hati dengan hatiBismillahirahmanirrahim

Sahabatku semua yg dirahmati allah. Sungguh benar adanya jika segala kelembutan hanya bisa diiringi dengan kelembutan, kelembutan tak bisa berdampingan dengan kekerasan, karena sejatinya kelembutan adalah kekerasan yg telah ditundukkan, maka jika ingin menundukkan kekerasan harus dengan kelembutan, kelembutan letaknya dihati, sedangkan hati adalah adalah pangkal kebaikan, kebaikan refleksi dari sikap/akhlak yang baik, sedangkan akhlak merupakan cerminan dari iman yg sempurna, makanya tak heran jika orang yg hatinya lembut, sikapnya baik adalah orang orang yg agamanya bagus, imannya mantap, betul tdk kawan ?

Sebuah kisah menarik, mengawali pembahasan kali ini.
dikisahkan pada suatu malam yang pekat, bertemulah seorang laki-laki dengan orang buta. Laki laki itu merasa keheranan, dikarenakan orang buta itu berjalan sambil membawa lampu yg terang (sebuah lentera)

Karena penasaran, lelaki itu bertanya,
Lelaki: “wahai Orang tua, Apa manfaat dari lentera yang anda bawa? Padahal anda seorang yang tidak bisa melihat, apa gunanya lentera itu.”

Orang buta : “ketahuilah wahai anak muda, aku membawa ini Agar orang lain tidak menabrakku saat berjalan.” jawab orang buta itu.

Meskipun matanya tak pernah melihat terang lentera yang dia bawa. Satu tangan memegang tongkat, dan tangan yang satunya membawa lentera. Namun satu hal yang tertanam di pikiran orang buta itu adalah,

“Lentera di tanganku tak hanya berarti untukku saja, tetapi sangat berarti untuk orang lain.” subhanaallah, 

Sahabatku yg dimuliakan Allah.
terkadang kita tidak menyadari bahwa sebenarnya orang-orang di sekitar kita memiliki peran yang yang besar dalam langkah dan keberhasilan kita. Kita kurang peka sehing lupa berterima kasih dengan keluarga, sahabat dan tetangga yang tanpa kita sadari telah melakukan sesuatu yang memudahkan kita, meringankan kita. Meski itu hanya melalui lantunan sebuah doa.

****

sebagai penambah penyemangat dalam kehidupanya maka bacalah artikel dibawah ini ;

kapan sepenuhnya dewasa ?
Pribadi hebat yang menghebatkan

Belajarlah mendewasakan kedewasaan
Tundukan kemaran dengan kelembutan
istigfarmu mungkin perlu diistigfari

Bangkitlah wahai intelektual muda
Cinta dunia yang menghalangi CintaNYA
Hati itu mudah berkarat
Berfikirlah agar bahagia
ikhlas akan dibalas ikhlas
Bermanfaat tanpa pengakuan prestasi
jadikan kelemahan sumber kekuatan
Berfikirlah, mau jadi apa kamu ?
semua akan berakhir
Musibah hanyalah sementara
Bersihkan yang belum bersih
Jika saat itu tiba
Belajar ikhlas meski susah
hati-hati ditengah kemrosotan budi

sahabatku yang dirahmati Allah.

Sebelum menyelami tentang hati, maka alangkah baiknya tahu Apa itu hati ? apakah engkau tahu makna sebuah “hati” ? adakah yang mau menjelaskan ?

dalam kitab ihya ulumuddin diterangkan;  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging,  jika itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, tapi jika itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 52) dan Muslim (no. 1599).

kata hati memiliki 2 makna yang terkandung didalamnya ;

makna pertama adalah daging kecil yang terletak didalam dada sebelah kiri dan didalamnya ada rongga yang berisi darah hitam. daging ini menjadi sumber dan tempat bagi roh. daging seperti ini juga terdapat pada binatang dan orang mati.

makna kedua adalah bisikan halus Rabbaniah (ketuhanan) yang berhubungan langsung denga hati yang berbentuk daging, bisikan halus robbaniah inilah yang dapat mengenal Allah swt dan memahami apa yang tidak dijangkau oleh khayalan dan angan-angan, inilah hakekat manusia yang dikenai khitab (titah hukum)

“sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati” (QS. Qaf ;37)

Jika yang dimaksud dalam ayat ini adalah gumpalan daging kecil, maka semua orang memilikinya (namun yang dimaksud disini adalah orang-orang yang mempunyai akal, dengan demikian tidak semua orang memilikinya karena tidak semua orang berakal). Jika engkau telah memahami hal ini, maka ketahuilah hubungan antara bisikan Rabbaniah yang sangat halus dengan hati berbentuk daging adalah hubungan yang sangat dalam (samar) yang tidak dapat diketahui dengan penjelasan-penjelasan, jadi tergantung pada persaksian mata hati. Situasi ini dapat diilustrasikan dengan umpamaan sebagai berikut ; bisikan Rabbaniah ibarat seorang Raja, sedangkan dagingnya laksana istananya. Jika hubungan keduanya seperti halnya hubungan benda-benda, maka tidak benar jika dikatakan bisikan rabbaniah dapat berpindah dari satu hati kehati yang lain.

