habib-lutfiCARA MENGHILANGKAN EGO (KE-AKU-AN)
oleh Alhabib Muhammad Lutfi bin Yahya Pekalongan.

Allah Swt. dalam memberikan fadhail (keutamaan-keutamaan) kepada para nabi, sampai kepada para waliNya dan para ulama shalihin pun berbeda. Sampai kenikmatan apa yang diberikan kepada kita semua hari ini (Jum’at Kliwon) sampai hari kiamat tidak akan ketemu lagi nikmat seperti hari ini, walaupun Jum’at Kliwonnya tidak berubah. Kenikmatan demi kenikmatan walau berganti-ganti waktu semuanya itu tidak akan kita temukan (kenikmatan yang sama) sampai hari kiamat. Karena begitu agungnya fahmat dan fadhal Allah Swt.

Allah Swt. apabila memberikan keistimewaan, seperti contoh yang kecil tapi kita akan mengalami semuanya, diantaranya diberi tawassul; kelak manusia akan menghadapi timbangan (mizan)Nya. Jika kita bertanya secara tauhid, Allah Swt. tidak (mustahil) ta’alluq (bergantung) kepada sesuatu apapun. Memberikan timbangan (mizan) kelak amal seseorang akan ditimbang bukan berarti Allah tidak mengetahui amal-amal yang telah diperbuat oleh manusia. Dan manusia, setiap hamba yang shalih akan mendapatkan suatu imbalan atau pahala. Pahala diberikan kepada hambaNya itu fadhal dari Allah Swt. Kita bisa menjalankan amal yang shalih juga tidak terlepas dari fadhalNya (Allah Swt.).

Dalam dunia tasawuf, sampai akhirat pun maqamatil ananiyah (akuisme/ego) di hadapan Allah Swt., supaya kita tidak mempunyai ananiyah, maka diberi timbangan sendiri oleh Allah Swt. Supaya tau bahwa Allah Swt. Mahamengetahui dan Mahamengerti, tapi hambaNya yang tidak mengerti.
Terkadang kita sendiri lupa kalau sudah merasa setiap malam beribadah lebih untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kita bisa beribadah malam hari dan lain sebagainya, merupakan thariqah-thariqah (perjalanan) untuk menuju dekat kepada Allah Swt. Tapi terkadang sifat lupa kita ini selalu mengiringi bahwa pendekatan diri kita, dekat kita kepada Allah, itu karena fadhalNya.
Hingga kemudian yang muncul adalah “Aku”, merasa mampu bisa begini dan begitu. Keakuan itu tidak diiringi dengan perasaan bahwa semua itu adalah fadhal dari Allah Swt. Padahal kalau kita ngomong dalam bahasa tasawuf atau dalam bahasa filosofi mengatakan, aku, kami, semunya itu tidak abadi. Kalau orang itu sudah mati, aku-nya ke mana? Aku yang abadi punya siapa? La Ilaha illa Ana (Tidak ada dzat yang wajib disembah kecuali Aku (Allah Swt.), yang tidak pernah melentur Aku-nya).
Maha sempurna Allah Swt. Aku-nya Allah Swt. abadi, aku-nya kita hawadits (makhluk), aku-nya kita dha’if (lemah). Kalau sudah demikian mau ngomong apa? Dengan keakuan yang bisa menghilangkan di hadapan Allah Swt., justru di situlah pintu mustajabah dari Allah Swt. Karena membuang sifat akunya bahwa orang itu atau hamba tersebut merasa dirinya faqir (merasa sangat butuh).
Kelak di hari akhir ketika menghadapi timbangan (mizan) Allah Swt., supaya kita membuka mata lebih jauh apa yang kamu perbuat di dunia ini sudah mampu begini dan begitu, agar kita mengetahui keagungan dan qadar Allah Swt. yang diberikan kepada kita dengan muamalah yang kita amalkan. Amal shalih kita ketika di dunia ini untuk menggapai dan mengetahui rahmat Allah Swt., ternyata amal kita setelah ditimbang, kita mengetahui dengan mata kepala sendiri, belum ada apa-apanya dibanding dengan betapa besar rahmat Allah Swt. yang diberikan kepada kita. Bagaikan satu ujung rambut yang paling kecil di tengah lautan, tak ada artinya apa-apa.
Begitupula bagaimana perjuangan-perjuangan para nabi terdahulu. Bagaimana Nabi Nuh As. menghadapi perjuangannya pada waktu itu, yang paling berat ketika berhadapan dengan anaknya sendiri. Ketika berhadapan dengan anak, untuk tarbiyah (didikan) kita semua, mungkin agak pedas dan semoga tidak terjadi. Kita contohkan diri sendiri, terkadang kita bisa mengajar di lingkungan yang didatangi oleh ribuan dan ratusan orang dengan memberikan fatwanya yang luar biasa, dengan keindahan tutur kata, dengan bacaan-bacaan dari para ulama shalihin al-‘arifin yang telah dipahami, begitu enaknya saat menasehati (taushiyah), dan lain sebagainya. Tapi Ketika kita berhadapan dengan anak kita sendiri yang kebetulan tidak menaati peraturan orangtuanya, mungkin lebih mudah kita mengajak dengan jumlah yang sekian banyaknya daripada menghadapi anak kita sendiri. Itu cobaan yang paling top, memerlukan kesabaran.
Ketika anak kita nakal takut nama kita jelek, kita perang dengan nafsu diri sendiri dengan faktor anak. Ini tidak sadar dihantui, melekat pada hati diri kita masing-masing. Terkadang kita malu kepada manusia tapi tidak malu kepada Allah Swt. Ini tantangan, gengsi dan sebagainya. Itulah diantaranya yang dihadapi Nabi Nuh As. dengan anaknya. Nabi Nuh mampu melepaskannya dari pengaruh siapa saya, berjuang terus tidak ambil pusing mau dikatakan apapun oleh umatnya. Kita terkadang memberi dan mengambil contoh, tapi terkadang salah untuk menutupi aibnya sendiri lalu mengatakan orang lain, mengambil contoh dari orang lain. Ini anaknya Nabi Nuh As. untuk meningkatkan martabat ayahnya.
Nabi Ulul Azmi hanya 5; Nabi Nuh, Nabi Ibrahim (Khalilullah), Nabi Musa (Kalimullah), Nabi Isa (Ruhullah), dan Nabi Muhammad Saw. (Habibullah). Pembesar Ulul Azmi adalah nabi dan junjungan kita Sayyidina Muhammad Saw.
Apa yang dihadapi Nabi Nuh As. adalah percontohan yang luar biasa. Hebatnya, Yang Maha Kuasa (Allah Swt.) menggunakan kalimat (ayat al-Quran) yang luar biasa.

