pemimpin teladanbismillahirahmanirrahim

sahabatku semua yang dirahmati, pagi-pagi buta ditemani lantunan maulid simtud dhurror yang dibacakan dg indah oleh alhabib syech bin abdul qodir assegaff memenuhi seisi rumahku, bulan maret menuju april 2014, masyarakat indonesia gempar dengan pemilihan pemimpin, sungguh ramai dibicarakan dimedia-media baik media elektronik maupun cetak agar tak lupa memilih pemimpin bulan april besok, beragam cara dan upaya pun ditebar ke masyarakat, pamlet-pamlet dengan gambar diri, misi, visi pun meramaikan pingir2 jalan, iklan-iklan janji-janji mengisi kekosongan disela-sela iklan televisi, bahkan foto pass bisa mencium tangan ulama’ pun dijadikan senjata dengan motif katanya “sudah diberkahi diridho’i para ulama” maka tak heran tak ayal… kekuasaan memang melenakan sesorang untuk masuk didalamnya..

Mengambil bagian dalam politik adalah satu tindakan yang mulia dan berfaedah sekiranya penglibatan ini diniatkan untuk mencari keredaan Allah SWT.

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).

sebuah kisah mengawali pembahasan kali ini, semoga dapat diambil manfaatnya…

Ketika Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menengok hartanya di ‘Aliyah di sat hari yang sangat panas, dia melihat seorang laki-laki menggiring dua ekor unta muda, sedangkan panas terhampar di permukaan bumi seperti permadani, maka Utsman berkata, “Mengapa orang itu tidak tinggal saja di Madinah sampai panas ini berlalu kemudian dia berangkat?”

Kemudian laki-laki itu mendekat. Utsman berkata kepada pembantunya, “Lihat orang itu, siapa dia?”

Lalu pembantunya melihatnya lalu berkata, “Seorang laki-laki yuang menutup dirinya dengan kain sedang menggiring dua ekor unta muda.”

Kemudian laki-laki itu semakin dekat. Utsman berkata kepada pelayannya, “Coba kamu lihat lagi, siapa dia?” Lalu dia melihatnya ternyata orang itu adalah Umar bin Khaththab.

Pelayannya berkata, “Ini adalah Amirul Mukiminin.”

Maka Utsman berdiri. Dia melongokkan kepadanya dari pintu, tiba-tiba dia merasakan angin panas bertiup sehingga dia mengembalikan kepalanya ke dalam, hingga laki-laki itu dekat kepadanya, maka Utsman berkata, “Apa yang membuatmu keluar pada saat seperti ini?”

Umar menjawab, “Dua ekor unta muda tertinggal dari kawanan unta zakat. Unta-unta zakat telah berlalu. Aku ingin membawa keduanya ke hima (tempat mengurus unta zakat) karena aku khawatir keduanya hilang dan Allah meminta pertanggung jawaban kepadaku.”

Maka Utsman berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Singgahlah untuk minum dan berteduh, biar kami yang mengurusi keduanya.”

Umar berkata, “Kembalilah ketempat berteduhmu wahai Utsman!”

Maka Utsman berkata, “Barangsiapa ingin melihat kepada seorang laki-laki yang kuat lagi amanah, hendaklah dia melihat kepada orang ini.” Lalu dia kembali kepada kami dan merebahkan dirinya. [Usudul Ghabaah, karya Ibnul Atsir IV/160 dengan sanad shahih dan Al Kaamil karya Ibnul Atsir II/451]

Dikutip dari: Buku Shahabat-Shahabat Rasulullah, Syaikh Mahmud al Mishri, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir

Sahabatku yang dimuliakan Allah.

Pada zaman sekarang semakin ramai orang berlomba-lomba mengejar jabatan, berebut kedudukan sehingga menjadikannya sebagai sebuah obsesi hidup. Menurut mereka yang menganut paham atau prinsip ini, tidak lengkap rasanya selagi hayat dikandung badan, kalau tidak pernah (meski sekali) menjadi orang penting, dihormati dan dihargai masyarakat.

