doa wanitaBismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. maaf jika judul tulisan ini terkesan menyudutkan para wanita khususnya, namun demi Allah tak ada maksud seperti itu, masalah terkait poligami memang dewasa ini dipandang hal yang menyakitkan hati, namun dari segi Agama tentunya tidak mengapa dengan syarat segala ketentuannya dipenuhi. bukan begitu kawan…?

tulisan ini lanjutan dari pembahasan di kitab “Salwaa al Haziin Qashash Waqi’yyah Mu’atsirah” yang dulu sempat tertunda, banyak kisah-kisah menyentuh hati, cerminan dari Alquraan, sungguh maha besar Allah yang menurunkan Alquran, tulisan ini membahas yang ada didalam alquran yang berbunyi “Barangkali kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak ( Albaqarah :216)”

bacalah dengan kelapangan hati, dengan keiklasan jiwa moga apa yang hendak disampaikan bisa engkau pahami dan jadilah engkau pribadi yang bisa memahami disaat banyak orang hanya bisa mengkritisi, semoga Allah limpahkan cahaya itu untukmu.

sebuah kisah nyata… bacalah dengan hati dan kurangilah semua emosi,
ini sang penulis yang mengkisahkan yaitu “sulaiman bin muhammad bin abdullah al utsaim.

salah seorang kerabat wanitaku beberapa tahun yang lalu telah bercerita kepadaku seraya berkata :
ayahku kira-kira akhir tahun 1340 H atau dekat dengan sebelum dan sesudah tahun itu, menikah lagi dengan istri kedua. Mka tidak ada yang bisa dilakukan ibuku sebagai istri pertama, selain mengalami kesedihan berat, Aku seolah olah masih melihat beliau meneteskan air matanya mengalir pada kedua pipinya, sambil mengeluh mengungkapkan duka dan nestapa. Waktu itu aku dan adik-adikku menimpalinya dengan air mata pula membanjir dan berguling gulingan ditanah.

pagi harinya setelah malam pernikahan, ayah datang kepada kami, beliau mengucapkan salam kepada kami, namun tidak kami menjawabnya, padahal ayahku adalah seorang lelaki yang lembut dan pengasih. Selanjutnya beliau memanggil aku sebagai anak tetua, lalu berkata kepadaku sambil bercanda ” Kenapa engkau tidak mengucapkan selamat kepada ayah atas pernikahan ini, wahai fathimah ?”
Aku menjawab dengan sikap marah “Allah tidak memberkati ayah dengan pernikahan ini.” aku katakan seperti itu saking dahsyatnya apa yang aku rasakan, kemudian akupun menangis.

sementara itu ayahku hanya tertawa seraya berkata: Anakku, bergembiralah, karena kamu akan mendapatkan kebaikan. ini adalah perkara yang terlaksana dan selesai. semoga kesudahannya akan baik bagi kita didunia dan diakherat kelak.
beberapa hari kemudian. istri ayahku yang baru datang kerumah kami, kami tidak mengucapkan salam kepadanya, bahkan kami bersikap bermusuhan terhadapanya dan memperlakukannya dengan kasar, menghina dan memperolok-olok. Kami juga berusaha menyakiti hatinya dan membuatnya tersinggung, baik perkataan maupun perbuatan. Akan tetapi dia adalah wanita yang cerdas dan penyantun; hatinya tulus, karna itu ketika kami keterlaluan dalam menyakiti hatinya, tak lebih dia hanya mengatakan “semoga Allah memberi petunjuk kepada kalian”

hari – hari berlangsung, sedang kami masih saja berlomba-lomba menyakitinya hati wanita itu, akan tetapi semua itu dia balas dengan berbuat baik, sehingga akhirnnya kami malu sendir. Dan mulailah kami sadar bertanya kepada diri sendiri; “apa dosa wanita yang malang ini ?” tidakkah kami takut akan hukuman dari Allah ? apakah dia yang dating sendiri ataukah ayah yang menyebabkan dia dating kepada kami ? selain itu pernahkah dia menggangu kami…? Oh tidak, bahkan sebaliknya…

