoritas masyarakat. Sepak terjang  yang controversial memang terkesan mengagetkan semua pihak, akan tetapi jika ditelaah, dipikirkan secara lebih mendalam di sana ditemukan sisi-sisi kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Bahkan para ulama yang semula menghujat dan memvonis perilaku Gus Miek, berbalik menyambut Gus Miek dengan tangan terbuka. subhanaallah… itulah yang dinamakan “bermanfaat tanpa pengakuan prestasi”

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

berikut ini nasehat dan pesan gus miek, pahamilah, kajilah semoga kita memperoleh khasanah diri…

Nasehat Tasawuf  Gus Miek atau KH Hamim Thohari bin KH Jazuli Utsman Ploso, Mojo, Kediri Jawa Timur merupakan seorang Sufi yang hadir ditengah masyarakat Jawa Timur. Gaya lakunya terkadang aneh, atau dalam istilah tasawuf sebagai “khowariqul ‘adah” menambah kemasyhuran beliau di seantero jagad nusantara bahkan dunia.

Dhawuh 1

Saya adalah mursyid tunggal Dzikrul Ghofilin.

“Lho, Gus kok berkata begitu bagaimana dengan farid dan syauki..?” tanya Gus Ali sidoarjo.”mereka hanya meramaikan saja” , jawab Gus Miek

 Dhawuh 2

Demi Allah, saya hanya bisa menangis kepada Allah, semoga sami’in yang setia, pengamal Dzikrul Ghofilin, semua maslah-masalahnya tuntas diperhatikan oleh Allah.

 Dhawuh 3

Bila mengikuti Dzikrul Ghofilin, kalau tidak tahu artinya yang penting hatinya yakin.

 Dhawuh 4

Barusan ada orang bertanya: Gus, Dzikrul Ghofilin itu apa..? saya jawab: “Jamu”.

 Dhawuh 5

Dzikrul Ghofilin itu senjata pamungkas, khususnya menghadapi tahun 2000 ke atas

 Dhawuh 6

Ulama sesepuh yang dikirimi fatihah oleh orang-orang yang tertera atau tercantum dalam Dzikrul Ghofilin itu yang akan saya dan kalian ikuti di akhirat nanti.

 Dhawuh 7

Dekatlan kepada Allah..! kalau tidak bisa, dekatlah dengan orang yang dekat denganNya.

Dhawuh 8

Kemanunggalan sema’an Al Qur’an dan Dzikrul Ghofilin adalah sesuatu yang harus di wujudkan oleh pendherek, pimpinan Dzikrul Ghofilin, dan jama’ah sema’an Al Qur’an. Sebab antara sema’an Al Qur’an kaliyan Dzikrul Ghofilin ingkang sampun dipun simboli kaliyan fatihah miata marroh ba’da kulli shalatin, meniko berkaitan manunggal.

 Dhawuh 9

Semoga Dzikrul Ghofilin ini menjadi ketahanan batiniah kita, sekaligus penyangga kita di hari Hisab (hari perhitungan amal). Itulah yang paling penting..!

 Dhawuh 10

Nuzulul Qur’an yang bersamaan dengan turunnya hujan ini, semoga menjadi isyarat turunnya petunjuk kepada saya dan kalian semua, seperti firman Allah: “Ulaika ‘ala  hudan min rabbihim wa ulaika hum al-muflihun” (Mereka telah berada di jalan petunjuk , dan mereka adalah orang-orang yang beruntung).

 Dhawuh 11

Barusan ada orang yang bertanya: Gus, bagaimana saya ini, saya tidak bisa membaca Al Qur’an..? saya jawab: “Paham atau tidak, yang penting sampean datang ke acara sema’an, karena mendengarkan saja besar pahalanya”.

 Dhawuh 12

Sejak sekarang, yang kecil harus berpikir: kelak kalau besar, aku besar seperti apa, yang besar harus berpikir, kalau tua kelak, aku tua seperti apa, yang tua juga harus berpikir, kelak kalau mati, aku mati dalam keadaan seperti apa.

 Dhawuh 13

Dalam sema’an ada seorang pembaca Al Qur’an, huffazhul Qur’an dan sami’in. Seperti ditegaskan oleh sebuah hadits: Baik pembaca maupun pendengar setia Al Qur’an pahalanya sama. Malah di dalam ulasan tokoh lain dikatakan: pendengar itu pahalanya lebih besar daripada pembacanya. Sebab pendengar lebih main hati, pikiran, dan telinganya. Pendengar dituntut untuk lebih menata hati dan pikirannya dan lebih memfokuskan pendekatan diri kepada Allah.

Dhawuh 14

Satu-satunya tempat yang baik untuk mengutarakan sesuatu kepada Allah adalah majelis sema’an Al Qur’an. Hal ini tertera di dalam (kalau tidak salah) tiga hadits. Antara lain Man arada an yatakallam ma’a Allah falyaqra’ Al Qur’an (siapa ingin berkomunikasi dengan Allah, hendaknya ia membaca Al Qur’an).

Dhawuh 15

Seorang yang ikut sema’an berturut-turut 20 kali saya jamin apa pun masalah yang sedang dihadapinya pasti akan beres/tuntas.

Dhawuh16

Ada seorang datang kepada saya: “Gus, problem saya bertumpuk-tumpuk, saya sudah mengikuti sema’an 19 kali, tinggal 1 kali lagi, kira-kira masalah saya nanti tuntas atau tidak..?” saya jawab: “yang sial itu saya, kok bertemu dengan orang yang mempunyai masalah seperti itu.”

Dhawuh 17

Saya sendiri  sebagai pencetus sema’an Al Qur’an ternyata kurang konsekuen, sementara sami’in datang dari jauh, bahkan hadir sejak subuh, mulai surat Al fatihah dibaca sampai berakhir setelah doa khotmil Qur’an malam berikutnya baru mereka pulang. Sedang saya ini, baru datang kalau sema’an Al Qur’an akan diakhiri. Itu pun tidak pasti. Terkadang saya berpikir, saya ini seorang yang dipaksakan untuk siap dipanggil kiai.

Dhawuh 18

Berapa yang hadir setiap sema’an? Jangan  lebih lima persen. Nanti bila sami’innya terlalu banyak, saya hanya menangis dan membaca Al Fatihah, lalu pulang. Saya sadar, saya tidak mampu berbuat apa-apa. Jangankan untuk orang banyak, untuk satu orang  saja saya tidak bisa.

Dhawuh 19

Kalau saya nongol, mungkin tak cukup semalaman. Satu persatu harus dilayani. Saya besok ke mana? Apa yang harus saya lakukan? Kami tidak punya modal? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, Dan, saya dituntut untuk memberikan keterangan yang bisa mereka terima, setidaknya agak menghibur, dengan lelucon atau dengan pengarahan yang pas.

 Dhawuh 20

Semoga sema’an dan Dzikrul Ghofilin ini kelak menjadi tempat duduk-duduk dan hiburan anak cucu kita semua.

 Dhawuh 21

Alhamdulillah, saya adalah yang pertama memberitahukan kepada “anak-anak” tentang makna dan kegunaan sema’an Al Qur’an. Di tengah maraknya Al Qur’an diseminarkan dan didiskusikan, Alhamdulillah masih ada kelompok kecil yang menyakini bahwa Al Qur’an itu mengandung berkah.