Seseorang yang berhasrat untuk bergiat aktif dalam politik perlu membetulkan niatnya terlebih dahulu supaya tidak dipengaruhi oleh kepentingan dan kemewahan dunia samata-mata. Tujuan utama seseorang itu melibatkan diri dalam politik adalah untuk melaksanakan maqasid syar’iyyah bagi membawa kebaikan (maslahat) dan menghilangkan kemudaratan (mafasid) kepada manusia.

Salah satu tanggungjawab besar yang perlu kita ambil perhatian adalah cara kalian memilih pemimpin. Kalian pasti akan ditanya dan kalian tidak akan dapat melarikan diri di akhirat nanti. Jika betul cara kalian membuat pilihan maka kalian akan terselamat dari azab yang besar nanti dan jika kalian tersilap atau kalian memilih hanya berdasarkan nafsu dan emosi, kalian tidak melihat syarat-syatar dan ciri-ciri yang Islam gariskan maka kalian akan ditanya, bertanggungjawab dan akan mendapat siksaan  azab disediakan oleh Allah SWT.

Dalam zaman moden ini tangan kalian cukup memainkan peranan yang penting. Tangan dan jari-jari yang kalian gunakan untuk membuat pilihan akan menjadi saksi dihadapan Allah SWT bahwa siapakah pemimpin yang telah di pilih? Jika salah pilih pemimpin tersebut tidak akan dapat menolong kalian dan masing-masing akan dipertanggunjawabkan  kesalahan yang telah dilakukan.

Politik atau dikenali Siyasah dalam bahasa Arab adalah ilmu pengetahuan berkaitan cara pemerintahan. Dalam Mu’jam al-Wajiz, Siyasah bermaksud mentadbir sesuatu perkara dengan baik atau pemerintah mentadbir urusan rakyat dengan penuh amanah. Apabila politik dilandaskan kepada Islam ia dinamakan politik Islami atau Siyasah Syariyah. Menurut para fuqaha, Siyasah Syariyah diertikan suatu “tindakan pemerintah menguruskan kemaslahatan manusia dengan mengikut ketentuan syarak”. Ringkasnya, Politik Islami merangkumi ilmu-ilmu berkaitan sistem, peraturan dan undang-undang yang diperlukan untuk mengurus sesebuah negara bertepatan dengan asas-asas agama bagi menjamin pencapaian kemaslahatan kepada manusia, menunaikan segala keperluan mereka dan menjauhkan mereka daripada kemudaratan dunia dan akhirat.

Corak pemerintahan negara perlu dipandu dengan syariat Islam. Ahli politik harus memahami bahawa agama Islam adalah pegangan majoriti penduduk di negara ini dan setiap rakyatnya juga dipandu dengan semangat Rukun Negara yang menekankan aspek kerohanian. Maka agak jangal sekiranya negara ini diurus-tadbir mengikut pandangan sekularisme. Sudah tentu akan berlaku banyak konflik dalam kalangan rakyat sekiranya rujukan Islam dipinggirkan. Oleh sebab itu, keharmonian dalam negara perlu dijaga dengan tidak membakar sentimen agama yang boleh menyebabkan pergaduhan dan perpecahan. 

kenapa pemimpin harus Amanah ?

lihatlah kawan banyak calon pemimpin berebut mengejar jabatan tanpa mengetahui siapa sebenarnya dirinya, bagaimana kemampuannya, dan layakkah dirinya memegang jabatan (kepemimpinan) tersebut. Parahnya lagi, mereka kurang (tidak) memiliki pemahaman yang benar tentang hakikat kepemimpinan itu sendiri. Karena menganggap jabatan adalah keistimewaan, fasilitas, kewenangan tanpa batas, kebanggaan dan popularitas. Padahal jabatan adalah tanggung jawab, pengorbanan, pelayanan, dan keteladanan yang dilihat dan dinilai banyak orang.

Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.

Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: “Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)”.(H. R. Muslim). Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: “Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. “Maka jawab Rasulullah saw: “Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu”.(H. R. Bukhari Muslim).

