pemuda dan dinamikanyabismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. tulisan ini sebenarnya sambungan dari tulisan yang dulu dengan judul “saatnya generasi muda yang bicara”cobalah dibaca sejenak, sahabatku, jika berbicara tentang “Pemimpin” maka orang akan mengacu pada pesta demokrasi yang akan digelar bulan april yang akan datang, terlepas dari pemilihan umum, Pada hakikatnya, kita sebagai generasi muda adalah calon pemimpin masa depan kita dituntut untuk kreatif, Inovatif, Prestatif dan Soleh sholehah. Karena banyak hal yang harus kita hadapi, yang harus kita jalani di bumi ini, tentunya kita tidak akan bisa selalu menggantungkan diri kepada siapapun. Sebuah negara akan menjadi besar apabila didukung oleh para pemuda yang sadar bahwa pendidikan dan akhlak itu penting bagi mereka. Kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada generasi penerus bangsa yang tidak lain adalah para pemuda. Suatu bangsa yang besar harus mampu bersaing dengan bangsa lain dalam hal apa pun. nah disini peran pemuda, bener gak kawan ?

Pada zaman sekarang ini, generasi muda yang ada, seringkali tertipu dengan waktu yang mereka miliki, mereka tidak memanfaatkan waktu luang yang mereka miliki untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat, lah, kok bisa !!
padahal, Pemuda adalah penerus bangsa yang dilematis, di satu sisi ia sulit menghadapi kondisi diri mereka sendiri, terbukti banyak pengangguran dan terlibat hal-hal negatif lainnya, sementara tantangan globalisasi sangat deras menyerbu bangsa ini. Globalisasi ini pulalah yang ’memaksa’ pemuda untuk menunjukkan komitmen dan semangat nasionalismenya disamping tetap berkomitmen pada masa depan dan cita-cita bangsa dan negara. danpula krisis akhlak dan nilai diri yang terus menerus menggerus generasi muda, mau dibawa kemana bangsa ini, jika pemudanya seperti ini ?

terus bagaimana cara kita menyikapinya ?
apa tantangan para pemuda- pemudi ?
bagaimana pemuda dimata islam ?
apa yang harus dilakukan pemuda islam ?

Keruntuhan Uni Soviet, sebagai kekuatan penyeimbang dunia terjadi dan memunculkan pemenang ; kapitalisme. Kapitalisme yang didukung oleh free market (pasar bebas) ini adalah faktor penting yang mendukung terbukanya negara-negara terhadap ’intervensi’ liberalisasi pasar. Lembaga-lembaga ekonomi internasional yang dibentuk terbukti gagal mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi dunia, alih-alih memunculkan jurang yang makin lebar antara negara miskin dan negara maju. Ketidakadilan pasar bebas ini juga menjebol sekat-sekat nasionalisme negara-negara, terutama negara tertinggal, sebab negara maju menawarkan ’kemudahan semu’ yang tidak didapatkan di negara-negara miskin.

Pemuda sebagai pewaris masa depan memiliki peran penting dalam menghadapi arus globalisasi ini, paling tidak pemuda harus memiliki, pertama, pemahaman yang baik dan benar akan hakikat dan makna globalisasi, berikut manfaat dan mudharatnya. Kedua, kepandaian dan kecerdasan pemuda dalam menyikapi dan memerankan diri di tengah arus globalisasi.
Ketiga, faktor kemampuan pemuda untuk memperkuat jaringan kerjasama yang saling menguntungkan dan sinergis dengan berbagai komponen strategisdalam globalisasi. Dengan demikian, pendidikan juga menjadi salah satu faktor penting dalam memajukan pemuda. Namun sayangnya, dunia pendidikan kita sejak kemerdekaan hingga sekarang masih sulit untuk diprioritaskan, meskipun UUD sudah mengamanatkan pentingnya pendidikan yang baik untuk SDM bangsa ini.

