Ibnu_taimiyahbismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, beberapa hari ini ada seorang sahabat yang bertanya kepada saya tentang pengajian yang dipimpin seorang ustadz jebolan salah satu universitas di madinah, setiap pengajian merujuknya pada syech syech itu saja yang kita tahu persis merujuk pada pemahaman syaih nya wahabi, sehingga bisa dipastikan ujungnya akan membahas masalah syirik, kafir, bid’ah dan yang melingkupi itu semua, terlepas dari itu semua jika ditarik sampai ujung maka akan ketemu syech nya (ulamanya) yang mengisnspirasi/panutan syech -syech wahabi yang disebutkan sahabatku itu maka kiranya dialog dibawah ini sangat dianjurkan kamu baca.

tulisan dibawah ini saya ambil dari tulisan gus imad syauqie di beranda facebooknya, kiranya dapat menjadi manfaat maka bacalah dengan penuh penghayatan.

DIALOG IMAM IBNU TAIMIYYAH AL-HARRONI DENGAN IMAM IBNU ATHOILLAH AS-SAKANDARY DI MASJID AL-AZHAR, MESIR.

Tulisan ini saya sadur dari majalah Cahaya Sufi, edisi 81, terbitan tahun 2012, pimpinan DR. KH. Muhammad Luqman Hakim MA, beliau adalah murid thoriqoh dari Al-Mursyid Al-Kamil Mukammil Al-Arifubillah Hadrotus Syaikh Abdul Djalil Mustaqiem, pengasuh Pon-Pes PETA ( PEsulukan Tarekat Agung, TulungAgung, Jawa Timur ) yang telah diterjemahkan oleh tim penerbit dari kitab ” ابن تيمية، الفقيه المعذب ” ( Ibnu Taimiyah, Faqih yang tersiksa ) karya penulis Mesir, Syaikh Abdurrohman Asy-Syarqowi.

Inilah barangkali percakapan yang cukup menarik dan patut ditampilkan antara dua orang cendekiawan terkemuka dalam sejarah Islam. Yang pertama adalah Imam Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah Al-Haroni, seorang faqih ( Ahli Fiqh ) ternama dari Madzhab Hanbali, yang pendapatnya banyak di ikuti banyak orang. Dan yang kedua adalah Imam Ahmad Ibnu Athoillah As-Sakandary Al-Mishry, seorang Sufi besar, penyair ulung, yang bahasa sufistiknya banyak menjadi pijakan para pelaku tarekat zaman sekarang, yang banyak pengikutnya dan seorang Guru Besar di Al-Azhar. Dua orang pakar dan budayawan yang sezaman dan hampir bersamaan usianya. Yang pertama Imam Ibnu Taimiyah dilahirkan tahun 660 H dikota Harran, Syria dan wafat tahun 728 H. Dan yang kedua Imam Ibnu Athoillah yang dilahirkan tahun 658 H dikota Al-Iskandariyah ( Alexandria ), Mesir, dan wafat tahun 709 H.

Juga disebutkan dalam sejarah, bahwa yang pertama ( Ibnu Taimiyyah ) adalah “ musuh bebuyutan “ para sufi, dan yang kedua ( Imam Ibnu Athoillah ) adalah juru bicara para sufi waktu itu. Maka tak ayal lagi bahwa keduanya merupakan dua tokoh yang saling bertentangan satu sama lain, sebagaimana akan kita lihat dalam tulisan berikut ini.
Kita tahu bahwa Imam Ibnu Taimiyyah, sang faqih ini selalu dikenal sebagai pengecam para sufi. Kecaman-2nya yang sangat amat pedas itu dituliskan dalam beberapa risalahnya, bahkan permusuhannya terhadap para sufi ( menurut beberapa pengamat ) kadang-2 terlalu berlebihan. Namun sebenarnya juga beliau mengakui, bahwa para sufi abad-2 pertama lahirnya tasawwuf tak lain adalah para mujahid dan pejuang dijalan Alloh, dan mereka tidak melakukan sesuatu yang keluar dari Al-Quran dan As-Sunnah. Jadi sebenarnya ia tak menolak tasawwuf itu sendiri, hanya saja para sufi dizamannya ( menurut Ibnu Taimiyyah ) telah banyak menyimpang. Oleh karena itu, kata-2 seperti Bid’ah dan Syirik sudah biasa ia lontarkan pada mereka para sufi. Bahkan tuduhan seperti ( bahwa sufi ) sudah keluar dari Islam dan semacam itu telah ia lemparkan pula kepada tokoh-2 seperti Al-Hallaj, Abu Yazid Al-Busthami, Ibnu Arobi, Ibnu Faridh, At-Tilmitsani dan lain sebagainya. Mereka semua ini menurut Ibnu Taimiyyah disebut sebagai orang-2 yang punya pandangan Wahdatul Wujud, Hulul, dan Ittihad. Namun anehnya, tuduhan-2 yang sama juga ia kenakan kepada tokoh-2 seperti Imam Abul Hasan As-Syadzili dan sebagian muridnya, meskipun mereka ini jauh dari pandangan Wahadatul Wujud, Hulul, dan Ittihad sebagaimana tadi.