Tetap menjaga keistimewaan dan kebesaran Nabi Nuh. Dengan apa ayatnya? Tidak dengan mengatakan “Innahu laisa min abnaik” (Dia bukan anakmu), tapi dibawa oleh Allah Swt., “Innahu laisa min ahlik” (Sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu). Betapa halusnya Allah Swt. kepada kekasihNya, begitu hebat akhlak dan adab Yang Maha Kuasa terhadap rasulNya, kepada nabiNya, kepada kekasihNya.
إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ
“Sesungguhnya dia (mereka) bukan keluargamu (ya Nuh).” (QS. Hud ayat 46).
Menggunakan kata “ahlun” karena bisa berarti keponakan, anak kandung, anak keponakan, santri yang tinggal di rumahnya, anak adopsi juga bisa. (Nabi Nuh) diangkat (derajatnya) oleh Allah Swt. Anak adalah anak, apapun (dan bagaimanapun) anak nabi dan rasul, Nabi dan Rasul adalah bapaknya.
Begitupula apa yang terjadi pada Nabi Muhammad Saw. dalam menghadapi pamannya sendiri, Abu Lahab. Jangan dikira Abu Lahab tidak mengetahui bahwa Rasulullah itu benar. Dia mengakui, jangan dikira tidak. Hanya saja dia tidak percaya atas nubuwah (kenabian) dan risalah yang dibawa Rasulullah Saw.
Sifat Abu Lahab adalah sifat bapak. Betapa Rasulullah Saw. menjaga akhlak dan adabnya menghadapi pamannya yang demikian dengan penuh kesabaran yang luar biasa. Rasulullah Saw. mengerti bahwa taufiq dan hidayah bukan di tangan para nabi, rasul, wali, malaikat dan manusia, mutlak kehendak Allah Swt. Kita melangkah untuk mengajak, untuk berikhtiar, untuk mendapatkan taufiq dan hidayah.
Sebagai ibrah (pelajaran) untuk kita semua, hebatnya Allah Swt. ketika memberikan khabar tidak ada dhamir (kata ganti yang mengarah kepada Nabi Saw.). Karena siapa, karena apa? Karena Allah Swt. menghormati kekasihNya (Nabi Muhammad Saw.). Walaupun Abu Lahab demikian, apapun dia adalah paman Nabi Saw. Maka suratnya yang datang adalah surat al-Lahab, tidak pakai dhamir tapi langsung mukhathab, kasih khabar ayatnya karena ta’dziman (menghormati) kepada Baginda Nabi Muhammad Saw.
Bahkan para ulama besar jika membaca surat Tabbat (al-Lahab) mereka tidak mau membacanya dengan keras. Padahal mereka tahu betul kalau ini adalah wahyu dari Allah Swt., tapi karena ta’dziman. Sejahat-jahatnya Abu Lahab dia adalah pamannya Nabiy Muhammad Saw. Jadi kita membaca surat Tabbat tidak keras karena ta’dziman kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Itu akhlak dan adab yang dimiliki oleh Baginda Nabi Muhammad Saw.
Begitupula bagaimana ketika Rasulullah berhadapan di Thaif sampai giginya patah separo terkena lemparan batu. Padahal kalau mau, Malaikat Jibril As. sudah siap (turun tangan) untuk menimpakan gunung, tinggal menunggu perintah Nabi Saw. Tapi Rasulullah Saw. tidak mempunyai sifat seperti itu. Malah didoakan “Allahummahdi qaumiy fainnahum la ya’lamun” (Ya Allah, berilah hidayah untuk ummatku karena sesungguhnya mereka belum mengetahui).
Sebetulnya kita harus banyak bercermin kepada akhlaknya Baginda Nabi Saw. Di kehidupan sehari-hari kita bercermin kepada Rasulullah Saw. Kita mau begini dan begitu selalu melihat dan mengikuti sunnah-sunnahnya Rasulullah Saw. Wallahu a’lam.