Realitas kepemudaan kita di dalam spektrum yang luas itu merupakan refleksi yang muncul, tatkala memotret realitas kepemudaan kita dewasa ini. Pertama, pemuda kita berada dalam, “mendayung diantara dua karang”. Fenomena ini bersifat klasik dan sudah muncul sejak dulu: bahwa pemuda memiliki idealisme (cita-cita utama), namun di sisi lain dihadapkan pada realitas kehidupan yang kerap jauh dengan segenap cita-cita dan harapan yang ada. Posisi pemuda berada di antara “karang idealisme” dan “karang pragmatisme”. Kedua, pemuda masa kini memiliki tantangan lebih kompleks dibanding dengan generasi muda masa lalu. Dinamika kehidupan masa kini, dipengaruhi oleh banyaknya faktor, yang satu pihak menciptakan kemajuan dalam fasilitas kehidupan, pihak lain mengarah sebaliknya, mendorong kemunduran. Lingkungan eksternal yang demikian cepat berubah, menuntut respons yang tepat dan cerdas agar tidak terjebak pada kemunduran.

Ketiga, pemuda kini memiliki referensi yang lebih beragam, untuk menentukan sikapnya dalam memandang ragam persoalan mutakhir. Referensi itu didapat dari makin berjalannya waktu, dengan beragam kejadian yang melingkupinya, sehingga pemuda bisa menengok ke belakang, proses sejarah kehidupan bangsa. Referensi itu juga didapat dari pola pergaulan mereka yang makin luas. Referensi itu tidak hanya didapat dari para orang tua mereka, namun dari proses pergaulan dan pengalaman pendidikan (pencerdasan) yang dicapainya, melalui proses dialektika dan perkembangan wacana. Keempat, pemuda dewasa ini berada diposisi pergeseran nilai. Apa yang dipandang tidak pantas di masa lampau, bisa jadi tidak demikian halnya kini. Apa yang dulu dianggap baik, bisa jadi tidak demikian halnya kini. Pergeseran nilai kehidupan (cara memandang hidup dan memaknai sesuatu) dalam masyarakat, biasanya memikirkan aspek-aspek normatif. Lagi-lagi, pemuda dituntut untuk mampu menyikapi realitas pergeseran nilai tersebut dengan ragam referensi yang dimilikinya, pemuda berupaya meresponnya cara tepat, sehingga tidak terjebak pada lingkaran hipokritas (kemunafikan).

Pemuda dewasa ini diharapkan pada realitas yang terkait dengan idealisme, kompleksitas tantangan, ragam referensi dan posisinya ditengah pergeseran nilai. Kemana arah kecenderungan mereka dalam menyikapi dan menentukan pilihan, tak lepas dari bagaimana pemuda mampu memposisikan diri. Disinilah terjadi pergulatan diseputar bagaimana nilai direinterpretasi dan direaktualisasi tepat, tak mengingkari semangat zaman. Secara obyektif, dibalik idealisme atas sosok pemuda terdapat banyak hal yang jauh dari harapan. Ada kalanya pemuda di puja-puja sehagai ’pahlawan’, tetapi di kala yang lain, pemuda dicela dan dinafikan. Dalam hal ini perlu dipahami, pemuda memang tidak bermakna tunggal, melainkan jamak (plural).

Secara ekstrim ada dua wajah berbeda. Ada sosok-sosok pemuda yang idealis, yang mencoba merealisasikan idealismenya itu ke konteks realitas. Lantas pemuda memainkan perannya yang nyata di tengah-tengah publik luas. Sosok-sosok pemuda seperti ini, tentu tergolong sebagai sosok-sosok yang dinantikan kehadirannya. Sebaliknya, ada pula sosok-sosok pemuda yang loyo. Yang tergerus oleh penyakit zaman, yang menyerah dan terlindas oleh kereta api sejarah. Mereka tidak berperan, sebab telah menjadikan dirinya sebagai bagian dari penyakit sosial. Tidak sedikit pemuda yang terjerat narkotika, kriminalitas dan lainnya. Tentu saja ini merupakan sebuah sisi gelap dari pemuda.

Maka, yang perlu diprihatinkan serius adalah, konteks cara pandang dan cara berpikir kalangan muda. Penyakit sosial tersebut akan diperparah oleh kekeliruan cara pandang (paradigma) dan cara berpikir, dalam merespon dan menyikapi sesuatu secara dewasa. Cara pandang, cara berpikir yang salah akan berimbas pada cara bertindak yang salah, dan sebentuk gaya hidup yang salah pula. Gaya hidup yang salah inilah yang memunculkan penyakit sosial, di mana pemuda loyo “tak berguna”. Cara pandang, cara berpikir, dan cara bertindak yang salah itulah pragmatisme. Demikian fatal adanya. Singkat kata, dua wajah yang berbeda itu adalah idealisme versus pragmatisme. Kondisi eksternal yang ada saat ini, di tengah derasnya globalisasi, ditambah dengan situasi multi-krisis yang tak kunjung reda, kita masih berada di terowongan gelap, dan belum tahu kapan pintu keluarnya, tampak sekali lebih banyak mendukung aksi pragmatisme. Tawaran-tawaran jalan pintas untuk mengelola hidup secara praktis ditawarkan, walaupun hanya sebatas angan. Tatkala jalan pintas menjadi pilihan utama untuk menuntaskan banyak hal, maka, banyak hal yang lebih krusial, lebih penting dan maknawi ditinggalkan dan diabaikan. Nilai-nilai kewajaran hidup tergeser oleh “ideologi pragmatisme”. Idealisme makin menjadi hal yang langka, terkepung oleh pesan pragmatisme, yang sedemikian mengujam dan menukik (demikian ofensif).