Begitulah, pada suatu hari diawal-awal tahun 700 H Ibnu Taimiyah berkunjung ke Mesir. Sebagaimana ditempat asalnya di Damaskus, di Kairo pun Ibnu Taimiyah terus melancarkan kecaman dan kritik pedasnya terhadap para sufi. Orang Mesir pun mulai resah dan gelisah. Sejumlah orang mengadu kepada sang penguasa agar Ibnu Taimiyah disuruh pulang saja kembali ke tempat asalnya Damaskus atau kota Alexandria, atau kalau tidak dipenjarakan saja. Ia telah membuat keretakan dan keresahan dalam masyarakat Mesir dan Ibnu Taimiyah memilih ditahan. Namun pengikut-2 beliau menyarankan agar beliau ke kota Alexandria saja. Tak lama setelah mereka di Alexandria, mereka dipanggil lagi oleh penguasa baru di Kairo.
Sore itu, setibanya dikota Kairo, Ibnu Taimiyah sholat Maghrib di Masjid Al-Azhar. Selesai sholat beliau baru tahu kalau Imam Ibnu Athoillah telah bermakmum dibelakangnya. Maka terjadilah percakapan antara kedua orang penting dan besar itu.

IBNU ATHOILLAH : ” Saya biasa sholat Maghrib di Masjid Al-Husein dan sholat Isya’ di sini. hmm..lihatlah takdir Alloh. Saya ditakdirkan untuk menjadi orang yang pertama kali bertemu anda. ( Apakah ) anda menyalahkan saya hai Faqih..?”

IBNU TAIMIYAH : ” Saya tahu bahwa anda tidak bermaksud menyakiti saya, yang terjadi hanyalah perbedaan pendapat. Hanya saja orang-orang yang memang sengaja menyakiti saya, sejak hari ini telah lepas dari diri saya.”

IBNU ATHOILLAH : “Apa yang anda ketahui tentang diri saya, wahai Syaikh Ibnu Taimiyah ?”

IBNU TAIMIYAH : ” Saya tahu bahwa anda seorang yang Wara’, banyak ilmu, cerdas dan jujur. Saya bersaksi bahwa tidak pernah saya melihat di Mesir maupun di Syam seorang yang seperti anda dalam hal cinta dan fana’ nya kepada Alloh, dan dalam hal ketaatannya terhadap perintah dan laranganNya. Namun bagaimanapun, terjadi perbedaan pendapat. Dan apa yang anda ketahui tentang diri saya, sampai anda menuduh saya sesat karena mengingkari Istighotsah kepada selain Alloh ?”

IBNU ATHOILLAH : ” Saya heran kepada anda, wahai Faqih. Anda seorang pendukung Sunnah, hafal dan faham terhadap atsar-atsar, sempurna dalam pemikiran dan pemahaman. Namun anda telah melancarkan ungkapan-2 yang orang-orang dahulu dan sekarang menolak menggunakannya, hingga dalam hal ini anda telah keluar dari Madzhab Imam anda, yaitu Imam Ahmad ibn Hanbal, dan madzhab Imam-imam lainnya.”