hari – hari berlalu, akhirnya kami anak-anak perempuanpun menikah satu demi satu, demikian pula tiga saudara lelaki kami yang sekandung, dengan demikian tidak ada lagi yang tinggal dirumah kami, selain wanita itu dan ibu kami bersama anak-anaknya yang masih kecil. Ternyata tidak ada yang dilakukan wanita itu selain berbuat baik sekali terhadap ibu kami, seolah-olah dia menjadi anak perempuannya yang paling berbakti terhadapnya didunia, bahkan yang mengherankan ibu kami lebih suka tinggal bersamanya daripada pergi kepada anak-anaknya sendiri.

Akhirnya, pada akhir umur ibu kamipun sakit, beliau tidak mampu mengurus dirinya, maka wanita itu yang mengurus ibu kami dengan segenap jiwa dan raganya  selagi beliau sakit dan merawatnya dg jiwa lapang dan hati yang pengasih, sehingga kami tidak meragukan lagi ketulusan dan keihlasasanya, setelah kami lihat sendiri betapa kasih saying dan kelembutannya terhadap ibu kami.

Demikianlah itu, hal itu berlangsung sampai ibu kami meninggal-sementara wanita itu memanjatkan doa untuk ibu kami, mengucapkan terima kasih kepadanya atas kebaikannya dan meminta maaf dan penghalalan kepadanya. Bahkan kami seringkali ibuku berkata : kami berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, kenapakah terjadi yang telah terjadi ? kemudian beliaupun memohon ampun kepada Allah.

Begitu pula dengan ayah kami, akhirnya beliaupun tua. Begitu lama beliau menjalani ketuaannya hingga akhirnya tidak mampu lagi mengurus dirinya. Disini wanita itu yang kemudian bangkit merwat beliau sebaik mungkin, bahkan seringkali tidak tidur sepanjang malam hanya untuk melayani beliau dan menanggung keluh kesah, kemarahan, kebawelan akibat ketuaanya hingga akhirnya beliaupun meninggal, sedang beliau suka dan ridho terhadap wanita itu.

Demikianlah yang dialami ibu dan ayah kami dari wanita itu, anak-anak perempuan juga benar-benar mendapatkan keberuntungan dari wanita itu dibawah naungan kebajikan sampai hari ini dan itu dari dua sisi;

Pertama. Dari pribadi wanita itu sendiri, dia benar-benar telah berbuat baik terhadap kami baik selagi ayah ibu kami hidup maupun setelah ibu ayah kami meninggal. Kebaikan dan belas kasihnya kepada kamipun bertambah berlipat ganda, sehingga tidak terasa kalau ibu kami telah tiada, kami segenap anak-anak perempuan yang berlima selalu berlindung kepadanya dan kami mencurahkan segala keluh kesah kami kepadanyam sedang dia selalu melayani  kami dan anak-anak kami kala kami sakit dan menjalani nifas, dialah yang membelikan keperluan keperluan kami dari pasar sementara dia tidak pernah bersikap sempit terhadap siapapun, bahkan selalu berlapang dada dan tenang.

Kata kerabatku itu melanjutkan ceritanya “sekarang aku sering mengecam dan mencela diriku atas kebodohan dan sikap buruk yang pernah kami lakukan. Bahkan mataku sering berkaca-kaca dengan penuh sesal setiap kali aku ingat apa yang telah kami lakukan kepada wanita itu dan kenapa dulu kami memandang musuh diawal pernikahanya, padahal dia berdosa, selanjtunya kenapa kami tidak menyukai pernikahan tersebut, padahal pernikahan itu membuat kebaikan yang banyak bagi kami dan bagi kedua orang tua kami.

Subhanaallah, betapa bodohnya manusia bila telah ditunggangi setan, tentu saja kami memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadanya. Berulang kali kami memohon maaf kepada wanita itu dan meyatakan penyesalan kami atas perbuatan yang telah kami lakukan dulu, maka dia hanya mengatakan “tak da yang patut disesali, jangan menyebut-nyebut itu sama sekali, dulu kalian masih kecil, kami sendirilah menyadari saat itu bahwa kamilah orang-orang yang telah dewasa’ tapi bagaimanapun alangkah tulusnya dan lapang dadanya wanita itu.