rumit bukan kawan ?

bagaimana peran pemuda dalam pembangunan dan kemajuan islam ?

Perkembangan globalisasi kian mengantarkan dunia pada satu sistem masyarakat multidimensi dengan tingkat kebutuhan yang semakin meningkat. Adanya pola interdependensi yang tercipta antara satu kelompok dengan kelompok lainnya mengakibatkan bertambahnya tingkat interaksi antar manusia. Belum lagi dampak dari transborder, dimana tidak ada batasan kongkrit dalam mendeskripsikan tatanan masyarakat dalam satu negara. Sehingga kita yang tinggal di Indonesia dapat dengan mudah menjalin komunikasi dan berinteraksi dengan saudara di luar pulau, negara seberang, bahkan benua lain, melalui apa yang kita sebut dengan kemajuan teknologi. kecanggihan teknologi kan kawan  ?

Pemuda merupakan pilar utama dalam perjuangan, termasuk perjuangan membangun dan memajukan peradaban Islam. Sebab usia muda merupakan masa emas dalam perjalanan hidup manusia di dunia. Insan-insan seperti mereka sangat layak mendapat pujian dari Allah SWT, ”Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. al-Kahfi : 13)

Apa yang perlu disipkan dalam menghadapi era globalisasi  ditengah krisis aklak dan nilai diri ?

ada 3 hal yang mampu menjadikan pemuda menjadi pemimpin masa depan yaitu : Tauhid, Ideologi (Ilmu), dan Enterpreneur (Syasah). Melalui analisis inilah, kita akan membahas generasi muda islam yang dapat memberikan pengaruh yang luar biasa hebat, baik bagi kemajuan agama islam maupun tatanan global.

1.    Tauhid yang Mantap

        Ketika tauhid seorang pemudi islam telah kuat dan mantap, maka disitulah awal intelektualitas dan percaya dirinya akan muncul. Yang dimaksud tauhid disini adalah segala sesuatu yang tejadi di dunia ini adalah kehendak (iradah)-Nya, sehingga empat sifat yang cenderung membuat manusia depresi; cinta, harap, takut, dan cemas, tidak akan mampu menghalangi jalan dan usahanya untuk menjadi seorang muslim yang cerdas dunia dan akhirat.

Generasi muda islam akan tumbuh menjadi komunitas yang memiliki solidaritas tertinggi. Inilah alasannya Sir Goerge Bernard Show, Tokoh Irlandia, pendiri London School of Economy mengatakan pengakuannya bahwa :

“ Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris dan Eropa beberapa ratus tahun dari sekarang islamlah agama tersebut. Saya senantiasa menghormati agama tersebut……”

Kekuatan tauhid inilah yang menjadi titik penting dalam penyusunan draft dakwah demi kemajuan islam di masa depan. Bahkan bangsa barat pun mengakui hal tersebut.

2. ILMU (Ideologi Cerdas)

    Ideologi merupakan sudut atau cara pandang. Bagaimana seorang Pemuda Muslim memandang dunia merupakan cerminan tingkat kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritualitasnya. Seseorang yang memiliki dasar ideologi yang kuat, otomatis ia tidak akan mudah terpengaruh oleh kondisi zaman yang kian relatif. Ideologi muslim dalam menata solidaritas Pemuda Muslim di seluruh dunia hanya satu, yaitu : Al-qur’an dan sunnah Rasul yang nyata, Ketika segala sesuatu, baik itu perilaku, sifat, fakta, rencana, dan memahami alam telah berlandaskan al-qur’an, maka ia akan mampu menghadapi tantangan globalisasi dengan lebih dinamis.

