tinkatan-maqa-para-walibismillahirahmanirahim

sahabatku yang dirahamati Allah, fenomena dukun pengganda uang yang ngaku sebagai ulama/kiyai akhir-akhir ini menjadi deadline utama diberita-berita media baik media cetak maupun elektronik, terlebih sosial media seolah fenomena ini mau tidak mau harus kita komsumsi, heran dan tentunya penuh tanda tanya salah satu pengikutnya adalah seorang intelektual doktor lulusan luar negeri yang menyakini dengan seyakin-yakinya dukun pengganda uang ini memiliki “karamah” yang katanya mampu meng”ada”kan uang dalam jumlah banyak,

Apakah benar dukun yang ngaku kyai itu mempunyai Karamah ?
Apakah Karamah itu ?

Fenomena diatas menyedot perhatian tokoh-tokoh nasional turut mengomentari fenomena yang menjadi booming dimedia sosail ini, dari politisi, ulama, artis sampai masyarakat awampun turut serta mengutarakan pendapatnya tentang dukun pengganda uang yang sekarang menjadi tersangka atas tuduhan kasus pembunuhan pengikutnya.

berikut ini ilustrasi dialog antara bu marwah seorang doktor lulusan luar negeri pengikut dukun yang katanya mampu menggandakan uang dengan seorang kyai

BU MARWAH VERSUS KIAI :

Bu marwah = kalau kebanyakan santri-santri kanjeng dimas itu adalah warga NU, mana peran kiai yg mestinya jadi panutan umat? mereka malah lebih mempercayai kanjeng taat. ini sebetulnya krisis kepercayaan umat terhadap kiai. kiai sudah tidak dipercaya. kiai hanya mikirin matre. koleksi rumah, mobil, istri, tapi lupa umat. nah kanjeng dimas menawarkan solusi.

Kiai = betul Bu PhD. … sendiko dawuh…

Bu marwah = coba pak kiai lihat… warga NU makin miskin miskin.. mereka tambah susah hidupnya…. sementara kiai hanya butuh dan mikirin umat pas pileg, pilpres atau pilkadal… apa tidak kasihan pak kiai lihat unatnya digutuin.. wajar mereka lari ke kanjeng taat.. dan mereka sami’na wa atha’na.. kayak saya ini sama taat pribadi…

Kiai = nggeeeh…

Bu marwah = trus, apa pendapat kiai? apa kiai mau mengorbankan umat..?? jangan salahkan mereka kalau mereka ikut jadi santri kanjeng dimas… malah kiai ikut ikutan mengkriminalkan taat pribadi…

Kiai = nggiiiih…

Bu marwah = kok nggih trus kiai… aku ini orang sulawesi.. to the point kalau ngomong… rasional.. intelek… tegas…

Kiai = ojo kesusu gitu Bu PhD… ya benar mereka warga NU… uhk..uhk.. maaf.. lagi gak enak badan.. udah sepuh… ya bener.. itu mereka rata rata santri saya atau mantan santri saya.. mereka itu macam macam.. kalau mereka nyantri ke kanjeng dimas juga macam macam.. ada yg susah ekonominya, minta tolong ke saya minta rezeki, minta segera tanah Jawa ini turun hujan emas..
saya bilang sabar.. rezeki itu ya usaha agar dapat… jangan malas… ada juga yg bilang, kita juga sudah kerja yai, hingga kerja keras… tapi rezeki makin jauh… ya kami datang ke padepokan kanjeng dimas lah kiai… ooh gitu… jawab saya… tapi ada juga yg sudah sukses.. penghasilan sudah 1 M, tapi ternyata belum puas.. syahwat dan serakahnya masih tinggi.. mau dapat duit lagi hingga 5 M ..lalu datanglah ke padepokan sana…
jawab saya gini aja Bu PhD ….silakan warga NU itu nyantri ke taat pribadi. mau apa saja terserah…tapi kalau pas dapat masalah di sana, tambah susah, atau rejeki 5 M gak datang-datang, kalian pasti datang lagi ke pondok saya, ngaji lagi.. pas mau nikahin anaknya, pasti saya doain agar samara, dan lancar rezeki dan anaknya soleh soleh dan sehat wal afiat….pas meninggal, pasti saya doakan, talkinkan, tahlilkan, agar selamat dunia, di alam kubur dan di akhirat… agar kelak tahu bahwa ternyata doa ikhlas sang kiai lebih berguna di alam barzakh daripada hujan emas dan dolar yg dijanjikan pengikut pengikut setan….