Sahabatku yang dirahmati Allah.

Sesungguhnya hati memiliki dua macam tentara ; pertama;  tentara yang dapat disaksikan oleh panca indera yaitu tangan, mata, kaki dan seluruh bagian tubuh

Kedua; tentara yang hanya dapat disaksikan oleh pandangan mata hati (bashirah), tentara yang kedua ini ditunjukkan oleh sabda Rosulullah saw. “dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia buruk maka buruklah seluruh tubuh, itulah hati”

Hati harus dijadikan ibarat pemimpin yang harus ditaati sedangkan seluruh anggota tubuh lainnya sebagai anggota ( tentara) yang patuh pada segala perintah dan laranganya. Jika tidak demikian sedangkan syahwatnya lebih dominan maka hati yang seharusnya menjadi pemimpin akan berubah menjadi yang dipimpin atau diperintaj, kebalikan dari memerintah. Hal ini seperti seorang raja yang tunduk pada kehedak anjing dan keinginan hati sang musuh.

oleh karenanya, orang yang patuh kepada godaan buruk atau dorongan syahwatnya laksana mendapati dirinya baik pada saat tidur maupun sadar laksana seorang sufi yang sujud dihadapan babi atau keledai. jika ia patuh pada emoinya, ia akan melihat dirinya sujud dihadapan anjing. Pada kondisi demikian sebenarnya ia taat kepada keledai yang diumpamakan sebagai syahwat dan taat pada babi yang diperumpamakan sebagai keburukan. dalam kondisi dirinya tunduk kepada pada dorongan syahwat dan keburukan berarti ia tunduk pada setan. sebab sifat-sifat negatif ini adalah tentara-tentara setan yang menyerang hati, sedangkan hati sendiri tidak memiliki penolong untuk mengalahkan tentara-tentara itu sehingga ia menjadi tawannya. Hal ini menyebabkan tidak berfungsinya keistimewaan bisikan halus Rabbaniahdan kondisi inilah yang dimaksud dengan Qawaad al Qalb(pengendali hati)  dalam berbagai habis dan nash lainya. ini pula yang dimaksud dengan Thaba’a dan Rana dalam firman Allah swt.

أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (108

Mereka Itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka Itulah orang-orang yang lalai. (QS an Nal 16: 108)

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (QS almuthaffifin ; 14)

sahabatku yang dirahmati Allah

hati itu dapat diibaratkan cermin. selama itu bersih dari karat dan kotoran, maka cermin tersebut dapat melihat segala sesuatu. jika karat telah menutupinya, sedang ia tidak memiliki alat pembersih untuk menghilangkan karat tersebut dan mengkilapkannya, maka cermin itu akan dipenuhi oleh karat dan kotoran sehingga rusak inilah yang disebut (ath-thaba’) cap atau titik-titik hitam. Rasulullah SAW bersabda:
“sesungguhnya hati itu dapat berkarat, dan yang dapat menggosoknya (karat itu) adalah membaca alquran dan mengingat mati serta menghadiri majelis majelis dzikir/

jadi jika gagal menjalankan fungsinya sebagai pemberi perintah, maka iapun akan dikuasai setan sehingga sifat-sifat baik berubah menjadi buruk

sahabatku semua yang dirahmati Allah

sungguh benar hati hanya bisa disentuh oleh hati, ketahuilah Suasana yang nyaman itu mahal sekali nilainya. makanya jangan sekali-kali  dirusak oleh hal-hal yang terlalu remeh, dan hal-hal yang dirasa tak perlu. Kita harus pandai-pandai mengelola serta mengendalikan diri selalu jaga lisan dari pertanyaan – pertanyaan maupun komentar2 sia-sia, tanyalah dengan jujur pada diri sendiri, perlukah? manfaatkah? diridhoikah ? Tepatkah situasinya ?

kita tidak mesti berkata ketika kita ingin bicara, namun berkatalah ketika hati kita sudah yakin, sudah mantap, memang perlu dan yakin adanya nilai manfaat. cobalah untuk tinggalkan hal-hal yang sia-sia, gantilah dengan silaturahim maka pasti membuat kita jauh lebih nyaman, jauh lebih tentram.

sungguh benar pula bahwa bahasa ketulusan akan memancar dari lisan dan perilaku kita, betapapun dengan ucapan maupun sikap yang ditunjukkan amat sederhana, Kehangatan, keharmonisan hanya datang dari kebeningan hati,yang tanpa beban,  yang tanpa prasangka, tanpa kesombongan, tanpa ujub dan riya. Memang hati hanya dapat disentuh oleh hati yang bening

Mungkin kita semua pandai mengemas rangkain kata- kata indah, dengan konsep terbaik  & pemikiran yang hebat. Namun, seringkali perkataan & tulisan kita yang hebat itu menjadi tidak bermakna. Mungkin bisa jadi karena tidak bersumber dari hati. Tidak ada keihlasan dalam niat atau bahkan yang lebih parah karena terdapat kedustaan di dalamnya.