Amanah berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya yang wajar, seperti sesuatu kedudukan tidak diberikan kecuali kepada orang yang betul-betul berhak dan yang betul-betul mampu menunaikan tugas dan kewajipannya dengan benar.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah SAW  membaca ayat ini: “Yang bermaksud: ‘Pada hari itu bumi menceritakan beritanya’. Kemudian baginda bertanya:” Adakah kamu tahu apakah yang akan diberitahu oleh bumi itu nanti?”
Para sahabat menjawab:” Allah SWT. dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”Baginda SAW. bersabda: “Sesungguhnya berita yang akan disampaikan oleh bumi ialah bumi menjadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, sama ada lelaki ataupun perempuan terhadap apa yang mereka lakukan di atasnya.” Bumi akan berkata: ‘Dia telah melakukan itu dan ini pada hari itu dan ini’. Itulah berita yang akan diberitahu oleh bumi.” (Hadis riwayat Imam Tirmizi).

bagaimana jika pemimpin itu tidak Adil ?

kepemimpinan menuntut keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang. Lihat Q. S. Shad (38): 22, “Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu”.

itu juga bertepatan dengan peringatan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW yang bermaksud “Apabila dikhianati amanah maka tunggulah kiamat. Lalu ditanya, ‘wahai Rasulullah bagaimanakah mengkhianatinya?’, sabda baginda: Apabila diserahkan kepimpinan bukan kepada ahlinya maka tunggulah kiamat”. Pemimpin yang dilantik hendaklah meletakkan tanggungjawab menegakkan keadilan sebagai agenda utama dalam hidup mereka.

Sahabatku semua yang dicintai Allah.

pada zaman sahabat, mereka saling bertolak-tolakan untuk menjadi pemimpin. Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena Umar adalah seorang yang kuat. Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan keutamaan yang ada padamu. Lalu Umar membai’ah Abu Bakar dan diikuti oleh sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan Anshor.

Dari dialog ini dapat kita pahami bahwa generasi awal Islam, yang terbaik itu, memandang jabatan seperti momok yang menakutkan. Mereka berusaha untuk menghindarinya selama masih mungkin. Tapi di zaman ini, keadaannya sudah berubah jauh. Orang saling berlomba untuk menjadi pemimpin. Jabatan sudah menjadi tujuan hidup orang banyak. Semua tokoh yang sedang bertarung mengatakan, jika diminta oleh rakyat, saya siap maju. Inilah basa basi mereka. Entah rakyat mana yang meminta dia maju jadi pemimpin. Sebuah kedustaan yang dipakai untuk menutupi ambisi menjadi pemimpin.

Realitas pemilu bukan lagi menjadi ajang adu program, akan tetapi merekalah yang sering tampil dan ‘pasang muka’ di tengah masyarakat yang akan mendulang suara tinggi, bukan yang kuat secara program, tetapi yang kuat secara financial. Sebagian masyarakat lebih mengedepankan emosional ketimbang rasionalitas. maka jangan heran jika banyak wajah-wajah bermuka manis banyak bertebaran dijalan-jalan, dimedia-media sebagai upaya pengenalan diri “pasang muka” ditengah masyarakat.

Keberatan para Sahabat dulu untuk menjadi pemimpin, dikarenakan mereka mengetahui konsekuensi dan resiko menjadi pemimpin. Mereka mendengar hadits-hadits Nabi Saw tentang tanggung jawab pemimpin di dunia dan di akhirat. “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya…”.

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).

bagaimana kriteria pemimpin yang baik ?

Para pakar telah lama menelusuri Al-Quran dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).

Di dalam Al-Quran juga dijumpai beberapa ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya terdapat dalam surat As-Sajdah (32): 24 dan Al-Anbiyaà (21): 73.
Sifat-sifat dimaksud adalah:
(1). Kesabaran dan ketabahan. “Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah”. Lihat Q. S. As-Sajdah (32): 24. Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat adanya sifat (kesabaran) tersebut.
(2). Mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya sesuai dengan petunjuk Allah swt. Lihat Q. S. Al-Anbiyaà (21): 73, “Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami”. Pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya.
(3). Telah membudaya pada diri mereka kebajikan. Lihat Q. S. Al-Anbiyaâ (21): 73, “Dan Kami wahyukan kepada mereka (pemimpin) untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat”. Hal ini dapat tercapai (mengantarkan umat kepada kebahagiaan) apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka.