IBNU TAIMIYAH : ” Orang yang fanatik terhadap Madzhab tertentu, seperti orang yang kecanduan. Tujuan orang yang fanatik kepada suatu madzhab, agar dengan sendirinya ia bersikap bodoh terhadap ilmu, Agama dan kodrat orang lain. Jadilah ia bersikap dzholim, dan Alloh melarang bersikap bodoh dan dzholim serta memerintahkan ilmu dan keadilan.
Kata Alloh :” Dan manusia itu telah mengembannya ( amanat ), sungguh dia itu dzholim dan bodoh.” Lihat saja Abu Yusuf dan Muhammad ibn Hasan yang mereka berdua itu murid paling setia dan paling tahu tentang pendapat-2 Imam Abu Hanifah. Mereka itu berbeda pendapat dengan Syeikhnya dalam banyak masalah yang hampir tak terhitung jumlahnya, setelah mereka tahu dari Sunnah dan argumen yang kuat, sesuatu yang memang wajib mereka ikuti. Dalam hal ini mereka tetap menjunjung Imam mereka. Dan saya mengatakan apa yang menurut saya memang ada dalilnya, tanpa saya pura-pura dan tanpa saya kira tak seorangpun dari fuqoha’ zaman ini ada yang lebih cinta dan lebih mengikuti langkah Rosululloh daripada saya. Kalau saya tahu ada Hadist Shohih, saya akan mengambilnya dan saya tinggalkan pendapat-2 para Imam. Begitu pulalah mereka menasehati diri mereka sendiri.”

IBNU ATHOILLAH : ” Apa belum tiba waktunya bagi anda wahai Faqih,..untuk mengetahui bahwa Istighotsah itu tak lain adalah Wasilah dan Syafa’ah. Dan bahwa Rosululloh itu dimohonkan kepada beliau istighotsah, wasilah dan syafaah ?”

IBNU TAIMIYAH : ” Dalam hal ini saya mengikuti Sunnah mulia itu. Dalam hadist Shohih dinyatakan : telah sepakat bahwa ayat ” semoga Tuhanmu akan memberimu kedudukan terpuji “, yang di maksud ” kedudukan terpuji ” itu tak lain adalah Syafa’ah. Dan Rosululloh tatkala ibu Amirul Mukminin Ali r.a. meninggal, beliau berdoa kepada Alloh dikuburnya :” Alloh yang menghidupkan dan mematikan, Ia Maha Hidup dan tidak mati. Ampunilah bagi ibuku Fatimah binti Asad, luaskanlah baginya kuburnya, demi Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku. Engkaulah yang Maha Pengasih “. Ini lah Syafa’ah. Adapun istighotsah disitu ada syubhat dan syirik kepada Alloh. Oleh sebab itu dilarang, untuk mencegah perbuatan yang tidak dikehendaki. Kata Alloh : ” Janganlah kamu menyeru bersama Alloh sesuatu yang lain “. Maha Benar Alloh. Dan Rosul menyuruh sepupunya Abdulloh ibnu Abbas agar tidak minta tolong selain Alloh.

IBNU ATHOILLAH : ” Semoga Alloh memperbaikimu hai faqih. Adapun nasehat Rosul kepada Ibnu Abbas adalah agar ia mendekatkan diri kepada Alloh dengan amal perbuatannya, bukan dengan kekerabatannya kepada Rosul. Adapun pemahamanmu bahwa Istighotsah itu adalah permintaan tolong kepada selain Alloh dan itu syirik, maka siapa diantara kaum muslimin yang beriman kepada Alloh dan Rosulnya yang mengira bahwa selain Alloh itu bisa melaksanakan Qada’ dan Qadar, memberi pahala dan siksa ?, ( ketahuilah hai faqih ) itu hanya istilah yang jangan dilihat dari bentuk fisiknya ( tersurat ) saja, dan tak perlu ditakutkan jadi syirik hingga harus dilarang agar tak terjadi suatu yang tak di inginkan.
Setiap orang yang istighotsah kepada Rosul, tak lain adalah minta syafa’ah padanya disisi Alloh, sebagaimana misalnya Anda berkata : ” Makanan ini telah mengenyangkan saya “. Apakah makanan itu yang mengenyangkan Anda, ataukah Alloh yang telah mengenyangkan Anda dengan makanan itu ?
Adapun perkataan Anda bahwa Alloh melarang kita menyeru selain-Nya, apa anda pernah lihat seorang muslim yang menyeru selain Alloh ? Ayat yang Anda baca tadi turun berkenaan dengan kaum musyrikin yang menyeru tuhan mereka selain Alloh. Kalau kaum muslimin istighotsah kepada Nabi Muhammad SAW, tak lain adalah meminta wasilah, apa Anda perhatikan hak beliau disisi Alloh dan meminta syafa’ah yang telah dianugerahkan Alloh kepadanya. Adapun pengharaman Anda atas istighotsah karena menuju pada syirik, bagaikan Anda mengaharamkan buah anggur karena ia menuju pada khamr ( minuman keras ). Atau bagaikan pengebirian kaum lelaki yang tidak kawin karena itu bisa menuju pada zina “.