Hati itu indah jika di sulami dengan keimanan
hati itu lembut  jika dibalut dengan kemuliaan
Hati itu bersinar jika dihiasi dengan keridhoan
Hati itu kotor jika terikat dengan kemarahan.
hati itu gelap jika  terkekang dengan keburukan
namun,
Hati itu cantik jika jauh dari segala keburukan.

Rasulullah bersabda, “Hati itu ada empat macam; hati yang bersih yang di dalamnya terdapat semacam pelita yang bersinar, hati yang tertutup lagi terikat, hati yang berbalik, dan hati yang berlapis.

Hati yang bersih itu adalah hati orang Mukmin, dan pelita yang ada di dalamnya itu adalah cahayanya. Hati yang tertutup adalah hati orang kafir. Hati yang berbalik adalah hati orang munafik murni (tulen), ia mengetahui Islam lalu ingkar. Sedangkan hati yang berlapis adalah hati orang yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan. Perumpamaan iman di dalam hati itu adalah seperti sayur-sayuran yang disiram air bersih. Sedangkan perumpamaan kemunafikan dalam hati adalah seperti luka yang dilumuri nanah dan darah. Mana di antara keduanya (iman dan kemunafikan) yang mengalahkan yang lainnya, maka dialah yang mendominasi. (HR. Ahmad).

Dari empat kriteria hati tersebut, sudah barang tentu kita harus memiliki hati yang bersih yang di dalanya terdapat pelita yang bersinar. Karena hati yang demikian yang bisa merasakan nikmat dan indahnya iman. Hati yang bersih itu adalah hati orang Mukmin, dan pelita di dalamnya itu adalah cahayanya dan cahaya inilah yang mampu menyentuh hati orang mukmin lainya…

maka benar jika hati itu diciptakan untuk menggalang kebaikan dan hanya kita yang mampu menjaga hati kita menuju jalan yang diridhoinya maka pandai pandailah menjaga hati, agar kita mampu membawanya ke jalan yang Allah Ridhoi,

sahabatku yang dirahmati Allah

mengakhiri artikel ini, kita seharusnya melihat bahwa Setiap detik waktu yang kita lewati ternyata sangatlah berharga, tak seorangpun didunia ini yang bisa menarik lagi waktu yang telah ia jalani. makanya tergantung kita semua, apakah siap membiarkan waktu berjalan dengan sia-sia atau tak membiarkan waktu sedetik pun berjalan kecuali hanya beramal ibadah kepada Allah yang kita tuju setiap saat “ingatlah kawan, Akhirat adalah tujuan hidup kekal, Allah-lah puncak segala tujuan kita.”

Kelak, mereka yang membiarkan waktunya habis tiada arti, usia mudanya yang sengaja dihancurkan penuh maksiat dan mereka yang menjalani sisa hidupnya tanpa bekal, pasti akan sangat menyesal, hingga rintihan penyesalan mereka dilukiskan dalam Al-Qur’an, mereka memohon dan merintih seandainya saja waktu di dunia mereka jadi debu, tentulah mereka tidak di azab seperti ini.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib, menjelaskan “Waktu ibarat pedang, jika tidak anda potong, maka waktulah yang akan memenggal anda.”

“Semoga Allah membantu kita tetap istiqamah dan di kuatkan langkah kita menuju jalan-Nya jalan yang di ridho’i-Nya.”

munajat ;

wahai diriku, tidaklah engkau belajar dari kenyataan sejarah, berupa pengalaman para pelaku kesalahan. mereka tidak ada yang senang, tidak ada yang berhujung bahagia kehidupannya lantaran kesalahanya

wahai diriku, tidaklah engkau juga tidak mau mengerti bahwa tidak usahlah bersusah payah melakukan hal-hal yang tidak disenangi Allah karena semua akan berakhir dengan sia-sia

wahai diriku, carilah hanya apa yang halal darinya, mintalah kesenangan hidup, kebahagian hidup hanya dari sisinya. cukupkanlah diri dengan pemberiannya dan bersyukurlah bila ingin ditambah segala nikmat.

wahai diriku, segeralah bergerak menuju Allah, sebelum semuanya terlambat…

semoga bermanfaat.

bekasi, 12 sya’ban 1436 H

 

disarikan dari ;

*** Imam Alghazali, Kitab ihya ulumuddin

***Dikutip dari Syarh Yaqut Nafis

Iklan