Kader Pemuda Muslim yang sudah memiliki ideologi cerdas adalah mereka yang berideologi pada Al-quran tidak hanya membacanya, namun juga mentadabburinya, sehingga kita tahu makna dan nilai yang terkandung di dalamnya. Kemudian menjadikan ideologi tersebut menjadi ideologi cerdas maknanya adalah tidak lagi memikirkan hal-hal kecil yang tidak penting untuk diperdebatkan. Ia akan memilih untuk memikirkan hal-hal besar demi kemajuan dan kesatuan umat islam di masa yang akan datang. Karena Pemuda Muslimin sekarang sedang berjalan dengan kakinya yang pincang dan terseok. Ada patogen sosial yang sedang menyerang kaum Pemuda Muslim, dan patogen ini justru menyerang ideologi islam, khususnya bagi kader dan generasi Pemuda Muslim yang tidak memahami kandungan al-qur’an.

Oleh karena itu, ketika Kader Pemuda Muslim telah mematenkan ideologinya yaitu Al-qur’anulkarim, dan memahaminya kandungan, makna dan nilainya dengan cerdas maka perkembangan globalisasi, yang meliputi gadget, westernisasipop culture, dan perkembangan ilmu lintas agama bukanlah masalah yang harus ditakuti apalagi diperangi. Sekali lagi tidak. Tapi sebagai muslim yang memiliki ideologi cerdas, justru dampak globalisasi itu dapat dijadikan sebagai sarana dalam melebarkan sayap prestasi, dakwah, dan eksistensi islam sebagai agama yang dinamis. maka ia tidak akan terpengaruh terhadap perkembangan globalisasi yang kian mengikis iman.

3.       Syasah (Dalam Arti Enterpreneur)

Pengusaha Pemuda muslim wajib kiranya memainkan peran tersendiri dalam menata kemajuan islam dalam tatanan global. Umat islam harus kreatif dan inovatif dalam menanggapi sistem kapitalis Neoliberalis yang mau tidak mau telah terbentuk di lingkungan masyarakat. Bayangkan apa jadinya jika pemuda Muslim  selalu menjadi karyawan atau apa yang disebut dengan  “bawahan” ?  Kalau ini terus terjadi, maka umat islam tidak akan pernah maju. Umat islam harus kaya, baik kaya ilmu, hati, materi, maupun mental. Karena bagaimana mungkin umat islam bisa bersedeqah, infaq, berbagi, kalau dia tidak mampu mencukupi kebutuhannya, dalam bahasa lain disebut dengan “miskin” ?

Sistem kapitalis Neoliberalis yang kian mengakar pada budaya masyarakat lokal maupun internasional telah mengubah pola pikir masyarakat, bahwa seorang yang mampu membawa kemajuan dan pengaruh adalah mereka yang menjadi Business Owner, bukan mereka yang hanya menjadi Employee. Ketika generasi Pemuda Muslim mampu merubah pola pikirnya sesuai dengan teori Cashflow Quadrant oleh Robert Kiyosaki, maka perubahan besar bagi kemajuan umat islam akan semakin nyata. Karena islam adalah agama yang realis, tidak tenggelam dalam lamunan dan khayalan. Sehingga dalam menghadapi tantangan global, tidak cukup dengan hanya bermodal Tauhid dan Ideologi. Namun harus diimplementasikan dalam bentuk perilaku, yaitu menjadi pengusaha Pemuda muslim.

contohnya nabi Muhammad SAW.  Satu hal yang berbeda sebelum menikah, Muhammad Saw adalah project manager bagi Khadijah. Setelah menikah, beliau menjadi joint owner dan supervisor bagi agen-agen perdagangan Khadijah.

Dalam ilmu enterpreneurship, yang dilakukan Muhammad Saw pasca menikah merupakan sebuah lompatan dari quadran pekerja pindah ke quadran businessowner  dan co-investor. Tanpa kita sadari Muhammad Saw telah mengaplikasikan suatu teori yang disarankan Robert T. Kiyoshi, yaitu teori Cashflow Quadrant[1]Uniknya teori tersebut baru dikemukakan 15 abad kemudian. Perbedaan lain, Robert T. Kiyoshi memilih untuk menjadi self employed dengan berprofesi sebagai business network consultan danbook writer, bukan sebagai trader dan business investor berskala regional atau global
bagaimana kawan, siap merealisasikannya ?