Dhawuh 22

Saya mengambil langkah silang dengan mengatakan kepada anak-anak yang berkumpu agar sebulan sekali mengadakan pertemuan, ngobrol-ngobrol, guyon-guyon santai, syukur bisa menghibur diri dengan hiburan yang berbau ibadah yang menyentuh rahmat dan nikmat Allah. Kebetulan saya menemukan satu  pakem bahwa pertemuan yang dibarengi dengan alunan Al Qur’an, membaca dan mendengarkannya, syukur-syukur dari awal sampai akhir, Allah akan memberikan rahmat dan nikmatNya. Jadi, secara batiniah, sema’an Al Qur’an ini menurut saya adalah hiburan yang bersifat hasnah (bernilai baik). Juga, pendekat diri kita kepada Allah dan tabungan di hari akhir. Itu pula yang benar-benar diyakini para pengikut sema’an Al Qur’an.

Dhawuh 23

Di bukit ini terdapat 3 tiang kokoh (panutan), yaitu (1) Syaikh Abdul Qodir Khoiri, seorang wali yang penuh kasih, (2) Abdul Sholih As-Saliki, seorang wali yang terus menjaga wudhunya demi menempuh jalan berkah, (3) Muhammad Herman, ia adalah wali penutup, orang-orang terbaik berbaur dengannya. Wahai tuhanku, berilah manfaat dan berkah mereka. Kumpulkan aku bersama mereka.

Dhawuh 24

Mengenai tata krama ziarah kubur, selayaknya lahir batin ditata dengan baik. Saya juga berpesan, kalau seseorang berceramah, hendaknya ia tidak meneliti siapa yang dimakamkan, juga riwayat hidupnya. Setidaknya hal demikian ini hukumnya makruh.

 

Dhawuh 25

Tiga orang yang tidur ini hidup sebelum Wali songo. Orang-orang banyak datang kesini. Demikian juga orang-orang yang sakit, mereka kalau datang ke sini sembuh.

 Dhawuh 26

Kelak, bila aku sudah tiada, yang saya tempati ini (makam tambak) bertambah ramai (makmur)

 Dhawuh 27

Saya disini hanya ittiba’(mengikuti) kiai sepuh, seperti kiai Fattah dan kiai Mundzir. Di sini, dulu pernah dibuat pertemuan kiai-kiai pondok besar.

 Dhawuh 28

Makam ini yang menemukan keturunan Pangeran Diponegaoro. Dulu, desa ini pernah dibuat istirahat oleh pangeran Diponegoro. Di desa ini tidak ada shalat dan tidak ada apapun. Keturunan Diponegoro ini ada dua, yang satu menjadi dukun sunat tetapi kalau berdandan nyentrik, sedang adiknya jadi pemimpin seni jaranan.

 Dhawuh 29

Berbaik sangka itu sulit. Jangankan berbaik sangka kepada Allah, kepada para wali dan para kiai sepuh saja sulit.

 Dhawuh 30

Di tambak itu, kalau bisa bersabar, akan terasa seperti lautan, dan kalau bisa memanfaatkan, akan banyak sekali manfaatnya. Tapi kalau tidak bisa memanfaatkan, ia akan bisa menenggelamkan.

 Dhawuh 31

Huruf hijaiyah itu ada banyak ada ba’, jim, dhot, sampai ya’. Demikian juga dengan taraf ilmu seseorang. Ada orang yang ilmunya cuma sampai ba’, ada orang yang ilmunya sampai jim, ada orang yang ilmunya sampai dhot saja. Nah, orang yang ilmunya seperti itu tidak paham kalau di omongi huruf tha’, apalagi huruf hamzah dan ya’.

 Dhawuh 32

Saya bukan kiai, saya ini orang yang terpaksa siap dipanggil kiai. Saya juga bukan ulama. Ulama dan kiai itu beda. Kiai dituntut untuk punya santri dan pesantren. Ulama itu kata jamak yang artinya beberapa ilmuwan. Ketepatan saja saya punya bapak yang bisa ngaji dan punya pesantren. Itu pun tidak ada hubungannya dengan saya yang lebih banyak berkelana. Dari berkelana itu lahirlah sema’an Al Qur’an. Jadi, hiburan “anak-anak” dan saya datang bukan atas nama apa-apa. Hanya salah satu pengikut sama’an Al Qur’an, yang bukan sami’in setia bukan pengikut  yang aktif.

Dhawuh 33

Nanti, kalau suamimu berani menjadi kiai harus sanggup hidup melarat.

 Dhawuh 34

Akhirnya (maaf), kita menyadari bahwa kaum ulama, lebih-lebih seperti saya, dituntut untuk menggali dana yang lebih baik, dana yang benar-benar halal, kalau kita memang mendambakan ridho Allah.

 Dhawuh 35

Di era globalisasi ini kita dituntut untuk lebih praktis, tidak terlalu teoretis. Semua kiai dan ulama sekarang ini dituntut mengerti bahwa dirinya punya satu tugas dari Allah, yakni membawa misi manusiawi.

Dhawuh 36

Kalau ingin pondok pesantrennya besar, itu harus kaya terlebih dahulu. Nah, kaya inilah yang sulit.

 Dhawuh 37

Pondok pesantren ini, walaupun kecil, mbok ya biarkan hidup, yang luar biar di luar, yang dalam biar di dalam.

 Dhawuh 38

Saya punya pertanyaan buat diri saya sendiri: mampukah saya mengatarkan “anak-anak?” Sedang ulama saja banyak yang kurang mampu mengantarkan anak-anak untuk saleh dan sukses. Suksenya diraih, salehnya meleset. Di dalam pesantren sama sekali tidak diajarkan keterampilan. Timbul pertanyaan: Bagaimana anak-anak kami nanti di masa mendatang, bisnisnya, ekonominya, nafkahnya hariannya? Mungkinkah mereka berumah tangga dengan kondisi seperti ini?.

 Dhawuh 39

Mbah, manusia itu kalau punya keinginan, hambatannya Cuma dua. Godaan dan hawa nafsu. Kuat cobaan apa tidak, kuat dicoba apa tidak.

 Dhawuh 40

Para santri itu lemah pendidikan keterampilannya. Sudah terlanjur sejak awalnya begitu. Tapi Alhamdulillah, di pesantren-pesantren seperti Gontor dan pondok pabelan diajarkan keterampilan-keterampilan. Di sana, keterampilannya ada, tapi wiridannya tidak ada. Saya senang pesantren yang ada wiridannya.

Dhawuh 41

Sukses dalam studi belum menjamin sukses dalam hidup. Pokoknya, di luar buku, di luar bangku, di luar kampus, masih ada kampus yang lebih besar, yakni kampus Allah. Kita harus banyak belajar. Antara lain belajar dangdut Jawa, belajar tolak berhala, dan belajar tolak berhala itu sulit sekali! Sulit sekali.

Dhawuh 42

Hidup ini sejak lahir hingga mati, adalah kuliah tanpa bangku.

Dhawuh 43

Mbah, kamu itu ketika mengaji, jika dipanggil ayah, ibu atau putra-putra ayah, siapa saja itu, jangan menunggu selesai mengaji, langsung saja ditaruh kitabnya, lalu menghadap dengan niat mengaji.

 

Dhawuh 44

Seorang (santri) yang tak kuat menahan lapar, bahayanya orang (santri) itu di pondok bisa berani banyak utang.

 

Dhawuh 45

Mbah, kalau kamu menggantungkan kiriman dari rumah, kalau belum dikirim jangan mengharap-harap dikirim, semua sudah diatur oleh Allah.

 

Dhawuh 46

Sekarang, mencari orang bodah itu sulit, sebab orang bodoh kini mengaku pintar. Kelak, kalau kamu sekolah, berlaku bodah saja. Bagaimana caranya? Pura-pura saja, dan harus bisa pura-pura bodoh. Maksudnya, kamu harus pintar membedakan antara orang bodoh dengan orang yang pura-pura bodoh.