Kedua Syaikh itu sama-sama tertawa. Dan Imam Ibnu Athoillah kemudian melanjutkan pembicaraannya.

IBNU ATHOILLAH : ” Saya tahu Syaikh Anda Imam Ahmad, dan betapa luas pula cakupan pandangan fiqh Anda. Membendung ke arah yang tak dikehendaki ( saddudz dzari’ah ) dalam madzhab Anda disyaratkan sesuai kondisinya. Yang boleh bisa dilarang apabila mengakibatkan kerusakan yang kebanyakan terjadi, seperti pengharaman penjualan senjata pada zaman dimana banyak fitnah. Atau pengharaman penaikan harga apabila dibayar secara nyicil, karena ditakutkan menuju riba.
Mengambil makna lahir saja kadang-kadang bisa menjerumuskan kita kepada kekeliruan, Hai faqih..! antara lain pendapat Anda tenrang Ibnu Arobi. Ia seorang imam agama yang wara’. Anda memahami tulisan-tulisannya secara lahiriyah saja. Sedangkan para sufi itu mengatakan sesuatu seiring dengan isyarat dan celotehan rohaninya.
Kata-kata mereka sering dimaksudkan yang tersirat, maka orang seperti Anda yang pintar, cerdas dan mengetahui dengan baik ilmu bahasa, hendaknya mencari makna yang tersembunyi dibalik kata-kata yang tersurat.
Makna bagi sufi itu seperti ruh, dan kata-kata itu adalah jasad. Maka carilah dibalik jasad agar Anda menemukan hakikat ruh. Lagi pula vonis Anda terhadap Ibnu Arobi didasarkan atas teks yang sengaja diselipkan oleh musuh-musuhnya. Adapun Syaikhul Islam Izzuddin ibnu Abdissalam setelah memahami tulisan-tulisan Syaikh Ibnu Arobi dan memecahkan simbol-simbol, misteri dan sugestinya, maka beliau segera minta ampun kepada Alloh atas pendapat-2nya sebelum itu, dan menarik kembali ucapan yang pernah dituduhkan kepada Syaikh Ibnu Arobi dan menyatakan bahwa Syaikh Ibnu Arobi adalah seorang imam kaum muslimin.
Adapun perkataan Asy-Syadzili, bahwa bukan Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili sendiri yang mengatakannya, tetapi salah seorang muridnya. Dialah yang berkata tentang Syaikh Ibnu Arobi dan tentang sebagian murid beliau yang memahami kata-kata gurunya secara kurang benar.

Ibnu Athoillah diam sebentar, kemudian bertanya ;

IBNU ATHOILLAH : ” Bagaimana pendapat Anda tentang syaikh Anda, Imam Ahmad ibnu Hanbal r.a ?”

IBNU TAIMIYAH : ” Imam Ahmad seorang yang lebih tahu dari orang lain tentang Quran dan Sunnah, pendapat para sahabat dan tabi’in. Sebab itu hampir tak terdapat dalam pendapat-2nya sesuatu yang bertentangan dengan nash, sebagaimana terdapat pada imam-2 lain. Dan tak terdapat juga pendapat yang lemah, kecuali umumnya pendapat itu bersesuaian dengan pendapat yang lebih kuat. juga pendapat-2nya yang berbeda dengan yang lainnya, ternyata punya beliau lebih unggul, seperti ( pendapat beliau ) tentang penerimaan kesaksian non muslim terhadap kaum muslimin kalau memang diperlukan dan wasiat dalam perjalanan serta masalah-2 lain “.

IBNU ATHOILLAH : ” Bagaimana pendapat Anda tentang amirul mukminin Imam Ali ibnu Abi Thalib ?”

IBNU TAIMIYAH : ” Semoga Alloh ridho dan meridhoinya. Dalam hadist shahih Rosulullah pernah bersabda ” Akulah kota ilmu dan Ali itulah pintunya “. Dialah pejuang yang kalau bertanding dengan siapapun selalu mengalahkannya. Maka ia memberi contoh kepada para Ulama dan Fuqoha berjuang dijalan Alloh dengan lisannya, penanya dan pedangnya sekaligus. Dia—semoga Alloh memuliakan wajahnya— adalah seorang sahabat yang paling andal, kata-katanya merupakan pelita yang kugunakan menerangi hidupku setelah Al-Quran dan Sunnah. Ah, betapa sedikitnya bekal kita dan betapa panjang perjalanan !”.