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

RASULULLAH bersabda: ”TUJUH hamba yg akan dilindungi ALLAH pd HARI QIAMAT nanti, 1. Pemimpin yg adil, 2. Pemuda yg tumbuh dewasa yg hobbynya beribadah pd ALLAH padahal disaat nafsunya bergejolak, 3. Hamba yg hatinya selalu terikat pd masjid, senangnya berjamaah & beraktivitas ke mesjid, 4. Dua org yg saling mencintai krn ALLAH, berkumpul, berjumpa, bersahabat krn ALLAH & berpisah krn ALLAH pula, 5. Seorg hamba lelaki yg dirayu oleh seorg wanita yg mempunyai kedudukan & kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kpd ALLAH”, 6. Hamba yg bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya, ikhlas krn ALLAH, & 7. Hamba yg berdzikir & berdoa kpd ALLAH dlm keheningan malam, dlm kesendiriannya, dlm muhasabah dirinya lalu ia menitikkan airmatanya.” (Tafsir hadist HR. Bukhari Muslim)

tu kan pemuda lagi, yang disebut nabi saw… 

Para pemuda merupakan ujung tombak kemajuan bangsa dan kemanjuan islam, Para pemuda yang memajukan peradaban Islam harus memiliki 5 karakter dasar, yang dikenal sebagai Karakter 5M, yaitu: mu’min, mushlih, mujahid, muta’awin, dan mutqin.

Sebagai pribadi mu’min, mereka memiliki aqidah yang lurus dan bersih, semangat dalam beribadah sesuai sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wassalam, serta usaha yang keras untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Sebagai insan mushlih, para pemuda penopang kemajuan peradaban Islam memiliki kepedulian yang besar untuk memperbaiki kondisi masyarakat (terutama dalam masalah agama) secara hikmah, serta mampu memecahkan problema yang dihadapi masyarakat (problem solver).

Sebagai insan mujahid, mereka memiliki tekad yang kuat dalam memperjuangkan tegaknya agama (beserta peradaban) yang diwariskan Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassalam, rela berkorban (harta, jiwa, serta raga) dalam perjuangan, serta tidak mudah berputus asa ketika menghadapi segala halangan dan rintangan dalam perjuangan. Mereka mengingat betul janji Allah SWT, ”Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7).

Sebagai figur muta’awin, para pemuda yang memajukan peradaban Islam menjunjung tinggi semangat ta’awun (saling bekerjasama) dengan berbagai pihak di bawah naungan syariat Islam, tidak mudah konflik apalagi berpecah belah jika terjadi perbedaan pendapat selama masih bersifat non-prinsip (khilafiyah furu’iyah), serta mampu menjadi mediator bagi persatuan antar para pengusung peradaban.

Sebagai personil yang mutqin, para pemuda yang berjasa dalam memajukan peradaban kaum Muslimin jelas memiliki minat dan bakat (profesional) di bidang apapun yang digelutinya, mengetahui apa saja tugas dan amanah yang diembannya, serta tidak mudah meninggalkan medan tugas walau bagaimana pun kondisi yang dialaminya.

sahabatku semua yang dirahmati Allah.


mengakhiri pembahasan kali ini, marilah kita tengok, yang menjadi masalah akut bangsa ini krisis akan pemimpin yang memiliki jiwa besar, visi besar, dan kinerja besar untuk membangun bangsa ini. Sangat berat memang memimpin sebuah bangsa yang besar dengan segala potensinya, dan hal itu juga dialami negeri kita saat ini. Mari kita lihat fakta dan data bangsa kita saat ini. Bangsa ini sedah terkena penyakit akut bernama korupsi. penyakit inilah yang meninabobokan kita akan kenikmatan dunia sehingga melupakan tanggung jawab akherat, lihatlah kawan… bangsa ini benar – benar membutuhkan terapi penyembuhan segera. Dan itu harus berasal dari ide – ide segar para pemudanya. Tetapi ketika melihat realitas pemuda Indonesia saat ini, sepertinya kita pun sebagai pemuda harus merasa khawatir, karena pemuda kita ternyata telah disetting mempunyai pemikiran yang sempit, egoies tingkat tinggi, dan tidak mau memikirkan bangsanya. Dan citra negative pun sepertinya masih saja disematkan pada pemuda kita saat ini. Dari tawuran, aborsi, kasus narkoba, kriminalitas, rata – rata melakukan pada usia muda. ya Allah,..