 

Dhawuh 47

Dunia itu memang sedikit, tapi tanpa dunia, seseorang bisa mecicil (blingsatan).

 

Dhawuh 48

Jadi orang itu harus mencari yang halal, jangan sampai jadi tukang cukur merangkap jagal.

Dhawuh 49

Miskin dunia sedikitnya berapa, tak ada batasannya demikian juga kaya dunia. Seorang yang kaya pasti ada yang di atasnya, seorang yang melarat banyak temannya. Orang kaya pasti ada kurangnya. Ini adalah ilmu Jawa, tidak perlu muluk-muluk mengkaji kitab kuning.

 

Dhawuh 50

Kamu memilih kaya-sengsara atau melarat-terlunta? Maksudnya, kaya-sengsara itu adalah di dunia diganggu hartanya, sedang di akhirat banyak pertanyaannya.

 

Dhawuh 51

Gus, tolong saya didoakan kaya. “kaya buat apa?”, tanya Gus Miek. Buat membiayai anak saya. Royan, kamu tak usah khawatir, saya berdoa kepada tuhan agar orang selalu baik dan membantu kamu. Adapun orang yang berbuat buruk atau berniat buruk kepadamu akan saya potong tangannya. Kelak, dirimu saya carikan tempat yang lebih baik dari dunia ini.

Dhawuh 52

Royan, kamu ingin kaya ya? Kalau sudah kaya, nanti kamu repot lho.

Dhawuh 53

Orang kaya yang masuk surga itu syaratnya harus baik dengan tetangganya yang fakir.

 

Dhawuh 54

Seorang fakir yang tahan uji, yang tetap bisa tertawa dan periang. Sedang hatinya terus mensyukuri keadaan-keadaannya, masih lebih terhormat dan lebih unggul melebihi siapa pun, termasuk orang dermawan yang 99% hak milinya diberikan karena Allah, tetap saja masih unggul fakir yang saleh tadi.

 

Dhawuh 55

Saat memimpin doa pada acara haul KH. Djazuli Ustman, Gus Miek membaca Ayyuha ad-dunya thallaqtuka fa’anta thaliqah.(Wahai dunia, aku telah menalak kamu, sungguh aku telah mentalak kamu). Gus Miek lalu berhenti dan berkomentar:

Doa-doa seperti ini janan sampai kalian ikut mengamini, belum mengamini saja sudah senin kemis, apalagi mengamini, bertambah dalam (terperosok) lagi.

 

Dhawuh 56

Maaf, kalau saya harus mengatakan: Anda sebaiknya punya keterampilan. Jangan malu mengerjakan yang kecil, asal halal. Karena banyak sekali rekanan saya yang malu, misalnya jualan kopi di ujung sana, di sektor informal. Kok jualan kopi sih? Padahal saya mendambakan menjadi karyawan bank, biar terdengar keren dengan gaji tinggi. Kok ini? Kata mereka. Padahal ini halal menurut Allah dan sangat mulia. Sayang, mereka salah menempatkan, menjaga gengsi di hadapan manusia. Nah, ini tidak konsekuen, ini terlanjur salah kaprah. Kalau saya mengatakannya secara salah, saya yang terjepit.

 

Dhawuh 57

Saya ini kan lain. Walau income resmi enggak ada, tanah tak punya, tapi ada rekanan yang lucu-lucu. Hingga rasa tasyakurlah yang lebih berkobar. Bukan rasa kurang atau yang lain.

 

Dhawuh 58

Ada satu kios kecil yang isi dengan kebutuhan kampung seperti lombok, beras dan gula, di tempat yang sami’in tidak tahu. Kios itu saya percayakan pada seseorang. Terserah dia! Dan, tidak harus untung. Mungkin dia sendiri harus belajar untuk menerima kenyataan. Termasuk untuk tidak untung.

 

Dhawuh 59

Jadilah seburuk-buruk manusia di mata manusia tetapi luhur di mata Allah.

 

Dhawuh 60

Tidak apa-apa dianggap seperti PKI tetapi kelak masuk surga.

 

Dhawuh 61

Hidup itu yang penting satu, keteladanan.

Dhawuh 62

Kunci sukses adalah bergaul, dan di dalam bergaul kita harus ramah terhadap siapa saja. Sedang prinsipnya adalah bahwa pergaulan harus menjadikan cita-cita dan idaman kita tercapai, jangan sebaliknya.

 

Dhawuh 63

Segala langkah, ucapan, dan perbuatan itu yang penting ikhlas, hatinya ditata yang benar, tidak pamrih apa-apa.

 

Dhawuh 64

Kalau ada orang yang menggunjing aku, aku enggak usah kamu bela. Kalau masih kuat, silakan dengarkan, tapi kalau sudah tidak kuat, menyingkirlah.

Dhawuh 65

Kalau ada orang yang menjelek-jelekkan, temani saja, jangan menjelek-jelekkan orang yang menjelek-jelekkan. Kalau memang senang mengikuti sunnah nabi, ya jangan dijauhi mereka itu karena nabi itu rahmatan lil alamin.

 

Dhawuh 66

Kita anggota sami’in Dzikrul Ghofilin khususnya, ayo ramah tamah secara lahir dan batin dengan orang lain, dengan sesame, kita sama-sama manusia, walaupun berbeda wirid dan aliran. Kita harus mendukung kanan dan kiri yang sudah terlanjur mantab dalam Naqsabandiyah, Qodiriyah, atau ustadz-ustadz Tarekat Mu’tabarah. Jangan sampai terpancing untuk tidak suka, tidak menghormati pada salah satu wirid yang jelas muktabar dengan pedoman-pedoman yang sudah terang, khusus dan tegas

 

Dhawuh 67

Tadi ada orang bertanya: Gus, saya ini di kampung bersama orang banyak. Jawab saya: Yang penting ingat pada Allah, tidak merasa lebih suci dari yang lain, tidak sempat melirik maksiat orang lain, dengan siapa saja mempunyai hati yang baik, itulah ciri khas pengamal Dzikrul Ghofilin.

 Dhawuh 68

Era sekarang, orang yang selamat itu adalah orang yang apa adanya, lugu dan menyisihkan diri.

 Dhawuh 69

“Miftah, kamu masih tetap suka bertarung pencak silat?” Tanya Gus Miek. Lha bagaimana Gus, saya ikut, jawab Miftah. “Kalau kamu masih suka (bertarung) pencak, jangan mengharap baunya surga.”

Dhawuh 70

Saya lebih tertarik pada salah seorang ulama terdahulu, contohnya Ahmad bin Hambal. Kalau masuk tempat hiburan yang diharamkan Islam, dia justru berdoa: “Ya Allah, seperti halnya Kau buat orang-orang ini berpesta pora di tempat seperti ini, semoga berpesta poralah mereka di akhirat nanti. Seperti halnya orang-orang di sini bahagia, semoga berbahagia pula mereka di akhirat nanti.” Ini kan doa yang mahal sekali dan sangat halus. Tampak bahwa Ahmad bin Hambal tidak suka model unjuk rasa, demonstrasi anti ini anti itu. Apalagi seperti saya yang seorang musafir, saya dituntut untuk lebih menguasai bahasa kata, bahasa gaul, dan bahasa hati.

 Dhawuh 71

Seorang yang diolok-olok atau dicela orang lain, apa itu termasuk sabar? Badanya sakit, anaknya juga sakit, istrinya meninggal, apa itu juga termasuk sabar? Hartanya hancur, istrinya mati, anaknya juga mati, apa itu termasuk orang yang sudah sabar? Seperti  itu tidak bisa disebut sebagai orang sabar, entah sabar itu bagaimana, aku sendiri tidak mengerti.