 

(Disarikan dari Pengajian Jum’at Kliwon Kanzus sholawat Pekalongan 07 Oktober 2016. *MT Darul Hasyimi/Ibj (sya’roni As-samfuriy) ).

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

oleh Buya yahya cirebon.

Kadang seorang menjadi sombong bukan dengan harta dan pangkat, akan tetapi sombong dengan amal baik dan akhirat. Sedikit memahami ilmu hadits, berikut riwayat dan syarahnya merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Sehingga dengan mudahnya seseorang menyalahkan orang lain dan berkata “Mereka itu orang-orang bodoh tidak mengerti hadits seperti aku “.

Yang faham tentang fiqih, dengan lancangnya mengomentari orang lain dengan nada merendahkan, “Kasihan mereka itu orang bodoh dan tidak mengerti fiqih seperti aku”. Sedikit menghafal al Qur’an, lalu dengan mudahnya meremehkan orang lain dan berkata “Mereka orang-orang bodoh yang tidak hafal al Qur’an seperti aku”. Terjun di dunia da’wah mulai banyak pengikut dan pengagumnya lalu mereka merasa bahwa ia telah melakukan suatu tugas besar, kemudian mulai menghinakan dan merendahkan yang lainnya dan berkata “Kasihan mereka itu pada tidak bergerak di dalam da’wah seperti aku” atau “cara berdakwah mereka tidak sehebat caraku”. Yang sudah bisa bangun malam, bertahajud, melakukan puasa, lalu memandang orang lain dengan picik dan rendah lalu berkata “Kasihan mereka punya ilmu, tetapi tidak pernah bangun malam seperti aku.”, “Tidak pernah berpuasa seperti aku!” dan seterusnya.

