fakultas teknik unisma santunan anak yatimBismillahirahmanirahim.

sahabatku semua yang dirahmati Allah, momen 10 Muharam hari Asyuro akan terasa biasa saja bagi kita, namun 10 muharam pernah menjadi hari yang begitu special bagi saya, kenapa bisa begitu ?  menjelang subuh tahun 1998 bocah lelaki kecil dibangunkan ibunya dari tidurnya dipakaian kemeja, sarung, peci, begitu nurut saja. sekelilingnya banyak orang melantunkan ayat-ayat suci alquran menggema menyelimuti seluruh rumahnya, bocah lelaki yang polos itu bertanya-tanya dalam hatinya, ada apa gerangan yang terjadi ? dia lihat ayahnya, tertidur pulas diatas ranjang yang terbuat dari kayu, ditutupi kain tubuhnya, hidungnya ditutupi kapas, dibiarkan mukanya terlihat oleh orang-orang yang ingin melihatnya, bocah kecil itu semakin tak tahu apa yang tengah terjadi, disekitarnya banyak yang menangis, banyak yang mondar mandir kesana kemari, ibunya berkata kepadanya “Bapak sedang ngaji” meski tidak paham maksud yang dibicarakan ibunya itu, bocah kecil itu seperti tidak menyadari telah terjadi apa-apa, akhirnya ikutlah ia membaca surat-surat alquran mengikuti orang yang hadir pada saat itu, ya bocah kecil itu adalah diriku yang lambat laun menyadari bahwa hari itu Allah memanggil ayahnya untuk kembali kehadiratnya…. untuk ayahku lahumul fatehah…..

sahabatku semua yang dirahmati Allah, dijelaskan dalam kitab ihya ulumudin Bab 60  keutamaan hari asyuro ini telah datang beberapa atsar yang banyak, diantaranya ialah bahwa nabi adam diterima taubatnya pada hari itu, penciptaan adam juga didalam hari itu, didalamnya juga adam dimasukkan syurga. dalam hari itu Arsy diciptakan demikian pula kursi, langit, bumi, matahari, bulan-bulan, bintang dan juga syurga. nabi Ibrahim Al Khalil dilahirkan dalam hari itu, keselamatanya dari api juga pada hari itu. demikian pula keselamatan nabi musa dan orang-orang yang menyertainya, ditenggelamkan firaun dan orang orang yang mengikutinya pada hari itu juga. dalam hari itu nabi Isa AS dilahirkan serta pada hari itu juga diangkatlah beliau ke langit. Dalam hari itu Nabi Idris diangkat kepada kedudukan yang tinggi, dalam hari itu juga mendaratlah bahtera nabi NUH  di Judy, dalam hari itu juga Nabi Sulaiman diberi kekuasan yang besar. Dalam hari itu nabi Yunus dikeluarkam dari perut ikan, dalam hari itu Nabi Ya’qub dikembalikan, dalam hari itu juga nabi yusuf dikeluarkan dari sumur, dalam hari itu dihilangkan penderitaan nabi Ayyub dan hari itu juga pertama kalinya hujan turun ke Bumi. mahasuci Allah yang dengan kuasanya mengkususkan hari Asyuro dengan kejadian-kejadian hebat sepanjang masa untuk dapat diambil hikmah yang banyak darinya.

 

sahabatku, mari kita menyimak kisah dizaman rosulullah semoga dapat diambil manfaatnya..

Usai menunaikan salat Id dan bersalaman dengan para jamaah, Rasulullah SAW segera pulang. Di jalan pulang, dilihatnya anak-anak sedang bermain di halaman rumah penduduk. Mereka tampak riang gembira menyambut hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Pakaian mereka pun baru. Rasulullah SAW mengucap salam kepada mereka, dan serentak mereka langsung mengerubuti Rasul SAW untuk bersalaman.

Sementara itu, tak jauh dari sana, di pojok halaman yang tak terlampau luas, tampak seorang anak kecil duduk sendirian sambil menahan tangis. Matanya lebam oleh air mata, tangisnya sesenggukan. Ia mengenakan pakaian bekas yang sudah sangat kotor penuh tambalan di sana-sini. Compang-camping.

Melihat anak kecil yang tampak tak terurus itu, Rasulullah SAW segera bergegas menghampirinya. Dengan nada suara pelan penuh kebapakan, Rasulullah SAW bersabda, ”Hai anak kecil, mengapa engkau menangis, tidak bermain bersama teman-temanmu?” Rupanya anak itu belum tahu bahwa yang menyapanya adalah Rasulullah SAW.

Dengan ekspresi wajah tanpa dosa, ia menjawab sambil menangis, ”Wahai laki-laki, ayahku telah meninggal dunia di hadapan Rasulullah SAW dalam sebuah peperangan. Lalu ibuku menikah lagi dan merebut semua harta warisan. Ayah tiriku sangat kejam. Ia mengusirku dari rumah. Sekarang aku kelaparan, tidak punya makanan, minuman, pakaian, dan rumah. Dan hari ini aku melihat teman-teman berbahagia, karena semua mempunyai ayah. Aku teringat musibah yang menimpa Ayah. Oleh karena itu, aku menangis.”