 

Dhawuh 72

Tadi, ada orang yang bertanya: periuk terguling, anak-istri rewel, hati sumpek, pikiran ruwet, apa perlu pikulan ini (tanggung jawab keluarga) saya lepaskan untuk mencari sungai yang dalam (buat bunuh diri). Saya jawab: Jangan kecil hati, siapa ingin berbincng-bincang dengan Allah, bacalah Al Qur’an.

 Dhawuh 73

Tadi ada yang bertanya: Gus, bagaimana ya, ibadah saya sudah bagus, shalat saya juga bagus, tetapi musibah kok datang dan pergi? Saya jawab: mungkin masih banyak dosanya, mungkin juga bakal diangkat derajat akhiratnya oleh Allah; janganlah berkecil hati.

 Dhawuh 74

Orang-orang membacakan Al-Fatehah untukku, katanya aku ini sakit. Aku ini tidak sakit, hanya fisikku saja yang tidak kuat karena aktivitasku ini hanya dari mobil ke mobil, dan tidak pernah libur.

 Dhawuh 75

Ada empat macam perempuan yan diidam-idamkan semua orang (lelaki). Perempuan yang kaya, perempuan bangsawan, dan perempuan yang cantik. Tapi ada satu kelebihan yan tidak dimiliki oleh ketiga perempuan itu, yaitu perempuan yang berbudi.

Dhawuh 76

Anaknya orang biasa itu ada yang baik dan ada yang jelek. Demikian juga anaknya kiai, ada yang baik dan ada yang jelek. Jangankan anaknya orang biasa atau anaknya kiai, anaknya nabi pun ada yang berisi dan ada yang kosong. Kalau sudah begini, yang paling baik bagi kita adalah berdoa.

Dhawuh 77

Di tengah-tengah sulitnya kita mengarahkan istri, menata rumah tangga, dan sulitnya menciptakan sesuatu yang indah, sedang tanda-tanda musibah pun tampak di depan mata, semua itu menuntut kita menyusun ketahanan batiniah, berusaha bagaimana agar Allah sayang dan perhatian kepada kita semua.

 Dhawuh 78

Tadi, ada orang yang bertanya: anak saya nakal, ditekan justru menjadi-jadi, bagaimana Gus? Nasehat orang tua terhadap anaknya janganlah menggunakan bahasa militer, pakailah bahasa kata, bahasa gaul, dan bahasa hati.

 Dhawuh 79

Gus, kenapa Anda menamakan anak Anda dengan bahasa Arab dan non Arab? Begini, alas an saya menamakan dengan dua bahasa itu karena mbahnya dua; mbahnya di sini santri, mbahnya di sana bukan. Mbahnya di sini biar memanggil Tajud karena santri, mbahnya di sana yang bukan santri biar memanggil Herucokro; mbanya di sini biar memanggil sabuth, mbahnya di sana biar memanggil panotoprojo.

 Dhawuh 80

Menurut Anda, bagaimana sebaik-baiknya busana muslim itu? Jilbab kan banyak dipertentangkan akhir-akhir ini? Pada akhirnya, seperti penggabungan Indonesia, Siangapura, Malaysia, Thailand, Brunei, dan Filipina menjadi ASEAN, tidak menutup kemungkinan, ada bahasa dan busana ASEAN. Sehingga siapa pun dengan terpaksa untuk ikut dan patuh. Ya, kita sebagai orang tua harus diam kalau itu nanti terjadi, dan kalau ingin selamat, ya mulai sekarang kita harus berbenah.

 Dhawuh 81

Saya kira-kira dituntut untuk lebih menggalakkan ibadatul qalbi (ibadah dalam hati). Mungkin begitu. Sebetulnya putrid rekan-rekan ulama juga sudah banya yang terbawa arus; ya sebagian ada yang masih mengikuti aturan, tetap berjilbab, misalnya. Tetapi ada juga yang tetap berjilbab karena sungkan lantaran orang tuanya mubaligh. Secara umum, sudah banyak yang terbawa arus.

 

Dhawuh 82

Dunia ini semakin lama semakin gelap, banyak hamba Allah yang bingung, dan sebagian sudah gila. Sahabat Muazd bin Jabbal berkata: “siapa yang ingat Allah di tengah-tengah dunia yang ramainya seperti pasar ini, dia sama dengan menyinari alam ini.”

 

Dhawuh 83

Memiliki lidah atau mulut itu jangan dibirkan saja, lebih baik dibuat zikir pada Allah, dilanggengkan membaca lafal Allah.

 

Dhawuh 84

Hadirin tadi ada orang yang bertanya: Gus, pendengar Al Qur’an ini kalau usai shalat fardhu, yang terbaik membaca apa ya? Saya jawab: Untuk wiridan, kecuali kalian yang sudah mengikuti sebagian tarekat mu’tabarah, baik membaca Al Fatehah 100 kali. Ini juga menjadi simbolnya Dzikrul Ghofilin. Resepnya, mengikuti imam Abu Hamid Al Ghazali, yang juga diijasahnya oleh adiknya, Syaikh Ahmad Al Ghazali.

 

Dhawuh 85

Trimah, kamu pasti mau bertanya: Kiai, wiridannya apa, mau bertanya begitu kan? Tidak sulit-sulit, baca shalawat sekali, pahalanya 10 kali lipat; jangan repot-repot, baca shallallah ‘ala Muhammad, itu saja, yang penting benar.

Dhawuh 86

Saya punya penyakit yang orang lain tidak tahu. Saya ini terus terang tamak, takabur yang terselubung, dan diam-diam ingin kaya. Padahal saya punya persoalan khusus dengan Allah. Artinya, saya adalah hamba yang diceramahkan, sedang Allah yang sudah saya yakini adalah sutradara.

 

Dhawuh 87

Persoalan mengenai hakikat hidup di dunia masih sering kita anggap remeh. Olih karena itu, sangat perlu dilakukan sebentuk muhasabah. Sejauh mana tauhid kita, misalnya. Dan, ternyata kita belum apa-apa. Kita belum menjadi mukmin dan muslim yang kuat.

 

Dhawuh 88

Taqarrub (pendekatan) kita kepada Allah seharusnya menjadi obat penawar bagi kita. Apa pun yang terjadi, apa pun yang diberikan Allah, syukuri saja. Sayang, terkadang kita belum bisa menciptakan keadaan yang demikian. Kita seharusnya bangga menjadi orang yang fakir. Sebab sebagian penghuni surga itu adalah orang –orang fakir yang baik.

 

Dhawuh 89

Dahulu, pada usia sekitar 10 tahun, saya sering didekati orang,dikira saya itu siapa. Ungkapan orang yang datang kepada saya itu-itu saja: minta restu atau mengungkapkan kekurangan, terutama yang berhubungan dengan materi. Perempuan yang mau melahirkan juga datang. Dikira saya ini bidan. Karena makin banyak orang berdatangan, lalu saya menyimpulkan: jangan-jangan saya ini senang dihormati orang, jangan-jangan saya ini dianggap dukun tiban juru penolong atau orang sakti.

 

Dhawuh 90

Surga itu miliknya orang-orang yang sembahyang tepat pada waktunya.

 

Dhawuh 91

Shalat itu, yang paling baik, di tengah-tengah Al-Fatehah harus jernih pikiran dan hati.

 

Dhawuh 92

Shalat itu, yang paling baik adalah berpikir di tengah-tengah membaca Al-Fatehah.