Kaum muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasulullah saw dilarang keras untuk memilih pemimpin yang tidak memiliki kepedulian dengan urusan-urusan agama (akidahnya lemah) atau seseorang yang menjadikan agama sebagai bahan permainan/kepentingan tertentu. Sebab pertanggungjawaban atas pengangkatan seseorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya (masyarakat tersebut). Dengan kata lain masyarakat harus selektif dalam memilih pemimpin dan hasil pilihan mereka adalah “cerminan” siapa mereka. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw yang berbunyi: “Sebagaimana keadaan kalian, demikian terangkat pemimpin kalian”.

Di antara tanggunjawab seorang pemimpin adalah seperti berikut; 

1. Berlaku adil dan memelihara keadilan sesama manusia,
2. Bermusyawarah untuk mendapatkan jalan terbaik menyelesaikan sesuatu masalah itu,
3. Memelihara hak-hak persamaan manusia,
4. Membawa rahmat kepada manusia,
5. Melarang melakukan kemusnahan,
6. Menunaikan amanah dan janji,
7. Menjaga asas-asas hubungan luar negara.

apa saja kompetensi yang wajib dimiliki seorang pemimpin ?

Adapun ukuran atau kriteria umum tentang kesanggupan, kompetensi, dan kredibilitis kepemimpinan itu adalah kualifikasi dan syarat-syarat yang tersurat di dalam Surah At-Taubah ayat 71 di atas sebagai berikut:

Pertama, beriman kepada Allah dengan pengamalan agama yang kuat dan mantap sebagaimana pesan Allah kepada Nabi Yahya AS sebagai berikut, “Wahai Yahya, ambillah dan pelajarilah Kitab itu dengan kuat yakni dengan sungguh-sungguh”. (QS Maryam (19): 12).

Indikasi atau tanda-tanda pengamalan agama yang kuat dan mantap itu adalah: (1) Beragama dengan dukungan ilmu sehingga beragama itu diperkuat dengan akal budi, nalar dan logika; tetapi akal budi, nalar dan logika itu bukan segalanya dalam beragama. Hal ini, —akal budi, nalar, logika, ilmu dan teori— hanya diperlukan untuk memantapkan kita dalam mengamalkan agama.

(2) Meresapkan ajaran agama itu ke dalam hati sehingga beragama itu dengan akal sehat, rasa dan nurani yang jernih dan bersih. Singkatnya, seseorang dikatakan kuat beragama, apabila ia mengamalkan agama itu dengan akal dan hati yang bersih.

(3) Beragama itu dengan akar yang terhujam kuat ke dalam lubuk hati sehingga tidak mudah goyah, karena didukung oleh kekuatan akal sehat dan nurani yang bersih. Tiga penyangga agama ini adalah ilmu, nurani, dan lubuk hati yang kuat. Tiga penyangga agama ini akan memperkuat pengamalan agama dengan mustaqim atau istiqamah yang secara kebahasaan berarti lurus pada bidang yang datar, tegak pada bidang yang berdiri, dan tetap, baik ketika datar (horizontal) maupun ketika tegak (vertikal). Sebab istiqamah mengandung tiga dimensi lurus, tegak dan tetap.

(4) Beragama itu tidak berhenti pada ilmu, konsep, teori dan logika; tetapi juga turun ke dalam rasa, nurani dan emosi; mengakar di dalam lubuk hati; serta berbuah dalam sikap, persepsi dan aksi dalam bentuk amal saleh, baik kesalehan individu maupun kesalehan sosial.