Seketika Rasulullah SAW tak kuasa menahan haru mendengar cerita sedih itu. Bulir-bulir air matanya membasahi mukanya yang suci dan putih bersih penuh kelembutan itu. Maka Rasulullah SAW pun lalu memeluknya, tanpa memedulikan bau dan kotornya pakaian anak itu, sambil mengusap-usap dan menciumi ubun-ubun kepalanya.

Lalu sabda Rasul, ”Hai anak kecil, maukah engkau sebut aku sebagai ayah, dan Aisyah sebagai ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husein sebagai saudara laki-lakimu, Fatimah sebagai saudara perempuanmu?” Seketika raut wajah anak itu berubah cerah. Meski agak kaget, ia tampak sangat bahagia.”Mengapa aku tidak mau, ya Rasulullah?”

Rasulullah SAW pun lalu membawanya pulang. Disuruhnya anak itu mandi, lalu diberikannya pakaian yang bagus dengan minyak wangi harum. Setelah itu, Rasulullah mengajaknya makan bersama. Lambat laun, kesedihan anak itu berubah menjadi kebahagiaan. Dan tak lama kemudian ia keluar dari rumah Rasul sembari tertawa-tawa gembira. Dan ia pun bermain bersama teman-teman sebayanya.

”Sebelumnya kamu selalu menangis. Mengapa sekarang kamu sangat gembira?” tanya teman-temannya.

Dengan gembira anak itu menjawab, “Aku semula lapar, tapi sekarang sudah kenyang, dan sekarang berpakaian bagus. Sebelumnya aku yatim, sekarang Rasulullah adalah ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah saudara perempuanku. Nah, bagaimana aku tidak bergembira?”

”Seandainya ayah kami gugur di jalan Allah dalam peperangan itu, niscaya kami menjadi seperti dia,” kata beberapa kawannya.

Namun, kebahagiaan anak yatim itu tidak berlangsung lama. Tak lama berselang beberapa waktu setelah menunaikan haji wada, tepatnya pada hari Senin 12 Rabiul wwal 11 H (633 M) Rasulullah SAW wafat.

“Sekarang aku menjadi anak yatim lagi,” katanya ambil keluar dari rumah Rasulullah dan menaburkan debu di kepalanya karena merasa sedih. Kata-kata anak itu kebetulan terdengar oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang berada tak jauh dari sana. Maka ia pun lalu ditampung di rumah Abu Bakar.

Demikian sekelumit kisah kecintaan Rasulullah SAW kepada anak yatim di hari raya. Betapa di hari yang penuh kemenangan itu, hari raya menjadi hari yang menyedihkan – sementara nasib mereka banyak yang luput dari perhatian. Anak-anak yatim adalah makhluk yang senantiasa berpuasa dalam hidupnya, baik dalam memenuhi kebutuhan jasmani maupun rohani. Jangankan mengenakan pakaian baru, untuk makan sehari-hari saja sulit.

Sungguh, memperlakukan dengan baik dan menyantuni anak yatim pada hari raya – dan tentu hari-hari biasa – merupakan langkah yang mulia dan terpuji. Dalam Islam, mereka yang menyantuni anak yatim niscaya mendapat penghargaan yang sangat tinggi.

Sabda Rasul, ”Barang siapa menyantuni anak yatim, dia berada di surga bersamaku seperti ini (Rasulullah mempersandingkan jari telunjuk beliau dengan dan jari tengah).” Maksudnya, hidup berdampingan dengan Rasulullah SAW di surga…

sahabatku semua yang dirahmati Allah

Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw mengatakan “Aku dan orang memelihara anak yatim piatu seperti ini” sambil mengangkat dua jari, telunjuk dan jari tengah bersamaan. Terlebih saat mengetahui bahwa kata “Yatim” disebutkan dalam Al Quran sebanyak 23 kali. diantaranya adalah surat Al-An’am ayat 152, Al Isra ayat 34, Al-Fajr ayat 17, Ad-Dhuha ayat 6 dan 9, Al ma’un ayat 2, Al-Insan ayat 8, Al-Balad ayat 15, Al-Khafi ayat 82, Al-baqarah ayat 83,177,215, dan 220, An-Nisa ayat 2, 3, 6, 8, 10, 36, dan 127, Al-Anfal ayat 41, dan Al- Hasyr ayat 7. berarti dalam kata lain Alquran begitu memberi penekanan khusus pada kata itu. Islam telah mendorong pemeluknya agar memiliki akhlak mulia. Salah satu akhlak mulia itu adalah menyantuni anak yatim. Sesungguhnya, anak yatim adalah manusia yang paling membutuhkan pertolongan dan kasih sayang. Karena ia adalah anak yang kehilangan ayahnya pada saat ia sangat membutuhkannya. Ia membutuhkan pertolongan dan kasih sayang kita, karena ia tidak mungkin mendapatkan kasih sayang ayahnya yang telah tiada.

Jika kita mengeluhkan hati kita yang keras, maka menyantuni anak yatim merupakan sarana yang bisa menjadikan hati lunak. Ia adalah obat yang diwasiatkan oleh Rasulullah yang telah diutus dengan membawa petunjuk dengan kebenaran.