Adapun  dari sisi yang kedua: adalah dari kebaikan dan hubungan baik dengan kami, wanita itu punya empat orang anak; mereka saudara-saudara kami seayah, mereka telah dididik dengan baik, sehingga menjadi anak-anak sholih yang berhati mulia. Mereka juga menghormati hak para kerabat dan memiliki sikap-sikap serta keteladanan-keteladanan lainya yang baik-baik, mereka sangat menghormati kami, sehingga kami tidak mampu menggambarkannya. Bahkan bagi kami mereka jauh lebih baik dbanding saudara laki-laki kami sendiri yang seibu dan sebapak, yang sepatutnya mnjadi sandaran dan pelindung kami ternyata yang terdekat dari mereka justru menjadi tetangga yang terjauh, mahasuci Allah yang maha bijak dan maha tahu.

Adapun saudara-saudara laki-laki kami yang seayah itu, ternyata merekalah yang sangat baik sikapnya terhadap kami, mereka banyak membantu keperluan-keperluan kami dan sangat memuliakan kami, bantuan dan kemuliaan mereka terhadap kami seperti air yang mengalir, bahkan sampai kepada putri-putri kami, meskipun mereka pada menikah.

Semoga Allah memberi balasan yang terbaik kepada mereka dan kedua orang tua mereka, akupun memohon kepada Allah atas segala dosa dan segala kesalahan kami dan memohon maaf atas segala kekeliruan kami, Antara lain atas perkataanku kepada ayahku dulu ketikan beliau menikah lagi “Allah tidan memberkati ayah dg pernikahan ini”

Ya , sungguh alangkah bodohnya manusia dan alangkah tololnya, manusia itu benar-benar tidak sabaran dan sangat bodoh…..

Semoga Allah merahmati ayah kami yang telah menyebabkan kami mempunyai ibu yang lain dan saudara-saudara yang berbakti; dan semoga Allah memberi merka balasan dari balasan yang terbaik diantara sekalian balasan yang patut diberikan kepada siapapun yang berbuat baik atas kebaikannya.

setelah kerabatku mengakiri perkataannya, maka aku bacakan kepadanya firman Allah taala.

وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (البقرة: 216)

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Mendengar ayat itu diapun berkata; “aku bersaksi dengan menyebut nama Allah bahwa sesungguhnya kami telah benar-benar mendapatkan kebaikan yang banyak dari isrti ayah kami itu dan putra-putranya. Semoga dia dirahmati Allah.

Sahabatku semua yang dirahmati Allah.

Sungguh dewasa ini itu yang sulit itu memahami, karena semua orang bisa memahami, jika itu terlihat jelas tentu orang mudah memahaminya namun jika memahami sebuah hikmah yang tersembunyi dibalik sebuah peristiwa tidak semua orang mau melakukannya.

Demikianlah kesabaran adalah kunci sebuah pemahaman, karena hakekatnya “Ilmu diperoleh melalui belajar, dan kesabaran diperoleh dengan berlatih sabar. Orang yg memilih kebaikan akan mendapatkannya dan orang yg menjauhkan diri dari kejahatan pasti akan dilindungi darinya.” Mahasuci Allah atas segala firmannya.

وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ

“Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”

Ayat ini adalah umum lagi luas, bahwa perbuatan-perbuatan baik yang dibenci oleh jiwa manusia karena ada kesulitan padanya itu adalah baik tanpa diragukan lagi, dan bahwa perbuatan-perbuatan buruk yang disenangi oleh jiwa manusia karena apa yang diperkirakan olehnya bahwa padanya ada keenakan dan kenikmatan ternyata buruk tanpa diragukan lagi.