Dhawuh 93

Coro pethek bodon. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik satu itu rugi. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik dua itu rugi. Di akhirat, bila berbuat buruk  satu, berbuat baik tiga itu baru untung.

 

Dhawuh 94

Kalau kamu ingin meningkat satu strip, barang yang kamu sayangi ketika diminta orang, berikan saja. Itu naik 1 strip, lebih-lebih sebelum diminta, tentu akan naik 1 strip lagi.

Dhawuh 95

Seorang yang berani melakukan dosa, harus berani pula bertobat.

Dhawuh 96

Kalau kamu mengerjakan kebaikan, sebaiknya kau simpan rapat-rapat; kalau melakukan keburukan, terserah kamu saja: mau kau simpan atau kau siarkan.

 

Dhawuh 97

Kowe arep nandi Sir? Tanya Gus Miek. Badhe tumut ujian, jawab Siroj. Kapan?  tanya Gus miek . sak niki, jawab Siroj. Golek opo?, Tanya Gus Miek lagi. “Ijasah,” jawab Siroj juga. Lho kowe ntukmu melu ujian ki mung golek ijasah, e mbok sepuluh tak gaekne. Yoh, dolan melu aku.

Artinya:

Kalau kamu ikut ujian hanya untuk ijasah, sini, mau 10 saya buatkan, ayo ikut saya.

 

Dhawuh 98

“Kamu mau kemana sir?” Mau ngaji. “Biar dapat apa?” Biar masuk surga. “jadi, alasan kamu mengaji itu hanya untuk mencari surga? Jadi, surga bisa kamu peroleh dengan mengaji? Kalau begitu, sudah kitabmu ditaruh saja, ayo ikut bersama saya ke Malang.

 

Dhawuh 99

Saya katakana kepada anak-anak, Dzikrul Ghofilin jangan sampai diiklankan atau dipromosikan sebagai senjata pengatrol kesuksesan duniawi.

 

Dhawuh 100

Saya imbau, jangan sampai ada yang berjaga lailatul Qodar, itu ibarat memikat burung perkutut.

 

Dhawuh 101

Belum tahun 2000 saja sudah begini; bagaimana kelak di atas tahun 2000? Dunia ini semakin lama semakin panas, semakin lama semakin panas, semakin lama semakin panas.

Dhawuh 102

Saya senang orang-orang Nganjuk karena orangnya kecil-kecil. Ini sesuai sabda nabi: “Orang itu yang baik berat badannya 50.” Juga, ada sabda lain yang menguatkan : “Orang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling sedikit makannya.” Ini sesuai firman Allah: Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut (QS. Quraiys: 4).

Lapar adalah syarat untuk menghasilkan tujuan. Maka, siapa tidak senang lapar, ia bukan bagian dari ahli khalwat (menyendiri).

 

Dhawuh 103

Miftah, kalau kamu nanti sudah pulang dari mondok, jangan suka menjadi orang terdepan.

Dhawuh 104

Biarkan dunia ini maju. Akan tetapi, bagi kita umat Islam, akan lebih baik kalau kemajuan di bidang lahiriah dan umumiyah ini dibarengi dengan iman, ubudiyah, serta sejumlah keterampilan positif. Jadi, memasuki era globalisasi menuntut kita untuk lebih meyakini bahwa shalat lima waktu itu, misalnya, adalah senam atau olah raga yang paling baik. Setidak-tidaknya, bagi orang Jawa bangun pagi itu tentu baik. Apalagi kita yang mukmin. Dengan bangun pagi dan menyakini bahwa kegiatan shalat Subuh adalah senam olah raga yang paling baik, otomatis kita tersentuh untuk bergegas selakukan itu.

 

Dhawuh 105

Sir, kalau kamu mau bertemu aku, bacalah Al-Fatehah 100 kali.

Dhawuh 106

Kalau mau mencari aku, di mana dan kapan saja, silakan baca surah Al-Fatehah.

Dhawuh 107

Mbah, kalau kamu mau bertemu aku, sedang kamu masih repot, kirimi saja aku Al-Fatehah, 41kali.

 

Dhawuh 108

Mencari aku itu sulit; kalau mau bertemu dengan aku, akrablah dengan keluargaku, itu sama saja dengan bertemu aku.

inilah rangkain dzikrul ghofilin yang menggetarkan hati siapa saja yang melakukannya.

BISMILLAAHIR ROKHMAANIRROKHIIM

ASTAGHFIRULLOHAL ‘ADZIIM………3X

ASYHADU  ALLAA  ILAAHA  ILLALLOH   WA  ASYHADU  ANNA  MUHAMMADAR ROSUULULLOH………3 X

  • LI  RIDHOO-ILLAH……..ALFATIKHAH………
  • WA  LI  SYAFAA’ATI  ROSUULILLAH ……ALFAATIKHAH………
  • WA   LI   BAROOKATI   WA   ASROORIL  QUR’AN ……..ALFAATIKHAH……….
  • WA  BI  BAROOKATI   ISTIMAA’IL QUR’AN  WA  DZIKRILGHOFILIIN…..ALFAATIKHAH……..

 

ILAA KHADHROTI………..

  1. ANNABIYYIL MUSHTHOFA SAYYIDINAA WA MAULAANAA MUHAMMAD SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM..………
  2. WA SAYYIDISY SYAIKH ‘ABDIL QOODIR ALJAILAANI……
  3. WA SAYYIDISY SYAIKH ABI KHAMID MUHAMMADIniLGHOZALI………
  4. WA SAYYIDISY SYAIKH ALKHABIB ‘ABDILLAAHI BNI ‘ALAWI ALKHADDAD RODHIYALLOHU ‘ANHUM LAHUMUL FAATIKHAH………..
  • BISMILLAAHIR ROKHMAANIR ROKHIIM
  • AL KHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘ALAMIIN
  • ARROKHMAANIRROKHIIM
  • MAALIKI YAUMIDDIIN
  • IYYAAKA NA’BUDU WA IYYAAKA NASTA’IIN
  • IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM
  • SHIROOTHOL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHOIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WA LADH DHOOOOLLIIIN,AAAMIIN.

Di baca 100 x atau untuk setiap hari di angsur dengan perincian sbb :

  • BA’DA SUBUH 30 X Fatikhah
  • BA’DA DZUHUR 25 X………
  • BA’DA ‘ASAR 20 X……….
  • BA’DA MAGHRIB 15 X……….
  • BA’DA ‘ISYA’ 10 X……….

Dilanjutkan do’a fatikhah lihat halaman Do’a..

AYATULKURSY

ALLOHU LAAA-ILAAHA ILLA HUWAL KHAYYUL QOYYUUM,LAA TA’KHUDZUHUU SINATUW WALAA NAUUM,LAHU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL-ARDH,MAN DZALLADZII YASYFA’U ‘INDAHUU ILLAA BI-IDZNIH,YA’LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHOLFAHUM WA LAA YUKHIITHUUNA BISYAI-IM MIN ‘ILMIHIII ILLAA BIMAA SYAA’,WASI’A KURSIYYUHUS SAMAAWAATI WAL-ARDHO WA LAA YA-UUDUHUU KHIFDZUHUMAA,WA HUWAL’ALIYYUL ‘ADZIIM,FALLOHU KHOIRUN KHAAFIDZOW WAHUWA ARKHAMURROKHIMIIN.