Diriwayatkan oleh Abu Darda’ yang berkata: “Ada seorang laki-laki yang datang kepada nabi mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabipun bertanya: sukakah kamu, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” [HR. Thabrani, Targhib, Al Albaniy: 254].

banyak sekali hadis yang menyatakan betapa mulianya orang yang mau memelihara anak yatim atau menyantuninya. Sayang, anjuran Beliau itu sampai kini belum begitu mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat. Hanya sebagian kecil saja umat Islam yang mau memperhatikan anjuran itu. Hal ini semestinya tidak layak dilakukan umat Islam yang inti ajarannya banyak menganjurkan saling tolong sesama umat Islam dan bahkan selain umat Islam.

Allah berfirman yang artinya, “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa besar (An-Nisaa:2).

Salah satu masalah utama yang dicela adalah tidak peduli terhadap anak yatim dan tidak memuliakannya.Allah berfirman;
Tidak sekali-kali, bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim.” (QS Al Fajr, 89:17). Anak-anak yatim merupakan salah satu pos untuk kepedulian dan kebaikan yang diperintahkan oleh Allah Swt. Ibnu Katsir memahami ayat ini sebagai perintah dari Allah Swt. untuk memuliakan anak yatim walaupun pernyataan firman-Nya sendiri dengan kalimat negasi dan pengingkaran. (tafsir Ibnu Katsir: 4/473).Ismail bin Abdurrahman berkata, “Pemakan harta anak yatim dengan lalim itu besok di hari kiamat akan dikumpulkan dan di waktu itu keluarlah api yang menyala-nyala dari mulutnya, telinganya dan matanya sehingga semua orang mengenalnya bahwa ia sebagai pemakan harta anak yatim.Islam yang agung dan universal menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat tinggi. Islam mengajarkan untuk menyayangi mereka dan  melarang melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyinggung perasaan mereka. betapa perhatian Nabi s.a.w. sangat besar sekali terhadap yatim piatu. Beliau prihatin, melindungi, dan menjamin keperluan hidup mereka, dan selalu dipesankan dan dianjurkan kepada umatnya dalam tiap keadaan. “Aku dan pemelihara anak yatim, akan berada di surga kelak“, sambil mengisyaratkan dan mensejajarkan kedua jari tengah dan telunjuknya. (H.R. Bukhari) Dalam hadis yang lain baginda s.a.w. bersabda “Sebaik-baik rumah tangga muslim ialah yang di dalamnya ada anak yatim yang dilayani dengan baik” (H.R. Ibnu Majah)

Berbuat baik terhadap anak yatim/piatu bukanlah sekadar turut membantu menyelesaikan lapar dan dahaga sosialnya. Tetapi, di sisi lain perbuatan itu merasuk ke dalam batin, menenteramkan hati, dan mendamaikan perasaan orang yang memberi perhatian kepada mereka.Anak yatim yang ditinggal wafat oleh ayahnya dan yatim piatu yang ditinggalkan ayah-ibunya, mendambakan belaian dan kasih sayang dari orang lain. Baik keluarga terdekat maupun dari yang lainnya. Orang yang menenangkan hati dan perasaan anak yatim, ia pun akan memperoleh balasan seperti itu pula, yakni ketenangan batin.

Allah akan memberi naungan bagi ahli sedekah, dan akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. Yakinlah bahwa menyantuni anak-anak yatim dan mengasihi fakir miskin secara ikhlas pasti akan membawa berkah bagi kita. Rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diasuh dengan baik, Rasulullah mengatakan bahwa itulah sebaik-baik rumah kaum muslimin. Betapa keutamaan ini merupakan tambang yang amat besar untuk dijadikan sarana pencari mutiara surga. Jika kita ikhlas karena Allah, hanya dengan mengusap kepala anak yatim pun, kita akan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT sebanyak rambut yang kita usap di kepalanya.Oleh sebab itu, alangkah rugi dan besarnya dosa kita jika membiarkan anak anak-anak yatim terlantar. semoga dengan mengasihi dan menyanyangi anak yatim Allah memberikan keberkahan kepada hidup kita, mengalir dan dekat dengan rahmat serta ampunan Allah. Sehingga dengannya, kita menjadi orang yang istiqamah, terhindar dari sifat kikir, bertumbuhkembangnya kemurahan hati, mendapatkan kemudahan dari Allah dalam setiap urusan, menjadi penunai hak sesama muslim, dan menjadi pelaksana wasiat Rasulullah saw.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim.” (al-Ma’un:2)

Wahai semua kawan Atasmu kewajiban Menyantuni mereka Dan mengasihinya

Sungguh engkau manusia Yang tiada beriman Bila pada mereka Tak belas kasihan

Wahai para hartawan Coba ulurkan tangan Tuk membantu mereka Dalam kehidupan

Sungguh engkau manusia Mendustakan agama Apabila mereka Engkau sia-sia

“siapa yang cinta kepada anak yatim, Allah pun akan mencintainya, para nabi memujinya dan syurga menanti-nanti kehadirannya…”

semoga bermanfaat.

Iklan