“Aku” yang dibesarkan, “Aku” yang diagungkan. Tidak tahu kalau makhluk pertama yang mengagungkan ke-Aku-annya adalah iblis, saat berkata “Aku lebih baik dari manusia”. Sungguh, semestinya seseorang tidak akan sombong dengan akhirat. Seharusnya seseorang tidak bisa sombong dengan ketaatannya dan keistiqomahan. Jika ada yang sombong dengan hafalan Al-Qur’annya atau sedikit ilmu fiqihnya atau kiprahnya di dunia dakwah, hal itu disebabkan karena adanya sesuatu yang salah di dalam mereka menjalani ketaatan. Yang telah melakukan sebuah amal kebaikan lalu meremehkan orang lain maka semestinyalah ia segera koreksi amal-amal tersebut. Bisa jadi karena telah ada riya di dalam beramal (pamrih yang selain Allah). Barangkali karena ketidakmengertian akan hakekat sebuah amal kebaikan. Mungkin saja kecintaannya kepada pangkat dan dunia telah melalaikan akan maksud sebuah ilmu dan amal.

Sebuah kelompok atau seseorang yang tersesat dalam ilmu dan amalnya akan ditandai dengan kesombongan akan ke-Aku-annya dan begitu mudahnya meremehkan yang lainnya. Maunya menyalahkan, memfitnah dan menggunjing kelompok atau orang lain. Atau paling tidak akan menyimpan kebencian kepada yang lainnya atau adanya kegembiraan tersembunyi jika ada musibah menimpa orang atau kelompok lain. Tiada sapa, teguran beradab, prasangka baik dan upaya indah untuk menjadikan yang lainnya baik.

Sebaliknya, ahli ilmu dan amal baik yang sesungguhnya dan ahli istiqomah yang tulus akan semakin tawadhu’ dan merendah kepada Allah dan kepada sesama manusia. Yang telah mempunyai ilmu dengan ketulusan akan selalu melihat orang lain yang terjerumus dengan mata kasih dan rindu untuk bisa menolongnya. Senantiasa memohon kepada Allah agar dirinya menjadi sebab baiknya orang lain, agar pintu hidayah segera dibukakan untuknya. Kepada orang yang berilmu lainnya akan sangat menghargai dan mencintainya. Jika ada yang berhasil dari mereka ia akan berbangga dan bersyukur. Dan disaat melihat orang lain yang berilmu belum terlihat berhasil atau prestasinya di bawah keberhasilannya akan ia bantu dan perjuangkan agar bisa maksimal dalam keberhasilannya.

Pernahkah disaat Allah memuliakan kita dengan hafalan Al-Qur’an atau ilmu fiqih atau ilmu hadits atau kemudahan dalam berdakwah lalu kita senantiasa takut jika ini semua menjadi tidak bermanfat dan tidak diterima oleh Allah? Dan alangkah sia-sianya usaha kita jika buah ilmu kita tidak bisa kita petik di akhirat. Alangkah mengerikannya jika gelar Ustad, Kiai, Orang soleh, Penghafal Al-Qur’an, Ahli fiqih, Ahli hadits dan lain sebagainya hanya kita peroleh di dunia, sementara di akhirat kita didustakan dan ditolak gelar-gelar tersebut oleh Allah SWT.

Pernahkah kita merenung, apakah ilmu dan amal yang diberikan oleh Allah kepada kita telah menjadikan kita semakin dekat dan takut kepada Allah atau justru kita bertambah kurang ajar dan jauh dari Allah? Pernahkah kita berfikir apakah amal dan ilmu kita menjadikan kita semakin mesra, indah dan saling mencintai kepada sesama? Adakah rasa kasih dan sayang terpancar dari ilmu kita disaat kita melihat saudara kita yang terjerumus dalam nistanya kemaksiatan?.Atau justru amal dan ilmu tersebut telah menjadikan kita semakin sombong, memandang picik dan menghinakan mereka? Sudahkah kita insyaf untuk menjadi hamba yang beruntung yang senantiasa berfikir bagaimana amal dan ilmu kita bisa diterima oleh Allah? Atau justru gebyar keberhasilan ilmu dan amal kita hanya menjadikan kita orang yang selalu berfikir bagaimana berilmu dan beramal saja tanpa ada kerinduan kepada Allah? Dan pernahkah selama ini kita berfikir untuk merenungi ini semua?.
Wallahu alam bisshowab…

Semoga bermanfaat.

Iklan