ASMAA-ULKHUSNA

BISMILLAAHIR ROKHMAANIR RKHIIM

HUWA ALLOHUL LADZII LAA-ILAAHA ILLA HUWA

  • ARROKHMAANU Jalla Jalaaluh * ARROKHIIMU Jalla Jalaa luh.
  • AL MALIKU Jalla Jalaa luh * AL QUDDUUSU Jalla Jalaaluh.
  • AS SALAAMU Jalla Jalaa luh * ALMU’MINU Jalla Jalaa luh.
  • ALMUHAIMINU Jalla Jalaa luh * AL’AZIIZU Jalla Jalaaluh.
  • ALJABBAARU Jalla Jalaa luh * ALMUTAKABBIRU Jalla Jalaa luh.
  • ALKHOOLIQU Jalla Jalaa luh * ALBAARI-U Jalla Jalaa luh.
  • ALMUSHOWWIRU Jalla Jalaa luh * ALGHOFFAARU Jalla Jalaa luh.
  • ALQOHHAARU Jalla Jalaa luh * ALWAHAABU Jalla Jalaa luh.
  • ARROZZAAQU Jalla Jalaa luh * ALFATTAAKHU Jalla Jalaa luh.
  • AL’ALIIMU Jalla Jalaa luh * ALQOOBIDHU Jalla Jalaa luh.
  • ALBAASITHU Jalla Jalaa luh * ALKHOOFIDHU Jalla Jalaa luh.
  • ARROOFI’U Jalla Jalaa luh * ALMU’IZZU Jalla Jalaa luh.
  • ALMUDZILLU Jalla Jalaa luh * ASSAMII’U Jalla Jalaa luh.
  • ALBASHIIRU Jalla Jalaa luh * ALKHAKAMU Jalla Jalaa luh.
  • AL’ADLU Jalla Jalaa luh * ALLATHIIFU Jalla Jalaa luh.
  • ALKHOBIIRU Jalla Jalaa luh * ALKHALIIMU Jalla Jalaa luh.
  • AL’ADZIIMU Jalla Jalaa luh * ALGHOFUURU Jalla Jalaa luh.
  • ASY SYAKUURU Jalla Jalaa luh * AL’ALYYU Jalla Jalaa luh.
  • ALKABIIRU Jalla Jala luh * ALKHAFIIDZU Jalla Jalaa luh.
  • ALMUQIITU Jalla Jalaa luh * ALKHASIIBU Jalla Jalaa luh.
  • ALJALIILU Jalla Jalaa luh * ALKARIIMU Jalla Jalaa luh.
  • ARROQIIBU Jalla Jalaa luh * ALMUJIIBU Jala Jalaa luh.
  • ALWAASI’U Jalla Jalaa luh * ALKHAKIIMU Jalla Jalaa luh.
  • ALWADUUDU Jalla Jalaa luh * ALMAJIIDU Jalla Jalaa luh.
  • ALBAA’ITSU Jalla Jalaa luh * ASY SYAHIIDU Jalla Jalaa luh.
  • ALKHAQQU Jalla Jalaa luh * ALWAKIILU Jalla Jalaa luh.
  • ALQOWIYYU Jalla Jalaa luh * ALMATIINU Jalla Jalaa luh.
  • ALWALIYYU Jalla Jalaa luh * ALKHAMIIDU Jalla Jalaa luh.
  • ALMUKHSHI Jalla Jalaa luh * ALMUBDI-U Jalla Jalaa luh.
  • ALMU’IIDU Jalla Jalaa luh * ALMUKHYI Jalla Jalaa luh.
  • ALMUMIITU Jalla Jalaa luh * ALKHAYYU Jalla Jalaa luh.
  • ALQOYYUUMU Jalla Jalaa luh * ALWAAJIDU Jalla Jalaa luh.
  • ALMAAJIDU Jalla Jala luh * ALWAAKHIDU Jalla Jalaa luh.
  • AL-AKHADU Jalla Jalaa luh * ASH SHOMADU Jalla Jalaa luh.
  • ALQOODIRU Jalla Jalaa luh * ALMUQTADIRU Jalla Jalaa luh.
  • ALMUQODDIMU Jalla Jalaa luH * ALMU’AKHKHIRU Jalla Jalaa luh.
  • AL AWWALU Jalla Jalaa luh * AL-AAKHIRU Jalla Jalaa luh.
  • ADZ DZOOHIRU Jalla Jalaa luh * ALBAATHINU Jalla Jalaa luh.
  • ALWAALI Jalla Jalaa luh * ALMUTA’AALI Jalla Jalaa luh.
  • ALBARRU Jalla Jalaa luh * ATTAWWAABU Jalla Jalaa luh.
  • ALMUNTAQIMU Jalla Jalaa luh * AL’AFUWWU Jalla Jalaa luh.
  • ARRO-UUFU Jalla Jalaa luh * MAALIKUL MULKI Jalla Jalaa luh.
  • DZUL JALAALI WAL-IKROOM Jalla Jalaa luh.
  • ALMUQSITHU Jalla Jalaa luh * ALJAAMI’U Jalla Jalaa luh.
  • ALGHONIYYU Jalla Jalaa luh * ALMUGHNI Jalla Jalaa luh.
  • ALMAANI’U Jalla Jalaa luh * ADH DHOOORRU Jalla Jalaa luh.
  • ANNAAFI’U Jalla Jalaa luh * ANNUURU Jalla Jalaa luh.
  • ALHAADI Jalla Jalaa luh * ALBADII’U Jalla Jalaa luh.
  • ALBAAQII Jalla Jalaa luh * ALWAARITSU Jalla Jalaa luh.
  • ARROOSYIIDU Jalla Jalaa luh * ASH SHOBUURU Jalla Jalaa luh.

ALLADZII LAM YALID WA LAM YUULAD WA LAM YAKULLAHUU KUFUWAN AKHAD,LAISA KAMITSLIHII SYAI-UWWAHUWASSAMII’UL BASHIIR.

DO’A BERSAMA

ROBBANAA AATINAA FIDDUNYAA KHASANATAW WAFIL-AAKHIROTI KHASANATAW WA QINAA ‘ADZAABANNAAR 10 X.

TAWASSUL dengan ALFATIKHAH

ILA KHADHROTI………..

  • JAMII’IL AMBIYAA-I WAL MURSALIINA WA ULIL’AZMI MINARRUSULI WA JAMII’IL MALAA-IKATIL MUQORROBIIN,’ALAIHIMUSH SHOLAATU WASSALAAM,LAHUMUL FAATIKHAH……………. 3 X

SHOLAWAT MUQORROBIN

ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDIINAA JIBRIIL,WA SAYYIDINAA MIIKAA-IL,WA SAYYIDINAA ISROOFIIL,WA SAYYIDINAA ‘IZROOIL,WA KHAMALATIL ‘ARSY,WA ‘ALAL MALAA-IKATIL MUQORRBIIN,WA ‘ALAA JAMII’IL -AMBIYAA-I WAL MURSALIIN,SHOLAWATULLOHI WASALAMUHUU ‘ALAIHIM AJMA’IIN ……3 X

TSUMMA ILAA KHADHROTI….

SYAFII’INAA SAYYIDISSAADAAT MUHAMMAD SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM WA -AZWAAJIHII WA AULAADIHII WADZURRIYYATIHII WA AALIHII WA ASHKHAABIHI WA KHUSHUUSHON AHLI BADRI MINAL MUHAAJIRIINA WAL-ANSHORI RODHIYALLOHU ‘ANHUM AJMA’IINA WAJAMII’I ATBAA’IHI WASY SYUHADAA-I WAL ‘ULAMAA-I WAL-AULIYAA-I WASH SHOLIKHIINA WALMUSHONNIFIINA WALMUALLIFIINA WA JUDUUDINAA WAJADDAATINAA WA -AABAA-INAA WA UMMAHAATINAA WA MALLAHU KHUQUUQUN ‘ALAINAA GHOFAROLLOHU LANAA WALAHUMUL FAATIKHAH….3 X

TSUMMA ILAA KHADHROTI ……..