Perkara dunia tidaklah bersifat umum, akan tetapi kebanyakan orang bahwa apabila ia senang terhadap suatu perkara, lalu Allah memberikan baginya sebab-sebab yang membuatnya berpaling darinya bahwa hal itu adalah suatu yang baik baginya, maka yang paling tepat baginya dalam hal itu adalah ia bersyukur kepada Allah, dan meyakini kebaikan itu ada pada apa yang terjadi, karena ia mengetahui bahwa Allah Ta’ala lebih sayang kepada hambaNya daripada dirinya sendiri, lebih kuasa memberikan kemaslahatan buat hambaNya daripada dirinya sendiri, dan lebih mengetahui kemaslahatannya daripada dirinya sendiri,

sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Maka yang pantas bagi kalian adalah kalian sejalan dengan segala takdir-takdirNya, baik yang menyenangkan ataupun yang menyusahkan kalian.

Bukan begitu kawan ?

Ketidaktahuan seseorang terhadap akibat atau balasan sebuah perbuatan ataupun ketentuan Allah, menjadikannya menyenangi perbuatan yang dibenci atau diharamkan, dan menjadikannya membenci dan menjauhi perbuatan yang sebenarnya dicintai dan diridhai Allah, walaupun terkadang bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya.

Sahabatku yang baik. Ingatlah Seluruh perintah Allah adalah baik, dan seluruh larangan-laranganNya adalah buruk. Maka dari itu wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakan seluruh perintahNya dan menjauhi seluruh larangan-laranganNya.

Apabila dirimu banyak membaca AlQuran maka akan jelas bagimu makna-makna yang sebelumnya tidak terlihat. Bilamana Syaikh Muhammad Al Amin Assyinqithi -rahimahullah- ingin menafsirkan Alquran beliau membaca satu halaman nya lebih dari seratus kali. subhanaAllah, Begitulah seharusnya seorang muslim dalam menyikapi tabir-tabir yang tersembunyi dibalik semua hikmah yang Allah hendak sampaikan kepada hambanya… “perbanyaklah memahami bukan mengkritisi”

 Imam Al-Ghazali  berpesan “musuh kita yang paling berat adalah melawan hawa nafsu yang berada di rongga dada”

Ada satu bagian dalam diri kita yang sulit kita taklukan yaitu hawa nafsu, nafsu syahwat, nafsu untuk tidak marah, nafsu untuk tidak melukai hati orang lain, nafsu untuk bersenang senang di dunia dan melalaikan akhirat, nafsu berghibah, nafsu nafsu yang kesemuanya itu condong pada kejahatan

Sungguh segala sesuatu yang melanggar syariat harus diluruskan, namun jangan sampai suudzon dengan orangnya “

Kurangi mengkritik. Perbanyak memuji

Kurangi perbedaan. Perbanyak pengertian

Kurangi meminta. Perbanyak memberi

Kurangi ketergantungan. Tingkatkan kesadaran

Kurangi kata lidah. Tingkatkan kata hati

Ya Rabb “Perbaikilah agamaku karena dia adalah pemelihara urusanku,“Perbaikilah duniaku karena itulah mata pencaharianku,“Perbaikilah akhiratku karena tempatku akan kembali,..

“Jadikanlah kehidupan ini sebagai kesempatan bagiku untuk menambah amal kebaikan,dan jadikanlah akhir usia ku sebagai akhir bagiku untuk berhenti dari amal perbuatan yang buruk.
Ya Allah mudahkan sisa umur kami dengan ,kesehatan agar kami bisa kuat dan giat beribadah kepada-Mu.

Ya Allah! Maafkanlah atas kebodohan kami, kesalahan kami dan kedurhakaan kami, maafkan kami Ya Allah! Engkaulah tujuanku, dan ridlaMu-lah yang kucari. Anugerahilah kami cinta padaMu dan mengenal DzatMu Yang Maha Tunggal, Maha Agung, Maha Pengasih, Penyayang dan Maha Pengampun.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang pandai bersyukur, pandai memahami dan teguhkanlah hati kami di jalan yang Engkau ridhoi . amin Allahumma aamiin.

Alfatehah…

Semoga bermanfaat.

 

 

Iklan