ikhlasbismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah,
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْه

Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.( surat Al-Maidah: 119, At-Taubah: 100, Al-Mujadalah: 22, dan Al-Bayyinah: 8)

Sikap ikhlas menghasilkan buah keimanan yang sangat banyak dan berlimpah, antara lain terangkatnya derajatmu disisi Allah, semakin kokohnya keyakinanmu, semakin kuatnya tekad dan semangat dalam hidupmu, dan membuat dirimu menjadi amanah ( bisa dipercaya). pasti hidup dan jiwamu akan menjadi sempurna.

“belum dikatakan sempurna jiwamu dalam beramal taat kepada Allah jika engkau tidak ikhlas. Kesempurnaan jiwa dalam beramal tercermin pada keihlasanmu melaksanakan aturan dan ketentuan yang ditetapkan Allah”

Engkau ikhlas melaksanakan  perintahnya tanpa harus memilih milih sesuai apa yang kamu suka. Seandainya engkau hanya melaksanakan perintahnya yang kau suka dan meninggalkan perintahnya yang kau rasa berat, berarti dirimu bukanlah orang yang taat.

adapun jenis ketaatan itu mencakup sikap sabar, tawakal, ikhlas, tawadu’ dan tunduk kepada Allah. Tidak akan sempurna pengabdianmu kepadanya jika tidak disertai rasa ikhlas, tetapi jika engkau melakukanya dengan ikhlas maka hatimu akan senang dalam menjalankan perintahnya itu,

sikap ikhlas bukan berati menerima keputusan sesuai harapanmu. namun iklas pula terhadap keputusan sekalipun takdir itu menyakitkan dan tidak kau sukai.

Engkau tidak berhak, memutuskan qadha dan qadar Allah, engkau tidak berhak mengatur takdirnya, sehingga engkau tak akan mampu memungut sesuatu yang engkau sukai dan mengabaikan yang tidak engkau sukai. takdir tidak boleh dipilih-pilih. sebab pilihanmu itu relatif, apa yang kau pandang baik dan menyenangkan belum tentu demikian. apa yang kau lihat buruk, bisa jadi didalam keburukan itu ada nilai yang mahal. Allah maha mengetahui sehingga yang diberikan kepadamu senantiasa baik. Allah mengetahui kadar kemampuanmu dalam menjalani hidup

sahabatku yang dirahmati Allah

“Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya”, kalimat ini terdapat di dalam surat Al-Maidah: 119, At-Taubah: 100, Al-Mujadalah: 22, dan Al-Bayyinah: 8. Dalam tafsir Muyassar, kalimat itu berarti: Allah menerima semua amal shaleh hamba-hambaNya, dan mereka pun ridha dengan segala karunia yang Allah berikan kepada mereka. Keterangan serupa dalam tafsir Sa’di menyebut bahwa Allah menerima segala amalan yang diridhaiNya. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa tingkatan ridha Allah itu lebih tinggi dari nikmat yang Dia anugerahkan kepada hambaNya. Dengan kata lain, nikmat yang kita rasakan saat ini belum ada apa-apanya dibanding dengan ridha Allah kepada kita.  Hal ini sebagaimana disebut dalam surat At-Taubah ayat 72, “Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”.

ketahuilah bahwa yang ridha atas takdir Allah dalam segala keadaan, maka Allah akan ridha kepadanya, jika engkau menerima rejeki yang sedikit maka Allah pun ikhlas menerima amalmu yang sedikit. jika engkau ikhlas terhadap ketentuan Allah dalam segala hal, maka dirimu akan menemui sesuatu yang lebih cepat untuk mencapai keridhoanya.

oleh karena itu, cobalah untuk memperhatikan orang orang yang mempunyai amal sedikit tetapi mereka melakukanya dengan ikhlas, Allah pun menerima amal dan membalas dengan pahala yang berlipat.

janganlah engkau seperti orang munafik, amalan mereka banyak tetapi ditolak Allah karena tidak disertai dengan keihlasan. Amal perbuatannya memang memukau, tetapi niatnya disertai dengan riya’ ( ingin dipuji orang) atau karena penyakit hati lainnya, sehingga Allah menolaknya, Allah tidak ikhlas padanya.

ketauilah bahwa ridha, bagaikan pohon yang baik yang disiram dengan air keihlasan dalam kebun tauhid. akarnya berasal dari keimanan dan rantingnya adalah amal yang shalih, sehingga menghasilkan buah yang bermutu, manis dan matang.

jika hatimu merasa iklas terhadap takdirnya, maka Allah akan memenuhi dadamu dengan perasaan aman, qonaah dan cukup atas segala nikmat yang diberikan kepadamu. hatimu hanya untuk bertwakkal dan mencintai Allah

buanglah sikap tidak ikhlas terhadap takdir, karena hatimu bisa jadi dipenuhi kebencian. Hal ini justru akan sibuk mencari sesuatu yang tidak dapat memberikan kebahagiaan dan kedamaian.