Wahai pemuda-pemudi Islam yang dikasihi Allah swt, kita punya potensi hebat untuk menguncang dunia. Kita sudah punya tujuan dan agenda hidup yang jelas yaitu untuk mencari redho Allah swt dan menjadi pemimpin dunia ini! lihatlah dari segi manusiawinya, Allah swt telah menciptakan kita punya kehendak dan keinginan tinggi, punya akal untuk berfikir dan membuat keputusan, punya perasaan dan emosi untuk menggelorakan semangat dan punya bakat-bakat hebat untuk saling melengkapi. Dengan tujuan hidup yang jelas serta segala aset lain yang kita ada ini, kita sebenarnya calon pemuda-pemudi Islam hebat itu! Tidak tersangkal lagi.

“Ayuk kita sama-sama perbaharui tekad untuk melatih qiadah menanggung bebanan supaya yang terlantik nanti adalah mereka yang berwibawa dan berkelayakan; bermula daripada shof pertama, kemudian diikuti oleh shof kedua dan seterusnya. Sebagai persediaan ia adalah tiga barisan pelapis untuk qiadah. Sesungguhnya mempersiapkan kanak-kanak mumayyiz dengan hukum syarak khusus membolehkan dia dijadikan imam dalam sholat, sekalipun dia belum mukallaf, menjadi bukti yang menunjukkan bahwa mempersiapkan kepimpinan dengan ibadat merupakan objektif yang mesti diberikan tumpuan di dalam perlaksanaan.

Sahabat Nabi, Umar r.a. pernah mengungkapkan: “Barang siapa ingin menggenggam nasib suatu bangsa, maka genggamlah para pemudanya”. Siapa yang memiliki pemuda, maka ia akan menguasai masa depan hingga kata-kata “Pemuda Tiang Negara, Pemudi Harapan Bangsa” bukan hanya mitos dan retorik belaka. Sesungguhnya di tangan pemuda terletak nasib umat dan di dalam kepemimpinan mereka terletak survival ( keberlangsungan ) bangsa.

Bapak Proklamator Soekarno juga pernah mengatakan yang dibutuhkan negara ini adalah pemuda yang tangguh dan trengginas, dengan 10 pemuda saja maka akan digoncangkan dunia dan akan dipindahkannya gunung Mahameru. Secara metaforis, ungkapan ini rasanya mewakili betapa krusial dan starategisnya aspek generasi muda.

Sewajarnya agenda membina pemuda sebagai pilar pembangunan bangsa dalam mengatasi persoalan sosial dan moral menjadikan mereka bersikap mandiri dan berdaya guna serta memprioritaskan untuk mempersiapkan pemuda sebagai calon pemimpin bangsa di tingkatan lokal maupun nasional.

Sudah tiba saatnya negara memberikan perhatian khusus kepada pemuda untuk menghadapi kerasnya peradaban di era mendatang. Bangsa yang melalaikan potensi kepemudaannya akan segera menerima kehancuran. Sehingga Cukup sejarah peradaban dunia menjadi saksi, betapa bangsa-bangsa besar akhirnya runtuh akibat rendahnya kualitas generasi muda mereka. Sudah menjadi aksioma sejarah, bahwa pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok ( masa depan ).

betul tidak kawan, ? bagaimana menurutmu ??

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنِا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا.

Ya Allah, berikan kepada kami dari rasa takut kami kepada-Mu sesuatu yang akan membentengi kami dari maksiat kepada-Mu, anugerahkan kami dari ketaatan kami kepada-Mu sesuatu yang akan mengantarkan kami ke surga-Mu, dan berikan untuk kami dari keyakinan kami kepada-Mu sesuatu yang akan meringankan kami dalam menghadapi musibah dunia. Berikan kenikmatan pada pendengaran, penglihatan dan semua kekuatan dan potensi kami selama Engkau hidupkan kami, jadikan semua itu sebagai peninggalan kami. Jadikan pembalasan kami hanya kepada orang yang telah menzhalimi kami, tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami, jangan Engkau jadikan musibah menimpa kami dalam agama dan iman kami, jangan Engkau jadikan dunia inisebagai puncak cita-cita dan ilmu kami, dan jangan Engkau kuasakan kami kepada orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami.

Ya Allah jadikan kami pemuda pemudi yang tumbuh dalam Ibadah dan pengabdian kepadamu…

disarikan dari berbagai sumber.
semoga bermanfaat.
Iklan