Bu Marwah = interupsiiiiiiiii….. kiai…. saya bukan pengikut setan… hanya ngikut kiai…..

| Oleh Kh. Ahmad Baso

sahabatku yang dirahmati Allah.

Fenomena arti karamah, apakah benar karamah itu dipunyai oleh dukun yang katanya mampu menggandakan uang menurut pengakuan bu doktor lulusan luar negeri.

Karamah berasal dari bahasa arab كرم berarti kemuliaan, keluhuran, dan anugerah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengistilahkan karomah dengan keramat diartikan suci dan dapat mengadakan sesuatu diluar kemampuan manusia biasa karena ketaqwaanya kepada Tuhan.
Menurut ulama sufi, karamah berarti keadaan luar biasa yang diberikan Allah SWT kepada para wali-Nya. Wali ialah orang yang beriman, bertakwa, dan beramal shaleh kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Q.S. Yunus: 62-64,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْيَحْزَنُونَ۞ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ۞ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ……

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat….”

Ulama’ sufi meyakini bahwa para wali mempunyai keistimewaan, misalnya kemampuan melihat hal-hal ghaib yang tidak dimiliki oleh manusia umumnya. Allah SWT dapat memberi karamah kepada orang beriman, takwa, dan beramal shaleh menurut kehendaknya. contoh sebuah karamah pada zaman nabi ;

1) Kejadian yang Dialami Seorang Ahli Ilmu pada masa Nabi Sulaiman a.s.

Ketika Nabi Sulaiman a.s. sedang duduk di hadapan dengan para tentaranya yang terdiri atas manusia, hewan, dan jin, beliau meminta kepada mereka mendatangkan singgasana Ratu Bulqis. Ada seorang yang berilmu berkata kepada Nabi Sulaiman a.s. menurut sebuah keterangan, orang yang berilmu itu bernama Asif. Perkataan orang berilmu tersebut diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya Q.S. an-Naml: 40,

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

2) Kejadian yang Dialami Maryam binti Imran

Nabi Zakaria a.s. menemukan makanan setiap hadir di mihrab Maryam binti Imran.

Allah berfirman dalam Q.S. Ali Imran: 37,

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”

Peristiwa yang disaksikan Nabi Zakaria a.s. merupakan karamah yang dianugerahkan Allah SWT kepada maryam binti Imran.

Allah SWT mentakdirkan bahwa pengasuh Maryam adalah pamannya sendiri, yakni Nabi Zakaria a.s.

Sahabatku, Dari keterangan diatas dapat kita simpulkan “karamah adalah keistimewaan yang Allah anugerahkan pada para Wali-nya. dalam bahasa Arab kata “Wali” berasal dari kata “al-wilayah” yang bermakna “kekuasaan” dan “daerah”kata wali juga bisa diambil dai kata “walayah” yang artinya pertolongan atau pengayoman dan kedekatan.