IBNU ATHOILLAH : ” Apakah amirul mukminin imam Ali r.a akan ditanya nanti, siapa orang-orang yang telah mendukungnya, sampai mereka keterlaluan dan menyatakan bahwa Jibril keliru dan memberikan kerasulan kepada Muhammad sebagai ganti dari Ali ? atau tentang mereka yang mengatakan bahwa Alloh merasuk kedalam tubuhnya, hingga jadilah imam Ali itu Tuhan ? Bukankah kaum muslimin telah menyerang dan memerangi mereka ? Dan bukankah para Ulama telah memfatwakan agar memerangi mereka dimanapun mereka berada ?”.

IBNU TAIMIYAH : ” Dengan fatwa inilah saya telah memerangi mereka dipegunungan Syam sejak sepuluh tahun yang lalu “.

IBNU ATHOILLAH : ” Dan Imam Ahmad bin Hanbal r.a. apakah beliau akan ditanya tentang apa yang diperbuat oleh sementara pengikutnya, seperti penggerebekan rumah-rumah, penumpahan khamr, pemukulan terhadap para penyanyi dan penari, dan pencegatan orang-2 dilorong-lorong dan jalanan atas nama amar makruf nahi munkar ? Apakah beliau ( Imam Ahmad ) berfatwa bahwa mereka itu harus di ta’zir atau dijerakan, dicambuki, dipenjarakan dan diarak terbalik diatas punggung keledai ? Ataukah Imam Ahmad r.a. bertanggung jawab atas perbuatan-2 para awam madzhab Hanbali yang melakukan hal itu sampai sekarangpun atas nama amar makruf nahi munkar ?”.

( komentar saya pribadi : ini adalah pertanyaan telak yang dilontarkan Imam Ibnu Athoillah kepada Imam Ibnu Taimiyah atas tuduhan2nya kepada kaum sufi, terutama tuduhannya kepada Imam Ibnu Arobi )

IBNU TAIMIYAH : ” Syaikh Muhyiddin Ibnu Arobi lepas dari perbuatan para pengikutnya yang menggugurkan kewajiban-2 agama dan melakukan perbuatan-perbuatan haram. Bukankah begitu pendapat Anda ? Namun kemana Anda akan menghindar dari Alloh, sementara diantara kalian ada yang memberikan kabar bahwa Nabi memberikan kabar baik kepada para fakir, dan bahwa mereka masuk surga sebelum orang-orang kaya. Maka para fakir pun berjatuhan karena tertarik oleh Alloh dan mereka pada merobek pakaian mereka. Waktu itulah turun Jibril dan berkata kepada Nabi bahwa Alloh menuntut bagian-Nya dari sobekan itu, maka Jibril membawa salah satu pakaian itu dan menggantungkannya di singgasanaNya. Oleh sebab itu para sufi berpakaian yang ada tambalan-tambalannya dan menyebut diri mereka sebagai para fakir “.

IBNU ATHOILLAH : ” Tidak semua sufi berpakaian begitu. Lihatlah saya yang sedang dihadapan Anda. Ada yang anda tolak dari penampilan saya ?”.

IBNU TAIMIYAH : ” Anda dari orang-orang syari’ah dan mengajar di Al-Azhar “.

IBNU ATHOILLAH : ” Dan Al-Ghozali juga imam syari’ah dan sekaligus imam tasawwuf, ia memasuki hukum-hukum agama dan sunnah-sunnahnya dengan ruh seorang mutashowwif. Dengan metode itulah ia bisa menghidupkan ilmu-ilmu agama. Kami mengajari para sufi bahwa kekotoran itu bukan bagian dari agama, dan bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman, dan bahwa sufi yang benar harus membangun qalbunya dengan iman sebagaimana yang dikenal dalam Ahlu Sunnah.
Sejak abad kedua terakhir ini memang muncul diantara para sufi hal-hal yang anda ingkari itu, dimana sebagian mereka mengentengkan ibadah, puasa dan sholat serta berpacu dalam kealpaan kepada Alloh dengan dalih bahwa mereka telah lepas dari belenggu. Kemudian mereka tidak puas terhadap keburukan-keburukan perbuatan mereka, sampai mereka menunjuk pada hakikat dan ahwal paling tinggi, sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Qusyairi imam sufi agung itu. Maka beliau mengarahkan mereka pada kitabnya Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, menggambarkan jalan sufi kepada Alloh yaitu berpegang pada Al-Quran dan Sunnah.
Para imam sufi menginginkan sampai pada hakikat, tidak dengan dalil rasional yang bisa menerima yang sebaliknya, namun dengan kejernihan qolbu, olah jiwa dan menjauhkan ilusi-ilusi keduniawian, hingga seorang hamba tidak disibukkan oleh selain cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya. Perhatian yang luhur ini menjadikannya seorang hamba yang saleh, layak memakmurkan bumi dan memperbaiki hal-hal yang dirusak oleh ketamakan pada harta dan kegetolan pada gengsi, dan layak berjihad dijalan Alloh “.