BAKHRISY SYAFAA’ATI SAYYIDINAL MAKHBUUB MUHAMMAD SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM KHOOOOSHSHOH ALFAATIKHAH…………..

ISTAGHFIRUU ROBBAKUMULLOHU GHOFUURURROKHIIM

ASTAGHFIRULLOH 100 X

TSUMMA ILAA KHADHROTI……..

  • NABIYYINAL KHODHIRI ABIL ‘ABBAASI BALYABNI MALKAAN ‘ALAIHISSALAAM LAHULFAATIKHAH………..

WA TSUMMA ILAA KHADHROTI……..

SULTHOONIL AULIYAA-IL AWWALI SAYYIDI SYABBAABI AHLI LJANNATI SIBTHI KHOIRILBARIYYAH…

  • ABI MUHAMMADin SAYYIDINAL KHASANibni ‘ALIYYIbni ABII THOOLIB
  • WA AKHIIHISY SYAHIIDI SAYYIDINAL KHUSAIN
  • WA WAALIDAIHIMAA SAYYIDINAA ‘ALIYYIbni ABII THOLIB
  • WA SAYYIDATINAA FAATHIMATAZ ZAHROO-IL BATUUL ………….RODHIYALLOHU ‘ANHUM LAHUMUL FAATIKHAH………….

WA TSUMMAA ILAA KHADHROTI……….

  • SAYYIDISY SYAIKH MUKHYIDDIINI ABI MUHAMMAD SULTHONIL AULIYAA-I SYAIKH ‘ABDILQOODIR ALJIILANIyyibni ABI SHOLIKH MUSA JANKAADAUSAT
  • WA SAYYIDISY SYAIKH MUHAMMAD BAHAA-IDDIN ANNAQSYABANDII..
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI KHAMID MUHAMMADIniLGHOZALI……..
  • WA AKHIHISH SHOGHIIRI SAYYIDISY SYAIKH AHMADAL GHOZALI….
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI BAKRIni SYSYIBLI……..
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ALQUTHBILGHOUTS ALKHABIB ‘ABDILLAAHIIbni ‘ALWI ALKHADDAAD RODHIYALLOHU ‘ANHUM LAHUMUL FAATIKHAH………

TSUMMA ILAA KHADHROTI………

  • SAYYIDISY SYAIKH ABI YAZIID THOIFUURIbni ‘ISAA ALBASTHOOMI……
  • WA SAYYIDISY SYAIKH SYAMSIDDIINI MUHAMMADIniL KHANAFII…
  • WA SAYYIDISY SYAIKH YUUSUFAbni ISMA’ILA NNABHANY ……..
  • WA SAYYIDISY SYAIKH JALAALIDDINIS SUYUTHY…..
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI ZAKARIYAbni SYAROFIniNNAWAWI RODHIYALLOHU ‘ANHUM LAHUMUL FAATIKHAH……….

WA TSUMMA ILAA KHADHROTI……..

  • SAYYIDISY SYAIKH ‘ABDILWAHHABISY SYA’RONI…….
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ‘ALI NUURIDDIINISY SYAUNY….
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABIL’ABBASI AHMADAbni ‘ALIYYILBUUNY….
  • WA SAYYIDISY SYAIKH IBROOHIMAbni ADHAM…..
  • WA SAYYIDISY SYAIKH IBROOHIIMADDASUUQY RODHIYALLOHU ‘ANHUM LAHUMUL FAATIKHAH….

TSUMMA ILAA KHADHROTI..

  • SAYYIDISY SYAIKH ABIL’ABBASI SYIHAABIDDINI AHMADAbni ‘UMAROL-ANSHORIYYIL MURSY………
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI ‘ABDILLAHI MUHAMMAD ALBUSHIRI…
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABILKHASANI ALBAKRI…..
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI ‘ABDILAHI MUHAMMADIbni ISMAA’IL ALBUKHORY…..
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ZAINIDDIINIbni ‘ABDIL’AZIIZI ALMALAIBAARI ALFANAANY…….
  • WA SAYYIDISY SYAIKH TAAJIDDINIbni ‘ATHOO-ILLAAHIISSAKANDARY RODHIYALLOHU ‘ANHUM LAHUMUL FAATIKHAH……….

WA TSUMMA ILAA KHADHROTI….

AL-A IMMATILARBA’ATI ALMUJTAHIDIINA ASHKHAABIL MADZAAHIBIL ARBA’ATI WA KHUSHUUSHON …

  • SAYYIDISY SYAIKH AL-IMAM MUHAMMADIbni IDRIIS ASYSYAFI’I…
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI KHAFSHIN ‘UMAROSSUHROWARDI……
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI MADYAN ALMAGHROBY
  • WA SAYYIDISY SYAIKH MUHAMMADIbni MALIKI AL-ANDALUSI..
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI ‘ABDILLAAHI MUHAMMADIbni SULAIMAN ALJAZULY ……
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ‘IMROONAbni KHUSHOIN RODHIYALLOHU ‘ANHUM LAHUMUL FAATIKHAH………

selanjutnya membaca sholawat nabi

SHOLLALLOHU ‘ALAA MUHAMMAD 300 X……

WA TSUMMA ILAA KHADHROTI………….

  • AL QUTHBIL KABIIR SAYYIDISY SYAIKH ‘ABDISSALAMibni MASYISY….
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABIL KHASAN ‘ALIYYIbni ‘ABDILLAHIbni ‘ABDILJABBAAR ASYSYADZILY…
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI MAKHFUDZ MA’RUUFIniL KARKHIYYI……
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABILKHASANIS SARRIS SAQOTHY….
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABILQOSIIMIL JUNAIDI ALBAGHDAADY…
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABIL’ABBAAS AHMADAL BADAWY…..
  • WA SAYYIDISY SYAIKH AHMADAbni ABILKHUSAINIR RIFA’I….
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI ‘ABDILLAHINNU’MAAN……….RODHIYALLOHU ‘ANHUM LAHUMUL FAATIKHAH…2 X.

WA TSUMMA ILAA KHADHROTI………..

  • SAYYIDISY SYAIKH AL-IMAAMIL KHASANibni ABIL KHASANI ABI SA’IIDIniL BASHRY….
  • WA SAYYIDATI ROOBI’ATAL ‘ADAWIYYAH…..
  • WA SAYYIDATIL’UBAIDATI binti ABII KILAAB………RODHIYALLOHU ‘ANHUM LAHUMUL FAATIKHAH……….

WA TSUMMA ILAA KHADHROTI ………..

  • SAYYIDISY ABI SULAIMANADDAAROONY……
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI ‘ABDILLAHI LKHAARITSIbni ASADIniL MUKHAASIBI……
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABIL FAIDHI DZINNUUNI ALMISHRY………
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI ZAKARIYA YAKHYAbni MU’AADZIniRROZY…..
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI SHOLIKH KHAMDUUNAL QOSSHOORI ANNAISAABUURY….
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ALKHUSAINIbni MANSHUR ALKHALLAAJ……….
  • WA SAYYIDISY SYAIKH JALAALIDDIINIR RUUMY………
  • WA SAYYIDISY SYAIKH ABI KHAFSHIN ‘UMAARObniL FAARIDHIL KHAMAWIYYI ALMISHRY……..RODHIYALLOHU ‘ANHUM LAHUMUL FAATIKHAH……..2X

WA TSUMMA ILAA KHADHROTI ………..