kosongkanlah hatimu dari setiap kebencian dan kerakusan terhadap duniawi. lalu persembahkan hanya untuk Allah, janganlah menuruti kebencian dan kekecewaanmu terhadap takdir. karena kebencian itu dan kekecewaan itu seperti membuat dirimu jauh dari Allah. berarti tidak ada kesempuranaan bagi orang yang benci dan tidak ada ketenangan bagi orang yang menderita.

jika engkau terbiasa ikhlas maka mudah sekali bagimu untuk bersyukur. mudah sekali engkau menyatakan rasa terima kasih kepada sang pemberi. syukur adalah tingkatan tertinggi dari iman, bahkan ia adalah hakekat iman itu sendiri, sesungguhnya tujuan hidup adalah bersyukur. bagaimana mungkin engkau bisa bersyukur sedangkau engkau tidak rela terhadap takdirnya, ingatlah kawan, orang yang pandai bersyukur berarti orang yang paling dapat menikmati hidupnya****

sahabatku yang dirahmati Allah.

Setiap detik, menit, jam dan hari tiada henti kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. Nikmat nafas, kesehatan dan kesempatan hidup. Tak terhitung kiranya,tak terhingga jumlahnya. Sebagaimana firman-Nya,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (QS. Ibrahim: 34).

Berapa banyak yang telah dianugerah dan seberapa banyak pula rasa syukur kita kepada-Nya.
Karna dengan syukurlah, seperti janji-Nya DIA akan menambahkan nikmat-nikmat yang ada.
Bersyukur kepada Allah ta’ala artinya adalah menjalankan ketaatan kepada Allah dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Para Ulama’ menjelaskan cara bersyukur yang ideal ada 3:

1-SYUKRU BIL QALBI (Bersyukur dengan hati)
2- SYUKRU BIL LISAN ( Bersyukur dengan ucapan)
3- SYUKRU BIL ARKAN (Bersyukur dengan perbuatan)

1-SYUKRU BIL QALBI (Bersyukur dengan hati) Yaitu dengan meyakini dan mengakui bahwa segala nikmat yang dia dapatkan pada hakikatnya adalah berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala semata. Adapun peran manusia yang memberikan suatu kemanfaatan kepada kita, semua itu hanyalah suatu sebab dan perantara yang mana semuanya itu sangat bergantung kepada izin dari Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Apa saja nikmat yang ada pada kalian, Maka dari Allah-lah (datangnya).” [QS An Nahl: 53]

2- SYUKRU BIL LISAN ( Bersyukur dengan ucapan) Yaitu dengan membicarakan kepada orang lain tentang nikmat yang Allah berikan kepadanya sebagai bentuk rasa syukur dan pengakuan kepada Allah, bukan dengan tujuan untuk membanggakan diri dan menimbulkan rasa iri kepada orang lain.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu siarkan.” [QS Adh Dhuha: 11]
Inilah yang dimaksud Tahadduts bi ni’matillah.

3- SYUKRU BIL ARKAN (Bersyukur dengan perbuatan anggota tubuh) Yaitu dengan cara menggunakannya untuk melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah ta’ala.

Demikianlah cara-cara bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla atas nikmat-Nya. Dengan bersyukur, maka nikmat Allah akan semakin bertambah. Sebaliknya, jika tidak bersyukur, maka azab dari Allah akan datang mengancam. Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [QS Ibrahim: 7]

Mengamalkan ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain adalah bentuk mensyukuri nikmat ilmu. Menafkahkan harta di jalan Allah adalah bentuk mensyukuri nikmat harta. Mengonsumsi makanan untuk menyehatkan tubuh dan tidak membuangnya adalah bentuk mensyukuri nikmat makanan.

 

“Kita seharusnya malu, ketika kita hanya beramal sedikit ternyata mengharapkan terlalu banyak kepada Allah,” (Habib Lutfi bin Ali bin Yahya Pekalongan)

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kita keikhlasan dalam beramal,dan  harapan yang kuat untuk meraih surga-Nya dan rasa takut akan siksa neraka-nya.

sudahkah engkau bersyukur hari ini ?

munajat,

ya Rabb,tolonglah kami dengan memberikan keridhaan dan kemudahan bagi kami untuk berbuat baik. sediakan ladang amal selalu untuk kami agar kami bisa berbuat baik dan buatlah kami mampu berbuat baik manakala ladang amal sudah terhidang didepan mata. Amien

disarikan ***
karya Imam Al-Ghazali dalam kitab al-Insanun ‘Arifun ‘Indahu Ruhul ‘Adhim.

semoga bermanfaat

bekasi 18 rajab 1436 H

Iklan