IBNU TAIMIYAH : ” Kata-kata tadi tertuju pada Anda, bukan memihak Anda. Al-Qusyairi tatkala melihat pengikutnya sesat, ia bangkit menyadarkan mereka. Namun apa yang dilakukan para syaikh sufi dizaman kita sekarang ini ? Saya hanya menginginkan para sufi melangkah dijalan para salaf yang agung itu, yaitu para zahid sahabat, tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya. Saya menghormati mereka yang berbuat demikian dan menurut saya mereka itu termasuk para imam agama. Adapun membuat-buat dan memasukkan ide-ide animistis dari para filosof Yunani dan Budhisme India, seperti pretensi hulul, ittihad, wahdatul wujud dan yang semacam itu sebagaimana diserukan oleh sahabat Anda ( Ibnu Arobi ), jelas itu merupakan kekafiran yang nyata “.

IBNU ATHOILLAH : ” Ibnu Arobi seorang faqih dhahir terbesar sesudah Ibnu Hazm, Fakih Andalus yang Anda hormati. Namun dalam hakikat ia menempuh jalan bathin, yaitu penyucian perangkat-perangkat bathin. Dan tidak semua ahli bathin itu sama. Agar anda tidak tersesat dan tidak lupa, bacalah kembali Ibnu Arobi dengan pemahaman baru atas simbol-simbol dan sugesti-sugestinya. Anda akan menemukan seperti Al-Qusyairi yang mengambil jalannya kearah tasawuf dibawah naungan Al-Quran dan Sunnah. Ia ( Ibnu Arobi ) juga seperti hujjatul Islam Syaikh Al-Ghozali yang menolak pertengkaran-pertengkaran madzhab dalam ibadah dan aqidah dan menganggapnya sebagai urusan yang tak ada artinya, serta menyerukan agar cinta kepada Alloh itulah yang mendasari jalan pengabdian didalam iman. Ada yang anda ingkari dalam hal ini, Hai faqih ? Ataukah Anda mencintai perdebatan yang mengoyak-oyak ahli fiqh ?
Imam Malik r.a. pernah memberi peringatan terhadap perdebatan dalam aqidah ini, dan kata beliau : ” Setiap ada orang yang lebih pintar dalam berdebat dari yang lainnya, jadi berkuranglah agama “. Dan Al-Ghozali berkata : ” Ketahuilah bahwa yang berjalan menuju Alloh untuk memperoleh kedekatan dari-Nya adalah qalbu, bukan badan. Qalbu yang dimaksudkan bukan gumpalan daging, melainkan salah satu misteri Alloh yang tidak bisa ditangkap oleh indera “. Ahlu Sunnah itulah yang menjuluki Al-Ghozali syaikh para sufi itu dengan gelar Hujjatul Islam, dan tak ada satu kritik pun atas pendapat-pendapatnya. Bahkan ada yang keterlaluan dalam menilai kitab Ihya’ Ulumiddin dan berkata : ” kitab Ihya’ itu hampir saja jadi Al-Quran “.
Adapun pelaksanaan kewajiban-kewajiban agama, menurut Ibnu Arobi dan Ibnu Faridh merupakan ibadah yang mihrabnya adalah bathin, bukan ritus-ritus lahitiyah. Apa artinya berdiri dan duduk Anda dalam sholat, kalau qalbu Anda sibuk dengan selain Alloh ? Alloh telah memuji orang-orang dengan sabdanya : ” Dan mereka yang dalam sholatnya pada khusyuk, ” sebagaimana Dia mencela orang-orang dengan firmanNya : ” Dan mereka yang dalam sholatnya pada lalai “. Itulah yang dimaksud Ibnu Arobi dengan kata-katanya.
” Beribadah itu mihrabnya adalah qalbu “, yaitu yang bathin, bukan yang lahir. Seorang muslim tak akan sampai pada penghayatan ilmul-yaqin dan ainul-yaqin, kecuali setelah mengosongkan qalbunya dari hal-hal yang mericuhnya seperti ketamakan pada kehidupan dunia, dan memusatkan diri pada perenungan bathinnya, hingga dirinya akan terguyur oleh limpahan hakikat. Dari sinilah tumbuh kekuatannya. Maka sufi yang sebenarnya bukanlah bukanlah yang melolongi kekuatannya dan minta-minta kepada orang lain. Melainkan yang benar-benar jujur, memberikan ruh dan qalbunya serta fana’ didalam Alloh dengan mentaati-Nya. Dari sinilah tumbuh kekuatannya dan tiada takut kepada selain Alloh.
Mungkin Ibnu Arobi dimusuhi oleh sementara fuqoha, karena beliau meremehkan perhatian mereka terhadap perdebatan dalam aqidah yang mencemari kejernihan qalbu. Juga pendapat-pendapat beliau tentang cabang-cabang fiqh dan perkiraan-perkiraannya, sampai ia ( Ibnu Arobi ) menjuluki mereka fuqoha haid, dan saya mohon perlindungan Alloh agar Anda tidak termasuk mereka itu. Pernahkah Anda membaca pernyataan Ibnu Arobi : ” Barang siapa yang membangun imannya dengan argumen-argumen dan dalil-dalil, maka imannya tidak bisa dipercaya. Ia bisa terpengaruh oleh bantahan-bantahan orang. Keyakinan itu tidak bisa tumbuh dari dalil-dalil rasional, melainkan ditimba dari kedalaman qalbu “. Pernahkan Anda membaca kata-kata yang jernih dan nyaman itu ?”