  • JAMII’IL-IKHWAANIDZDZAAKIRIINA BI DZIKRIL GHOFILIINA WADZ DZAKIROOTI WA SAAMII’NA WA SAAMI’AATI AL-KHYAA-I MINHUM WAL-AMWAAT,TAGHOMMADAHUMULLOHU BI ROKHMATIW WA MAGHFIROTIM MINALLOHI WA RIDHWAAN………LAHUMUL FAATIKHAH………2X

WA TSUMMA ILAA KHADHROTI……

  • AL AKHYAA-I WAL-AMWAATI MIN JAMII’ISH SHOOLIKHIINA MINAL-AULIYAA-I RIJAALILLAAHIL’AARIFIINA WAL-ULAMAA-IL’AAMILIINA WA JAMII’IL -AULIYAA-I FII JAAWATA WA MADUUROH WA BIL-AKHOSHSHI SUNAN -SUNAN WALISONGO AJMA’IIN WA SAA-IRISSAADAATISH SHUFIYYATIL MUKHQQIQIINA AINAMAA KAANUU MIM MASYAARIQIL-ARDHI ILAA MAGHOORIBIHAA INNALLOHA YAJMA’UUNAA WA IYYAAHUM WA YAHDIINAA BI HIDAAYATIHIM WA YAKHMIINAA BI KHIMAAYATIHIM WA YUMDDUNAA BI MADADIHIM WA YU’IIDU ‘ALAINAA MIM BAROOKATIHIM WA ASROORIHIM WA ANWAARIHIM WA ‘ULUUMIHIM FIDDAROIN,WA ILAA KHADHROTI NNABIYYIL MUSHTHOFA MUHAMMADIniL MUJTABA SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM ‘ALAA MAA NAWAS SALAFUSH SHOOLIKH……..LAHUMUL FAATIKHAH………..

NAWAITUDZ DZIKRO WA FIDAA-AM MINANNAAR WA TAQORUBAN ILA ALLOH FA’LAM ANNAHU

  • LAA-ILAHA ILLALLOH………………100 X *

MUHAMMADUR ROSUULULLOH SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM

LAA MA’BUUDA ILLALLOH * LAA MAQSHUUDA ILLALLOH

LAA MATHLUUBA ILLALLOH * LAA MAUJUUDA ILALLOH

  • MAULAA YA SHOLLI WA SALLIM DAA-IMAN ABADAA * ‘ALAA KHABIIBIKA KHOIRIL KHOLQI KULLIHIMI.
  • HUWAL KHABIIBULLADZII TURJAA SYAFAA’ATUHU * LIKULLI HAULIM MINAL-AHWAALI MUUQTAKHIMI.
  • YAA ROBBIBIL MUSHTHOFA BALLIGH MAQOOSHIDANAA *LAA MAQSHUUDA ‘INDANAA ILLAA ANTA ROBBANAA.
  • WAGHFIRLANAA MAA MADHO YAA WAASI’AL KAROMI * MIN KATSROTIDZDZUNUUBI FAGHFIRHAA YAA MUN’IMI.
  • ROKHMAANU YAA ROKHIIMU IRKHAMNAA BI ROKHMATIK * YAA MUN’IMU AN’IMNAA DAAROINI BI NI’MATIK.
  • KHASBUNALLOHU NI’MAL WAKIILU NI’MAL MAULAA * WA NI’MANNASHIIRU SALLAMNAA MIN DHOLAALAH.
  1. LI ROSUULILLAHI SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM LAHUL FAATIKHAH……..
  2. LI SHOOKHIBIL BURDAH RODHIYALLOHU ‘ANHUL FAATIKHAH………..
  3. LI SHOOKHIBIDZ DZIKRIL GHOFILIN LAHUMUL FAATIKHAH………
  4. LI QODHOO-I KHAAJAATINAA WA KHAJAATIKUM MIN KHAWAA-IJIDDUNYAA WAL AAKHIROH……..ALFAATIKHAH………

Selanjutnya berdo’a ( lihat halaman do’a Dzikrulghofilin)

Untuk lebih jelasnya silahkan baca Dzikrulghofilin fersi huruf arab.

Dan semoga kita dimasukkan dalam golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirot berkumpul bersama Junjungan kita Nabi Agung Muhammad s.a.w beserta salafushsholikh AMIIN YAA ROBBAL ‘ALAMIIN.

GUS MIEK adalah seorang yang sangat terkenal di kalangan guru sufi, seniman, birokart, preman, bandar judi, kiai-kiai NU, dan para aktivis. Dialah yang membangun tradisi pengajian Sema’an Al-Qur’an Jantiko Mantab dan pembacaan wirid dzikrul ghafilin bersama beberapa koleganya.

Hamim Tohari Djazuli adalah nama lengkapnya. Ia dilahirkan pada 17 Agustus 1940 di Kediri dari pasangan KH Jazuli Usman dan Nyai Radliyah. Nyai Radliyah ini memiliki jalur keturunan sampai kepada Nabi Muhammad, sebagai keturunan ke-32 dari Imam Hasan, anak dari Ali bin Abi Thalib dengan Siti Fathimah.

Ayah Gus Miek, KH. Jazuli Usman adalah pendiri pesantren Ploso Kediri. Ia pernah nyantri kepada banyak guru, di antaranya kepada KH Hasyim Asy`ari, Mbah Ma’ruf (KH Ma’ruf Kedunglo), KH Ahmad Shaleh Gondanglegi Nganjuk, KH Abdurrahman Sekarputih, KH Zainuddin Mojosari, KH Khazin Widang, dan Syaikh al-`Allamah al-Aidrus Mekkah.

Gus Miek wafat pada 5 Juni 1993. Dia dimakamkan di Pemakaman Tambak Kediri, diiringi ratusan ribu kaum muslimin. Di pemakaman ini pula KH Achmad Shidiq dimakamkan, di sebelah timur makam Gus Miek. Di pemakaman ini pula terdapat tidak kurang dari 22 orang yang kebanyakan menjadi guru sekaligus murid Gus Miek.

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

mengakhiri pembahasan dalam artikel hari ini.  Maka, mari kita takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari tergelincirnya lisan (dzallatul lisan) dengan merendahkan para ulama,  siapa pun dia, yang telah menghabiskan seluruh hidup dan umurnya untuk da’wah, ilmu, dan jihad.

ketidaksetujuan kita terhadap pernyataan mereka, atau pendapat mereka, atau perbuatan mereka, tidaklah lantas menggugurkan sikap ta’zhim kepada mereka, lalu melupakan kita terhadap semua kebaikan yang telah dibangunnya sejak awal dakwahnya.  Berkacalah kepada diri sendiri,  apa yang telah kita lakukan untuk kemajuan Islam dan umat Islam

Wahai saudaraku –semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan anda untuk mendapatkan ridhaNya dan menjadikan kita termasuk orang yang bertaqwa kepadaNYa dengan sebenar-benarnya- dan Ketahuilah, bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang meremehkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa siapa yang melepaskan mulutnya untuk mencela ulama maka Allah akan mengujinya dengan kematian hati sebelum ia mati: maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Imam An Nawawi, At Tibyan, Hal. 30. Mawqi’ Al Warraq)

ya Alloh, jadikanlah dunia ini berada dibawah tanganku saja, janganlah sampai masuk terpikir dalam hatiku. dan janganlah jadikan dunia ini pusat keprihatinanku dan janganlah menjadi ilmuku.
amin…
(doa Gus Miek)

disarikan dari berbagai sumber

semoga bermanfaat.

Iklan