semangat belajarbismillahirahmanirahim.

sahabatku semua yang dirahmati Allah, ternyata virus “MALES” itu mudah menyerang siapa saja. apalagi saya dg banyaknya keterbatasan dan ketidaktahuan yang terdapat dalam diri saya. beberapa minggu kemaren rasa-rasanya tak ada gairah untuk tholabul ilmu, berangkat kuliah rasanya malas, entah apa yang mengakibatkan demikian, apa karena cuaca sedang hujan, apa karena banyak urusan dilingkungan tempat tinggal, apa karena sedang ada masalah, masalah kerjaan, masalah hati dan sebagainya ah…  semua kembali kepada hati, jika hati sudah mantap berangkat tholabul ilmi kondisi hujanpun, kondisi banyak masalahpun, kondisi banjirpun, tetap akan diterjang, betul gak kawan ?

sungguh malu rasanya jika membaca untaian kisah dibawah ini,

bacalah dengan perlahan, semoga kita semua dapat mengambil manfaatnya…

Habib ‘Umar bin Muhammad Maulakheila menyebut di dalam Jawahir al-Anfaas fi maa Yurdhi an-Nas I, Kumpulan Kalam Habib ‘Ali bin Muhammad bin Hussin al-Habsyi:

Pada hari Ahad, 11 Syawwal 1322H di Anisah, Habib ‘Ali bin Muhammad bin Hussin al-Habsyi (Pengarang Maulid Simthud Duror)mengundang dan menjamu para penuntut ilmu. Habib ‘Ali bin Muhammad bin Hussin al-Habsyi berkata:

Ketahuilah, hari ini aku mengundang kalian dengan tujuan agar kalian bangkit dengan penuh semangat untuk menuntut ilmu. Ketahuilah ‘aib bagi seorang pelajar jika ia tidak membawa kitabnya. Giatlah belajar, semoga Allah Ta’ala memberkati kalian. Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu.

Perhatikanlah salaf kalian, mereka menghafal berbagai matan. Mereka telah menghafal kitab Zubad, Mulhah dan Alfiyyah di masa kecilnya. Setelah dewasa, ada yang telah menghafal kitab al-Minhaj, al-Irsyad dan ada pula yang telah menghafal al-Ubab. Sedangkan kalian???? satu kitab pun tak ada yang hafal. Andaikata ada yang hafal, dia tidak faham dan tidak mengamalkan isinya.

Aku inginkan setiap pelajar membawa alat tulisnya ketika mengikuti pelajaran, kemudian mencatat persoalan-persoalan yang telah dihafalnya. Ketahuilah, manfaat ilmu terletak pada pengamalan dan pencatatannya.

Pelajarilah cara mematikan hawa nafsu, pelajarilah adab. Tuntutlah ilmu baik dari orang dewasa mahupun anak-anak. Jika yang mengajarkan ilmu jauh lebih muda, jangan berkata: “Kami tidak mahu kepadanya, aib bagi kami”. Ketahuilah, Allah telah memberinya ilmu, meskipun ia masih kecil. Dengan belajar kepadanya, mengakui dan menghormatinya, Allah Ta’ala akan memuliakan kamu sebagaimana Dia telah memuliakannya. Jauhi dengki dan irihati. Ketahuilah, kedua sifat ini dapat mencabut keberkatan ilmu. Ambillah manfaat dari setiap orang yang dapat memberimu manfaat. Andainya seorang yang pekerjaannya membajak tanah dengan najis hewan hendak memberimu manfaat, maka ambillah manfaat darinya.

Pelajarilah pelajaran yang hendak kalian bacakan di hadapan guru kalian. Dengan cara demikian kalian akan memetik banyak manfaat. Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi membaca pelajarannya sebanyak 25 kali sebelum mengikuti pelajaran gurunya. Dan beliau mengulang pelajarannya sebanyak 25 kali seusai pelajaran. Adapun kalian, hanya membuka kitab itu ketika telah berada di depan guru kalian. [1] Lihatlah Syeikh Fakhrurrazi, dia mengulang pelajarannya sebanyak 1,000 kali.

Ketika masih menuntut ilmu di Mekah, setiap malam aku bersama abangku Hussin dan Alwi as-Seggaf mempelajari 12 kitab syarah dari al-Minhaj lalu menghafal semuanya. [Allahu Allah] Suatu ketika di akhir malam ayahku keluar dari biliknya dan mendapati kami sedang belajar. Beliau berkata: “Wahai anak-anakku, kalian masih belajar? Semoga Allah memberkati kalian.”

Ketahuilah menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu. Manfaatkanlah masa muda kalian, masa lapang kalian dan tenaga kalian. Perhatikanlah bagaimana orang-orang tua menghadapi kesulitan ketika menghafal.

Sumber: Petikan dari buku Biografi Habib ‘ali al-Habsyi Muallif Simtud Durar oleh Habib Novel (Naufal) bin Muhammad al-Aidarus dan Drs. Abu ‘Abdillah al-Husaini.