Kedua, memiliki kemampuan untuk mendorong, memotivasi, menggerakkan dan bekerja sama dengan berbagai komponen ummat sehingga potensi ummat yang tercecer dan berserakan itu bisa disatukan menjadi kekuatan yang terpadu secara simponi dengan menyamakan persepsi, visi dan misi sehingga langkah itu terfokus menuju ke arah yang dituju. Hal ini merupakan uraian lebih rinci dari pendapat Prof Muhammad Ali As-Shabuni bahwa ayat yang berbunyi: Mereka, kaum laki-laki yang beriman dan kaum perempuan yang beriman itu, adalah saudara (mitra sejajar) dalam agama. Mereka, satu sama lain saling membantu dan saling menguatkan) sebagaimana disebutkan di atas.

Ketiga, arah dan langkah kepemimpinan itu jelas dan fokus, serta terukur dengan sistematis, bermuara pada perbaikan kualitas moral dan mental ummat; serta menjauhkan ummat dari berbagai penyakit masyarakat (patalogi social) seperti minuman keras, perjudian, perzinahan, perselingkuhan, dan berbuat mesum di tempat umum maupun di tempat yang remang-remang, serta mengikis habis hingga ke akar-akarnya budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Hal ini merupakan perwujudan dari ayat yang berbunyi: Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar) (QS At-Taubah (9): 71).

Keempat, menunjukkan kesalehan individu dengan istiqamah, terutama dalam melaksanakan salat lima waktu. Sebab keharusan seorang Muslim memperhatikan salat wajib merupakan pesan Al Qur’an yang sangat penting sebagaimana tersurat pada ayat Al Qur’an yang berikut. “Peliharalah semua salat dan salat wustha. Dan laksanakanlah salat karena Allah dengan khusyuk (QS al-Baqarah (2): 238).

Adapun yang dimaksud dengan salat wustha secara kebahasaan adalah salat tengah-tengah; namun yang dimaksudkan dalam hadis Nabi SAW adalah salat ashar. Sebab salat ashar itu merupakan tengah-tengah di antara kelompok shalat siang dan salat malam. Kelompok shalat siang itu terdiri atas Shalat dzuhur dan ashar; sedangkan kelompok salat malam itu terdiri dari salat maghrib dan isya.

Bagi seorang pemimpin, tidak cukup dengan hanya melaksnakan salat lima waktu secara istiqamah, tetapi juga dengan salat berjamaah; bahkan mengajak ummat untuk salat berjamaah dan mendukung pendirian masjid yang modern dengan alokasi dana dari pemerintah yang memadai bagi pemberdayaan ummat yang berbasis masjid. Sebab dalam pemberdayaan ummat, masjid merupakan kelembagaan lokal yang cukup efektif untuk menjadi pusat pelayanan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial bagi jamaah masjid yang tergolong dhuafa seperti fakir-miskin, anak yatim, anak telantar, anak jalanan, pengemis dan gelandangan, serta para lansia yang jompo.

Kelima, menunjukkan kesalehan individu dengan istiqamah melalui kedisiplinan diri untuk membayarkan zakat. Kedisiplinan untuk membayarkan zakat merupakan tanda kesalehan individu yang pokok bagi seorang pemimpin; namun bagi seorang pemimpin tidak cukup dengan hanya patuh membayarkan zakat bagi dirinya sendiri. Kualifikasi seorang pemimpin, menurut Al-Qur`an, mendorong ummat Muslim untuk membayarkan zakat dan menjadikan zakat sebagai sarana untuk pemberdayaan dhu’afa dalam perjuangan untuk mengentaskan kemiskinan. Lebih-lebih setelah diterbitkannya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat dengan berdirinya Badan Amil Zakat pada setiap tingkatan pemerintahan sejak pemerintah pusat hingga pemerintahan desa.

Keenam, senantiasa menunjukkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam setiap langkah kepemimpinnya di tengah masyarakat. Pemimpin yang baik, menurut Al Qur’an, bukanlah pemimpin yang hanya bertujuan untuk meraih kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, dan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk mendapatkan kekayaan, akan tetapi pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk meneguhkan dirinya dan mengajak masyarakat yang dipimpinnya mentaati Allah dan Rasul-Nya dengan sebaik mungkin.