( Komentar saya ; disinilah Ibnu Taimiyah tersentak dengan penjelasan Ibnu Athoillah )

IBNU TAIMIYAH : ” Demi Alloh, Anda telah berbuat yang paling baik. Kalau sahabatmu itu seperti yang Anda katakan, maka dialah orang yang paling jauh dari kekafiran. Akan tetapi kata-katanya tidak mengandung arti yang demikian “.

IBNU ATHOILLAH : ” Ia punya bahasa khusus yang penuh dengan isyarat, simbol, sugesti, misteri dan kelokan-kelokan. Namun, marilah kita kerja yang lebih berguna, yang bisa memenuhi kemaslahatan umat. Mari kita cegah kedzhaliman dan jaga keadilan jangan sampai dilanggar. Anda sudah tahu apa yang telah diperbuat dua orang fasik Bibris dan Salar itu terhadap rakyat jelata, sejak An-Nasir mengundurkan diri dan mereka berdua menjadi penguasa tunggal ? Sekarang An-Nasir telah kembali, mempercayai dan mau mendengarkan Anda. Maka cepatlah datang kepadanya dan nasehatilah beliau “.

Begitulah percakapan antara dua imam besar itu. Dan sebagaimana kata Ibnu Taimiyah :
” Saya hanya menginginkan para sufi melangkah dijalan para salaf yang agung itu, yaitu para zahid sahabat, tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya. Saya menghormati mereka yang berbuat demikian dan menurut saya mereka itu termasuk para imam agama “.

Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dari dialog diatas.

(#) Sekedar tambahan dari saya sebagai resensi dialog diatas, sebagaimana perkataan Imam Al- Qusyairi,

Dalam kitab Arrisalat Al Qusyairiyyah, Lil Imam Abul Qosyim Al Qusyairy, Hal. 80

وقال الجنيد ; من لم يحفظ القرآن ولم يكتب الحديث لا يقتدى في هذه الامر (1) لان علمنا هذا مقيد بالكتاب والسنة.
——————
.(1) اى التصوف

Dan telah berkata Al Junayd Al Baghdady ; ” Barang siapa tidak menjaga Al Qur’an dan mencatat Hadist, maka tidak boleh mengikuti perkara ( urusan ) ini ( Tashowwuf ), Karena sesungguhnya Ilmu kami ini masih terikat dengan Al Quran dan As Sunnah.