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Setiap Orang Bisa Futur (Kendor Semangat)

عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ دَخَلْتُ أَنَا وَيَحْيَى بْنُ جَعْدَةَ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ مِنْ أَصْحَابِ الرَّسُولِ قَالَ ذَكَرُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَوْلاَةً لِبَنِى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ إِنَّهَا قَامَتِ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ. قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَكِنِّى أَنَا أَنَامُ وَأُصَلِّى وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ فَمَنِ اقْتَدَى بِى فَهُوَ مِنِّى وَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ثُمَّ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى بِدْعَةٍ فَقَدْ ضَلَّ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّةٍ فَقَدِ اهْتَدَى »

Dari Mujahid, ia berkata, aku dan Yahya bin Ja’dah pernah menemui salah seorang Anshor yang merupakan sahabat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, para sahabat Rasul membicarakan bekas budak milik Bani ‘Abdul Muthollib. Ia berkata bahwa ia biasa shalat malam (tanpa tidur) dan biasa berpuasa (setiap hari tanpa ada waktu luang untuk tidak puasa). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Akan tetapi aku tidur dan aku shalat malam. Aku pun puasa, namun ada waktu bagiku untuk tidak berpuasa. Siapa yang mencontohiku, maka ia termasuk golonganku. Siapa yang benci terhadap ajaranku, maka ia bukan termasuk golonganku. Setiap amal itu ada masa semangat dan ada masa malasnya. Siapa yang rasa malasnya malah menjerumuskan pada bid’ah, maka ia sungguh telah sesat. Namun siapa yang rasa malasnya masih di atas ajaran Rasul, maka dialah yang mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad 5: 409).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنْ قُرَيْشٍ فَكَانَ لاَ يَأْتِيهَا كَانَ يَشْغَلُهُ الصَّوْمُ وَالصَّلاَةُ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « صُمْ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ». قَالَ إِنِّى أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَمَا زَالَ بِهِ حَتَّى قَالَ لَهُ « صُمْ يَوْماً وَأَفْطِرْ يَوْماً ». وَقَالَ لَهُ « اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِى كُلِّ شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ « اقْرَأْهُ فِى كُلِّ خَمْسَ عَشْرَةَ ». قَالَ إِنِّى أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ « اقْرَأْهُ فِى كُلِّ سَبْعٍ ». حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى كُلِّ ثَلاَثٍ ». وَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَةً وَلِكُلِّ شِرَةٍ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ شِرَتُهُ إِلَى سُنَّتِى فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ »

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa ia telah menikahi wanita dari Quraisy, namun ia tidaklah mendatanginya (menyetubuhinya) karena sibuk puasa dan shalat (malam). Lalu ia menceritakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda, “Berpuasalah setiap bulannya selama tiga hari.” “Aku mampu lebih daripada itu”, jawabnya. Lalu ia terus menjawab yang sama sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan padanya, “Puasalah sehari dan tidak berpuasa sehari.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata padanya, “Khatamkanlah Al Qur’an dalam sebulan sekali.” “Aku mampu lebih daripada itu”, jawabnya. Kalau begitu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Khatamkanlah Al Qur’an setiap 15 hari.” Aku mampu lebih daripada itu”, jawabnya. Kalau begitu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Khatamkanlah Al Qur’an setiap 7 hari.” Lalu ia terus menjawab yang sama sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Khatamkanlah setiap 3 hari.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Ingatlah setiap amalan itu ada masa semangatnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa.” (HR. Ahmad 2: 188. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, demikian kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

ya Rabb….

Aku cemburu melihat orang yang ikhlas membantu sesama bahkan dalam keterbatasan yang mereka miliki.
Aku cemburu pada orang-orang yang lebih banyak bersyukur dan gemar berbagi, padahal yang didapatkan sama bahkan tidak lebih dari aku.

Aku cemburu pada mereka yang dalam kondisi tersempit sekalipun masih bisa meluangkan untuk berbagi dan semakin mencintai Allah.

Aku cemburu pada mereka yang begitu rajin chatting dengan Allah dalam tahajjud.

Aku cemburu saat melihat dan mendengar seorang wanita membaca ayat suci Al Quran dengan begitu indah dan mempesona sementara aku biasa saja.

Aku cemburu kepada hamba Allah yang bisa menghafal Al Quran 30 juz dan selalu bersemangat karena hidup ini untuk beribadah kepada Allah.

Aku cemburu pada orang yang setiap pekan bisa melingkar bersama para gurunya menuntut ilmu.

Aku cemburu pada waktu yang kulalaikan dari-Nya dan tak mungkin kembali. Ingin kembali dan bermohon ampun mengharap cinta-Nya.

Aku cemburu pada mereka yang selalu disayangi oleh sahabat dan orang-orang terdekatnya.

Aku cemburu pada mereka yang berprestasi, dan selalu bisa diandalkan.

Aku cemburu pada mereka yang selalu ontimes dan rapi dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Aku cemburu pada orang-orang yang selalu bisa membagi waktunya dengan baik.., untuk beribadah, bekerja, belajar, berdakwah, menulis dan berkumpul dengan keluarganya.

Dan aku cemburu pada sahabat-sahabat ku yang telah menggenapkan setengah diennya, mempunyai keluarga bahagia dan anak-anak yang membanggakan.

ya Rabb bantu kami menjadi seperti mereka. Berikan keistiqamahan, kesabaran dan keikhlasan bagi kami dalam menjalani kehidupan ini. Jauhkan kami dari rasa malas dan perbuatan yang sia-sia. Dan mudahkan kami untuk terus memperbaiki diri. 

Ya Allah . . .
Jauhkan rasa malas yang ada dalam diri kami,
Beri kami kekuatan agar bisa terus berupaya untuk menjadi lebih baik.

“Ya Allah ilhamkanlah kepada kami kasih sayang dan hidayah-Mu, lindungilah kami dari keburukan jiwa kami, hilangkan rasa penat dan bosan kami, rasa malas kami, jauhkan kami dari sifat iri, dengki, adu domba, dan bimbinglah kami agar selalu mendekatkan diri kepada-Mu”.

ridhoi ya Allah… ridhoi…

semoga bermanfaat.

Iklan