Al-Waliyy secara lughot maknanya adalah dekat. Secara istilah, Al-Waliyy atau Waliyulloh atau Wali Allah adalah orang yang dekat kepada Allah, kedekatannya ini dikarenakan ia menjalankan segala perintahNya, menjauhi semua laranganNya bahkan larangan sekecil apapun ia jauhi tunggang langgang tidak mendekatinya, kemudian memperbanyak amal-amal ibadah sunnah dan bersamaan dengan itu ia tidak pernah bosan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta tidak pernah berhenti dan tidak pernah kering lisannya yang selalu basah untuk menyebut asma Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia tidak pernah melihat hal ihwalnya orang lain, relung hatinya tidak pernah menyimpan sesuatu kecuali hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang ia lihat hanyalah petunjuk kemampuannya Allah seperti halnya bergerak, sakit dan sehat itu semua pemberian karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak pernah mengeluh dan selalu bersama Allah karena baginya tidak pernah terlintas ataupun terbesit dalam pikiran dan hati seorang Wali itu dunia dan dunia, yang ia lihat hanya ayat Al-Qur’an, yang diucapkan pun tidak pernah mengucap kecuali hanya menyebut dan memuji Allah dan RasulNya makanya ia tidak pernah sempat membicarakan, mengumpat, ataupun melakukan ghibah kepada orang lain, dan dirinya tidak pernah bergerak kecuali untuk taat kepada Allah sehingga kakinya hanya digunakan untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Inilah Wali Allah atau Waliyulloh yang tidak ditunjuk kecuali orang-orang yang bertaqwa.

masyarakat Muslim Indonesia sendiri mendefinisikan wali sebagai orang bertakwa yang memiliki kedekatan kepada Alllah. sehingga banyak mendapatkan pertolongan dan keutamaan-keutamaan (karamah) dariNya melebihi orang lain pada umumnya. dengan definisi semacam ini banyak sekali para ulama bahkan yang masih hidup sekalipun diyakini sebagai Waliyullah. sebagaimana Walisongo selain diyakini sebagai tokoh-tokoh yang mempunyai keutamaan dan kedekatan dengan Allah, mereka juga menguasai suatu wilayah atau kawasan tertentu, karenanya para wali ini lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan nama daerah kekuasaanya atau tempat “jumeneng” (kediamananya) masing-masing misal sunan kudus “jumeneng di kota kudus”, sunan kalijaga, sunan bonang dan sebagainya
Karamah merupakan perkara yang luar biasa yang berlaku bagi ulama atau waliyullah, mereka golongan manusia yang beriman saleh, ikhlas dalam perkataan dan perbuatan serta menjadikan seluruh hidup mereka hanya untuk beribadah kepada Allah. para kekasih Allah selalu menumpukkan seluruh perhatiannya kepada Allah, dan Allahpun senantiasa memerhatikan bahkan menjadikan mereka lebih dekat kepadanya. Karamah berlaku sepanjang zaman sejak dahulu hingga hari ini, karamah bukan hal yang baru ada sesudah nabi muhammad saw. zaman dahulu, para sahabat nabi beriman dengan kejernihan kalbu, mencintai Allah dan Rasulnya melebihi segala-galanya, kasih sayang mereka terhadap orang mukmin sangat mendalam sehingga mereka memperoleh karamah dan derajat yang tinggi.
Karamah para wali memiliki tingkatan-tingkatan tertentu sesuai keimanan dan kedekatan mereka kepada Allah, sebagaimana para nabi juga memiliki tingkatan-tingkatan tertentu yang tidak disandang oleh semua nabi, Ulul Azmi misalnya, tidak semua nabi termasuk dalam golongan ini.

Diantara tingkatan wali yang terpopuler ada beberapa, Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut:

1. Wali Quthub al-Aqthab atau Wali Quthub al-Ghauts
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.

2. Wali Aimmah
Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bergelar Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bergelar Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.

3. Wali Autad
Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kaabah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Hayyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdul Murid.

4. Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab al-Futuhatul Makkiyyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu (Muhyiddin ibnu ‘Arabi) mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.

Pada tahun 586 di Spanyol, Muhyiddin ibnu ‘Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Sahabat Muhyiddin ibnu ‘Arabi yang bernama Abdul Majid bin Salamah mengaku pernah juga bertemu Wali Abdal bernama Muâ’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.

5. Wali Nuqobaa
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqobaa melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.

6. Wali Nujabaa
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.

7. Wali Hawariyyun
Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair ibnu Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.

8. Wali Rajabiyyun
Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.

Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.

Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.

