alhikambismillahirahmanirrahim..
Oleh KH Ahmad Wafi Maemon.

Syekh Ibn Athoillah As-Sakandari berkata:

لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء موجبا ليأسك فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لا فيما تختاره لنفسك وفي الوقت الذي يريد لا في الوقت الذي تريد.

“Terlambat datangnya pemberian (ALLOH), meski sudah dimohonkan berulang-ulang, janganlah membuatmu patah harapan. Karena Dia telah menjamin untuk mengabulkan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan menurut keinginan engkau sendiri. Juga dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan”

Banyak sekali janji-janji ALLOH dalam Al-Qur’an Al-Karim, seperti:

من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

يا أيها الذين آمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) ALLOH, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Sebagian orang ketika membaca ayat-ayat ini dia ragu akan janji ALLOH, karena sekarang ini orang Islam tidak dalam keadaan yang bagus sebagaimana yang dijanjikan oleh ALLOH.

Sedangkan orang-orang kafir yang diancam oleh ALLOH, ternyata mereka mendapatkan kenikmatan duniawi yang melimpah.

Maka Syekh Ibnu Athoillah As-Sakandari menasehati dalam hikmah ini kepada orang-orang yang ragu akan janji-janji ALLOH.

Orang yang ragu akan janji ALLOH ini adalah orang-orang yang selalu menuntut haknya kepada ALLOH, tapi dia tidak memperhatikan kewajiban-kewajiban yang ditugaskan oleh ALLOH padanya.

Biasanya orang seperti ini mengatakan: Kita ini kan sebagai orang mukmin, sudah Islam, masjid kita penuh dengan orang sholat, bulan Romadlon penuh dengan orang yang puasa, orang yang berhaji jutaan orang, bukankah kita telah menolong agamanya ALLOH? Lalu mana pertolongannya ALLOH? Kenapa ALLOH justru menjadikan musuh-musuh kita berkuasa atas kita?.

Dia selalu membanggakan akan syiar-syiar Islam, masjidnya yang penuh orang solat, bulan Romadlonnya, hajinya yang penuh dengan ibadah, dll.

Dia tidak melihat akhlak orang Islam sekarang ini, tidak melihat rumah orang-orang Islam, yang mana Islam di rumah itu sekarang menjadi aneh, keluarga menghabiskan malamnya di dalam kesenangan dan syahwat-syahwat saja, pemikiran-pemikiran yang tidak senang dengan hukum-hukum Islam, begitu banyaknya mulai yang pokok sampai cabang-cabangnya, orang Islam banyak sekali yang sudah bosan dengan hukum ALLOH yang dianggap ketinggalan zaman, mereka mengajak pada kemodernan, mengajak kepada pluralisme, mengajak kepada liberalisme, sekularisme, dan kebebasan yang bertujuan untuk lepas dari hukum-hukum agama.

Bukankah orang-orang Islam sekarang ini kebanyakan modelnya seperti ini?

Adapun masjid, puasa, hajinya orang-orang Islam, itu cuma sebagai tutup yang tipis sekali, menutupi fenomena gelap yang menakutkan yang menimpa orang Islam.

Sesungguhnya ALLOH tidak pernah mengingkari janji sama sekali kepada orang yang melakukan syari’at ALLOH dengan jujur dan ikhlas.

Orang yang mengetahui syarat-syarat yang harus dilakukan untuk mendapatkan janji ALLOH adalah orang-orang yang ahli makrifat, yang hatinya penuh dengan cinta dan ta’dzim kepadanya, bukan orang yang mengaku-ngaku Islam yang tidak mengenal ALLOH.

Orang di bawah ini tidak mengenal firman ALLOH:

يا بني إسرائيل اذكروا نعمتي التي أنعمت عليكم وأوفوا بعهدي أوف بعهدكم وإياي فارهبون

Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).

Salah satu tentara muslim yang kalah dalam perang 1976 ketika dia kembali ke Damaskus bersama teman-temannya, di jalan mereka melakukan sholat, disaat mereka selesai sholat, orang-orang mengatakan kepada mereka, “ALLOH tidak menolong kalian dalam perang ini, kenapa kalian melakukan shalat kepadanya?”.

Beginilah perkataan orang-orang yang tidak tahu apa-apa akan hak-hak ALLOH.

Beda dengan cerita di bawah ini:

Ada seorang soleh, dia ditanya, “Wahai tuanku, kenapa engkau tidak memperlihatkan keramat-keramatmu supaya kita tambah mantap dan iman kepadamu?”.

Beliau menjawab, “Apakah kalian tidak melihat keramatku yang sebesar ini yang diberikan oleh ALLOH setiap saat kepadaku?”.

Mereka berkata, “Kita tidak melihat apa-apa”.

Beliau menjawab, “Apakah kalian tidak melihatku berjalan di muka bumi ini dengan aman tanpa ALLOH mengkubur diriku, tidak diturunkan meteor-meteor menimpaku?. Apakah ini bukan pemberian ALLOH yang sangat besar kepadaku?.

Mestinya aku ini berhak untuk dihancurkan karena kesalahan-kesalahanku yang sangat banyak, tapi ALLOH memberiku kehidupan, menjagaku, tidak merusakku sebagaimana ALLOH merusak orang-orang sebelumku. Ini adalah keramatku yang paling besar.”

Perkataan orang sholeh ini benar-benar keluar dari perasaannya, bukan pura-pura.

Beginilah keadaan orang yang hatinya penuh dengan ta’dzim, takut, cinta kepada ALLOH. Dia merasa akan diturunkan azab ALLOH ketika dia membaca:

أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض فإذا هي تمور

Apakah kamu merasa aman terhadap yang (berkuasa) di langit, bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS al Mulk: 16).

ditulis oleh kang kanthongumur

semoga bermanfaat

Iklan