Jika keenam persyaratan ini dipenuhi dengan sebaik mungkin, maka Allah akan memberikan rahmat, yaitu kasih sayang yang tiada terhingga bagi masyarakat yang memiliki pemimpin yang berjiwa Islami. Pemimpin yang demikian ini, menurut Al Qur’an, tidak menjadi hak dan monopoli kaum laki-laki saja; tetapi boleh jadi muncul dari kalangan kaum perempuan yang cerdas, shalihah, baik kesalehan individu maupun kesalehan sosial, serta memenuhi kualifikasi kepemimpinan yang baik sebagaimana disebutkan di atas.

sahabatku semua yang dirahmati Allah.

mengakhiri pembahasan kali ini, Marilah kita bermuhasabah dan lihat balik segala amalan kita sebelum ini yang mungkin tanpa kita sedari telah memberi saham kepada pemimpin untuk berbuat tidak baik, kenapa bisa begitu ?? semua yang berebut mencalonkan diri menduduki jabatan mengklaim bahwa ia lebih baik dari yang sedang memimpin.padahal tidak ada yang dapat memberi jaminan bahwa jika ia memimpin, keadaan akan menjadi lebih baik Bahkan rata-rata orang pandai berteriak sebelum menjadi pemimpin, tetapi setelah masuk ke dalam sistem, mereka tak bisa berbuat banyak. Akhirnya mengikuti gaya orang sekuler. Yang mencoba bertahan dengan idealisme, mendapat serangan dan kecaman dari berbagai pihak, lalu akhirnya menyerah kepada keadaan.  Kemudian merekapun menyiapkan alasan-alasan pembelaan; antara lain, merubah sesuatu tak bisa sekejap mata, tetapi harus bertahap, menilai sesuatu tak boleh hitam-putih, apa yang ada sekarang sudah lebih baik dari masa sebelumnya.
Keadaan seperti ini semakin memperkuat keyakinan sebagian orang, bahwa memperbaiki sistem tidak harus masuk terjun ke dalam sistem itu. Bahkan tak mungkin melakukan perubahan selama kita ada di dalam. Sebuah logika terbalik dari slogan yang digembar gemborkan pihak lain, yang kalau mau merubah sistem, harus terjun ke dalam sistem itu. Ternyata kebanyakan yang pernah terjun ke dalam sistem, tidak mampu merubah kerusakan yang ada. Bukan sekedar tak mampu membersihkan, justru ikut terkena kotoran, betul tidak kawan ?

sahabatku, Sesungguhnya Dalam proses pengangkatan seseorang sebagai pemimpin terdapat keterlibatan pihak lain selain Allah, yaitu masyarakat. Karena yang memilih pemimpin adalah masyarakat. Konsekwensinya masyarakat harus mentaati pemimpin mereka, mencintai, menyenangi, atau sekurangnya tidak membenci. karena semua akan kembali kepada yang memilih, jika engkau dulu memilih yang tidak baik, maka salahkan dirimu sendiri dulu yang tidak hati-hati dalam memilih seorang pemimpin. betul tidak kawan.? Sebab memilih pemimpin dengan baik dan benar adalah sama pentingnya dengan menjadi pemimpin yang baik dan benar.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَدْلِ فِيْ رَعَايَاهُمْ وَالرِّفْقِ بِهِمْ وَالاِعْتِنَاءِ بِمَصَالِحِهِمْ وَحَبِّبْهُمْ إِلَى الرَّعِيَّةِ وَحَبِّبِ الرَّعِيَّةَ إِلَيْهِمْ.
Ya Allah, perbaikilah (akhlaq) para pemimpin kaum muslimin, bimbinglah mereka dalam menegakkan keadilan, menyayangi, dan memperhatikan kepentingan rakyat.Tumbuhkan kecintaan rakyat kepada mereka dan kecintaan mereka kepada rakyat.

ya Allah hadirkan untuk kami pemimpin yang sangat  takut kepada-Mu dan mengajak kami takut kepada-Mu….. Aamiin”

disarikan dari berbagai sumber
semoga bermanfaat.

Iklan