Sahabatku yang dimuliakan Allah,

Ibn Abdul wahab (syehnya wahabi) banyak mengambil ilmu dari Ibn taimiyah walau tidak secara keseluruhan, dan ibn taimiyah jauh lebih dihargai oleh para fuqaha dibanding ibn Abdulwahab, walaupun banyak pula kritikan para ulama atas Ibn taimiyah dari fatwa fatwanya. Ibn Taimiyah bukan kafir, ia diakui oleh banyak para Imam dizamannya sebagai imam yg mumpuni, namun banyak fatwanya yg ditentang pula, Ibn Taimiyah membolehkan perayaan maulid, Ibn Taimiyah mengakui bahwa mengambil manfaat dari makhluk adalah hal yg sangat bisa terjadi, namun dalam beberapa hal ia banyak berfatwa yg ditentang Jumhur (mayoritas) para Imam,  sosok kontroversial, telah dibantah segala kesesatannya oleh berbagai lapisan ulama dari empat madzhab; ulama madzhab Syafi’i, ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab Maliki, dan oleh para ulama madzhab Hanbali. Bantahan-bantahan tersebut datang dari mereka yang hidup dengan Ibn Taimiyah sendiri maupun dari mereka yang datang setelahnya. Ibn Taimiyah di masa hidupnya dipenjarakan karena kesesatannya hingga meninggal di dalam penjara tersebut dengan rekomedasi fatwa dari para hakim ulama empat madzhab ini. Yaitu pada tahun 726 H. Lihat peristiwa ini dalam kitab ‘Uyun at-Tawarikh karya Imam al-Kutbi, dan dalam kitab Najm al-Muhtadi Fi Rajm al-Mu’tadi karya Imam Ibn al-Mu’allim al-Qurasyi.

Al Hafizh Ibnu Hajar (W 852 H) menukil dalam kitab ad-Durar al Kaminah juz I, hlm. 154-155 bahwa para ulama menyebut Ibnu Taimiyah dengan tiga sebutan: Mujassim, Zindiq, Munafiq.

Ibnu Hajar menyatakan; Ibnu Taimiyah menyalahkan sayyidina ‘Umar ibn al Khaththab , “dia menyatakan tentang sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq bahwa beliau masuk Islam di saat tua renta dan tidak menyadari betul apa yang beliau katakan (layaknya seorang pikun). Sayyidina Utsman ibn ‘Affan, masih kata Ibnu Taimiyah- mencintai dan gandrung harta dunia (materialis) dan sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib menurutnya- salah dan menyalahi nash al-Qur’an dalam 17 permasalahan, ‘Ali menurut Ibnu Taimiyah tidak pernah mendapat pertolongan dari Allah ke manapun beliau pergi, dia sangat gandrung dan haus akan kekuasaan dan dia masuk Islam di waktu kecil padahal anak kecil itu Islamnya tidak sah”.

Ibnu Hajar al Haytami (W 974 H) dalam karyanya Hasyiyah al Idlah fi Manasik al Hajj Wa al ‘Umrah li an-Nawawi, hlm. 214 menyatakan tentang
pendapat Ibnu Taimiyah yang mengingkari kesunnahan safar (perjalanan) untuk ziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam: “Janganlah tertipu dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap kesunnahan ziarah ke makam Rasulullah,karena sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang disesatkan oleh Allah seperti dikatakan oleh al ‘Izz ibn Jama’ah. At-Taqiyy as-Subki dengan panjang lebar juga telah membantahnya dalam sebuah tulisan tersendiri. Perkataan Ibnu Taimiyah yang berisi celaan dan penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad ini tidaklah aneh karena dia bahkan telah mencaci Allah, Maha Suci Allah dari perkataan orang-orang kafir dan atheis. Ibnu Taimiyah menisbatkan hal-hal yang tidak layak bagi Allah, ia menyatakan Allah memiliki arah, tangan, kaki, mata (yang merupakan anggota badan) dan hal-hal buruk yang lain. Karenanya, Demi Allah ia telah dikafirkan oleh banyak para ulama, semoga Allah memperlakukannya dengan kedilan-Nya dan tidak menolong pengikutnya yang mendukung dusta-dusta yang dilakukan Ibnu Taimiyah terhadap Syari’at Allah yang mulia ini”.

Pengarang kitab Kifayatul Akhyar SyekhTaqiyy ad-Din al Hushni (W 829 H), setelah menuturkan bahwa para ulama dari empat madzhab menyatakan Ibnu Taimiyah sesat, dalam kitabnya Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa tamarrada beliau menyatakan: “Maka dengan demikian, kekufuran Ibnu Taimiyah adalah hal yang disepakati oleh para ulama”.

berbeda dg Ibn Abdul wahhab yg memang bertentangan dg seluruh madzhab, dan ibn abdul wahhab banyak mengambil fatwa2 Ibn Taimiyah yg justru ditentang oleh para imam. maka boleh mengambil fatwanya(Ibn Taimiyah) yg baik dan hendaknya meninggalkan fatwanya yg bertentangan dengan Jumhur ulama.

semoga bermanfaat.

Iklan