9. Wali Khatam
Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd saw.

Jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah ada 356 sosok, yang mereka itu ada dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.

Sedangkan menurut Syaikh al-Akbar Muhyiddin ibnu ‘Arabi (menurut beliau muncul dari mukasyafah) maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah disebut diatas, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada satu orang yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammadi, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammadi pada zaman ini (zaman Muhyiddin ibnu ‘Arabi), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H. Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya, yaitu para Wali: Ummahat, Aqthab, A’immah, Autad, Abdal, Nuqaba dan Nujaba.

sahabatku yang dirahmati Allah.

Sungguh akan sangat aneh rasanya, mengaku memiliki “karamah” tapi diruntutkan kedalam ciri sebuah kewalian tidak bisa ditemukan sama sekali kesamaanya. padahal kita tahu tradisi dan kepercayaan terhadap wali dengan segala karamahnya sangat mengakar dimasyarakat NU meskipun ada ungkapan “la ya’riful wali ilal wali” ( hanya wali yang mengetahui wali) tapi masyarakat juga mempunyai kecendrungan menilai prilaku para pemimpin dan tindakan-tindakan mereka yang diluar nalar sebagai tanda ia seorang wali atau bukan, ada perbedaan mendasar antara kekuatan spiritual yang dimiliki oleh dukun yang bisa diperoleh dengan sejumlah tirakat dan kemampuan spiritual milik para wali.

Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.

Hikmah adanya karamah pada waliyullah adalah sebagai berikut.

a. Mempertebal iman kepada Allah SWT.
b. Mendekatkan diri kepada Allah.
c. Tidak takut akan kesulitan, karena yakin Allah selalu memberikan pertolongan kepada hambanya yang beriman dan bertakwa.

jadi jika ada orang yang ngaku wali atau ngaku memiliki karamah maka kita tidak boleh asal percaya, lihat dulu pemahaman agamanya, lihat dulu totalitas pengamalan syariatnya apakah sudah maximal atau belum..

tak ada yang berani mengklaim dirinya wali atau memiliki karamah didepan publik, karena hal itu semakin menegaskan dirinya bukan wali tidak memiliki karamah, wali yang sebenarnya selalu kembali kepada kaidah awal , la ya’riful wali illal wali. jadi cuma sekedar menggandakan uang dengan tipu daya atau meng”ada”kan uang dengan prosesi yang tidak benarkan syariat jangan lantas menganggapnya memiliki karamah selayaknya Waliyullah. apalagi agama dijadikan pembungkus agar terkesan benar-benar islami, suatu saat pasti akan terbongkar

sahabatku, meskipun tidak ada upaya upacara penganugerahan atas pembenaran klaim wali pada diri seseorang, tetapi secara faktual masyarakat akan menghormari ulama yang disebut wali, petuahnya semakin diaptuhi, santrinya semakin banyak dan kedudukannya semakin tinggi dimasyarakat

sedikit yang membedakan yang bisa kita tarik kesimpulan sederhana adalah wali selalu mengupayakan dirimu untuk lebih mencintai akherat mencintai Allah dan Rosulullah sedangkan dukun yang ngaku wali memiliki karamah akan mendekatkanmu kepada duniawi kepada materi.

wali bukan pada dandananya akan tetapi pada prilaku dan hatinya. Jika prilakunya sesuai dengan syariat dengan menjalankann yang yang wajib menjauhi yang haram, gemar dengan amal-amal sunnah. Saat bersalah segera taubat itulah waliyulloh. Berusaha menjaga hatinya agar tidak mendengki, tidak sombong, tidak mendendam, penuh kasih dlll. Kalau kerjaanya bermaksiat tidak mungkin itu waliyulloh akan tetapi itu adalah wali syaiton.

MANTAPKAN TAUHID! Pahami betul bagaimana itu Wajib, Mustahil, Jaiz! Ngaji maleh… tentang apa itu Basyirah, Fadhilah, ma’unah, karamah, dan istidraj !

semoga bermanfaat.

Iklan